Sorry, sorry banget buat semuanya author nggak bisa update cepet. Semester ini bener-bener nyiksa author, berangkat pagi-pulang malem, tugas tiap minggu ada terus, waktu luang juga nggak ada, tidur juga tengah malem terus. Maaf.. maaf pokoknya 🙇🙇
.
.
.
“
Gue mau ajak lo keluar.” Interupsi Aksa di tengah-tengah kegiatan sarapan.
Sri yang mendengar pun menghentikan laju sendok yang akan dimasukkannya ke dalam mulut, lalu ia meletekkannya kembali di atas piring.
“Kemana mas?”
“Ketemuan sama pacar gue.”
DEG!
Jantung Sri tiba-tiba berhenti berdetak.
Apakah orang yang ada dihadapannya ini tidak punya hati sedikit pun? Bisa-bisanya ia mengajak dirinya untuk menemui kekasihnya.
Tahan Sri.. tahan.
Ia tidak boleh menangis, ia harus kuat. Ia tak ingin anaknya ikut bersedih sama sepertinya.
“Baik mas.”
“Cepet selesain sarapan lo! Gue mau berangkat ke kampus dulu, nanti gue pulang buat jemput lo.”
Sri menganggukkan kepalanya. Tenggorokannya terasa tercekat, ia tak mampu melanjutkan sarapannya.
.
“Srii…cepetan! Lelet banget sih.”
“Nggih mas. Ini udah selesai kok.”
Perasaan belum ada 10 menit dirinya ganti baju, tapi Aksa sudah teriak-teriak tak sabaran.
Tak ada percakapan sama sekali di dalam mobil, Sri hanya diam melihat-lihat keluar jendela, sedangkan Aksa fokus menyetir.
Sesampainya di tempat tujuan, Aksa dan Sri keluar dari mobil. Aksa berjalan terlebih dahulu, dan Sri mengekor dibelakangnya. Dari belakang Sri melihat Aksa sedang menghubungi seseorang, mungkin saja ia sedang menghubungi pacarnya.
Kakinya terasa berat untuk melangkah. Pikirannya terus menerawang, mengapa ia mengajaknya untuk menemui pacarnya, sebenarnya apa yang ingin Aksa bicarakan, apakah Aksa akan segara menceraikannya?. Ia harus menyiapkan hatinya untuk menerima kemungkinan yang terjadi nanti.
Aksa masuk ke dalam restoran Jepang. Di sana, kekasih suaminya berada, duduk di tempat paling pojok.
Sesampainya Aksa di sana, kekasihnya berdiri dan memberi kecupan di pipi. Sadar akan keberadaan Sri, Reta menampilkan wajah sinisnya.
“Ayo sayang duduk dulu. Mau pesen apa? Aku pesenin.”
“Terserahh kamu aja.”
Reta segera memanggil pelayan dan memesan pesanannya. Bahkan Sri sendiri tak ditawari apapun.
“Udah mbak itu aja.”
“Baik, silakan ditunggu pesanannya.” Ujar pelayan dengan ramah.
“Kok kamu cuman pesen itu doang?”
“Iya sayang. Sorry banget nih aku nggak tanya dulu. Emm…mungkin aja istri kamu ini nggak doyan makanan orang kaya, jadi yaudah nggak aku pesenin.” Ucap Reta sedikit memelaskan raut mukanya agar terlihat seperti orang yang bersalah.
“Ahh iya mbak… aku nggak doyan kok hehehe.” Sri tertawa garing. Ia paham pacar suaminya itu tak menyukainya.
“Jangan panggil gue mbak, gue bukan kakak lo. Panggil gue Reta. Paham?”
“Paham mbak..ehh ma..maksud saya Reta.”
“Sambil nungguin makanannya dateng, langsung aja gue mau ngomong sesuatu.” Aksa menjeda ucapannya. Ia tak sanggup mengatakan ini. Tapi ia harus.
“Biar aku aja yang ngomong sayang.” Baiklah, biar Reta yang mengatakannya.
“Lo tau kan kalo gue sama Aksa pacaran?” Sri menganggukkan kepalanya.
“Gue harap lo sadar sama posisi lo.”
“Hellooo…sadar posisi gimana mbak? Yang harus sadar situ apa saya?” ingin ia mengatakan itu, tapi sayang ia tak mampu.
“Lo nggak boleh suka sama Aksa, eh tapi nggak papa sih, itu kan urusan lo. Lagian Aksa juga nggak suka sama cewek kaya lo deh. Oh ya, 6 bulan dari sekarang lo harus setuju cerai dari Aksa, gue nantinya yang akan gantiin posisi lo jadi istrinya Aksa, jadi siapin hati lo.”
Hancur sudah hatinya.
Bagaimana nasib anaknya nanti. Dia sanggup kalau hanya menafkahi anaknya seorang diri. Yang membuatnya tak sanggup ialah, kalau seandainya anaknya menanyakan dimana bapaknya, bagaimana ia harus menjawab?
Apa dia harus mengatakan kehamilannya sekarang? Tapi dia takut. Ataukah dia tak usah mengatakannya?. Mungkin lebih baik seperti itu.
“Permisi.. makanannya sudah siap.” Suara pelayan mengalihkan atensi ketiga orang tersebut.
“Mbak…bisa tambah ice tea satu?” Tanya Aksa.
“Oh bisa..sebentar saya ambilkan.”
Selang waktu 5 menit pelayan itu kembali. “Ini ice tea nya mas. Selamat menikmati.”
Aksa memberikan minuman tersebut kepada Sri. “Nih minum, pasti lo haus.”
Reta kesal, kenapa Aksa harus seperhatian itu kepada cewek udik kaya Sri.
“Ayo dimakan sayang. Kamu kan suka banget sama sushi.” Reta menyuapi Aksa sushi dan diteruma oleh Aksa.
Udara disekita Sri tiba-tiba menjadi panas. Oh apakah dirinya cemburu?. Pastinya iya. Siapa yang tak cemburu melihat suaminya dengan perempuan lain?.
Ia segera meminum es yang diberikan Aksa dengan tergesa-gesa untuk menetralkan rasa panasnya. Ia melihat lagi Reta menyuapi Aksa.
“Aduh dek.. iku makanan orang kaya, jangan pengen. Tahan ya dek, nanti ibuk bisa buatin kok yang kayak gitu dirumah.” Ia mengusap perutnya. Kenapa juga anaknya minta yang aneh-aneh. Apa mungkin karena dia anaknya Aksa, jadi mintanya yang berkelas.
“Gimana?” Tanya Reta menimbulkan kekagetan bagi Sri.
“Gimana apanya mbak?” tanaya Sri bingung.
“Gue uda bilang jangan panggil gue mbak!”
“Ehh..maap Reta.”
“Whatever! Serah lo aja.” Reta memutar bola matanya.
“Lo paham kan sama ucapan gue tadi?”
“Emm..ii..iya mbak mbak.” Aksa lemas setelahnya. Dia kesal, kenapa Sri tidak marah ataupun menolak. Apakah dirinya tak ada artinya dalam hidup Sri?. Apakah Sri tak ada rasa sedikitpun kepadanya?. Ahh.. kenapa dirinya jadi kesal sendiri.
“Oke good. Lo tenang aja, nanti gue bakal kasih duit buat lo. Itu kan yang lo mau dari Aksa?.”
“Hapahh?! Dikira dirinya mata duitan apa?” Batin sri kesal.
“Ng..ndak usah mbak.” Tolak Sri.
“Nggak usah munafik deh lo. Gue tahu kalo lo butuh duit.” Batin Reta.
“Nggak usah nolak. Gue ikhlas kok.” Ucap Reta dibuat-buat. “Gue ikhlas karna gue nanti juga dapet ganti dari Aksa.”
Sri mulai berpikir-pikir kembali.
“Gimana yo.. apa aku terima aja. Lumayan nanti bisa buat celengan kalo aku lahiran.”
“Terserah mbak aja.”
“Ohh…jadi selama ini lo mau harta gue?!”
Ahh Sri bodoh, kenapa dia malah mau nerima uang dari Reta. Tapi tak apa, biar Aksa membencinya sekalian. Dengan demikian, ia tak susah untuk meninggalkan Aksa.
“Ii…iya mas, maap.”
Aksa tak mampu berkata-kata lagi. Ia terlampau kecewa kepada Sri.
“Gue nggak nyangka kalo lo kaya gitu. Ternyata muka polos lo cuma kamuflase doang.” Aksa mendengus tak suka.
“Maap mas.. aku terpaksa ngomong kayak gitu.”
“Aku sih nggak heran ya sayang sama orang kayak gitu. Yaudah sih ya, kamu juga bakal pisah sama dia. Nggak usah marah-marah.”
Sri hanya diam menunduk, sambil meremas ujung bajunya.
“Sayang, tadi aku lihat ada tas keluaran terbaru. Temenin aku beli yuk.” Aksa mengangguk meng-iyakan ajakan Reta.
“Oh ya Sri.. lo tahu jalan pulang kan? Ini gue kasih lo ongkos buat pulang. Gue sama Aksa mau pergi dulu. Bye bye.”
Aksa dan Reta pergi terlebih dahulu. Pertahanan Sri runtuh, ia tak bisa menahannya lagi. Ia terisak pelan.
Hatinya sakit. Ia usap air matanya dan melangkah pergi dari restoran itu.
“Srii..”
“Mbak Mona..” Sri kembali mengeluarkan air matanya.
“Sstt…lo kenapa nangis?” Mona melihat keadaan sekitar, ramai orang.
“Yaudah ceritain nanti. Sekarang kita pergi dulu dari sini.” Ia segera mengajak Sri pergi ke parkiran, ke tempat mobilnya berada.
“Sekarang coba lo cerita kenapa lo bisa nangis kaya gini!”
Sri pun menceritakan kepada Mona apa yang membuatnya menangis seperti ini.
“Sialan si Aksa sama Reta!” Mona marah, tak terima Sri diperlakukan seperti itu.
“Lo harusnya bilang kalo lo lagi hamil Sri!”
“Aku ndak bisa mbak.”
“Gue nggak bisa biarin ini terjadi Sri. Gue sendiri yang akan bilang ke Aksa kalo gitu.”
“Jangan mbak. Aku mohon.” Sri mengatupkan tangannya memohon.
“Kenapa Sri? Gue nggak mau keponakan gue nanti lahir tanpa seorang ayah.”
“Tapi mbak…mas Aksa ndak pernah suka sama aku, pasti dia juga ndak suka sama anak aku mbak. Jadi biarin aja mbak, aku ndak mau ngehalangin hubungan mas Aksa sama mbak Reta.” Sri semakin terisak. Kalau sudah begini Mona tak bisa apa-apa, dia hanya bisa berdoa demi kebaikan Sri.
“Sstt.. oke oke. Gue nggak akan bilang. Jangan nangis lagi, kasian anak lo, nanti dia ikutan sedih.”
“Sekarang gue anter lo pulang aja.” Sri mengangguk setuju.
.
“Istirahat ya. Jangan sampe kecapean. Gue pulang dulu.”
“Hati-hati mbak.” Sri melambaikan tangannya menuntun kepergian mobil Mona.
“Ehh iyo. Mumpung masih diluar, opo aku sekalian beli susu ke minimarket deket komplek yo.”
Saat perjalanan pulang tadi, Mona tak segan-segan menceramahi Sri karena tak minum susu hamil, katanya itu bagus untuk tumbuh kembang janin. Mana tahu dia, hamil juga baru sekali.
Ia tadi sempat menolak tawarana Mona yang ingin mengantarkannya ke supermarket. Terlalu banyak pertolongan Mona, membuatnya jadi tak enak. Jadi ia menolak dengan halus, dan mengatakannya bisa membeli sendiri di minimarket dekat perumahan.
Setelah membeli susu yang diinginkannya, ia tak langsung pulang, tapi duduk di bangku depan minimarket sambil menikmati satu cup ice cream. Itu bukan keinginannya, tapi keinginan anaknya.
Tadi saat berada di dalam minimarket, matanya tak sengaja melihat seorang anak kecil yang merengek ke ibunya minta dibelikan ice cream, kan dia jadi pengen. Yasudah, dia beli saja.
Setelah memakan habis ice creamnya, ia segera beranjak pulang. Tapi sayang, langkahnya terhenti karna kehadiran seseorang.
“Sri..”
“Mm..mas.. Dimas..” ia terkejut melihat sosok itu. Laki-laki yang ia hindari saat berada di desa.
Dimas Satrio, ia adalah anak lurah di desanya. Usianya terpaut 6 tahun dengannya. Dan ia begitu tergila-gila dengannya.
Sudah berulang kali Sri menolak ungkapan cintanya, tapi ia tak pernah gentar. Bahkan saat Sri baru akan masuk SMA, ia datang kerumah Sri untuk melamarnya. Gila bukan? Itulah dia.
Karna ia anak orang kaya, jadi semua keinginannya harus terwujud, begitu pula dengan memiliki Sri. Tapi sayang saat itu orang tua Sri tak menerimanya, karna menurutnya Sri masih terlalu kecil.
Bagi Sri, Dimas tak benar-benar mencintainya, tapi itu hanya obsesi semata. Karna baru kali ini keinginannya tak kunjung ia dapatkan.
Kembali ke topik utama.
Sri buru-buru pergi sebelum Dimas menghampirinya. Ia takut kalau Dimas berbuat nekat terhadapnya, seperti waktu itu.
“Kowe ameh lunga ning ngendi Sri?”
(kamu mau pergi kemana Sri?)
Sri tak menghiraukan ucapan Dimas. Ia mempercepat laju jalannya
“Srii..” Dimas memanggilnya lagi.
Ia semakin mempercepat gerakan kakinya. Tapi sayangnya cekalan di tangannya membuat ia harus menghentikan perjalanannya.
“Lepasin mas!” Sri berusaha melepaskan cekalan itu.
“Ndak..aku ndak mau lepasin.”
“Mas..aku mau pulang. Suami aku nungguin aku di rumah.” Sri terpaksa berbohong. Mana mungkin Aksa menunggunya di rumah.
“Jadi bener sing diomongne karo bapakmu nek kowe uwis duwe bojo?!”
(Jadi bener yang diomongin sama bapakmu, kalo kamu sudah punya suami?)
Dimas mengeratkan tangannya di pundak Sri.
“Iyo mas…jadi tolong lepasin aku mas.” Sri meringis kesakitan. Cengkraman tangan Dimas di pundaknya menyakitinya.
“Aku ndak percaya.”
“Mas tolong lepasin!”
“Aku ndak akan lepasin. Ayo saiki balik ning deso, nikah karo aku!”
(Ayo sekarang pulang ke desa, nikah sama aku)
“Mas!”
“Ndak bakal tak lepasin.”
“Tolong! Tolong!”
Dimas terkejut mendengar Sri berteriak minta tolong. Sebelum orang-orang menghampirinya, ia segera melepaskan Sri dan segera pergi.
“Aku bakal balik lagi Sri. Inget itu!”
Orang-orang datang mengerumuninya
“Ada apa mbak?”
“Ada apa mbak?”
“It..itu tadi ada orang yang mau nyopet saya, tapi ndak jadi.”
“Mbaknya gimana? Ndak papa kan?”
“Ndak papa pak.” Ucap Sri sedikit meringis.
“Yaudah mbaknya pulang hati-hati ya.”
“Iya pak.” Orang-orang yang mengerumuni Sri pun membubarkan diri.
Sri tak sadar kalau sedari tadi ada seseorang yang mengawasinya. Dia adalah Reta. Megapa dia bisa ada di situ?
Jadi tadi saat Reta baru berkeliling sebentar dengan Aksa, Aksa mendapat telpon dari seseorang. Dia bilang mamanya pulang dan minta dijemput di bandara. Ia tak langsung percaya saat itu, jadi ia mengikuti Aksa dari belakang.
Dan apa yang dia dapat? Ternyata Aksa tak pergi ke bandara, melainkan pulang ke rumahnya.
Kebetulan sekali saat ia mengikuti Aksa, dirinya tak sengaja melihat Sri bertemu dengan laki-laki tersebut. Ia jadi punya ide untuk membuat Aksa semakin membenci Sri.
.
“Kok mobilnya mas Aksa ada di depan to? Masa iya udah pulang?”
Sri terheran-heran dengan keberadaan mobil Aksa, ia pun membuka pintu rumah dengan sangat pelan.
Saat akan menutup pintu, ia dikejutkan dengan suara dingin seseorang.
“Dari mana aja lo?!”
“Aa..ehh..emm..itu mas, aku tadi habis dari minimarket depan.” Ia tiba-tiba gagap. Segera ia mendekap plastik minimarket yang berisi susu hamilnya. Ia tak ingin Aksa tahu apa yang dibelinya.
“Ohh..yaudah kalo gitu.” Aksa percaya percaya saja dan tak bertanya lebih lanjut dengan Sri, karna memang yang dilihatnya memang logo plastik minimarket dekat perumahan.
“Kok mas udah pulang? Mbak Reta gimana Mas? Jadi beli tasnya?”
“Banyak tanya ya lo! Bukan urusan lo.”
Sri pun tak berani bertanya lagi.
Sebenarnya Aksa pulang cuma mau mastiin apa Sri sudah samapai rumah apa belum. Setelah kebenaran yang terucap dari mulut Sri tadi, ia coba tak perduli, tapi hatinya berkata lain. Ia saja harus berbohong ke Reta kalau mamanya menelpon minta dijemput, padahal tadi yang menelponnya adalah Gaga.
flashback
Bunyi nada dering terdengar dari handphone Aksa. Ia melihat Id si pemanggil, ternyata dari Gaga. Kegelisahannya dari tadi menemui titik terang, mungkin saja ia bisa membuat alasan untuk pergi.
“Iya halo.”
“Siapa sayang?” Tanya Reta penasaran.
“Mama telpon.” Jawab Aksa sambil menutup speaker handphonnya.
“Iya halo mah.”
“Mah apaan sih Sa?”
“Jemput ke bandara sekarang?”
“Bandara apaan sih nyett. Gue dari tadi anteng di rumah.”
“Iya Aksa kesana sekarang. Bye mah.”
“BYE juga! Kesel gue lama-lama.”
“Emm..maaf ya sayang, aku harus pergi jemput mama di bandara. Kamu nyari tas sendiri nggak papa kan?”
“Iya nggak papa! Hati-hati di jalan.” Ucap Reta kesal
Flashback off
Aksa bingung, sebenarnya ada apa dengan hatinya? Mengapa hatinya tak percaya kalau Sri menginginkan hartanya. Hatinya seakan-akan menolak kebenaran itu.
“Gue mau pergi lagi. Lo jangan kemana-mana.”
“Nggih mas.”
“Mas mau dimasakin apa nanti?”
“Nggak perlu, gue nanti mau makan di luar.”
Okelah, batin Sri.
Bersambung…
Author mau nunjukin hasil gambar author. Pamer dikit boleh lah ya… Agagaga
Sekarang lagi gempar-gemparnya masalah virus, Author cuma mau bilang jaga kesehatan, semoga tidak ada hal buruk yang menimpa kita dan saudara-saudara kita, dan semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Aminn.
Author juga mau minta maaf kalo masih banyak typo. Tulisan ini masih banyak kekurangannya. Dan makasih yang udah ngasih vote sama komen. Sayang kalian banyak-banyak 💜
Gebetannya Doyoung pamit dulu.
Bye bye 😙