FOLLOW, VOTE DAN KOMEN
Banyak vote bakal cepet update!
♥♥♥
"Lo udah berangkat?"
Suara berat itu mampu mengalihkan perhatian Lisa. Saat ini Lisa sedang membaca buku tentang materi yang selama ini telah dilewatinya selama sakit. Lisa mengerjapkan matanya mencoba meyakinkan apa benar orang yang di depannya ini benar seorang Jungkook atau halusinasinya saja. Ternyata benar orang yang ada di depannya adalah Jungkook. Lisa tersenyum kemudian mengangguk.
"Iya ini aku baru berangkat, kenapa? Apa kamu merindukanku ya?" tanya Lisa seraya terkekeh mencoba menggoda Jungkook.
Jungkook membuang mukanya. Sebal. Itu yang dirasa. Pertanyaannya tadi justru membuat gadis di depannya ge'er. Jungkook membuang nafas kasar.
"Eh lo itu jadi cewek ge'er banget ya, lagian siapa yang rindu sama lo. Yang ada gue pengen lo jauh-jauh dari hidup gue. Kalau perlu lo enyah dari dunia" jawab Jungkook terkesan dingin dan pedas.
Tanpa disadari Jungkook, perkataannya tadi membuat hati seseorang terluka. Matanya mulai memanas. Tapi ia mencoba untuk tegar. Ia kuat. Ia tersenyum lirih.
"Segitunya ya jung orang benci akan keberadaan aku" tanyanya lirih bahkan hampir tak terdengar.
"Perkataanmu tadi bagiku hanya sebutir kerikil jung, tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang kualami selama ini" batin Lisa miris.
"Lo ngomong apa tadi?" tanya Jungkook mencoba memastikan.
Lisa menggeleng lemah. Kemudian di tatapnya Jungkook dengan pandangan sayu. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan siapapun.
"Aku gak papa kok, udah lupain aja ya"
Jungkook terhenyak melihat kedalam iris mata bulat itu yang tengah menatapnya kini terlihat sayu. Lagi dan lagi Jungkook melihat luka disana. Bahkan Jungkook dapat melihat ada titik air mata disana. Apakah ia sudah membuat gadis itu terluka? Apa karena ucapannya tadi yang menyebabkan luka kesakitan itu bertambah dalam?
Jungkook segera duduk di kursinya. Tepat disamping gadis itu. Kini Lisa terlihat menunduk. Segera direngkuhnya tubuh gadis itu ke pelukannya. Sejenak Lisa terpaku akan apa yang dilakukan Jungkook. Tapi sesaat kemudian Lisa merasa sangat nyaman berada dalam dekapan Jungkook. Bahkan saat ini Lisa dapat mendengar suara detak jantung Jungkook. Matanya semakin terasa memanas. Perlahan cairan bening itu membasahi pipinya. Bahunya bergetar dalam pelukan Jungkook. Jungkook semakin mempererat pelukannya. Nyaman itulah yang dirasakan mereka. Jungkook membiarkan Lisa menangis terlebih dahulu. Setelah tangisnya mulai mereda, Lisa mendongakkan wajahnya menatap Jungkook.
"Kenapa ya jung, aku merasa gak ada satupun orang yang nerima kehadiran aku" tanya Lisa lirih.
Jungkook menatap dalam mata Lisa.
"Gue minta maaf kalau perkataan gue udah nyakitin lo, tapi please jangan pernah nangis di depan gue. Gue bener-bener ga tega liat cewek nangis" Jungkook menghela nafasnya sejenak.
"Jujur gue gak tahu apa maksud lo nganggep semua orang gak ngeharapin kehadiran lo. Gue juga gak tahu apa maksud perkataan lo tempo hari kalau dunia ngejauhi lo. Tapi kenapa tiap gue liat mata lo, gue liat banyak luka disana. Dan sekarang gue udah nambah luka itu. Gue bener-bener minta maaf" ujar Jungkook tulus.
Entah kenapa Jungkook tidak bisa melihat wajah gadis itu penuh penderitaan. Selama ini ia bebas melukai siapa saja tanpa harus peduli apalagi meminta maaf. Tapi entah kenapa ia tak bisa melakukan itu kepada Lisa. Kenapa ia tak rela melihat air mata gadis itu jatuh begitu saja? Kenapa ia tak bisa melihat tatapan penuh luka dari gadis itu?
"Aku capek jung. Semua orang gak pernah nganggap aku ada. Nasib aku itu kayak ikan yang hidup di padang pasir. Sulit untuk bertahan hidup, bahkan aku sangat mudah mati nantinya" lirih Lisa seraya menunduk lesu.
"Lo seharusnya gak milih jadi Ikan, lo bisa jadi kaktus atau unta yang dapat bertahan hidup di padang pasir" tutur Jungkook.
"Kamu gak tahu apa yang sebenarnya aku rasain jung, hidup aku sendirian orang yang aku sayang semua ninggalin aku"
"Gue minta maaf, mulai sekarang gue bakal nganggep lo ada, maaf buat yang selama ini kalo gue terlalu jahat sama lo"
"Gak papa kok. Aku bahkan udah maafin kamu dari dulu. Karena aku tahu kamu pasti punya alasan ngelakuin semua itu"
Jungkook tersenyum samar, bahkan hampir tak terlihat. Baru kali ini jungkook merasa nyaman dengan seseorang. Entah dorongan darimana ia ingin sekali menjaga wanita itu. Ingin memberinya kenyamanan. Ingin melindunginya. Dan ingin menghapus setiap luka dalam hidupnya. Senyum tulus dan perkataan yang keluar dari bibir mungil gadis dihadapannya itu bisa membuat bibir seorang Jeon Jungkook memiliki garis lengkung.
•••
Lisa masih berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Ia masih menunggu jemputan supirnya. Padahal ia memberi tahu jam pulangnya 2 jam yang lalu. Langit terlihat gelap tak lama tetesan bulir air mulai turun hingga hujan turun dengan sangat deras, tetapi ia masih tetap berada di tempatnya. Memandangi tiap tetesan air hujan.
Hujan tak akan pernah takut tuk jatuh meski ia sudah merasakan sakit karena jatuh berkali-kali. Lisa membiarkan air hujan membasahi dirinya. Ia tak takut akan dinginnya hujan. Ia tak takut akan petir yang menyambar-nyambar. Yang ia takutkan bila ia tak punya waktu untuk bersama orang yang disayanginya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit dan berat, pandangannya mulai kabur, tapi ia mencoba untuk menahan rasa sakitnya. Hingga sebuah suara membuat Lisa tersentak.
"Lo itu orang paling bodoh yang pernah gue temui di dunia ini. Lo udah tahu hujan deres kayak gini tapi lo malah hujan-hujanan. Punya otak gak sih lo!" bentak orang itu yang tak lain jungkook.
Lisa yang memang sudah mati-matian menahan sakit di kepalanya pun hanya meringis mendengar makian Jungkook. Tubuhnya mulai menggigil seraya menatap jungkook.
"Taa-tapi aku harus nunggu supir aku" balas Lisa lirih bahkan terdengar seperti bisikan.
Jungkook menggeram mendengar ucapan gadis itu. Tak bisakah ia mencari tempat yang teduh? Kenapa gadis bodoh itu tak pernah berfikir untuk meneduh jika berlama-lama hujan bisa deman.
"Lo it---" ucapan Jungkook terputus setelah melihat Lisa tergeletak tak berdaya.
Dengan sigap jungkook menahan Lisa yang hampir jatuh tak sadarkan diri.
"Eh bangun lo jangan akting sok pingsan lo" ujar Jungkook seraya menepuk nepuk pelan pipi Lisa namun tak kunjung bangun. Tiba-tiba cairan merah pekat keluar dari hidung Lisa. Jungkook takut, sebenarnya apa yang terjadi pada gadis ini.
"Lis bangun. Lisa bangun ini gak lucu!"
Bersamaan dengan teriakan Jungkook, bunyi petir terdengar sangat menggelegar. Hujan turun semakin deras. Darah yang keluar dari hidung Lisa semakin banyak membuat jungkook panik setengah mati. Segera digendongnya Lisa ke dalam mobilnya. Ditaruh Lisa di jok belakang. Dengan tergesa-gesa Jungkook mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Berharap semoga Lisa baik-baik saja.
•••
Lisa mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba menyesuaikan pandangannya. Ia mengernyit ketika hidungnya mencium bau obat yang sangat menyeruak.
"Aku dimana" ujar Lisa lirih.
Jungkook yang ternyata sedang tidur di sampingnya pun mengerjapkan matanya beberapa kali setelah dirasa ada yang berbicara. Matanya menangkap sosok Lisa yang sudah sadar.
"Lo udah sadar?" tanya Jungkook, Lisa mengaangguk pelan.
"Aku dimana jung"
"Lo di rumah sakit, tadi lo pingsan sama mimisan, terus gue bawa lo kesini, kata dokter bilang lo cuman kecapean aja" jelas Jungkook pada Lisa.
Lisa hanya mengangguk mendengar penuturan Jungkook. Apakah lelaki itu khawatir padanya? Lisa menggelengkan kepalanya pelan mencoba menghilangkan pikiran anehnya. Dalam hati ia bersyukur dokter tidak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Ternyata dokter yang menanganinya tadi adalah dokter pribadi Lisa. Lisa tadi lupa meminum obatnya, sehingga penyakitnya kambuh lagi.
"Jung, makasih ya kamu udah mau bawa aku kesini, kalo kamu gak bawa aku kesini aku gak tahu apa yang bakal terjadi sama aku" mata Lisa kini berkaca-kaca.
"Ternyata masih ada orang yang peduli sama aku" batin Lisa.
Lisa sangat bersyukur untuk itu. Saat ia menoleh ke kanan, pandangan matanya beradu dengan mata milik Jungkook. Sesaat atmosfer disekitar menipis gugup dan canggung. Lisa menatap Jungkook sendu.
"Kamu adalah orang lain yang udah peduli sama aku setelah bibik Ida, aku sangat bersyukur"
"Lisa harap mama dan papa juga bisa peduli lagi sama Lisa"