Marah, kesal, kecewa dan menyesal. Itulah yang Mirella rasakan saat ini. Bagaimana tidak, kini ia diperlakukan bukan lagi sebagai dokter melainkan pelayan yang dengan mudah bisa diperintah oleh siapapun sekalipun yang memerintahnya adalah seorang Caroline Leonore perawat sekaligus asistennya dirumah sakit. bukan itu saja, bahkan sampai sekarang ia masih menyesali kejadian dua hari lalu yang membuatnya berada dalam posisi sekarang. 'Yang benar saja, aku harus menjadi pelayan hanya untuk menebus dosaku karena melakukan pelecehan pada mantan suamiku sendiri? Oh dunia... kenapa garis takdirku malah terlihat seperti lelucon?' Protesnya dalam hati.
"Bisakah kau menyuapiku dengan benar?" Tanya Edward setengah memprotes saat sendok berisi makanan tidak juga mendarat tepat kedalam mulutnya. Ya, beberapa menit lalu, Mirella memang sudah memulai tugasnya untuk menyuapi Edward. Meskipun Edward menolaknya berulangkali, Namun Mirella bersikukuh dan memaksa agar Edward mau disuapi. Entah karena Mirella tidak mau menambah masalah baru dengan para atasannya yang selalu memberikan perintah tanpa nurani atau karena merasa iba pada Edward yang memang belum makan sejak tadi pagi. Terlebih saat melihat tangannya yang masih mengenakan perban, nurani Mirella bekerja tanpa diminta.
"Maaf." Lagi, hanya itu yang terlontar dari mulut Mirella. Begitu singkat dan terdengar tidak tulus ditelinga Edward.
"Kau yang memaksa untuk menyuapiku tapi kau malah melamun seperi burung beo yang kelaparan." Cemooh Edward sambil mengunyah makanannya.
"Aku sudah meminta maaf. Jangan mempermasalahkannya lagi." Balas Mirella sambil kembali menyuapi Edward.
"Aku haus." Mirella menghela napas dan menutup matanya sejenak. Ingin sekali ia marah tapi otaknya memberi sinyal untuk tetap bersabar sampai akhirnya hanya embusan napas pelan yang berhasil keluar dari rongga hidungnya.
"Kau bisa duduk tegak sebentar saja?" Tanya Mirella sembari mengambil gelas berisi air putih.
"Dari tadi aku sudah duduk Mirella..." Untuk pertama kalinya setelah empat tahun Edward memanggil nama wanita yang dulu begitu ia cintai. Dan entah kenapa hati Mirella merasakan degup yang tidak biasa.
"Maksudku duduk tegak. Airnya bisa tumpah kalau kau minum dalam posisi setengah tertidur seperti ini." Ralat Mirella mengabaikan perasaan aneh dalam hatinya.
Sekilas Edward melirik kedua tangannnya berharap kali ini tangannya mampu menahan berat tubuhnya sekedar untuk membenarkan posisi. Mirella memperhatikan Edward sejenak dan tanpa menunggu lama, iapun membantu pria yang terlihat kesulitan tersebut.
"Biar aku bantu," ucap Mirella sedikit membungkuk dan mengangkat tubuh Edward dengan meletakkan kedua tangannya tepat dibahu Edward. Tidak ada penolakan saat Mirella menawarkan diri. Matanya malah menatap lekat kearah Mirella yang juga menatapnya dalam diam. Seolah tidak peduli dengan siapa Edward mengunci pandangan, ia malah enggan beralih dan tetap diam sampai akhirnya Mirella membuang muka lebih dulu dan mengangkat tubuh Edward sampai pria berambut hitam tersebut bisa duduk tegak meskipun beberapa kali ringisan terdengar ditelinga Mirella.
"Ini minumnya." Setelah memberikan minum pada Edward, Mirella kembali menyuapinya sampai makanannya benar benar tidak tersisa. Sesekali matanya memergoki Edward yang terlihat mencuri pandang padanya namun Mirella enggan mengartikan pandangan aneh Edward dan memilih untuk tidak peduli.
"Tadi pagi kau benar benar tidak makan dan minum obat?" Tanya Mirella yang tengah membuka bungkusan obat untuk Edward.
"Tidak."
"Baiklah. Untuk siang ini kau hanya perlu meminum vitamin dan juga obat pereda nyeri." Jelas Mirella yang hanya dibalas oleh anggukan kepala.
"Buka mulutmu." Perintah Mirella dengan dua obat ditelapak tangannya. Satu persatu Mirella menyuapkan obat dan memberinya minum tanpa mendapat penolakan seperti pertama kali. Untuk saat ini Edward lebih banyak diam dan tidak mengeluarkan kata kata kasar seperti sebelumnya. Terlebih saat Mirella kembali membantu Edward untuk berbaring diranjangnya. Pria bermata coklat tersebut menurut saja meski tatapannya begitu datar dan terkesan dingin.
Selesai dengan tugas pertamanya, Mirella memilih duduk dikursi yang berada tepat disamping ranjang Edward. Matanya memperhatikan Edward dari ujung kepala sampai ujung kaki. Begitu intens dan cukup lama. Merasa tidak nyaman, Edward memilih membuka suara.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Edward membuat Mirella mendongak.
"Aku... hanya sedang berpikir." Jawabnya pelan
"Tentang apa?"
"Kemana wanita yang kemarin menuntutku?"
"Memangnya kenapa?"
"Bukankah dia yang bertanggungjawab atas dirimu? seharusnya dia ada disini dan menjagamu."
"Dia sedang pergi untuk urusan penting." Jelas Edward singkat.
"Aku tahu itu. Tapi maksudku, kenapa dia tega sekali meninggalkan pria yang bahkan untuk duduk saja sangat kesulitan." Ralat Mirella dengan tatapan yang membuat Edward merasa direndahkan.
"Memangnya apa masalahmu? Dia bisa pergi dan datang kapan saja." Balas Edward sinis.
"Setidaknya dia jangan membebankan tugasnya padaku." Celetuk Mirella membuat Edward mendengus kesal.
"Kau lupa atau pura pura lupa? Kemarin Elea sudah mencabut tuntutanku padamu dan sebagai gantinya dia mau kau menjadi pelayanku sampai aku benar benar sembuh," ucap Edward mengingatkan.
"Aku seorang dokter dan bukan pelayan." Elak Mirella berbalik kesal.
"Baiklah. Kau adalah dokter yang turun jabatan menjadi pelayan." Ralat Edward asal.
"Dan kau adalah pria lemah yang tidak berdaya tapi mulutmu masih saja suka mencela."
"Ini mulutku jadi terserah padaku saja."
"Aku pikir saat tubuhmu tidak bisa bergerak, mulutmu juga akan ikut diam. Tapi ternyata kau terlalu senang berbicara."
"Karena tubuhku tidak bisa bergerak jadi mulutku harus bersuara saat seseorang berniat tidak baik pada tubuhku ini."
"Apa maksudmu berniat tidak baik?" Tanya Mirella yang mulai jengkel.
"Seseorang yang memanfaatkan kondisi tubuhku yang tidak berdaya. Dia menjadikan alasan memakaikan pakaian untuk bisa menyentuh dan menikmati bentuk tubuhku. Berpikir korban akan diam dalam ketidaksadarannya, ia malah dijerat dengan tuntutan pelecehan yang membuatnya berakhir menjadi pelayan." Jelas Edward seperti pembaca berita.
"Jaga bicaramu atau aku akan menyumpal mulutmu." Ancam Mirella dengan telunjuk mengarah pada Edward.
"Sumpal saja dan kau akan terkena sanksi baru." Lanjutnya menantang.
"Terserah." Dengan kesal Mirella mengambil posisi berdiri dan pergi meninggalkan Edward yang menyeringai puas karena ancamannya.
Awalnya, melihat sikap Edward yang mulai lunak padanya mulai membuat Mirella berpikir kalau pria yang memiliki warna mata sama dengannya sudah bisa diajak bekerjasama untuk mempermudah tugas Mirella. Tapi nyatanya yang terjadi, diamnya Edward bukan pertanda ia menyerah dengan egonya melainkan ia hanya sedang mempersiapkan diri untuk menyerang Mirella dengan kata katanya yang membuat Mirella berakhir dengan kekesalan.
Sepanjang koridor Mirella tidak henti hentinya mengumpat dan bicara sendiri. Sampai seseorang berbadan tegap memperhatikannya dari kejauhan dengan perasaan penuh bersalah namun enggan mendekat sekedar untuk memberi penjelasan yang bisa membuay Mirella sedikit lebih tenang.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu berada dalam kesulitan. Tapi percayalah, ini untuk kebaikanmu. Mereka bilang, salah satu cara untuk menghilangkan trauma adalah dengan menghadapinya secara langsung," ucap Frans pelan sambil terus menatap punggung Mirella yang mulai hilang dari pandangannya.
December 5, 2019
Good night :)
Ryan miller
Ini Allysha, gadis kecil yang menggemaskan