Alarm berbunyi nyaring sekali, tepat disamping telingaku. Aku mencari cari handphoneku dengan keadaan mata masih tertutup, lalu segera mematikannya.
"Hah? Jam 7? Bisa telat aku!" jeritku seraya berlari dengan cepat ke arah kamar mandi.
ZIPP..
"Good morning!" kataku sesampainya dikelas terengah engah akibat berlari lari mengejar gerbang yang nyaris ditutup.
"Gemma? Kenapa kamu telat?" tanya Mr. Robert. Aku terdiam mencari jawaban. Aku baru ingat, kemarin kan aku memikirkan Luke sampai jam 12 malam! Tak mungkin aku jujur soal itu kepada Mr. Robert.
"Kemarin saya pergi" jawabku berbohong. Mr. Robert mempersilahkanku masuk. Aku melangkah dengan tenang ke arah Luke. Keringat ini masih terus membasahi dahiku.
"Hei" sapaku kepada Luke.
Ia tak menyahut sedikitpun. Menoleh saja tidak. Yang ada, dia menggeser kursinya menjauh dari kursiku. Oh, dia masih marah rupanya denganku. iMessages ku hanya dibaca olehnya kemarin.
"Look, kalau kamu bisa mendengarkan ini semua, pasti kamu akan memahamiku" kataku lagi, dengan harapan Luke meresponku. Tapi tidak. Ia membuang jauh jauh pandangannya ke papan tulis.
"Luke.. Please dengarkan a..." ucapku terputus.
"Gemma! Aku nggak mau dengerin apa apa dari mulut kamu yang sok manis itu! Aku nggak mau berteman denganmu! Apa kamu masih belum jelas?" bentak Luke dengan nada tinggi, sehingga semua siswa memandang kami.
"GEMMA, LUKE, KELUAR!"
Ini bukan salahku sepenuhnya. Kalau saja Luke tak berteriak seperti tadi, mungkin tak akan mengambil perhatian Mr. Robert. Tapi, aku senang. Kami dapat berduaan di luar kelas. Ku lihat wajah Luke memerah.
"Maaf ya gara gara aku kita jadi dikeluarin" kataku seraya menenangkan Luke.
Ia hanya melirikku sinis sekali. Aku jadi takut dengannya. Segitu marahnya dia denganku?
Tak terasa, bell pulang begitu cepat. Hari ini hanya 2 jam mata pelajaran, pantas saja begitu cepat. Luke dengan siap mengambil tasnya dan meninggalkanku.
"Luke.." kataku seraya menarik tangannya yang hendak pergi. Ia menatapku, seolah dunia hanya milik kami berdua. Matanya yang indah.
Beberapa detik kemudian, ia melepaskan genggaman tanganku itu.
"Hati hati ya" tambahku.
**
"Gemma, kamu dan Harry putus ya?" tanya Xylie di tengah keheningan.
"Hm, iya. Memang kenapa?"
"Beritanya udah menyebar dimana mana. Dan katanya, Harry ngajak Kendall lho makan di China. Kamu nggak cemburu?"
"Enggak"
Entah kenapa, aku jadi benar benar tak perduli dengan Harry. Setelah aku tau, dia menyakitiku. Sekarang hatiku sudah menyimpan Luke. Aku terlanjur benci dengan Harry.
Sekarang sudah menginjak bulan yang ke 2 Niall dan Barbara tak menghubungiku. Tapi, aku senang karena keluarga baruku ini. Aku seperti mempunyai malaikat baru. Aku lebih banyak tertawa disini. Aku tak bisa bayangkan, kalau aku masih tinggal dirumahku sendiri. Walaupun begitu, aku kesal dengan Niall. Dari awal, aku sudah yakin, kalau Niall pasti akan melupakanku. Ia terus mementingkan Barbaranya. Bahkan mungkin sekarang aku bukan malaikatnya lagi. Sekalipun Niall berjanji akan selalu ada untukku, itu semua bullshit! Semua cowok memang suka berbohong! Aku benci!
"Gemma sayang, kamu tidur ya udah jam 8. Dan Xylie, Jack, Rose. Kalian juga tidur. Besok sekolah pagi, bisa bisa kalian telat. Good bye, mom sayang sama kalian" kata mom seraya mengecup kening kami satu per satu.
Aku sedang menggambar dikamar. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku menggambar wajah Luke. Tiba tiba, rasa kangen ini begitu dahsyat menghantamku. Dia pasti sudah tertidur.
Oh Luke. Aku begitu merindukanmu.
**
Hari demi hari berlalu. Sepertinya memang benar, Luke tak menganggapku temannya lagi. Ia masih marah denganku.
Aku sedang berbaring di ranjang, ku tutup mataku untuk beberapa menit. Lalu ku dengar, Jack memanggilku dari luar kamarku.
"Ada apa Jack?" tanyaku.
"Kakakmu dibawah," jawabnya membuatku sedikit tersontak.
Bagaimana dia bisa tau soal keberadaanku?
"Gemma!!" pekiknya seraya memelukku erat.
Tapi aku melepaskan pelukkannya dan menjauh darinya.
"Kamu ngapain disini?" tukasku seraya melempar tatapan sinis ke arahnya.
"Kamu yang ngapain disini? Ini bukan keluargamu! Kamu pulang denganku ya"
"Nggak! Aku nggak akan mau dirumah sendiri! Aku bisa gila disana! Aku nggak punya teman, aku bahagia disini!"
"Kamu nggak mungkin tinggal disini. Aku nggak akan izinin kamu disini. Ayo!"
"Lepasin dia! Dia nggak mau ikut denganmu!" kata Jack seraya menarikku ke pelukkannya.
"She's my sisters. Dan ini hak aku!"
"Kau tak mengurusnya kan? Kau lebih mementingkan boybandmu! Dia tak pantas menjadi adikmu!"
"Paul! Tolong bawa Gemma ke mobil"
Laki laki bertubuh besar, orang yang sangat ku benci. Ia menarikku ke mobil Niall secara paksa. Aku belum sempat mengucapkan kata perisahan ke mom, dad, serta Xylie.
"Jaga dirimu baik baik, Gemma! Jangan lupa datang kembali!" teriak Jack.
Selama perjalanan, aku hanya menangis terisak. "Kamu jangan nangis princess" kata Niall seraya berusaha memegang tanganku. Tapi aku menepisnya dengan kasar.
"Kamu mau ke ice cream heaven nggak?" tanyanya. Tapi aku tak menyahut. Aku masih dalam tangisku.
"Bagaimana kuliahmu? Ohiya, bagaimana dengan Luke?" tanya Niall lagi. Aku terus terdiam menatap jendela.
Akhirnya, aku sampai dirumah. Aku berlari ke kamar. Sayangnya, kamar ini tidak disertai dengan kunci. Jadi, Niall dapat masuk ke kamarku. Ia berbaring disampingku, sedangkan aku hanya mengumpat dibalik selimut.
"Sweetheart, aku ada masalah dengan Barbara. Itu sebabnya aku nggak ngabarin kamu" ucapnya.
"Aku nggak tau harus gimana? Aku hanya punya kamu dan Barbara. Jadi, tolong jangan seperti ini" kini, Niall menarik selimutku, membuat kami berdua berkontak mata.
"Barbara memang lebih penting dibandingkan Gemma! Ya kan?" kataku seraya memeluknya.
"Nggak, kalian berdua adalah tulang rusukku"
Aku mengubah posisi tidurku menjadi duduk. Begitu juga Niall. Kami ingin menjelaskan semuanya. Tentang Barbara, juga tentangku yang hidup dengan keluarga baru.
"Jadi, Barbara marah karna aku sering pergi. Bukannya dia tau, aku pergi agar aku bisa menghidupinya, dan juga kamu. Tapi dia keras kepala, menuntutku banyak hal. Bahkan dia mengancamku cerai. Barbara pergi, nggak kasih kabar sama sekali. Handphonenya nggak aktif. Aku khawatir"
"Sabar ya Niall. Perempuan memang butuh perhatian" ujarku seraya menghapus air matanya yang kian menetes.
"Kamu kenapa? Kenapa nggak mau tinggal disini? Apa karna disini rumahnya kurang besar?"
"Bukan, karna aku nggak merasakan kehangatan disini. Aku lebih nyaman tinggal dengan keluarga Fester"
"Aku janji, akan terus bersamamu babe. Aku nggak akan meninggalkanmu"
**
Niall berbaring di pangkuanku seraya memandangi bintang bintang yang berkelap kelip di langit. Sesekali, ku elus rambut blonde kesayangannya.
"Kangen sekali, masa masa ini. Masa masa kita berdua, princess"
"Iya, aku juga kangen banget!"
Niall bangun dari tidurnya.
"Maaf, atas putusnya hubunganmu dengan Harry. Aku udah coba bilang sama Harry, tapi dia nggak merespon. Aku juga kesal dengan Kendall"
"Biarin aja lah Ni. Aku lagi suka sama seseorang kok lagian"
"Siapa? Orang yang kamu sukai, beruntung sekali ya. Aku kalau jadi dia, udah aku tembak kamu! Hihi"
DEG.
Kenapa Niall harus berkata seperti itu? Jujur, ucapannya membuatku ingat tentang perasaanku dulu yang pernah ada padanya. Please, Ni. Jangan membuat aku suka denganmu. Kamu ini kakakku. Mengingat umurku dan Niall hanya beda 9 tahun, mungkin tak ada salahnya aku mempunyai rasa lain untuknya. Lagipula, cinta tak mandang usia, ataupun status.
**
Malam ini dingin sekali. Aku membongkar bongkar lemari untuk mengambil jaket. Tiba tiba...
BLUG.
Sebuah kotak yang lumayan besar terjatuh dengan keadaan setengah terbuka. Aku mengambilnya, dan membukanya.
"Oh my god" ucapku setelah melihat isi kotak itu adalah sebuah gaun yang cantik sekali. Gaun pemberian grandma, aku ingat gaun ini grandma pesan untukku pakai ketika aku bersama orang yang aku sayang. Dan kata grandma, gaun ini bisa membuat seseorang yang melihatku memakainya, mencintaiku. Mungkin ini waktunya. Aku akan memakai gaun ini, bersama Niall besok malam. Aku akan membuat pesta kecil kecilan di balkon.
"Sweetheart?" ucap Niall seraya memasuki kamarku. Dengan cepat aku langsung memasukan gaunku ke dalam lemari.
"Ada apa Niall?"
Niall duduk disamping ranjangku.
"Barbara tadi menelfonku"
"Hah? Nelfon apa? Dia ngomong apa?"
"Dia bilang, besok dia akan ke Prancis menemui kita"
"Oh!"
"Kok hanya oh? Bukannya kamu senang?"
"Senang? Dia pasti akan mengambil waktumu!"
"Kita punya waktu bersama. Itu lebih menyenangkan, kan?"
"Gak tau, ah. Kamu keluar aja deh Ni!"
Niall beranjak dari tempatnya, lalu menghampiriku yang sedang bersandar pada lemari.
"Ok. Goodnight princess" bisik Niall.
Muah.
Oh my god. Dia mencium pipiku. Aku tak dapat menahan lagi. Aku mungkin benar benar mencintainya. Tak perduli apakah dia kakakku, atau bukan. Aku semakin mengkuatkan rencanaku besok. Aku akan membuat promnight kecil kecilan bersamanya. Semoga saja, Barbara datang cukup malam.
**
2 jam lagi, Niall pulang. Dia sedang pergi ke supermarket untuk membeli stock makanan yang mulai habis. Ini kesempatan aku untuk mempercantik balkon. Niall sudah tau, kalau aku mengundangnya ke acara teh ku. Semoga ini berjalan lancar.
Aku mengambil gaun pemberian grandma, dan memakainya. Cantik sekali gaun ini! Aku sengaja meriapkan rambutku yang ikal dan coklat, agar terlihat lebih cute. Setelah siap, aku kembali ke balkon menyiapkan teh.
KREK..
Terdengar suara pintu. Itu pasti Niall. Aku menghampirinya yang sedang sibuk mengatur letak kantung plastik itu ke meja.
"Hei" sapaku.
Niall memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kakiku. Aku tersenyum manis padanya.
"Princess... Is that you? Kamu... Cantik sekali!"
"Thanks. Niall, ke balkon yuk. Kan kamu udah janji mau datang ke acara pesta teh ku?"
"Yuk"
Kami berjalan menuju balkon kecil yang ada di lantai 3 rumah kami. Suasana hening sekali. "Ini sungguh indah! Apa kamu yang mempercantik balkon ini?" tanya Niall. Aku mengangguk. "Semua ini untukmu.."
Kemudian, wajah Niall berubah. Ia menatapku. "Apa kamu begitu menyayangiku, Princess?"
"Sangat menyayangimu. Lebih dari yang kamu tau Niall"
Niall berdiri tepat di hadapanku, lalu ia menggenggam kedua tanganku. Aku sangat gugup, jantungku berebar cepat sekali. Apa yang ingin Niall lakukan? Ia mendekatkan wajahnya dengan wajahku, dan kini hanya tersisa 2-3cm saja. Aku dapat merasakan detak jantungnya, karna jarak kami memang sangat dekat. Musik melody dari kaset yang ku putar, membuat suasana lebih romantis.
?.!)/£:&@/&2!3!:£-
Niall menciumku lembut sekali. Aku membalas ciuman itu. Oh tuhan, apa yang telah aku lakukan dengan kakak kandungku? Berkali kali aku mencoba menciumnya lagi, Niall menolak dan menjauhkan tubuhnya dari hadapanku. Ia menyentuh bibirku dengan ibu jarinya. Aku hanya menatapnya penuh harapan. Ada apa dengannya?
"Gemma..." bisiknya, tetapi ia tak menatapku.
"Niall, kenapa? Ada yang salah?" tanyaku seraya mendorong pelan pipinya agar ia menatapku. Akhirnya, ku dapati mata birunya itu.
"Gemma, aku tau kamu mencintaiku. Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku.. Aku.. Hanya mencintaimu, sebagai adik. Ini bukan jalan terbaik, Gemma. Kamu sedang ada dalam pikiran yang salah. About that kiss, itu ciuman sebagai tanda sayangku kepadamu sebagai adikku"
"SIALAN KAMU NIALL!" tiba tiba, Luke datang dan berlari mendorong Niall dengan kasar. Aku melihatnya, sangat terkejut.
"What the hell do you fucking thinking? Kamu menciumnya? Kamu mau mencoba merusak masa depan adikmu sendiri, Yel? Aku nggak nyangka sama kamu! Lihat istrimu disana! Dia merasa dikhianati olehmu!" bentak Luke.
Aku dan Niall melihat Barbara berdiri di depan pintu balkon, ia sedang menangis kejar sekali.
"Niall..." panggil Barbara, lalu ia berlari. Niall tentu mengejarnya. Sedangkan aku. Aku hanya terdiam menatapi rumah tangga Niall yang kini hancur karna nafsuku. Karna kebodohanku. Aku memang dalam tujuan yang salah.
Luke, sedari tadi, ia hanya memandangiku. Ia juga terlihat kesal sekali.
"Aku nggak nyangka kamu seperti ini, Gem. Niall itu kakakmu. Ternyata selama ini hatimu untuk kakakmu? Bukan untukku?" katanya dengan membesarkan suaranya.
"Jawab Gemma! Perasaan kamu untuknya, kan? Bukan untukku? Kenapa kamu menganggap Niall seperti itu? Aku datang, berniat untuk menyatakan cintaku padamu. Karna... Aku cinta padamu! Dan Barbara, dia berdiri tepat disana, menyaksikanmu berciuman dengan kakakmu sendiri! Kamu... Cewe murahan!"
Plak.
"Udah puas kamu ngatain aku? Memang kamu pikir aku yang membuat perasaan ini? Nggak Luke. Nggak. Perasaan ini tiba tiba aja muncul. Ini nggak seperti apa yang kamu dan Barbara pikirkan. Dia menciumku karna memang dia sayang padaku! Aku capek nungguin kamu Lucas. Mending kamu pergi aja, dan biarkan aku sendiri!"
Aku berlari meninggalkan Luke. Aku mengaca acak rambutku. Acara promnight kecil kecilan yang ku buat, berjalan sangat gagal. Aku merusak segalanya. Kini, aku dan Niall tak bisa sedekat dulu, setelah ciuman tadi, membuat rasa 'tidak enak' antara aku dengannya. Aku menangis sampai tengah malam. Dari kamarku, dapat ku denga perkelahian antara Niall dan Barbara.
Barbara: kamu menciumnya! Kenapa kamu melakukan itu Yel sama anak kita sendiri? Gemma masih sangat muda!
Niall: aku udah bilang sayang, ciuman itu hanya sebagai tanda sayangku dengannya. Aku hanya mencintaimu
Barbara: ya tapi bukan seperti itu caranya Niall. Itu bukan cara terbaik!
Niall: lalu bagaimana? Bagaimana cara terbaiknya? Aku benar benar menyayanginya, wajar kan aku menciumnya?
Barbara: (menampar Niall) sekali lagi kamu melakukan itu, kamulah orang yang paling aku benci di dunia ini Yel.
Niall: but Barbara...
Barbara: i'm done! So done.
Aku terus menangis. Ingin sekali aku menemui keduanya, dan memeluk mereka. Menjelaskan semuanya. Tapi rasa malu ini, terus menghantuiku. Ini semua salahku. Apa yang ku harapkan dari seorang Niall? Satu satunya laki laki yang menyayangiku dari kecil hingga sekarang. Aku bodoh!
**
Aku terbangun dari tidurku karna dingin Prancis yang menembus kamarku. Prancis sedang musim salju. Kalau biasanya musim panas, dan terik matahari sangat menyengat, kini musim salju dan hembusan angin sangat menusuk. Dingin sekali! Hampir mecapai -1 derajat! Aku mengambil jaketku, dan keluar kamar. Di pertengahan langkahku, aku teringat kejadian kemarin malam.
Aku melihat Niall dan Barbara sedang duduk di meja makan. Mereka tak saling berbicara. Aku mengumpat, ragu ragu untuk menemui keduanya.
KRESEK..
Tak sengaja, aku menendang kantung plastik, entah isinya apa. Akhirnya persembunyianku ketahuan juga.
"Come here baby" panggil Barbara.
Aku berjalan menghampiri keduanya, dengan menundukkan kepalaku. Kalian tau? Bagaimana rasanya jika kalian ada di posisiku? Malu? Iya. Sangat.
Aku duduk di tengah tengah Barbara dan Niall. Tadinya aku sempat menolak duduk dekat dengan Niall, tapi apa boleh buat? Kini, keduanya memperhatikanku.
Mungkin Barbara tau, aku sedih sekaligus malu. "Hei baby its fine. Aku nggak marah denganmu kok. Nggak perlu takut" ucapnya pelan seraya mengangkat daguku.
Aku terdiam membisu, mematung. Keduanya sangat membuatku gugup. Rasanya aku ingin berlari sekencang mungkin, menjauh dari mereka. Dalam hitungan jam, mereka sudah seperti orang asing untukku. Tiba tiba, aku merasa tak nyaman dekat mereka. Apalagi Niall.
"Princess aku mau berbicara denganmu, di teras. Sekarang juga" kata Niall membuat jantungku ingin copot seketika.
Dia berjalan meninggalkanku dan Barbara. "Bar, aku takut. Apa yang ingin dia katakan? Kamu harus menemaniku!" pintaku.
"No baby dia nggak akan ngapa ngapain kamu kok. Temui dia ya. Dia takkan menyakitimu. Percaya padaku"
Aku berjalan menuju teras, lalu ku dapati Niall sedang bersandar di dinding. Aku menghentikan langkahku di depan tangga terakhir.
"Kenapa kamu nggak mau bicara padaku? Ayolah. Aku tunggu ucapan keluar dari mulutmu" kata Niall menatapku tajam.
"Kenapa kamu selalu diam setiap ada masalah? Kamu nggak berani bicara padaku? Pengecut sekali kamu" tambahnya lagi.
Air mata menetes dari mataku. Aku percaya, kalau Niall benar benar lebih menjaga perasaan Barbara dibandingkanku.
"GEMMETRIA BARBIE HORAN, AKU MINTA KAMU BICARA PADAKU SEKARANG! ATAU AKU--"
"OKE NIALL! AKU TAU AKU SEDANG BERHADAPAN DENGAN SIAPA. SOAL KEMARIN, BUKAN AKU YANG MELAKUKANNYA. TAPI KAMU! KAMU YANG MENCIUMKU! LALU KENAPA KAMU BERBICARA SEPERTI TADI? APALAGI ALASANMU? KAMU BILANG, AKU YANG AKAN SELALU MENJADI NOMOR SATUMU. TAPI SEKARANG KAMU LEBIH MEMILIH BARBARA. AKU MENYETUJUI KALIAN. KALAU AKU NGGAK SENANG DENGAN BARBARA, KAMU NGGAK AKAN MENDAPAT RESTU DARIKU! INGAT YA NIALL. AKU SELALU MENUNGGUMU DISINI SENDIRI. SEDANGKAN KAMU SENANG SENANG DISANA, ENTAH DENGAN BANDMU ATAU DENGAN BARBARA. KAMU PIKIR HANYA DENGAN MENTRANSFER UANG UNTUK KEBUTUHANKU CUKUP? KASIH SAYANG NGGAK ADA HARGANYA! AKU JUJUR LEBIH NYAMAN TINGGAL DENGAN FESTER! SEKALIPUN AKU TAU KALAU NGGAK ADA DARAH DAGING YANG MENGALIR DARINYA DI TUBUHKU. INGAT ITU NIALL. SEKARANG KAMU BOLEH PERGI DENGAN BARBARA! ATAU MUNGKIN AKU YANG AKAN PERGI DARI KALIAN! I'M DONE!"
Aku berlari. Sebelumnya aku melihat wajah Niall yang datar mendengar bentakkanku.
"Gemma.. Ada apa?" tanya Barbara menahanku. Tapi aku menepis tangannya itu.
Aku berlari ke kamar mandi untuk mandi, agar aku bisa segera pergi dari rumah ini.
Kalian pasti tau kemana tujuanku. Ya. Kerumah Fester. Disanalah tempatku satu satunya mendapat kasih sayang. Hidup diantara orang orang asing yang menyayangiku tulus.
*Niall Povs*
"Kamu bilang, kamu nggak akan menyakitinya. Tapi apa Niall? Kamu hanya menjadikannya pelarian? Kamu berbicara seperti itu, malah menambah masalah besar. Kamu merusak hidupnya!" bentak Barbara.
"Aku nggak berniat untuk berbicara seperti tadi. Kata kata itu keluar begitu aja dari mulutku, Bar. Aku rasa, dia butuh penjelasan soal kemarin"
"Kamu menghancurkan kebahagiaan anak kita Ni. Sekarang dia pergi. Bagaimana kita bisa membawanya pulang lagi?"
Aku berkata, apa yang seharusnya tak aku katakan. Aku berlebihan. Benar kata Gemma. Aku terlalu jahat karna sudah terlalu lama meninggalkannya. Aku dan Barbara mencari Gemma, kemana lagi kalau bukan kerumah Fester?
Tok... Tok...
"Siapa?" tanya seorang gadis yang rambutnya dikepang 2, kira kira seusia Gemma.
"NIALL HORAN???"
**
"Oh, jadi itu sebabnya Gemma pergi kemari dan menangis kencang?" tanya Xylie. Aku mengangguk. "Dia nggak mau buka pintunya Niall. Dari tadi pagi, dia hanya nangis dan menangis. Aku, Jack, mom, dan dad juga udah membujuknya. Tapi ia masih aja menangis" jelas Xylie, yang membuat Barbara semakin menangis karna mengetahui keadaan Gemma seperti itu.
"Hei Xylie. Kamarnya sudah hening. Cepat kemari!" teriak Jack dari lantai atas. Aku, Barbara, dan Xylie segera menghampirinya. Benar. Hening sekali, tak ada suara sedikit pun. Kami menggedor gedor pintunya, tapi tak ada jawaban.
"Apa ada kunci lain?" tanyaku.
"Nggak ada Niall. Kamu dobrak aja pintunya. Siapa tau ada apa apa dengan Gemma"
BRAKKK...
"GEMMA???"
Aku menancapkan gas super maximal menuju rumah sakit. Keadaannya sangat parah. Pergelangan tangan dekat urat nadinya berdarah banyak sekali. Sesekali aku menggenggam lukanya itu agar darahnya berhenti mengalir. Begitu banyak darah dibajuku serta mobilku. Seperti bukan hanya Gemma yang sakit. Tapi aku juga sakit.
"Gemma maafin aku, jangan coba membunuh dirimu karna aku princess"
Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari UGD setelah memeriksa Gemma. "Mr. Horan, bisa saya bicara sebentar?" tukasnya. Aku mengangguk, dan mengikutinya berjalan ke ruangannya. Sedangkan Barbara, ia masuk ke kamar rawat Gemma.
"Mr. Horan, sebelumnya apa anda tau penyakit yang ada pada adikmu ini?" tanya sang dokter seraya membuka kaca matanya.
"Nggak dok. Setau saya, dia sehat sehat aja. Emang ada apa?"
"Mrs. Gemma mengidap penyakit Psikosis. Psikosis merupakan gangguan tilikan pribadi yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang menilai realita dengan fantasi dirinya. Hasilnya, terdapat realita baru versi orang psikosis tersebut. Psikosis juga dapat diartikan dari suatu kumpulan gejala atau sindrom yang berhubungan gangguan psikiatri lainnya, tetapi gejala tersebut bukan merupakan gejala spesifik penyakit tersebut, seperti yang tercantum dalam kriteria diagnostik. Arti psikosis sebenarnya masih bersifat semangat dan bias yang berarti waham dan halusinasi, selain itu juga ditemukan gejala lain termasuk di antaranya pembicaraan dan tingkah laku yang kacau, dan gangguan daya nilai realitas yang berat. Oleh karena itu psikosis dapat pula diartikan sebagai suatu kumpulan gejala/terdapatnya gangguan fungsi mental, respon perasaan, daya nilai realitas, komunikasi dan hubungan antara individu dengan lingkungannya"
Aku meneteskan air mataku setelah ku dapat jawaban atas penyakit adikku dari sang dokter. Aku keluar dari ruangannya, dan menemui malaikatku yang kini terbujur kaku diatas ranjang. Bibirnya pucat sekali. Andai saja aku tak membentaknya seperti tadi pagi, pasti dia tak akan seperti ini. Aku sudah lama meninggalkan One Direction, demi menjaga Gemma. Tapi itu semua sia sia. Aku bodoh sekali. Aku tak mau menceritakan hal ini kepada Barbara. Ia pasti akan sangat menyesal. "Niall, aku menemukan ini tadi di tangan Gemma. Surat yang ia tulis untukmu" Barbara menyodorkan sepucuk surat yang penuh darah itu.
"Hi Niall. Mungkin setelah kamu baca ini aku sudah mati. Aku memang sengaja bunuh diri. Lagi pula kamu nggak membutuhkanku kan? Thanks udh menjagaku selama 16 tahun. Aku mencintaimu. Jangan mencariku. Aku pergi"
1 bulan kemudian...
Gemma masih saja koma. Aku dan Barbara semakin mencemaskannya. Bagaimana bisa, pihak rumah sakit tak mengetahui sampai kapan dia akan terus menerus koma.
Aku sudah menelfon theboys kemarin untuk datang menjenguk Gemma. Dan mereka sangat terkejut mendengar keadaan Gemma. Aku dan Barbara tak selalu menemaninya, masih ada Luke yang senantiasa menjaganya.
"Niall? Apa yang terjadi dengan nya?" tanya Zayn diiringi ekspresi kagetnya.
"Bar...bie?" ketus Harry, ia mencoba memegang Gemma. Tapi Luke menahannya.
"Jangan sekali sekali sentuh dia!" gumam Luke seraya mendorong Harry dari ranjang Gemma.
"Kamu siapa nya dia? Oh sepertinya aku kenal suaramu. Kamu laki laki yang ada di telfon itu, kan? Kamu yang membuatku putus dengan Gemma!"
"Hei dude. Sadar! Kamu hangout dengan wanita lain disaat kamu masih mempunyai hubungan dengan Gemma! Kamu seharusnya mikir kalau kamu tak pantas dimiliki oleh Gemma!"
"Itu hak ku. Lagian aku udah jelasin ke dia kalau aku dan Kendall JUST A FRIEND!"
"Stop! Udahlah, Gemma lagi sakit. Jangan membuat keributan disini! Kasian dia!" bentak Louis, sedangkan Liam meleraikan keduanya.
Harry duduk disamping Gemma, sedangkan Luke duduk di sofa seraya menatap Harry sinis.
"Barbie, kamu sadar dong. Aku kangen sama kamu" bisik Harry.
"Niall..."
Kami semua terkejut mendengar suara gadis yang lemah itu yang ternyata bersumber dari mulut Gemma. Kami menghampirinya. Ia menggerakkan tangannya, dan membuka matanya.
"Gemma kamu udah sadar sweetheart?" tanya Harry.
Gemma memang sudah membuka matanya. Pandangannya kosong ke atas. Dia terus mengucapkan namaku.
"Niall.."
"Yeah, aku disini princess. Jangan takut"
Kini, pandangannya menuju ke arahku. Ia menatapku dengan matanya yang sayu.
"Aku mencintaimu, Niall"
Aku menangis. Menangis. Aku juga sangat mencintainya. Tapi aku tak mempunyai apa apa untuk membutikkannya.
"I love you too Gemma"
**
Lega sekali, Gemma sudah di bolehkan pulang. Ia tak banyak bicara denganku dan Barbara, bahkan sekalipun dengan Luke.
"Sweetheart, kamu mau ini?" tanyaku seraya menawarkannya sekotak sereal.
Aku tak mendapat jawaban. Ternyata, Gemma tak ada di ruang televisi. Aku ke kamarnya, tepat sekali. Dia sedang duduk. Pandangannya kosong tanpa harapan. Badannya mengurus hari demi hari karna dia kurang makan semenjak kecelakaan itu.
Aku menghampirinya. "Hei, kamu mau makan?" Dan lagi lagi tak ada jawaban. Aku sangat mengkhawatirkannya.
"Niall, ada apa?" tanya Barbara, tiba tiba ia duduk di sampingku.
"Gemma sayang, kamu harus makan. Kalau nggak, kamu akan sakit. Kamu mau makan apa? Sebutkan aja"
"Aku.. Nggak lapar" ucap Gemma.
"Tapi nggak seperti ini caranya. Kamu koma 1 bulan dan kekurangan makan. Kamu makan ya? Mau aku buatin Bacon&Eggs? Atau kita makan ice cream yuk? Atau kita makan di restaurant favorite kamu di Italy, mau?"
"Barbara, aku bilang aku nggak lapar!" kali ini, Gemma mengencangkan nadanya seolah olah ia membentak Barbara.
Aku meminta izin Barbara untuk meninggalkanku dengan Gemma berdua. Mungkin Gemma butuh kakaknya, dia butuh aku.
"Gemma, kamu dengar aku kan?" bisikku.
Ia terdiam.
"Makan ya sweetheart. Aku khawatir sekali kamu kenapa kenapa. Kamu kan malaikatku satu satunya, kamu lupa, ya?"
"Bukan aku, tapi dia"
"Kamu tetap menjadi one and only Gemma"
"Seriously?"
"Yeah. Cuma kamu yang ada di hatiku"
Gemma memelukku, begitu juga aku yang memeluknya lembut.
Aku membawakan makanan ke kamarnya, dan menyuapinya 'Bacon and Eggs' buatan Barbara.
"Sore ini jalan jalan, yuk. Denganku dan Barbara?"
"Mau nggak? Jangan diam aja dong princess. Kalau kamu butuh apa apa, ngomong aja. Nggak perlu diam seperti ini. Kamu membingungkan orang orang"
"Aku nggak mau!"
"Oh yasudah. Harry nanti sore ingin datang kemari, mungkin kamu mau jalan dengannya?"
"Ya"
*Harry Povs*
Aku memakai jacketku, dan beanie UK kesayanganku. Aku berniat mengajak Barbie jalan jalan, dia butuh refreshing setelah lama di rumah sakit.
"Hi Barbie. Yuk!"
--
Kami berjalan sekitar kompleks saja karna aku tau Barbie tak suka ke mall atau ke tempat yang umumnya wanita lain sukai. Itu mengapa dia terlihat begitu sempurna.
"Tunggu sini sebentar ya" aku berlari menjauh darinya untung mengambil bunga. Ku dapati bunga berwarna merah, sama cantik sepertinya. Aku kembali berlari ke arah Barbie, dan menyelipkan bunga itu di telinganya.
"Kamu cantik sekali" kataku, ia tersenyum.
"Aku mendengar berita tentang kamu dan Niall. Perasaan itu datang lagi ya kepadamu?"
Entah apa yang salah dengan omonganku, ia terlihat sangat marah sekali. Wajahnya memerah. Juga dia mendorongku kasar.
"Jangan bicara seperti itu lagi!!!!"
Barbie berlari, aku mengejarnya. Syukurlah ia hanya berlari kerumahnya.
*Niall Povs*
BRAK.
Ku dengar suara bantingan pintu. "Gemma ada apa?" tanyaku setelah melihat ia berlari terengah engah. "Don't ever you touch me" bentaknya seraya menepis tanganku yang berusaha menenangkannya. Ia berlari ke kamar.
"Harry! Kamu apain dia?"
"Aku... Cuma nanya tentang masalahmu dan Barbie aja kok? Ada yang salah ya?"
Plak.
"Kamu tau, itu yang membuatnya menjadi seperti ini. Kenapa kamu mengacaukannya lagi?"
"Aku kan nggak tau Niall! Kalau kamu bilang, pasti aku nggak akan ngomong seperti tadi ke Barbie!"
Ini yang paling aku kesal dari Harry. Ia salah, tetapi tak pernah mau mendengarkan. Ia keras kepala dan terkadang egois. Harry masih mempunyai sifat kekanak kanakan.
"Niall, biar aku yang ngomong sama Gemma ya" kata Barbara seraya mengelus dadaku.
Aku duduk di teras. Memikirkan keadaan Gemma yang kian memburuk. Dia jauh lebih sensitive dari biasanya. Dia juga punya penyakit mental yang menganggu jiwanya. Aku takkan membiarkan Gemma lanjut kuliah di tempat umum lagi. Mungkin nanti Gemma lebih baik homeschooling.
Setelah kira kira 30 menit, Barbara menemuiku. Wajahnya terlihat tenang sekali.
"Gimana babe?" tanyaku.
"Ya, dia udah tidur. Mungkin tadi dia kelelahan aja"
"Syukurlah. Kamu udah makan Bar?"
"Nggak tau Niall, perutku sakit dari tadi. Aku juga telat datang bulan"
"Apa? Lebih baik kita periksa ke dokter! Siapa tau ada janin dalam perutmu itu, kan?"
**
"Jadi Mr. Horan, dan Mrs. Palvin, beruntung sekali kalian. Kalian dikaruniakan anak oleh sang kuasa. Usia kandungan Mrs. Palvin sedang menginjak minggu ke 2. Saya sarankan untuk Mrs. tidak banyak aktivitas, dan perbanyak istirahat ya. Jaga kandunganmu. God bless you"
Tentu aku senang sekali mendengar jawaban dari sang dokter. Mulai detik ini juga, aku akan lebih mengawasi Barbara. Setelah 1 tahun kami membentuk rumah tangga, dan sekarang keluarga ku mendapat keturunan.
**
"Morning mum" bisikku kepada Barbara yang terlihat masih terlelap. Mungkin karna kemarin malam kami (asdfghjkl...) hihi.
"Hoam.." sahutnya seraya membuka matanya perlahan.
"Masih ngantuk ya sayang? Yaudah kamu istirahat lagi ya biar nanti malam bisa lagi hehe!" gurauku seraya terkekeh.
"Apasih papa! Huh!" celotehnya seraya mencubit hidungku.
"Iya, aku buatkan kamu makanan ya? Kata dokter kan kamu nggak boleh capek. Jadi kamu harus di tempat tidur terus"
"Nggak gitu juga Niall. Lagian kan kandunganku masih 2 minggu, belum terasa juga. Aku mau melihat anakku, Gemma"
"Hm, yaudah. Aku tuntun ya mama"
"Stop calling me 'mama' Niall! Huh?"
"Ups sorry kamu kan akan menjadi ibu sebentar lagi sayang. Nggak apa dong?"
"Whatever!"
Aku menuntun Barbara ke kamar Gemma. Dan kulihat Luke tertidur disamping Gemma. Maksudku, Luke tidur di bangku seraya menggenggam tangan Gemma yang masih tertidur.
"Luke.." panggilku pelan.
"Eh, udah pagi ya?"
"Iya, kamu seharian disini?"
"I.. Iya, aku rasa Gemma tertinggal banyak pelajaran. Jadi aku semalam berniat untuk memberinya catatan, eh malah ketiduran"
"Yaudah, kamu turun gih kita sarapan bersama ya. Biar Gemma aku bangunin. Udah mau siang"
*Gemma Povs*
"Gemma princess, bangun, udah siang"
Aku mendengar suara laki laki memanggilku. Tubuhku diguncangkan olehnya. Membuat tidurku terganggu pagi itu.
"Aku masih ngantuk!" celotehku seraya mengurung badanku dengan selimut.
"Ayolah sweetheart. Kamu akan melewatkan matahari dan kicauan burung pagi ini"
Mau tak mau, aku bangun karna Niall terus membangunkanku.
"Hi, anak mum udah bangun. Kita kebawah yuk sarapan, Luke udah nunggu disana, lho"
"Ha? Luke?"
"Iya princess. Dia dari semalam menemanimu tidur"
"Oh yaudah nanti aku nyusul setelah mandi"
Kenapa Luke? Kemana Harry? Sudahlah it doesn't matter. Aku tak punya perasaan lagi dengan keduanya.
Seusai mandi, aku menuruni tangga menghampiri Niall, Barbara, dan Luke yang sudah sedari tadi menungguku untuk sarapan bersama. Aku memilih duduk disamping Niall. Ya mungkin aku masih ingat perkataan Luke saat aku ciuman dengan Niall. Dia belum meminta maaf sampai sekarang.
Untunglah. Aku tersadar dari bodohnya pikiranku itu. Bodohnya tujuanku. Niall hanya kakakku, selamanya menjadi kakakku. Tak boleh ada RASA diantaraku dengan nya. Sekalipun kataku, bahwa cinta tak mandang status. Itu SALAH BESAR.
To be continued ....