Gu Chanseong datang lagi ke bangunan lama Hotel Del Luna, dengan harapan dia akan menemukan sesuatu yang berbeda di malam hari seperti ini. Tapi harapannya itu sia-sia. Bangunan ini hanya kosong, seperti saat dia datang di siang hari sebelumnya.
Lalu, haruskah dia meminum obat yang diberikan oleh Wanita Herbal ini? Gu Chanseong bimbang. Jika dia meminumnya, dia tidak akan dapat melihat hantu maupun Del Luna lagi. Haruskah … dia meminumnya?
Di tengah kebimbangan itu, tiba-tiba seekor kunang-kunang berterbang di sekitar kepala, berkedip-kedip, lalu pergi ke luar jendela dan menjelma menjadi suatu sosok dengan terang hijau di setiap tepiannya. Chanseong menyimpulkan bahwa itu adalah arwah yang sedang mencari Del Luna.
Chanseong menghampirinya. “Apakah … Anda datang mencari hotel? Del Luna sudah tidak di sini lagi sekarang. Saya ingin sekali mengantar Anda ke sana, tapi … saya bukan karyawan mereka lagi sekarang. Mohon maaf.”
Maka arwah itu pun kembali menjadi kunang-kunang, lalu berterbang pergi.
BLAK. Seisi ruangan menjadi terang, dan seorang pria melongok dari balik daun pintu. Chanseong otomatis bertanya, “Apakah kau manusia?”
“Memangnya aku terlihat seperti hantu?” balas pria itu, kemudian bertanya siapa Gu Chanseong. Dia sendiri adalah seorang agen real estate yang datang untuk memotret gedung untuk di-post di situs web-nya agar bisa dijual.
“Dijual?” Chanseong terkejut mendengarnya.
“Ya. Kenapa? Ada masalah?”
“Tentu saja ada. Gedung ini SANGAT amat bermasalah,” dan Chanseong menyebutkan satu per satu masalah yang dia maksud itu yang pada akhirnya membuat Pak Agen menghubungi pemilik gedung—Jang Manwol, yang pada kenyataannya diterima oleh Kepala Choi—untuk bertanya ini dan itu.
Manwol sedang mengacak-acak isi koper di ranjang saat Kepala Choi ber-iya-iya telepon dengan kening mengkerut. Karena bingung, Kepala Choi pun bicara pada Manwol, “Bu Direktur, Agen Real Estate menelepon. Dia bertanya, apakah Anda sudah mengurus pajak warisan?”
“Pajak apa?” Manwol tidak paham.
“Pajak warisan. Katanya, kalau itu tidak segera diselesaikan, mungkin akan ada masalah dengan pajak pindahan dan lain-lain. Saya juga kurang begitu mengerti maksudnya.” Kepala Choi berwajah sedih.
“Terus, menurutmu aku akan ngerti?”
“Bagaimana kalau kita hubungi Pak Manajer saja?”
“Ey, jangan. Memalukan, kalau kita menghubunginya karena hal semacam ini. Bagaimana dengan para tamu? Apa ada yang ngerti masalah begini?” Manwol punya ide, dan … kebetulan ada tamu yang seperti itu.
Dia bekerja di Jang & Young, sebuah firma hukum paling ternama di Korea ini. Dia meninggal karena kelelahan bekerja. Semasa hidupnya, dia adalah pengacara yang sangat kompeten. Dia sudah duduk di meja kerja Gu Chanseong dan mempelajari dokumen bangunan lama Del Luna.
“Hey, Jang & Young-ssi, jadi gimana? Pajak warisannya kenapa itu?” Manwol penasaran akan kompetensi hantu yang dia beri nama ‘Jang & Young’ ini, sekaligus perlu paham akan duduk permasalahan yang sedang terjadi.
Jang & Young menjelaskan, bahwa, “Mendiang No Junseok mewariskan gedung ini kepada Anda dengan syarat berupa pajak yang telah disepakati. Dokumen penggantian nama kepemilikan telah siap semuanya. Anda hanya perlu membayar pajaknya saja.”
“Bagaimana?” Manwol tidak punya rencana untuk itu.
“Anda belum menyiapkan apa pun untuk itu?”
“Gak tau! Orangnya sudah gak ada, aku gak tau harus ngapain dan nyiapin apa untuk ini.” Manwol benar-benar angkat bahu, dan Kepala Choi juga mengangguk untuk membenarkan ketidaktahuan Manwol itu.
“Ehherm.” Jang & Young mempelajari dokumen lebih mendalam lagi, dan berpikir, “Kalau Anda menjualnya kemudian hasilnya dibayarkan pajak, pajak warisan, jual-beli, pindahan, dan … Ah, tidak banyak yang tersisa.” Jang & Young geleng kepala setelah menekan-nekan kalkulator dengan sangat cepat.
Manwol membelalak. “Kenapa? Itu kan tanahku. Tempat itu harganya MAHAL. Aku menjualnya, kenapa aku gak dapat apa-apa?”
“Memang begitulah cara kerja pajak. Akan lebih baik kalau Anda menyelesaikan pajak warisan dengan uang yang Anda miliki saja,” saran Jang & Young, sebelum bola matanya memutar, kepalanya pening, dadanya sesak, dan ….
“Heh, Jang & Young. Jang & Young! Apa-apaan kau? Urus dulu masalah ini. JANG & YOUNG!” Manwol membentak dan menggebrak-gebrak meja, tapi Jang & Young malah semakin melungsar dan akhirnya pingsan.
“Tamu kita ini meninggal karena kelelahan bekerja. Jadi, kalau membaca lebih dari lima menit, akan seperti inilah dia,” jelas Kepala Choi, memohon pengertian pada Jang Manwol.
“Ah, situasi konyol macam apa ini? Lalu kita harus bagaimana?” Manwol PUSING sekali, dan akhirnya dia membaca sendiri dokumen-dokumen yang sama sekali tidak dia mengerti itu sementara Kepala Choi kembali menghubungi Pak Agen untuk memohon pengertian, waktu, dan sebagainya mengenai masalah pajak warisan ini.
Pak Agen tidak keberatan. “Oh, baiklah kalau begitu. Nanti kuhubungi lagi,” katanya, setelah mendengar penjelasan dari Kepala Choi.
“Tapi … bagaimana Anda bisa tahu mengenai pajak warisan kami?” tanya Kepala Choi, tanpa mengurangi rasa hormat.
“Oh, itu? Aku ke tempat Anda untuk melihat-lihat bangunan, dan aku bertemu orang yang bernama Gu Chanseong di sini. Ini, dia masih bersamaku sekarang.” Pak Agen berkedip pada Gu Chanseong yang berada di depannya, yang menandakan bahwa obrolan pendeknya tadi adalah informasi penting yang harus Pak Agen ucapkan pada siapa pun yang berada di balik telepon itu.
Kepala Choi memandang ini sebagai suatu kesempatan. Dia bicara dengan agak berbisik kali ini, supaya Manwol—yang sedang uring-uringan—tidak mendengar ucapannya. "Bisakah … saya bicara langsung dengannya, sebentar?” pintanya, pada Pak Agen.
Sementara Pak Agen mengalihkan telepon pada Gu Chanseong, Kepala Choi berusaha mengalihkan teleponnya juga pada Jang Manwol.
“Ini bahasa Korea bukan, sih? Ah!” Manwol monyong-monyong sebal, dan memijit-mijit pelipis gara-gara dokumen pajak warisan yang memusingkan itu.
“Bu Direktur, bagaimana kalau Anda bicara langsung saja dengan orangnya? Saya benar-benar semakin tidak mengerti.” Kepala Choi berkeluh kesah sebaik mungkin.
Manwol menghardik. “Memangnya aku bakal bisa ngerti?!” bentaknya, tapi pada akhirnya dia mengambil alih telepon karena Kepala Choi terus menyodorkannya dengan sangat memelas.
“Heh, Makelar, jelasin, deh, yang ringkas dan sederhana supaya aku bisa ngerti. Aku harus bayar berapa? Jangan coba-coba nipu ya? Aku punya karyawan pintar lulusan Harvard yang bergelar MBA.”
“Tapi Anda sudah memecatnya,” potong suara di balik telepon, dengan tidak adil, dan itu adalah ….
“Gu Chanseong?” Manwol terkejut mendengar suaranya.
“Anda pusing, kan, karena masalah pajak warisan dan pindahan ini? Makanya, kenapa Anda memecat karyawan pintar seperti saya?” Chanseong menuntut penjelasan pada Jang Manwol.
“Hmh. Ngapain kau di situ? Direkrut sama makelar bangunan yang tadi ya?”
“Aku gak terima, tiba-tiba dipecat begitu saja. Anda juga menyesal, kan, telah memecatku?” Gu Chanseong tidak menunggu Manwol menjawab. “Kalau Anda memintaku untuk melupakan pemecatan ini seolah tidak pernah terjadi, aku bisa saja melakukannya. Aku akan ke sana sekarang juga kalau Anda mengizinkan.”
Manwol menghela. Meski sebenarnya dia juga ingin seperti itu, “Katakan pada Makelar, kalau dia harus MENGUSIR siapa pun yang tidak ada kaitannya dengan bangunan itu dan KUNCI pintunya baik-baik.”
Kepala Choi bergidik karena segan.
“Ya, akan aku sampaikan,” ucap Chanseong, dari balik telepon itu. Dia terdengar begitu lesu, dan … teleponnya pun diputus begitu saja.
Kepala Choi mendekat pada Jang Manwol dengan sangat berhati-hati, untuk mengambil ponsel. “Oh, rupanya Pak Manajer ada di sana? Sepertinya dia terus mencari kita seharian ini,” obrolnya, berharap Manwol akan tergerak.
“Kalau menelepon lagi, suruh dia mati dulu kalau ingin tetap datang ke sini,” perintah Manwol, sambil mengembalikan ponsel Kepala Choi.
Dia bersandar, dan … “Aish, Hyunjung, Yuna! Mereka itu pergi ke mana sih, kok belum datang juga? Cari tahu keberadaan mereka!”
“Baik.” Kepala Choi pergi untuk mencari tahu keberadaan Ji Hyunjung dan Kim Yuna.
Ini adalah ruangan Gu Chanseong. Manwol mengamatinya baik-baik, dari atap, lemari, dan … sepatu tap dance yang Manwol pilihkan tempo hari untuknya. Dia bahkan meninggalkan sepatu itu di sini. Yah, pakai sajalah sepatu warna tinjamu yang norak itu dan bekerjalah di hotel yang normal, Gu Chanseong. Manwol mendoakan yang lebih baik untuknya.
Gu Chanseong, yang didoakan, juga masih berada di bangunan lama Del Luna sampai Pak Agen mendehem menyuruhnya keluar. Dia tidak bisa pergi begitu saja dari sini, tapi … KLAK, akhirnya dia mematikan lampu dan keluar. Semuanya menjadi gelap dan sepi.