25. Balada Cewek Matre (END)

Por ValentFang5

53.1K 4.1K 1.1K

PINDAH KE DREAME / INNOVEL, DENGAN VERSI LEBIH KOMPLIT. Luna adalah gambaran cewek matre jaman now. Dia cant... Más

1 : Emang gue cewek matre, lo mau apa?
2 : Dompet lo gak seindah wajah lo, Dude!
3 : Yang gue butuhkan itu duit lo, Beb. Bukan airmata lo!
4 : Cewek matre in Sweet-sweet talk
5 : Make up and Kiss him, Bitch!
6 : Apa iya gue simpanan si Om?
7 : Luna, kamu gak menjual diri pada si Om kan?
8 : Apa ini saatnya gue menyerahkan diri pada si Om?
9 : Lo jalang dia gigolo, anggap aja intermezo!
10 : Ancaman mesum supir kampreto
11 : Jadiin gue jalang elo, Beb!
12 : There is something about Om
13 : Double Dirty Bitch (1)
14 : Double Dirty Bitch (2)
15 : Kebohongan atau Kenyataan tak ada bedanya
16 : Lo puas bisa menikahi om tajir melintir?
17 : Apa semua topeng sudah terbuka?
19 : My Sweetes Karma
20 : Reuni keluarga sangat harmonis
21 : Hambatan demi Hambatan
22 : Kehamilan yang tak diharapkan
23 : Apakah ini karma atau kebodohan gue?
24 : Kentang
25 : Tenggelam dalam Asa
26 : Perpisahan
27 : Benahi hidup lo, Luna..
28 : Sudah terlambat, Rafa..
29 : Akhirnya lo nikah juga..
30 : Keputusan Membawa Petaka
31 : Semua Berakhir Damai (END)
TELAH TERBIT EBOOKNYA!
PINDAH KE INNOVEL / DREAME
SEASON 2 hanya ada di Dreame / Innovel.

18 : Bye-bye matre girl..

1.4K 156 42
Por ValentFang5

Luna pov

Kepala gue terasa berat. Mungkin karena gue hujan-hujanan dengan kondisi mental yang kacau bikin tubuh gue drop.

Tapi yang gue temui di kos Rafa bikin gue ngerasa semakin terpuruk.

"Lo betul-betul akan pergi?" Tanya gue beberapa saat setelah gue sadar dari pingsan.

Rafa yang sedang sibuk beberes barangnya tak menoleh sama sekali. Dengan serampangan dia mengambil bajunya dari lemari dan melemparnya kedalam koper.

Sebagian besar lemarinya udah kosong. Dia seakan berniat pergi tanpa kembali. Mendadak gue merasa kosong, gue gak bisa ngebayangin hidup gue tanpa dirinya.

Perlahan gue menguatkan diri untuk bangkit, rasa pusing yang mendera berusaha gue tepiskan. Gue mendekati Rafa dan memeluknya dari belakang.

Tubuh Rafa sontak menegang.

"Lepasin gue," katanya dingin.

Gue menggeleng pelan.

"Please, biarin gue begini sebentar aja," gumam gue lirih.

Gue sandarkan kepala gue yang pusing ke punggung lebar Rafa.

"Rafa, gue gak bisa. Gak bisa. Gak bisa.." gue terhisak dibalik punggungnya.

Rafa hanya terdiam, namun tak lama kemudian gue bisa merasakan punggungnya bergetar lembut.

"Rafa, gue.. gak bisa. Ngebayangin tanpa elo, mendadak hidup gue jadi gak.. berarti. Gue.. gue gak mau. Rafa, gue mau bersama elo. Elo.. elo.. "

Entah sejak kapan elo berubah menjadi pusat hidup gue..

Gue kembali terhisak dan menangis di punggungnya. Rasanya hampa hanya dengan membayangkan gue bakal kehilangan cowok yang gue dekap erat ini.

Mendadak Rafa berbalik lalu memeluk gue erat, bibirnya memagut bibir gue dan melumatnya penuh gairah.

Kami berciuman seakan besok akan kiamat. Lama dan intens.

Bibirnya menjelajah dan mencecap setiap jengkal bibir gue. Tanpa terkecuali. Gue balas menghisap dan memagutnya dengan gemas. Lidah kami saling memilin, mencecap dan berpadu mesra didalam sana.

Akhirnya kami menghentikan ciuman panjang ini dengan nafas terenggah-enggah, sembari saling menatap lekat.

"Apa artinya gue buat elo?" Tanya Rafa memastikan.

"Hidup gue. Sekarang dan nanti.." jawab gue tanpa berpikir panjang.

"Lalu dia?"

Dia yang dimaksud pasti si Om.

"Masa lalu.." akhirnya gue menjawab setelah merenungkannya cukup lama.

Perlahan wajah Rafa berubah sumringah, tangannya mengembang.. pertanda dia siap menerima gue kembali. Gue pun masuk dalam pelukannya.

"Rafa, jangan pergi.." pinta gue sungguh-sungguh.

Rafa mengelus rambut gue, lalu mengecup kening gue.

Dia tersenyum sambil ngejawab, "tapi gue harus pergi. Ini demi kita juga."

Mungkin dia mau cari kerjaan yang lebih baik, supaya bisa ngebiayain hidup kami suatu saat.

"Rafa, gue sudah berubah. Ehm, gue akan berusaha berubah. Gue bukan cewek matre lagi, harta bukan yang utama lagi buat gue. Jadi, lo enggak perlu sampai pindah untuk cari peluang menjadi orang kaya demi gue. Swear, gue cukup puas asal gak hidup kekurangan.. terus.."

"Luna.."

"Yeah?"

"Lo mau ikut gue?"

Tawaran Rafa membuat gue tertegun.

Maksudnya? Rafa mau ngajak gue pindah bersamanya?

Sanggupkah gue ngejalani hidup sederhana bersamanya?

Gue sempat bimbang, tapi sesaat setelah gue teringat betapa hampanya hidup gue tanpa dirinya, gue mengangguk dengan yakin.

"Lo serius?"

"Iya, asal sama elo.. gue akan berusaha bertahan," desis gue.

Rafa nampak terharu. Dia menarik gue masuk dalam pelukannya dan melabuhkan kepala gue ke dadanya. Disitu gue bisa mendengar detak jantungnya yang sarat akan semangat hidup.

"Thanks karena elo udah milih gue. Gue janji lo gak akan menyesali keputusan elo ini, Luna."

I hope so..

Gue dah mengorbankan segalanya demi bisa bersama Rafa.

Dengan ini berakhir sudah sesi hidup gue sebagai cewek matre.

Bye-bye matre girl..

Dengan ditemani Rafa, gue membereskan barang gue yang ada di apartemen. Gue cuma ambil secukupnya, yang lain gue tinggal.

Sebelum pergi, gue melihat apartemen ini.. mungkin untuk yang terakhir kali.

Masih ada sisa-sisa pecahan vas bunga. Gue belum sempat ngeberesin sebelum pergi mencari Rafa.

Dan inilah akhir kehidupan gue sebagai gadis matre. Gue mau berusaha kembali menjadi gadis yang hidup mengikuti hatinya.  Bersamanya.. cowok yang gue cintai, Rafa.

"Rafa, apa gak sebaiknya sebelum pergi gue nemuin si Om? Bagaimanapun dia itu orang yang berjasa bu.."

"No!" Potong Rafa tegas, "lo gak perlu nemuin dia. Tapi gue yang akan kasih tahu dia."

"Apakah itu baik? Rasanya kurang sopan," kilah gue.

Rafa mendecih kesal, lalu mencubit hidung gue gemas.

"Gak ada istilah sopan dalam hubungan elo sama si Om, Luna! Hubungan kalian itu bulshit!"

"Lalu hubungan lo sama Tante?" Balas gue.

"Oh, lo masih mengira gue simpanan Tante?" Sarkas Rafa.

Gue bungkam. Hal itu masih menjadi sesuatu yang amat gue kepoin, tapi gue gak berani tanyain saat ini.

"Suatu saat lo akan tahu jenis hubungan gue dengannya. Tapi for you info, meski mereka dijodohkan.. dia sangat mencintai si Om. Om elo itu aja yang bebal sampai gak menyadari hal itu!"

Hati gue mencelos mengetahuinya. Jadi selama ini si Tante menahan rasa sakit hatinya karena hubungan gue ama si Om? Ternyata gue udah bikin seorang wanita baik menderita karena ulah gue.

"Rafa, gue gak ngerti. Si Om bilang mereka dijodohkan, tak ada cinta diantara mereka.."

"Tapi ada anak diantara mereka."

Ya, gue salah.  Apapun alasannya. Masih belum terlambat kan gue merubah semua ini?

Seakan tahu yang gue pikirkan, Rafa menggenggam tangan gue erat lalu mengecupnya lembut.

"Luna, lo memilih yang benar dengan meninggalkannya dan memutuskan bersama gue."

Gue mengangguk membenarkan.

"Rafa, gue bisa percaya elo kan? Lo cinta gue kan?"

Entah mengapa gue gamang. Gue khawatir suatu saat Rafa akan meninggalkan gue disaat gue betul-betul cinta padanya. Gue takut kena karma karena pernah jadi cewek gak bener!

"Astagah, lo masih menanyakan hal itu?! Semua udah gue serahkan buat elo, Lun! Bahkan perjaka gue juga elo yang ngembat," sahut Rafa gemas.

"Tapi keperawanan gue juga elo yang ngambil!"

"Meski begitu, elo kan pernah ngeseks ama si..."

"Gak pernah!!" Bantah gue spontan.

Mata Rafa membulat lebar mendengar pengakuan gue.

"Bagaimana bisa? Kalian kan sering berduaan disini, dan.."

Wajah gue terasa panas. Cih, Rafa. Masa gue harus ngejelasin hal tabu seperti ini?
Tapi dalam menjalin hubungan kita butuh keterbukaan kan?

"Selalu saja tertunda. Dan saat itu nyaris terjadi, si Om gak mampu melakukannya," kata gue jujur.

"Shit! Maksud elo dia..."

"Gak usah dibahas!! Gue gak ngerti."

Rafa tersenyum sumringah, dia memeluk gue dari belakang.

"Jadi gue satu-satunya buat elo kan, Sayang," bisiknya senang.

"He-em," gumam gue pelan.

Disambung dengan desahan ketika merasakan ada tangan nakal yang meremas dada gue.

Cepat sekali tangan Rafa menelusup masuk kedalam kaus gue. Dan mengangkat bra gue keatas. Setelah menyingkirkan penghalang itu, tangannya kini dengan leluasa meremas gundukan dada gue dan memilin ujungnya.

"Aaahhhhh, Raaaffaaaaa," desah gue.

"Apah? Humm?"

"Iihhhsssss, hhshhhh."

Gue gak sanggup berkata apapun, tangan Rafa makin menggila. Yang satu semakin aktif mempermainkan dada gue, yang lain mempermainkan bagian bawah gue.

Entah sejak kapan celana pendek gue dah melorot sampai ke mata kaki, berikut cd gue. Jari Rafa masuk kedalam inti gue dan mengobok-ngobok didalam sana, sementara jempolnya menggodai klitoris gue.

Haissshhhhhh!

Ini terlalu menggoda. Gue dah gak tahan. Apalagi kemudian bibir Rafa membungkam desahan gue dengan ciuman panasnya.  Lidahnya yang hangat menari-nari dalam rongga mulut gue, menjelajah setiap jengkal didalam sana.

Oh, gue nyaris sampai!!

Gue menggerang panjang, lalu.. tiba di puncak pelepasan gue. Setelahnya gue terkulai lemas dalam pelukan Rafa.

"Sekarang giliran gue," bisik Rafa mesra.

Dia mengangkat gue kayak bayi koala, lalu membawa gue ke dinding kaca apartemen. Punggung gue terasa dingin ketika menyentuh dinding itu.

Rafa hanya menurunkan celananya sebatas paha, miliknya yang sudah menegang mencuat keluar dari balik celana dalamnya.

Dia menggesek-gesekkan miliknya ke permukaan vagina gue sebelum memasukkannya dengan perlahan.

"Sempit, seperti biasanya," cetusnya sambil menatap gue sensual.

Buat gue, itu terasa sesak.. namun hangat. Ada sensasi menyenangkan dan menggetarkan.

Apalagi ketika Rafa mulai memompa miliknya dalam inti tubuh gue. Dengan kuat dan cepat!

Napas gue tersentak ketika Rafa mengulum ujung buah dada gue. Tangannya meremas payudara gue yang lain.

"Aaahhhhhh, Rafaaaaa... Hmffftt."

Rafa beralih memagut bibir gue, dia berlama-lama disana sebelum bibirnya turun menjelajahi leher jenjang gue dan menghisap kuat disana.

Dia melakukan semua itu sambil miliknya terus menggenjot kuat dibawah sana. Tubuh gue tersentak kesana-kemari karena guncangannya.

Rasanya ngilu, nikmat dan.. gemas. Saking gemasnya, gue menggigit leher Rafa dan membuat tanda disana.

Lalu kami saling bercumbu hingga saat pelepasan itu tiba.

Setelahnya kami masih berdiri berpelukan dengan peluh membanjiri tubuh kami.

Suara pintu apartemen terbuka mengagetkan kami.

"Rafa, ada orang.. minggir," desis gue pamik. Buru-buru gue membenarkan bra gue yang tersingkap keatas, juga menurunkan tshirt gue.

"Yakin minta gue minggir?" Cetus Rafa sembari membereskan celananya," bagian bawah lo polosan lho."

Shit!!

Celana hotpan dan cd gue tergeletak didepan sofa.  Gue bottomless!

"Sayang, maaf kalau saya kemarin.. "

Sialnya yang masuk itu adalah si Om yang rupanya kembali kemari karena ingin minta maaf ke gue.

Dia terdiam ngelihat gue yang berada didalam kungkungan pelukan Rafa.

Matanya nanar menatap pemandangan didepannya, plus celana gue yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.

Lalu pandangannya semakin suram begitu ngelihat dua koper milik gue didekat sofa.

"Apa artinya ini?" Tanyanya dengan wajah pias.

Gue gak mampu ngejawabnya. Andai kami gak kepergok dalam keadaan memalukan seperti ini, mungkin gue masih bisa berargumentasi.

Lidah gue kelu..

"Masa lalu.." bisik Rafa mengingatkan.

Gue mengangguk pasrah.

"Om, maaf.."

Hanya itu yang mampu gue katakan. Tapi satu kata maaf itu bagi Om mungkin sudah menjelaskan segalanya.

Ia terduduk lunglai diatas sofa. Sorot matanya nampak terluka. Gue jadi ngerasa bersalah padanya..

"Pakai ini dulu!" Ucap Om dingin.

Ia melempar celana dalam dan hotpan gue, Rafa menangkapnya dengan sigap.

Dengan tangan gemetar gue memakai celana gue, dibantu oleh Rafa.

Kemudian kami mendekati Om dengan bergandengan tangan. Lagi-lagi Om menatap nanar tautan tangan kami.

"Anggap saja saya tak melihat, anggap saja ini tak terjadi. Bisakah kau kembali bersama saya, Luna?" Pinta Om memelas.

Jangan begini, Om.
Om bikin semuanya semakin sulit.

"Maaf Om.. "

Gue rasa jawaban gue dah menjelaskan segalanya.
Om terpaku dengan tatapan kosong, gue berdiri mematung dengan perasaan bersalah.

Kami berdiam diri, hingga Rafa menghela gue pergi meninggalkan si Om. Dia menumpuk kedua koper gue dan membawanya dengan satu tangan, tangannya yang lain dipakainya untuk menggandeng gue.

Airmata gue menetes saat meninggalkan tempat penuh kenangan ini.

Maafin gue, Om. Memang sudah tak selayaknya hubungan kita berlanjut. Kembalilah pada keluarga Om. Pada istri dan anak yang sangat mencintai Om..

Ingin gue katakan semua itu, tapi sementara ini gue gak sanggup. Mungkin Om juga gak bakal mendengar nasehat gue itu.

Biarlah waktu yang menyembuhkan luka di hati Om dan membawanya kembali bersama keluarganya.

Begitu berada diluar apartemen, Rafa mengusap airmata gue dan bertanya sekali lagi pada gue.

"Kamu yakin pada keputusanmu? Masih ada waktu kalau ingin merubahnya."

Gue menggeleng, lalu memeluknya erat.

"Gue cinta elo, Rafa. Jangan lepasin gue dengan alasan apapun," ucap gue serius.

Rafa balas memeluk gue dan mengecup puncak kepala gue.

"Tolol! Siapa yang mau melepasmu?! Apapun jawabanmu tadi, aku tetap akan membawamu pergi."

Jawaban Rafa menenangkan hati gue.

Asal dia bersama gue, gue siap menghadapi kerasnya hidup.

Mungkin sudah saatnya gue berhenti bermalas-malasan dan mulai menata hidup gue.

Gue gak mau lagi hidup sebagai cewek matre yang menodong dompet cowoknya untuk membelikan segala keinginannya.

Yah, mulai sekarang gue harus mandiri. Dan belajar hidup sederhana, bersama cowok yang gue cintai.

"Ayo kita pergi.." ajak Rafa.
Tangannya terulur kearah gue.

Gue tersenyum dan menyambut uluran tangan Rafa.

Dengan bergandengan tangan kami berjalan meninggalkan masa lalu dan menuju masa depan yang belum jelas.

Namun sekali lagi, bersama Rafa gue gak takut..


Bersambung.

Bagaimana chapter ini?

Bikin greget? Baper apa kecewa?

Kira-kira apa yang menanti sepasang sejoli yang sedang dimabuk asmara ini?

Tunggu di chapter berikutnya..

Seguir leyendo

También te gustarán

204K 640 17
Kumpulan Cerita Dewasa.. yang belum cukup umur skip aja ya. Langsung gas baca. No copy ya 🙏🤗
453K 29.3K 30
Kinan pikir hidupnya akan lebih tenang setelah meninggalkan dunia event organizer. Jam tidur lebih waras, akhir pekan lebih manusiawi, dan waktu untu...
1M 36.2K 70
[WAJIB FOLLOW SEBELUM BACA] Rebecca Freyya, Si Dewi Es FEB pemegang tahta IPK 4.0, mengira hidupnya akan tenang sampai lulus sarjana, sampai tiba-tib...
1.1M 5K 40
Aku upload ulang ceritaku yaaa. Mikayla Atmadja, mahasiswa yang belakangan ini namanya jadi topik hangat di Fakultas Hukum. Parasnya yang cantik dan...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas