aphelion

By jthings

554 136 7

-Aphelion; •°•°•°•°•°•°•°•° Aya harus tetap berada pada garis terjauh dari mataharinya karena ia tidak bisa m... More

1.0
2.0
3.0
4.0
5.0

0

164 24 0
By jthings

Bugh!

Satu pukulan.

Bugh!

Dua pukulan.

Bugh!

Tiga pukulan.

Setelah tiga pukulan—ah, sebenarnya bukan tiga pukulan, dia melepaskan lawanya yang sudah tak berdaya. Cowok itu mengatur napas yang terengah dengan mata terpejam sejenak. Suara ribut di sekelilingnya tak menganggu sama sekali walaupun didominasi oleh suara umpatan dan pukulan yang tak kalah keras.

Lalu matanya mengedar. "Anjing!"

Detik selanjutnya berlari.

Mana mungkin dia diam saja saat seseorang dengan seragam berbeda dengannya sudah siap mengangkat satu balok kayu tepat di belakang temannya yang sibuk menghajar habis siswa lain.

Dalam satu tendangan, kayu di tangan orang itu terjatuh. Pukulan tak segan-segan dilayangkan berkali-kali hingga yang dipukul tak berdaya.

Entah sudah berapa banyak orang yang cowok itu pukul habis. Tapi yang jelas kilat tajam dimatanya seolah tak pernah merasa puas dengan seberapa banyak pun orang yang dia pukul. Rasanya dia ingin menghabisi semua lawannya sekarang. Tidak peduli dengan wajahnya yang babak belur.

"Bin, anjing lah, gak seru amat ni tawuran! Anak buah Hugo lemah-lemah, mana kebanyakan anak kelas 10 lagi!" Jeve menggerutu pada Bintang setelah selesai dengan urusannya. Wajahnya tak jauh beda dengan Bintang, malah mungkin lebih banyak lebam di wajah Jeve.

Cowok dengan baju seragam putihnya yang terbuka dan menampakan kaos hitam polosnya itu, Bintang, lagi-lagi melempar lawannya yang sudah tak berdaya begitu saja ke atas aspal. Dan menyeka darah di sudut bibirnya sebelum berkata dengan songong ala Bintang, "yang kuat-kuat udah gua habisinlah!"

Jeve jelas mendengus, tapi tak merespon banyak karena memang hanya Bintang yang bisa seperti itu.

"Anjing!" Refleks, Jeve menendang dan menghantam seseorang yang tiba-tiba menerjangnya. Cowok itu menarik tubuhnya setelah berhasil menghabisi lawannya dan kembali ke samping Bintang yang sedang memandang dan memainkan tangannya yang penuh gores.

Bintang menarik satu sudut bibirnya. "Bagus, refleks lu makin bagus." Katanya pada Jeve.

"Hah! Gitu doang bukan apa-apa!" Kata Jeve sombong, dengan nada yang bikin orang ingin sekali menggeplak kepalanya. Bintang bisa saja melakukannya, tapi dalam keadaan seperti ini, itu bukan hal yang bagus apalagi melihat Jeve yang penuh lebam seperti itu.

Tak lama setelahnya, Jeve terkekeh mengedarkan pandangan. "Seperti biasa, putih abu menang dari putih cokelat."

Bukan tanpa alasan Jeve berkata begitu. Dilihat dari keadaan sekitar, siswa dengan baju putih dan celana coklat—seragam sekolah swasta musuh bebuyutan sekolah Bintang juga Jeve— lebih banyak yang tergeletak, ah, semuanya sudah Bintang dan teman-temannya habisi dan tidak ada tanda mereka akan menyerang lagi. Keadaan dari kubu Bintang sendiri hanya satu sampai lima orang saja yang benar-benar ambruk dan sisanya hanya lebam-lebam biasa. Iya, biasa.

Kalau sudah begini, jelas, putih-abu akan selalu menang dari putih cokelat.

"Nyet, cabut gak nih? Si cokelat udah abis."

Bintang menoleh pada Arse yang meminta persetujuan Bintang untuk membubarkan pasukannya.

Iya, cuma Bintang yang bisa membubarkan mereka.

"Si Hugo bener gak ikut tawur?" Tanya Bintang kemudian, menyebutkan salah satu orang yang bisa disebut posisinya sama dengan Bintang dari kubu sekolah tetangga.

Bisa dibilang, di putih-abu bosnya Bintang. Bos tim baku hantam maksudnya.

Kalau di putih-cokelat, ada Hugo.

"Gak ada laporan soal Hugo. Yang jelas tu orang emang gak ada dari tadi." Kata Arse.

"Padahal gua pengin banget ngabisin si bangsat kayak bulan lalu." Kata Bintang sambil tersenyum miring, menyenangkan mengingat Hugo yang habis di tangannya sendiri.

"Cabut aja dah, nyet, biar yang luka parah bisa cepet di obatin." Kali ini Jeve yang bersuara.

"Hm. Se, lo suruh anak-anak bawa yang luka parah duluan. Abis itu obatin." Perintah Bintang langsung dilakukan Arse.

"WOI! KITA CAB-"

"Gak seru amat dah maen cabut gitu aja."

Bintang tersentak, jelas sangat mengenali suara yang memotong ucapannya itu. Dia seketika mengeraskan rahang. Mengerti situasi.

"Anjing, bangsat Hugo bangsat! Dia biarin tenaga kita abis buat ngabisin anak buahnya yang bau kencur supaya dia gampang hajar kita! Anjing lah!" Desis Jeve, sudah mengepalkan tangannya dan mengeratkan gigi. Kesal setengah mati. Apalagi Bintang.

Tanpa penjelasan Jeve pun, Bintang mengerti bagaimana cara main Hugo sekarang. Sudah Bintang duga Hugo akan selicik ini.

Hugo dan pasukanya yang lain datang saat kubu Bintang hanya tinggal beberapa orang saja yang masih di tempat, karena sebagian mengevakuasi orang-orang yang luka parah ke markas mereka. Dan tenaga mereka yang masih di tempatpun jelas sudah banyak terkuras.

Mungkin Hugo kira caranya bisa bikin kubu Bintang kalah. Tapi Bintang pastikan itu tidak akan terjadi. Teman-temannya tak selemah yang Hugo pikir.

Cowok dengan kaos putih dan celana cokelat disana, Hugo, menyeringai remeh. "Masih mau tarung dan temen-temen lo abis sama gua? Atau..." cowok itu memain-mainkan pisau lipat di tangannya dan mata tajamnya memandang tepat pada mata Bintang. "Lo mengakui kekalahan. Sekarang."

Di samping Bintang, kekehan terdengar. "Hhhhh, cemen amat bawa senjata."

Setelah mendengar suara Juno, Bintang tersenyum miring. Dia tahu teman-temannya sudah bersiap di belakangnya. Dan mereka sama sekali tidak takut.

Kali ini Bintang kembali bersuara, "atau... lo aja yang gua abisin kayak bulan lalu?"

Dan tentu saja amarah Hugo terpancing, harga dirinya tergores saat mengingat kejadian itu. Detik berikutnya baku hantam tidak bisa terhindarkan.








"Bener nih, mau main ramean?" Bintang menatap Hugo dan dua anak buah Hugo satu persatu.

"Kalau ramean gini, mening maen ludo aja dah di hago." Bintang melirik Hugo.

"Bacot lo anjing!"

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Bukan hal yang sulit untuk Bintang melawan tiga orang sekaligus. Tapi sesuai dugaannya, Hugo tidak akan mudah ambruk seperti dua orang lain.

"Lo yang bakal abis kali ini di tangan gua." Kata Hugo, pengucapannya kelewat dingin. Tangannya sudah menggenggam pisau lipat.

Bintang hanya tersenyum miring melihatnya. Walau detik selanjutnya sibuk menghindari dan melayangkan pukulan pada Hugo.

Sampai saat—

"Ah! Anjing!" Bintang meringis. Lengan bawahnya berhasil tergores cukup panjang oleh pisau Hugo, membuat darah merembes darisana.

Mata Bintang menatap nyalang Hugo yang malah menyeringai. "Gua abisin lu beneran bangsat!" Amarah Bintang sudah di ubun-ubun. Tidak bisa ditahan lagi.

Bintang menerjang Hugo, memukulinya tanpa ampun. Sedangkan Hugo hanya bisa membalas tak sebanyak pukulan Bintang. Pisau lipat cowok itu sudah terlempar entah kemana.

Tapi suara sirine polisi saat itu harus menghentikan pukulan Bintang. Lagi-lagi Bintang menggertakan giginya, karena harus terhenti saat dia belum puas menghabisi lawannya ini.

"Bin, cabut cabut! Polisi dateng!" Pundak Bintang di tepuk oleh Jeve yang sudah berlari menyelamatkan diri seperti yang lainnya.

Keadaan saat itu chaos. Orang-orang berlari berpencar tidak peduli kemana, yang penting mereka menghindari polisi.

Bintang melepaskan cengkramannya di baju Hugo. "Kita belum selesai." Desisnya sebelum berlari meninggalkan Hugo yang ikut bangkit setelahnya dan berlari dengan sedikit terseok menyelamatkan diri.


"Nino..."


Suara lembut itu terdengar seiring langkah perlahannya menyusuri jalan rerumputan yang sedikit basah dengan hati-hati. Dress putih selututnya bergerak-gerak tertiup angin.


"Nino..."

Perempuan itu menyelipkan rambut coklat panjang sepunggungnya kebelakang telinga dengan mata mengedar mencari.

Langkahnya terhenti, kebingungan. Yang dicari tak kunjung memberikan tanda-tanda akan muncul, padahal sore sudah menjemput. Dia Menggaruk rambutnya yang tak gatal dengan tangan yang hampir tenggelam karena cardigan kebesaran berwarna coklat soft yang ia pakai.

"Nino... main dimana ya?" Gumamnya dan kembali melangkah. Sesekali menggerakan kepala mencari.



Hhhaaahhhh



Kaki yang dibalut flatshoes warna senada dengan cardigannya itu berhenti melangkah saat mendengar sebuah suara seperti helaan napas keras. Alisnya bertaut. Namun tak lama kembali melangkah, mengira salah dengar.

Hhhaaahhhh..... haaahhh

"Sial..."

Kembali langkahnya terhenti. Kini ekspresi wajahnya terlihat was-was. Tangannya saling bertaut di depan dada. Lalu membatin, suara Nino gak seperti itu...

Perempuan itu termundur tak ingin tahu suara apa—atau siapa itu. Kini ia takut, karena dia yakin tidak ada siapa-siapa disini selain dirinya. Tempat ini ditumbuhi beberapa pohon besar menjulang. Kalau dipikir... memang siapa yang mau ke tempat sesepi dan setidak menarik ini selain dirinya. Maka alasan ia takut dengan suara itu sudah jelas.

"A-aww! Anjir!"

Dan dia tidak termundur lagi setelah mendengar suara tersebut diiringi sebuah ringisan kesakitan. Lalu rasa penasarannya menjadi besar.

Menghela napas pelan, meyakinkan diri. Dia harus memeriksa suara itu. Karena terdengar dari suara tadi yang keasakitan, jika benar memang begitu maka dia harus membantu orang—atau apapun itu yang sedang kesakitan.

Maka kakinya melangkah mengabaikan rasa takut yang tadi sempat dirasakannya, mengikuti sumber suara tersebut. Di balik pohon besar yang berada beberapa langkah di sebelah kanannya.

Sekali lagi, dia menghela napas saat dirinya hanya tinggal melongokan kepala kebalik pohon itu. Harus berani, kalau-kalau ada yang butuh bantuan.

Walau sudah meyakinkan diri, nyatanya gadis itu tetap tersekat di tempatnya saat melihat seseorang di balik pohon itu bersandar tak berdaya dengan tubuh penuh luka dan juga... darah.

Mata sipitnya bahkan tak bisa berkedip untuk beberapa saat. Karena... ini pertama kalinya melihat orang dalam keadaan yang menurutnya cukup mengenaskan. Dia kira, dia hanya akan melihat orang dengan keadaan seperti ini hanya di televisi.

Sampai mata pemuda disana mengunci pandangannya dengan mata sayu.

"Tolong..."

Dan gadis itu tahu, dirinya tidak bisa berlari ketakutan meninggalkan pemuda ini.

Dia harus menolongnya.

Bahkan pemuda itu kini menatapnya penuh harap. Namun yang dia lakukan adalah berbalik dan berlari dengan tubuh sedikit gemetar takut.

MEET THE CAST of APHELION:

-ABIAN BINTANG KALANDRA, 18.
(Choi Soobin)


-JIAYA NARESWARI, 18.
(Hwang Yeji)

Coming soon 'APHELION'
story by: jthings

Continue Reading

You'll Also Like

6.4K 700 7
. . Soobin ingin menyatakan perasaannya pada Choi Beomgyu, akan tetapi takdir membuatnya jadian dengan Huening Kai yang bahkan tidak dikenalnya sama...
57K 3.1K 30
Pernah gak dibully disekolah hanya karena kamu pintar? Ya itulah yang dirasakan oleh Choi Beomgyu, Ayahnya telah tiada sejak ia berada di SMP membuat...
4.8K 495 34
mungkin hyunjin memang bukan untuk ryujin #20 itzy #11 hyunjinryujin #15 hyunjinryujin
33.9K 4.1K 23
Yeonjun deket sama Beomgyu itu biar bisa PDKT-an sama Soobin. Tapi Soobin mikirnya gk gitu- [ yeon | top ] [ bin | bot ] ©snowbitt
Wattpad App - Unlock exclusive features