CHAMELEON

By KeequMaldris

24.6K 1.8K 94

[16+] "Terkadang jatuh cinta itu hanya karena hal yang sepele, saking sepelenya ketika ditanya 'kenapa bisa?'... More

Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Delapan
Sembilan
Sepuluh
Sebelas
Dua belas
Tiga belas
Empat belas
Lima belas
Enam belas
Tujuh belas
Delapan belas
Sembilan belas
Dua puluh
Duapuluh satu
Duapuluh dua
Duapuluh tiga
Duapuluh empat
Duapuluh lima
Duapuluh enam
Duapuluh tujuh
Duapuluh delapan
Duapuluh sembilan
Tiga puluh
Tigapuluh satu
Tigapuluh dua
Tigapuluh empat
Tigapuluh lima
Tigapuluh enam
Tigapuluh Tujuh
Tigapuluh delapan
Tigapuluh sembilan
Empat puluh
Empatpuluh satu
Empatpuluh dua
Empatpuluh Tiga
Empatpuluh empat
Empatpuluh Lima
Empatpuluh enam

Tigapuluh tiga

380 38 1
By KeequMaldris

Happy reading!

Hari ini Reynald tidak menjemputku sebab aku bilang akan berangkat sedikit siang untuk membantu nenek terlebih dulu, Reynald sempat memaksa untuk menungguku namun kutolak.

Mang Jajang yang mengantarku ke sekolah dengan motor bebek andalannya, "Makasih ya, Mang!"

"Iya sama-sama, hayu atuh Amang duluan." aku mengangguk, aku bergegas memasuki gerbang sekolah, menyapa pak satpam juga beberapa murid yang kukenal.

Ketika dipertengahan tangga aku melihat Reynald dan Nadin berjalan 4 tangga diatasku, "Yel, lo serius kan suka sama Meira?" tanya Nadin, aku mengerutkan keningku lalu memilih untuk memelankan langkah agar tetap berjarak dengan mereka.

"Iya." jawab Reynald,

"Dia sahabat gue, jangan cuma karena dia mirip sama Jasmine lo bisa seenaknya sama dia."

Aku terhenyak mendengar kalimat itu, hatiku berdenyut sakit.

"Itukan awalnya, sekarang beda, Nad!"

"Beda gimana?"

Reynald mendesah kasar tidak bisa menjawab, "Lo masih berharap sama Jasmine?" lagi-lagi tidak ada jawaban dari Reynald, aku refleks mengangguk paham jawaban yang pastinya akan keluar dari mulut Reynald.

Aku kembali berjalan normal membuat hentakan yang sedikit lebih keras sehingga Nadin menengok ke bawah, wajahnya mendadak tegang sedangkan Reynald justru tersenyum kearahku.

"Mei..." Nadin memanggilku dengan kikuk, seperti tertangkap basah sedang selingkuh.

"Gue cuma ini kok, apa... nagih Reynald buat bayar kas, iya! dia udah nunggak satu bulan soalnya." kebetulan Nadin memang bendahara kelas, tapi ku yakin alasannya ini bohong karena maksimal menunggak uang kas itu 2 minggu sebab akan diperiksa rutin oleh wali kelas.

Aku menaikkan satu alisku, "Ya kan, Rey?" ia nampak menyenggol lengan Reynald yang masih senyum menatapku, aku memutuskan untuk pergi tanpa peduli dua makhluk di depanku ini.

Nadin langsung menggandeng lenganku lalu meninggalkan Reynald sendirian, "Gue beneran, Mei."

"Iya, gue percaya!"

"Terus kenapa diem aja? masih marah sama Gab... eh, maksud gue Reynald."

Aku hanya mengangkat bahuku singkat, bertepatan dengan itu kami sampai di ruang kelas.

Deri menghampiri Nadin yang sedang merayuku untuk bicara. Pesona Deri memang tidak pernah hilang, kayaknya Deri tipe cowok idaman seluruh perempuan deh.

"Kenapa?" Nadin hanya menggeleng, Deri memberikan satu kotak susu UHT rasa coklat pada Nadin,

"Nih, semangat ya!" katanya sambil mengacak rambut chairmate-ku itu, aku bergidik ngeri melihat Nadin yang sangar mendadak melow menjadi kecewek-cewekan.

***

Seminggu ini tidak ada pelajaran sama sekali karena tiga hari lagi pembagian raport akhir semester, guru-guru lebih memilih sibuk mengisi raport ketimbang masuk kelas.

Toh, materi satu semester ini juga sudah habis. Aku yang merasa bosan dikelas memutuskan menuju GOR untuk bermain basket. Sebelumnya aku ijin kepada Pak Rahmat, guru olahraga, ingin meminjam bola basket.

Setelah mengambil bola basket digudang aku berjalan menuju GOR, sesampainya disana ada Rio dan beberapa temannya yang hanya ku ketahui Felix dan Ge, mereka sedang berbincang di sudut lapangan setelah main futsal.

Tanpa memperdulikannya aku mulai memantulkan bola itu, senyumku terangkat karena bola orange itu berkali-kali masuk ke dalam ring, tidak seperti biasanya yang selalu meleset.

"Mei..." aku menengok ke belakang mengacuhkan bola yang memantul menjauh dariku, Rio mendekat.

"Sendirian aja?" aku mengangguk lalu mengabaikannya dan berlari mengambil bola yang menggelinding dekat tribun penonton.

Rio mengajakku duduk pada tribun penonton, "Maaf ya, Mei."

"Iya, udah gue maafin."

"Gue sama Oca udah pacaran dari SMP, gue putus karena ada sedikit kesalahpahaman. Gue emosi, dia juga emosi."

"Maksud lo cerita apa nih?" aku memantul-mantulkan bola ditempat.

"Gue kira move on itu gampang, jujur, gue nyaman dideket lo! lo cewek yang asik."

"...tapi nyatanya gue emang masih sayang sama Oca."

"Ya terus... hubungannya sama gue apa?"

"Maaf udah nyakitin lo." Aku terdiam, Rio juga.

"Kita baikan ya? mulai sekarang berteman." Rio mengacungkan jari kelingking di depan wajahku, aku menghela nafas tanpa menyambut ulurannya,

"Iya."

Rio tersenyum kikuk, "Makasih ya, lo emang baik." ia mengacak poniku yang kemudian ku hindari.

"Sebagai permintaan maaf, pulang nanti gue traktir es krim vanilla chocochip. Tertarik?"

Aku memandangnya, "Gak usah, nanti lo baper lagi sama gue." Ia tertawa lalu mengambil bola basket dariku, ia bermain sendirian sebab aku memilih untuk mengusaikan permainan basketku.

Biarpun tidak cukup ahli, namun permainan Rio lumayan juga.

"Gue cariin ternyata lagi nemenin mantan main basket." Reynald datang, ia berdiri menghadap lapangan, matanya memperhatikan Rio yang berlari kesana kemari mengejar bola, bukan mencari alamat ya.

Aku hanya terdiam, ingatanku kembali pada obrolan dirinya dengan Nadin tadi pagi.

Reynald mendekatiku hanya karena aku mirip dengan mantannya, Jasmine.

"Woi, gue lagi cemburu nih!" Reynald melihatku yang terduduk sambil memainkan jari diatas layar handphone.

"ck!" Reynald kini ikut duduk disampingku, menghadapku.

"Ngapain sama Rio disini?"

"Nemenin dia main basket." ucapku singkat tanpa mau menatapnya.

"Bohong." aku menggedikkan bahu, tidak peduli dia mau percaya atau tidak.

"Jasmine itu bukan siapa-siapa, temen doang!"

"Jasmine siapa... gue gak kenal." sahutku cuek.

Ia menarik daguku membawa pandanganku padanya. "Lo gak percaya sama gue?" katanya menatapku lekat-lekat.

Aku menepis tangannya,
"Kadang gue mikir, gak mungkin seorang Reynald Gabriel Atmaja suka sama gue, tapi tanpa sengaja lo selalu menampik pikiran gue itu dengan perlakuan manis lo."

"...Terlalu banyak pertanyaan di otak gue, tentang Felia, Nadin, Oca dan kali ini Jasmine. Bener kata lo, mana ada cowok yang suka sama gue."

Aku terdiam lama setelah berkata itu, sakit hati tidak lagi mampu kusembunyikan, rasa marah dan kecewa bercampur aduk. Sekuat tenaga aku berbicara setenang mungkin, tidak ingin terlihat lemah jika menangis.

"Gue gak tau apa isi hati lo, Rey! Lo kayak bunglon yang bisa berubah sewaktu-waktu. Kadang gue takut, lo bakal berubah selamanya ketika gue udah jatuhin hati sepenuhnya." Aku bermonolog karena Reynald hanya diam menatapku.

"...gue mau berhenti." ucapku final.

"Jangan berhenti bodoh, lo ngehalangi jalan orang yang mau masuk." Ucap Reynald setelah menghela nafas yang ditahan sedari tadi.

Aku menengok ke arahnya, hatiku panas, jantungku berdetak tak beraturan.

"Kalau gitu biar gue pergi."

"Silahkan, pergi aja." jawabnya singkat. Aku memejamkan mata, akhirnya satu tetes air mataku jatuh. Aku langsung bangkit dari tempat dudukku, begitu juga Reynald.

"Tapi kemanapun lo pergi, gue harus ikut." Reynald berjalan mendahuluiku yang masih terbengong sebab perkataannya.

"Ayo! lo mau pergi ke mana? gue anterin." Ia berbalik setelah menyadari aku tidak mengikuti langkahnya.

Aku berjalan pelan mendekat ke arahnya, ia langsung merangkulku posesif.

"Jadi mau es krim atau surabi telor?"

"Dua-duanya." cicitku sambil menunduk, kedua sudut bibirku sedikit terangkat, Reynald selalu punya cara untuk memberiku jaminan bahwa yang ada difikiranku itu salah, tanpa menyalahkan.

Ia selalu punya cara berbeda untuk menjelaskan apa yang terjadi, tidak langsung menjelaskan ketika aku marah, karena katanya percuma.

Tunggu sampai kepalaku dingin jadi bisa menerima apa yang ia jelaskan.

***

Reynald turun membeli surabi telor Mang Omay, surabinya cukup terkenal dan enak, satu tingkat diatas surabi Ni Imah yang hanya buka pagi hari.

Kami memutuskan untuk makan surabi itu di kedai eskrim.
Sesampainya di kedai es krim, Reynald sibuk mengorek isi tasnya mengambil dompet dan juga kresek hitam yang langsung ia masukkan saku.

"Apaan tuh?"

"Rokok." ia menaik-turukan kedua alisnya, "Buang gak!"

"Enak aja, mubajir." Ia langsung turun dari mobil sambil membawa kotak berisi surabi telur.

Aku yang merasa kesal memutuskan untuk diam didalam, Reynald berjalan mengitari mobil lalu membuka pintu mobil dibagianku.

"Ayo turun! manja amat, minta di bukain segala."

"Gue gak suka deket-deket sama perokok, nanti mati muda." sahutku dengan tatapan kedepan.

"Bawel," ia memaksaku turun, aku berdecak kesal mengikuti langkahnya dari belakang.

"Mau es krim apa?" Aku hanya diam, menyerah dengan sifat kekanak-kanakan ku, ia menyuruhku duduk lalu bergegas memesan es krim.

Aku mengambil duduk di kursi ujung ruangan, sengaja kupilih karena letaknya dekat dengan AC, hari ini entah mengapa terasa panas sekali.

Reynald kembali membawa dua cone eskrim rasa vanilla chocochip dan choco oreo. Ia menyerahkan es krim vanilla padaku, aku menerimanya dengan raut wajah yang kuusahakan datar.

Padahal ingin rasanya tersenyum senang karena tanpa meminta ia sudah tau apa yang ku mau.
Ia membuka kotak surabi telor, lalu mengambil kresek hitam di saku celananya.

Mau tau isinya apa? Bukan rokok, melainkan lilin ulang tahun. Aku mengernyit heran melihatnya.

"di tancepin rokok dulu, cuuy... biar asik!" katanya seakan menyindirku, tangannya sibuk membuka bungkus lilin itu.

"Gaya baru kita, tiup lilin pake rokok." ia masih berbicara sendiri. Aku berdecih, ia menancapkan lilin itu pada empat surabi yang ada didalam kotak, lalu menyalakannya dengan korek.

"Tiup rokoknya, tiup rokoknya, tiup rokoknya sekarang juga, sekarang jugaa... sekarang juga."

Ia mengangkat kotak surabi itu ke arahku, aku tidak bisa menahan tawaku, "Liliiiiin..." aku membenarkan, namun Reynald tak juga menghiraukan.

Terharu rasanya, tidak percaya bahwa Reynald punya fikiran se-absurd ini.

Aku meniup lilin itu, namun tak kunjung mati. "bodo ah! capek!" Reynald tertawa lalu turut membantu meniupnya.

Lilin sudah mati, namun tawaku tak kunjung berhenti.

"Maksudnya apaan?"

"kue... hahaha, kemaren gue lupa mau beli tart. Jadi surabi aja."

"Kan ulang tahunnya udah dari seminggu yang lalu."

"Yaudah lah..." jawabnya enggan berdebat. Aku memulai aksi mencomot surabi telor lalu dicolekkan pada sambal tempe, enak, parah.

"Mei..."

"Iya?"

"Gue akuin lo emang mirip sama Jasmine, tapi deket sama lo gak ada sedikitpun terlintas cuma karena lo mirip sama dia."

"...dulu gue deket sama Jasmine, dia punya sahabat namanya Bella yang ternyata suka ke gue. Waktu Bella tau gue sukanya sama Jasmine, Bella marah terus Jasmine ngejauhin gue karena dapet bully-an dari antek-anteknya si Bella yang juga suka ke gue. Lo pernah tanya kenapa gue cuek kalo lagi didepan banyak orang, ya ini, takut ada salah paham lagi."

"Cinta bertepuk sebelah tangan?" aku mengejeknya, ia tertawa.

"Emang segitu miripnya ya gue sama dia?"

"Enggak juga sih,"

"Bohong!"

"Bener..."

"Gak percaya!" elakku,

"Iyaa... dia kalem, lo galak, dia lemah-lembut, lo bar-bar, dia pinter, lo bego, dia cantik..."

"Dia cantik, gue enggak... tau gue! udah gak usah dilanjutin."

"Kata siapa?" aku memasang wajah bete, malas untuk menjawab pertanyaannya,

"...orang lo lebih cantik."

"Gak kemakan gombalan lo! udah kenyang nih makan surabi!"

Ia terkekeh, "Jangan pernah berfikir untuk berhenti lagi, apalagi pergi. Jangan, Mei!" ucapnya menatapku serius.

Aku tidak suka dengan situasi serius seperti ini jika bersamanya, karena akan menimbulkan kecanggungan.

Aku memang pribadi yang tidak suka serius jika bukan membicarakan soal ujian, bukan berarti aku tidak mau serius dalam menjalani hubungan.

Tapi bagiku jika suatu hubungan terlalu difikir dan dijalani sangat serius yang ada malah tegang, jadi gampang putusnya.

"Rey, gue mau nanya deh." aku beralih pada topik pembicaraan lain.

"Apa?" katanya dengan nada lembut dan tenang.

"Kenapa bonekanya dinamain Reygan?"

"Itu singkatan, Reynald Ganteng. hahaha..."

Aku berakting seperti ingin muntah, "Sejak kapan ada buaya yang ganteng? Yang ada buaya burik, dekil, bau." ucapku polos, Reynald terbahak mendengarnya.

"Ehiya, kemarin Yani minta nomer lo."

"Buat apaan?"

"Gak tau, suka kali..."

"Berani banget dia,"

"...minta nomor cowok ke pacarnya langsung." sambungnya setelah berhenti beberapa detik.

Aku mengigit bibir dalamku agar tidak tersenyum, "Sejak kapan gue jadi pacar lo?"

"Ohiya, lupa. masih calon." Ia mengedipkan matanya sambil tersenyum menggoda.

"Idih, Pe-De banget lu."

"Harus dong, orang ganteng kalo gak Pe-De kegantengannya mubajir." sahutnya dengan cengiran khas lalu mengambil potongan terakhir surabi telur.

TBC

#SAPAAUTHOR

Yaaaak akhirnya bisa upload juga wkwkwk terimakasih yang masih setia menunggu, tunggu terus kelanjutan dari kisah Reynald dan Meira yaa.. btw, konflik puncaknya masih rada lama karena aku mau bikin konflik pas hampir2 tamat, sekarang nikmatin kegemesan sikapnya Reynald ke Meira dulu. semoga kalian gak bosen ya hehe.. luv ya <3

Continue Reading

You'll Also Like

119K 3.2K 6
"Udah tau gue ngak suka lo deket cowok lain masih aja ngeyel gue nikahin juga lo" Berisi konten dewasa harap bijak dalam menanggapi .
278K 7.9K 17
𝓡𝓮𝓰𝓻𝓮𝓽 𝓲𝓼 𝓪𝓵𝔀𝓪𝔂𝓼 𝓬𝓸𝓶𝓮 𝓽𝓸 𝓵𝓪𝓽𝓮. 𝓐𝓹𝓹𝓻𝓮𝓬𝓲𝓪𝓽𝓮 𝔀𝓱𝓪𝓽 𝔂𝓸𝓾 𝓱𝓪𝓿𝓮, 𝓫𝓮𝓯𝓸𝓻𝓮 𝓲𝓽 𝓽𝓾𝓻𝓷𝓼 𝓲𝓷𝓽𝓸 𝔀𝓱𝓪𝓽...
5.5M 387K 90
Nareshta Ravaleon Arkana, si tampan populer di SMA Ganesha. Playboy sejati yang tak pernah kehabisan daftar nama cewek untuk ditaklukkan. Baginya, ci...
212 11 7
Katanya cinta masa sekolah itu paling murni dan jujur, tapi kenapa serumit ini sih? Gue, Raina. Cewek yang udah terbiasa jadi dewasa sebelum waktunya...
Wattpad App - Unlock exclusive features