"Kamu mau masuk dulu ke dalam?" tanya Sabrina kepada Alga.
Mata Alga terus melihat sesosok wanita paruh baya di pintu rumah kekasihnya, dia memberi senyuman kecil kepada wanita itu, tapi tidak ada balasan sedikit pun.
"Ga, ayo masuk dulu," rengek Sabrina.
Pandangan Alga pun kini beralih kepada Sabrina, "Enggak sayang, aku harus langsung pulang," ujarnya sembari mengelus lembut pucuk kepala kekasihnya.
"Ya.. jadi kapan kamu mau ke rumahku? Akan aku kenali sama mama papaku, Ga."
"Lain kali, aku janji. Aku akan ke rumahmu, tapi bukan sekarang," ujarnya hangat.
Sabrina mengerucutkan bibirnya, "Iya deh.. Hati-hati di jalannya."
Alga mengangguk patuh, “Titip salam untuk calon mertua," celetuknya.
Sabrina membelalakkan kedua bola matanya, sungguh baru kali ini Alga berbicara seperti itu. Kedua pipi Sabrina terasa hangat, "Daun salamnya mau berapa ikat, Bang?" Sabrina membalasnya dengan candaan.
Alga hanya terkekeh geli dengan ucapan Sabrina "Abang enggak mau mengikat daun salam, yang Abang mau mengikat cincin di jari manis kamu," ujarnya serius.
"Ya sudah, Bina tunggu Abang buktikan itu semua." Sabrina hanya bisa menahan senyumnya dan mengulum lidahnya dalam-dalam.
Alga menjawab dengan senyuman dan anggukan saja.
Alga menaiki motor merahnya, sambil memberi senyuman manis kepada sang kekasih yang sudah menemani dia sejak 3 tahun yang lalu. Sabrina Azalea atau sering di panggil dengan sebutan Bina, si gadis lugu yang ia sayangi hingga saat ini. Gadis yang benar-benar beda dari yang lain, tutur katanya lemah lembut, serta sikapnya yang penyayang, yang membuat Alga tergila-gila mencintainya sedari dulu, saat ini hingga nanti.
Teeetttt
Alga membunyikan klakson sebagai isyarat ia pergi. Lalu, Sabrina melambaikan tangannya kepada Alga.
Senyuman Sabrina tidak bisa hilang sejak apa yang Alga ucapkan tadi, senyumnya terus merekah, ritme dadanya terus berdebar kencang. Sabrina tahu, bahwa Alga tidak seperti lelaki lain yang lebih banyak gombal ketimbang bukti. Alga selalu membuktikan ucapannya. Itulah yang membuat Sabrina semakin jatuh hati pada Alga.
Sabrina berjalan ke dalam rumah, tapi di sana ternyata ada sang Mama. Sabrina hanya bisa tertunduk saja.
"Masih sama dia?" ketus sang mama.
Sabrina menghela nafas panjang, "iya, Ma," jujurnya.
"Kamu tidak merasa bosan sedikit pun?" cecarnya.
"Bina sayang sama Alga, di kamus Bina, tidak ada kata bosan sedikit pun untuk Alga," jelas Sabrina tidak ingin kalah bicara pada sang mama.
"Halah, cinta monyet saja belagu kamu!" ketus mama sembari pergi dari hadapan Sabrina.
Sabrina hanya menatap punggung sang mama, dia tidak mengerti kenapa mamanya begitu tidak menyukai Alga, padahal Alga adalah lelaki yang baik dan sopan.
"Mungkin suatu saat Mama akan menyukai Alga, Aku yakin," monolog Sabrina menguatkan hatinya.
°°°
Kini di meja makan terasa hening, tidak ada yang membuka suara sama sekali. Memang setiap hari seperti ini, mama sibuk dengan teman sosialitanya dan papa sibuk bekerja, sedangkan Sabrina adalah anak semata wayang, wajar saja setiap hari merasa kesepian.
"Pa, tolong bilangin anaknya, kalo pilih lelaki itu yang sederajat sama kita!" celetuk mama.
Papa yang sedang makan pun melihat ke arah Sabrina dengan tatapan heran.
"Ada apa, Bin?" tanya papa sembari meletakan garpu dan sendoknya.
Sabrina pun menatap sang ayah dengan tatapan takut. " Pa, Bina sayang Alga," ujar Sabrina menghentikan makannya.
"Pacarmu kerja apa?" tanya papa serius.
"Alga kerja di bengkel motor, Pa, tapi dia pekerja keras kok kayak Papa," bujuk Sabrina meyakinkan papanya.
Bima—sang papa—hanya tersenyum tidak suka, "Bin, coba kamu pikir, kalo dia memang pekerja keras, dia tidak akan kerja dijari orang lain, dia pasti akan membuka suatu usaha dari keringat dirinya. Itu belum bisa dikatakan sukses kalo dia masih kerja di tangan orang lain. Paham?!" jelas Bima yang menekankan kata paham.
Sabrina hanya tertunduk lesu, dia tak tahu harus berjuang apalagi, tapi keyakinan untuknya bersama Alga sangat kuat. Kini, Sabrina harus kuat dengan segala larangan orangtuanya. Dia yakin, suatu saat akan indah pada waktunya.
Kini Sabrina memberanikan diri untuk menatap ayahnya, tatapan Sabrina penuh penekanan dan penuh kesakitan.
"Tanpa tahta dan harta, rasa cinta dan kesetiaan hanya dipandang sebelah mata!" Sabrina berdiri dari duduknya lalu ia berlari menuju kamar sembari menahan tangisnya.
Gina dan Bima hanya melihat kepergian Sabrina tanpa menahannya.
°°°
Seperti biasa sepulang kuliah Sabrina dijemput oleh Alga. Alga rela menyisihkan waktu istirahatnya hanya untuk menjemput kekasihnya.
"Kamu bergadang nonton drakor ?" celetuk Alga sembari menatap Sabrina lekat-lekat.
"Ah.. iya hehe.. kemarin aku khilaf nonton drakor sampai subuh," tutur Sabrina sambil tersenyum lebar hingga tampak gigi gingsulnya.
Sabrina berbohong, semalaman ia tidak bergadang, melainkan ia menangisi hubungannya yang sedang diambang kehancuran.
"Kebiasaan," ujar Alga sembari mengacak-acak rambut kekasihnya.
Sabrina menatap lekat-lekat Alga dengan perasaan hancur, bagaimana bisa dia meninggalkan lelaki yang berada di hadapannya ini, lelaki yang sudah sabar bertahan terhadap kelakuannya yang sering diluar nalar. Mata Sabrina memanas, tak sengaja dia menangis di hadapan Alga.
"Kamu kenapa kok nangis?" tanya Alga panik.
"Aku gak kenapa-papa," lirih Sabrina yang menangisinya semakin menjadi-jadi.
"Kamu bohong, kalau kamu enggak apa-apa, kamu gak bakalan nangis kenceng gini," cecar Alga.
Alga menarik pergelangan tangan Sabrina dan mendekap erat Sabrina, kini Sabrina bisa mendengar detak jantung lelakinya yang berdebar kencang.
Alga mengelus rambut Sabrina pelan-pelan agar Sabrina tenang dan menghentikan tangisannya. " Maaf, sayang.. Aku belum bisa membuat kamu bahagia, aku belum bisa menjadi lelaki yang baik buat kamu, aku bukan lelaki peka yang bisa mengerti apa pikiran kamu sekarang, aku minta maaf, aku merasa bersalah kalo lihat kamu nangis sesenggukan kayak gini. Maafkan aku. Aku tahu aku salah, kamu boleh marah ataupun pukul aku, tapi," ujar Alga yang tiba-tiba menghentikan ucapannya.
"Tapi apa, Ga?" lirih Sabrina.
"Kamu jangan tinggalin aku, Bin," lirih Alga mendekap Sabrina lebih erat.
Benteng pertahanan Sabrina rapuh, Sabrina menangis semakin menjadi, dia tidak bisa setegar karang yang sudah dihantam ombak akan tetap kokoh. Alga semakin keheranan, kenapa kekasihnya bisa sehisteris ini.
"Aku mau pulang, Ga."
Alga hanya diam saja menatap kekasihnya tanpa menuruti keinginannya untuk segera pulang.
"ALGA DENGER GAK SIH KAMU?!" bentak Sabrina.
Alga tetap tidak mendengar keinginan Sabrina , dia terus menatap mata kekasihnya. Alga merasa kalo kekasihnya ini sedang ada masalah, namun ia enggan bercerita kepadanya. Lebih baik Alga mengalah daripada harus sama keras, yang ada dia akan melukai wanita kesayangannya ini.
"Oke, kalo enggak mau nganterin aku pulang, aku naik angkot aja."
Alga menarik tangan Sabrina agar tidak meninggalkannya.
"Yuk pulang, jelek ah kayak macan menstruasi aja," cengir Alga.
Sabrina memberi tatapan tajam yang mengisyaratkan bahwa ia tidak sedang bercanda.
°°°
Sabrina kini hanya menatap langit-langit kamar, dia tidak tahu harus bilang apa kepada Alga terkait hubungannya. Dia membalikkan posisinya ke arah foto-foto yang terpampang di dinding, foto pertama bersama Alga. Sabrina mengambil foto tersebut, dia melihat lekat-lekat foto tersebut, "kalo tahu begini, aku tidak mau bertemu kamu, Ga," gumam Sabrina sembari mengelus-elus foto tersebut. Foto saat masa SMA-nya yang terlihat tidak ada beban sama sekali.
Setiap kali memikirkan tentang Alga, air mata Sabrina terus berderai.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu tersebut membuat Sabrina terlonjak kaget, dia menghapus air matanya dan menyimpan kembali foto tersebut. Kini dia berada dalam posisi pura-pura tertidur.
Mama masuk ke dalam kamar, lalu duduk di sebelah ranjang.
"Bin, bangun sayang." Mama mengoyakkan badan Sabrina agar bangun.
Sabrina pun sedikit-sedikit membuka mata agar terlihat seperti orang betulan tidur.
"Kamu cepetan mandi dan ganti baju. Antar Mama ke rumah Tante Lisa," ujar mama sembari keluar kamar.
Sabrina menghela napas kasar. Sungguh dia tidak mau bepergian saat ini, ia ingin rebahan di kasur empuknya, dan menikmati kesakitan yang ia rasakan saat ini.
Sabrina berjalan menuju cermin, ia melihat wajahnya yang mengerikan. Kantung matanya hitam dan sembab, matanya memerah, rambutnya acak-acakan. Sungguh, ini bukan seperti Sabrina melainkan seperti zombie.
"Kamu berhak bahagia, bagaimanapun caranya, kamu harus bahagia, ini hidupmu, jadi kamu yang kendalikan. Ingat, kamu bukan robot," monolognya di depan cermin.
Sabrina masuk ke dalam kamar mandi, lalu ia menghidupkan keran shower, ia masuk ke dalam bathtub lalu berendam dan merelakskan tubuh dan pikirannya.
°°°
"Ini Sabrina yang waktu dulu rambutnya ikal? wah sekarang cantik sekali," puji tante Lisa.
Tante Lisa adalah teman sosialita Gina, mereka sudah menjalin pertemanan selama 20 tahun. Tidak heran apabila mereka berdua sangat dekat seperti saudara.
Kini Sabrina duduk di taman sembari menunggu mamanya, ia merasa bosan apabila harus menunggu berjam-jam seperti ini, namun apabila di dalam ia lebih tidak betah karena bertemu dengan ibu-ibu rempong.
Sabrina bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari, di sana ada banyak buku, dari buku komik, novel hingga majalah.
Sabrina mengambil salah satu komik yang berjejer di sana.
Sabrina membuka lembaran demi lembaran kertas tersebut dan ia merasa tertarik untuk membacanya.
Mood Sabrina sedikit membaik setelah membaca hingga ia tertawa kecil karena ceritanya begitu penuh lelucon.
"Suka komik juga ternyata," ujar suara lelaki di seberang sana.
Sabrina secara spontan mendongakkan kepalanya, "Enggak kok, aku cuman lagi gabut makannya baca komik," cengir Sabrina sembari menyimpan kembali buku komik tersebut.
Lelaki itu hanya tersenyum manis sampai menarik lesung pipinya yang sangat tampak.
"Oh.. kirain suka juga," ujarnya sembari duduk di sebelah Sabrina.
Sabrina menjawab dengan gelengan kepala saja. "Ah, aku mau menemui dulu mama, permisi," ujar Sabrina berdiri dari duduknya.
Lelaki itu hanya mengangguk dan tersenyum saja.
"Bina," suara panggilan di ujung sana.
Sabrina pun spontan membalikkan pandangan, ternyata sang mama memanggilnya.
Gina pun menghampiri Sabrina dengan raut wajah semringah.
"Ciee.. cocok banget deh Sabrina dengan Aksara," goda Gina kepada Sabrina.
Sabrina mengerutkan keningnya, ia merasa tidak nyaman di situasi seperti ini.
"Apaan sih, Ma," bisik Sabrina kepada Gina.
Aksara tersenyum ramah kepada Gina dan mencium punggung tangan Gina, "anak Tante cantik," celetuknya.
Gina tersenyum lebar dengan ucapan Aksara, jujur saja Sabrina baru melihat pertama kali sang mama tersenyum sebahagia itu melihat lelaki yang mendekati putrinya. Sebelumnya, sikap juteknya tidak bisa lepas dari wajahnya, tapi kali ini Gina sangat berbeda.
"Ini namanya Sabrina, dia masih mencari cowok katanya. Kasihan masih jomblo," cecar Gina dengan santai.
Wajah Sabrina memanas, ia ingin marah tetapi ia harus meredam emosinya, hati Sabrina seperti tertusuk ribuan duri, sakit teramat sakit yang kini ia rasakan. Sebegitu bencikah mamanya terhadap Alga.
"Ma..." lirih Sabrina kepada mamanya.
Gina tidak menggubris perkataan Sabrina, ia terus saja memuji Sabrina kepada Aksara.
"Aksara main ya ke rumah Tante, biar makin dekat dengan Sabrina," pinta Gina.
Sabrina hanya bisa pasrah, ia tak tahu harus bagaimana lagi memerangi mamanya.
Aksara tersenyum lebar, "iya Tan, besok aku ke rumah Tante."
"Bagus itu, baru calon mantuku," celetuk Gina tanpa berdosa.
Sabrina ingin lari dan menangis saat ini juga. Kenapa mamanya sangat membedakan perilaku terhadap Alga dan Aksara.
°°°
Pagi-pagi buta, Sabrina dan sang mama sudah beradu argumen, mereka saling bertolak belakang dalam memikirkan masa depan Sabrina.
"Ma, Sabrina tidak mau bersama Aksara, yang Bina mau hanya bersama Alga, bukan Aksara," tegas Sabrina menekankan kata Alga kepada mamanya.
Mamanya hanya tersenyum licik melihat kelakuan Sabrina. "Lihat, siapa yang akan menang?" ujar Gina sembari meninggalkan Sabrina.
Sabrina tersungkur di lantai, semua tampak mengecewakan dan membuatnya frustrasi, dia menangis kembali. Ia merasa semesta tidak adil padanya.
"Kenapa kisah cintaku begitu rumit," lirihnya sembari menangis sesenggukan.
Tringg..
Suara notifikasi pesan masuk, Sabrina bangkit dari duduknya lalu mencari benda pipih tersebut diatas kasur.
Ternyata pesan tersebut itu dari kekasihnya, Alga Fahlevi. Ia membelalakkan matanya, karena ada 370 pesan masuk dan pesan tersebut dari Alga semua. Sabrina membaca satu persatu pesan dari Alga, ada satu pesan yang membuat ia tersenyum.
My Love : Selamat pagi calon istriku :* kemana aja sayang, aku kangen kamu tahu :'),Kamu baik-baik aja kan?
Pesan tersebut kini membuat mood Sabrina membaik, ia baru ingat bahwa sedari kemarin ia tidak membuka ponselnya sama sekali. Sampai Alga terus menerus memberi pesan dan meneleponnya. Sabrina tersenyum kembali, ia merasakan hangat dipipinya. Inilah yang membuat Sabrina semakin menyayangi Alga, karena ia begitu perhatian terhadapnya.
Me : pagi kembali calon suamiku :*Maaf banget ya sayang, kemarin aku lagi nemenin Mama ke rumah temannya dan aku lupa enggak bawa handphone, sepulang itu aku langsung tidur pules banget hehe, maaf bikin kamu khawatir :')
Send
Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan balasan dari Alga.
My Love: syukurlah kalo baik-baik aja. Ketemu yuk yang, mumpung aku diizini libur :* aku jemput kamu ya, Love u more, Baby.
Sabrina menyetujui, karena ia merasa bersalah telah membiarkan lelakinya menunggu kabarnya seharian.
Sabrina bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk siap-siap.
°°°
Sabrina berjalan menuju ruang tamu, ternyata disana sudah ada Aksara yang menunggunya.
Aksara menggunakan kemeja hitam dan celana putih. Sangat tampan, tapi bagi Sabrina ketampanan hanyalah cuci mata saja, tetap yang ia cintai adalah Alga, walaupun tidak setampan Aksara, Alga memiliki nilai lebih di matanya.
"Eh, kok kamu disini?" ketus Sabrina.
Aksara tersenyum manis. "Kan udah aku bilang, aku bakal main kesini, Bin," ujarnya santai.
Sabrina mengerutkan keningnya, ia baru ingat, bahwa kemarin mamanya telah mengajak Aksara untuk bermain ke rumahnya.
"Eh, udah siap aja ternyata. Anak mama dandan cantik banget, tahu aja kalo Aksara mau mengajak kamu jalan-jalan," ujar mama semringah.
"Apaan sih, Ma, Bina mau ketemu Alga," ujarnya ketus.
Gina menarik pergelangan tangan Sabrina dengan kasar. Kini mereka berdua sedang berada di dapur.
"Batalkan pertemuan kalian, atau Mama akan buang semua foto kamu dan Alga."
Sabrina membelalakkan matanya, ia tak terima diperlakukan seperti ini.
"Mama kenapa sih tidak mau kalo Bina sama Alga, apa karena Alga bukan dari orang yang terpandang? Iya, Ma?" tanya Sabrina dengan nada tinggi.
Gina hanya mengusap wajahnya kasar.
"Oke, kali ini Mama ungkap jujur alasan Mama tidak menyukai Alga," Gina menghela nafas berat, "kalo kamu tahu, dulu ayah Alga adalah mantan kekasih Mama, ia telah mengecewakan Mama, dulu dia telah memberi janji untuk menikahi Mama, namun akhirnya Mama ditinggal nikah olehnya. Rasa sakitnya lebih dari apa yang kamu rasakan, Bin. Mama rasanya saat itu tidak tahu arah tujuan, Mama trauma menjalin ikatan, dan pada akhirnya Mama bertemu ayahmu, yang meyakinkan segalanya," ungkap Gina panjang lebar.
Sabrina hanya bisa diam, lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Jujur saja kali ini mamanya baru mengungkapkan semuanya, dan kini mamanya terlihat berbicara jujur.
"Tapi Ma, itu masa lalu Mama," ujar Sabrina bergetar.
Gina meneteskan air mata, "Bin, tolong hargai Mama, Mama tidak mau berhubungan lagi dengan orang yang menyakiti Mama, Mama harap kamu mengerti." Gina meninggalkan Sabrina sendiri.
Kini Sabrina merasa beban pikirannya bertambah, mengapa dunia sempit sekali.
Kenapa Sabrina harus menjalin cinta serumit ini, untuk yang ke sekian kalinya, semesta selalu mempermainkannya.
Sabrina mencari ponselnya, lalu ia mengirimkan pesan singkat kepada Alga.
Me : sepertinya aku gak bisa ketemu dulu, aku ada urusan keluarga. maaf ya sayang :')
Send My Love
Sabrina kini hanya bisa melamunkan hubungannya yang sudah di ambang kehancuran. Ia merasa menjadi manusia paling menderita.
Tringg..
Suara notifikasi balasan dari Alga. Tangan sabrina gencar membuka pesan tersebut.
My Love : Ya sudah sayang enggak apa-apa, aku lanjut kerja aja deh kalo gak bisa ketemu, biar uangku makin banyak dan cepat nikahin kamu hihihi.. Take care Baby:*
Sabrina menangis lagi, ia bingung harus bagaimana. Kini ia menghapus air matanya, dan berjalan menemui mamanya dan Aksara.
Sabrina pura-pura baik-baik saja di hadapan mereka berdua, nyatanya hati Sabrina sangat sesak.
"Tan, Aksara sama Sabrina berangkat dulu, Assalamualaikum," ujar aksara meminta izin kepada Gina dan ia menciumi punggung tangan Gina.
"Waalaikumsalam, hati-hati ya."
Aksara mengangguk sebagai jawaban.
Kini Sabrina menaiki mobil jazz berwarna merah milik Aksara, mobil beraromakan lavender ini sangat menenangkan.
"Kita keliling kota Bandung aja ya," ujar aksara lembut.
Sabrina hanya mengangguk sembari melihat ke arah jalanan. Ia berpikir bahwa ia telah mengkhianati Alga dengan cara seperti ini.
Aksara membelokkan mobilnya kearah
yang Sabrina dan Alga sering lewati. Ya, tempat ini begitu familier di mata Sabrina.
Pupil Sabrina membesar ketika melihat kekasihnya sedang bekerja di bengkel motor, dengan tangan penuh oli dan wajahnya bercucuran keringat, ia tahu bahwa semua yang Alga lakukan ini agar segera menikahi Sabrina agar segala keinginan Sabrina terpenuhi. Air mata Sabrina menetes begitu saja.
"Kamu kenapa?" tanya Aksara keheranan.
"Ah, ini kelilipan maskara hehe," ujar Sabrina berbohong.
°°°
"MAU APA KAMU KEMARI?!" suara bentakan papa di pintu rumah.
Dengan sigap, Sabrina berlari menuju ke tempat tersebut. Sabrina melihat ayahnya sedang memarahi Alga. Ya, kekasihnya.
Sabrina berlari sembari menuruni anak tangga, ia merasa sakit hati melihat kekasihnya dibentak seperti itu oleh sang ayah.
"Pa, cukup!"" teriak Sabrina.
Bima dan Alga melirik ke arah Sabrina.
Sabrina berjalan menuju mereka berdua.
"Papa boleh membenci Alga, tapi Bina mohon jangan bentak dia, dia masih punya harga diri," tegas Sabrina.
Bima hanya diam.
Sabrina menarik tangan Alga, mereka berlari dari hadapan Bima. Kini, Sabrina membawa Alga ke sebuah danau kecil di dekat rumahnya.
"Ga," tatap Sabrina memelas.
Alga tidak menatap Sabrina , ia hanya menatap air tenang di danau.
Sabrina menyenderkan kepalanya di bahu Alga, "mungkin ini senderan terakhirku, Ga," ujar Sabrina menitikkan air mata.
"Kenapa kamu gak bilang sih, Bin," lirih Alga.
"Bukan bermaksud seperti itu, Ga, aku yakin hubungan kita bakal bisa bertahan walau tidak ada restu," jelas Sabrina.
Alga membalikkan posisi duduknya, ia menghadap ke arah Sabrina lalu Alga memegang tangan Sabrina dengan erat.
"Bin, sejak awal pun aku sadar, aku dan kamu bagaikan langit dan bumi, tidak akan pernah bersama. Derajat kita berbeda," ujar Alga bergetar.
Sabrina hanya bisa menangis tersedu-sedu. "Ga, Ayo berjuang sedikit lagi," pinta Sabrina.
Alga hanya tersenyum kecut, "Tidak ada yang perlu diperjuangkan, Bin. Ini jalan terbaik. Kamu berhak bahagia atas pilihan orang tuamu, kamu wanita yang aku sayangi setelah ibuku." Alga terdiam sembari menatap Sabrina lebih lekat.
"Terima kasih telah menjadi alasanku berjuang untuk menikahimu, terima kasih telah menemaniku dari nol. Aku sayang kamu, Bin." Alga menitikkan air mata, namun ia menghapusnya kembali.
Dunia Sabrina hancur. Ia menangis di pelukan Alga, kenapa harus seperti ini. Kenapa Alga tidak memperjuangkannya.
Alga mengambil sesuatu dari kantong celananya.
"Lihat ini," ujar Alga memperlihatkan sebuah cincin cantik di hadapan Sabrina.
Sabrina membelalakkan matanya, ia melihat sebuah cincin perak. "Pegang ini, tidak usah dipakai, simpan saja. Ini bukti kerja kerasku untukmu selama tiga tahun ini." Alga memeluk kembali Sabrina dengan erat, mungkin itu adalah pelukan terakhirnya.
“Melepaskan bukan hal mudah, ketika cinta masih terbangun indah.
Kita tidak punya pilihan, sekuat apapun berjuang dan bertahan nyatanya sebuah restu orang tua adalah patokan.
Apakah karena harta, tahta dan ego orang tua adalah segalanya di dunia, hingga membuat cinta kita di pandang sebelah mata?
kita memang tidak bisa bersama, tapi cinta kita akan tetap berdegup dalam jiwa dan menjadi cerita”.
###
Assalamualaikum teman-teman, Alhamdulillah akhirnya aku bisa mengikuti event penulis kece untuk yang kedua kalinya^^. Seneng banget sih pas tau PK ngadain event lagi^^, terimakasih banyak untuk penulis kece karena telah memberikan kesempatan lagi😀 mohon maaf apabila banyak kesalahan, tolong di maklumi karena aku masih pemula 😆
Teruntuk para reader ku yang aku sayangi, jangan lupa tinggalkan jejak di komentar dan jangan lupa untuk memberi vote:* karena satu vote dari kalian adalah semangat ku untuk terus berkarya ❤️
Thanks for reading 🔥 love u all❤️