Sinbi masih saja mengumpat kala melihat mata bengkak Jimin yang kini sudah tertutup. Ya, Jimin tertidur di kamarnya karna kelelahan menangis.
"Kim Taehyung brengsek"umpat Sinbi lagi.
Drrt drrt drrt
Jinnie eonnie is calling...
"Yeoboseyo, eonnie?"
"Sinbi-ya, apa Jimin bersama mu?"
"Iya, eonnie. Sepertinya menginap karna sudah tidur"
"Syukurlah. Ponsel nya tidak aktif ya? Eonnie khawatir"
"Mungkin Jimin lupa men-charge. Jimin baik-baik saja, eonnie"ucap Sinbi mencoba menenangkan kakak sahabatnya itu.
"Titip Jimin ya?"
"Siap, komandan"
"Aigoo anak baik, yasudah cepat istirahat. Selamat malam, Sinbi-ya"
"Selamat malam, eonnie"
Pipp
"Kau berhutang banyak padaku hari ini, mochi"gumam Sinbi sembari membenahi letak selimut Jimin.
.
.
.
"Aku pasti sudah gila"
Tukk
"Aissshh"
"Ya, kau memang gila, datang kemari hanya untuk berbicara sendiri sejak tadi"
Taehyung mendengus kasar saat mendengar ucapan Sungjae yang sudah sukses memukul belakang kepala nya menggunakan gelas.
"Berisik"
"Kau ini kenapa? Sudah 2 hari ini uring-uringan. Ada masalah? Biasanya kau menyelesaikan masalah mu dengan minum dan wanita kan? Apa sudah tidak mempan?"
"Diam saja kau"
"Oh tunggu, apa ini karna si cantik Jimin itu?"goda Sungjae.
"Tidak ada hubungannya dengan gadis itu"
"Ada. Wajah mu mengatakan nya dengan jelas"
"Sok tau"
"Kau terpuruk karna gadis lugu itu? Woww, kejadian langka macam apa ini?"olok Sungjae.
"Ck"
"Minum saja lalu pilih wanita disini, besok pasti sudah lupa. Lagipula gadis itu akan kembali memohon padamu"
Taehyung tak menanggapi tapi tangan nya meraih gelas kaca di depan nya, meminum sisa cairan disana lalu kembali mengisi nya, begitu terus hingga lelaki itu benar-benar mabuk.
"Hihihi Ji.. Hik, kau pas hik ti akan mencari hik ku. Kan? Ya? Pas hik ti!"seru Taehyung.
"Ah dia mulai tak terkendali, hei bawa dia"seru Sungjae pada seorang wanita tak jauh dari mereka.
"Kemana?"
"Atas saja, kalau dia mau bermain ya layani. Dia merepotkan"keluh Sungjae.
Wanita tadi membawa Taehyung masuk ke dalam kamar yang memang di sediakan club itu.
"Hei, tampan. Ingin bermain sebentar dengan ku?"bisik si wanita dengan nada menggoda nya.
Taehyung menyeringai sebelum menyerang wanita itu tanpa ampun. Kita pasti tau apa yang terjadi setelah nya kan? Dasar lelaki!
.
.
.
"Hei, cantik ku. Senyum pagi ini mana?"
Jimin menoleh, tersenyum kala mendapati Jungkook berjalan menghampiri nya. Keduanya adalah teman sejak SMP namun berkuliah di universitas yang berbeda.
"Ada apa pagi-pagi kemari, Koo?"tanya Jimin.
"Menjemput baby boo ku sayang"
Plakk
Jungkook mengaduh kala pukulan mendarat di lengan nya.
"Jangan memanggil ku seperti itu lagi. Orang bisa salah paham"omel Jimin.
"Aku akan berhenti saat sudah punya kekasih. Tenang saja, boo"
"Terserah mu"
"Berangkat sekarang?"
Jimin mengangguk setuju.
"Kau tidak ada kuliah pagi?"tanya Jimin setelah mobil mereka melaju.
"Tidak, aku libur hari ini"
"Aku bisa berangkat sendiri kalau begitu"
"Aku tidak repot, boo"
"Tapi-"
"Boo~"
"Baiklah. Terima kasih, Kookoo"
Jungkook tersenyum lebar sebelum menggenggam jemari mungil itu.
"Masih kecil"canda Jungkook.
"Lepaskan"
"Aku bercanda"
Jimin mendecih lalu menatap genggaman tangan Jungkook yang terasa hangat. Biasanya Taehyung yang akan menggenggam nya, memberi kecupan ringan pada punggung tangan Jimin lalu meminta Jimin mengusap kepala nya. Ah sepertinya seminggu masih terlalu singkat untuk melupakan sosok Taehyung, benar?
"Boo?"
Hening.
"Boo? Hei!"
"Huh? Apa?"
"Kita sudah sampai, kenapa melamun? Ada masalah?"tanya Jungkook lembut.
"Tidak, hanya sedang memikirkan tugas ku. Presentasi pagi ini"jawab Jimin yang bukan sebuah kebohongan sebenarnya karna ia benar-benar harus presentasi pagi ini.
Jungkook tersenyum, mengusap kepala Jimin lembut lalu mencubit gemas pipi tembam Jimin.
"Baby boo ku pasti akan mendapatkan nilai bagus, dia kan pintar sejak dulu. Benar?"
"Tentu saja"
"Kalau begitu cepat turun atau kau terlambat?"
"Ah benar juga, terima kasih ya Koo"
"Siang nanti ku jemput ya? Makan siang dengan ku"pinta Jungkook.
"Tidak bisa, kelas ku sampai sore. Kalau mau kau saja makan di kantin fakultas ku. Masakan nya enak, mau?"tawar Jimin.
"Boo ku ini memang tidak pernah mengecewakan. Aku akan kabari jika sudah sampai nanti"
"Eumm"
"Selamat belajar ya, boo. Semangat!!"
Jimin terkekeh, turun dari mobil Jungkook lalu melambai hingga mobil itu menghilang dari pandangan. Langkah gadis itu terhenti saat tak jauh dari tempatnya berdiri ada Taehyung yang sedang berbincang dengan Minjae.
"Kau bisa, Ji. Ingat apa yang sudah ia lakukan padamu"gumam Jimin pada dirinya sendiri.
Kaki pendek itu melangkah, semakin dekat, dan senyum manis itu hampir saja terulas sebelum sebuah panggilan menghentikan nya.
"Pagi, Jimin"sapa Minjae dengan sangat manis.
Jimin menoleh, melirik pada Taehyung yang sibuk dengan ponsel nya.
"Pagi, Minjae. Aku duluan"pamit Jimin setelah memberi senyum manis nya. Demi apapun, Jimin rindu sekali pada lelaki Kim itu. Sangat ingin memeluk tapi hatinya tak mengijinkan.
"Kurasa aku akan baik-baik saja selama setahun karna senyuman dari Jimin"ujar Minjae dengan senyum bodoh nya.
Pletak
"Ya! Jangan sembarangan menjitak kepala orang!"protes Minjae pada Taehyung.
"Ku pikir itu bukan kepala"
"Sialan!"
Hening.
"Tapi ngomong-ngomong Jimin dan kau sudah tidak dekat ya? Kalian tidak ada interaksi selama seminggu ini. Kau sudah bosan? Atau memang belum jadwal Jimin? Eh tapi dia tidak menyapa mu. Ada apa?"Minjae memberondong Taehyung dengan pertanyaan nya.
"Kau sama berisik nya dengan Sungjae. Sungguh"
"Jawab saja"
"Bukan urusan mu"
Dengan begitu Minjae harus menelan kepahitan karna setelah nya ia di tinggalkan sendiri oleh Taehyung yang memilih pergi begitu saja.
"Hei! Kau mau membolos?! Ya, Kim Taehyung!"
Taehyung tak menggubris seruan Minjae, menoleh pun tidak, ia hanya mengangkat jari tengah nya pada Minjae.
"Kim Taehyung sialan!"
.
.
.
Taehyung pikir dengan membolos membuat nya lupa dengan penat yang masih tak ia mengerti sebabnya. Namun kali ini lelaki itu salah, keputusan nya kembali ke universitas di siang hari malah menambah penat nya. Sengaja ia memasuki kantin fakultas Jimin dan mendapati gadis itu sedang makan siang bersama Sinbi dan seorang lelaki asing yang belum pernah Taehyung temui.
"Siapa dia?"tanya Taehyung pada Hoseok, teman nya yang satu fakultas dengan Jimin.
"Tidak tau, sepertinya teman Jimin dan Sinbi"jawab Hoseok.
"Jangan cubit, boo! Sakit!"seruan lelaki itu berhasil mengalihkan perhatian Taehyung yang hampir tidak peduli.
Panggilan macam apa itu? Boo?! Jimin atau Sinbi? - KTH.
"Salah mu. Berhenti jahil, Koo. Aku bisa tersedak"protes Jimin kesal.
"Auh, apa baby boo ku ini marah? Iya? Iya?"
"Berhenti, Jungkook. Sebelum aku menyeret mu pergi dari sini"ancam Sinbi karna kasihan pada Jimin yang tidak bisa makan tenang karna tingkah Jungkook.
"Maafkan saya, bu"sesal Jungkook dengan wajah takut nya.
Jimin tertawa, tidak keras tapi Taehyung bisa mendengar bahkan melihat dengan jelas mata cantik itu menyipit manis serupa bulan sabit.
"Koo, kau masih takut pada ancaman Sinbi? Sejak dulu?"tanya Jimin di sela tawa nya.
"Diam, boo. Pukulan Sinbi itu sakit asal kau tau"
Dan setelah nya Taehyung tak lagi konsentrasi mendengar percakapan ketiga nya. Mata nya terus mengawasi pergerakan lelaki itu yang merangkul Jimin lalu hampir memberikan kecupan pada pelipis Jimin sebelum Sinbi menarik rambutnya.
"Boo! Boo! Tolong, boo! Ini sakit!"
"Sudah, sudah"lerai Jimin namun ia tertawa.
"Pergi sana, makan mu sudah habis kan? Kami mau masuk kelas lagi"usir Sinbi.
"Ku antar sampai mobil, Koo. Ayo"
Jimin menggandeng tangan yang lebih besar dari nya itu lalu menggiring nya keluar kantin. Langkah Jimin terlihat tersendat kala melihat ada Taehyung disana, namun selang beberapa detik perempuan itu kembali terlihat biasa.
"Kalian sudah berakhir ya?"bisik Hoseok.
"Tidak ada awal"
"Oh atau kau di campakkan?"
Taehyung tak menjawab dan hanya pergi tanpa berpamitan pada Hoseok.
"Patah hati eoh? Kim Taehyung?"wajah Hoseok menahan tawa nya.
.
.
.
"Siapa lelaki tadi?"
Jimin yang sedang bersenandung lirih pun menghentikan nyanyian nya dan langkahnya. Menolehkan kepala nya dan mendapati Taehyung berdiri di belakang nya.
"Apa urusan mu?"balas Jimin.
"Aku tanya sekali lagi. Siapa lelaki itu, Park Jimin?"
"Bukan urusan mu, Kim Taehyung"
Greb
Dan setelah nya Jimin di seret paksa memasuki ruang kelas yang sudah kosong.
"Kau menguji kesabaran ku?!"
"Kau ini kenapa?"tanya Jimin kesal.
"Dia kekasih barumu? Atau kalian memang sudah bersama selama ini?"
"Kekasih baru? Aku bahkan tidak punya kekasih lama"jawaban Jimin entah kenapa sukses menyadarkan Taehyung. Dia sadar jika ia bukan kekasih Jimin selama ini.
Jimin hendak pergi namun pergelangan tangannya kembali di tahan oleh Taehyung.
"Kau benar-benar ingin mengakhiri semua nya?"tanya Taehyung.
"Ya"
"Kenapa?"
"Kau masih tak sadar dengan masalah kita? Oh maaf ini hanya masalah ku"
Taehyung diam.
"Kau cemburu?"tanya Jimin.
"Sudah ku bilang aku takkan melakukan hal menggelikan itu kan?"
"Lalu kenapa kau melakukan ini? Berhenti membuat ku berharap, Tae. Kau masih punya perempuan yang lain. Banyak kan? Bermain saja dengan mereka. Kau hanya kehilangan satu mainan mu, yang menantikan mu jauh lebih banyak"ucap Jimin panjang lebar, kepalanya menunduk, mencoba menahan air mata nya.
Taehyung tak menjawab, entah apa yang ia pikirkan. Perlahan ia mendekat pada Jimin, mencoba mencium bibir yang selama ini selalu ia inginkan namun pergerakan nya terhenti karna Jimin mendorong tubuh nya perlahan.
"Aku mencintai mu tapi aku bukan perempuan gampangan yang bisa kau sentuh seenaknya lalu kau tinggalkan. Tidak, Tae"
Taehyung diam mematung mendengar kata-kata Jimin hingga gadis itu benar-benar keluar ruangan lalu berlalu entah kenapa.
"Kau sudah gila, Kim Taehyung"bisik Taehyung sembari memejamkan mata nya.
TBC