Heroes of Gaia

By cloekz

10K 154 37

Karena ini bukanlah legenda yang ditulis dengan tinta emas, melainkan dengan darah, airmata, dan cinta. Apa... More

Ketika Semuanya Dimulai...
Kau Tahu? Kau Telah Membuat Semuanya Berantakan
Arrgh...
Sebuah Dongeng Lama
Cerita Kelam
Satu Bunga Yang Gugur
Perubahan Rencana Mendadak? Atau...
Tragedi di Dermaga
Serangan Balik!

Di Luar Perkiraan

679 26 11
By cloekz

Es di bawah roda ban Neil berderak-derak saat mobil itu melintasi jembatan es yang menghubungkan dermaga yang hancur dengan pulau buatan di tengah danau, yang sekarang karena cahaya matahari mulai meredup, terlihat seperti bayangan kapal karam raksasa. Pepohonan yang melingkupinya bagai pagar-pagar besi yang mencegah makhluk apapun mendekat dan menjamah isi pulau itu.

 “Wah, tidak pernah mengira, loh, rantai banku akan berguna di musim panas seperti ini,” ujar Neil. Apalagi menyeberangi jembatan es seperti ini.

“Dan aku juga tidak pernah mengira kita akan menggunakan cara seperti ini untuk menyeberangi danau , waow!” tambah Dann. Dia memandangi  sekelilingnya dengan takjub. Dari atas, mungkin jembatan es itu terlihat seperti ular raksasa berwarna putih keperakan, kalau tidak mau dibilang membeku. Selain itu, Nuva membuat pasak-pasak es yang mencuat setinggi 2-2,5 meter di sepanjang sisi jembatan es itu, untuk berjaga-jaga kalau-kalau monster itu datang dan menyerang.

“Sudahlah, kita tidak punya pilihan lain bukan, lagipula akan memakan waktu jika kita ingin menggunakan kapal Edward, untung saja kita memiliki… alternative?” Rey menukas. Pandangannya terarah lurus kedepan. Dan seperti biasa, tanpa ekspresi. 

“Padahal akan menyenangkan kalau bisa pake  kapal itu untuk memancing,” Dann menekuk mukanya. 

Neil tiba-tiba terkekeh,” Kalian ingat ekspresi Edward tadi waktu sadar kapalnya sudah tenggelam tadi, harus kuakui dia membuat makian yang cukup mengesankan pada makhluk itu. Kurasa aku akan meminjam beberapa kata-katanya,”  Neil mengoper persneling jipnya. Mesin meraung, dan membuat keempat penumpangnya tersentak tiba-tiba.

“Hey!” seru Nuva yang kaget.

“Ups maaf, itu tidak sengaja,” Neil terkekeh, uap putih berhembus dari mulutnya saat dia tertawa.

“Oh, ya, Neil, kau punya sesuatu untuk dimakan, aku agak lapar,” ujar Dann .

 “Ambil roti di ranselku. Juga maduku di dalam botol kalau kau mau,percayalah, itu akan membuatmu lebih baik,” kata Neil kalem. Dann mengambil beberapa kepal roti dari ransel Neil. Dia mengoleskan selai madu ke rotinya, lalu mulai makan dalam diam.

Anak itu sudah terlihat lebih baik sekarang. Rona kemerahan di wajahnya sudah kembali dan tangannya juga sudah tidak gemetaran lagi. Tapi tetap saja Neil khawatir melihat beberapa lebam di tubuh Dann. Yang paling besar di daerah dadanya, sebesar kepalan tangan orang dewasa, membuat Dann agak kesulitan bernafas. Mungkin agak membebaninya kalau dia harus berlari. Kalau dia tidak bisa berlari cukup cepat, mungkin, aargh. Tidak, jangan biarkan dia dijadikan umpan, aku harus memikirkan satu cara lain untuk membuatnya tidak terbunuh kali ini.

Beberapa pemikiran menggantung di benak Neil. Cara-cara terbaik menghabisi monster itu, tapi dia tidak menemukan satu rencanapun tanpa melibatkan Dann. Dia tahu, tanpa mereka sadari, mereka terkadang terlalu bergantung pada kemampuan Dann.  Neil menatap Rey yang mematung di sebelahnya. Dan sebelum orang ini memberitahu isi kepalanya bagaimana cara menghabisi monster ini, kurasa aku akan ikut dalam rencananya, gumamnya dalam hati. Rasa menggelitik aneh menjalar di lengan kanan Neil yang ditutupi perban. Membuatnya mengerutkan kedua alisnya. Pikiran itu menggoda, tapi Neil telah mengambil keputusan. Aku tidak akan menggunakan ‘itu’, tidak di depan mereka.

******

Edward berjalan tersaruk-saruk memasuki bar Finch. Tanpa mempedulikan tatapan terkejut dari seisi bar itu, dia duduk tepat di depan Finch.

“Berikan aku yang biasa,”

Finch segera meracik minuman pesanan tamunya. Kurang dari 10 detik kemudian, dia menyodorkan segelas minuman berwarna ungu ke depan Edward. “Bisa ceritakan apa yang terjadi, dan kenapa wajahmu begitu suntuk?” Tanya Finch datar.

“Makhluk itu membunuh Buller. Dan… menenggelamkan kapalku,” Edward meraih gelas didepannya, menatap bongkahan es yang berkeletak di dalamnya  lalu menenggaknya habis.

Finch menghela nafas ,”Penakluk iblis bukan minuman yang bisa kau habiskan dengan cara seperti itu Edward,”

“Persetan,”

Finch hanya menaikkan kedua alisnya sebagai tanggapan, lalu berbalik kebelakang dan mengambil satu gelas yang ada di lemari, lalu meraih serbet dan mulai mengelap gelas itu. “Jadi sekarang kau harus mencari pemburu lain, kalau begitu, sudah kuduga nasib anak-anak itu akan berakhir malang,”

“Aku ragu soal itu,” tiba-tiba Edward terkekeh.

Finch terdiam. Dia meletakkan gelas itu kembali ke tempatnya.  Lalu dia berbalik menghadap Edward ,”Apa maksudmu,” ujarnya pelan.

“Isi ulang,” Edward menyodorkan gelasnya. Finch mematung sebentar sebelum mengerti perintah Edward, lalu segera meraih gelas Edward dan mengisi gelasnya lagi.

“Ceritakan,” Finch meletakkan gelas di depan Edward. Beberapa warga lain yang saat itu juga berada di bar kelihatan tertarik dan sekarang mereka mendekati Edward. Beberapa dari mereka menggumam penasaran.

“Mereka nyaris membunuh monster itu,” gumam Edward pelan.

Gumaman tidak percaya memenuhi udara. Sebagian tertawa mengejek.

“Itu kan baru sebatas nyaris? Lalu apa bedanya dengan yang kita lakukan selama ini?”

“Tidak mungkin, mereka hanya sekumpulan anak-anak iseng menurutku,” kata satu orang, yang lainnya mengiyakan.

“Kalian tidak akan mempercayainya apabila kalian tidak melihatnya sendiri,” kata Edward. Lalu dia mengangkat gelasnya ke udara, membuat keheningan di kafe itu, ”Untuk pertama kalinya, kurasa, makhluk itu bertemu lawan sepadan,” serunya , sambil memperhatikan wajah-wajah penasaran yang mengelilingiya. Dia diam sebentar. Lalu dengan gayanya yang dramatis Edward mulai  menceritakan bagaimana Buller bisa terbunuh,  kondisi dermaga saat mereka menemukan Dann, wujud asli monster itu, lalu saat pertarungan dengan monster itu. Pengaruh alcohol membuat kepalanya ringan, dan ini malah membuatnya semakin lancar bercerita.

“Kau tidak akan percaya, si gadis kecil, dia dilempar ke udara seperti  ketapel saja oleh si pedang besar ini, Rey namanya kalau tidak salah. Lalu kemudian gunung es muncul entah darimana. Besarnya mungkin 3-4 rumah ditumpuk sekaligus. Aku berpikir sesaat, makhluk itu terlalu cepat untuk bisa dijatuhi gunung es seperti itu. Dia terlalu pintar. Tapi bocah yang satu lagi, yang membawa meriam tank malah menembakkan meriamnya ke arah gunung es. Dan dengan begitu, membuat gunung itu terpecah menjadi beberapa bagian besar. Strategi jitu ternyata. Terlalu banyak yang tidak bisa dihindari monster itu dan tanpa ampun tubuhnya bagaikan  dihujani oleh serpihan-serpihan gunung es itu. Kalian harusnya lihat bagaimana monster ini meraung, menggeliat kesakitan, saat es-es itu menusuk tubuhnya, lalu…” Edward terus nyerocos bercerita tanpa menyadari ada sesosok orang yang mendengarkan dari balik pintu bar. Seisi bar telah  terhipnotis oleh cerita Edward, jadi tidak ada satupun yang sadar orang asing itu masuk dan duduk di salah satu kursi di pojok ruangan, mengeluarkan sebatang rokok dari saku mantelnya yang tebal, menyalakan dan menghisap rokoknya perlahan-lahan sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja dengan sikap pongah.

Orang asing itu baru saja mematikan rokoknya yang keempat saat Edward selesai bercerita. Nafasnya terengah-engah, bahkan pinggiran mulutnya berbusa. Lalu seisi kafe, kecuali orang ini, bersorak tiba-tiba.

“Monster itu akan segera pergi ke neraka,” teriak satu orang yang disambut gemuruh tepuk tangan dari orang-orang disekitarnya.

“Aku tidak sabar menunggu mereka membawa kepala monster itu,” seru yang lain. Untuk beberapa saat, mereka larut dalam kegembiraan kosong itu. Si orang asing hanya mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum. Beberapa saat berlalu sebelum dia akhirnya bosan mendengarkan kerumunan itu. Lalu dia memejamkan kedua matanya, meraih ke dalam inti dirinya, menemukan kekuatannya di sana kemudian menguarkannya melalui seluruh permukaan tubuhnya. Dan saat dia membuka matanya, seisi bar baru tersadar akan kehadirannya. Menatapnya dengan pandangan tidak percaya, lalu berganti menjadi kilasan kengerian untuk sesaat.

Aura tidak nyaman yang  terpancar dari dirinya. Mengintimidasi. Menguasai. Dan mutlak. Bagaikan mereka sedang berhadapan dengan seekor hewan buas yang tak kenal ampun. Haus darah dan lapar. 

“Itu cerita yang mengesankan kepala desa Edward,” ujarnya sambil menurunkan kedua kakinya. Lalu orang ini berdiri dan berjalan mendekati Edward. Kerumunan itu bergerak serempak untuk menjauhi orang ini. Tapi orang ini seakan tidak peduli dan mengambil satu kursi lalu menempatkan dirinya di depan Edward.

Wajah Edward berubah memucat saat matanya beradu pandang dengan orang ini. “Kau, kau kembali, dan bagaimana kau bisa…”

Orang itu menunduk sambil menghela nafas. Lalu kedua tangannya merangkul bahu Edward. Matanya yang hijau itu berkilat, “Sudahlah Edward. Tidak usah berbasa-basi. Oh, ya, ngomong-ngomong, aku tertarik dengan ceritamu barusan. Bisa ceritakan sekali lagi, dengan lebih detail, terutama pemuda yang membawa meriam besar itu. Ceritakan semuanya,”

******

Dann menghela nafas lega saat roda jip Neil akhirnya menginjak daratan di pulau buatan. “Fuh, kupikir kita tidak akan sampai,” serunya sambil meloncat turun dari jip. “Aku sudah rindu dengan daratan asli,”.

Nuva yang mendengarnya menelengkan kepalanya, “Tenang saja, esku akan cukup kuat untuk dilintasi selama 3-4 hari lagi ,Dann,”

“Uhh. Bukan itu, aku…hanya khawatir monster itu tiba-tiba menyerang disaat kita sedang melintasi es tadi,”  Dann berkilah.

“Yang terpenting sekarang kita menemukan monster itu sebelum hari benar-benar gelap,” tukas Rey sambil menatap langit yang mulai menggelap. Kami kehabisan waktu.

“Tapi, dimana dia?”

“Kalau kau seekor monster kelewat besar yang luka dan lapar, dimana kau kira-kira akan sembunyi? Monster itu pasti punya sebuah liang persembunyian di dekat sini, ” Rey diam sebentar.

Neil bersiul. “Kedengarannya mudah untuk dilakukan, Rey. Nah kalau begitu, dari mana kita harus mulai mencari? Ohh, mungkin di ujung danau itu, atau dari sebelah sana?” ujarnya sambil melihat pemandangan di sekelilingnya. “Mungkin kita bisa meminta Nuva membuatkan masing-masing dari kita satu perahu es dan mulai memancing monster itu, dengan kail dan cacing?”

Rey tersenyum, “Gampang saja, monster itu sendiri yang akan menunjukkan dirinya. Nuva,”

  Nuva berjalan menuju jembatan es, lalu duduk berlutut sambil menempelkan satu tangannya ke lantai es. Terdengar bunyi berkeretak yang aneh, asalnya dari bawah jembatan es itu. Sesuatu bergerak di permukaan air, dan cepat. Beberapa detik kemudian dia berdiri lalu berbalik sambil menganggukkan kepalanya pada Rey,”Sudah,”

Rey tersenyum. “Bagus, sekarang kita menunggu,”

Neil mengerutkan kedua alisnya. “Apa yang kau lakukan?”  tanyanya pada Nuva.

“Aku sudah membekukan seluruh permukaan danau ini, dengan es setebal 3 meter , kurasa sudah cukup,” ujar Nuva sambil menghela nafas panjang.

“Seluruh permukaan? Kau…” Neil terperangah tak percaya. Dia hanya bisa menganga menatap permukaan danau yang seluruhnya telah berubah menjadi padang es.

“Aku butuh istirahat,” ujar Nuva sambil naik ke jip. Neil baru menyadari wajah Nuva lebih pucat dari biasanya. Titik-titik keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Dia merebahkan dirinya di jok belakang. Neil hanya diam menatap Nuva yang sekarang memejamkan matanya dan berusaha mengatur nafasnya.

 “Kau bisa kelelahan juga rupanya,” Neil mengangkat kedua alisnya, keheranan.

“Aku memiliki batasan, sekarang…aku tidak bisa membuat gunung es seperti tadi siang lagi. Atau bahkan…satu tombakpun. Sekarang….semuanya tergantung… kalian,” gumamnya.

“Ya, sudahlah, tidur sana,” ujar Neil.

Bahkan sebelum Neil menyelesaikan kata-katanya, Nuva telah menutup matanya, dan diiringi satu helaan nafas yang panjang, dia tertidur.

 “Waooow, sekarang kita punya arena skating raksasa disini,” seru Dann. Dia berbalik menuju hutan di belakangnya, lalu kembali dengan sebuah batang pohon yang datar.

“Saatnya ice boarding,” seru Dann sambil melemparkan batang pohon itu ke padang es, lalu dengan cepat menaikinya. Dia berhasil  meluncur sejauh beberapa meter dengan batangan pohon itu.

“Yah, paling tidak, ada yang senang,” Neil berkata pelan sambil memperhatikan Dann yang sekarang tengah bersalto di udara.

“Sulit dipercaya, beberapa jam lalu dia baru mengalami hal yang mungkin berat bagi orang lain, bahkan hampir kehilangan nyawanya, dan sekarang dia bisa bersenang-senang dan tertawa seperti itu,” ada semacam nada khawatir dalam kata-kata Rey barusan.

 “Biarkan saja, sekarang bisa kau beritahu apa rencanamu sekarang,” ujar Neil sambil menatap Rey.

“Menemukan monster itu,”

“Aku tahu itu. Tapi. Masalahnya.Bagaimana?”

Rey menggosok kedua tangannya,“Monster itu harus mengambil udara tiap beberapa menitnya. Dengan permukaan danau yang ditutupi es setebal 3 meter, dan mempertimbangkan luka dan energy yang dikeluarkan monster itu untuk menyembuhkan dirinya, monster itu tidak akan mau repot-repot untuk membuat lebih dari satu lubang untuk mengambil nafas. Dia tidak akan jauh dari sarangnya,”

Neil mengerutkan alis hingga keduanya bertemu, “Rencana brilian, seperti beruang kutub memburu anjing laut kalau begitu? Lalu apa?”

“Menunggu. Dengan sabar. Seperti beruang kutub. Atau buaya, sama saja,” Rey mengangkat bahu.

Neil terperangah, “Lalu bagaimana dengan sisi pulau sebelahnya?”

Rey mengeluarkan sebuah benda dari saku bajunya. Dia melemparkannya ke Neil, “Pakai ini,”.

“Walkie talkie?”

“Ya, nah sekarang lekas berpencar. Kau pergi ke sisi satunya, aku dan Dann akan berjaga di sisi sebelah sini,” kata Rey.

“Tunggu, tidak adil, aku harus berjaga sendiri?” Neil memprotes.

Rey melirik kearah jip .

Neil mengikuti arah pandangan Rey dan baru tersadar. “Ayolah Rey,” seru Neil. “Apa kau sedang mengerjaiku?”

Rey mengangkat satu alisnya, “Apa aku kelihatan sedang bercanda?”

******

Dengan enggan akhirnya Neil menuruti perintah Rey untuk pergi sisi seberang pulau itu. Dia sengaja melewati jalur pantai, mengambil jalan memutar karena mungkin saja dia akan melewatkan sesuatu jika dia melewati bagian tengah pulau. Beberapa saat kemudian dia telah sampai di tempat yang dia kira bagus untuk mengintai monster itu. Neil melompat turun dari jip, lalu mengambil satu pistol kecil dari ranselnya. Dia menembakkan pistol itu ke udara. Bunyi berdesingnya membuat Neil tidak nyaman, tapi hanya itu pilihan yang dia punya. Di atas, peluru itu berhenti mendadak dan menggantung di sana. Lalu semburat cahaya terang memancar dari peluru itu. Tidak terlalu terang, tapi lumayan menerangi pandangannya. Sekaligus dia bisa memancing monster itu, mungkin.

Neil menarik satu kursi lipat dari bagasi jip, membukanya dan duduk di tepi danau. Dia juga mengeluarkan sebuah teropong tua yang digunakan untuk memantau permukaan danau. Kalau-kalau makhluk itu sudah kehabisan nafas dan membuat lubang di lempengan es ini, dia akan segera tahu.

Selama 4 jam lebih Neil menunggu, dan selama itu pula dia bolak-balik mengecek lempengan es itu. Tapi yang ada hanya beberapa rusa liar, dan reptile kecil yang kebetulan mungkin penasaran dengan padang es ini. Terakhir yang muncul adalah seekor beruang liar yang mencoba cari gara-gara dengannya. Neil menggunakan peluru biusnya untuk membuat hewan itu jatuh tertidur, lalu menyeretnya ke tepian pulau. Melelahkan memang, tapi lebih baik daripada tidak ada yang bisa dilakukan.

“Ehem, burung gagak di tengah malam?” suara berkeresak mendadak terdengar dari walkie talkie Neil.

“Ya, anjing buduk bosan disini, apa ada, ganti?” jawab Neil asal.

“Tidak ada apa-apa disini, ganti,”

“Ahh, disini sama, ganti,”

“….”

“Rey? Kupikir rencana ini tidak akan berhasil,”

Hening sesaat. “Kurasa juga begitu,” di seberang suara Rey terdengar lesu.

“Yah kita bisa mencari jalan lain kan?”

“Mungkin memaksakan keberuntunganku bukan tindakan baik,”

“Kau sudah berusaha yang terbaik,sobat,”

“Bagaimana bisa, aku pikir kita telah berada di tempat yang tepat, tapi malah kita tidak mendapatkan apa-apa disini,” Rey berseru tidak percaya.

“Yah, aku juga penasaran kemana monster sebesar itu bersembunyi,” gumam Neil. Selesai mengatakannya, telinga Neil menangkap sebuah bunyi ganjil. Bunyi sesuatu yang saling bergesekan, berat dan berada jauh di dalam tanah di bawah kaki mereka.

“Tunggu, kau dengar itu?”

“Ya, seperti tanah longsor, atau…” Rey terdiam sesaat, membiarkan suara Dann yang berseru keheranan terdengar oleh Neil. Di dalam benak mereka, terlintas pikiran yang sama.

“Tidak mungkin,” Rey berkata seolah tak percaya.

“Monster itu,” desis Neil,”Berada tepat di bawah kaki kita?”

“Pasti ada celah, atau gua di suatu tempat di pulau ini, sehingga dia tidak perlu mengambil nafas,” seru Rey.

“Cih, seandainya aku tahu… dimana makhluk itu berada,” Neil mendengus.

“Segera berkumpul. Kita akan menyisir pulau ini,” perintah Rey. 

Beberapa saat kemudian, para pemburu ini telah berkumpul kembali, dan dengan tergesa-gesa menyisiri seisi pulau, dari satu sisi ke sisi lainnya, menelusuri jalan setapak yang sudah lama tak terpakai hingga ditutupi rumput alang-alang.  Tapi, selain rumah tua di tengah danau, dan beberapa makhluk ganjil yang malu-malu menampakkan dirinya, mereka tidak menemukan satu petunjukpun yang bisa mengarahkan mereka ke monster itu. Pulau itu tidak memiliki satu celahpun di permukaannya. Setelah beberapa kali memutari pulau itu, Neil menghentikan jipnya di tepi pantai.

“Sialan,” Neil memukul stir jipnya dengan frustasi,”Kemana monster b*****t itu pergi?”

“Dia dekat, aku bisa merasakannya,” gumam Dann.

“Setuju,” Nuva terbangun setelah Neil memukul stirnya tadi.

“Tidak ada petunjuk…,” Rey menggumam. Pandangannya terarah ke cakrawala, menatap semburat jingga yang perlahan mulai menggantikan warna biru gelap langit.

“Kita berkemah disini,” ujar Rey.

“Apa! Tidak Rey, kita sudah dekat dengan monster itu, kita teruskan pencarian,” sergah Neil.

“Tidak ada gunanya, kita kelelahan, kau sendiri juga butuh istirahat,”

“…!”

“Jadi bagaimana?” tanya Dann.

“Kita pergi ke rumah tua itu, mungkin bukan tempat yang bagus untuk berkemah, tapi itu lebih baik daripada berada di pinggiran danau seperti ini, siang nanti kita akan meneruskan pencarian,” ujar Rey.

Rombongan itu mengalihkan tujuan ke rumah tua itu. Anehnya, rumah itu tidak terlihat seperti rumah yang ditinggalkan. Cat-catnya masih mulus, pun tidak ada sarang laba-laba ataupun sesemakan liar yang menumbuhi dinding bangunan itu. Dann membanding-bandingkan rumah itu dengan penginapan tua milik Alfred. Sekilas, dengan gaya arsitekturnya yang membuat rumah itu terlihat seperti kastil klasik, orang-orang mungkin saja berpikir untuk tinggal di tengah danau seperti ini, menyendiri dan menikmati hari berlalu dengan tenang, tentunya kalau tidak ada monster itu.

“Wah, kelihatannya akan asyik disini, seru Dann riang.

Rey memutar bola mata,”Dann, kita hanya beristirahat disini,”

Neil melangkah ke rumah itu dan menemukan bahwa pintunya terkunci.

“Hmm, terkunci?” gumam Neil.

“Apa orangtuamu tidak mengajarkan untuk mengetuk ,” gumam Nuva.

Neil mencoba untuk mendobrak. Tapi pintu itu tidak mau terbuka juga. Neil mendesah, sambil melirik Nuva yang terdiam dengan kunci dari es di tangannya. “Perlu bantuan?” tawar Nuva sambil mengacungkan kunci itu di depan Neil.

Neil menelengkan kepalanya, lalu ide jahil terlintas di kepalanya.  Dia mengeluarkan pistol dan menembak lubang kunci pintu itu. Serpihan pintunya menghambur ke sana kemari. “Dasar barbar, tidak bisakah kau sopan sedikit?” protes Nuva yang kaget.

Neil hanya tersenyum jahil, lalu menendang pintu dengan kasar, membuat burung-burung yang bertengger di atap rumah itu beterbangan karena kaget.

“Selamat datang, silakan anggap saja seperti rumah sendiri,” ujar Neil sambil memasukkan pistolnya.

“Wooow, lihat, ruang tamunya saja lebih besar dari rumahku, ” seru Dann sambil berputar-putar memandangi isi rumah itu. Seluruh perabotannya ditutupi kain putih untuk mencegahnya berdebu, tapi walaupun begitu, Rey bisa merasakan aura mewah yang kentara di ruangan itu.

“Untuk ukuran rumah yang ditinggalkan selama 4 tahun, rumah ini cukup terawat,” campuran rasa kagum dan curiga terdengar dalam nada suara Rey.

“Kalian ingat pembantu pemilik rumah ini, si tua Jenkins? Mungkin dia yang merawatnya?” Neil mencoba menebak.

“Entahlah, kalaupun iya, bagaimana dia melewati danau tanpa dimakan monster itu?” Rey menggumam sendiri. Tangannya bergerak menarik satu kain yang menutupi piano besar di ruang tamu mewah itu.

“Oooh, Ausveteraux? Luar biasa,” Rey menyapukan jari-jarinya di atas tuts-tuts piano yang nyaris tak berdebu, lalu memainkan satu lagu. Bunyi jernih alunan music dari piano itu memenuhi ruangan.

“Yang punya rumah punya selera dalam memilih perabotannya,” seru Rey tanpa menghentikan permainannya.

Dann menjelajahi dapur dan menemukan beberapa makanan kalengan yang tampak masih bisa dikonsumsi dalam lemari-lemari kabinetnya. Dia membawa temuannya ke hadapan teman-temannya.

“Lihat apa yang kutemukan. Kurasa kita akan berpesta,” seru Dann.

“Dann, kita hanya menumpang, bukan merampok, kembalikan itu ke tempatnya,” tapi Neil mengambil salah satu makanan kalengan itu, melemparkannya ke udara, lalu menangkapnya kembali. Diam-diam dia memasukkan kaleng itu ke dalam sakunya, lalu mengedipkan satu matanya pada Dann.

Dann bersungut-sungut tapi dia menuruti Neil. Beberapa menit kemudian, ruang tamu itu telah berubah menjadi semacam kamp bagi mereka. Rey masih berada di depan piano, memainkan beberapa lagu lama sambil bersenandung, Nuva mengagumi beberapa lukisan yang tergantung di dinding, sementara Neil kebagian giliran memasak di dapur. Entah apa yang dibuatnya, tapi yang jelas, dia menambahkan banyak bubuk merica dan sedikit minuman keras ke dalam masakannya.

Dann sedang asyik memeriksa ruang keluarga. Menatap lukisan yang tergantung di atas perapian. Gambaran buram seorang pria tua dengan jas lusuh, satu jari telunjuknya tampak  sedang menunjuk ke bawah. Mata Dann mengikuti arahnya sampai dia melihat sebuah tempat lilin yang berwarna keemasan. Dengan penasaran Dann meraih tempat lilin itu, tapi bagaimanapun dia tidak bisa mengangkat ataupun memindahkan tempat lilin itu. Bagian dasarnya seolah menempel. Akhirnya karena kesal, Dann menarik tempat lilin itu ke bawah. Terdengar bunyi ‘krek’ yang aneh.

“Uhh,  ups?”

Saat Dann berpikir mungkin dia telah merusak tempat lilin itu,  tiba-tiba terdengar bunyi gir-gir berat yang berputar entah dimana dan ruangan itu bergetar. Di lantai yang tertutupi karpet, sebuah lubang rahasia membuka. Terdapat sebuah tangga melingkar yang mengarah ke bawah di sana. Dann menatap jalan rahasia itu dengan takjub.

Nuva dan Rey yang kaget karena getaran itu segera menghampiri Dann, dan sama terkejutnya. Neil muncul tak lama kemudian, masih dengan sebuah panci yang mengepulkan asap di tangan kirinya.

“Apa aku melewatkan sesuatu,” serunya bingung.

“Mungkin belum,” gumam Rey. “Lihat,” dia menunjuk tangga itu.

Neil membelalak kaget,”Ruangan rahasia,”

Mereka semua saling pandang. “Kira-kira kemana ujung tangga ini, ya,” seru Dann bersemangat.

“Keren, apalagi kira-kira kejutan yang ada di rumah ini?” Neil menimpali. “Ruangan harta karun?’

Hawa dingin tiba-tiba berhembus dari ruangan rahasia, membawa udara lembab dan bau asing yang menusuk dari bawah.

“Wah, bau sekali,” Dann mengernyit, lalu menutupi hidungnya.

“Bau misteri?” Neil menebak.

 “Ini semakin menarik saja,” gumam Rey. Dia pergi ke ruang tamu dan kembali dengan sebuah senter. Pedangnya sendiri sudah berada di punggungnya.

“Hey, jangan buru-buru Rey, aku sudah capek-capek bikin makan siang nih,” protes Neil.

Rey mendesah, “ Baiklah, 5 menit, setelah itu kita turun ke bawah,”serunya.

Setelah persiapan dan makan siang yang terburu-buru, kawanan pemburu itu mulai menuruni tangga lingkar itu. Di setiap sisi-sisinya yang lembab dan berair itu, terpasang lampu-lampu suram yang terpaut sejauh 5 meter satu sama lain. Tapi tetap saja mereka membutuhkan senter untuk mencapai ujung tangga itu.

“Lebih dalam dari yang kuduga,” seru Neil. Suaranya menggema.

“Mungkin kita telah turun sejauh 25-30 meteran, kurasa,” tambah Rey.

Di ujung tangga itu terdapat semacam pintu baja kecil yang harus dibuka dengan memutar kedua tuasnya secara bersamaan, mirip seperti pintu di kapal selam. Neil mengernyit karena heran. “Aneh, terlalu aneh,”gumamnya, “Buat apa repot-repot membuat pintu semacam ini,”

Tapi tidak ada yang menjawab pertanyan Neil. Nuva bergegas membuka pintu itu dan melongokkan kepalanya ke dalam ruangan itu.

 “Yang jelas pintu itu dibuat dengan tujuan yang bagus, lihat,” seru Nuva sambil mengarahkan senternya ke penjuru ruangan itu.

Butuh beberapa detik bagi Dann untuk mengerti. Ruangan itu , sebuah laboratorium, dibangun tepat dibawah rumah itu. Computer-komputer lama di sudut ruangan dengan panelnya yang ditutupi debu, kertas-kertas yang berisi gambaran dan laporan hasil percobaan yang ganjil, dan di sudut lain, berpuluh-puluh tabung yang berjejeran rapi , penuh berisi makhluk-makhluk aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Kebanyakan berbentuk seperti ular, atau hewan-hewan air lainnya.

“Tempat apa ini?” Rey terperangah saat memasuki ruangan itu. Nuva bergerak menghampiri serakan kertas di atas meja-meja. Lalu dengan kecepatan luar biasa memeriksa setiap lembaran kertas itu. Dia berhenti ketika mendapati sebuah gambar. “Rey, kesini sebentar,” serunya sambil mengacungkan kertas itu.

Rey menghampiri Nuva dan terperanjat keheranan melihat gambar itu. Makhluk itu, monster dengan lidahnya yang bercabang tujuh, tergambar di kertas itu. “Subjek No. 74?” gumam Rey tak percaya. Rey memandangi sekelilingnya, lalu menatap tajam kearah computer. “Nuva, aku ingin kau memeriksa computer-komputer itu, kalau-kalau ada data lain yang berkaitan dengan monster ini, kita mungkin bisa menggunakannnya untuk mengalahkannya!” seru Rey. “Dann, bantu aku memeriksa kertas-kertas ini,”

Sementara teman-temannya mencari petunjuk, Neil berjalan menghampiri tabung-tabung itu. Mengelus permukaan kacanya. Menatap makhluk-makhluk tak berbentuk di dalamnya. Ada perasaan familier yang asing  saat dia melihat makhluk-makhluk tak berbentuk itu. Lalu kilasan ingatan membanjiri benaknya.

Anak kecil itu melayang di dalam sebuah tabung. Hanya bocah laki-laki biasa, sekilas. Kabel-kabel warna-warni dan bening tersambung ke tubuh mungilnya. Berusaha mempertahankan hidupnya yang rapuh. Di luar tabung itu, puluhan orang-orang dengan jas putih berlarian kesana kemari seperti kesetanan.

Neil memegangi kepalanya yang mulai berdenyut-denyut. Visi itu makin kuat menghantam benaknya.

Anak itu mulai menggelepar-gelepar liar dalam tabung saat tangan kanannya mulai terurai, bagaikan meluruh. Berusaha mencegahnya dengan memeganginya seerat mungkin dengan tangan yang lain, tapi percuma. Dia berusaha berteriak, meminta tolong, tapi yang keluar dari mulutnya hanya gelembung. Urat-uratnya mulai terputus saat daging-daging di lengan kanannya seakan-akan rontok, terlepas dari tempatnya melekat. Rasa sakitnya luar biasa menyiksa, nyaris tak tertahankan. Tubuh anak itu mengejang ketika serpihan daging terakhir meluruh. Sekarang  yang tersisa hanyalah tulang yang memutih di lengan kanan itu.

Rasa sakit di kepala Neil makin tak tertahankan saat kilasan itu semakin jelas. Dia jatuh berlutut ke lantai sambil mengerang tertahan.

Cairan kehitaman, entah apa namanya, disuntikkan ke dalam sum-sum tulangnya melalui sebuah kabel tipis. Perlahan, satu partikel kehitaman, awalnya berupa bercak lalu semakin meluas hingga membuat tulangnya tampak menghitam. Partikel itu mulai tumbuh,menggeliat bagai cacing, merayap dan menjalar bagaikan hidup di lengan anak itu, menggantikan daging dan uratnya. Hingga partikel itu membentuk lengan baru anak itu. Rasa sakit itu mereda,berganti dengan kenyamanan yang aneh.  lalu orang-orang diluar tabung mulai bertepuk tangan dan saling berpelukan satu sama lain.

Sebuah tepukan di bahunya menyadarkan Neil dan mengembalikannnya ke dunianya. “Neil kau tidak apa-apa?” Dann berseru khawatir. Rey dan Nuva juga berada di dekatnya, meski Nuva tidak menunjukkan ekspresi khawatir sama sekali.

“Aku..., ya…aku tidak apa-apa, hanya tiba-tiba…agak pusing saja, itu saja,” Neil berujar pelan.

“Sungguh? Mukamu tampak pucat, lebih baik kau istarahat dulu?” saran Rey.

“Tidak, aku tidak perlu, bagaimana dengan pencarianmu?”

Rey mengangkat bahu,”Tidak banyak yang bisa gunakan, tapi setidaknya kita tahu makhluk itu masih memiliki batasan dalam penyembuhan dirinya. Semakin parah dan banyak lukanya, semakin lambat dia menyembuhkan diri,”

Neil mendesah, “Setidaknya kita tahu makhluk sialan itu tidak abadi kan?”

Rey mengangguk, sejenak mereka terdiam, lalu Dann dengan iseng menyoroti ruangan yang penuh tabung itu. Tampak sebuah pintu besar dari kayu yang telah rusak dan disegel dengan rantai di ujung ruangan itu.  

 “Aku baru sadar ada pintu di situ,” seru Dann. Dia menghampiri pintu itu, teman-temannya mengikuti. “Dann mungkin kau harus sedikit membatasi rasa ingin tahumu itu, mungkin itu bisa membunuhmu,” saran Nuva tanpa menghiraukan delikan mata Neil padanya.

“Kenapa dipalang ya?” tanya Dann polos.

“Satu cara untuk tahu, ayo!” Dengan beberapa kali tembakan dan tendangan dari Neil, pintu itu akhirnya terbuka.

Ruangan itu gelap, dan bau kapur bercampur amis tercium begitu keras dari dalamnya. Rey menyalakan senter dan  mengarahkan cahayanya ke langit-langit ruangan itu, yang ternyata adalah gua dan lebih luas dari yang dia kira. Stalaktit dan stalakmit yang bagai gigi taring raksasa tumbuh di atap dan dasarnya. Ukuran benda-benda hasil karya alam itu membuat mereka merasa kerdil. Gua raksasa itu berbentuk bulat telur, pastinya mengikuti bentuk pulau buatan ini. Atap gua itu sendiri berbentuk kubah raksasa, dan meluas kearah dasar, sementara dasarnya sendiri mencekung membentuk mangkuk. Dan permukaan pinggirannya tidaklah rata. Sehingga untuk turun ke dasarnya, mereka harus menuruni stalakmit yang terdekat. Bukan hal mudah, karena stalakmit itu licin dan tepiannya tidaklah mudah untuk dijadikan pegangan.

Akhirnya mereka berhasil juga, meski Dann sempat terpeleset dan jatuh terjerembab ke dasar gua. Anak itu mengaduh, tapi teman-temannya segera menyuruhnya diam.

 “Kurasa kita berada di sarang monster itu,” gumam Neil.

“O,ya, bagaimana kau tahu,” tanya Dann penasaran.

“Lihat,” kata Neil sambil menunjuk satu benda pipih yang sedang dia injak. Ternyata itu adalah sebuah sisik, dengan bentuknya yang segilima itu, Dann mengira-ngira, panjang sisi-sisinya pasti tak kurang dari 30 sentimeter. Dan bukan hanya satu, melainkan puluhan, bahkan ratusan sisik bertebaran di lantai gua ini.

“Yakin itu bukan sisik ikan?” Dann barkata ragu.

“Aku yakin, ikan mana yang bisa naik ke daratan dan menghancurkan stalakmit seperti itu,” Rey yang menjawab sambil menyenter beberapa stalakmit yang hancur berantakan. Tanpa sengaja, cahayanya juga menyenter beberapa jejak seperti jejak ular yang ditutupi lendir yang tampak masih baru. Dia tahu, makhluk itu masih berada di sana, bersama mereka, tapi dimana?

Rey menyenter ke tengah ruangan itu. Ada sebuah lubang hitam besar disana, yang penuh berisi air. ”Lubang besar itu pastilah jalan keluar masuknya,” Rey mematikan senternya. “Neil gunakan flash bullet untuk menerangi gua ini,”

Neil mengeluarkan sebuah pistol pendek. Dia menembakkannya ke udara, dan segera, gua itu diterangi cahaya suram dari flash bullet itu. Tapi sayangnya hanya cahaya buram yang bisa mencapai dasar gua itu. Neil hanya berdecak melihat keadaan ini. “Ingatkan aku untuk menambahkan daya cahayanya nanti,”

 “Tetap berdekatan,” gumam Rey.

“Dia tidak jauh, aku bisa menciumnya” gumam Nuva. Tombak es telah berada dalam genggamannya.

“Benar. Ayo! Kita harus segera menemukan monster itu!” teriak Dann.

“Tunggu, Dann!”

Terlambat, Dann telah berlari menuju ke tengah-tengah gua itu. Sebelum dia mencapai lubang hitam itu, sesuatu yang besar, panjang dan mengkilap karena lendir nyaris saja merenggut kakinya kalau tidak karena Neil yang tanggap dan melemparkan belatinya ke benda itu. Benda itu segera tertarik mundur ke dalam kegelapan. Terdengar bunyi menggeram yang aneh, menggema di ruangan itu.

“Whooa, apa itu?” seru Dann kaget. Terdengar bunyi sesuatu yang berat bergeser dan bebatuan remuk. Mata Dann hanya sempat menatap sesuatu yang besar sedang meliuk di kegelapan gua.

“Rebella vat Arstandum, Aradequardo,menunduk Dann!” seru Neil.

Dann menunduk tepat pada waktunya dan merasakan puluru-peluru Neil yang mendesing di atas tubuhnya mengenai sesuatu. Dan sesuatu itu mencipratkan darah!

Dalam kegelapan, sosok-sosok itu meronta-ronta dengan liar saat peluru-peluru Neil mencabik-cabik tubuh mereka. Kilatan-kilatan api dari Aradequard sekilas menunjukkan sosok mereka. Lidah-lidah monster itu! Ternyata ukuran raksasa makhluk itu terlalu besar sehingga membuatnya harus melingkarkan dirinya ke dinding-dinding gua. Kepalanya sendiri berada tidak jauh dari lubang hitam di tengah-tengah ruangan itu.

“Lihat ukuran makhluk itu, lebih besar dari yang kukira, ternyata,” Nuva berkomentar.

“Aku tidak bisa menahan terlalu lama, Rey!” seru Neil.

Rey berlari dan menarik Dann menjauhi monster itu. Tombak-tombak es Nuva melindunginya saat lidah lapar monster itu nyaris menangkap mereka.

“Kau. Cari tempat aman,” perintah Rey saat mereka berada di sisi gua yang lebih aman.

“Tapi, aku ingin berta..”

“Tidak kali ini Dann,” potong Rey. Suara monster meraung dibelakangnya, diikuti bunyi berdeguk dan daging terkoyak. Nuva berhasil menancapkan tombak es raksasa ke tenggorokan monster itu. Berikutnya disusul  ledakan menggelegar saat salah satu peluru grenade Neil menghantam tubuh monster itu. Terdengar suara Neil yang memekik kegirangan.

Rey menoleh ke belakang sebentar, lalu kembali memandangi Dann, menatapnya tajam”Kau tahu, maaf karena aku telah meninggalkanmu kemarin pagi, tapi itu semua aku lakukan agar kau tetap selamat. Aku merasa bersalah atas apa yang telah terjadi kemarin, dan sekarang, aku tidak ingin melihatmu terluka lagi, jadi, tolong Dann, menjauhlah,” pinta Rey sungguh-sungguh.

Dann hanya terdiam sambil menunduk,”Janji, kau akan menghabisi monster itu?”

Rey meninju bahu Dann,”Akan kubuat dia hancur tanpa sisa,” janjinya.

Dann mengangguk, lalu memanjat satu stalakmit yang ada untuk mencapai jalan keluar gua. Mata Rey terus mengikuti Dann sampai akhirnya Dann mencapai  pintu masuk ke laboratorium. Lalu dia sendiri segera bergegas untuk bergabung dengan teman-temannya.

“Nah, kurasa kita belum mencetak skor untuk monster ini!” seru Neil ketika Rey berada di sampingnya.

“Sudah 1-1 kok, sekarang, mari kita buat selisih, Neil buat monster itu sibuk, ulur waktu untukku,” balas Rey.

“Tenang saja, itu keahlianku kok,,” Neil berlari menyebrangi sisi lubang hitam sambil terus menembakkan Aradequard dan granatnya. “Hey jelek, sebelah sini!” serunya memancing perhatian monster itu. Hampir saja dia terkena sabetan ekor raksasa monster itu kalau dia tidak cepat melompat. Dia berusaha berguling kesamping untuk mencari posisi dan tempat aman untuk menembak. Saat itu, monster itu menggelesor dan membalikkan tubuhnya sehingga kepalanya yang besar itu tepat berada di hadapan Neil, matanya yang segaris mendadak melebar melihat Neil menodongkan grenade launcher tepat ke bola matanya.

“Nyaris, tapi aku lebih baik, lihat nih,” pekik Neil. Jarinya menarik picu grenade launcher, dan sebutir granat tepat bersarang di mata monster itu, lalu meledakkan sebagian rongga matanya menjadi serpihan daging tak berbentuk. Raungan kesakitan monster itu seakan membuat gua itu nyaris runtuh.

“Hah! Sekarang kau tidak bisa melihat! Sebaiknya kau segera sembuhkan dirimu selagi bisa, masih ada cukup granat untuk melubangi tubuhmu,” pekik Neil girang. Memang luka monster itu segera menyembuh, tapi sekarang jauh lebih lambat. Pertarungan sebelumnya benar-benar telah menguras tenaga monster itu. Rey bisa melihat bahwa angin kemenangan bertiup pada mereka.

“Nuva,  kau tidak mau hanya Neil yang bersenang-senang bukan?” Rey berseru, menggoda Nuva yang berada di sisi yang bersebrangan dengan Neil.

“Kau mau aku melakukan apa?” tanya Nuva datar.

“Kenapa kau tidak melubangi monster itu, seperti yang biasanya kau lakukan,” perintah Rey.

Nuva tersenyum sekilas. “Dengan senang hati,” gumamnya. Dia merunduk, bersiap untuk melompat. Lalu tiang es yang mencuat tiba-tiba dari bawah kakinya membuat Nuva terlempar ke udara, tinggi, hingga menyentuh atap gua itu. Nuva menempelkan tangan kanannya ke atap itu, dan membuat semacam pegangan dari es.

“Aur just vost boir,” sebatang tombak pipih muncul di tangan kiri Nuva. Berbeda dengan tombak-tombak es yang biasanya tampak seperti batangan es biasa, tombak ini tampak berpendar keunguan, tanda adanya energy yang tersimpan di dalamnya.

“Nih, lokuen,” seru Nuva sambil melemparkan tombak itu ke lubang hitam. Saat tombak itu menyentuh permukaan air, tombak itu mengeluarkan cahaya terang keunguan yang membutakan dan kemudian ribuan tombak es lain menyeruak keluar hingga lubang hitam itu kini telah ditutupi oleh tombak-tombak itu. Monster itu berbalik hanya untuk menyadari jalan keluarnya sudah tertutup. Makhluk itu terdiam sesaat, sebelum menerjang gunungan pasak es itu. Dia berusaha mengikis potongan esnya, dengan menerjangkan kepalanya, menjulurkan lidahnya, menyabetkan ekornya, segalanya yang dia miliki tanpa mempedulikan potongan es tajam yang menembus tubuhnya itu. Darah dan serpihan es bertebaran kemana-mana, membuat lantai dasar gua itu menjadi lebih licin. Penyembuhan diri monster itu tampak semakin melambat. Dari atap gua itu, Nuva bisa melihat luka-luka monster itu yang semakin parah.

“Dia gigih,” gumam Nuva,”Tapi percuma, semuanya sudah berakhir sekarang,”.

Setiap kali es dari gunungan itu pecah, atau retak, potongan es baru akan segera tumbuh dan menggantikannya. Bisa dibilang usaha monster itu percuma. Tapi monster itu justru semakin keras membenturkan tubuhnya. Bahkan dia tidak mempedulikan Neil yang terus mengejek dan membombardirnya dengan peluru-peluru granatnya.

“Rey, aku kehabisan amunisi, cepatlah,” seru Neil.

Rey menarik keluar pedangnya, dan menancapkannya ke tanah dengan sikap menantang, “Buruan yang terpojok dan tidak punya jalan untuk kabur biasanya akan kalap dan mengeluarkan kemampuan yang mengerikan, bukan? Pemburu yang berpengalaman akan menghindari hal ini, tapi, bukankah justru disitu bagian menariknya?” Rey tersenyum sambil menatap monster itu.

“Teknik ini memang belum sempurna. Tapi berbanggalah, karena kau akan membantuku menyelesaikannya,” Rey mengibaskan pedangnya. Simbol griffin, meski dalam kegelapan, tak pernah kehilangan sinar keemasan cemerlangnya, seolah memiliki sumber cahaya sendiri.

“Magkia ozhea albyl griffy weanieyl,”  cahaya kehijauan memancar dan menyelimuti tubuh Rey, bergulung dan membentuk satu wujud. Pertama yang terbentuk adalah bayangan kepala elang, lalu tubuh singa, cakar  dan ekor terbentuk paling akhir. Ketika proses transformasi itu selesai, seekor griffin, meski tanpa sayap, namun dengan badan dan jiwa terbuat dari angin, menjejakkan cakarnya ke tanah dan meraung, menantang sang monster.

Sang monster berhenti sejenak, lalu berpaling menatap griffin itu. Dia membuka mulutnya, disana,ketujuh lidahnya mendesis-desis marah, merasa terancam oleh keberadaan makhluk itu.

Sebagai balasannya, sang griffin mengibaskan cakarnya, melontarkan 4 bayangan sabit kehijauan kearah monster itu. Monster itu menghindar dengan meliukkan tubuh raksasanya, tapi sabit-sabit itu seolah memiliki pikiran. Sabit-sabit itu berputar balik. Sementara monster yang tidak menyadari bahaya dari belakangnya masih sempat meraung pada sang griffin. Namun raungan menantang itu segera berubah menjadi jaritan panjang dan melengking saat sabit-sabit itu menyayat punggungnya. Meninggalkan goresan-goresan luka sepanjang bermeter-meter di tubuh monster itu.

Sang griffin makin gencar menyabetkan cakar-cakarnya. Sabit-sabit angin lain segera berterbangan dan menyayat tubuh monster itu tanpa belas kasihan. Neil turut andil dengan menembakkan satu granat terakhirnya ke celah luka dekat pangkal leher monster itu dan berhasil membuatnya 2 kali lebih lebar.

Akhirnya disertai lolongan panjang, monster itu ambruk dan terkulai tak berdaya. Untuk sesaat hanya tarikan nafas berat monster itu yang menggema di gua itu. Dia sudah sekarat.

Neil menurunkan senjatanya, menoleh kepada sang griffin. “Segera akhiri penderitaannya,” gumam Neil.

Griffin mendongakkan kepalanya. Pusaran angin raksasa menyelimuti tubuh griffin, lalu dengan satu lompatan tinggi ke udara, griffin itu menerobos masuk ke mulut monster itu. Dan bagaikan mesin blender, mencacah setiap inchi dari tubuh monster, dari kepala hingga ke pangkal ekornya menjadi serpihan-serpihan daging tak berbentuk. Hanya butuh kurang dari 20 detik untuk membuat monster rakasasa itu menjadi daging cincang.

Griffin itu berhenti sejenak, mengamati hasil kerjanya, lalu menegakkan tubuhnya. Cahaya kehijauan kembali menyelimuti tubuhnya. Ketika berkas cahaya terakhir menghilang, tampak sosok Rey yang berdiri dengan bersandar pada pedang besarnya. Kelelahan, tapi bangga.

Neil menghampiri Rey, “Kerja bagus, sobat,” puji Neil sambil meninju bahu Rey.

 “Mana spirit yang bagus, nanti kapan-kapan kau harus mengajarkannya padaku, juga Dann,”

“Segera, setelah kita menyelesaikan ini,” balas Rey. 

Neil hanya mengangguk sebagai jawaban. Nuva sudah turun dari atap gua, membuat seluncuran es raksasa dan mendarat sehati-hati mungkin agar tidak menginjak serpihan daging kemerahan yang bertebaran dimana-mana.

“Kalian berdua sama saja, sama-sama berantakan,” gerutunya sambil mencebikkan bibir mungilnya.

Neil dan Rey hanya tertawa,”Yah, begitulah kami, para lelaki,”

“Sudahlah, mari segera tinggalkan tempat ini,” Nuva masih menggerutu.

Rey hendak mengambil sirip ekor makhluk itu sebagai bukti mereka telah menyelesaikan perburuan. Tapi melihat ukurannya yang lumayan besar, Neil menyarankan untuk memotong sirip itu menjadi dua. Untungnya Neil dapat menemukan kembali belati kesayangannya. Dia mengelus-elus pisau itu dengan belaian sayang sebelum menggunakannya untuk memotong sirip monster itu.

Bilah belati Neil belum sampai memotong setengah sirip makhluk itu ketika suara tepuk tangan seseorang menghentikan pekerjaan mereka. Mereka menoleh, dan mendapati seorang pria berdiri di pintu masuk gua.

Dalam keremangan gua itu, Rey sekilas bisa melihat wajah seorang pria, mungkin tak kurang berumur 30an, dengan rambut ikal yang dipotong pendek di atas dahinya yang agak lebar. Ada binar jenaka, bercampur kegilaan dalam kilatan matanya yang kehijauan. Hal ini membuat para pemburu merasa tak nyaman.

 “Siapa kau?”

“Siapa aku itu tidak penting. Pertama-tama, ijinkan aku mengucapkan terima kasih karena kalian telah membereskan kekacauan yang disebabkan oleh pembantuku. Kuharap kalian tidak terluka karena… itu,” dia menunjuk satu potongan daging besar yang tadinya adalah kepala monster di tengah gua.

“Kau , jangan-jangan kau yang menciptakan makhluk ini?” tanya Rey.

“Anak pintar, aku hanya sekedar iseng sebenarnya. Aku datang ke pulau ini dan membangun rumah karena aku bosan beberapa pihak kekaisaran terus saja merongrongku untuk membuat beberapa penelitian tak penting. Makhluk-makhluk itu,” dia melambai ke ruangan laboratorium di belakangnya,”Awalnya adalah ikan dan makhluk setempat yang aku ubah kode genetikanya, sehingga mereka berubah menjadi seperti itu, tapi untuk yang satu ini, aku mencoba memberikan sedikit kecerdasan dan kemampuan regenerasi layaknya seekor axolotl, tapi tentunya aku menambahkan sedikit modifikasi dan improvisasi disana-sini, sehingga terbentuklah makhluk yang tadi kalian…ngg buru?” Pria ini mengatakannya tanpa rasa bersalah.

“Yah, apa sajalah, sekarang karena kau sudah ada disini bagaimana kalau kami juga membuat perhitungan denganmu,” tukas Neil sambil mengeluarkan pistol kesayangannya.

Pria ini hanya mendesah sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam mantel tebalnya. “Aku takut tidak bisa menemani kalian bermain, seperti halnya yang satu ini,” dia menunduk dan dengan sengaja menyenggol Dann dengan kakinya. Jantung Neil seakan meledak melihat anak itu berbaring tengkurap tak bergerak di dekat kaki orang itu.

“B*****t,  apa yang kau lakukan pada Dann,” teriaknya marah.

“Hanya tertidur kok,” ujar pria itu santai.

Detik berikutnya, Rey sudah berada di hadapan orang itu, menyabetkan pedangnya dan membelah udara dengan kecepatan mematikan, pastinya sudah membuat kepala itu terlepas dari bahunya, kalau saja bukan karena sesosok makhluk yang tiba-tiba muncul di samping pria itu berhasil menghentikan pedangnya, tepat menangkap bilahnya hanya dengan satu tangan saja, padahal bilahnya hanya tinggal berjarak  beberapa mili dari leher pria itu.

Makhluk itu mengayunkan sebelah tangannya kearah wajah Rey, beruntung Rey sempat menghindar ke belakang dan melepaskan pedangnya dari cengkraman makhluk itu.

Dengan ketangkasan terlatih Rey melompat ke belakang, memberi jarak antara dirinya, pria itu, dan makhluk yang tadi menghentikan serangannya. Dalam keremangan cahaya flash bullet yang menggantung di atap gua, sosok makhluk itu berbentuk sepeti manusia biasa, tidak terlalu tinggi, mungkin 155-160 cm,  hanya saja, sisik-sisik yang berkilatan merah kehitaman menutupi tubuhnya. Telinganya panjang dan terletak di atas kepalanya, mirip telinga rubah, matanya berupa garis merah berbentuk huruf ‘z’, namun makhluk itu kelihatannya tidak memiliki…mulut? Ekornya yang ramping dan panjang mengibas-ngibas di belakang tubuhnya.

Neil mendengus, “Makhluk percobaanmu yang lain?”

“Tepat. Dan yang ini istimewa, tidak seperti yang lainnya,” pria ini melirik Neil sekilas,”Untuk yang satu ini, aku harap kalian tidak keberatan untuk memberikannya sedikit pengalaman, nah, silahkan” pria itu mengibaskan  sebelah tangannya ke udara.

Makhluk ini menerjang Rey tiba-tiba, tapi Rey adalah seorang petarung handal. Pedangnya segera menyambut sabetan-sabetan cakar monster itu. Nuva dan Neil segera menghampiri Rey dan memberikan bantuan. Nuva dengan tombak es berbilah ganda di kedua ujungnya, dan Neil dengan belati membara di tangan kiri, dan pistolnya di tangan yang lain. 

Satu tebasan mematikan dari pedang besar Rey berhasil menancap tepat di leher makhluk hitam itu, tapi sisik makhluk itu kelihatannya terlalu keras untuk ditembus. Nuva mencoba dengan menusukkan tombaknya dengan kecepatan luar biasa, tapi hal itu hanya merontokkan bilah tombak esnya. Neil berharap dengan belati membaranya dia bisa memotong bagian tubuh makhluk itu, tapi hasilnya sama seperti pedang besar Rey.

Dengan mengeroyok bertiga, mereka berharap dapat membuat makhluk hitam itu kelelahan dan kehabisan tenaga, tapi seiring berlalunya waktu, Rey menyadari bahwa justru mereka yang kelelahan dan sekarang makhluk itu telah mempelajari gerakan mereka. Bagaimana makhluk itu bisa membelitkan ekornya di tombak es Nuva dan kemudian menekannya ke tanah untuk mengunci gerakannya, mencengkram erat bilah pedang besar Rey dengan tangan kanannya yang bercakar, sementara tangan yang lain menangkis sabetan belati Neil yang menebas-nebas udara dengan liar. Semuanya dilakukan secara bersamaan. 

Satu ketika makhluk itu berhasil menendang dada Neil dengan satu kakinya yang bebas dan membuat dia terlempar beberapa meter kebelakang dan terjerembab jatuh,  tiba-tiba saja makhluk itu melepaskan pegangannya pada pedang besar Rey dan dengan sengaja membiarkan pedang itu mengenai tubuhnya. Juga belitan ekornya pada tombak Nuva juga dilepaskan. Detik itu juga, tombak Nuva ditikamkan pada punggung makhluk itu.

Partikel kehitaman bagaikan sulur tanaman tumbuh dari bagian tubuh monster yang bersinggungan dengan senjata Rey dan Nuva dan menahannya disana. Rey baru menyadari rencana makhluk itu saat dia mengarahkan satu tangannya tepat ke dada Rey, cakar lainnya terarah ke perut Nuva. Partikel kehitaman membungkus cakar itu, dan mengubahnya menjadi semacam tabung yang berlubang di ujungnya. Itu sebuah meriam !

Benda itu bersinar di ujungnya dan mengeluarkan bunyi ‘buff’ yang aneh, disusul bunyi tulang iga Rey yang berderak patah dan lengkingan jeritan Nuva saat perisai esnya tidak mampu menahan serangan itu. Mereka berdua terpental ke belakang, tubuh Rey baru berhenti berputar di udara saat membentur satu stalaktit besar, Nuva terlempar kearah gunung es di tengah gua, untungnya perisai esnya berhasil menghindarkannya dari luka serius saat menghantam gunung es berduri itu.

“Hahaha, luar biasa, gelombang kejut! Kalian benar-benar mengajarinya sesuatu, pemburu,”  pria itu berseru senang.

Rey memegangi dadanya, lalu memuntahkan segumpal darah hitam dari mulutnya. Dia menderita luka dalam yang serius. Nuva hanya terduduk  di dekat gunung es, matanya terpejam, tapi dia masih hidup.

Neil terperangah melihat teman-temannya terkapar tak berdaya. Satu percikan amarah menyulut ‘sesuatu’ di dalam dirinya. Dan ‘sesuatu’ itu bergerak menuju lengan kanannya. Neil sama sekali tidak berusaha menahannya. Dia membiarkan ‘sesuatu’ itu menguasainya, secara perlahan.

“Oh, ya? Kalau dia benar-benar senang, bagaimana kalau aku memberinya ini?” raung Neil, symbol sihir berwarna merah muncul dan mengeluarkan meriam tanknya, Big Bang.

Dia menangkap senjata itu dan dengan ketepatan seorang sniper membidik kepala makhluk itu. “Makan nih!” seru Neil. Picu ditarik dan meriam itu meraung, memuntahkan peluru berdiameter 120 mm ke makhluk itu. Tentunya makhluk itu dengan mudah menghindari tembakan itu. Peluru nyasar itu meledakkan beberapa stalaktit di belakangnya. Neil kembali mengokang dan membidikkan kembali meriamnya. Makhluk itu sadar akan bahaya dan lalu bergerak menghampiri Neil dengan kecepatan luar biasa. Berlari zig-zag sehingga menyulitkan Neil untuk membidik, tapi rencana lain mendadak terbersit di kepalanya. Alih-alih menembakkan meriamnya, ketika makluk itu berada dalam jangkauan laras panjang meriamnya, Neil malah mengayunkan meriam itu ke samping dengan sekuat tenaga. Dengan telak, laras itu menghantam kepala makhluk itu. Bunyi baja yang patah menggema di gua itu. Makhluk itu sendiri tidak terluka, hantaman itu membuat badannya agak mencondong ke samping, tapi efek kaget dari tindakan Neil, membuatnya mematung untuk sesaat.

Kesempatannya tidak banyak, jadi Neil segera menjatuhkan meriamnya ke tanah. Dengan satu lompatan, dia menghampiri makhluk itu dan mencengkram kepala  belakang makhluk itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya telah terkepal di samping tubuhnya, siap mengayunkan tinju.

“Makan nih, Reveas ignaturia aust gatorum, lokuen,” raung Neil. Lingkaran sihir kebiruan menyelimuti lengan kanannya, sesaat sebelum tinju Neil mengenai wajah makhluk itu, gelombang hantamannya kemudian memecah udara dan menciptakan dinding tak terlihat yang membuat debu dan pasir di sekeliling mereka terangkat dan beterbangan ke sana kemari.

. Terdengar bunyi sesuatu yang remuk dari makhluk itu, saat makhluk itu terpental dan memantul belasan meter di lantai gua. Lalu berhenti saat menubruk satu stalakmit besar hingga nyaris menghancurkannya berkeping-keping. Neil mengibas-ngibaskan lengan kanannya, tampak bekas cipratan darah biru kehitaman masih segar menempel pada perban lengannya yang berwarna putih.  

Makhluk itu menggeliat kesakitan dalam keremangan gua. Tapi Neil sama sekali tidak merasa kasihan ataupun akan memberikan ampunan. Amarahnya meledak, dan tak mudah diredakan. Kali ini, bukan untuk berburu, melainkan membunuh.

“Kau sudah berbuat 2  kesalahan,” tukas Neil sambil membuka perban yang menutupi lengan kanannya. “Pertama, kau menciptakan makhluk-makluk itu, memberikan mereka kekuatan dan berlari bagai anjing dengan ekor terselip di selangkanganmu saat mereka berada di luar kendalimu. Kedua, dan yang paling fatal, kau sudah melukai teman-temanku, dan itu diluar batas kesabaranku,” desis Neil.

Saat lilitan perban terakhir telah terlepas, Neil mengangkat lengan kanannya ke udara. Tangan itu berwarna kehitaman dari ujung jari yang berupa cakar, hingga ke pertemuan pangkal lengan dan bahunya. Permukaannya sendiri bukan seperti kulit manusia, melainkan seperti kulit buaya yang berlempengkan tulang-tulang tebal, berduri di sana-sini, menutupi otot yang lembut, namun luar biasa kuat di dalamnya. Urat-urat kemerahan tampak berpijar bagai lahar panas di lengan itu. Penuh energy, penuh amarah. Neil mengepalkan tinjunya.

“Berdiri kau, kadal sialan,” raung Neil. “Akan kuukir pelajaran tak terlupakan di tubuhmu,”

******

Next issue : pertarungan sengit Neil dan makhluk misterius hingga mencapai klimaks, bertiupnya angin perubahan yang akan menentukan takdir Gaia. Dan akhirnya, saatnya membuka tirai untuk memulai petualangan sesungguhnya.

Continue Reading

You'll Also Like

136K 10.5K 28
Jauh didalam inti bumi, tersimpan sebuah tongkat ajaib yang disebut "the scepter". Tongkat tersebut merupakan inti dari seluruh alam semesta. Karen...
15K 1.3K 22
hai.. kalian ingin mendengarkan kisah tentang takdir kakak adik yang menyedihkan. sang kakak menjadi penjahat kegelapan ,dan si adik menjadi pahlawan...
Wattpad App - Unlock exclusive features