THE BROTHERS

By nfbeee

35.5K 395 126

🔞Warning nc+ 🔥🔥🔥 Bagaimana rasanya jika kamu menjadi Hana? Hidupannya seketika berubah sejak berada diant... More

2. Crush On You
3. Brothers Complex
4. First Kiss
5. Kencan
6. Learn To Be Adult
7. Mistake
8. Salah Paham
9. Sedikit menjauh
10. Hubungan Rahasia
11. Learn to be Adult (2)
12. 100 Days
13. Secret Place

1. Tetangga Baru

9.3K 78 19
By nfbeee

"Hyung, hyung! Mana sepatu yang kemarin dibeliin eomma?" Teriak Eunsang sambil memeriksa rak sepatu dengan terburu-buru.

"Itu ada di rak sepatu paling bawah"
"Yaa! Eunsang-ah habiskan sarapanmu dulu!"

"Sudah telat hyung!! Aku pergi dulu!!"

Suara bel pintu tertutup berbunyi. Rowoon dibuat geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya itu. Padahal jam baru menunjukkan pukul 07.30 pagi, yang artinya masih ada setengah jam sebelum jam pelajaran pertama dimulai.

"Lihat, dia bahkan hanya memakannya sedikit" Rowoon mengambil sepotong roti yang disisakan Eunsang lalu memakannya sambil berjalan menuju depan televisi. Ia lalu mengambil remot yang tergeletak di atas meja kemudian mengganti channel berita menjadi tayangan home shopping. Favoritnya belakangan hari ini.

"Hallo? Iya, ini lagi perjalanan kesana pak. Iya benar, apartemen New Town nomor 203"

Tut

"Huh, menyebalkan. Kenapa mendadak begini sih??"

Hana mempercepat langkah kakinya menuju apartemen barunya di daerah Dongdaemun-gu yang berjarak lebih dekat dengan kampusnya. Ini adalah tahun kedua Hana berkuliah di Kyunghee University jurusan seni. Karena rumahnya yang berada di daerah Yangcheon-gu memiliki jarak yang lumayan jauh dari kampusnya, orangtua Hana menyuruhnya untuk menyewa apartemen dan memulai hidup mandiri disana.

Tapi yang membuatnya kesal sekarang adalah layanan pengantar barang yang dipesan ibunya ternyata datang lebih cepat dari dugaannya, membuatnya terpaksa harus membolos kuliah.

"Isshh.. angkat ayo angkaaaattt.." Hana terus mencoba untuk menghubungi ibunya tapi tak juga diangkat. Pikirnya mungkin ibunya bisa mewakilinya dulu untuk menerima barangnya tapi ternyata nihil. Jalan satu-satunya hanya berlari.


Benar, berlar-


"Aww"

Tanpa sengaja Hana menabrak seorang siswa hingga menjatuhkan beberapa buku yang dibawa oleh siswa itu.

"Maaf, aku tidak sengaja.." Hana lalu menunduk membantu siswa yang ditabraknya barusan.


Buku sukses mencapai nilai 100 di ujian akhir, buku sains umum, buku bahasa inggris level intermediate.


Hana menelan ludah ketika membaca judul buku-buku yang lagi dipungutnya itu. Bahkan siswa ini mungkin lebih pintar darinya karena jujur, ia bisa berkuliah karena bakatnya bukan nilainya.

"Kau tidak apa-apa kan?" Tanya Hana sambil menyerahkan beberapa buku ke siswa itu.




"Cantik" ucap siswa itu spontan.

"Apa?"

"Aa.. itu.. terimakasih"

"Oh, iya... sama-sama" ucap Hana sembari tersenyum lalu melenggang pergi menuju apartemennya.

Hana POV




Wah.. Jadi aku akan tinggal disini?


Aku melebarkan mata melihat sekeliling, sebuah unit apartemen yang menjulang tinggi dan termasuk dalam kawasan yang lumayan elit. Pemandangan disekitarnya juga tampak indah karena apartemen ini dikelilingi pohon-pohon rindang dengan bunga yang tertata cantik, di samping tempat parkir juga terdapat taman bermain untuk anak-anak. Sebuah tempat asing yang terlihat nyaman. Lokasinya pun hanya berjarak delapan blok dari Universitas Kyunghee.

Dengan semangat aku langsung berjalan menuju unit apartemen yang bernomor 203 itu.

"Terimakasih"

ucapku pada kurir yang baru saja membantuku membereskan barang-barang dan menatanya di tempat yang kuinginkan. Aku melepas sarung tangan lalu menyeka keringat yang membasahi dahiku. Ternyata pindahan itu sungguh melelahkan, aku bahkan harus membolos kuliah karena ini.


Ting Tong


"Paket" teriak seseorang diluar pintu. Aku membuka pintu dan mengambil paket tersebut. Rupanya dari ibu. Sebuah paket yang terbungkus kertas kado dengan kartu ucapan di atasnya.

To Kim Hana

Putriku, selamat atas pindahan ke tempat barumu ya ♡ ibu dan ayah pasti akan merindukanmu tapi kami ingin agar kau menjadi orang yang lebih mandiri. Ingat! Jangan telat makan juga. Sering-seringlah berkunjung kerumah di akhir pekan. Kami mencintaimu ♡

From Ayah dan Ibu

Hampir saja air mataku terjatuh, tapi aku tidak boleh menangis. Ini adalah hari pertamaku hidup mandiri dan jauh dari mereka. Aku akan menunjukkan kalau aku adalah anak yang bisa dibanggakan. Aku benar-benar beruntung memiliki mereka, orangtua yang sangat pengertian dan menyayangiku. Bahkan ketika peringkatku turun dan nilai ulangan ku jelek mereka tetap mendukungku dan mempercayai diriku.

Dengan perlahan aku membuka bungkus paket tersebut, isinya ternyata adalah dua kotak kue beras. Apa mereka menyuruhku untuk akrab dengan tetangga?

Aku pun langsung membersihkan badan dan bersiap untuk membagikan kue beras tersebut kepada tetangga di samping apartemenku.


"202"


Disinilah aku sekarang, di depan pintu apartemen samping kiri dari apartemenku. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu memencet bel. Jujur aku sedikit gugup karena aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya, memencet bel rumah orang yang tidak ku kenal.

Cklek

Sesosok ibu-ibu membuka pintu sambil menggendong anak.

"Anyeonghaseyo, perkenalkan nama saya Kim Hana. Saya penghuni baru apartemen 203 sebelah, ini ada sedikit kue beras dari saya. Mohon bantuannya" aku lalu menundukkan badan dengan kaku.

"Oh iya, salam kenal juga.. saya Jung Mari, panggil saja bibi Mari tidak apa-apa kok."

"Ne, bibi. Ini anak bibi? Lucu sekali.. siapa namanya?"

"Aaa.. ini.. ini cucu saya"

"Ne? Aa.. oh.. maaf" jawab Hana gugup.

"Ah tidak apa-apa, apa saya terlihat muda ya? Hehehe.. kalau kamu ada perlu bantuan kamu bisa minta tolong saya saja jangan sungkan."

"Benarkah? Terimakasih bi"

"Kalau begitu saya masuk dulu ya.. mau membuatkan susu untuk Juan"

"Oh namanya Juan? Bagus sekali.. baik bi kalau begitu saya pamit dulu, terimakasih"

Ck, dasar bodoh! Kesalahan macam apa itu di pertemuan pertama? Dasar Kim Hana bodoh, batinku.

Sekarang aku menuju ke 204. Jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi oke? Jangan mempermalukan dirimu Kim Hana!


Ting Tong



Aku memencet bel tapi tidak ada respon. Apa lagi tidak ada orang ya? Aku mencoba memencet bel lagi.



Ting Tong...


"Iya.. sebentar"

Samar-samar aku mendengar suara orang dari dalam. Aku bergegas merapikan rambutku dan mulai memasang senyum termanis di wajahku.

Cklek


"Maaf ada apa ya?"





























Sesosok pangeran, eh bukan. Sesosok laki-laki tampan membuka pintu. Tubuhnya sangat tinggi dan atletis seperti patung yunani, dan tunggu, rambutnya masih agak basah! Sepertinya dia baru saja selesai mandi karena hidungku mencium bau shampoo yang sangat kuat. Membuatku tanpa sadar menelan ludah ketika melihat setetes air yang terjatuh di pelipisnya.

"Maaf ada apa?" Tanya laki-laki itu sekali lagi.

"Oh? Aaa.. itu, aku.. ini" aku menyerah kan kotak yang berisi kue beras itu dengan gugup sampai terlalu maju hingga tanpa sengaja menyentuh perutnya. Tepatnya jariku yang memegang kotak itu  merasakan otot perutnya di balik kaos tipis itu. Dasar bodoh!

"Aaa.. maaf! Maaf aku tidak sengaja" aku langsung menunduk malu.

"Tidak apa-apa kok" laki-laki itu tersenyum. Ya, dia tersenyum sangat manis sampai membuatku ingin pingsan ditempat!

"Aku.. hmm.. perkenalkan namaku Kim Hana, aku penghuni baru di apartemen 203 sebelah" lagi-lagi aku menjadi gugup.

"Oh begitu, aku Rowoon. Lee Rowoon. Salam kenal ya" Ucapnya sambil menjulurkan tangannya dihadapanku. Dan tentu saja aku membalasnya!

"Salam kenal juga"

"Hmm.. apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya aku pernah melihatmu"

Tunggu, apa dia bilang??? Bukannya ucapan itu dikatakan ketika kamu tertarik ingin mengenal seseorang lebih dekat? Apa dia ingin menjalin some denganku??

Sadarlah Kim Hana!

"Ne?"

"Ya.. sepertinya aku pernah melihatmu.. apa kamu berkuliah di Universitas Kyunghee?"

Jleb. Dasar, makanya jangan terlalau percaya diri ketinggian Kim Hana!

"Ah iya benar.. aku kuliah di Universitas Kyunghee"

"Oh ya? Apa jurusanmu?"

"Aku seni, kamu?"

"Wah.. Bagaimanabisa kebetulan begini? aku jurusan arsitektur. Pantas saja aku seperti pernah melihatmu, bukannya arsitektur dan seni memiliki 2 mata kuliah  untuk kelas bersama?"

"Aa.. begitu ya.. kalau begitu aku pamit dulu, mohon bantuannya"

"Iya sama-sama, dengan senang hati"

Lihat! Lagi-lagi dia tersenyum begitu. Buat jantungku jadi berdebar saja! Aku lalu buru-buru kembali ke apartemenku sebelum terserang diabetes. Senyumnya terlalu manis, tolonggg..

"Hyung.. aku pulang"

Eunsang melepas sepatunya dan menyimpannya kembali di rak lalu menuju ruang tamu yang berhadapan dengan dapur.

"Wah.. apa ini? Hyung, apa eomma kesini?" Ucap Eunsang begitu melihat sekotak kue beras di atas meja makan.

"Ya! Jangan sentuh itu!" Teriak Rowoon yang baru keluar dari kamarnya.

"Wae? Hmmm.. enak.."

"Kanapa kau memakannya??"

"Memangnya kenapa? Bukannya makanan itu untuk dimakan?"

"Kau merusak desainnya bodoh, padahal aku ingin memfotonya dulu baru dimakan"

Rowoon meratapi kue beras yang sudah terlihat hamburadul dimakan oleh adiknya. Sebenarnya dia bukan perhatian pada kuenya, tapi lebih tepatnya orang yang memberikannya. Ia ingin mengabadikan itu. Siapa sangka kalau mahasiswa yang sering dipandangnya diam-diam dikelas bersama kini menjadi tetangganya, tapi sialnya.. sialnya bocah ini malah memakannya tanpa rasa bersalah, batin Rowoon.

"Hyung, tau.. tadi pagi aku tidak sengaja bertemu dengan wanita cantik, dia cantik sekali sampai aku susah mengedipkan mata"

Pletak!

"Aww hyung! Sakit tau!" Eunsang memegangi kepalanya yang baru di jitak Rowoon.

"Ya! Kau ini belajar saja yang rajin, nanti eomma akan marah kalau nilaimu turun lagi"

"Ish.. hyung ini mengganggu kesenanganku saja, kalau saja tadi aku meminta nomornya dan menunjukkannya ke hyung kalau dia sangat cantik, pasti hyung akan menyesal berkata begitu!"

"Sudah-sudah. ganti saja bajumu lalu pergi ke minimarket depan. Hyung mau masak"

"Iya-iya cerewet"

"Mwo? Apa katamu?"

"Ani hyung"

[At Ssoyang Minimarket]

"Ramen, daun bawang, daging sapi, penyedap rasa, sosis, kopi, roti, susu, hmm sepertinya sudah semua.." Eunsang membaca daftar belanjaan dari ponselnya sambil sibuk memeriksa belanjaan.

"Aa! Telur!" Ucap Eunsang teringat sesuatu, buru-buru diambilnya salah satu barang di daftar belanjaannya itu, hampir saja ia melupakannya. Pasti hyungnya akan marah kalau sampai ada barang belanjaan yang kurang. Membayangkan hyungnya mengomel saja sudah membuat Eunsang menggelengkan kepala, menyeramkan.

Tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan lain yang akan mengambil telur yang sama. Sebuah tangan dengan jari-jari yang lentik dan cantik.

"Oh!"
"Oh?"

Kedua mata Eunsang membulat, begitu juga wanita dihadapannya.

"Wah.. ini menarik sekali, bagaimana bisa kita bertemu lagi disini?" Ucap Eunsang tak percaya.

"Kita bertemu lagi ya, hehe"


Benar, dia adalah Kim Hana.



"Kata orang kalau tak sengaja bertemu sekali itu namanya kebetulan, tapi kalau bertemu lagi untuk kedua kalinya itu artinya takdir"

"Ah.. begitu.." Hana menanggapi perkataan Eunsang dengan garing.

"Apa kau tinggal di lingkungan ini?" Tanya Eunsang penasaran.

"Ya.. bisa di bilang begitu" Hana terlihat agak risih, ia lalu mengambil telur dan buru-buru pergi menuju kasir. Ia terlalu malas menjawab pertanyaan dari seorang bocah SMA, jangan sampai bocah ini juga menanyakan namanya dan meminta nomornya. Ia sudah terlalu lelah menghadapi bocah-bocah yang masih labil seperti itu dan selalu menggodanya, bahkan ada yang sampai datang dan menunggunya di kampus demi mendapatkan nomor ponselnya.

Eunsang terus memandang ke arah Hana, mereka sama-sama sedang berada di kasir tapi bersebrangan. Ketika melihat Hana yang telah selesai bertransaksi, Eunsang lalu buru-buru menyuruh kasir di tempatnya untuk mempercepat pembayarannya. Ia bahkan ikut memasukkan belanjaannya sendiri ke dalam kantong belanja.

Dan disinilah dia sekarang, berjalan sekitar 3 meter di belakang Hana. Eunsang terus memandangi punggung Hana yang entah kenapa juga terlihat cantik dengan rambut bergelombang yang terurai hingga punggungnya.

Hana sesekali menoleh ke belakang, lalu mempercepat langkahnya. Ia risih karena merasa terus diikuti. Ketika Hana mencoba berhenti berjalan, Eunsang yang ada di belakangnya juga berhenti. Oke, ini tidak bisa dibiarkan!

"Mengapa kau mengikutiku?" Tanya Hana sinis.

"Aku? Aku memang ingin, tidak. Aku tidak mengikutimu" jawab Eunsang polos hampir keceplosan.

Hana lalu lebih mempercepat langkahnya, bahkan hampir berlari sampai ia tiba di tangga apartemennya. Hana sengaja tidak menggunakan lift karena pasti orang yang mengikutinya akan tau di lantai berapa ia tinggal.

Tapi rupanya siswa ini lebih gigih lagi. Ia terus saja mengikutinya hingga membuat Hana merasa jengah.

"Wae, wae??? Apa yang kau mau? Mau berkenalan? Mau nomorku??" Hana tiba-tiba berbalik badan membuat Eunsang kaget.

"Aa.. bu.. bukan.. akuu.."

Belum selesai Eunsang memberi penjelasan Hana langsung meninggalkannya pergi sampai akhirnya ia tiba di depan pintu apartemennya.

"Kenapa sih? Mengikutiku sampai sini? Apa kau juga mau tau aku tinggal dimana? Ya, benar! Aku tinggal disini! Terus apa maumu sekarang hah?!" Bentak Hana.

Tiba-tiba pintu apartemen 204 terbuka, Rowoon pun keluar membuat mata Hana berbinar.


Apa dia akan menyelamatkan ku dari penguntit ini? Batin Hana.


"Eunsang-ah.. ada apa?"

"Oh.. Hyung ini, tidak ada apa-apa kok"

"Ya sudah cepat masuk, hyung sudah lapar"

"Ne hyung"




Tit.tilulit




Hening....





Apa? Hyung??? Hana kaget, lebih tepatnya shock. Sumpah mau ditaruh dimana wajahnya sekarang? Astaga.. siswa itu ternyata tetangganya sendiri, tapi Hana malah memperlakukannya seperti penguntit!!

"Aku pulang dulu ya, hmmm.. tetangga baru" ucap Eunsang sambil memencet pasword pintu lalu masuk ke dalam apartemennya sambil tersenyum.

Mati aku, batin Hana.

"Kamu ngapain tadi diluar sama Hana?"

"Apa-apaan ini? Hyung kenal sama tetangga sebelah??" Tanya Eunsang penasaran.

"Tadi dia yang mengantarkan kue beras itu kesini.. dia ternyata temen kuliah hyung tapi beda jurusan. Kita seangkatan"

"Begitu ya.. jadi namanya Hana? Ternyata dia noona" Eunsang tersenyum simpul. "Hyung, tetangga sebelah cantik ya?"

"Ya! Berhenti memikirkan itu! Kau selalu saja begitu, langsung suka kalau melihat wanita cantik, jangan dekat2 dengannya!"

"Wae?" Tanya Eunsang bingung.

"Dia galak" ucap Rowoon mengambil belanjaan lalu menuju dapur.
               

Aww.. cemburu terdeteksi 😆

Continue Reading

You'll Also Like

515K 46.7K 93
*High rank #1 in Secretary 20180610 #27 in wattpad 20180504 #1 in romantis 20180519 #2 in Exo 20180726 #2 in mine 20180810 #74 in wattpad 20190712 #1...
23.8K 318 34
WARNING 21+!!! Banyak adegan dewasanya, yang merasa belum cukup umur diharap mengundurkan diri ya... ##### Mavia Renata, seorang siswi cantik kelas 2...
86.4K 8.8K 38
[COMPLETE] Minhyun yang kalem banget kaya tembok
1K 68 17
bagaimana jika seorang idola sekolah berkata bahwa dia menyukaimu? maukah kau menjadi kekasihnya? apakah kau ingin bertukar tempat denganku? ⚠️⚠️⚠️⚠️...
Wattpad App - Unlock exclusive features