The Visitor

By Cahya8ika

4.6K 720 122

Antara Aku, Kamu dan Dia.. Kisah tiga hati memperebutkan tahta cinta yang sebenarnya.. Tak sempurna, bahkan b... More

Masalahnya
Seharusnya
Sejatinya
Kisahnya
Jikalau
Bayangan
Kenyataannya
Kejujuran
Akhir Kita
Terluka
Kembali
Bahagia
Tragedi
Semua Kamu

Sayangnya

1.2K 103 28
By Cahya8ika

.
..
.

Masalah bukankah hal wajar dalam hidup. Seseorang pasti akan menghadapi itu dengan kadar yang berbeda. Mungkin banyak orang akan bertindak baik untuk menyelesaikan masalahnya, tapi ada juga yang mengalihkan masalah dengan menambah masalah lain. Begitulah manusia yang pusatnya segala tingkah diluar ekspetasi.

Salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat bermasalah ya bar atau club malam. Galaxy bar contohnya, tempat malam terbesar dan terkenal yang ada di pusat kota. Setiap malam tempat ini menjadi tujuan bagi orang yang ingin melepas masalah atau penat karena tekanan pekerjaan, bisa dikata tempat ini menjadi penghilang stress sementara. Segala jenis fasilitas ada dan sangat ekslusif seperti tempat billyard, lantai dansa, kasino/tempat judi, bermacam macam jenis minuman, bahkan juga ada hal privat yang tersedia.

Semua mungkin tak kan menduga tentang pemilik tempat semenyenangkan ini. Karena bukan hal mudah untuk mengenal pemiliknya. Banyak bodyguard yang mengawal pemilik tempat ini.

Akses masuk pun tak mudah. Selalu ada penjagaan ketat di depan pintu gerbang. Orang sembarangan tak bisa masuk, karena tempat ini sangat privat. Tempat ini terbuka bagi kalangan atas, karena tarif menjadi member saja memerlukan uang sepuluh juta, mahal sekali bukan. Setiap orang baru mau tak mau tetap membuat kartu member demi kenyamanan bersama. Demi menghindari hal buruk yang tak diinginkan masuk juga.

Pemilik bar adalah seorang wanita sangat cantik, dengan mata bulat, bibir tipis, hidung munggil, pipi sedikit berisi, bentuk badan proposional, kaki jenjang, sudah seperti paket komplit tapi sayangnya sudah memiliki tunangan. Walaupun sang tunangan tak selalu pulang, karena bisnisnya banyak diluar negri hanya terkadang sesekali datang diakhir bulan atau disaat meliburkan diri.

Jian Alexsandrea

Tak akan ada yang menduga tempat seperti ini pemiliknya sangat mengemaskan. Jian jarang berkunjung karena ini hanya bisnis sampingan dan rahasia. Jian lebih sering mengurus bisnis lain yang normal dibanding ini. Seperti bunglon yang perlu kamuflase, maka Jian melakukan itu. Jian memang terlihat polos, hingga tak ada yang tahu kehidupan asli dirinya. Kilas hidup Jian secara sederhana, wanita yang berasal dari keluarga biasa saja, menjadi satu satunya tumpuan keluarga karena tak memiliki saudara. Hingga Jian berusaha keras mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Maka Jian memutuskan pergi ke kota untuk bekerja.

Namun semua tak seperti yang dibayangkan Jian. Kehidupan di kota tak semudah itu. Semua hanya angan angan semu, karena Jian berjuang sendirian. Hingga dirinya bertemu dengan sosok pria kaya. Sangat kaya, tak terbayang sedikit pun dibenak Jian akan masuk ke hidup pria itu. Kesalahan, itu yang mengambarkan keadaan Jian. Pria itu hanya bersenang senang. Jian terjebak dalam lingkaran hitam, hingga menjadikannya seperti sekarang.

Kembali pada kenyataan, hidup Jian berubah menjadi seorang ratu yang bisa mendapatkan segala hal. Tapi hari ini Jian sedang tidak ingin melakukan kegiatan apapun. Jian bad mood, karena pria itu akan pulang. Tunangan yang tak dianggap Jian.

Jian merasa menyesal mengenal pria itu. Dirinya merasa dipaksa untuk mengikuti kemauan pria itu. Jian ingin mengubah segalanya jika bisa. Bahkan Jian sadar pria itu tak mungkin memberikan sedikit saja kelonggaran bagi dirinya untuk lepas. Apakah Jian harus bersyukur ? Sekarang Jian memiliki segalanya. Pria itu memberikan yang Jian butuhkan. Pria itu sangat tertarik dengan Jian tepat setelah pandangan pertama. Tapi Jian ? Sedikit pun tak ingin bersamanya.

Jian sekarang berada di ruang santai, hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Jian punya kesibukan, tentu saja. Kecuali hari ini, dirinya hanya ingin diam di rumah. Kripik menjadi teman Jian saat fokus pada layar Tv. Jian bahkan belum sarapan karena malas.

"Nona ingin sesuatu ?" suara asisten pribadi Jian. Seorang bibi dengan umur empat puluh lima tahun, masih cantik, baik hati dan sangat memanjakan Jian selama kurang lebih satu tahun ini.

"Aku ingin cake coklat Bi." Jian memerlukan energi ekstra hari ini, jadi perlu makanan manis.

"Nona ngidam ?" Bibi Ana tahu Nona Jian sangat suka coklat, hanya saja kali ini terlihat aura yang berbeda.

"Astaga, Bi. Jangan bicara aneh aneh ah. Aku tak ingin hamil anaknya." Jian bergidik ngeri, dalam benaknya pun tak pernah terlintas hal itu.

"Baiklah Bibi ambilkan Nona Cantik." Bibi Ana terkekeh kecil, dirinya sudah mengangap Jian sebagai putrinya. Jadi rasa sayang kepada wanita munggil itu sangat tulus.

Jian ikut terkekeh melihat tingkah Bibi sekaligus Ibu angkatnya itu. Andai tidak ada Bibi pasti hidup Jian rasanya hambar. Jian kembali fokus ke layar Tv. Hingga suara seseorang membuyarkan kegiatannya.

"Nona Jian." Seorang pria yang cukup tampan jika dilihat wanita di luar sana. Pria yang selama ini menjaga Jian dalam segala kegiatan, bahkan menjadi tempat Jian berkeluh kesah juga. Pria terimut dan manis dihidup Jian.

Alatas Jeremy

Jian sedikit kaget karena tak ada jadwal pria itu untuk datang. Jian sudah terbiasa dengan kehadiran Al. Tapi sepertinya ada hal tak enak, jelas sekali terlukiskan di wajah Al. Ada apa lagi ? Kenapa sih ribet amat ?

"Masalah apa lagi Al ?" Jian sebenarnya sudah bisa menebak pasti tentang pria itu. Karena tak mungkin Al tegang dan terburu buru seperti ini.

"Tuan menghubungi nona sejak tadi." Al memang diminta ke rumah untuk memastikan kondisi Jian. Apakah wanita itu sedang mengalami hal buruk, hingga tak menjawab satupun pesan dari pria itu.

"Lalu ?" Jian jengah sendiri, kan nanti pulang. Kenapa harus meributkan sesuatu yang sepele. Jian memang mengabaikan seluruh pesan dan telpon pria itu sejak kemarin malam.

"Bisa nona jawab pesan atau telpon Tuan sebentar saja." Al memelas sendiri, karena Tuannya tak bisa diam meneror dirinya.

"Biarkan saja Al." Jian benar benar tak peduli jika pria itu akan marah atau lainnya. Al menghela nafas panjang, pasti dirinya akan kena lagi nanti. Astaga, harus siap siap jika begini. Jian menatap Al yang terlihat frustasi, kasihan sekali.

"Baiklah, pinjam HP mu." Jian memang tak selalu membawa HPnya jika tak ada hal penting. Apalagi suasana hatinya sedang tak baik.

"Tapi nona, nanti Tuan." Belum juga Al melanjutkan, Jian sudah mengambil HP Al dari tangannya.

"Shutt, tenang saja." Jian tahu kenapa Al begini. Karena Jian memiliki peraturan yang amat sangat banyak dari pria itu. Salah satunya jangan memegang atau meminjam sesuatu dari pria manapun. Jian sendiri tak paham kenapa ada aturan tak jelas seperti itu.

Jian mendial nomor pria itu. Satu menit, lebih tiga puluh detik dan terdengar suara dari ujung sana.

Tuan Tegar call...

"Ada apa ?

"Ini aku.
Jian masih sabar, mencoba bersuara seramah mungkin.

"Sayang, ini kamu ?

"Iya, kenapa ?

"Aku rindu kamu sayang.

"Kamu kan mau pulang hari ini.
Jian menghela nafas panjang, menguji emosi sepertinya.

"Tapi aku tak bisa menahan rindu ku sayang.

"Kalo ngga penting aku tutup.

"Sayang.

Tut.

Jian mematikan sepihak, dasar pria menyebalkan. Kenapa juga Tuhan menciptakan pria seperti dia, jika bisa ganti takdir, Jian ingin rasanya.

"Sudah nona ?" Al menerima HPnya dengan hati hati. Sepertinya akan ada perang lagi setelah ini.

"Al, aku butuh wine sepertinya." Jian memang dekat dengan Al, jadi ya sudah tak perlu ditutupi semuanya.

"Jangan nona, nanti Tuan marah." Al sangat tahu jika Jian butuh pelampiasan. Tapi hari ini Tuannya pulang, jadi lebih baik mencegah hal yang tidak diinginkan.

"Aku lelah Al. Dia selalu seenaknya sendiri." Jian sedih, nasibnya tak beruntung memang. Kenapa harus bertemu pria itu ?

"Nona, kenapa tidak mencoba menerima Tuan ?" Al tahu kisah bosnya dari awal. Terlihat salah memang, tapi dari waktu ke waktu ada perubahan yang terlihat jelas.

"Apakah dia akan menerima keputusan ku ? Melepaskan diriku." Jian hanya ingin itu, tak ingin membuka hati untuk pria itu.

Al terdiam, urusan hati manusia memang rumit. Jika saja mereka bertemu dan bersama dalam keadaan yang baik baik, pasti akhirnya cukup bahagia mungkin. Tapi nyatanya semua tak seperti itu, banyak kesalahan dalam hubungan mereka.

"Al, boleh aku minta sesuatu." Jian ingin meminta sesuatu yang mungkin bisa diberikan Al. Karena Jian tahu Al bisa membantu dirinya.

"Tentu saja, jika saya bisa." Al mulai duduk di sofa yang berbeda dengan Jian. Harus jaga jarak aman, karena peraturan di rumah ini cukup banyak.

"Bantu aku menemukan kebahagiaan ku." Jian ingin sesuatu yang bermakna dihidupnya. Setidaknya sekali saja dirinya bahagia.

"Maksud nona ?" Al belum memahami keinginan Jian.

Jian berdiri dan mendekat ke arah Al, sedikit menunduk dan berbisik.

"Tapi nona ?" Al tak yakin dengan permintaan Jian, apakah semua itu bisa ?

"Tolong kali ini saja." Jian benar benar ingin itu, setidaknya bisa ada sedikit waktu.

"Saya usahakan nona." Al akan mencoba mengabulkan itu

"Terima kasih." Jian tersenyum, dirinya akan memiliki sesuatu yang bisa dikenang indah.

Al terpaku melihat senyum Jian, dirinya sadar Jian amat sangat cantik jika menampilkan raut wajah bahagia.

Al takut Jian sadar diperhatikan, mengalihkan matanya ke arah Tv. Disaat Jian fokus ke layar, suara bell berbunyi berkali kali. Jian males gerak ini, dengan melirik Al pun sudah paham yang artinya menyuruh membuka pintu.

Jian merasakan si pemilik rumah datang. Dari aroma parfumnya saja sudah tercium. Hingga tubuh Jian sedikit menegang karena pelukan lengan pria itu di leher.

"Sayang. " Pria itu berbisik rendah dan sedikit memberi kecupan di puncak kepala Jian.

"Hmm." Jian mulai sadar, harusnya pria ini tak usah pulang. Pria ini benar benar menguras emosi.

"Kangen." Pria itu semakin menjadi, mengecup telinga Jian.

"Bisa dilepas." Jian mulai risih sendiri ingin menendang pria ini keluar dari hidupnya.

"Sayang." Suara yang amat Jian tak suka, pasti bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Jian diam saja, mau kabur juga tak bisa. Posisinya sangat tak menyenangkan, pada akhirnya Jian harus menerima lagi.

"Ji, kita lanjutakan di kamar ya ?" Buat apa bertanya jika jawabanya pasti iya. Jian tak bisa menolak juga.

Al mendengar dan melihat yang bosnya lakukan. Memang Jian lebih banyak berkorban disini. Sungguh rasanya dirinya ingin membebaskan Jian sekarang juga.

...

Jian berada di kungkungan pria itu. Dalam hitungan menit, pria itu pasti akan mendapatkan yang diinginkan. Pria itu melihat Jian dari atas sampai bawah, semua masih sama menjadi miliknya.

"Ji, jadi ibu dari anak anak ku ya ?" Permintaan yang cukup lembut, tapi menyesakkan bagi Jian.

"Kenapa harus aku ?" Jian menatap mata tajam pria itu yang terlihat jelas ada sebuah rasa.

"Aku ingin dirimu Ji." Pria itu sudah memutuskan ini sejak tahu bahwa dirinya mulai mencintai Jian dan tak ingin kehilangan Jian.

"Egois sekali." Jian sudah tak tahan, apapun itu pasti pria ini akan lakukan.

Pria itu paham Jian pasti menolak, tapi semua yang menjadi miliknya harus selamanya. Pria itu mulai mencium wajah Jian, turun ke bibir itu ya ciuman panas yang di dominasi pria itu. Tangannya pun tak tinggal diam mulai mengabsen aset berharga yang ada di tubuh Jian.

Perlahan satu per satu kain terlepas dan berserakan dimana mana. Pria itu mulai menyentuh yang dinginkan. Penyatuan itu didominasi pria itu, Jian normal, tentu bergairah. Hanya saja bukan dengan pria itu.

Pria itu sangat tahu bahwa Jian tak mau bersamanya. Biarkan dirinya egois untuk mempertahankan miliknya. Pria itu semakin cepat gerakan hingga puncak yang ditunggu tiba. Pasti benihnya bisa tumbuh sebentar lagi. Permainan itu berlanjut hingga sore hari, Jian lelah dan tertidur. Pria itu mengecup kening Jian.

"Aku mencintaimu Ji. Sangat mencintaimu." Pria itu beralih pada perut Jian.

"Tumbuh segera, ayah menanti kalian." Pria ini memeluk Jian.

Tegar Permudtyo
Tunangan Jian

.
.
.

Di sebuah apartemen mewah milik pria yang jelas tampan dengan segala yang dimilikinya. Pria ini sedang dalam misi khusus mengintai para mafia yang berkeliaran salah satunya penyelundupan senjata tajam. Pria ini adalah intel negara yang bertugas menemukan penjahat kelas kakap.

Sudah beberapa tahun tugas berat ini di embannya. Bertarung bahkan bertaruh nyawa sudah pernah dilakukan, hingga berbagai lencana penghargaan sudah diterimannya. Tugas negara memang berat tapi ada kebangaan tersendiri ketika menemukan orang yang memang bersalah.

Dulu cita citanya tak seperti ini, tapi ada sesuatu yang mengubah hidupnya menjadi seperti sekarang. Hingga memilih pendidikan kepolisian dibidang intel dan kejahatan internasional. Soal kehidupan pribadinya tak banyak orang tau, tapi status masih single.

Dia tinggal disini bersama teman satu profesinya dibidang intel. Namun mereka sering berbeda tugas, karena memang kecakapan yang berbeda pula. Kasus kali ini berat karena belum pernah ada yang bisa mengungkap pelakunya.

Hari ini seperti biasa olahraga pagi lalu ke kantor, ada beberapa berkas yang perlu dianalisis, karena kasus ini sudah pernah diselidiki. Rasanya tak sabar menangkap pelakunya.

Ins. Jendra Perwira

Sekarang Jendra dalam perjalanan menuju kantor, wajah ramah tapi tegasnya selalu menghiasi. Jendra hanya memerlukan waktu 10 menit.

"Selamat pagi Pak." Salah satu junior di kantor menyapa, bernama Adrean.

"Pagi juga, dapat tugas apa dirimu hari ini ?" Jendra membalas menyapa.

"Penculikan dan perdagangan anak Pak." Adrean kadang tak habis pikir, masih ada manusia yang setega itu.

"Semangat, semoga berhasil." Jendra menenepuk pundaknya lalu pergi.

Jendra sekarang berada di mejanya melihat berkas yang cukup banyak. Masih abu abu, tapi Jendra pastikan tak akan memerlukan waktu yang lama.

.
.
.

Jian mulai terbangun, melihat tangan Tegar di perutnya, dia harus cepat minum pil anti hamil. Jian tak ingin hamil sekarang sungguh. Jian melepas tangan itu, mencari stok obat di laci namun tak ada. Dimana obat itu ?

Tegar merasa orang yang dipeluk sudah bangun ikut membuka mata, melihat Jian yang begitu seksi dengan piyama tipisnya.

"Cari obat ?" Tegar duduk bersandar di ranjang, dirinya sudah meminta asisten rumah membuangnya.

Jian tak menjawab karena pasti Tegar sudah tahu. Tanpa perlu dijawab.

"Sudah aku buang." Tegar gemas rasanya, kenapa wanita itu tak mau menerimanya ?

"Jahat." Jian emosi jadinya, dirinya ingin menangis.

"Terserah kamu bilang apa, yang aku mau kamu tak meninggalkan ku." Tegar mulai berdiri dan mendekati Jian lagi, memeluknya dari belakang.

"Biarkan aku memiliki mu selamanya Ji." Tegar bersandar di bahu Jian. Dirinya cukup lelah, jadi biarkan begini.

.
.
.

Malam pun tiba, Jian sudah keluar kamar melihat pemandangan langit malam yang bersih tak ada bintang. Jian meminta bibi Ana membawakan vodka, biarkan saja. Jian tak peduli Tegar marah marah.

"Nona, yakin meminum ini." Bibi Ana sebenarnya tak ingin karena sudah diperintah Tuan untuk menjauhkan minuman seperti ini dari Jian.

"Tak masalah Bi." Jian pada akhirnya menghabiskan satu gelas hingga bertambah, sebelum suara pria itu terdengar

"Stop Ji, jangan bunuh calon anak ku." Tegar melempar botol dan gelas itu.

"Bi, cepat bawakan susu hangat." Tegar bersuara tegas menunjukan bahwa dirinya marah, sangat.

Jian tak ingin minum susu, tapi ancaman Tegar membuatnya bungkam seketika. Ya tetap Jian minum susunya.

"Aku dua hari disini sebelum pergi ke Australi. Dua minggu lagi kita menikah." Tegar sudah tak bisa bekompromi lagi

Jian tak ingin menaggapi Tegar, ya terserah pria itu. Jian ingin bebas, merasakan kehidupan sesuai yang dimau. Bukan seperti ini, Jian lelah sungguh.

..
...
..
.

Continue Reading

You'll Also Like

HOME (✅) By Cahya8ika

General Fiction

3.2K 447 11
Sejauh apapun kita berjalan berjauhan, pada akhirnya pasti akan pulang. Rumah ku adalah kamu. Rumah mu adalah aku. __________________________________...
13.8K 663 23
(PUBLIKASI ULANG/NEW VERSION) Ini lanjutan kisahku yang sempat terhenti. Setelah sekian lama aku tidak bertemu denganmu, mengapa takdir mempertemukan...
380K 17.8K 33
Wanita kaku, keras, dan anggun. Bukan hal mudah saat ia hampir bisa move on dari cinta pertamanya, tetapi kembali dipertemukan dengan si cinta pertam...
378K 26.5K 55
#MantanSeries Bila orang bilang hal yang paling berpengaruh itu adalah perpisahan tanpa pesan, maka aku tidak menyetujuinya. Sebab, bagiku yang palin...
Wattpad App - Unlock exclusive features