Langit cerah berawan menghiasi bumi dan sekitarnya, lebih tepatnya SMP Winanta di Lapangan utama yang terhampar luas sedang dilaksanakan Upacara pembukaan Most dipimpin oleh sang Ketua Osis. Kepala sekolah dan para Guru berdiri di pinggir Lapangan Sekolah.
Terdengar suara tepukan riuh akibat Kepala Sekolah yang mengakhiri pidato mengenai ucapan terimakasih dan permohonan kepada para murid baru di tahun ajaran ini yang telah masuk ke Sekolah terelit se-Jakarta dan berharap agar bisa menjaga nama baik dekolah ini sampai lulus nanti.
Gadis yang memakai name tag berwarna merah muda bertali hitam yang melingkar di lehernya bernama Hany tengah bercelingak-celinguk mencari kenalan agar tidak kesepian di dalam kelas. Namun, ia harus mengurungkan niatnya.
Sifatnya yang sangat pendiam membuatnya susah mencari teman baru, bahkan rasanya enggan untuk sekedar mengobrol kepada orang lain. Jujur saja, Hany tidak bisa beradaptasi di lingkungan baru.
Hany menatap ke barisan paling depan, terdapat dua orang siswi yang sedang bercakap ria dan tertawa bersama. Lalu, ia mengedarkan kembali pandangannya ke barisan paling belakang. Seorang siswi itu terdiam tanpa mengobrol kepada orang lain dengan kepala sedikit tertunduk. Sepertinya dia enggan untuk berbicara.
Hany menyipitkan matanya unuk memperjelas pandangan untuk melihat name tag gadis itu. Tertera 'Ajeng' di kertas berwarna merah muda tersebut. Ingin sekali Hany berkenalan dengan dia, tapi ia kurang percaya diri. Hany lebih memilih diam dan memerhatikan ke depan.
Setelah 30 menit, akhirnya Upacara selesai. Kegiatan selanjutnya yaitu masuk ke kelas masing-masing untuk diperkenalkan wali kelas yang akan siap mengajar selama satu tahun ke depan dan diberi pengarahan belajar efektif.
Tapi, Hany ingin ke toilet, bukan ke kelas!
Tanpa pikir panjang, Hany langsung berlari meninggalkan barisannya setelah meminta izin kepada salah satu Osis yang berjaga di barisan paling belakang.
Oh no! Sekarang ia berada di koridor. Hany tidak tau letak toilet. Ia lupa menanyakan kepada Kakak Osis tadi. Hany bingung memilih dua arah belokan apalagi disini sepi, ia tidak bisa bertanya kepada seseorang. Akhirnya, Hany mengikuti firasatnya untuk berbelok ke kanan.
Di koridor yang sama, terdapat seorang siswi yang tengah berlari dengan terburu-buru. Karena mereka tak saling melihat satu sama lain dan akhirnya...
Brak!
"Aduh!!" Mereka tertabrak dan Hany terjatuh menduduki lantai. Untung saja ia dapat menahan dengan kedua tangannya sehingga punggungnya tak terbentur dinding.
Saat itu, tiba-tiba ada dua Kakak Kelas berjenis kelamin laki-laki lewat di hadapan mereka.
"Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi🎶." Salah satu diantaranya bernyanyi sambil berjalan dengan suara yang euh... Fals. Kemudian mereka benar-benar hilang dari pandangan.
Tersadar dari lamunan, siswi yang tak dikenalnya segera mengulurkan tangan untuk membantu Hany berdiri. Dia berkata, "Eh, sorry ya. Gue gak sengaja karena buru-buru tadi." Siswi itu menunjukkan raut wajah bersalahnya.
Hany menerima ulurannya dan berdiri. "A-ku juga minta maaf." Ujarnya sambil tersenyum canggung dan menundukkan kepala.
"Gak usah gugup juga kali. Tenang aja, gue gak bakal gigit kok." Ucap gadis itu tertawa garing.
Lalu, Hany menaikkan kepala. Alangkah terkejut ketika melihat siapa yang berdiri di depannya. "FELINA?" Teriaknya dan menunjukkan ekspresi senang dan menganga lebar.
Felina bingung mengapa gadis didepannya mengetahui namanya? Ia juga merasa perenah ketemu. Tetapi, beberapa detik kemudian ia berteriak, "HANY? LO HANY? BENERAN? GUE GAK LAGI MIMPI KAN?"
Untungnya di koridor ini tidak ada murid yang berlalu lalang. Mungkin jika ada, pasti telinga mereka yang mendengarnya akan tuli seketika.
"Iya. Ini aku Hany." Jawab Hany sambil tersenyum sumringah.
Felina menghamburkan pelukan ke Hany, "Yaampun Han. Gue kangen... banget sama lo. Di Amerika gue gak nemu orang modelan kayak lo yang baik, suka gak nyambung kalo diajak ngobrol, seru dan jaim. Pokoknya gue rindu masa kecil kita yang dulu. Gue gak nyangka kita dipertemukan lagi disini." Ucapnya menangis tersedu-sedu.
Yap... Felina dan Hany sudah berteman lama sejak kecil bahkan bisa dibilang mereka adalah sahabat. Tetapi, ketika mereka kelas 4 SD mengharuskan Felina untuk pindah ke luar negeri untuk mengikuti orang tuanya yang bertugas disana.
Tiba-tiba Hany juga ikut menangis.
"Lo juga ikutan nangis? Lo kangen sama gue kan?" Tanya Felina masih dengan posisi berpelukan seperti teletubbies.
Hany merasakan badannya mulai tak enak. Ia menjawab, "Bukan itu." Hany menggigit bibirnya sendiri kuat-kuat.
"Terus kenapa? Oh, gue tau lo kangen gara-gara kita gak nonton doraemon bareng kan? Tenang, pulang Sekolah bisa. Gue punya banyak kaset film doramon di rumah." Jawab Felina.
"A-ku ke-belet, ingin ke toi-let." Hany menghela napas pelan setelah mengucapkan kalimat itu. Tubuh Hany mulai bergetar hebat.
Felina melepaskan pelukannya dan memandang Hany tak percaya.
"HWA MAMA!!" Teriak Hany lalu berlari menuju toilet yang jaraknya tak jauh dari sini.
Felina mengusap matanya yang sudah deras dengan air mata. Ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hany.
"Dia masih sama dengan yang dulu." Gumam Felina.
"Terlalu kekanakan."
"Gue jadi bingung. Kok bisa gitu sahabatan sama dia dari orok?"
***
Alfia membawa kotak makan berwarna kuning yang di bawanya dari rumah. Ia membuka bekalnya dan matanya berbinar takjub ketika melihat nasi goreng telur bermata sapi. Tapi, ia bingung mengapa dinamakan mata sapi? Padahalkan asalnya dari ayam. Ya kali sapi disamain sama ayam atau jangan-jangan sapinya bertelur?
Ah, tak penting memikirkan sapi. Alfia langsung melahap nasi goreng ke dalam mulutnya.
Tiba-tiba siswi yang menjadi kenalan pertamanya diketahui bernama Luna itu mendekat ke meja Alfia.
"Al, anterin gue ke Kantin yok! Gue laper mau minum cendol." Ajak Luna dengan gestur tangan memohon.
"Tapi gue lagi makan, Lun." Jawab Alfia merasa sedikit bersalah.
"Emang Gifta kemana?" Tanyanya.
"Gifta lagi ke Merkurius naik sepeda." Jawab Luna asal.
Alfia mengeryit dahinya menandakan ia sedang heran. Lalu ia bertanya, "Ngapain?"
"Mau beli bakso katanya." Jawab Luna dengan wajah tak berdosa. Tapi, anehnya Alfia hanya manggut-manggut kepala seperti percaya dengan apa yang dikatakan Luna.
Kemudian Luna pergi keluar kelas untuk menuju kantin sendiri. Sungguh malang sekali nasibmu Luna.
Alfia tertawa sejenak menatap kepergian Luna.
***
"SEBELLLL!!" Luna menghentakkan kakinya kesal.
Luna menyusuri setiap koridor yang sepi seperti tak ada kehidupan. Didalam hatinya ia terus menggerutu
sebal dengan kata-kata mutiara yang tak baik diucapkan.
"Pokoknya gue sebel! Huh." Ucap Luna dengan mulutnya yang masih berkomat kamit.
"Kalo tau gini gue bawa ayam gue biar bisa ke Kantin bareng." Ucap Luna kembali. Tiba-tiba Luna mengingat Ayam kesayangan yang selalu ia rawat seperti anak sendiri bernama Malika. Ia selalu bermain bersama, makan bersama dengan Malika. Tapi kalo tidur bersama? Err.. Tak mungkin sekali.
"Argh... Masa gue ke Kantin sendiri sih?!" Dumal Luna. Rasanya koridor ini tak ada ujungnya. Ia seperti berputar-putar di satu tempat.
"HIHIHIHIHI!!"
Luna menghentikan langkahnya dengan tubuhnya mendadak tegang setelah mendengar suara gaib tersebut. Atmosfer kali ini seperti mencekam dan bulu kuduknya mulut merinding.
Apakah ia tak salah mendengar?
"Wait, sejak kapan sekolah paling elit se-Jakarta ada hantunya?" Gumam Luna dengan perasaan was-was. Ia sudah menyiapkan ancang-ancang meninggalkan tempat ini.
"HIHIHIHIHIHI!!!."
Suara itu makin kencang masuk ke dalam indera pendengarannya Luna. Wajahnya sudah pucat pasi, tapi anehnya ia tak berlari ataupun berteriak. Disini kan sepi gak ada orang tapi masa ada hantu sih?
Pukk!
"ASTAGHFIRULLAH?! BUNDA!!! TOLONGIN LUNA! ADA HANTU DISINI! LUNA GAK MAU MATI! LUNA MASIH MAU HIDUP! HANTU JANGAN GANGGUIN LUNA! JANGAN MAKAN LUNA! DARAH LUNA GAK ITU GAK ENAK! HWAA POKOKNYA YANG LIHAT GUE, TOLONGIN GUE! DAN BUNUH HANTU YANG DIBELAKANG GUE! MAU POCONG JERUK PURUT, POCONG ANGGUR, SUNDEL BOLONG, SUNDEL SWALLOW, POKOKNYA HARUS BUNUH DIA!!!" Teriak Luna hampir membuat SMP Winanta ingin roboh. Padahal dinding ini sangat kuat dan kokoh. Ia berteriak sebab ada tangan yang menepuk bahunya.
"Hahahaha." Suara tawa pecah pun terdengar keras.
Luna membuka matanya. Ia sangat kaget suara tawa itu seperti manusia. Luna langsung menengok ke belakang dengan hati-hati.
"LO?!"
Tbc.
Sen, 9 Mar 2020
*****
Semoga kalian suka sama cerita ini. Jangan lupa tinggalkan Vote dan koment agar aku semangat update cerita ini.