Untuk sahabat ku, Cha Shin Yu...
Selama setengah tahun kita berpisah, terasa hidup ku ini tidak lengkap. Api rindu yang membakar terasa membahang hari demi hari. Hanya Tuhan yang tahu betapa aku merindukanmu dan ibuku.
Shinyu-ah...
Aku baru tahu, kau dan Kim Sae Yoon sudah menikah. Syukurlah! Selamat dari ku untuk kalian berdua. Ternyata doaku agar Tuhan menyatukan kau dan dia, akhirnya di kabulkan. Maka, tidak sia-sialah langkah yang kuambil dulu
Saat menikah dengan Lee Shi An dan meninggalkan kampung kita, aku selalu terfikirkan waktu yang sesuai untuk mengirim surat ini. Begitu lama kutahan rasa untuk menghubungimu dan menjelaskan segala yang terjadi dulu.
Karena sekarang kau dan Saeyoon sudah menikah, lebih baik aku berterus terang.
Shinyu-ah...
Selama kita berteman pernahkah aku melakukan sesuatu yang mengecewakan mu? Tidak kan? Tindak-tandukku tidak pernah melukakan orang lain, terlebih lagi mereka yang kusayangi. Hanya saja keputusanku menikah dengan Shian telah membuat hati mu dan Saeyoon terluka. Namun apa daya Shinyu-ah? Kalau dengan cara itu dapat menyatukan kau dengan dia, aku sanggup mengecewakan seribu hati sekalipun.
Maafkan aku karena selama ini tanpa sadar telah melukai mu. Aku tidak tahu, dalam diam kau menaruh hati pada Saeyoon. Aku mengetahui nya saat aku kerumah mu, secara tidak sengaja aku membaca buku catatan mu yang terletak di atas meja di ruang tamu. Tidak kusangka buku berkulit tebal itu ternyata kau jadikan diary untuk menyimpan segala rahasia hatimu.
Sesungguhnya, aku bukanlah jenis wanita yang tega membangun gedung diatas runtuhan orang lain, terlebih lagi sahabat baikku sendiri. Sebab itulah aku menerima lamaran Shian. Dia sudah lama jatuh cinta kepadaku. Sejak pertama kali kami berurusan tentang proyek yang akan direncanakan pembangunannya, secara terang-terangan dia menunjukkan perasaannya padaku.
Shinyu-ah...
Tujuanku menceritakan semua ini adalah supaya kau tahu, aku menikah dengan Shian untuk memberi ruang untuk mu masuk kedalam hidup Saeyoon. Bukannya aku mengkhianati Saeyoon seperti tuduhan kau dulu. Aku tahu Saeyoon juga menyukaimu walaupun dia mencintaiku. Mungkin dengan menghilangnya aku, pasti waktu akan mengalihkan arah cintanya kepadamu Shinyu. Firasatku mengatakan yang dia akan mencari kekuatan, dukungan dan ketenangan dari mu, Shinyu.
Shinyu-ah...
Aku ingin kau tahu bahwa aku menikahi Shian dengan ikhlas karena aku yakin waktu akan membuka hatiku untuk mencintainya seperti saat aku mencintai Saeyoon dulu. Dan sekarang aku dapat menerima takdir yang dia adalah jodohmu. Satu pintaku, pujuklah Saeyoon untuk memaafkan ku. Doakanlah kebahagiaan dirumah tanggaku sebagaimana aku selalu mendoakan kalian.
Sebelum aku menuliskan surat ini, aku ingin mengingatkanmu, selain ibuku yang sudah tua. Kau dan Saeyoon adalah pribadi yang paling dekat denganku dan paling memahami diriku. Janganlah kalian membuangku. Jauh dimata, jangan pula jauh dihati. Ingat itu Shinyu-ah.
Bersama surat ini, ku layangkan semua rasa rinduku yang tidak terucap. Kenangilah aku dalam setiap doamu.
Sahabat mu yang jauh,
Han Ye Eun
***
Ketika merasakan tubuhnya disentuh Saeyoon dari belakang, Shinyu segera bangkit dari tempat tidur lalu memeluk batang tubuh suaminya dengan linangan air mata. Kesedihan isi surat Yeeun telah memudarkan semarak inai pengantinnya yang baru memasuki hari kelima.
Sebelum sempat Saeyoon bertanya, segera ditunjukkan helaian yang sudah renyuk itu dengan dada yang menampung sebak.
"Sayang lihatlah ini. Apa yang sudah Yeeun lakukan pada kita"rintih Shinyu dalam suara yang tenggelam timbul disulami tangisan. Baru kini dia sadar, dia dan Saeyoon sudah salah menilai Yeeun. Ternyata dari dulu sampai sekarang, sahabatnya yang satu itu tidak pernah lekang daei sifat pengorbanannya.
TBC
Makasih buat yang udah bacar cerita aku. Jangan lupa follow wattpad aku dan vote cerita ini. Supaya aku semangat nulis kelanjutan ceritanya.
See You Next Time
Reader nya Author