my and your hopes

Galing kay pecinta_aksara

206K 10.7K 260

Tentang kehidupan gibran dengan sejuta keindahan yang ia buat sendiri.. Seolah olah masalah gibran alami seja... Higit pa

1 masa SMA
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
info
29 masa kuliah
30
31
info
32
33
baca yuk
end
epilog
book 2

15

4.5K 285 3
Galing kay pecinta_aksara

Hari ini sekolah pulang cepat, karna ada rapat sekolah namun hanya gibran yang pulang ke rumah langsung karna natan ada rapat osis, sebenarnya gibran di suruh rapat juga tapi ia enggan ikut dengan alasan capek setelah itu ia di izinankan natan pulang,
Gibran sebenarnya tidak ada niatan untuk ikut osis, tapi natan memaksanya agar ikut organisasi itu, alhasil gibran menurut saja

Gibran membuka pintu utama saat pertama kali netra melihat ada kakak dan omanya yang sedang asik ngobrol
"Asalamualaikum"salam gibran namun diacuhkan mereka

Tania melirik jam yang melingkar ditanganya"bolos ya lu" tanya tania sinis

Gibran menunduk
"Enggak kok kak, tadi guru guru rapat semua jadi dipulangkan cepat"

"Terus natan mana kalau lu beneran nggak bolos"

"Tadi..."ucap gibran dipotong yanti
" ngapain sih kamu ngurusin anak sialan itu yang bisanya cuman ngabisin duwit orang tua"gibran menunduk, hatinya terasa di cabik cabik mendengarkan perkataan yanti, numun perkataanya omanya itu benar juga ia hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya
"Ngapain kamu tetap disini,sana pergi"gibran langsung melangkahkan kakinya, namun masih beberapa langkah tania menyiram tanganya dengan coklat sangat panas
"ups maaf sengaja"
"Hahahaha" tawa tania dan yanti

"Ssst" ringis gibran langsung berlari ke dapur
Gibran langsung menuju ke wastefel untuk menyiram tanganya

"Ya ampun den gibran ini tanganya kenapa"tanya bik jumi pembantu paling lama  dikeluarga al fatih

"Hmm nggak papa kok bik cuma tadi nggak sengaja kena air panas" ucap gibran tidak sepenuhnya bohong

"Kok bisa sih aden nggak hati hati ya? ini parah loh den ke rumah sakit aja ya"

Gibran tertawa garing"cuma gini aja ke rumah sakit bik, besok palingan juga udah sembuh"

"Lah dalah den den, ini parah sampai melepuh kayak gini kok besok wes mari"bi jumi mengelus tangan gibran lembut

"Ssst" ringis gibran saat jumi menyentuh lukanya yang terasa perih itu

"Bibi obatin ya" gibran mengangguk

"Ini ada apa, gibran kamu sudah pulang?"tanya winda baru datang

"sudah bun, tadi gurunya rapat makanaya dipulangkan cepat"

"Natan kem...."winda kaget melihat tangan gibran yang sedikit melepuh dan memerah
"ya ampun tangan kamu kenapa"
Winda memegang tangan gibran

"Sakit bun"

"Kenapa"

"Nggak sengaja kena air panas"

"Bi ambilkan p3k"jumi mengangguk mengerti, tak lama kemudian bi jumi datang membawa sekotak p3k

Winda mengambil salep mengolesi pada luka gibran"di perban ya?"

Gibran menggeleng"enggak mau"

"Tapi nanti kena debu malah infeksi gimana"

"Bunda doanya jelek" ucap gibran sebal

"Kamu sih dibilangin nggak percaya, di perban aja ya"

"Hmmm"winda membalut luka gibran dengan kasa bersih

"Siap siap ya waktunya kemo"

"Bun, kemo itu sakit aku nggak mau lagi, nanti kalau rambut aku plontos gimana"gibran ngeri saat orang berkata 'kemoterapi' karna ia membaca salah satu artikel efek samping kemoterapi itu sangat menysahkan

"Nggak papa, anak bunda tetap ganteng"

¥~~~¥

Setelah 4 jam melakukan kemoterapi gibran sudah merasakan efek sampingnya mulai dari pusing sampai mutah mutah
"Sudah ya nanti perutnya tambah sakit"

"Mual..bun..huekkk...huekkk" hanya cairan hijau yang di muntahkan gibran sedari tadi, karna makanan yang ia konsumsi tadi sebelum kemoterapi  sudah keluar dari muntahan pertama dan kedua

Winda terus mengurut tengkuk gibran"huekkk...huekkk"

"Bun aku nggak tega liat gibran kayak gini" ucap natan melihat sang adik berusaha memutahkan isi perutnya namun hanya cairan hijau yang di keluarkan.

"Huekk...huekk...huekkk" winda dan natan kalut saat melihat muntahan gibran yang tak hanya cairan hijau melainkan darah yang cukup banyak

Winda segera memencet emergency, tak lama kemuadian dokter ihsan dan beberapa perawat datang
Ihsan mengecek keadaanya gibran ia yakin gibran tidak sepenuhnya pingsan
"Gibran kamu masih dengar saya" ucap ihsan menepuk nepuk pipi gibran pelan, gibran merespon dengan anggukan lemah

"Bagus, sus tolong suntikan pamol ke infusnya, demamnya tinggi" suster lina mengangguk,suster yang sejak pertama kali gibran melakukan pengobatan

"Sa...kit"ucap gibran sangat pelan bahkan hanya mulutnya yang bergerak, namun ihsan mengerti
Setelah itu gibran sudah tak sadarkan diri

Ihsan menghembuskan nafas lelah meninggalkan ruang rawat gibran di ikuti beberapa suster

Saat ini winda dan hendra berada diruangan ihsan karna tadi setelah ihsan mengecek keadaanya gibran, ia di suruh ke ruanganya ihsan
" gibran gimana"tanya winda kawatir

"Keadaanya stabil mungkin efek obat kemoterapi membuat demamnya sangat tinggi dan soal muntah darah itu karna lambung gibran luka membuatnya muntah darah dan gue sarankan gibran setelah keadaanya membaik gibran dibawa ke spesialis mata"

Winda membulatkan matanya kaget"spesialis mata?"ucap winda mengulang

"Iya, soalnya tadi gibran mengeluh penglihatanya berkurang, itu hal wajar karena obat obatan gibran yang selama ini gibran konsumsi dosisnya tinggi itu juga berefek pada lambungnya, apa gibran juga tidak pernah mengeluh tentang satu ini" winda dan hendra menggeleng, mereka tak pernah mendengarkan gibran mengeluh sama sekali
Hendra memeluk winda untuk menenangkanya.

ihsan sedikit cemburu seharusnya bukan hendra yang memeluk winda untuk menenangkan melainkan dirinya, ihsan mengalihkan pandanganya kesembarang arah, ia teringat ada anak dan istrinya di rumah, ihsan tak boleh bersikap seperti itu
"Kalian boleh keluar" winda dan hendrapun beranjak keluar ruangan ihsan

¥~~~~~¥

Gibran membuka pintu kamarnya yang semalaman tidak ia tiduri, gibran sudah di izinkan pulang karna keadaanya sudah stabil,
siapa juga yang betah berlama lama diruangan yang berbau obat itu, setelah ihsan mengatakan keadaanya sudah membaik ia buru buru meminta untuk pulang dan ihsan mengizinkan dengan syarat ia tak boleh kecapean dulu

Gibran juga sudah memeriksakan matanya ke dokter spesialis mata setelah ihsan mengizinkan pulang, dokter johan mengatakan mata kiri gibran minus 3,00 dan silinder 4,00 sedangkan mata kanannya minus 3,75 dan silinder 2,00 juga, itu sebabnya gibran tak bisa membaca jelas papan tulis, itu akan semakin naik minus dan silindernya bila gibran tetap mengonsunsi obat obatan berdosis tinggi.

Gibran nengeluarkan benda berbentuk persegi itu dari saku celananya membuka untuk menelfon orang yang di sayanginya yang dari kemarin ia abaikan karna kondisinya yang melemah
Tak butuh lama cika mengangkat vidio call dari gibran
Langsung saja cika mengomeli gibran habis habisan"lu kemana aja, gue telfon, gue chatt, berkali kali nggak lu respon sama kali, lu tau nggak gue itu uring uringan nggak tau kabar dari lu, gue hampir ke rumah lu karna farhan gue telfon gue chatt juga nggak di respon sama sekali, sumpah gue sebal sama lu, yang nggak ngerti perasaan gue"senyum gibran luntur saat mendengarkan kata kata cika terakhir

"Maaf" satu kata membuat cika jengah, karna kata maaf itu membuat hatinya panas menjadi dingin sekaligus

"Maaf maaf aja, besok besok juga lu ulangin lagi gue bosen dengernya"

"Maaf..."

Tut
Sabungan terputus

Gibran mengusap rambutnya kasar pasti cika marah
Ia tak sengaja melihat tanganya ada beberapa halai rambut yang rontok

Tanpa mengganti pakaianya gibran langsung meraih kunci mobil diatas nakasnya tak lupa mengambil jaket di lemarinya

Saat diruang keluarga gibran berhenti karna ada winda"mau kemana"

"Keluar bentar"

"Nggak usah istirahat aja, muka kamu masih pucat gitu"ujar winda

" ini penting bun, bentar kok nggak lama janji deh, boleh kan"

"Enggak gibran"

"Bun..." panggil gibran memelas

"Ya udah iya, jangan sampai kecapekan awas aja aneh aneh, bunda kurung kamu di rumah sakit satu minggu" gibran bergidik ngeri ancaman winda

"Iya iya, pergi dulu, asalamualaikum"

"Wa'alaikumsalam"

¥~~~~~¥

Tanpa kata kata Satpam rumah cika langsung membuka pintu gerbang rumah cika karna gibran sering kerumah cila, tidak lupa gibran berterima kasih
Mobil gibran berhenti di pekarangan rumah ia langsung menuju ke pintu utama

Gibran bertemu dengan pembantu cika yang bernama janah"cari non cika ya den"

gibran mengangguk"iya bi"

"Silahkan duduk den saya panggilkan non cika" janah meninggalkan gibran sendiri di ruang tamu, tak lama kemudian cika datang

"Cemberut aja" ucap gibran menoel noel pipi cika

"Apa sih" cika menyingkirkan tangan gibran

"Masih marah"

"Pikir aja sendiri" ucap cika ketus

"Sekarang gampangan ngambek ya pacar gibran"

"Bodo amat"

Gibran memeluk cika dari samping"maaf ya aku kemarin kemo  mau ngabarin hp aku mati"

Cika terkejut menoleh kesamping"beneran"gibran mengangguk

Cika mengangguk ngangguk mengerti"aku bakal maafin tapi ada syaratnya"

"Apa"

"nanti kemo ke dua gue ikut ya"

Gibran melepas pelukanya karna kaget apa yang di ucapkan cika, keluarganya saja menangis melihat ia kemoterapi apa lagi cika"enggak boleh"

"Kenapa, yaudah gue nggak maafin"

"Kok gitu sih, jelek kamu kalau cemberut gitu"

"Pokoknya gue ikut kalau nggak lu izinin, gue akan tetap datang dan tanya jadwal kemo lu ke dua ke bang natan atau bunda"

"Serah kamu deh"

"Bran" panggil cika namun hanya dibalas dengan deheman

"Rasanya sakit nggak sih kemoterapi itu, kok gue ngeri ya baca artikelnya"

"Sakit, sakit banget malah, sebenarnya aku belum di izinkan keluar sama bunda karna belum pulih benar, tapi demi kamu amu relain badan aku yang rasanya remuk ini dateng kerumah prices cika yang suka ngambek"

"yaudah gue minta maaf" ucap cika merasa bersalah
"Udah aku maafin kok princes"

"Sumpah jijik gue gibran" gibran terkekeh mendengarkan suara cika yang dicempreng cemprengkan
"Hmm lu berapa kali sih kemotetapinya"

"nggak ngerti belum baca soalnya, tapi udah di jadwalkan berapa kali aku harus kemo, setelah itu di jadwalkan untuk operasi karena saat ini kalau langsung di operasi terlalu beresiko, kalau keadaanya sudah memungkinkan dan kondisi aku nggak naik turun bisa jalanin operasi" cika mengangguk ngangguk paham

"Eh tangan lu kenapa" cika baru sadr kalau tangan gibran dibebat

"Kena air panas"

"Kok bisa"

"Ya bisalah buktinya bisa"

Hallo aku up lagi nih hehe,padahal aku lagi dikejar kejar sama tugas yang menjibun😂😂

Ipagpatuloy ang Pagbabasa

Magugustuhan mo rin

48.2K 3.4K 11
Ares dan Zen, saudara kembar identik yang tidak memiliki kemiripan selain fisik mereka. Mereka tidak dekat dan saling gengsi. Hingga suatu hari Ares...
2.5K 94 11
cowok yang susah diatur, keras kepala. antiiii dengan cewek, katanya kalo hidup berhubungan dengan cewek menjadi masalah terbesar, lebih baik sendiri...
9.1K 596 22
Jour Pour Moi's Sequel Book of Diaz Diaz, 14 tahun, selalu bermimpi suatu saat komiknya akan ada di toko buku. Ia juga bermimpi bisa bersekolah di te...
167K 6.4K 49
Tentang Azkarino Aldevaro, manusia biasa yang tidak sempurna.
Wattpad App - I-unlock ang mga eksklusibong feature