Rizky melangkah gontai menuju kearah rumah Irena. Seperti beberapa hari yang lalu, keadaan rumah Irena gelap gulita. Tak ada satupun alat penerangan yang dinyalakan didalamnya.
Rizky merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor ponsel Irena.
Menunggu dengan sabar agar Irena mau mengangkat teleponnya, walau itu hanya sebentar.
"Na, tolong angkat telepon gue...," lirih Rizky sambil terus menghubungi Irena via telepon.
Sayang seribu sayang, Irena tak menjawab panggilan telepon darinya. Rizky makin dibuat gelisah, ia takut firasat buruk yang ia rasakan sejak tadi menjadi kenyataan.
Firasat bahwa Irena sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Tubuh Rizky terduduk didepan teras rumah Irena. Ia akan tunggu gadis itu hingga malam ini.
*****
Irena tersenyum kecil dengan air mata berlinang. Kedua gundukan tanah bertuliskan dua nama orang yang ia rindukan berhasil menyulut perasaan rindunya.
Irena mendekat ke arah pusara kedua orang tuanya. Gadis itu berlutut dan mengusap serta menciumi kedua nisan orang tuanya secara bergantian.
"Assalamu 'alaikum. Ayah, ibu, Rena datang kesini. Nggak papa, 'kan?" Irena berujar seolah-olah kedua orang tuanya mendengar ucapannya.
Menghela napas karena dadanya semakin sesak rasanya, Irena mulai membersihkan pusara ayah dan ibunya. Setidaknya dengan hal itu, kesedihannya bisa sedikit berkurang.
Untuk kali ini saja, Irena mau melepaskan segala bebannya. Berkunjung ke pusara ayah dan ibu adalah salah satu hal yang sudah menjadi kebiasaan Irena dikala kesedihan maupun kesenangan ia dapatkan.
Walau sudah tak ada didekatnya, setidaknya Irena bahagia bisa berkeluh kesah, walau ia hanya bisa mendengar suaranya berbicara seorang diri.
"Ayah sama ibu tau nggak, Rizky bilang benci sama Irena, tapi tadi dia minta maaf sama Irena. Irena harus apa?" Irena terus mencabuti rumput liar yang tumbuh diatas makam orang tuanya.
Hari yang sudah mulai malam sama sekali tak menghadirkan rasa takut dalam diri Irena. Baginya, ia hanya ingin disana, bersama ayah ibunya, dan menjadikan sepi sebagai kawannya.
Irena menyeka air matanya. "Irena bakalan tidur disini." Gadis itu bangkit berdiri, dan mengambil daun pisang yang akan dipakai sebagai alas tidurnya.
Ia membentangkan daun pisang itu diantara jalan yang memisahkan pusara ayah dan ibunya.
Gadis itu terbaring dengan senyum bahagia sekaligus sendu disana. Ia membayangkan kedua orang tuanya memeluknya ketika tengah tertidur. Tapi, ia juga tak bisa menampik, bahwa rasa sakit dihatinya karena perkataan Rizky yang selalu saja mengiang tak kunjung hilang.
*****
Rizky mengusap rambutnya frustasi sebab Irena sampai detik ini belum juga mau mengangkat telepon darinya. Sejak semalam Rizky menunggui gadis itu didepan rumahnya. Hasilnya nihil.
"Ky, seriusan semalam lo nungguin Rena?", tanya Ambar dengan wajah panik.
Kepala Rizky hanya mengangguk lesu.
Bondan nampak menghela napas. "Bahkan Irena belum datang juga. Gue jadi khawatir, jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi sama dia."
Ambar memukul lengan Bondan. "Ish, jangan bikin gue tambah panik, dong!"
Rizky hanya memikirkan Irena sejak semalam. Sampai pagi hari ini pun tetap sama.
Dimana Irena saat ini?
"Rizky!"
Rizky sedikit tersentak karena Tommy dan Yura datang ke kelasnya.
"Iya, Tom?", jawab Rizky dengan lesu.
"Ena belum pulang sejak kemarin?!", tanya Tommy dengan nada suara yang agak meninggi. Yura bahkan harus memperingati Tommy agar tak kelepasan emosi disana.
Suasana hening seketika. Semuanya memikirkan bagaimana caranya agar bisa menemui Irena.
"Yaudah, pulang sekolah kalian semua ke rumah gue, kita cari solusinya disana. Gue juga bakalan ke rumah Irena buat ngecek." Rizky mengajukan usul yang paling memungkinan untuk dilaksanakan saat ini.
Dan untunglah, semuanya setuju.
"Rizky..."
Semuanya kompak berbalik kearah pintu. Disana Zavier berdiri dengan wajah yang menunjukkan raut aneh.
Kedua tangan Tommy sudah terkepal kuat. Ia melangkah ke arah Zavier dan langsung menarik kerah seragam Zavier dengan kesal.
"Mau apa lagi lo kesini?! Belum puas ngancurin dua sahabat gue?! Bahkan sekarang Irena nggak ada sejak kemarin! Dia menderita karena perbuatan lo sama teman cewek lo yang gila itu!"
Zavier pasrah Tommy memperlakukannya dengan kasar. Ia tahu tindakannya sudah sangat keterlaluan. "Gue kesini cuma mau minta maaf sama kalian semua, atas perbuatan gue dan Jennessa."
Tommy mendengus kesal, lalu tak lama ia melepaskan cengramannya dari kerah seragam Zavier. Tommy berkacak pinggang. "Minta maaf?! Teman gue udah sengsara karena perbuatan lo! Lo hancurin dia!"
"Gue beneran minta maaf sama kalian! Gue nggak ada maksud buat jahatin Rizky sama Irena. Apalagi Irena, dia baik banget sama gue," aku Zavier dengan suara bergetar.
"Kalau menurut lo Irena emang baik sama lo, kenapa lo tega ngefitnah dia?", tanya Yura kemudian.
"Itu semua gue lakuin demi Jennessa, karena gue sayang sama dia. Apapun bakalan gue lakuin demi dia. Tapi sayangnya, karena cinta gue yang kelewat buta, gue jadi nggak kenal batas baik dan buruk lagi. Gue menyesal."
Suasana kembali hening. Pengakuan Zavier berhasil menyentak mereka, menyentak dalam hal berpikir ulang.
Tidak semua kejadian yang menimpa Rizky dan Irena adalah kesalahan pemuda dihadapan ini. Zavier hanya menjadi alat, dan Jennessa adalah dalang dari semua kesulitan ini.
"Gue bakalan lakuin apa aja buat kalian, asalkan kesalahan gue bisa dimaafkan."
"Apa aja?", tanya Rizky memastikan.
"Iya, apa aja!", jawab Zavier dengan cepat.
"Oke. Kalau begitu, lo ikut sama kita hari ini. Bantu kami cari dimana keberadaan Irena."
*****
Sesuai dengan kesepakatan mereka di sekolah, mereka pun berkumpul di rumah Rizky sepulang sekolah. Zavier sendiripun ikut bersama mereka.
"Eh, tumben-tumbenan si Putri kagak ikut," seloroh Bondan.
"Si Putri lagi kurang sehat. Tadi aja dia nggak ke sekolah," jawab Ambar kemudian. Bondan hanya ber-oh-ria saja.
Tommy mengusap dagunya. Ia berusaha memikirkan, kemungkinan-kemungkinan tempat yang dikunjungi Irena untuk meyakinkan dugaannya. "Menurut lo, Ky, kalau Irena lagi sedih, biasanya dia kemana?"
Rizky nampak bingung. "Gue nggak tau, Tom. Ini kali pertama Irena kayak gini. Dan ini semua salah gue." Suara Rizky akhirnya memelan dibagian akhir. Perasaan bersalahnya muncul saat itu juga.
Zavier yang mendengarnya benar-benar merasa malu karena perbuatannya. Kepala menunduk dalam.
Tommy mengusap wajahnya frustasi. "Gue juga salah, Ky. Harusnya gue lebih becus jagain kalian berdua. Dan soal lo itu, perasaan lo yang menyimpang ke gue, apa lo udah lupain?"
Yura melotot kepada Tommy. Bisa-bisanya ia menanyakan hal itu disituasi seperti ini.
Rizky tersenyum tipis. "Perasaan gue ke lo? Gue nggak tau, Tom. Tapi intinya, setiap di dekat lo nggak kayak dulu lagi. Sekarang gue lebih nyaman buat berteman sama lo disituasi kayak gini."
Sontak saja, Ambar dan Bondan nampak terkejut. Jadi soal Rizky yang gay itu, ternyata bukanlah isapan jempol semata.
Rizky yang melihat perubahan raut Bondan dan Ambar langsung mengerti. "Nggak papa. Gue tau resikonya kalau gue ngaku bakalan dipandang jijik sama orang."
Sontak kepala Bondan menggeleng. "Bukan gitu, Ky. Kaget aja lo baru ngaku sekarang. Pasti menderita batin jadi lo selama ini. Tapi untungnya yah perlahan-lahan lo mau berubah."
Ambar tersenyum tipis. "Dan, gue yakin, Irena salah satu penyebab perubahan ini."
Tanpa ragu Rizky menganggukkan kepala. "Lo benar. Dia bahkan mau bawa gue konsultasi ke psikolog waktu itu, tapi gue yang nolak. Bahkan, gue malah nuduh dia macam-macam. Gue malah bilang dia sengaja bawa gue ketemu psikolog karena motif lain."
"Udahlah, Ky. Yang lewat lupain aja. Sekarang, lebih baik kita mikirin soal Irena, biar lo bisa lebih cepat ketemu dia," ujar Yura.
Rizky memijat pelipisnya, hingga kepalanya mengangguk dengan penuh keyakinan di detik itu pula. "Kayaknya kita harus pergi ke suatu tempat. Gue yakin Irena pasti kesana."
"Kemana?", tanya yang lainnya dengan serentak.
"Ke makam orang tuanya."
*****
Hai, terima kasih sudah mampir ke cerita Rizky dan Irena
Jangan lupa vote dan komentarnya
Salam hangat,
Dhelsaarora