Cuaca hari ini begitu panas. Aku memutuskan untuk membeli minum di kantin. Aku menyelusuri setiap koridor kampus dengan langkah kaki yang cepat.
Sesampainya, aku segera menuju ke salah satu penjual minuman. Namun, detik itu juga langkahku terhenti.
"Ini buat lu." seseorang menyodorkan sebotol teh dingin.
Aku mencoba menaikkan padanganku agar aku mendapati wajahnya. "Eh Egi?" terdengar seperti orang yang terkejut.
"Hmm.. Haus kan? Nih buat lu." ucapnya lagi.
"Makasih Egii... Egi baik deh." sedikit dengan tatapan centil dan penuh canda.
Langkah kakinya bergerak ke arah bangku dan saat itu juga dia mengambil posisi duduk di sana. Sambil memegang teh botol yang sama dengan yang ada di genggamanku.
"Duduk dulu sini." tangannya mengisyaratkan aku untuk duduk di bangku depannya.
Sekarang kita saling berhadapan dan saling pandang. Pandangan kita tertuju satu sama lain. Sejenak ia terlihat sedang berpikir. Di detik berikutnya ia mulai membuka suara.
"Ta.. Kira-kira kapan ya waktu yang tepat buat menyatakan perasaan gua ke Riska?" nadanya penuh kebingungan.
Sontak aku terkejut bahkan teh yang baru saja masuk ke tenggorokan hampir saja menyembur ke arah Egi. Untungnya bisa aku atasi dengan cepat.
"Huk huukk.." terbatuk.
"Shinta. Minumnya pelan-pelan gua tau lu haus tapi biasa aja. Kan tersedak." katanya tanpa terputus
"Hehe iya nih." ucapku sedikit kikuk.
"Oh ya menurut lu gimana? Nanti pulang kuliah, nanti malam atau besok ya?" seperti menimbang-nimbang.
"Lebih cepat lebih baik, bukan?" jawabku menunduk. Berharap Egi tidak melihat ekspresi kecewa yang ada di wajahku.
Kamu salah mengatakan itu di depan aku. Harusnya aku tidak dengar ataupun tau hal ini.
"Riska" ucapnya setengah bergumam.
Refleks aku mengangkat wajahku dan mengikuti arah pandang Egi pada sesuatu di ujung sana. Tap.
Aku mendapati seorang perempuan bak model yang sedang berjalan di atas catwalk dengan rambut panjang indahnya yang tergerai.
Polesan make-up yang menyatu natural dengan warna kulit menambah kesan manis padanya. Cantik. Satu kata itu menggema di dalam hatiku.
Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona. Berbeda dengan wajahku yang berminyak dan beberapa bekas jerawat jauh dari wajahnya.
"Gii.." panggilku.
"Hah?" jawabnya ling lung.
Sekali lagi aku menoleh pada perempuan itu. Kini langkahnya mulai meninggalkan kantin dengan sebotol air mineral yang ada digenggamannya.
"Dia udah pergi. Katanya mau menya ..." ucapku terputus.
"Ahh ta gua duluan ya. Dahh." sambarnya terburu-buru.
Kemudian ia berlari ke arah jalan yang sama dengan jalan yang dilalui gadis itu. Aku tahu kamu akan melakukannya dan pada akhirnya kamu yang meninggalkan aku.
Setelahnya aku menikmati teh botol dingin itu sendiri. Hingga sosok perempuan berambut sebahu menghampiriku dengan ekspresi bahagianya.
"Shinnntaaaa ya ampuun ta ta ta gils gils. Tau ga sih?" katanya yang terbilang cepat dengan sumringahnya.
"Apaan si? Kaya orang kesambet lu." ketusku.
"Iihhhh ihhh tau ga si?" tanyanya lagi sambil menggoyang-goyangkan lenganku yang berada di atas meja dengan gemas.
"Enggak. Ada apa?" kataku penasaran.
"Tadi dong. Kak Rendy lewat situ juga" jari telunjuknya sambil menunjuk salah satu jalan menuju kantin. "OMG trus kita sempat lirik-lirakan dan akhirnya dia nyapa gua duluan. Duuhhh Kak Rendy." lanjutnya girang.
"Oh Kak Rendy. Pantes lu kaya kesambet." balasku sembari bangkit dari posisi duduk.
"Ih kok lu gitu? Kok lu ga ada seneng-senengnya sih?" katanya sedikit kesal.
"Kan lu yang seneng sama Kak Rendy bukan gua." jawabku malas.
Aku mengetahui Caca yang menyukai Kak Rendy sejak ospek berlangsung. Saat itu, Kak Rendy salah satu panitia ospek. Dia sempat membantu Caca ketika kakinya terluka karena pantopel yang digunakannya.
Wajar saja reaksinya sangat sumringah ketika dia bertemu dengan Kak Rendy. Tapi, hubungan mereka sampai semester 2 ini hanyak sebatas adek dan kakak tingkat saja.
"Eh ta dimana-mana ya kalo temannya sedang bahagia harusnya tuh ikut bahagia." katanya menerangkan sembari berdiri dari posisi duduknya berusaha menyeimbangi tatapanku.
"Ahh terserah males Kak Rendy trus." aku pun segera pergi meninggalkannya sendiri.
"Ihh taa.. Lu mau kemana?" teriaknya sebelum aku benar-benar menjauh.
"Kelas Geomin" jawabku dan terus berlalu. Geomin adalah mata kuliah Geologi dan Mineralogi Tanah.
"Kan masuknya masih lumayan lama. Ah ga tau ah mau makan dulu." benaknya dan lanjut memilih mie ayam untuk menjadi menu makan siangnya.
***
Suka. Rasa yang hadir begitu saja. Seketika memoriku seperti berputar mencari halaman demi halaman lembaran lama. Hingga aku melihat halaman itu kembali.
Aku bertemu denganya saat ospek mahasiswa baru. Saat waktu istirahat, tiba-tiba sosok laki-laki dengan postur tubuh yang lebih tinggi dari ku itu datang menghampiriku.
"Ehh oyy tungguuu.." teriak seseorang dengan kencang dari belakangku. Sontak aku menoleh.
"Ini punya lu kan?" tanyanya sambil menyodorkanku sebuah nametag di tangannya.
"Ahh.." aku melirik ke arah dadaku dan aku baru saja menyadari bahwa nametagku hilang. Lalu segera melihat nama yang tertera di nametag tersebut. Azalea Shinta. Ilmu Tanah.
"Iya, punya gua." sautku cepat setelah menyadarinya.
"Tadi gua liat nametagnya jatuh." katanya menerangkan.
"Ah, iya. Gua bahkan ga sadar. Makasih banyak ya." ucapku berterimakasih.
"Iya sama-sama. Daripada ntar kena marah kating kan." katanya sambil tersenyum.
Aku pun balas tersenyum dan segera pergi. "Kalo gitu permisi." ucapku dan segera berlalu dari hadapannya. Karena saat itu aku sedang terburu-buru untuk pergi ke toilet. Sehingga aku tidak memperhatikan nametag ku yang terjatuh.
Itu adalah pertama kali kami dipertemukan tapi belum mengenal satu sama lain. Lalu aku berlanjut memutar memoriku untuk menemukan lembaran halaman yang lainnya.
Kejadian ini terjadi seminggu setelah ospek selesai. Siang itu, hujan turun cukup deras. Membasahi jalanan dan juga dedaunan dengan semangat. Aku menunggu tepat di depan gedung jurusan. Sambil menatap langit kelabu berharap hujan segera reda agar aku bisa menuju ke gedung yang berada di sebelah gedung depan jurusanku. Masih ada waktu 35 menit sebelum kelas dimulai.
Tak lama, aku melihat dari sudut mataku ada seorang laki-laki yang akan membuka payungnya. Lalu dia memanggil. "Shinta." panggilnya.
Sontak aku menoleh. Ternyata dia mengenaliku. Saat itu juga aku dapati wajahnya dengan senyum manisnya yang khas. Aku mengenalnya. "Egi." kataku.
"Lu ngapain?" tanyanya yang masih menampilkan senyum manisnya.
"Mau ke gedung sana cuma masih hujan. Jadi, tunggu agak redaan dulu." jawabku sambil menunjuk gedung yang dimaksud.
"Ada kelas?" tanyanya lagi.
"Iyaa ada." jawabku. "Hmm.. Hujannya awet ya udah tinggal 30 menit lagi." gumamku yang masih bisa terdengar oleh Egi.
"Mau gua antar? Gua bawa payung." tawarnya.
"Ehh.. Lu sendiri mau kemana?" tanyaku.
"Gua mau ke halte nunggu ojek online. Kita searah kok. Gua bisa anterin lu ke gedung sana dulu." jelasnya. Lalu dia mulai bersiap memegang payung untuk melindungi kepalanya.
"Hayuukk malah diem. Ntar telat diomelin dosen aja terus ga boleh masuk." katanya yang bingung liat aku diam mematung.
"Ehh iya iya bareng gi." kataku akhirnya. Aku dan Egi menerjang hujan yang terbilang cukup deras.
Kami berjalan dengan hati-hati karena jalanan begitu licin dan basah, menghindari cipratan air hujan agar tidak membasahi celana kami.
"Geseran sini." kata Egi di tengah jalan setelah dia menyadari ada jarak di antara kami hingga membuat bahu kami yang paling pinggir dekat ujung payung jadi basah.
"Hah?" kataku setengah berteriak. Aku tidak bisa mendengar suaranya yang beradu dengan derasnya hujan.
"Kesinian. Nanti basah baju lu." Tangan satunya yang tidak memegang payung merangkul tubuhku lebih dekat dengannya agar tidak basah terkena air hujan.
Aku pun mengikuti. Hingga kami sampai di gedung B. "Akhirnya sampai juga." katanya lega.
"Makasihh ya gi maaf ngerepotin." kataku berterimakasih.
"Santai aja si. Gua lanjut ya." katanya seperti terburu oleh waktu.
"Iya hati-hati ya. Eh baju lu basah tuh." kataku saat melihat di bagian bahunya lumayan basah.
"Ahh ini. Gapapa udah, gua juga mau pulang kan. Lu tuh juga basah makanya jangan jauhan tadi. Awas masuk angin, lu masih ada jam kan. Di kelas juga pasti dingin." ujarnya.
"Gapapa nanti juga kering." kataku mantap.
"Yaudah gua duluan ya." pamitnya dan segera berlalu dari hadapanku.
Lalu dengan cepat aku beralih memutar memori ke halaman lainnya. Hingga aku menemukan salah satu scene favoritku dengannya.
Saat itu, aku pergi ke kantin sendirian. Caca masih mengerjakan laporan yang belum selesai. Aku memesan nasi goreng andalan dari kantin fakultasku.
Beberapa menit nasi goreng yang aku pesan telah berada di tanganku. Kemudian segera aku mencari tempat duduk sebelum kantin mulai penuh.
Tiba-tiba seseorang memanggilku dengan lantang. "Shintaaa.." teriaknya.
Aku menoleh ke sumber suara. Lalu aku dapati seseorang yang familiar. "Egi." ucapku.
"Sinii.." katanya sembari tangannya menepuk-nepuk meja. Mengisyaratkan aku untuk duduk di depannya.
"Ahh.. Makasih." kataku lalu mengambil posisi duduk di depannya.
"Sendirian?" tanyanya.
"Iya. Temen gua masih ngerjain laporan. Lu sendiri?" tanyaku balik.
"Sama. Temen gua lagi ngadep dosen PA. Kebetulan mereka berdua satu dosen pembimbing akademik." jelasnya.
"Ohh gitu." kataku kemudian memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut. "Oh ya lu dari jurusan apa gi?" tanyaku karena sejak awal aku tidak tahu dia dari jurusan mana.
"Peternakan." jawabnya. Lalu dia menceritakan segalanya.
Dari cerita dia yang ingin masuk kedokteran hewan tapi gagal dan keterima di peternakan. Hingga kita tahu satu sama lain bahwa rumah kita berdekatan.
Semenjak itu kita sering main bersama untuk nonton bioskop, makan di kafe atau restoran, tempat wisata dekat rumah, atau hanya jalan-jalan saja di kala dia ataupun aku bosan.
Mulai saat itu. Rasa itu terus tumbuh hingga saat ini.
---
Hallo semuanyaa
Aku kembali lagi menghadirkan cerita Cinta Egi yang dulu pernah terposting di LINE. Sekarang aku akan publish ceritanya di wattpad.
Mungkin kalian yang udah pernah baca di LINE akan sedikit kaget karena ceritanya agak berbeda. Tapi semoga kalian tetap suka.
Selamat membaca.
Jangan lupa untuk vote dan comment.