Hari itu hujan turun. Air itu mengalir cukup deras dari jendela kamarku. Embun tercetak jelas dari dalam jendela kamarku.
Aku sedang berdoa. Ibuku dulu berkata, "berdoalah ketika hujan turun maka doamu akan dikabulkan."
Menilik sedikit ke arah luar jendela lalu menatap langit sebelum menutup kedua mataku, aku mulai melantunkan doa yang selalu aku ucapkan, "Tuhan jika aku boleh memilih aku ingin memilih jodohku. Bisakah kau membuat Yoongi menjadi jodohku?"
Aku tertawa, lucu rasanya mengingat aku pernah berdoa meminta hal seperti itu.
Selalu doa itu, setiap hujan turun. Berucap dari balik jendela kamarku yang berwarna coklat.
Sekarang hujan sedang turun. Aku sedang tak ingin berdoa, lagi pula aku tidak sedang berada di depan jendelaku, tepatnya aku tidak berada di kamarku sekarang.
Sekarang tak ada gunanya lagi aku berdoa. Tuhan telah mengabulkannya. Mungkin?
Doaku terkabul. Aku memilikinya, pria yang kucintai. Aku menikahi Min Yoongi.
Tapi aku sadar satu hal, menikah bukan berarti seseorang menjadi jodohmu dan mungkin Tuhan tak benar-benar mengabulkan doaku.
Aku mungkin menikahinya tapi aku bukan jodohnya.
Aku masih mencoba membiasakan diri. Seminggu bagiku masih kurang untuk membiasakanku pada tempat baru. Tapi entah kenapa walau sudah lebih dari seminggu bahkan sebulan masih saja sulit.
Apa karna aku tidak nyaman?
Aku selalu susah beradaptasi, apalagi tentang tempat tinggal dan tempat tidur. Aku bahkan bisa terbangun hampir 5 kali setiap malamnya karna ketidak nyamananku.
Sulit sih tapi kenyataannya begitu.
Aku membuka sedikit tirai jendela kamar ini, mengintip langit dari balik jendela. Lantainya sedikit basah juga kursi dan meja yang terdapat di balkon ini juga basah karna cipratan air hujan.
Hujannya tidak begitu deras tapi anginnya cukup kencang sehingga membuat lantai sampai perabot yang ada di balkon menjadi basah.
Aku sedikit menyipitkan mata, menatap jam yang berada di atas meja sebelah tempat tidurku. Baru minus 2 padahal tapi rasanya sulit sekali melihat dari jarak yang tak begitu jauh ini.
00:21, hampir setengah 1 dan aku tiba-tiba terbangun. Kali ini bukan karna ketidak nyamanan atau karna aku mimpi dikejar oleh sekelompok zombie yang haus darah tapi aku hanya terkejut karna angin kencang yang sedikit mendobrak jendela dan menimbulkan sedikit suara gaduh.
Dia bahkan tak terusik sedikitpun. Tidurnya masih sama, posisinya menghadap ke jendela ini. Matanya tertutup, deru napasnya juga teratur.
Aku bahkan masih bisa merasakan sisa-sisa kebencianku terhadapnya bahkan saat ia tidak berbuat apa-apa seperti sekarang.
Aku bisa menatapnya, sebelumnya aku bahkan tak bisa menatapnya walau dari kejauhan, melihat wajahnya serinci ini. Jika aku ingin aku bisa menyentuh seluruh permukaan yang ada diwajahnya. Mata, alis, hidung, pipi bahkan bibir kecilnya itu.
Tapi aku takut. Aku takut jika aku benar-benar melakukannya aku akan mengeluarkan sebagian banyak yang aku sembunyikan, jika aku masih saja menyimpan sebagian cintaku untuk pria yang sekarang berbaring di depanku.
Aku kembali menatap langit melalui jendela kamar ini, menutup mata dan berbicara pelan sekali, "Tuhan aku ingin mencabut semua doaku, aku tidak ingin menyakiti diriku lagi."
..
"Itu makanan. Untuk dimakan bukan untuk dimainkan." Aku berhenti, sendok yang sedari tadi aku gunakan untuk mengaduk isi piringku kuletakkan lalu menatap lawan bicaraku. Wah ternyata dia memperhatikanku.
"Aku sudah selesai." Aku bangkit lalu membawa piringku ke wastafel dan membuang sisa makanku kedalam tempat sampah yang ada di bawah kiri wastafel.
"Begitukah caramu menghargai makanan? Dengan membuangnya?" Wajahnya tampak tidak suka. Alisnya terlihat menyatu dan matanya menyipit. Mungkin dia kesal.
Selain diacuhkan, aku juga membuang sarapan yang ia buat. Bukan tidak sopan atau tidak menghargai hanya saja aku tidak begitu suka daun bawang dan nasi goreng yang ia buat itu banyak terdapat daun bawang.
"Aku sudah kenyang. Apakah aku harus memaksanya masuk walau aku tak bisa lagi menampungnya?"
Aku tau dia pasti sedang menatapku tak suka. Aku tau hanya saja aku tak ingin melihat wajahnya yang nampak marah itu.
Setelah membereskan alat makan dan meletakkannya di wastafel aku mencuci tanganku dan mengelapnya dengan kain lap. Tidak langsung kucuci, biasanya akan aku lakukan jika aku sudah pulang kerja dan kemudian dilanjutkan dengan membuat makan malam.
Setidaknya aku selalu membuat makan malam untuknya walaupun aku tak ingin. Malas rasanya harus makan dengan orang yang menyebalkan bahkan berpotensi membuat mood-ku turun.
"Ayo aku antar." Yoongi menungguku di depan pintu dapur. Sudah sangat rapi dan siap untuk pergi bekerja.
Aku menghela napas. Melihatnya dengan tampilan seperti ini harusnya membuatku senang karna salah satu impianku terwujud.
Ingin melihat Yoongi setiap pagi sebelum ia pergi bekerja dan juga ingin memakaikannya dasi lalu memilihkannya pakaian kerja setiap hari.
Kecuali memakaikannya dasi, aku tak pernah memakaikannya juga dengan memilihkan pakaian kerja. Perutku seketika tergelitik. Mana mau juga dia memakai pakaian yang kupilihkan lagipula mungkin dia tak ingin kusetuh walau hanya memakaikannya dasi.
Dia jelas tak ingin, tapi apakah aku ingin?
Aku menggelengkan kepala. Menepis pikiran konyol yang mungkin berpotensi merusak hariku hari ini.
"Tidak perlu. Aku mau bawa mobil sendiri."
"Kau yakin? Jangan memaksakan kehen..."
"Jangan khawatirkan aku. Aku bisa."
Aku tau mungkin dia ragu atau juga takut. Tapi harusnya akulah yang paling takut. Kecelakaan 2 bulan lalu hingga membuatku koma hampir 2 minggu membuatku sedikit takut untuk menaiki mobil lagi.
Lucu saat melihatnya seakan memperdulikan aku. Seharusnya akulah yang harus menunjukkan wajah takut bukan dia.
Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Aku tidak mau selamanya takut pada hal-hal semacam ini. Akan membuatku kesusahan dilain hari.
Jadi aku sedikit memberanikan diri mulai mengendarai mobilku sendiri.
..
Aku bekerja. Tentu saja harus bekerja.
Aku tidak mengharapkan pemberian uang bulanan atau uang jajan dari suamiku itu.
Aku masih sangat sanggup membiayai diriku sendiri. Di awal pernikahan Yoongi memang memberikanku kartu kredit dan juga kartu atm miliknya. Tentu aku bisa memakainya dan membeli apapun kebutuhanku tapi dibanding memakainya aku justru meletakkannya di dalam laci lemariku.
Aku juga binggung kenapa aku tidak menolak atau kukembalikan saja malah justru tersimpan rapi di dalam laci lemariku.
Atau mungkin saat kami nanti bercerai aku akan menguras uangnya terlebih dahulu lalu menghembalikannya. Konyol.
Bercerai, ya? Mungkin saja.
Yang jelas dia tak akan bangkrut mengingat berapa banyak cabang restoran yang ia miliki berbeda denganku yang hanya membuka sebuah toko bunga itupun peninggalan ibuku.
"Belum pulang, Youngie?"
"Hmm? Belum sebentar lagi. Kau sendiri belum pulang?" Aku meletakkan ponselku di atas meja lalu menatap Seulri memberikan perhatianku padanya.
"Kihyun Oppa sedikit terlambat menjemput jadi lebih baik tunggu di dalam, kan?" Ucapnya sambil tersenyum simpul dan mengelus perutnya yang sedikit menonjol.
Seulri sedang hamil. Kalau tidak salah ingat mungkin usia kandungannya sudah memasuki usia 12 minggu. Tipekal pengantin baru yang cepat isi. Aku tersenyum saja. Pernikahan kami beda 5 bulan. Dan sekarang usia pernikahanku dengan Yoongi memasukki bulan ke 2
Lalu bukankah kalau begitu aku termasuk pengantin baru? Pikiran itu mengelitikku. Rasanya ingin tertawa saja. Aku bahkan rasanya tak pernah menikah.
"Kau menunggu Yoongi Oppa, ya? Dijemput?" Andai saja Seulri tau tapi aku tidak tega memberi tau padanya apa yang terjadi. Dia sudah menjadi sahabatku semenjak kuliah dan sekarang kami bekerja bersama. Kami dekat. Sangat. Tapi aku tidak pernah bisa menceritakan kesedihanku padanya.
Aku takut menambah beban orang lain termasuk sahabatku sendiri.
"Aku bawa mobil sendiri, kok. Hanya belum ingin pulang saja," jawabku sambil mengusap lengan sebelah kiriku. Aku takut ketahuan.
"Sedang bertengkar?" Aku otomatis menatapnya. Wajahku jadi lebih serius sepertinya, terlihat saat Seulri menatapku ekspresinya ikut berubah.
"Kenapa bilang seperti itu?" Aku tertawa kikuk sambil membereskan beberapa barangku yang masih ada di atas meja. Mengalihkan rasa gugupku.
"Biasanya kalau baru menikah itu selalu rindu. Ingin cepat-cepat pulang bukannya malah menghabiskan waktu tak jelas di tempat kerja."
Dia tertawa. Mengejek. Dan aku jadi makin sebal karnanya.
"Sok tau," ucapku ketus.
"Hal biasa."
"Umm?"
"Iya. Hal biasa jika pasangan baru bertengkar. Aku juga begitu dulu. Banyak sifat kami yang saling bertabrakan setelah menikah. Bahkan sifat baru yang baru muncul yang tak pernah ditunjukkan pada saat pacaran," ucap Seulri sambil menepuk bahuku sebelum melanjutkan ucapannya.
"Tapi itulah pernikahan. Menyatukan 2 bahkan lebih hal yang berbeda agar bisa menjadi satu. Saling mengerti. Jadi bertengkar itu bumbu penyedap untuk mencapai kebahagiaan juga." Lalu Seulri beranjak. Merapikan sedikit penampilannya.
"Aku duluan, ya. Kihyun Oppa, sudah ada di depan. Jangan pulang malam-malam, ya." Seulri berlalu dan setelah terdengar suara lonceng di pintu ketika ia membuka pintu.
Hening. Sekarang tinggal aku sendiri. Oh, ralat maksudku tinggal aku dan juga jalan pikiranku.
Termenung sebentar. Seulri tidak bohong. Ucapannya memang benar. Seperti itulah pernikahan. Harusnya memang terdengar seperti itu. Tapi melihat kehidupan pernikahanku rasanya tak akan ada yang bisa diharapkan.
Aku bahkan tak yakin apakah masih mencintainya atau tidak. Kalau Yooogi tidak usah ditanya, dia pasti jelas tidak menyukaiku.
Aku memutuskan pulang. Hampir jam 8 malam dan aku yakin bahwa Yoongi pasti sudah ada di rumah. Dia jarang sekali pulang telat biasanya jam 7 saja dia sudah berada di rumah.
Entahlah walaupun kadang tak ada yang ia lakukan tapi sepertinya rumah menjadi tempat ternyamannya. Atau aku hanya sok tau saja.
Eh, tunggu dulu. Kenap aku jadi ingat jadwalnya?
Setelah memastikan beberapa lampu padam dan juga pintu dan jendela telah terkunci aku memutuskan untuk segera pulang.
Sial!
Aku menatap ban mobilku. Sial sekali rasanya. Kenapa harus sekarang?
Aku menendang sedikit ban mobilku yang kempis itu. Tak percaya kenapa bisa seperti itu. Menghela napas dan mencoba mendinginkan pikiranku aku berjalan meninggalkan mobilku. Sedikit maju kepinggir jalan, berniat memberhentikan taksi yang lewat.
Aku tak sabar. Kakiku pegal, jari jemariku seperti saling meremukkan di dalam hells-ku ini apalagi betisku hampir pecah rasanya.
Bagaimana tidak, hampir sepuluh menit aku berdiri dan hebatnya tak ada satu taksi pun yang lewat.
Wah seperti sebuah konspirasi yang sudah direncanakan secara apik.
Aku mengambil ponselku dari dalam tas lalu menghubungi seseorang. Aku yakin dia tak akan menolak. Aku tak bisa ditolak.
Setelah dering ketiga barulah panggilanku disambut.
- Oppa? Dimana? Cepat jemput aku sekarang.
- Eiyyyy, aku sedang tak bisa. Aku sedang menunggu rekan bisnisku. Tak enak jika dibatalkan tiba-tiba.
- Aku mau pulang. Ban mobilku kempis. Pokoknya aku tunggu kalo tidak aku tidak akan pulang.
Diam. Cukup lama hening sampai suara kembali terdengar.
- Lagipula kenapa bawa mobil, sih? Memangnya sudah sepenuhnya tidak takut?
- Pokoknya jemput aku, ceramahnya nanti saja jangan sekarang, ya?
- Aku benar-benar tidak bisa. Hubungi Yoongi Hyung saja, ya? Minta dia menjemputmu. Oke?
- Tidak! Pokoknya aku tunggu Oppa saja.
Aku mematikan sambungan telpon itu. Aku tau itu tak sopan tapi jelas harusnya kakakku lebih paham jika hubungan kami tidak sebaik itu bahkan untuk memintanya menjemputku.
Napasku memburu. Kesal bukan main. Kenapa harus menyebut namanya disaat aku sedang dalam keadaan kacau seperti ini? Itu semua menambah kekesalanku hingga level 10.
Baiklah paling tidak tunggu sampai 15 menit lagi sampai kakakku datang dan yang harus aku lakukan hanya tinggal menunggunya dengan manis dan sabar.
Aku putuskan untuk menunggu di dalam toko bungaku saja. Membuka kembali pintunya lalu menghidupkan lampu. Tubuhku berjalan menuju meja kasir. Mendudukkan tubuh lelahku dan yang memperparah keadaanku adalah kondisi perutku yang sangat lapar.
Tenagaku seperti tinggal 5 persen saja saat ini. Sangat lemas.
Aku menjatuhkan kepalaku pada meja. Menghirup sedikit aroma bunga yang ada. Sedikit menenenagkanku.
Lalu setelah lama menunggu dan hampir saja terlelap aku mendengar bel pintu berbunyi, pertanda seseorang baru saja datang.
"Kenapa lama sekali sih, Oppa? Aku lelah dan lapar." Aku mengangkat wajahku malas. Lalu mulai menatap arah depanku.
Mati aku!
Aku tiba-tiba diam. Terkejut bahkan rasa kantuk yang tadi sempat datang seolah sudah pergi jauh.
"Maaf, ya membuatmu menunggu lama." Aku masih diam mematung. Kok bisa, sih?
"Ayo pulang," ucapnya lembut. Tapi kelembutan itu justru membuat aku makin gusar.
"Mana kakakku? Kenapa jadi kau yang datang?" Selidikku dengan alis sedikit mengkerut.
"Hoseok sedang sibuk jadi dia minta tolong padaku untuk menjemputmu."
Aku beranjak dari dudukku lalu mengambil tasku untuk bersiap. "Aku pulang sendiri saja." Berjalan melewatinya.
"Kau ini kenapa, sih?" Yoongi menarik tanganku saat aku melewatinya membuat aku sedikit terdorong kearahnya. "Aku sudah di sini dan kau malah ingin pulang sendiri? Kalau begitu kenapa tidak dari tadi saja pulang sendiri? Kau malah menelepon kakakmu dan membuatnya repot."
"Itu alasannya." Aku menarik tanganku, masih menatapnya. Tidak kualihkan sedikitpun agar ia tau bahwa aku tidak takut.
"Aku tak mau merepotkan orang asing dan kakakku bukan orang asing." Aku masih menatapnya tepat pada kedua bola matanya.
"Aku tak mengerti jalan pikiranmu." Yoongi tertawa atau lebih tepatnya tersenyum mengejek kepadaku, begitu yang bisa aku tangkap dari wajahnya. "Jadi maksudmu suamimu ini adalah orang asing? Begitu?" tanyanya dengan nada sedikit dilebihkan. Entah apa maksudnya kali ini.
"Kau memang orang asing. Aku tak pernah merasa punya suami. Aku bahkan tak ingat pernah menikah!" Aku memundurkan tubuhku sedikit berjarak padanya lalu berusaha pergi meninggalkannya.
Tapi tiba-tiba dia menarikku. Membuatku terduduk di kursi yang biasanya menjadi tempat duduk pelangganku yang sedang menunggu. Mengurungku dengan kedua tangannya yang berada dikedua sisi kursi.
Menundukkan kepalanya menjadi sejajar dengan wajahku lalu memiringkan kepalanya sambil tersenyum sok manis, atau sok menyeramkan atau entahlah pokoknya aku ingin menjahit kelopak matanya dan mengelem bibirnya saat ini juga.
Dibanding benci kali ini aku sebenarnya sedikit takut.
"Kalau begitu akan aku buat kau merasakan punya suami."
[]