Pagi ini, Seoul Chodeunghakgyo setelah liburan semester kemarin tampak ramai oleh anak-anak yang berlarian. Kebanyakan dari mereka saling berteriak kala melihat teman yang sudah lama tak bertemu, ada pula arena permainan sudah sesak oleh mereka untuk bermain di sana, beberapa orang tua juga nampak saling bertukar cerita dan sesekali melempar senyum satu sama lain.
Tak berbeda pula dari sosok kecil yang melangkah dengan begitu semangatnya. Senyum yang menampilkan deretan gigi putih menyapa beberapa wali murid dan guru di sana. Bibirnya semakin melengkung ke atas kala melihat seseorang kemudian berlari sembari memegang tali ransel di sisi tangannya.
"Selama pagi, Paman! Waaa!" serunya seraya mengamati sekitar, "Bunganya banyak! Cantik!" pujinya sampai membuat bola mata itu menyipit karena senang.
Laki-laki yang bertugas sebagai tukang kebun itu tertawa kecil, ia menaruh gunting besar sedikit jauh dari jangkuan anak tersebut dan bersimpuh di sana, "Selamat pagi, Jaemin. Bagaimana liburanmu? Senang bisa kembali ke sekolah?"
Responya begitu semangat dengan menganggukkan kepala, "Sekolah itu menyenangkan. Tapi Jaemin lebih suka tidur," adunya masih dengan senyum yang mengembang.
Jawaban polos itu membuat yang lebih tua juga ikut tertawa, jemarinya mengusak rambut hitam tipis si kecil, tangan satunya merogoh salah satu kantong celana dan di sana ada sebuah bungkus kue cokelat, "Ini untuk Jaemin," kata beliau seraya menaruhnya ada telapak tangan mungil itu.
Tetapi Jaemin menggelengkan kepalanya tanda tidak mau, "Jaemin sudah sarapan. Paman saja, supaya kuat untuk membuat sekolah indah," pesan menggemaskan itu membuat laki-laki tersebut menyunggingkan senyum kecil, masih kekeuh untuk memberikannya.
"Untuk makan siang, Paman tidak mau Jaemin kelaparan nanti. Oke? Katanya ingin dokter," godanya seraya menyentuh hidung mungil miliknya, "Jaemin harus sehat dan makan siang itu penting."
Sejenak, si kecil berpikir menatap kue tersebut dan seulas senyum terukir di sana, "Terima kasih, Paman!" soraknya lebih keras supaya perut yang berbunyi miliknya tidak terdengar oleh siapapun.
***
Selain Paman tukang kebun yang menjadi favoritnya, ada beberapa lagi masuk dalam daftar tersebut. Jaemin sudah menaruh ranselnya di dalam kelas kemudian ia akan keluar lagi untuk berdiri di lobby — tempat biasa jika mereka yang turun dari mobil pribadi.
"Mark hyung!" panggilnya seraya berlari kecil sedang yang dipanggil merentangkan kedua tangan untuk menerima pelukan tersebut.
"Halo, buddy!" sapanya dengan jemari yang mengacak rambut Jaemin, keduanya saling tertawa.
Oh berbicara tentang Mark, dia duduk di bangku kelas tiga. Putra dari keluarga Lee yang begitu terkenal, sang Ayah seorang aktor dari semenjak masa muda sedangkan Ibunya menjadi wali kelas empat di sekolah tersebut.
"Selamat pagi, Jaemin," suara lembut itu berasal dari wanita paruh baya dengan rambut kecokelatan yang tergerai bebas, menampilkan senyum cantik membuat si kecil membalasnya pula.
Tubuh mungilnya sedikit membungkuk untuk menyapa, "Selamat pagi Ibu Guru Cantik," godanya yang mana membuat Mark dan sang ibu tertawa. Memang manis panggilannya untuk ibu tiga anak tersebut.
Di sisi mobil lainnya, terdengar pintu terbuka dan menampilkan sosok laki-laki yang menjulang tingga, "Siapa yang berani-beraninya menggoda istriku?" suara baritone itu justru membuat Jaemin tertawa kecil, wajah yang terlihat galak tak membuat senyum itu luntur.
"Halo Paman aktor!" sapanya dengan kepala mendongak, melihat itu laki-laki tersebut bersimpuh dengan menempelkan kening mereka.
"Sudah kubilang kan untuk memanggilku Uncle JJ, dasar. Jangan menggoda istriku lagi atau kau akan — suara pekikan dari si kecil membuat suasana ramai reuni singkat itu, tubuhnya diangkat menjulang tinggi dengan suara monster yang dibuat-buat.
Beberapa saat mereka bergurau di sana sampai pintu mobil yang terbanting keras begitu terdengar. Kedua orang dewasa itu menoleh pada si anak tengah yang berjalan gontai ke samping kakaknya.
"Halo, Jeno-ya!"
Dehaman pelan hanya menjadi responnya. Wajahnya terlihat masam seperti menahan amarah. Mark mengusak rambut sang adik dengan gemas, "Ayo, Jeno! Senyum! Liburan telah usai, jangan bad mood terus," goda si sulung yang dibalas dengan dengkusan kecil pula.
"Mama kan seorang Guru, tidak boleh apa aku libur lebih lama lagi?"
Wanita paruh baya itu tertawa kecil menanggapi permintaan sang anak, "Tidak boleh, Sayang. Itu melanggar kode etik seorang guru."
Bibirnya mengerucut, "Jisung enak sekali tidak sekolah. Pasti games-ku sedang dimainkan saat ini," decaknya dengan guratan pada dahi yang terlipat.
"Ma, Pa, aku ke kelas dulu," pamit si sulung seraya berlari menghampiri beberapa temannya. Terlalu malu untuk memberi kecupan lagi pada orang tuanya.
Jaemin sudah diturunkan oleh Tuan Lee yang langsung berdiri di samping Jeno, tangannya melambai kecil menyapa teman satu kelas tersebut.
"Baiklah, Papa pergi dulu, jadi anak yang baik," ia menunduk untuk memberikan kecupan pada puncak kepala sang anak yang lagi-lagi ditolak dengan erangan kecil.
Setelahnya ia menatap Jaemin dengan alis yang terangkat sebelah, "Kau tidak memberikan pelukan pada Paman tampan ini?"
"Boleh?" tanyanya dengan bola mata yang membulat untuk meminta ijin.
Tanpa bertele-tele, ia memeluk si kecil Jaemin dan memberikan kecupan pula pada kening tersebut, "Paman akan sedih kalau kau tidak memberikan pelukan."
Walaupun jarak rumah mereka hanya beberapa bangunan, tetapi tetap saja mereka tidak pernah bertemu selain di sekolah. Sosok Jaemin yang lebih tidak pernah keluar dari rumahnya karena taman bermain di komplek rumah pun tak ada yang mengenal sosok manis tersebut.
Setelah suaminya pergi dan juga Jeno entah ke mana meninggalkan wanita tersebut dengan Jaemin sendiri. Keduanya melangkah bersama melewati lorong sekolah. Sembari mendongak, si manis mengulurkan tangannya tiba-tiba.
"Biar Jaemin bawakan, Ibu Guru Cantik," tawarnya dengan mimik raut wajah manis.
Han Chae yong namanya, menyunggingkan senyum kecil. Tangan yang tak membawa tas itu justru meraih uluran tangan dan menautkan jemari mereka, "Lebih baik saling bergandengan, jadi kalau jatuh Jaemin bisa membantu Ibu Guru untuk bangkit."
Bibir mungil itu membentuk senyuman, jemari kecilnya semakin erat menggenggam rasanya, tidak ada bantahan lagi kala mereka mengambil langkah bersama. Sudah menjadi biasa juga pemandangan tersebut, Jaemin akan selalu mengantar guru favoritnya sampai di ruangannya dengan selamat.
"Sekarang, kembali ke kelas dan siapkan buku untuk pelajaran pertama," usapan pada puncak kepala membuat anak itu mengangguk semangat.
Dari ambang pintu, Chae yong hanya menatap punggung si kecil sampai menghilang dari belokan lorong, ranumnya mengulas senyum kecil.
"Semoga harimu menyenangkan, Jaemin."
—
Lee Jung Jin dan Han Chae Yong