Setidaknya kalo lo belum bisa buka hati buat gue, jangan buka hati buat cowok lain. Tutup aja semua, gue kan udah booking duluan hati lo.
•••
Sebelum pulang ke rumah, Kevin mampir terlebih dahulu di supermarket. Perutnya mendadak ngidam pengin jajan. Sebanyak-banyaknya. Cowok itu turun dari motornya yang sudah terparkir di halaman supermarket. Tangan kanannya mendorong pintu berbahan kaca, sampai tubuhnya itu bisa masuk ke dalam.
Kevin pun mengambil keranjang. Lalu dirinya mulai mengitari rak-rak potato. Tangannya mulai memilah, kedua matanya sibuk melihat. Dirasa selera, sebuah kemasan potato itu masuk ke keranjangnya. Selepas dari rak potato, ia pergi ke rak permen dan marshmello. Mengambil berbungkus-bungkus.
Dan sekarang beralih di lemari pendingin yang berisikan soda. Tangannya mengambil berkaleng-kaleng soda.
Sampai akhirnya berdirilah ia di belakang meja kasir, setelah keranjangnya penuh. Bahkan beberapa kemasan terpaksa ia dekap dengan tangan akibat saking puenuhnya belanjaan.
"Mbak, ini bel--" deg. Jantungnya menadak berpacu. Kalimat yang tadi ingin diucap hilang seketika. Kedua matanya itu terpaku menatap sosok di depannya itu.
Sosok yang dicarinya.
Dirindunya.
Dicintainya.
"Ether," Kevin masih terkejut dengan indera penglihatannya barusan. Belum percaya kalau orang itu Ether.
Ether hanya diam. Ia sibuk mengambili belanjaan Kevin dengan kepala tertunduk. Sungguh, hatinya jadi campur aduk tidak tentu. "Ther, ini gue Kevin." Kevin mencoba mengalihkan pandangan pada Ether yang justru mencuekinya.
"Ether, lo masih ingat kan sama gue?" telunjuknya itu mengarah pada dirinya sendiri.
"Ether..." masih tidak ada sahutan. Kevin geram. Ia pun melangkah masuk ke dalam bagian kasir.
Etger terperanjat. Tanpa sadar saat ini Kevin sudah melingkarkan lengnnya dilehernya. "Gue kangen sama lo, Ther. Gue mohon lo pulang ya sekarang," Ether bisa mendengar secara jelas kalimat yang barusan yang diucapkan Kevin. Meski terdengar melirih, tapi nada itu jelas dipendengarannya. Sangat Jelas.
"Pulang, Ther, pulang. Gue sayang banget sama lo...."
•••
Jika bukan karena paksaan dari Kevin, Ether tidak akan menurut. Ia pasti memilih untuk bekerja saja. Tapi Si Kevin sialan itu terus saja merengek, bahkan saat Ether sudah bilang pada Kevin kalau bos nya akan marah bila ia bolos. Kevin tetap saja ngotot dan meminta ponselnya. Lebih parahnya dia menelepon bos nya dengan alasan:
Assalamualaikum, Bu. Ini Kevin. Pacar nya Ether, eh calon ding. Gini ya, Bu, saya tuh kangen banget sama pacar saya, eh calon pacar maksutnya. Saya tuh udah puasa tujuh hari tujuh malam sampe makan kembang tujuh rupa cuman buat ketemu sama Ether. Nah, sekarang kan saya udah ketemu nih, tapi Ethernya kan masih kerja. Saya pengin ngomong sesuatu sama Ether, makannya itu saya telepon Ibu untuk minta ijin ngobrol manis sama Ether.
Ibu enggak usah takut. Kevin ganteng kok, sumpah deh. Liat aja Ibu pasti tersepona sama saya. Eh, tapi jangan ah, kan saya nyalonnya buat Ether bukan buat Ibu. Kevin juga masih unyu kok, gemesin, dan tidak sombong. Kevin juga waras, cuman sekarang agak gila karena tergila-gila sama Ether.
Nanti Kevin beliin martabak deh, sekalian sendal swallo sekalian juga nggak papa. Eum...sama ufonya Adudu juga nggak masalah kok. Yang penting Ibu ijinin.
Oke. Daa..... Ibu sayang.
•••
Ether menghela napas. Sedari tadi Kevin tak kunjung berhenti mengoceh. Cowok itu terlihat begitu antusias meluapkan kerinduannya yang berton-ton pada Ether.
"Gue tuh kangen berat sama lo, Ther. Kuangeeennnn....begete. Lo ke mana aja sih, lo mau bikin gue mati hah?" ada sebuah senyum tersirat dibibir Ether saat Kevin mengatakan itu.
Setidaknya dengan adanya Kevin beserta hal konyolnya itu bisa melepas satu beban dihatinya.
"Lo enggak selingkuh kan, Ther. Setidaknya kalo lo belum bisa buka hati buat gue, jangan pernah buka hati buat cowok lain. Tutup aja semua, gue kan udah booking duluan hati lo," dan cowok itu terus saja mengoceh. Tanpa rasa malu ataupun gengsi.
"Aaaaahh....pokoknya gue sayang banget sama lo. Lo jangan nggak sayang sam gue. Soalnya kita itu couple yang pas. Lo cantik, gue ganteng."
"Lo juga jangan kurusan. Gue takut nanti kalo kita jalan bareng, lo kepentok dikit retak, ada angin besar kabur. Lah, gue terus ngejar siapa lagi kalo lo kabur?"
"Pokoknya makan yang banyak, jangan lupa mandi, tetep cantik, banyakin minum. Soalnya cuacanya panas banget, nanti lo dehidrasi. Kalo bisa segera balik ke dunia lo, kasian Tante Tya nyariin lo terus. Lo nggak kasian gitu sama Tante Tya?
Tante Tya itu baik banget, Ther. Dia bilang kalo dia sayang banget pake d sama lo. Sebenarnya udah lama Tante Tya mau ketemu lo, tapi karena bisnis padat banget, dia jadi mundurin rencana itu. Padahal Tante Tya kangen banget sama lo, tapi selalu aja ada halangan disaat pengin ketemu lo. Tante Tya minta maaf sama lo, dia belum bisa bahagiain lo, nggak selalu ada di sisi lo. Tapi asal lo tau, Tante Tya sayang banget-nget-nget sama lo."
•••
Ether berada di kamarnya. Tengah terduduk dipinggiran kasurnya, menatap ke arah cermin besar yang berdiri beberapa langkah dari tempatnya. Ia terpaku sejenak. Kedua tangannya menyentuh pipinya. Wajah itu, wajah miliknya persis sekali dengan milik Tya, mamanya.
Wajah itu yang dulu sering sekali ceria, kini menjadi suram. Bibir tipis ini yang dulunya sering tersenyum sekarang kaku dan jarang sekali tersenyum. Kehidupannya berubah drastis. Yang diimpikan ternyata belum tentu seperti itu.
"Gue salah...." ia berkata lirih.
"Gue salah. Salah kalo gue ngehindarin mama. Salah kalo gue pergi begini aja. Gue egois..."
Berkat perkataan Kevin tadi, jendela hatinya terbuka luas. Ada rasa senang mengetahui tentang mamanya. Kevin, cowok yang dulu sangat ia benci dan bahkan terlalu malas untuk bertemu, ternyata merupakan orang yang selama ini peduli padanya. Tanpa pantang menyerah sekalipun, Kevin tetap berada di sisinya. Makian, ketus, judesan, serta segala yang ia respon terhadap Kevin tak pernah sekalipun membuat cowok itu jera. Sekarang ketulusan terlihat di sana. Yang tulus pasti ada. Tergantung kita menunggunya tanpa letih.
Mendadak wajah itu kembali ceria, senyum mengembang dibibirnya. Mengingat perkataan Kevin sewaktu tadi ditaman.
Ether bersiap berdiri. Sudah sekitar satu jam ia mendengar celotehan Kevin. "Vin, gue harus kerja lagi," ucapnya sambil membenarkan baju.
Tercetak ekspresi kecewa di wajah Kevin. "Yah...masa udahan sih, Ther. Gue kan masih kangen sama lo. Nanti aja kek. Pleasee...." bujuknya.
"Nggak bisa. Ini tanggung jawab," tegas Ether.
Kevin mendengkus kesal. "Hm...ya udah deh. Tapi besok gue temuin lo nggak papa kan?" cowok menatap Ether.
Ether mengangguk. Setelahnya beranjak pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Kevin menyekal lengannya. Membuat Ether menoleh, menatap cowok itu penuh tanda tanya.
"Kenapa?" tanya Ether bingung.
"Nggak papa."
"Oh ya udah." Ether pun kembali melanjutkan langkah kakinya, namun lagi-lagi terinterupsi oleh panggilan Kevin.
"Ther." Panggil Kevin.
"Apa?"
"Nggak papa ding. Ehehe, i love you."
Akward emang. Tapi bagi Ether kata-kata itu berhasil mengontaminasi pikirannya. Saat ini hanya ada Kevin dalam benaknya.
•••
Vote and komen ya. Tq:)