Hujan mulai turun dengan deras seolah mewakili apa yang sedang Krystall rasakan.
Krystall mendengar semuanya dengan cukup jelas. Tidak perlu meminta penjelasan, ia sudah cukup mengerti. Hadirnya di hidup Kai beserta calon anaknya bukan keinginan Kai, hanya sekedar tanggung jawab.
Miris sekali.
Krystall berusaha meredam suara tangisnya, ia tak mau ketahuan sedang menangis oleh Keila. Tak hanya hatinya yang sakit, perutnya pun terasa sakit seolah calon anaknya turut merasakan apa yang ia rasakan.
"Nak, tenang ya! Kamu masih punya mama! Mama sayang banget sama kamu, nak! Hiks" Krystall berusaha menarik nafas dan menghembuskan nafas, berharap rasa sakitnya menghilang.
"ASTAGA! KEILA! TOLONG!! SAKIT!!"
Dobrakan pintu terdengar kencang, Kai masuk dengan wajah yang super duper khawatir namun, bukannya membuat Krystall luluh melainkan sedih.
"Dia hanya berusaha bertanggung jawab"
Sebuah suara mengingatkannya, Krystall tersenyum miris di tengah-tengah rasa sakitnya.
"Kamu kenapa, Tall?!" Tanya Kai dengan panik di belakangnya ada Keila yang ikut-ikutan panik.
"Keila, perut kakak sakit! Tolong telpon dokter suruh kesini!" Jawab Krystall menyuruh Keila, mengabaikan Kai.
"Iya, ka! Aku telpon dulu, kakak tahan ya!"
Keila keluar ruangan dengan panik sambil menghubungi dokter keluarga mereka. Kai mengelus perut Krystall dengan lembut.
"Anak papa kenapa? Kangen sama papa?"
Ajaibnya, perut Krystall tak terasa sakit lagi. Krystall terisak. Anaknya seolah tidak mau dijauhkan dari ayah kandungnya.
"Mama juga gak mau ngejauhin kamu dari papa kamu, sayang! Tapi mama mau papa kamu bahagia, tolong mengerti!" Batin Krystall.
"Kamu kenapa nangis, Tall? Sakit banget ya?" Tanya Kai dengan lembut.
Krystall menggelengkan kepalanya "udah gak sakit. Makasih. Tolong panggilin Keila!"
"Kamu cerita, Tall. Jangan diem aja. Aku ada salah?"
"Kamu ngerasa gak? Kalo gak ngerasa, ya udah. Aku mau tidur. Cape. Jangan ganggu aku"
Krystall memilih memunggungi Kai dan berpura-pura menutup matanya seolah-olah tertidur. Kai menghela nafasnya kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuh Krystall, lalu mencium keningnya "sleeptight, Tall"
"Bang Kai—"
"Dokternya gak jadi, perut Krystall udah gak sakit. Makasih, Kei!" Potong Kai membuat Keila menganggukan kepalanya.
♟♟♟
Kai menatap figura foto di depannya, ia hanya mampu menghela nafas. Entah apa yang terjadi pada hatinya, mendengar ucapan Keila tadi, rasanya ia mungkin takkan sanggup membayangkannya.
"Kalo ka Itall tau, terus milih pergi bawa anak kalian gimana, bang? Abang pernah mikir sampe kesana gak sih? Seberapa kecewanya ka Itall kalo tau apa yang abang lakuin? Abang sanggup kehilangan ka Itall sama calon anak kalian?"
Kai menutup matanya berusaha menyadarkan dirinya sendiri, hal itu tidak akan terjadi. Krystall tidak akan tahu, rumah tangganya aman. Hara juga aman. Kesalahpahaman dan dalang dari semua ini akan terungkap. Ia yakin itu.
Nyatanya takdir tidak sebaik dan semulus itu, Kai.
Kringgg
Hyorin's Calling...
Kai mengangkat teleponnya, ada apa Hyorin menghubunginya kembali setelah sekian lama?
"Hallo"
"Kai, kamu tau Hara masih hidup?"
"Aku baru ketemu kemarin"
"Aku tau siapa dalangnya"
"Siapa?"
"Gak gratis, Kai. Aku kangen kamu"
Kai mengernyit jijik mendengar suara Hyolin. Kai paham betul apa yang Hyolin mau.
"Maaf, Hyo! Aku udah punya istri"
"Iya, aku tau, jdi Krystall lebih berharga dari Hara?"
"Dua-duanya sama berharganya buat aku. Kalo kamu gak mau kasih tau, ya udah gapapa. Aku gak butuh bantuan kamu"
"Hahaha, Kai kamu tuh serakah tau gak? Cih, apa bagusnya Hara sama Krystall sih?! Sama aku aja masih—"
"JANGAN HINA KRYSTALL! DIA 100% LEBIH BAIK DARI KAMU DALAM SEGALA ASPEK!"
Tuttt
Entah kenapa mendengar ada orang yang menjelek-jelekan Krystall, ia bisa semarah ini. Karena Krystall atau Hara sebenarnya? Kai pusing memikirkannya. Ketika ia hendak memejamkan mata, ponselnya kembali berbunyi.
Hara's Calling
Kai dengan terburu-buru mengangkat teleponnya.
"Hallo"
"Iya, Ra? Ada apa?"
"Aku mau ketemu, bisa?"
"Bisa, Ra! Kapan?"
"Besok, jam 2 di Mawar Cafe"
"Oke, Ra! Aku pasti dateng"
"Ya"
Tuttt
Kai tersenyum, tapi ia sedikit bingung debaran jantungnya menghilang. Ia senang tapi tak ada debaran seperti dulu, debaran seperti saat ia menggenggam tangan Krystall, memegang perut Krystall.
Kai menggelengkan kepalanya, apa mungkin ia jatuh cinta pada Krystall? Itu urusan belakangan, yang terpenting ia bisa menyelesaikan masalah ini dan memulai rumah tangganya dari awal. Nyatanya, Kai terlalu percaya diri atas semua yang terjadi.
♟♟♟
Krystall mematut penampilannya di cermin, hari ini, ia ada jadwal untuk cek kandungannya. Ia berharap Kai bisa mengantarnya kali ini untuk melihat jenis kelamin anak mereka, walau sekedar tanggung jawab.
Krystall menarik nafas kemudian menghembuskannya "semangat! Gak boleh cengeng! Kasian dede bayinya!"
"Mau kemana kamu?" Tanya Kai yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Ya ampun, Kai! Kalo aku jantungan gimana coba? Biasain ketok pintu coba, kalo aku lagi ganti baju gimana?" Omel Krystall, ia berusaha keras agar terlihat seperti biasa.
Kai terkekeh kemudian menampilkan senyuman miring andalannya "kan aku udah sering liat, jadi gapapa dong"
Krystall memutarkan bola matanya dengan malas "aku mau ke dokter kandungan, bulan lalu kamu janji mau ikut, masa lupa sih?"
Kai menepuk jidatnya dalam hati merutuki dirinya sendiri yang bisa lupa dan seenaknya bilang 'ya' dengan Hara.
"Err Tall?—"
"Mau bilang gak bisa lagi? Ya udah gapapa, Kai. Aku ngerti kok kalo kamu sibuk banget, mau ke kantor 'kan? Ya udah aku sendiri aja" potong Krystall berusaha kuat menahan tangisnya dan bersikap bodo amat di depan Kai. Padahal ia kira, Kai berpakaian serapi dan sesantai itu untuk menemaninya cek kandungan ternyata, ia terlalu banyak berharap.
Kai menghela nafas "maafin aku, Tall. Aku janji—"
"Janji terus aja, Kai! Sampe bayi aku lahiran" sindir Krystall sembari mengambil tas tangannya kemudian, pergi begitu saja. Hatinya sudah tak kuat berhadapan dengan Kai.
"Brengsek" umpat Krystall dalam hati.
"Maaf, Tall!" Kai menunduk, rasa bersalah itu kembali hadir.
Kai harus membatalkan pertemuanya dan Hara, demi Krystall, apa ia bisa?
Kringgg
Hara's Calling...
Tepat sekali, oke, Kai, kamu pasti bisa!
"Hallo, Kai?"
"Iya, Ra?"
"Kamu dimana? Aku udah di cafenya nih. Bilang aja reservasi atas nama Dyo"
"Aku otw nih, kamu tunggu disitu ya! Bentar!" Sial, bodo kamu, Kai! Nyatanya Kai tidak pernah dan tidak akan bisa membatalkan janjinya untuk Hara.
"Oke, Kai! Aku tunggu. Aku bawa Una juga, maaf ya!"
"Iyaa, gapapa kok! Aku suka Una, dia lucu kaya kamu. Tunggu aku ya!"
"Hehe, Sip"
Tuttt
Kai mengambil kunci mobil dan dompetnya, kemudian berlari dengan cepat ke arah garasi.
Sekali lagi, Krystall mendengar itu semua. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping. Ia tak tahu apa gunanya lagi, ia disini. Kai rela membatalkan janjinya untuk mengantarnya ke dokter demi bertemu Hara?! Krystall jadi iri dengan sesosok peremluan bernama Hara itu.
"Aku harus buntutin, Kai! Aku gak bisa biarin anak aku kehilangan ayahnya"
B E R S A M B U N G
Cekk cekkk
Hellow, guys. Makasih ya buat kalian yang komen dan tetap setia menunggu JVA, berkat kalian, aku hari ini update lagii 😘💖
Aku termotivasi ngeliat komentar kalian yang masuk tapi belom aku bales+baca satu" hehe. Makasih yaa readers :* aku sayang kaliannn
Jangan lupa VOTE and COMMENT lgi ya guyss :*