Kisah Sedih tentang Cinta

By WidyawatiOktavia

5.3K 260 37

Kisah tentang seorang laki-laki dan perempuan lain di hatinya. *** seperti menggenggam takdir di tanganmu. se... More

author's note
2. Rasa yang Tidak Seharusnya
3. Hari Ketika Aku Jatuh Cinta
4: Kau Katakan Cinta, Lalu Kau Melangkah Pergi
5: Hanya Seperti Angin Lalu
6: Dua Orang yang Dikepung Sepi
7: Laki-laki yang Membuatku Rindu

1. Perempuan Lain di Hatinya

2.3K 76 19
By WidyawatiOktavia

seperti menggenggam takdir di tanganmu.
seperti apa rasanya?
mungkin, aku akan takut memejamkan mata, takut genggamanku terbuka, dan tiba-tiba saja ia tak lagi di sana.
aku akan membacanya hingga habis usia, dan memastikan semua baik-baik saja.
dan, mungkin aku akan terkapar kelelahan membelokkannya ke arah yang tak ada sela.

seperti menggenggam takdir di tanganmu, seperti apa rasanya?

mungkin, semua tak harus baik-baik saja-meski kau ingin semua baik-baik saja.

seperti menggenggam takdir di tanganmu.
itulah kita.
bukan karena tak yakin genggaman tak akan erat.
hanya saja, takdir, ah ia, aku pikir, aku tak kuasa menggenggamnya.

***

KAU tahu, laki-lakiku berselingkuh. Dengan seorang perempuan yang tak pernah kehilangan tawa. Dalam setiap fotonya. Dia seperti menertawakan aku-dan, aku semakin benci melihat foto itu. Namun, kau tahu, ketika kau membenci sesuatu, semakin ingin kau mencari tahu tentang hal itu. Dan, aku, tahu terlalu banyak tentang perempuan itu.

Dia harus tahu tentang hubunganku dan laki-lakiku. Sudah sembilan tahun waktu kami lewati bersama. Lebih dari satu windu. Dan, dia, dia baru mengenal laki-lakiku, bahkan dalam hitungan hari. Enam puluh hari. Waktu yang terlalu singkat untuk membuat kau jatuh cinta.

Bahkan, aku dan laki-lakiku benar-benar jatuh cinta baru pada tahun keempat kebersamaan kami. Baru pada tahun kelima kami benar-benar mengikrarkan diri untuk saling menjaga, dalam suka dan duka. Apa pun yang terjadi. Kami sudah ditakdirkan sang waktu untuk bersama.

Lalu, tiba-tiba saja, perempuan dengan tawa di wajahnya itu muncul, seakan-akan menawarkan kebahagiaan kepada laki-lakiku. Sementara, aku telah punya berkarung-karung bahagia di sudut kamarku, yang tak habis-habis kuberikan kepada laki-laki itu.

Waktu. Mungkin dia memang tidak memihak kepadaku. Jarak. Dia juga seakan-akan tidak bersedia kami tebas. Jadilah, aku dan laki-lakiku tidak bisa selalu bersama. Namun, kau tahu, ketika kau percaya cinta, waktu dan jarak nisbi. Dan, aku sudah membuktikan hal itu bersama laki-lakiku selama lima tahun. Bukan waktu yang sedikit, bukan? Tak bisa diperbandingkan dengan enam puluh hari yang masih bisa kau hitung dengan jari.

Kau percaya mimpi? Aku dan laki-lakiku percaya. Kami sering diberi tanda-tanda dari bunga tidur kami. Tanda-tanda yang semakin mengeratkan cinta kami.

Suatu ketika, aku mendapat mimpi buruk, tentang air sungai di belakang rumah orangtua laki-lakiku. Air sungai itu tidak mengalir ke hilir, malah ke hulu, lalu melanda rumahnya. Aku menceritakannya kepada laki-lakiku, dan aku menjadi sangat khawatir pada hari itu.

Kau tahu, tentu saja, laki-lakiku itu tak ingin membuatku khawatir. Ia bilang itu cuma karena aku sedang banyak pikiran, dan juga karena kami jauh. Namun, esoknya, sesuatu yang buruk memang terjadi. Laki-lakiku jatuh dari motor, dapat luka jahitan di pelipisnya.

Hanya luka ringan, kata laki-lakiku tidak ingin aku khawatir dan segera terbang ke tempatnya. Namun, sejak itu, aku tak lagi mengabaikan mimpi. Meski dia tak pernah bilang, aku tahu, laki-lakiku juga berpendapat sama.

Aku dan laki-lakiku, bahkan, telah berjanji akan selalu bersama. Apa pun konsekuensinya. Janji sakral yang tak bisa kau ingkari begitu saja. Kami pun sudah terikat dalam firasat. Mungkin, karena cinta kami begitu bulat. Hati kami sudah menjadi satu. Aku tahu apa yang dirasakan laki-lakiku, begitu juga dia. Dan, kami pun telah melewati saat-saat tersulit dalam kebersamaan kami. Hingga kadang, kami tak pernah lagi mengeluh pada hidup. Kami hanya berpikir, seperti inilah hidup. Dan, kami akan menjalaninya. Itulah yang ada antara aku dan laki-lakiku.

Dan, tentu saja, perempuan yang merasa bisa membuat laki-lakiku jatuh cinta (lagi) itu tidak tahu tentang semua ini. Bahkan, dia tidak tahu tentang kami.

Aku tahu mengapa perempuan itu bisa muncul di antara aku dan laki-lakiku. Dia muncul ketika ada jeda. Harus aku akui, dalam waktu enam puluh hari itu, hubunganku dan laki-lakiku sedang sedikit rentan. Mungkin, karena aku sedang banyak pekerjaan juga di sini. Begitu pun dia di sana. Dan, kau tahu, komunikasi kami sedikit tidak lancar. Hubungan jarak jauh ini terkadang cukup sulit.

Sebenarnya, aku yang meminta dia agar memberi aku jeda dulu. Ada yang mesti kuselesaikan. Saat itu, laki-lakiku tidak punya masalah dengan hal itu. Ia sadar dengan kondisiku dan ia juga tidak ingin merusak cintanya dengan pertengkaran-pertengkaran yang tak berarti. Saat itu, ia bilang, take your time, honey.

Namun, tentu saja komunikasi itu tidak putus. Dan, hati kami pun masih dalam cinta yang sama. Aku tahu itu, dan laki-lakiku pun sadar akan itu.

Lalu, datanglah mimpi itu. Hari itu, dia ulang tahun dan aku sangat menyesal tidak bisa bersamanya, menemaninya melewati satu undakan usia itu lagi.

Dia sendiri yang pernah bilang, "Kau tahu, saat tiba hari lahirku, aku merasa satu usiaku menghilang. Menghilang dalam arti sebenarnya. Tiba-tiba saja, ia lepas dariku pada hari itu. Dan, suatu ketika, aku tahu apa yang tak membuatku takut lagi pada hari itu. Bersamamu," katanya sambil memegang erat tanganku yang terasa hangat.

Aku mencium keningnya. Kami berpelukan lama pada hari itu. Bahkan, merasa bisa seperti itu selamanya.

Kalau kau pernah merasakan kedamaian, hari itulah aku merasakan kedamaian yang sebenarnya. Dan, sejak itu, aku berjanji akan selalu berusaha bersama laki-lakiku saat ia "melepas" usianya.

Dan, ketika jeda hubungan kami itu, aku tak bisa menepati janji itu. Aku membiarkannya sendiri. Lalu, datanglah mimpi itu. Pada hari lahirnya itu, ia sedang duduk bersama seorang perempuan. Cantik. Dan, wajah perempuan itu tampak sangat bahagia meski aku tidak ingat betul wajahnya. Dan, tangan mereka saling menggenggam. Aku lupa erat atau tidak. Yang pasti aku segera terbangun dengan dada yang sesak.

Langsung saja aku hubungi laki-lakiku. Ponselnya mati. Akhirnya, aku mengiriminya e-mail. Dia pasti membacanya.

Aku tahu, terkadang mimpi terjadi karena kau terlalu memikirkan suatu hal, takut akan suatu hal. Mungkin, jauh dalam hatiku, aku punya ketakutan yang tak aku sadari. Mungkin, aku takut laki-lakiku berpaling. Namun, kau tahu, aku tak pernah menyadari sampai mimpi malam itu datang.

Kali ini, aku mencoba tak percaya dengan mimpiku, mencoba menganggapnya hanya bunga tidur. Mungkin, aku terlalu rindu dengan laki-lakiku itu. Ah, aku tahu ia juga rindu.

Esoknya, laki-lakiku langsung menelepon saat aku sedang menyetir sendiri dalam perjalanan ke luar kota. Ada pekerjaan yang mesti kuurus. Aku sangat lega mendengar suara laki-lakiku itu. Berbicara dengannya seperti berkemul dalam selimut tebal ketika hujan. Hangat.

Kami melepas rindu. Ketika itu, aku benar-benar rindu kepadanya. Bahkan, kalau bisa memutar mobilku ke kotanya, akan aku lakukan. Sayangnya, pekerjaan kali tak bisa kutinggalkan. Harus kukejar jika aku masih ingin punya pekerjaan.

"Maaf," katanya.

Dan, tiba-tiba saja, jantungku memompa lebih cepat kala itu. Laki-lakiku selalu bilang maaf ketika memulai sesuatu yang buruk. Aku langsung khawatir ia kenapa-kenapa di sana.

Namun, aku menunggunya. Aku tidak boleh terlalu paranoid. Ia laki-laki yang bisa kuandalkan. Ia bisa menjaga dirinya sendiri, aku tahu. Bukan, ia bisa menjaga dirinya sendiri dan menjaga aku. Aku benar-benar tahu tentang itu. Itulah salah satu hal yang membuatku jatuh cinta kepadanya. Bersamanya seperti berada dalam sebuah rumah yang sebenarnya. Aman, nyaman.

"Kenapa, Sayang?" Aku mencoba menceria-ceriakan suaraku. Tak ingin ia khawatir.

"Maaf, Honey... mimpi kamu benar...," sahutnya.

Dan, ia masih bicara. Aku tak bisa mencerna semua yang ia bicarakan.

Hanya kalimat itu yang kudengar jelas. Pikiranku tiba-tiba kalut. Ia masih saja bicara, sementara aku tidak bisa menangkap kalimatnya dengan jelas lagi. Aku benar-benar terguncang. Lalu, aku menepikan mobil di jalan lintas kota yang sepi itu. Laki-lakiku masih bicara.

"Cantik?" Tiba-tiba saja, kata itu yang keluar dari bibirku.

Dia tidak menjawab.

"Maaf," ucapnya lagi.

Aku menarik napas panjang. Laki-lakiku ini pasti sangat bingung. Aku hafal dirinya. Aku mencoba bersikap sportif meski hati dan air mataku berontak.

"How do you feel, now?" tanyaku, mencoba membuatnya tidak merasa didesak.

Aku tahu ia akan jujur. Aku kenal laki-lakiku ini. Ia tidak akan pernah bohong. Dan, aku pun mempersiapkan diri untuk mendengar semuanya.

Namun, kau tahu, aku semacam punya sebuah keyakinan tersembunyi. Laki-laki ini pernah berjanji tidak akan meninggalkanku. Apa pun yang terjadi. Kami sudah seperti mengikrarkannya dengan darah.

"I love you. It's true.... Tapi, yang aku rasa ke dia beda," ucapnya lirih.

Aku berharap tidak mendengar kalimatnya yang terakhir. Namun, hanya kalimat itu yang jelas kudengar.

Perempuan itu membuat laki-lakiku bingung. Membuatnya seperti memberiku jadi pilihan. Aku tiba-tiba merasa seperti sebuah gelas yang jatuh ke lantai, berkeping-keping hingga sulit kau temukan kepingannya berada di mana. Kau tahu, seperti tiba-tiba ada yang merenggut sesuatu dari dadamu hingga sakitnya terasa ke saraf-saraf telapak tanganmu.

"Aku tak bisa memaksamu memilih aku," kataku, lalu mengingat janjinya kepadaku. Janji ia akan selalu menjagaku.

Lalu, aku teringat sebuah cerita, entah muncul dari mana, tentang seorang putri yang bangsawan telah melakukan segala hal agar bisa hidup bersama anak petani yang ia cintai-yang juga mencintainya. Dan, bahkan, ia telah membunuh ayah dan ibu yang menentangnya. Ketika sang Putri datang ke tempat anak petani itu, dia mendapati laki-laki itu telah memilih perempuan lain menjadi istrinya-perempuan yang kata si anak petani setara dengan dirinya.

Kau tahu apa yang terjadi pada perempuan yang dipilih anak petani itu? Ia ditemukan mati, dibunuh. Di sebelahnya, ditemukan juga sesosok tubuh perempuan lainnya. Sang putri bangsawan. Yang juga sudah tak bernyawa. Bunuh diri.

Ah, menyeramkan sekali cerita itu, dan entah kenapa muncul di benakku. Bahkan, ketika memikirkan cerita si putri bangsawan dan anak petani itu, aku ternyata menahan napas. Aku menarik napas panjang. Mengeluarkannya dengan pelan.

"Aku tak memintamu memilih," tukasku. Lalu, menutup telepon.

Perasaanku tak bisa kujelaskan lagi. Tiba-tiba saja, jalanan menjadi kabur. Entah sore atau air matakukah yang mengaburkannya. Aku tak tahu.

Aku benar-benar hancur kali itu.

Sementara perjalanan yang harus kutempuh masih empat jam lagi.

***

Continue Reading

You'll Also Like

158 12 9
Bagaikan tenggelam dilaut yang dalam dan gelap.air terus memenuhi paru-paruku.aku tidak bisa bernafas.Aku tak mampu berenang kepermukaan,dan aku suda...
354 11 5
Kembalinya laki-laki dari masa laluku membuatku bimbang dengan hatiku, haruskah aku menjauh dan melupakan semunya atau mencintainya lg dengan menerim...
173 3 9
siraman air jeruk yang dilakukan ruri malam itu, membawaku pada sosok bian, bukan sekedar mengenal nya bahkan aku begitu jatuh cinta,dan bian adalah...
244 37 25
luka lama yg kucari akhir nya kembali bersama karma nya sangat ku hindari .. wanita yg ku gores hati nya dengan hebat ,, wanita yg ku permainkan hid...
Wattpad App - Unlock exclusive features