Speed Dating [19/?]

By pinkchocoberry

47.5K 7.7K 1K

Keputusasaan berbeda memaksa Jung Jaehyun dan Lee Taeyong sama-sama mengikuti sebuah acara berkesan konyol di... More

Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Tujuh.
Delapan.
Sembilan.
Sepuluh.
Sebelas.
Duabelas.
Tigabelas.
Empatbelas.
Limabelas.
Enambelas.
Delapanbelas.
Sembilanbelas.

Tujuhbelas.

1.3K 259 49
By pinkchocoberry

Sisa wakti malam berlalu. Acara itu dipenuhi beragam obrolan santai, game dan barbeque yang ditugaskan bergantian. Jaehyun dan Taeyong sama-sama cukup menikmati. Satu-satunya yang membuat ketidaknyamanan mereka mungkin hanya kehadiran seorang Park Chanyeol di waktu dan tempat yang sama.

Contohnya sekarang, tepat begitu Jaehyun sadar Taeyong menggigil dan menyarankan agar mereka pulang lebih cepat.

Chanyeol yang mendengar itu, memutuskan untuk mendekat─ikut campur meski tanpa ada yang meminta. "Iya. Dia memang mudah kedinginan sejak dulu, bahkan jika udara sebenarnya tidak terlalu dingin sekalipun."

Taeyong memandangnya tajam dan Jaehyun harus menjaga diri supaya tidak meninju si pria Park di depannya saat itu juga.

Sepanjang waktu, dia seolah sengaja mendekatkan diri padanya dan Taeyong, menyela untuk berkomentar bahkan saat tidak ada yang mengajaknya berbicara.

Saking jengahnya, di satu waktu Jaehyun bahkan menarik Taeyong keluar dari kelompok di sana untuk masuk ke dalam rumah─tentu saja setelah izin pada Seulgi─dan duduk di ruang tamu. Sengaja.

Dia tidak peduli pada Park Chanyeol. Namun Jaehyun melihat jelas bagaimana sosok itu sangat berpengaruh pada Taeyong─membuatnya tegang dan tak nyaman sepanjang waktu─dan Jaehyun berusaha melakukan segala apa yang dia bisa untuk meringankan suasana hati Taeyong semalaman, membuatnya tertawa dengan leluconnya yang sebenarnya tidak seberapa lucu.

Untungnya itu bekerja, sehingga Taeyong bisa jadi sedikit santai.

Sekarang, Chanyeol justru membuka mulut besarnya lagi─berkata seolah jadi yang paling tahu tentang si pemuda Lee sambil membawa-bawa masa lalu mereka. Sebuah topik yang benar-benar cocok untuk mengakhiri malam. Meski Jaehyun tentu tak mau menyerah begitu saja. Dia menyampirkan jaketnya di bahu Taeyong dan memberi Chanyeol tatapan keras.

"Terima kasih infonya, Park Chanyeol ssi. Beruntung, aku bawa jaket untuk menghangatkan tubuh Taeyong kalau begitu. Permisi."

Keheningan yang terjadi kemudian, sangat fantastis, Jaehyun merasa sangat puas begitu mendengar gertakan gigi dari pria tinggi itu saat keduanya melewatinya menuju tempat parkir.

Seulgi yang kebetulan baru saja mengantar beberapa tamunya bersama Jimin, langsung mendekat saat melihat mereka. "Mau pulang sekarang?"

"Iya. Maaf, Seulgi. Jaehyun ada latihan pagi besok. Aku juga khawatir karena Jeno sendirian di rumah," sesalnya dengan bibir bergetar. Semakin malam angin malam jadi semakin dingin─meski dia sudah mengenakan jaket milik Jaehyun sekalipun.

"Iya, Tae. Aku mengerti. Terima kasih sudah datang." Dia beralih pada Jaehyun dan tersenyum. "Senang bisa bertemu denganmu, Jaehyun."

"Aku juga. Acaranya menyenangkan, aku menikmatinya." Jaehyun tersenyum dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, tapi diabaikan. Seulgi justru menariknya dalam pelukan hangat, layaknya mereka sudah kenal lama. "Oh."

"Terima kasih banyak sudah menemani uri Taeyong malam ini." Seulgi menarik diri lagi dan menepuk tangannya beberapa kali, bangga. "Kau sangat bisa diandalkan."

Jaehyun tertawa pelan dan mengusap lehernya untuk menyembunyikan rasa malu. "Um, ya, terima kasih."

Jimin yang jadi penonton jadi tidak bisa menahan tawa, kali ini bergantian yang menjabat tangan Jaehyun. "Kita akan bertemu lagi di pesta pernikahanku nanti, kurasa?"

Jaehyun menatap Taeyong di sampingnya dan mengangguk. "Iya. Kurasa begitu."

"Baiklah. Hati-hati di jalan untuk kalian berdua."

Mereka berdiri di pinggir, tepat di depan gerbang dan melambaikan tangan saat mobil Taeyong dan Jaehyun melaju pergi meninggalkan kediaman Kang. Di dalam, Jaehyun seketika mendesah dan menenggelamkan diri kembali ke sandaran kursi penumpang.

Taeyong tersenyum padanya. "Malam yang melelahkan?"

"Tidak juga. Hanya bahuku terasa agak sakit." Dia mengusap bahunya sebentar. "Bekas jatuh saat pertandingan kemarin sepertinya kambuh lagi."

"Aku sempat melihatnya." Taeyong meringis simpati, jatuhnya di atlet di pertandingan kemarin itu cukup keras─meski tidak sampai berakibat cedera serius. "Tapi kau dapat jatah libur selama beberapa hari, kan?"

Dia mengangguk. "Iya. Tidak ada pertandingan hingga Jumat depan."

Selama beberapa menit berikutnya mereka tidak berbicara. Jaehyun mengusap bahunya dan menyaksikan sosok di sampingnya hanya dari sudut mata. Mereka tidak mengatakan apa-apa─pun tentang ciuman yang telah terjadi. Sebenarnya, Jaehyun ingin bertanya apa Taeyong juga merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan. Bahkan hingga sekarang, itu masih ada di sana, di belakang pikirannya; ingatan rasa manis dan lembut bibir Taeyong di bibirnya.

Sungguh tidak membantu, karena semakin lama Jaehyun justru ingin merasakannya lagi. Bahkan ingin lebih.

"Apa rencanamu minggu ini?"

"Tidak ada. Aku tidak punya rencana apa-apa." Taeyong menggeleng, melirik ke arahnya. "Kenapa?"

Jaehyun tersenyum. "Aku pernah bilang akan mengajakmu menonton film, ingat? Di telepon waktu itu?"

"Kau tidak perlu melakukan itu, Jaehyun." Tangannya mengepal pada kemudi, tak enak hati. "Kita tidak sedang benar-benar berkencan."

Jaehyun kehilangan senyumnya, mengerutkan kening dan melihat keluar kaca depan. Iya, itu benar. Mungkin dia memang harus terus diingatkan. Batasan itu. Tapi kini dia terlanjur menginginkan lebih dan meskipun satu-satunya cara adalah dengan memanfaatkan keadaan akan dia lakukan. "Aku hanya berpikir, dengan begitu kau bisa bercerita pada teman-temanmu nanti, bahwa kita memang pernah pergi kencan. Dan kali ini, bukan sekedar kebohongan."

Taeyong tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa waktu. Bepikir keras untuk sementara sampai berusaha menelan bulat-bulat keraguan. "Film apa?"

"Untuk filmnya bisa kau yang pilih."

"Apa kau mengatakan itu juga karena itu adalah jawaban yang biasanya seseorang berikan pada kekasihnya?"

"Tidak, aku mengatakan itu karena aku tidak peduli film apa yang kita tonton, selama aku menontonnya bersama denganmu, Taeyong."

Jaehyun tidak melihat ke arahnya, tapi dia melihat warna di pipi Taeyong dan berakhir dengan tersenyum sendiri.

"Kau tidak perlu mengatakan hal-hal seperti itu padaku."

Dia mengangkat bahu. "Maaf. Kau tahu sendiri aku ini kikuk dalam suatu hubungan romantic. Tidak pernah tahu harus berkata apa."

Taeyong kembali tidak mengatakan apa-apa untuk itu dan Jaehyun membiarkan─sengaja memberi jeda bagi Taeyong untuk memikirkan hal itu lebih lama. Memang benar, segala sesuatu yang pernah ia katakan perihal nasib buruk kisah percintaan miliknya, biasanya disebabkan oleh dirinya sendiri yang tidak pernah tahu hal apa yang harus dia katakan.

Namun kemudian dia justru bertemu Taeyong─si pemilik surai menyerupai permen kapas dengan mata besarnya yang indah. Di sebuah acara konyol yang tak pernah Jaehyun bayangkan akan ia ikuti; Speed Dating. Dilanjutkan pertemuan lainnya yang seperti sudah ditakdirkan.

Dari saat pertama, telah ada begitu banyak perkataan dari Jaehyun yang jelas bukan hasil dari suatu keragu-raguan. Bahkan dengan adanya nuansa canggung di antara mereka, Jaehyun tidak pernah merasa kesulitan berbicara dengannya. Dengan Taeyong, Jaehyun menjadi dirinya sendiri. Sebagai mana dia saat bersama keluarga atau teman-temannya.

Sebuah keanehan yang sejak berusaha dia tutupi sendiri. Seringnya dengan alasan konyol dan basi seperti terlalu banyak minum.

Mungkin dia harus mengatakan yang sebenarnya segera, kebenaran bahwa ia, Jung Jaehyun, sudah menyadari perasaannya sejak pertama kali mereka bertemu langsung pada yang bersangkutan. Meski untuk saat ini, ia masih terlalu takut karena tidak yakin bagaimana Taeyong akan bereaksi atas itu.

Well, bagaimana pun Jaehyun tidak ingin kehilangan... teman baiknya.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan gedung tempat tinggal Taeyong. Mereka keluar dan Jaehyun bersikeras menemani sampai ke atas.

Taeyong menghadap padanya di pintu begitu sampai di atas, sebuah kunci sudah bergemerincing di tangannya sehabis mengembalikan jaket pinjaman pada pemiliknya. "Terima kasih banyak untuk segalanya malam ini, Jaehyun."

Dia tersenyum. "Iya. Aku juga menikmatinya. Chenle dan Jisung, mereka menggemaskan."

Taeyong menunduk dan pikirannya sendiri beralih pada satu waktu tadi, di mana sesuatu hal yang paling bodoh di malam itu justru dia lakukan─mencium Jaehyun. Tanpa izin. Sayang keberaniannya tidak cukup besar untuk mengungkit itu langsung sekarang. Ketika dia mengangkat matanya lagi, senyuman muncul. "Dan terima kasih juga untuk yang terakhir tadi. Membungkam Chanyeol untukku."

Jaehyun mengejek. "Tidak perlu berterima kasih untuk itu. Dia pantas mendapatkannya."

Tawa Taeyong lepas. "Kau benar."

Mereka saling melempar senyum sebelum Taeyong berbalik dan memasukkan kuncinya di lubang kunci.

"Selamat malam, Jaehyun."

"Selamat malam. Aku akan meneleponmu nanti."

"Oke aku tunggu. Bye."

Jaehyun berbalik untuk pergi, mendengarkan samar samar bunyi klik pintu tertutup di belakangnya. Senyum lebar itu tertinggal di wajahnya saat ia berlari menuruni tangga dan berjalan ke mana dia memarkir mobil. Meski tak langsung masuk.

"Aku menyukainya," bisik Jaehyun─masih dengan senyuman yang sama─ke arah langit malam, seakan itu hanya akan jadi rahasia kecil di antara mereka. "Sejak pertama, aku memang menyukai Taeyong."

Iya. Hubungan mereka mungkin sekedar pura-pura untuk saat ini. Untuk itu, entah bagaimana, ia harus mencari cara memunculkan keberanian itu agar bisa mengatakan yang sebenarnya pada si merah muda. Segera.



TBC.


Petisi, untuk jaeyong supaya cepat bersatu he he

Continue Reading

You'll Also Like

2.8M 299K 35
Ketika Jung Jaehyun, si CEO muda tampan dipertemukan oleh seorang single parent manis bernama Lee Taeyong NOTE: [BxB] [JaehyunxTaeyong] [Yaoi] DONT R...
213K 22.2K 27
Hanya cerita dari seorang Jung jaehyun yang jatuh cinta sama tetangga baru nya. ⚠️BXB;GAY;BL ⚠️Banyak harsh words
1.1M 114K 31
Taeyong yang bukan siapa-siapa hadir dalam kehidupan pernikahan Jaehyun, membawa keajaiban yang diidam-idamkan. Memiliki perasaan untuk satu sama lai...
Wattpad App - Unlock exclusive features