_BITSORI_
Wednesday, 27/11/2019
Deretan buku tertata rapi di rak yang tingginya hampir mengenai langit-langit. Nakyung sempat berpikir akan menolak ajakan Jeno untuk pergi ke perpustakaan. Hari minggu waktunya mengistirahatkan otak, sejenak berhenti belajar, gerutunya.
Bagi Nakyung, belajar hanya cukup di kelas saja, tidak dengan tempat lainnya.
“Jadi ternyata dia pembunuhnya, woah, tak kusangka!” pekik Nakyung menatap sebal layar ponselnya sambil terus menscroll deretan gambar berwarna.
“Kenapa kau malah membaca webtoon dan lagi, pelankan suaramu,” tukas Jeno dengan suara sangat pelan.
Nakyung menoleh sekilas. “Kau bilang apa?” tanyanya kembali menekuni cerita web yang populer dikalangan pecinta komik.
Alasan Jeno mengajak Nakyung ke perpustakaan bukan untuk benar-benar belajar. Dia ingin menanyakan sesuatu, akan kebenaran dari perkataan Jisung. Ditutupnya buku biologi yang menjelaskan macam-macam hewan reptil.
“Kenapa kau menyuruh Jaemin menjauhi Heejin?”
“Dari mana kau tahu?” Nakyung meletakkan ponsel yang rasanya sudah tidak lebih menarik lagi. “Jaemin memberitahumu, ya,” tebaknya tidak membutuhkan jawaban Jeno dengan cepat meneruskan,
“Karena Haechan menyukai Heejin, dan aku rasa Heejin juga sama… jadi, apa aku salah menyuruh Jaemin agar jangan menyukai Heejin.” Nakyung rasa ada yang janggal dari ucapannya karena mempengaruhi suasana hatinya.
Dia merasa telah salah menyimpulkan, mengenai perasaan sahabatnya itu.
“Justru menurutku, Heejin menyukai Jaemin dan Heejin terlihat beberapa kali tersenyum ketika bersama Jaemin.” Pernyataan Jeno sepenuhnya diakui Nakyung.
“Makanya aku memberitahu Haechan,” sesal Nakyung.
“Maksudmu?”
“Aku menceritakan semua kejadian selama dia koma.”
Hening beberapa saat. Apa itu berarti Haechan sudah mengetahui bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan? Jeno tidak lagi menyalahkan Nakyung atas perilaku kekanakannya.
“Lantas, bagaimana dengan perasaanmu yang juga tidak berbalas?” kata Nakyung diakhiri helaan napas panjang.
Dua kata terakhir menyita perhatian Jeno, tidak berbalas. Apa sekarang dia sudah ketahuan.
“Memangnya kau tidak menyukaiku?” kata Jeno tidak terdengar seperti pertanyaan umumnya, ia melihat Nakyung yang tampak kebingungan.
Atau jangan-jangan Nakyung menyimpulkan seenaknya lagi. “Aku tidak menyukai Heejin, yang aku sukai adalah kamu, Lee Nakyung.”
“M, mwo?!” serentak pengunjung perpustakaan menegur Nakyung untuk jangan berisik.
Jeno berbisik tepat di telinga Nakyung, “Aku menyukaimu, aku menyukai wanita bodoh sepertimu.”
“YAK! LEE JENO!”
Secara bersamaan keluhan terlontar, menyuruh Nakyung keluar saja dari perpustakaan kalau terus-terusan membuat keributan.
♪♪♪
“Heejin-ah, Aku menyukaimu lebih dari sahabat.” Sebuah ungkapan cinta yang selalu dilatihnya di depan cermin terucap tanpa perencanaan, Haechan tidak ingin kehilangan kesempatan lagi untuk mengatakannya.
Heejin benar-benar bingung harus menjawab apa. “Haechan, aku…”
“Aku tahu,” sela Haechan mengusap pucuk rambut Heejin, “Kau telah berusaha keras melawan traumamu, begitu pula aku yang mencoba bangun dari koma, waktu singkat telah mengubahmu dan orang yang telah membantumu melewati masa terberatmu adalah Na Jaemin.”
“Kau menyukainya dan anehnya aku merasa senang disaat pernyataan sukaku ditolak. Mari kita tetap bersahabat!” jelas Haechan, ia pikir hanya akan menyatakan cintanya agar perasaannya lega tanpa harus berusaha menahannya lagi.
“Mianhae, Haechan-ah.” Heejin tidak tahu lagi cara mengungkapkan betapa ia bersyukur memiliki Haechan sebagai seseorang yang dekat dengannya. “Kau memang sahabat terbaikku nomor satu!”
Haechan mengusak rambut Heejin. Mendecih sambil mengomentari perkataan maafnya itu sangat menyakiti hatinya.
“Kau membuat rambutku berantakan!”
♪♪♪
Tidak biasanya perjalanan pulang Heejin dan Jaemin diselimuti keheningan. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Jaemin. Kesekian kalinya Heejin melirik Jaemin, dia mengeram jengkel mendapati sikap pendiam Jaemin.
“Kau cemburu pada kedekatanku dan Haechan, ya?” tebak Heejin.
“Tidak.” Jaemin menggeleng.
“Lalu kenapa sejak tadi diam saja?”
Heejin dan Jaemin baru sampai di halte, bersamaan dengan datangnya bus yang akan mengantarkan mereka. Mau tak mau Heejin membiarkan dirinya ditarik untuk segera menaiki bus yang seketika penuh sesak.
“Tunggu ahjussi, aku akan turun!” seru Heejin, dia merasa belum bisa menaiki kendaraan umum.
“Kau tidak akan turun,” sahut Jaemin mencengkram lengan Heejin.
♪♪♪
Bus melaju, menyisakan kepulan asap. Heejin baru saja turun, disusul Jaemin yang tergesa-gesa.
“Jaemin sialan!” umpat Heejin.
Dia tidak bisa menahan lebih lama berada di kendaraan. Menarik napas, lalu mengeluarkannya lagi, melakukannya berulang kali sampai merasa lebih baik. Sementara Jaemin dengan tampang mengesalkannya mengomentari bahwa Heejin payah.
“Hari ini kau kenapa, sih?!” tegur Heejin sambil menatap tak suka lawan bicaranya.
“Aku terus memikirkannya sepanjang hari, apa setelah kejadian semalam kita mulai berpacaran?”
Sungguh tidak dapat dipercaya, Jaemin berkata dengan wajah polosnya. Ingin sekali Heejin mencubit gemas kedua pipi laki-laki itu. Haruskah dia yang memperjelas hubungan mereka? Dan dengan sedikit mendumel Heejin menjawab ‘ya’.
Raut wajah Jaemin beeubah senang yang lalu melompat-lompat, mengitari Heejin, dia girang bukan main.
“Berarti hari ini, hari pertama kita jadian!” ujar Jaemin mengalihkan beberapa pandang mata penasaran.
Heejin cukup malu akan tingkah berlebihan Jaemin. “Apa kau sesenang itu?”
“Hmm, ayo kita rayakan hari jadi kita dengan melakukan kencan pertama,” usul Jaemin antusias.
♪♪♪
Ini tidak seperti kencan yang diharapkan Heejin, tetapi ia tetap menyukainya asal bersama Jaemin. Memulai kencan dadakan di saat matahari mulai terbenam, menyisakan lembayung senja indah yang tak ternilai.
Sudah begitu lama sejak terakhir Heejin berjalan di keramaian. Orang-orang berlalu lalang di sekitarnya. Dengan bangga Jaemin mengayunkan genggaman tangannya pada tangan Heejin. Menjaga agar gadis itu tidak tersenggol, bersiap siaga apabila ada seseorang yang tampak mencurigakan dimatanya.
“Kita pergi ke tempat yang lebih sepi saja, ya?” kata Jaemin dengan waspada.
Myeongdong adalah salah satu distrik belanja dan wisata paling ramai di Seoul. Wajar saja kalau banyak pengunjung, terlebih sekarang hari libur.
“Kencan dadakan tanpa perencanaan, aku tidak berdandan dan kau terus menjagaku dari hal-hal sepele, bagaimana bisa aku menikmati kebersamaan ini,” keluh Heejin.
Saat itu Heejin melihat seorang lelaki bertubuh gempal berjalan sempoyongan. Dia tidak berniat memberitahu Jaemin, karena pasti Jaemin akan menanggapinya dengan berlebihan. Namun, sialnya lelaki itu terpeleset kulit pisang, telat sedetik saja Jaemin bisa tertubruk.
Beralih menjadi sigap dan tanggap, kali ini Heejin menarik Jaemin menyingkir dari kecelakaan kecil. Sebuah kebetulan atau pun bukan, Heejin yakin dia telah kehilangan sebagian kesialannya.
“Heejin-ah, kau telah menyelamatkanku.” Jaemin dengan wajah terpesonanya, merapihkan sebagian helaian rambut yang menutupi wajah Heejin.
“Sebenarnya kau yang menjagaku atau aku yang menjagamu.”
Jaemin mencubit gemas hidung Heejin. “Arraseo, arraseo, kita saling menjaga saja.” Ia mengamit lengan Heejin sambil menunjuk penjual topi.
“Kau cantik sekali,” puji Jaemin setelah memasangkan topi berwarna hitam bertuliskan ‘swag’.
Heejin berlagak keren, sedikit menyanyi rap. Ketika itu seorang pejalan kaki tidak sengaja menyenggolnya sehingga tubuh Heejin terdorong, condong ke arah Jaemin. Sontak Jaemin memeluk Heejin, menanyakan keadaan gadis itu yang mulai kewalahan dengan detak jantungnya.
“Kencannya kita lanjutkan lain kali saja,” ujar Heejin mendorong Jaemin, terburu pergi.
“Hei, hei, kau harus membayar topinya dulu!” seru Jaemin.
♪♪♪
Langsung baca lanjutannya di part 21 chingudeul!
Alesta Cho.