Oneshoot (Meanplan_Tincan)

By byyemy

92.5K 7.2K 2.2K

Kumpulan oneshoot #meanplan❤ #tincan ❤ #2wish💙💚 Mengandung 🔞+ jadi yang di bawah umur harap jauh-jauh. Tap... More

My Best Friend My love❤
Honeymoon
Love That Comes From Mistakes
I love You, I hate You
One Night With You
I LOVE YOU PHI
SECRETARY WITH BENEFIT
Filum
Perjalanan
Brandal Sekolah
Because Of You
Winter Snowman
AN ENDING
REWRITE THE HAPPY ENDING ONE : WEEK MAGIC
REWRITE THE HAPPY ENDING ONE : WEEK MAGIC
POLE DANCER
BECAUSE WE ARE 2WISH
Will You Merry Me
Please Look At Me
Sahabat Kecil
💚Mean I Love You💙
Karna Cinta
Cinta Tak Harus Memiliki
Di Antara Seribu Bintang
Hari Bahagia
Love
Possessive Lover
Sweet Love
Come Back
Clbk
Save Me
Katakan Jikalau Cinta
Touch
Long Time No See
Birthday Special For Phiravich
Special New Years
This Is Love
Up To You
Don't Cry
Tired
Si Manis
Surprise For The Lover
Orang ketiga
Hate But Still Love
Surprise Valentine's Day
Plan Day
Power Of Love
My Boss, My Love.
My Bubble Tea
Meeting Again
Wish
Back Home
Lima Menit
Bright
Rain
Dreams
Baby
Blue Dan Green
Balon
Berpisah Untuk Kembali
Like Love 1
Like Love 2
Dinner
Unlimited Love
You Are My Fantasy

Flashlight

813 96 33
By byyemy

Sorry for typo, don't forget to vote and comment.

_________________

Mean sedang duduk sendirian di tepi ranjang kamarnya sambil menangis dan ketakutan. Entah kenapa, dia paling takut yang namanya gelap. Gelap menjadi trauma tersendiri buatnya. Apalagi pas kilat datang menyambar tubuh Mean langsung bergetar hebat.

Seperti saat ini, dia sedang meringkuk di pojok tempat tidurnya sambil sembunyi dari petir yang bergemuruh dan pada malam hari ini juga mati lampu. Tubuh Mean sudah bergetar dari tadi ia bahkan menutup telinga dan memejamkan matanya sambil menangis sesegukan.

"Ibu," panggil Mean namun itu dalam hatinya karena suaranya seakan tercekat di tenggorokannya karena ia hanya mampu menangis sesegukan.

"Ibu, ayah, aku takut!" Mean kembali menutup telinganya ketika kilat datang menyambar.

Perrrr!

Entah kenapa hujan malam ini begitu deras dan sialnya kenapa ia turun ketika tengah malam di saat orang-orang pada sedang asyik terlelap namun tidak dengan Mean. 

Mean sedang melawan maudnya. Tubuhnya bergetar, ketakutan, tidak bisa bernafas dan menangis. Entah sampai kapan dia akan seperti itu. Orang tuanya malah sedang asyik dengan dunia mimpinya tanpa melihat anaknya yang sedang menangis dan ketakutan di kamarnya. Ia paling benci mati lampu, itu sama saja neraka buatnya. Entah kenapa, kalau saat mati lampu Mean tidak bisa bernafas seakan tubuhnya dihimpit oleh bebatuan yang sangat besar dan seakan ia berada di ruangan yang paling sempit dan setiap saat dia akan mati karena kekurangan oksigen.

Tiba-tiba ada sebuah sinar lampu yang mengarah ke kamarnya. Sinar lampu remang-remang itu seakan seperti cahaya kehidupan buat Mean. 

Mean membuka matanya dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Namun ia kembali menutup matanya kembali karena sekelilingnya masih gelap. 

Lagi. Sinar itu kembali menerangi kamarnya walaupun cuma sedikit karena terhalang oleh gorden jendela kamarnya.

Mean memberanikan dirinya untuk berdiri dan berjalan ke arah cahaya itu. Ia membuka gordennya agar sinar cahaya itu masuk ke kamarnya. Rupanya itu adalah sinar cahaya dari rumah yang tidak jauh dari rumahnya. Entah siapa orang yang baik hati itu yang mau menyalakan lampu senternya untuk dirinya. 

Hujan sudah berhenti begitu juga dengan petir itu. Mean bisa sedikit bernafas karena tidak takut lagi sama petir tersebut. Namun, lampu masih mati. Tapi tidak apa, ada cahaya senter yang mengarah ke arah kamarnya. 

.

.

Plan kaget ketika suara petir menyambar. Tadi dia sedang mimpi indah, ada seorang anak kecil yang seumuran dengannya sedang bermain gitar. Anak kecil itu sedang bernyanyi lagu Yood, Groove Riders.

Plan sadar, kalau tetangganya itu paling takut kalau mati lampu karena dia sering melihat Mean kecil dulu menangis dengan tubuh gemetaran saat mati lampu. Ia segera mengambil senternya tidak peduli walaupun sebenarnya dia juga takut. 

Plan meraba-raba laci dekat tempat tidurnya dan mengambil senter yang biasa ditaruhnya. Senter itu adalah senter pemberian mendiang ibunya dulu. Ibunya sudah meninggal dua tahun yang lalu ketika dia masih berumur 6 tahun. Senter itu selalu menemaninya setiap mati lampu jadi dia tidak perlu merasa takut lagi kalau mati lampu. Dan sekarang dia tahu ternyata bukan hanya dirinya yang tidak suka sama gelap tapi tetangganya juga jadi, dia pun mengarahkan senternya tepat ke arah kamar Mean. Karena Plan pernah melihat Mean duduk termenung di balkon kamarnya karena itulah dia tahu di mana letak kamar Mean.

Waktu itu Plan sedang pulang dari sekolahnya dan dia melihat Mean duduk di balkon kamarnya tanpa mengganti seragam sekolahnya. Waktu itu mereka tidak saling mengenal. Namun, Plan mengenal seragam sekolah Mean dan dari itulah Plan tahu kalau mereka satu sekolah tapi tidak satu kelas. 

Plan terus saja mengarahkan senternya ke arah kamar Mean. Ia berharap dengan itu Mean tidak akan takut lagi karena mati lampu.

Mean yang sudah tidak menangis dan tidak begitu takut lagi dan ia merasa lega karena bisa bernafas. Ia berjalan dengan pelan-pelan menuju jendela kamarnya dan menarik gorden hingga terbuka. 

Mean melihat kalau arah lampu itu dari rumah yang ada di seberang rumahnya. Ah, dia ingat. Bukankah itu rumah pria mungil yang selalu dia lihat di sekolahnya. Pria mungil yang diam-diam telah membuat hatinya jadi tidak karuan. Setiap pagi dia selalu melihat kalau pria mungil itu selalu bermain dengan kucing dan juga anjing kesayangannya. 

Mean bahkan suka dibuat senyum-senyum sendiri ketika melihat pria mungil itu ketika sedang bermain dengan hewan kesayangannya tersebut. Ia bahkan mengetahui nama kucing dan anjing peliharaannya tersebut.

Pria mungil itu sering memanggil kucingnya dengan sebutan Rocky dan anjingnya dengan sebutan Miley. Ya dari situlah Mean mengetahui nama hewan peliharaan pria mungil itu.

Plan, ya itulah nama pria mungil itu. Ia mengetahuinya ketika mereka masih di sekolah dasar. Namun ketika lulus sekolah Plan pindah ke Chiang Mai dan tinggal bersama neneknya dan kembali satu minggu yang lalu. Sekarang bahkan mereka satu Universitas. 

Mean melambaikan tangannya. 

Plan dapat melihatnya dari jendela kamar Mean kalau Mean sedang melambaikan tangannya. Ya dia mengetahui nama Mean karena mereka satu Universitas. 

Malam itu Plan tidak mematikan senternya dia membiarkan senternya menyala sampai pagi. Ia sengaja melakukan itu agar Mean tidak ketakutan lagi. Sedangkan ia tertidur di kursi dekat jendela nya. 

Paginya Mean terus mencari keberadaan Plan. Ia datang ke rumah Plan namun ayahnya mengatakan kalau Plan sudah berangkat ke kampus. 

Mean sudah memutari kampus dan bertanya ke teman kelas Plan namun mereka mengatakan tidak melihatnya dan sudah satu jam Mean mencari Plan namun belum menemukan keberadaan Plan.

Mean duduk di taman kampus sambil membawa sebotol minuman. OISHI itu adalah minuman favorite Mean. Selain segar ada juga jelly yang kenyal-kenyal di dalamnya yang bikin berasa ada yang nendang di dalam mulut.

Mean sedang meneguk tetesan yang terakhir. Saat itu dia melihat Plan sedang membaca sebuah buku di bawah pohon di taman kampus itu.

Mean tersenyum. Ia langsung bangun dan menghampiri Plan.

"Hei," sapa Mean.

Plan mendongak. "Hei,"

Mean duduk di samping Plan. "Apa kau yang menyalakan senter ke arah kamarku tadi malam?" tanya Mean.

"Maaf apakah aku mengganggumu?" Plan bertanya balik.

"Tidak! Tidak! Aku justru ingin berterima kasih padamu," ucap Mean sambil memperhatikan wajah Plan.

"Untuk?" bingung Plan.

"Karena telah menyelamatkanku dari kegelapan yang mencekikku," kata Mean jujur.

Plan mengernyitkan alisnya.

"Hmm, terima kasih! Dulu waktu aku masih kecil juga kau pernah menolongku. Apa kau ingat?" 

Plan memutar otaknya dan berpikir.

Mean memperhatikannya. Ia tersenyum ketika melihat wajah bingung Plan yang kelihatan imut di matanya.

"Kau tidak mengingatnya?" Mean bertanya lagi.

Plan menggeleng.

Mean pun akhirnya menceritakan kejadiannya yang dulu di mana Plan waktu itu pernah menolongnya. Saat itu Mean masih kecil. Dia baru pulang dari rumah temannya dan pulang pada malam hari. Ketika Mean baru mau masuk ke dalam rumahnya tiba-tiba mati lampu. Mean panik. Ia ketakutan dan menangis di depan rumah orang tuanya. 

Plan saat itu baru saja mengambil pesanan ayahnya yang sedang dibelinya secara online dan saat itu dia melihat ada anak kecil yang seumuran dengannya sedang menangis. Kebetulan saat itu dia membawa senter yang diberikan oleh ibunya. 

Setelah selesai mengambil pesanan pizza nya dia pun menyoroti Mean yang ada di depan sana dengan senternya. Beberapa menit kemudian, lampu langsung menyala dan Mean langsung masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Plan yang masih terdiam di sana.

Plan hanya mampu geleng-geleng kepala. Namun dia menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya. "Mungkin karena dia takut," batin Plan berkata.  

"Ah, aku baru ingat," kata Plan ketika dia  akhirnya mengingat kejadian yang beberapa tahun yang lalu. "Aku tidak menyangka kalau kau masih mengingatnya,' lanjutnya.

"Terima kasih karena telah menolongku!" ujar Mean.

"Oh ya, aku sebenarnya ingin bertanya ini dari dulu padamu, tapi aku selalu lupa?" kata Plan ketika ia mengingat apa yang akan dikatakannya.

"Apa?" kata Mean.

"Kenapa kamu bisa takut saat mati lampu?" tanya Plan.

Mean pun menceritakan alasannya kenapa dia bisa takut saat mati lampu apalagi saat petir datang menyambar. 

"Begitulah," kata Mean mengakhiri ceritanya.

Plan hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.

"Aku dulu juga takut saat mati lampu, tapi ibuku memberikanku sebuah senter ajaib kepada-ku jadi aku tidak perlu takut lagi," kata Plan menjelaskan. 

"Benarkah? Apakah itu senter yang kamu gunakan tadi malam?" tanya Mean.

"Hmm, aku jadi kangen sama ibuku," ucap Plan sedih.

Mean mengelus punggung Plan. Ia tahu kalau Plan sudah kehilangan ibunya sejak dia masih kecil.

"Terima kasih! Aku sudah tidak apa-apa kok," Plan berucap sambil tersenyum. Elusan dari tangan Mean begitu hangat. Entah kenapa, Plan jadi suka. Tangan Mean hangat seperti tangan ibunya ketika dulu ibunya suka mengelus punggungnya saat dia akan tidur.

Hari itu sebelum masuk kelas mereka ngobrol ngalor ngidul. Dan sejak hari itu mereka juga jadi lebih akrab. 

Hubungan mereka pun jadi lebih dari teman. Ada rasa hangat yang Plan rasakan ketika dia dekat dengan Mean begitu juga dengan Mean, setiap hari dia selalu tersenyum ketika bersama dengan Plan. Ia sadar kalau dia mencintai pria mungil yang ada bersamanya ini.

Karena terlalu asyik mengobrol mereka tidak sadar kalau jam sudah menunjukan angka 9 malam. Mean terlalu asyik bercerita ini dan itu.

"Akhhh!" teriak Mean ketika mati lampu.

Plan langsung mengambil senternya dan menyalakannya. Ia tahu Mean pasti ketakutan. Plan langsung memeluk tubuh Mean dan menenangkannya.

"Tidak apa-apa, ada aku," ucap Plan sambil mengelus punggung Mean.

Mean mengangguk di dalam pelukan Mean. Mean sudah lebih tenang. 

"Terima kasih!" Mean berucap setelah dia jauh lebih tenang. 

Plan mengangguk.

"Aku harus pulang sudah malam," kata Mean karena melihat jam sudah menunjukan angka 11 malam.

"Tidurlah di sini," ucap Plan. Ia bahkan mengelus surai Mean.

Mean memperhatikan wajah pria yang ada di depannya itu. Hatinya seakan bersorak ria karena perasaannya seakan tersambut.

"Apakah boleh?" tanya Mean memastikan.

"Hmm," gumam Mean. Tangannya kini mengelus wajah Mean.

"Kamu cantik," Mean masih memperhatikan wajah Plan saat mengatakan itu. Tangannya pun kini ikut membelai wajah Plan. Tangannya seakan tersihir untuk melakukan itu semua.

"Kamu juga tampan," ucap Plan malu-malu. Ia bahkan memalingkan wajahnya karena malu.

Mean menangkup wajah Plan dengan tangannya. Ia langsung mengecup bibir Plan singkat lalu ia kembali melihat wajah Plan.

Plan masih terbengong mencerna apa yang baru saja Mean lakukan padanya. Namun, hatinya senang terlalu senang malah karena dicium oleh orang yang dicintainya. Selama dekat dengan Mean dia merasa bahagia, ribuan kupu-kupu selalu berterbangan di dalam perutnya.

"Aku menyukaimu Plan, jadilah pacarku," kata Mean penuh harap. Ia begitu mencintai pria mungil yang ada di hadapannya ini.

"Aku mau jadi pacarmu," kata Plan sambil tersenyum. Mukanya langsung memerah. "Aku juga mencintaimu, Mean," lanjutnya.

Mean langsung memeluk tubuh Plan karena bahagia. Akhirnya orang yang dianggap hero itu adalah miliknya. Plan adalah hero buat Mean karena Plan selalu saja menolongnya ketika dia membutuhkan pertolongan. 

Mean melepaskan pelukannya. Ia langsung membelai wajah Plan dan memajukan wajahnya. Plan yang mengetahui itu langsung menutup matanya. 

Mean menggamit bibir Plan. Mereka saling berciuman lama. Mean melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulut Plan ketika Plan membuka mulutnya.

"Ahhh," lenguh Plan ketika Mean menyesap lehernya dan memberikan tanda keunguan di sana.

Mean semakin menggencarkan aksinya. Tangannya kini beralih di baju Plan dan membuka kancingnya.

"Hmm," desah Plan ketika Mean menyesap kedua putingnya secara bergantian. Sedangkan tangannya kini beralih ke celana Plan dan menariknya turun.

Plan juga membantu Mean untuk membuka baju dan celananya dan kini mereka berdua sama-sama naked. 

Mean menindih tubuh Plan dan menggamit bibirnya intens. Bibir mereka saling bertautan lalu ciuman Mean pun turun ke bawah. Mean memberikan tanda di leher, dada, di perut dan di paha Plan lalu kini ia memasukan mulutnya di naga Plan yang sudah menegang.

"Hmm," erang Plan ketika Mean memaju mundurkan mulutnya secara pelan dan cepat di naga Plan. 

Mean semakin mempercepat laju mulutnya di naga Plan hingga Plan mengeluarkan cairan cintanya di dalam mulut Mean. 

"Ahh, ohh," suara Plan mengatur nafasnya. Ia masih terengah-engah setelah baru saja selesai pelepasan.

Mean tersenyum setelah mengeluarkan mulutnya dari naga Plan. Ia bahkan menelan cairan cinta Plan. Ia langsung menggamit bibir Plan dan membagi bekas cairan Plan yang masih ada di mulutnya.

Plan pun membalas gamitan Mean dan tak mau kalah. Mereka saling berciuman sedangkan tangan Melan kini mulai mengelus lubang Plan dan memasukkan satu jarinya.

"Ohhh, hmmm," desah Plan ketika ketiga jari Mean sudah keluar masuk di dalam lubang Plan. 

Ketika lubang Plan sudah mulai meregang dan sedikit basah, Mean menggesekkan naganya.

"Plan, aku ingin masuk," ucap Mean semakin horny.

Plan menganggukkan kepalanya karena biar bagaimanapun dia juga sudah cukup terangsang.

"Pelan-pelan! Aku belum pernah melakukannya," ucap Plan memalingkan wajahnya malu. 

Mean tersenyum dan mencium kening, mata, hidung, pipi dan bibir Plan lama. Ia bahagia karena dia yang menjadi pertama buat Plan dan itu juga pertama buatnya.

"Akkhhh! Sakit!" ringis Plan ketika naga Mean sudah masuk setengah. 

"Maaf, tapi aku tidak bisa berhenti," ucap Mean parau karena ia masih mendorong naganya masuk ke lubang surgawi Plan.

"Hmm, ahh, hiks ... sakit!" suara Plan karena menahan rasa ngilu dan sakit di dalam lubangnya.

"Sudah masuk semuanya," kata Mean setelah hentakkan yang terakhir. Ia sengaja tidak bergerak dan memberikan Plan ruang untuk bernafas. Ia tahu Plan pasti sedang kesakitan begitu juga dengannya karena Plan menjepit naganya begitu kuat.

"Apakah sakit?" Mean bertanya karena dia melihat Plan menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.  

"Hmm, sangat sakit. Bergeraklah," suruh Plan.

"Aku akan mencabutnya kalau kau menginginkannya," kata Mean. Ya walaupun sebenarnya ia ingin sekali bergerak dan merasakan seutuhnya tubuh indah yang ada di bawah kungkungannya itu. Namun, melihat wajah kesakitan Plan mau tak mau ia pun harus menghentikan aksinya itu.

Bagaimana Plan tidak kesakitan? Naga Mean begitu besar. Plan saja saat pertama kali melihatnya ia menelan ludahnya kasar. Ia berpikiran apakah naga Mean yang besar, panjang dan berurat itu akan muat di dalam lubang pink nya yang kecil dan mungil itu.

"Awas saja kalau kau berani mencabutnya, akan ku bunuh kamu!" ancam Plan. 

"Tapi Plan-" 

"Bergerak-lah brengsek! Jangan banyak bertanya!" Plan langsung menarik leher Mean dan menciumnya untuk menghilangkan rasa sakitnya.

"Hmm, maafkan aku. Kamu boleh menjambak dan menggigit aku kalau kamu kesakitan," ucap Mean setelah melepaskan pagutan bibirnya dari bibir Plan.

Mean bergerak semakin cepat dan cepat hingga membuat Plan hanya bisa mendesah dan mengerang karena keenakan. Seperti yang dikatakan oleh Mean, Plan menggigit bahu Mean dan menjambak rambut Mean ketika rasa sakit dan ngilu serta kenikmatan itu menyerang lubangnya.

Mean membiarkan Plan melakukan itu karena itu adalah keinginannya. Ia sadar Plan pasti kesakitan ketika naga jumbonya itu keluar masuk di dalam lubang sempit dan mungil itu.

"Hmm, ohhh, Mean. Aku mau keluar," erang Plan.

Mean semakin mempercepat genjotan dan semakin dalam menyodok lubang Plan hingga mereka berdua sama-sama terkulai lemas karena baru saja orgasme. 

Mean menindih Plan sambil mengatur nafasnya begitu juga dengan Plan. Napas mereka kembung kempes karena kelelahan.

Mean mencium kening Plan dan mensejajarkan kening mereka berdua. Mean membisikkan kata cinta kepada Plan dengan bibir yang sedikit menempel.

"I love you, Plan," ucap Mean penuh cinta.

"I love you, Mean," balas Plan sambil tersenyum. 

Mean memagut bibir Plan dan menghisapnya. Melesakkan lidahnya masuk dan mengajak benda tak bertulang itu untuk saling berperang di dalam rongga masing-masing. 

Mean kembali menindih Plan dan mereka melakukannya lagi. Suara desahan dan erangan kembali terdengar. Malam itu adalah malam yang membahagiakan buat mereka berdua.

Seperti biasa Mean selalu menunggu Plan ketika dia sudah pulang dari kampus. Mean juga sering membawa Plan untuk nonton, jalan-jalan dan mereka sering menghabiskan malam bersama. Sejak saat itu mereka sering melakukan kegiatan ranjang. Entah sudah berapa kali atau mungkin sudah tak terhitung sejak saat itu.

Plan juga sudah memberikan senter ajaibnya kepada Mean. Senter itu bahkan peninggalan mendiang ibunya.  Plan memberikan senternya kepada Mean di hari mereka jadian setelah mereka selesai bercinta. Plan ingin senter itu selalu menemani Mean dan tidak takut lagi saat mati lampu seperti dirinya dulu. 

Mean mengalami trauma saat dia masih kecil. Saat itu umurnya masih 4 tahun dan saat itu mati lampu plus hujan lebat disertai guntur dan petir. Sejak saat itulah Mean takut saat mati lampu apalagi disertai hujan dan petir membuatnya langsung sesak nafas. Tapi kini tidak lagi. Senter yang Plan kasih selalu menemaninya dan ia bahkan pernah mencoba pas mati lampu tanpa menyalakan senter. 

Mean hanya membayangkan Plan. Wajah imut dan senyum manis Plan mampu membuat Mean tidak sesak nafas. Ya walaupun rasa takut itu masih ada. Namun, Mean sedikit demi sedikit sudah mulai melawan rasa takutnya itu dengan membayangkan wajah manis sang pujaan hati. 

Plan adalah obat buat Mean. Obat yang mampu menyembuhkannya dari rasa traumanya itu sedikit demi sedikit.

"Terima kasih, karena selalu ada di sampingku di saat susah dan senangku!" ucap Mean sambil mencium punggung tangan Plan.

"Terima kasih juga karena telah mencintaiku," lanjut Mean. Kini dia mencium kening Plan lama dan penuh kasih sayang.

Plan tersenyum. "Terima kasih karena telah memberikanku cinta yang begitu banyak," katanya sambil mengecup bibir Mean. Ia bahagia karena Mean adalah kekasihnya. Mean selalu memperlakukannya dengan hangat dan penuh kasih sayang.

Mean memang posesif padanya namun Plan tidak keberatan. Plan tahu Mean melakukan itu karena pria tampan itu begitu mencintainya dan takut kehilangan dirinya.

Tiba-tiba mati lampu. Dan beberapa menit kemudian tergantikan dengan lampu senter yang berwarna-warni yang begitu indah. Sekarang mereka sedang berada di sebuah taman. 

Malam ini adalah anniversary mereka yang ketiga tahun. Plan sengaja memberikan Mean kejutan. Ia mematikan lampu jalan dengan bantuan beberapa temannya untuk mengetes apakah Mean masih takut atau tidak. Dan nyatanya Mean tidak takut lagi dia sudah sembuh dari traumanya itu. 

Plan bahagia akhirnya kekasihnya itu sudah tidak takut lagi. Dan itu berkat dirinya.

Pesta perayaan telah usai dan kini mereka merayakannya di kamar mereka. Ruangan itu kembali menggema dengan suara desahan dan erangan dari kedua belah pihak. 

Mereka bahkan selalu melakukannya setiap ada kesempatan. Tidak peduli dimanapun mereka berada asal ada kesempatan mereka selalu melakukannya. Bahkan Mean tidak tanggung-tanggung untuk menjamah tubuh indah Plan di kamar toilet kampus, di dalam mobil, di parkiran dan  tak terhitung di rumah Mean dan di rumah milik Plan. Yang mereka lakukan hanyalah bercinta dan bercinta. Ya karena mereka memang saling mencintai.

End

Publish:02-11-2019


Continue Reading

You'll Also Like

95.8K 7.8K 37
Sejak pertama kali aku melihatnya, duniaku teralihkan olehnya. Ia begitu cantik dan imut! Baru kali ini aku melihat ciptaan tuhan yang begitu cantik...
34.8K 2.4K 16
Plan merasa bahagia bersama kekasihnya Perth. Namun, perusahaan ayahnya di ambang kehancuran. Title ... sang kakak meminta bantuan pada Mean Phiravic...
37.1K 3.6K 19
Can, seorang produser acara TV yang tengah kesulitan menaikkan rating acaranya, bertemu kembali dengan cinta pertama yang dibencinya. Can tidak mau d...
3.1K 268 5
💚 Jika dengan menunggu aku mungkin bisa bertemu denganmu lagi, berapa lama pun aku akan melakukannya. Karena aku mencintaimu. 💙 Kuharap kau segera...
Wattpad App - Unlock exclusive features