"Bang yaa please... Sekali ini aja kok janji."
Doyoung mendecak menatap shuhua datar, "kenapa nggak si renjun nya aja yang suruh kesini." Ujarnya kesal.
"Ya kalo renjun kesini ketauan dong."
"Yaudah bagus, biar sekalian dia tau kalo pacarnya lagi sakit, biar dia gak mikirin kuliahnya doang. Punya pacar kok gak ada gunanya banget." Dumelnya.
"Abang ih, jangan nyalahin renjun, kan aku yang minta supaya renjun jangan tau kalo aku sakit."
"Dia gak salah apa-apa bang." cicit shuhua.
Doyoung mendecak samar, "iya abang tau, tapi seenggaknya dia peka dikit lah kamu udah dua hari gak sekolah. Gak ketemu dia juga, harusnya dia penasaran dong kenapa pacarnya ngilang gak ada kabar, ini malah anteng aja."
"Renjun sibuk—"
"Skripsi? Basi dek, abang juga pernah ngalamin sibuk sama skripsi tapi abang selalu nyempetin waktu buat keluarga, buat temen juga." Tadinya doyoung mau bilang buat pacar juga, cuma dipikir lagi ia belum punya pacar semenjak putus dengan salah satu maba empat tahun lalu.
Shuhua mencebik kesal setiap doyoung menjelek-jelekan dan menyalahkan renjun, padahal renjun tak salah apapun. Shuhua sendiri yang meminta pada semua orang agar renjun tak mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Tujuannya? Agar renjun bisa fokus pada skripsi dan segala tetekbengeknya agar mimpinya segera tercapai.
Shuhua tak mau hanya karena ingin dapat perhatian dari renjun ia merusak fokus laki-laki itu, yang bisa saja mengacaukan mimpi yang sudah renjun tata sedemikian rupa.
Melihat sang adik cemberut, doyoung hanya bisa menghela pasrah. Shuhua memang penurut, tapi dibeberapa waktu ia akan keras kepala apalagi jika bersangkutan dengan pacar kesayangannya.
"Yaudah kamu boleh ketemu sama renjun, tapi jangan lama-lama. Inget kondisi kamu masih lemah." Pesannya.
Barulah senyum manis terukir dibibir shuhua, "makasih bang hehe."
Doyoung hanya mendecih seraya membantu shuhua memakai hoodie, topi, serta masker lalu menuntunnya keluar menuju pintu lift.
•••
Renjun yang tengah mengendarai mobil milik chenle tersenyum menatap kotak hadiah disampingnya. Tadi, renjun menghubungi shuhua memintanya bertemu ditaman dekat rumahnya. Tempat biasa mereka menghabiskan waktu berdua, selain rumah shuhua dan kostannya.
Renjun berniat memberi shuhua kejutan dengan hadiah kecil yang telah ia siapkan, karena beberapa hari ini renjun sangat sibuk dengan skripsi nya apa lagi sebentar lagi renjun wisuda sehingga waktunya untuk shuhua semakin berkurang. Karena itulah renjun mengajak shuhua bertemu malam ini sekaligus permintaan maaf renjun karena lama tak menghubungi shuhua.
Setelah hampir sampai ditempat yang sudah renjun janjikan tiba-tiba saja ponselnya bergetar cukup lama menandakan ada panggilan masuk.
Dengan satu tangan masih memegangi setir kemudi renjun meraih ponselnya, menempelkannya ketelinga.
"Halo?"
Renjun mengerutkan dahinya ketika tak ada jawaban dari sebrang sampai beberapa puluh detik kemudian sebuah suara terdengar.
"Hiks..."
Renjun makin mengerutkan dahinya mendengar isakan tertahan, "halo? Lin lo kenapa?" tanyanya.
"K-kak renjun.."
"Lin lo kenapa nangis?" renjun mulai panik.
"Kak tolongin aku, rumah aku dirampok. Aku—"
"Aku takut.. " ucap lina parau.
Renjun melirik kotak hadiah disampingnya sebentar lagi dia sampai tapi lina butuh bantuannya.
Renjun mendecak mematikan sambungan telepon sebelum memutar setir kemudi berbalik arah.
•••
Shuhua memainkan kakinya yang tengah duduk disalah satu bangku taman, setelah mengantarkan shuhua, doyoung ijin untuk pulang kerumah karena sejak kemarin doyoung belum sempat membersihkan diri.
Kedua orang tuanya bekerja untuk biaya perawatan shuhua sehingga doyounglah yang bertugas menjaga shuhua selama dirumah sakit. Doyoung bahkan cuti kerja demi menjaga shuhua.
Shuhua melirik jam tangannya, sudah hampir satu jam tapi renjun tak kunjung datang, bukankah renjun bilang bahwa dia sudah berangkat sejak tadi?
Kalau macet itu tak mungkin shuhua saja yang dari rumah sakit lancar-lancar saja tak ada hambatan.
Shuhua meraih ponselnya mencoba menghubungi renjun.
Lonjin❤ : jun kamu dimana?
Lonjin❤ : aku udah ditaman, jadi kesini kan?
Shuhua mengantongi kembali ponselnya sebelum menghela napas memasukkan kedua tangannya kedalam saku.
Malam ini udara cukup dingin, membuat shuhua merapatkan hoodienya memeluk dirinya sendiri.
Shuhua tertunduk menatap ujung kakinya yang ia goyang-goyangkan sampai dua pasang kaki terbalut sepatu hitam muncul tepat didepan kakinya.
Shuhua tersenyum lalu mendongak dengan cepat.
Namun tatapannya meredup, senyumnya mendadak pudar saat orang yang ada dihadapannya bukanlah orang yang tengah ia tunggu sejak tadi.
"Ngapain malem-malem sendirian ditaman?"
•••
"Lo bukannya lagi dirawat?"
"Iya."
"Trus kenapa bisa ada ditaman."
Shuhua menipiskan bibir, "tadi renjun ngajak aku ketemu, katanya ada yang mau dia sampein."
"Tapi renjun nya gak dateng?"
Shuhua mengangguk kecil, "udah dichat belum?" shuhua kembali mengangguk.
"Udah, tapi gak ada balasan."
"Padahal lo udah bela-belain kesini ya? Tapi dia malah ngilang." shuhua tak menjawab memilih kembali diam.
"Pacar lo berengsek juga."
"Tapi dia temen kakak juga." ucapan shuhua membuat jeno terkekeh kecil,"iya ya."
"Kok gue bisa punya temen modelan dia ya."
Jeno melirik shuhua yang terlihat lesu tak bersemangat, ia hanya menunduk memainkan kakinya dengan bibir sedikit mengerucut, "Daripada waktu lo terbuang sia-sia mending lo ikut gue."
"Eh, kemana?"
"Ikut aja." jeno tersenyum tipis menarik tengan shuhua pelan.
Keduanya berjalan menuju tenda penjual jajanan pinggir jalan, tangan jeno masih menggenggam tangan shuhua sehingga tangan yang semula dingin berubah menjadi hangat. Jeno menariknya menuju tenda penjual sosis bakar, basreng, kebab dan yang lain.
"Lo mau apa?" tanya jeno.
Shuhua membaca menu jajanan satu persatu, "kebab sama sosis bakar aja deh."
"Mbak kebabnya 2 sama sosis bakar 2 ya." ucap jeno diangguki mbak penjual.
"Kok jajannya sama kak?" tanya shuhua.
"Gak papa, kebetulan gue juga lagi pengen itu." Shuhua hanya mengangguk kecil menunggu pesanannya matang dan siap untuk disantap.
"Oh iya, kok kak jeno bisa ada ditaman sih?" Seakan baru sadar kenapa jeno tiba-tiba ada didepannya padahal kostannya cukup jauh.
"Tadi gue abis dari rumah temen, kebetulan rumah dia satu komplek sama rumah lo. Pas gue mau balik gak sengaja gue liat lo duduk sendirian ditaman." jelasnya.
Shuhua mengangguk mengerti kemudian meraih kebab dan sosis bakarnya yang sudah matang, keduanya kembali berjalan menuju ke rumah shuhua yang tak jauh dari area taman.
"Lo mending pulang, udah malem. Gak baik cewek malem-malem diluar rumah. Harusnya lo juga diem aja dirumah istirahat yang banyak."
"Aku cuma pengen ketemu renjun aja kak."
"Nanti deh gue tanyain kenapa dia gak dateng."
"Gak usah kak gak papa. Mungkin renjun ada urusan mendadak, ntar juga dia jelasin sendiri sama aku."
"Yaudah." langkah jeno berhenti begitu juga dengan shuhua.
"Masuk gih, lo juga harus balik lagi kan kerumah sakit?"
Shuhua mengangguk, "makasih ya kak. Maaf udah ngerepotin."
"Ngerepotin apaan sih." jeno menepuk puncak kepala shuhua lembut.
"Cepet sembuh ya sha, biar bisa main lagi kayak biasanya."
Shuhua terdiam saat jeno tersenyum padanya, kedua matanya mendadak menghangat. Rasanya ia tak ingin pergi dan terus berada disamping orang-orang sebaik jeno dan rekan-rekannya.
"Heh, kok malah bengong? Mau dianterin sampe dalem?"
"Eh, gak usah kak."
"Kalo gitu aku masuk dulu ya kak. Kak jeno hati-hati dijalan." jeno hanya mengangguk memperhatikan shuhua berbalik masuk kedalam rumah baru setelahnya ia berbalik hendak pulang.
Baru saja berbalik ia telah menemukan motor sport yang sangat ia hapal berhenti beberapa meter didepannya. "lama amat sih lo."
"Tadi ban motor gue bocor." ucap jaemin sambil memberikan helm kepada jeno.
"Lo ngapain depan rumah shasha?" tanyanya.
"Lewat doang, terus gak sengaja ketemu. Anaknya udah masuk tuh."
Jaemin melirik rumah shuhua,"buru berangkat badan gue dingin nih."
Jaemin mendecak, kembali menyalakan mesin motornya, jaemin melirik rumah itu sekali lagi sebelum melesat pergi.
•••
"Lin, lina?"
Renjun berlari memasuki rumah lina yang pintunya terbuka lebar, renjun menatap ruangan dirumah lina yang sangat berantakan bahkan ada beberapa benda yang pecah berserakan dilantai.
Renjun menyusuri tiap ruangan dirumah itu hingga renjun berhenti didepan sebuah pintu yang renjun yakini kamar lina.
Tanpa menunggu lama renjun mendorong pintu yang tak terkunci tersebut, masuk begitu saja hingga pandangan nya langsung jatuh pada perempuan yang terduduk memeluk kakinya sendiri disudut kamar yang remang.
"Lina!"
Renjun sedikit berlari menghampiri lina, perempuan itu menangis memeluk kakinya erat, rambutnya acak-acakan ada beberapa luka dipipi dan lengannya.
"Lo gak papa?" tanya renjun.
"Kak renjun!" Begitu saja lina berhambur memeluk renjun.
Renjun sempat terdiam saat lina memeluknya erat, sejujurnya renjun tak suka lina memeluknya seenaknya begini, tapi melihat penampilan lina yang berantakan tangan renjun malah terulur balas memeluk lina guna menenangkannya.
"Sstttt udah jangan nangis. Sekarang ada gue."
Sepertinya renjun akan cukup lama berada dirumah lina, sampai perempuan itu benar-benar tenang.