Sense✔

By devaokta

198K 16.4K 1.4K

[ENDING] "Sense is falling, sense the pain that I get from the person I love... But the love he never once ga... More

Cast
One
Two
Three
Four
Five
Six
Eight
Nine
Ten
Eleven
Twelve
Thirteen
Fourteen
Fiveteen
Sixteen
Seventeen
Eighteen
Nineteen
Twenty
Twenty One
Twenty Two
Twenty Three
Twenty Four
Twenty Five
Twenty Six
Twenty Seven
Twenty Eight
Twenty Nine
Thirty
Thirty One
Thirty Two
Thirty Three
Thirty Four-Last Part
New Story

Seven

5.3K 488 31
By devaokta

FOLLOW, VOTE DAN KOMEN
Banyak vote bakal cepet update!

♥♥♥

Lisa sedang sibuk menata diri di depan cermin. Ternyata ia sadar bahwa ia terlihat sedikit kurus. Wajahnya masih terlihat pucat pasi. Serasa tak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya. Saat ia masih asik menatap diri di depan cermin, tiba-tiba Bik Ida masuk ke kamarnya.

"Non Lisa udah ditunggu tuh sama temennya dibawah, cepetan atuh non kebawah. Kasian orang ganteng suruh nunggu non. Pacar non Lisa ya?" goda Bik Ida.

Lisa hanya tersenyum kikuk.

"Siapa yang datang?" batin Lisa.

"Ih Lisa gak punya pacar kok bik, Yaudah lisa turun pengen tau siapa yang dateng"

"Yaudah kalo gitu jagain ya non temennya nanti diambil orang abisnya ganteng pisan" goda Bik Ida.

"Ih bibik"

Lisa masih termenung di tempatnya. Setelah bik Ida pergi dari hadapannya.

Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Lisa segera mengambil tasnya dan turun kebawah. Kakinya menapaki satu per satu tangga. Saat ia berada di ujung tangga, ia melihat seorang pemuda tampan yang sedang memainkan ponselnya.

JUNGKOOK

Lelaki itu Jungkook. Lisa tak menyangka Jungkook datang menjemputnya. Lisa berdiri di samping Jungkook. Sepertinya pemuda itu belum menyadari akan kehadiran Lisa sebab pemuda itu masih memfokuskan pandangannya pada layar ponselnya.

"Jungkook" panggil Lisa.

Junhkook yang sedang memainkan ponselnya pun mendongak ketika mendengar namanya di panggil.

Jungkook menanggapinya hanya dengan deheman.

"Kamu ngapain jemput aku?" tanya Lisa heran.

"Gak ngapa-ngapain sih. Rumah lo kan searah sama jalan ke sekolah, yaudah gue jemput aja sekalian. Mau berangkat bareng gak?" tanya Jungkook masih dengan nada datarnya.

"Gak ngerepotin kamu"

"Intinya lo mau gak?"

"I-iya" jawab Lisa gugup, Lisa berjalan mendahului jungkook.

"Menggemaskan" tanpa sadar jungkook berguman seraya menyusul Lisa yang mendahuluinya.

Mereka berdua pun langsung keluar dari rumah besar itu. Hari ini Jungkook membawa motor. Lisa bingung harus duduk bagaimana. Ia masih bengong memandangi motor di depannya. Jungkook yang melihatnya berdecak sebal.

"Apa yang ditunggu gadis ini" pikir jungkook heran sambil menatap Lisa yang terdiam di tempat.

"Mau sampai kapan lo mandangin motor gue terus, buruan naik nanti kita bisa telat" ucapan Jungkook menyentakkan Lisa dari lamunannya.

"Kita naik ini?" tanya Lisa ragu.

"Ya iyalah naik motor gue kalo gak terus lo mau naik apa? Naik becak?" tanya Jungkook sewot.

Jungkook semakin kesal dengan gadis ini. Bagaimana tidak? Jam sudah menunjukkan pukul 06.50, tandanya 10 menit lagi bel masuk berbunyi. Tapi gadis ini tak kunjung naik motornya. Mengulur waktu saja.

"Woy, cepetan lis, emang lo mau kita telat?" kata Jungkook tak sabar.

Lisa masih cengo.

"Ini gimana ya naiknya" batin Lisa.

"Ini naiknya gimana jung? Aku gak bisa" tanya Lisa.

"Lo tinggal naik aja terus pegangan gue biar gak jatoh" balas Jungkook.

"Tapi rok aku pendek jung, nanti keliatan" sanggah Lisa.

"Tenang aja gue gak nafsu sama lo" jawab Jungkook terkesan datar.

Lisa terdengar menghela nafas panjang. Sepertinya susah untuk berbicara dengan Jungkook. Dengan berat hati, Lisa naik motor Jungkook. Rok Lisa yang memang pendek tersingkap keatas memperlihatkan paha putih mulusnya. Tangannya berpegangan pada bagian belakang motor. Karena tak mungkin ia memeluk Jungkook. Jungkook menghela nafas kasar saat mengetahui Lisa tak berpegangan padanya.

"Eh cewek aneh, lo mau mati gara-gara lo pegangan kayak gitu. Lo seneng kalo gue dituduh nyelakain lo" bentak Jungkook pada Lisa.

Lisa menggeleng kuat.

"Gak gitu jung, terus aku pegangan dimana?" tanya Lisa dengan wajah cengonya.

Jungkook menepuk jidatnya pelan. Jungkook emosinya mulai tersulut tapi mencoba untuk tenang.

Jungkook secara tiba-tiba mengarahkan tangan Lisa untuk memeluk pinggangnya.

Lisa tersentak kaget. Saat ia ingin melepaskan tangannya, tangan Jungkook menahannya. Lisa malu, bahkan ia yakin kalau wajanya sudah memerah saat ini.

"Udah lo gini aja biar lo gak jatuh. Gue gak bakal macam-macam" tutur Jungkook pada Lisa.

Lisa hanya menghela nafas pasrah. Tak mungkin ia berontak pada Jungkook. Itu sama saja ia membangunkan singa yang sedang tertidur. Jungkook tersenyum dibalik helmnya.

***

Jujur Lisa tidak tahu akan perilaku Jungkook. Dia seperti mempunyai kepribadian yang ganda. Kadang ia bersikap sangat dingin padaku dan kadang sikapnya begitu manis. Sulit untuk menebak apa yang dilakukan oleh jungkook.

Sosok jungkook mampu memberiku warna terang dalam hidup Lisa. Dia seperti halnya bintang yang mewarnai malam, mentari yang mewarnai pagi dan bunga yang senantiasa mewarnai kebun.

"Kenapa ada rasa nyaman saat berada di sampingnya" tapi segera Lisa tepis perasaan itu.

Seperti pagi ini, tiba-tiba saja jungkook menjemput Lisa. Aneh? Padahal sebelumnya jungkook sangat acuh kepada Lisa. Pagi ini jungkook datang kerumah Lisa dan mengajak berangkat sekolah bersama.

Saat jungkook menatap Lisa, ia seperti melihat beban dimata itu. Beban yang tak dapat tanggung sendiri.

Lisa yakin jungkook sebenarnya tidak baik-baik saja. Entah apa yang bisa membuatnya yakin. Tapi dari tatapan matanya Lisa dapat mengetahuinya.

Jungkook membuatku seakan-akan ingin tahu tentang kehidupannya. Menyelaminya hingga ke dasar. Ada perasaan ganjil yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ketertarikan pada kisah dalam hidupnya.

•••

Motor jungkook memasuki pelataran sekolah. Seluruh siswa terlihat terkejut bukan main. Bagaimana tidak? Idola para perempuan yang terkenal sangat dingin kepada siapa saja kini berboncengan dengan murid baru? Sungguh hal yang sulit dipercaya. Kejadian ini tentu membuat gempar seluruh warga sekolah. Apalagi fanatiknya jungkook yang bertebaran. Pasti Lisa akan terkena bullyan dari mereka.

Saat jungkook membuka helmnya. Seketika para wanita menjerit histeris. Lisa mengernyitkan dahinya bingung. Jungkook berdecak kesal. Ia malas dengan semua ini.

Dilihatnya Lisa yang berdiri di sampingnya. Terlihat sekali gadis itu bingung. Ditariknya tangan Lisa menjauh dari kerumunan masal tadi. Saat tiba di kelas, segera dilepaskannya tangan Lisa. Perasaan keduanya kacau. Seperti ada getaran aneh yang dirasa keduanya. Tapi mereka sama-sama menepisnya.

Hening

Tak ada yang mencoba berbicara. Saat mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, tiba-tiba bel masuk berbunyi. Para siswa berhamburan masuk kelas.

•••

Lisa memasuki rumah besar itu dengan tatapan kosong, seperti biasa. Beberapa menit yang lalu Jungkook mengantarnya pulang. Dunia Lisa benar-benar berubah. Kosong. Itulah yang dirasakannya. Perlahan kaki jenjangnya menampaki satu persatu anak tangga yang menuju kamarnya. Ia sungguh lelah dengan semua ini.

Apakah ia tak boleh lelah? Apa ia tak boleh menyerah? Tapi ia manusia yang suatu saat nanti akan merasakan luka yang begitu dalam. Lisa bergegas mengganti baju seragamnya segera ia turun ke bawah. Rumahnya sangat sepi. Bik Ida pun tak terlihat batang hidungnya.

Lisa menghela nafas kasar. Ia seperti tak punya keluarga. Saat ia melangkah menuju minibar di dapurnya, tubuhnya nyeri luar biasa. Pandangannya mulai berkunang-kunang dan kepalanya sakit sekali. Mungkin karena Lisa belum meminum obatnya hari ini.

Perlahan cairan merah kental keluar dari hidungnya. Wajahnya sangat pucat. Lisa berlari tertatih menuju kamarnya.

"Aku kuat aku pasti bisa" batin Lisa saat ia sudah sampai di kamar, segera diraihnya obat yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya lalu segara diminumnya. Lisa menghela nafas panjang lega. Ia lelah dengan keadaan seperti ini.

Entah sudah sejak kapan cairan bening itu membasahi pipinya. Lisa sudah tak punya kekuatan. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Hanya itu yang ia punya. Kepalan tangan yang ia yakini menyalurkan kekuatan untuknya. Ia terisak perlahan. Kapankah hidupnya berubah?

"Mama papa Lisa kangen kalian, kapan kalian pulang? Apa harus nunggu Lisa mati dulu biar mama sama papa pulang?" ditariknya nafas panjang. Dada Lisa terasa sesak. Sesak untuk menerima kenyataan hidupnya. Hidup sebatang kara tanpa ada seorangpun yang peduli. Ia sendiri. Benar-benar sendiri. Air matanya terus menetes dari mata indahnya. Ia kalut terhadap perasaannya.

Hatinya sakit dan tak dapat terobati oleh apapun. Andai Lisa tak berharap bertemu dengan orang tuanya, tentu ia sudah menyerah jauh-jauh hari. Menyerah pada kehidupan, dan membiarkan takdir itu menjalankan tugasnya.

"Lisa cuma pengen ketemu mama sama papa buat terakhir kalinya"







Yeyeyeye up nih
Makasih ya yang setia nunggu cerita ini aku terharu tau gak

Soalnya sekolah libur jadi bisa up cerita ini, oh iya buat kalian jaga kesehatan ya. Semoga dijauhkan dari Covid-19, hindari keramaian, jaga jarak sama orang 1 m, selalu cuci tangan setelah memegang benda apapun. Semoga Covid-19 cepet hilang di Indonesia.

Aminnn

Continue Reading

You'll Also Like

125K 16.5K 36
"Kisah ini, bukan lagi tentang Jennie si gadis pendiam yang ingin ditaklukan. Kisah ini hanya tentang bagaimana Jennie hidup setelah Kim Taehyung ada...
11.5K 1.3K 13
🍪[Hiatus] "The story of a pair of hearts love each other... But boredom makes it all fall into pieces that are difficult to reach again" Jennie Kim↔...
40K 5K 30
[18+] ✔ Apa yang si brengsek itu miliki dan tak ada padaku? Kenapa aku tak bisa memilikimu? Si brengsek itu tidak mencintaimu Sampai kapan kau akan m...
16.2K 2.2K 30
VRENE LOKAL VERSI. Di saat kamu merasa sudah berjalan dengan seseorang yang benar tetapi rasa cinta mula-mula yang sangat menggebu itu perlahan hilan...
Wattpad App - Unlock exclusive features