"Lepaskan!! Kenapa aku juga bopong!!!" Suara melengking dari Sepupu Hwang Minhyun ini membuat telingan yang membopong sakitt
"Berisik kau juga kan kena pukulan ku." Tukasnya
Minjae yang tadinya berdiri tegak, tiba – tiba salah satu dari para pria yang berpakaian berjas itu menghampiri Minjae, Minjae mengira bahwa pria itu akan meminta maaf namun itu salah, Minjae malah di ankat dan di atruh di pundaknya.
"Cih baguslah klau kau bertanggung jawab." Celetuk Minjae
"Terimakasih pak polisi karena datang tepat waktu jika tidak mungkin kami semua kan membua hal yang labih buruk."
Di samping mobil polisi ada 3 Van mobil milik mereka, Polisi yang datang tepat waktu menghampiri
"Hahaha lagi pula untuk apa anda meladeni mereka itu kan bukan gaya anda." Tutur salah satu pihakk kepolisian terkekeh.
"Hahaha mereka semua menantang kami, dan mereka keras kepala tak mau mendengarkan penjelasan dari ku jadi ya... hitung – hitung olahraga, sudah lama juga kami tidak melakukan hal ini setelah menjaga Nona Soul." Terang Kim Sajangnim selaku pemimoing penjaga nona Seol.
"Ya.. tapi setidanya kau beri mereka batasan, kasihan salah satu dari mereka jadi harus dibawa begitu."
"Itu juga sebegai pembelajaran bagi mereka yang taka mu mendengarkan apa kata orang tua ." Timpal Kim Sajangnim.
"Jika bukan karena siswa itu (melirik Hohshi) menelpon kami, mungkin kami juga tidak dapat menegtahui lokasi ini." Tutur Polisi diikuti anggukan Ajushi "Lalu kalian akan bawa kemana kedua anak itu."
Sementara wanita yang yang di painggil nona Soul kini masuk kedalam mobil yang berbeda, dia terus meronta – ronta dan melawan tak ingin dimasukan ke dalam Van.
Minaje dan Minhyun dimasuk kan ke dalam mobil vanyang besar.
Dug
"Uh... " rintih Minjae yang terkena pintu mobil
"Sakit?"
"Ya jelas sakit kau memasukan ku tanpa perasaan."
"Sudah bagus kau ku bopong."
Minhyun dan Minjae di masukan ke dalam satu mobil. Brag pintu mobil pun di tutup, Setelah pintu tertutup, ajushi yang mengendong Minjae itu menghampiri Ketua mereka dari luar, membungkuk pada ketua dan polisi lalu masuk kedalam mobil yang ditumpangi Minhyun dan Minjae.
"Sajangnim akan mengantar nona Seol kita harus membawa mereka dulu." Katanya pada salah satu temannya yang berada disamping untuk menyetir mobil.
Membawa?
Seketika mata Minjae kembali akan keluar "Hah?! Kalian akan membawa kita berdua kemana?"
"Menurut kalian?' Jawab lelaki jangkung dengan pakaian rapi itu sembari memasang seat belt
"Ini tidak lucu... sama sekali tidak lucu, tadi kau bilang akan bertanggung jawab membawa kami ke rumah sakit." Protes minjae tak terima, ia berhenti sejenak memberi jeda " Jangan bilang kalian akan membawa kami ke suatu temoat yang snagat sunyi dan gelap yang disana hanyalan ada makhluk yang memiliki lampu berwarna merah dan..."
Aksi protes Minjar terhenti karna lelaki itu membalikan tubuh nya kearah MInjae dengan ekspresi sangar "Auhhhh rasanya gatal seklai kuping ku ini, kau bisa diam tidak hah!" bentaknya pada Minjae.
"Aku kan hanya ingin tahu lagi pula..." timpal Minjae merendahkan intonasi suraanya.
"Diam!!!! Ayok jalan." Sentak Lelaki yang kini berada di depannya.
"Baiklah."
Minjae melirik pada Minhyun dengan tatapan nanar "Aigooo Minhyuna... aihsss bisa mampus aku jika ibu tau, ini semua gara – gara kalian (Para Ajushi) jika kalian..." Kalimat yang lontarkan Minjae terpotong
"Jika kalian tidak membrontak teman mu yang sok jago itu tak akan seperti itu." Tukas Yang bopong Minjae.
"Kami ini kan membela bukan sok jagoan" Balas MInjae ngotot
"itu hanya sebagian dari pemanasan."
"Apa? Kalian pikir rasa sakit yang kami dapatkan ini hanya sebagian pemanasan!!!! Gila..." Melipat tanganya setelah mengumpat keras. "Apa kalian yang merawat wanita muda itu?" Tanya Minjae.
Ajushi yang menedengar pertanyaan dari Minjae berbalik badan dengan cepat "Jaga ucapan mu itu pada nona Soul!" Katanya Tegas.
Bukannya Minjae marah karena dipelototi malah ia seperti bodo amat. "Ya, Ya, Ya, jadi kalian bukan perawat?" Tanya Minjae.
"Bukan!"
"Kalau kami perawat kami akan mengunkaan baju bercelemek dan topi putih berenda di kepala ahahahhaha." Celetuk salah satu pria di samping pri ajangkung yang menyetir mobil.
"iy ada abenarnya juga, pakaian kalian lebih rapi dari wajah kalian sendiri." Cerocos Minaje. " Ada apa dengan wanita, eh maksudku Nona Soul, dia kenapa ingin melihat jerapah?" Tanya Minjae, yang ditanya hanya dieam dan fokus menyupir dan tak mengubris pertanyaan dari Minaje. Minjae yang merasa belum dijawab bertanya kembali "Jadi dia kenapa?"
Si pria melihat kaca spion di depan untuk melihat Minjae "Kau tak perlu tau." Tukasnya dingin
Minjae kini mengerti dengan situasi, dia termundur sedikit dari tempat duduk nya diam seribu kata.
"Ya cukup sampai disini saja, perkenalan kita berempat, au tak akan bertany aappaun lagi." Sergah Minjae emosi dengan pria jangkung satu itu.
....
Beberapa orang tengah melihat Televisi yang berada di pinggiran toko, di putar secraa gratis.
Ngit.. ngit...
Suara decitan ayunan yang di tumpaki oleh Hoshi sembari menjilati es krim batangan. Tampak dari raut wajah Seungwan yang masih sangat Shock karena kejadian ini. "Kenapa aku harus bertemu dengan orang yang sakit lagi hosiya..." Sesalnya.
Hoshi masih fokus melihat es krimnya "Ummm entah mungkin itu takdirmu.." timpal Hoshi asal
Seungwan yang merasakan ini memang takdir memelototi Hoshi "Kau tau aku hampir gila karna aku membawa seorang korban penculikan yang ternyata dia adalah.. arhgggg."
"Hei makan es krimnya nanti meleleh." Ujar Hoshi tak mengubris Seungwan
Seungwan tak mengubris yang dikatakan Hoshi padanya, ia memandnag lurus kedepan seakan pikirannya benar – benar kosong. Hoshi yang melihat perilaku Seungwan jadi geram sediri Hoshi menghembuskan nafas lalu melihat Seungwan seksama.
"Sudahlah lagi pula tak ada yang tau itu kau..." kata Hoshi menatap Seungwan
Seungwna memajukan bibirnya"Untung kau menolongku kalau tidak..."Kata Seungwan
"Kalau tidak kau akan menjadi muntahan godzila." Balasa Hoshi dengan tersenyum
Seungwan hanya mengangguk tak menggubris kembali Hoshi.
Ring!!!!
"Yeoboseoyo... Eomma" Seungwan dengan lemas menganggkat telponnya.
"....."
"APa!!!!"
Seungwan tiba – tiba berlari setelah menutup telpon dan Hoshi yang kebingungan hanya mengikutinnya.
"Ya!! Seungwan ada apa? Kita mau kemana?" Tanya Hoshi pada Suengwan yang ters berlari di depannya. Seungwan masih tak mengubeis yang di pertanyakan olehnya.
Dan Seungwan tiba – tiba berhenti, Hoshi yang tidak tahu kalau seunwgna akan berhentei gingga ia harus tubrukan dengan Seungwan.
"Pulang" Kata seungwan sembari masuk kedalam rumah.
Hoshi yang mengejar Seungwna tanpa sadar sudah berada di depan gerbang runah Seungwan. Ia lalu membuntuti Seungwan masuk kedlama rumah.
Didalam Ibu Seungwan merasa sangat khawatir dan gelisah.
"Aku pulang!!!" Kata Seungwan dari luar.
Seetika ibu Seungwan menghampirinya dan mengecek keseluruh bagian tubunya. "Oh yatuhan apa kau tidka apa- apa.
"Aku baik – baik saja." Kata Seungwan
"Syukurlah..."
"Bagaimana eomma tau itu aku.."
Jeonghwa melirik pada televisi yang menyala
"Seoarang wnaita muda yang membawa nona seol telah berhasil diamankan ia mengira bahwa nona sona adalah korban penculikan hingga ia membawa nona sona kabur. Anak dari pengusaha terkenal berana Song jungyeon ini telah terungkap. "
"Aku melihat mu dari belakang mungkin itu tak seperti dirimu, namun ibu tau kalau topi yank au pkaia itu adalah milik mu, dan sepatunya sangat persisi milikmu, ibu jadi kahwatir, ibu menelponmu tapi kau tak mengnagkatnya ibu pikir kau lupa tak membawa handphone mu, ibu mencari handphone mu tidak ada bahkan tak berbunyi, jantungku rasanya mau copot." Terangnya pada seungwan yang kini mulai bekaca – kaca.
"aku tidak apa – apa, aku tadi mengalami hal yang mneyenangkan bu." Kata Suengwan sembari memeluk erat ibunya, dan tanpa sadar air keluar dari matanya.
Hoshi hanya tersenyum melihat keduanya. Seungwan mengambil minuman dan melemparkan pada Hoshi.
"Duduk lah.." Titah Seungwan
"Gomawo." Hoshi meminum air dingin yang dipengangnya itu. "Pantas saja dia dikawal oleh para namja yang berotot."
"aku hampir saja mati jika taka da mereka berdua." Celetuk Seungwan.
"dasar kau itu memang dasarnya ceroboh!" selak Hoshi menjitak kepala Suengwan
"Ouw... tapi aku jug tak tahu kalau dia itu skait, dia tiba – tiba menarik ku dan bilang kalau dia akan diculik, aku kan ahanya membantu ya sudah demi kebaikan dirinya aku menolongnya."
"Ya.. dan bagiamana kalau aku tak melihatmu, kau akan menjadi bubur saat semuanya selesai."
"Aihssss dasar.."
"Bodohhh!!!"
"Sudha – sudah , Seungwan kau pergi mandi sana , tubuh mu beanr – benar bau keringat." Titah Jongwa pada anak semata wayangnya itu.
Seungwna beranjak pergi dari sofa dan menuju kamar mandi"Araseoyeo eomma..."
Jeongwa tidaj mendiami Hoshi ia juga bertanya padanya.
"Hoshiya... kau sudah sarapan?" Tanya Jeongwa
"Sud...." Seketika Hoshi ingat rantang yang ia akan kembalikan. "YaTuhan!!!!'
"Ada apa?" Tanya Jeongwa bingung
"Aku lupa rantangnya..."
Hoshi berlari keluar rumah seungwna tergesa – gesa karna ingat rantang yang ia bawa harusnya sampai pada Jeongwa tapi ia malah melupakannya.
"Haduhhh tadi dimana yah..." Hoshi terus berjalan menyusuri jalan yang ia lalui. sampai ia ingat bahwa pada saat menonton tv di jalan dan melihat seunwgna ia tak sengaja menjatuhanyya di sana."Pasti disana!"
Ia pun berlari...
Sampai pada halaman depan toko ia mulai mencari dari sudut "Hosh Hosh... tidak ada!"
Treng.. (Pintu terbuka seperti ada suaranya jika terbuka.)
Kakek yang sudah ternang, keluar.
"Hei kau!" panggil ajushi dari belakag tubuh Hoshi.
Hoshi tak mengubris, ia tetap mengobrak abrik bak sampah
"Sampai kapan kau akan mengobrak abrik bak sampah itu, kau akan memakan nya kemabali." Gidik kakek itu
"Ah... harebaoji tolong jangan gngggu aku sedang berkonsentrasi." Harebaoji dalam bahasa indonesa di sebut KAkek
"Untuk apa?" Tanya sang Kakek
"Mecari rantang." Jawab Hoshi yag mesih giat mengais terus – menerus sampah.
Karna bak sampah dikorea itu terbagi sesuai dengan sifat sampah itu sendiri.
"Tidak akan ada disana."
"Pasti ada." kukuh Hoshi
"Apa ini yang kau cari hoh!" Sang kakaek mengacungkan rantang itu pada Hoshi
Hoshi dengan sangat sennag ia meraih rantang itu namun tidak bisa.
"Hah itu dia..." tunjuk Hoshi senang.
Seketika haraebaoji mengeser rantang itu "Etts... bagaimana ku tau ini milikmua."
"Aku membuang nya tadi." Terang Hoshi
"Lalu?"
"Aku lari karna teman ku dalam bahaya."
"Sebahaya apa sampai rantang temanmu yang dalam bahaya itu kau buang."
"Sebahaya ia yang bertemu dengan penjahat badut."
Kakek hanya tersenyum mendegar jawaban Hoshi yang kekenakan. "Kau sedang promosi film atau bagaimana?" Tanya kakek pada Hoshi.
"Itu memang milik teman ku." Ujar Hoshi ngotot
Si kakek menaikan alisnya "Baik lah.. tapi ada syarat."
"Apa?" kata Hoshi lelah
"Temani aku minum kopi."
#Maaf banget guys aku gak update tepat waktu lagi, aku harap kalian gak marah huhuhu
Makasih yang maish stay buat baca cerita absurd ini, dan tetap vote and koment ya...