Aku bangun sangat pagi meskipun tadi malam aku terjaga sampai larut malam menyaksikan si Husky tidur. Perawat mengatakan bahwa orang tua seperti Mae Yai akan banyak tidur. Terkadang mereka tidak bangun tepat waktu. aku takut kalau Mae Yai akan bangun lebih dulu dari pada aku lalu dia tidak melihat siapa pun di sampingnya. Tapi bagus dia belum bangun. Namun, akulah yang kurang tidur sekarang.
Perawat membawa sarapan kemudian keluar. Tidak lama kemudian, Mae Yai bangun dan melihat ku di sampingnya. Dia tersenyum padaku. Aku duduk dan memegang tangannya seperti kemarin setelah aku selesai memberinya makan pagi.
"Hari ini, Mae Yai terlihat lebih cerah." Aku mengusap mulutnya dan tersenyum karena selain dia tersenyum lebar kepadaku lebih dari sebelumnya, dia juga terlihat sangat bahagia.
"Solo? ..."
"Lebih baik menunggu dia menelepon dulu. Gui takut dia masih tidur." aku tersenyum gembira karena rasanya seperti Mae Yai terdengar energik hari ini.
RRRRRRrrrrr...
"Bicara tentang dia. Ini dia menelepon." aku mengangkat telepon untuk melihat Mae Yai. aku menekan untuk menerima panggilan dan menghidupkan kamera. Saat aku melihatnya di layar, aku langsung tertawa.
[Siap?]
Solo mengenakan kemeja biru. Dia duduk di kursi di depan meja. Tangannya terlihat kuat sambil memegang kerah kemejanya seolah dia takut akan berkerut. Dan seperti yang bisa aku lihat, dia tampak lebih rapi dan pintar daripada biasanya setiap hari. 😂 (That 'Lebih pinter~')
"Ada apa dengan pakaian rapi ini?"
[Awalnya, aku ingin memakai jas ... tapi aku takut kalau Mae Yai akan berpikir aku terlalu berlebihan.] 😅
"Terlihat bagus. Tidak perlu memakai jas." aku tertawa lalu melirik Mae Yai dan melihat bahwa dia tersenyum dan suasana hati yang baik. Dan sepertinya dia masih tidak sadar bahwa aku sudah menyalakan pengeras suara untuk Mae Yai untuk mendengarkan juga.
[Dia belum bangun?]
"Masih tidur ... mungkin." aku menjawab lalu pindah untuk duduk di samping Mae Yai dan kemudian memutar kamera agar dia bisa melihat kami berdua. Si husky membelalakkan matanya dan langsung duduk tegak. Dia tampak sangat tegang sampai itu membuatku tertawa terbahak-bahak. 😣(jadi pengen nyari calon menantu buat bapakku)
[Guitar memainkanku.] Orang yang baru sadar bahwa aku telah benar-benar menyalakan pengeras suara sejak awal sekarang mengerutkan kening.
"P tidak."
[Baik ... Sawadee Krap Ibu.] Solo dengan rendah hati mengangkat tangannya untuk memberikan waai dengan hormat. Meskipun dia jarang tersenyum, tapi selalu ada senyum kecil di sudut mulutnya di wajahnya yang masih seperti itu dan sekarang, dia bahkan terlihat sepuluh kali lebih sopan daripada biasanya.
"Sawadee kha sayang." Mae Yai merespons dengan kelembutan.
"Mae Yai banyak berbicara hari ini, So. Wajahnya juga terlihat lebih cerah." aku memamerkan kepada orang di layar.
Solo tidak menjawab apa-apa, sebaliknya dia hanya diam-diam menatap wajah Mae Yai. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran yang membuatku perlahan-lahan berhenti tersenyum.
Kenapa kamu bertingkah seperti ini? kamu seharusnya bahagia, bukan? ..
[Guitar bilang ibu ingin bicara denganku?]
"Melakukan apa?"
"Mae Yai bertanya apa yang kamu lakukan." aku membantu menjelaskan kata-katanya ketika Berusaha mengabaikan wajah khawatir Solo dan tidak ingin memikirkannya lagi.
[Tidak melakukan apa-apa. aku bangun jam 5 pagi lalu mandi dan berpakaian. Nanti akan keluar untuk latihan musik]
"5 pagi? ..."
[Aku khawatir jika aku tidak terlihat baik, ibu akan menolak untuk memberikan putranya.] 😌
"So!" aku tersipu. Telingaku menjadi merah menatap orang yang tanpa malu-malu tersenyum.
[Berapa umurmu, ibu?]
Aku menahan diriku kembali dan tetap diam membiarkan mereka berdua berbicara.
"Sembilan dua."
[Sembilan puluh dua ?!] Tidak perlu mengatakan bahwa husky itu terkejut, bahkan diriku sendiri juga sama terkejutnya. Tentang aku ini ... bagaimana aku bisa melupakan Mae Yai sampai-sampai aku masih belum tahu umurnya yang sebenarnya. (Aku juga suka lupa umur keluarga ku 😅👍)
[Guitar hanya menebak-nebak.]
"Maafkan aku." aku hanya tahu usia Mae Yai secara kira-kira. aku tidak pernah bertanya berapa umurnya sebenarnya ...
[Guitar tidak melakukan kesalahan ... Ibu terlihat lebih muda dari usianya. Bahkan diriku sendiri bisa dengan mudah salah paham ... na?] Si husky meletakkan tangannya di bawah dagunya lalu tersenyum.
"Terima kasih..."
Terima kasih telah membuat aku merasa lebih baik.
[Ibu, sudahkah kamu makan?]
"Sudah ..."
"Makanannya sama sekali tidak terlihat menggugah selera." Kataku kemudian mengalihkan kamera ke mangkuk nasi yang ditempatkan di sebelah tempat tidur.
[Hanya dengan melihatnya, aku sudah tahu bahwa makanannya tidak enak.] Kata orang yang bisa menebak rasa makanan itu ...
"Bagaimana, Mae Yai?" aku menoleh untuk meminta komentar dari orang yang memakan makanan secara langsung.
"Hambar ..."
[Seperti yang aku katakan.]
"So, jaga baik-baik dirimu sendiri sehingga kamu tidak perlu makan makanan rumah sakit."
[Aku akan membiarkan Guitar merawatku.]
"So ..." Aku berteriak namanya dengan tanganku yang sedang memegang telepon yang bergetar. Adapun orang yang tak tahu malu, dia tersenyum bahagia ... tepat di depan Mae Yai.
[Aku ingin bertemu ibu dengan cepat ... tapi aku masih harus ujian.] Solo berpaling dariku dan melihat ke arah Mae Yai. Dia menatap layar sambil tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Dan mengira bahwa Mae Yai juga memiliki kecenderungan untuk mencintai husky ini yang tidak berbeda dengan ku.
"Pergilah belajar ..."
[Tidak perlu belajar. Hanya ada satu ujian yang tersisa. Sebelumnya aku mengatakan bahwa aku akan berlatih musik nanti. Itu benar-benar berlatih untuk ujian ini.]
"Kamu sudah baik." aku menggoda orang yang selalu melihat dirinya tidak pandai mengerutkan kening dan mengeluh.
[Aku tidak bisa memainkan musik Thailand. Ini sangat sulit. aku sudah berlatih selama berminggu-minggu dan masih buruk dalam hal itu.]
Ketika dia melihat senyumku, si husky menjadi lebih pemarah. Tapi setelah kurang dari sepuluh detik, itu berubah menjadi senyuman di sudut mulutnya ... terlihat liciknya gerakan itu hingga membuat ku merinding.
"So, apa yang kamu lihat?" aku bertanya ketika aku berpikir bahwa Solo menatap bagian belakang layar dengan aneh.
[Bisakah Mae Yai melihat dengan jelas?]
Aku menoleh untuk melihat Mae Yai karena aku juga tidak yakin. Tapi sepertinya dia tahu apa dan di mana semuanya berada tapi aku tidak yakin seberapa jelas dia bisa melihat.
"Jelas ... cukup."
"Dia bilang dia bisa melihat dengan cukup jelas .... So, apa yang ingin kamu lakukan?"
[Lalu ... aku akan menunjukkan ini padanya.] Dan ketika kamera beralih ke layar komputer, aku membuka mataku lebar-lebar saat aku melihat apa yang ditampilkan di layar.
"So..."
[Ibu, hari itu Gitar ngambek karena dia dipaksa bangun karena teleponnya terus berdering. Ketika dia bangun, dia marah padaku ...]
"Anjing gila!"
Gambar di layar Solo itu dibiarkan untuk Mae Yai lihat dan adalah gambar ku saat husky ini diambil sebelumnya ketika aku bangun karena ponsel ku terus mengeluarkan suara dari notifikasi halaman Facebook. Ini adalah foto ku dengan rambut acak-acakan, mata merah dan wajah cemberut yang tidak diizinkan siapapun untuk menghapusnya.
[Sangat lucu.]
Setelah itu, kami mengobrol lebih lama. Dia dan Mae Yai terus berbicara satu sama lain, wajahnya terlihat lebih cerah dan dalam suasana hati yang baik. Yang paling penting adalah dia terus melihat Solo lebih dari dia menatapku.
Aku kira aku akan segera dibuang ...
[Ibu ...] Solo berkata dengan nada suara yang serius. Sepasang mata itu tampak begitu kencang. Dia memalingkan matanya ke arahku lalu menatap mataku seolah dia meminta dukungan moral dariku sebelum berbalik untuk melihat Mae Yai yang menatapnya dengan mata lembut.
"..."
[Guitar dan aku belum lama tidak saling kenal. Tetapi seseorang mengatakan kepada ku bahwa jika itu adalah cinta sejati, itu tidak perlu alasan atau waktu. Baik kita cukup berani untuk bergerak maju untuk mendapatkan orang itu atau memikirkan alasannya dan membiarkan orang itu pergi .... aku akui bahwa aku masih belum tahu segalanya tentang Guitar. Tidak tahu apa yang disukai dan tidak disukai Guitar ... tapi aku percaya bahwa mulai sekarang, kamu akan saling mengenal dari menghabiskan waktu setiap hari ...]
"..."
[Aku tahu aku punya masalah. Permasalahan yang berkaitan dengan ayah ku belum jelas. Juga termasuk tentang masa depan, ditambah aku lebih muda dari Guitar ... seperti aku hanya dipimpin oleh diri sendiri.] Dia berbalik untuk menatapku sejenak lalu tersenyum seolah-olah dia mengatakan bahwa dia menyesal
"..."
[Aku mungkin tidak tahu bagaimana masa depan kita. Tapi aku ingin berjanji pada ibu satu hal ...]
"So ..." Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi karena itu sangat luar biasa sehingga tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaanku saat itu.
[Apa pun yang terjadi, aku akan selalu berada di samping Gitar.]
"..."
[Biarkan aku yang mengurus Guitar na krap.]
Solo menatap wajahku seolah dia menekankan bahwa apa yang dia katakan kemarin serius ...
Aku melihat wajah orang di layar dengan mata bergetar. Merasa penglihatanku jadi buram jadi aku harus menutup mataku untuk menyembunyikannya. Mae Yai memandang Soko dengan penuh perhatian dan berkata ...
"Baiklah ... kalau begitu aku mempercayakannya padamu, na."
... jangan khawatir
[Bagaimana, Guitar?]
"..."
[Guitar? ... Guitar!]
"Ya ??? ..." Aku terkejut lalu mendongak ke layar ponsel ketika orang lain berteriak.
[Apakah ada yang salah?]
"Tidak ada ..." Aku tersenyum padanya. Tapi aku yakin Solo tahu ada yang salah dengan ku. Dia mengangkat tangannya dan menggaruk kepalanya seperti seseorang yang tidak bisa melakukan apa pun sebelum dia akhirnya melihat ke layar dan tersenyum.
[Aku menantumu, ibu.] (Berikan aku calon suami!!!)😭💕
"..."Aku diam-diam melihat orang yang mengembang dadanya seperti sedang memamerkan. Atau haruskah aku mengatakan bahwa tidak ada yang lebih baik dari ku untuk menjawabnya. Bagaimana bisa menjawab ketika dia msih bercanda ketika berbicara seperti ini ...
"So ..." Mae Yai memanggil orang di layar dengan suara lembut. Tetapi aku merasa bahwa dia terdengar lebih ceria daripada sebelumnya.
[Ya ibu.]
"...Pergi." Mae Yai mencoba berbicara. Tapi suaranya sepertinya menghilang sampai aku tidak dapat memahami apa pun untuk ku jelaskan. Aku menggigit bibirku ketika aku melihat Mae Yai. aku berkata pada diri sendiri untuk tersenyum ketika sebenarnya, aku sebenarnya ingin menangis. "Dengan dia.."
[Apa kata ibu, Guitar?]
"Dia bilang pergi ... Itu berarti P dan Solo harus pergi ke tempat di atas bukit tempat dia dulu tinggal." aku jelaskan kemudian memandang Mae Yai. Menggunakan tanganku yang bebas untuk menyentuh tangannya dengan lembut, "Gui tidak bisa pergi ... Gui harus menjaga Mae Yai."
Aku menghindari menatap mata Mae Yai ketika mata kami bertemu ... Sepertinya dia mengatakan bahwa aku harus mengerti dengan jelas apa yang dia maksud.
[Aku akan membawa Guitar untuk pergi ke sana sendiri, Ibu.]
(Intinya , ini kaya permintaan terakhir, Mae Ya pengen Solo tau dimana Gui dibesarkan..)
"So!" Aku berbalik untuk meneriakkan nama Solo dengan suara bergetar, terasa sangat panas di ujung mataku seperti terbakar. 😢
[Jangan menangis, Guitar ... jangan menangis ketika aku tidak ada di sana.] Solo menatapku dengan mata yang menyakitkan. aku menutup mata. aku tidak ingin membiarkan air mata ku keluar. aku tidak ingin menerima (kenayataan) apa pun. 😔
Meskipun aku tahu bahwa Solo dan aku mengerti apa yang akan terjadi ... tapi hanya aku yang tidak bisa menerimanya. Sementara untuk Solo, dia tahu betul bahwa dia harus datang dan melakukan janjinya kepada Mae Yai.
Aku egois ...
Aku turun untuk mencari sesuatu untuk dimakan karena Mae Yai menolak untuk melihatnyaku. Ketika perawat datang untuk membawa makan siang, dia menggerutu dan berkata bahwa Mae Yai mungkin marah padaku karena aku menolak untuk makan. Pada akhirnya, aku harus datang ke kafetaria rumah sakit di lantai dasar rumah sakit sementara perawat membantu merawat Mae Yai.
Aku sama sekali tidak ingin makan. Tetapi karena Solo menelfon ku untuk makan, jadi saya bisa memesan sesuatu untuk dimakan. Dia juga mengatakan bahwa jika aku benar-benar tidak bisa makan maka makan sesuatu yang manis atau minum secangkir coklat akan baik. aku mengikuti apa yang dia katakan karena aku tidak ingin dia menjadi lebih khawatir.
Solo menutup telepon karena ada orang datang untuk latihan musik dan dia bilang dia akan menelepon lagi nanti pada malam hari. Jadi sekarang aku hanya bisa duduk dan melihat ke luar tanpa tujuan melalui jendela. Rasanya seperti ada banyak pikiran yang aku tidak dapat gambarkan hanya berputar-putar di dalam kepala. Tetapi ketika aku mencoba memikirkannya, ternyata pikiran ku benar-benar kosong.
"Maaf, bisakah kita duduk di sini?"
Aku menoleh untuk melihat pemilik suara dengan mata yang tidak pasti. aku melihat ada seorang nenek duduk di kursi roda dan di sampingnya, ada seorang gadis muda dengan kuncir mengenakan seragam sekolah mengangkat tangannya untuk memberikan waai kepada ku.
"Ya, silakan."
Gadis muda itu mendorong kursi roda neneknya ke meja terlebih dahulu sebelum duduk di kursi. Di sebelahku dan tersenyum.
"Datang mengunjungi kerabatmu, sayang?"
"Ya, nenek." Aku mengangguk dan mencoba memberinya senyuman.
"Jika kamu tidak ingin tersenyum, maka jangan tersenyum. Nenek mengerti." Dia tertawa dalam suasana hati yang baik. Adapun gadis muda, dia hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.
"Ini enak ... P berikan ini padamu." aku mendorong sepiring makanan penutup yang belum tersentuh ke gadis muda itu. Dia menggelengkan kepalanya dan mendorongnya kembali ke ku. Dia mengangkat tangannya, mengarahkannya ke mulut, lalu mengarahkannya ke aku (Dia bisu)
"Dia menyuruhmu makan ... karena kamu belum makan apa pun sejak pagi."
"Apakah itu kelihatan jelas?" Aku mencoba tertawa tetapi tawa yang keluar terdengar serak.
"Dia bisa melihatnya ... bahkan seorang anak sebesar ini pun bisa tahu."
"Dia pasti merasa takut padaku ... dia tidak bicara." Kami hanya terus saling memandang dan hanya tersenyum. Rasanya aneh dipandang oleh orang yang lebih muda seperti ini, rasanya saya disalahkan karena menolak makan.
"Cucu ku, N'Moh tidak bisa bicara."
"Tidak bisa bicara?" Aku menoleh untuk melihat nenek dengan terkejut. Dia mengangguk dan tersenyum ramah.
"Dia bisu sejak lahir ... Nenek juga menderita penyakit jantung." Nenek menyentuh kepala N'Moh dengan perasaan simpati, "Hidup penuh dengan ketidak pastian ..."
"..."Aku memalingkan mataku untuk melihat keluar di jendela. aku melihat seorang perawat berjalan dengan tempat tidur pasien dari ambulan. Tidak jauh dari ambulan, ada seorang kakek dan seorang nenek berjalan bergandengan tangan ke mobil mereka. Ada juga anak-anak yang menangis sambil memeluk orang tuanya.
"Orang-orang dilahirkan, menjadi tua, menderita, dan meninggal ... Hukum Alam." 😢
Aku melihat kembali ke nenek dan dia masih menatapku dengan mata lembut ... cara yang sama seperti Mae Yai selalu menatapku.
"Orang-orang yang ditinggalkan mungkin kesakitan ... tetapi kamu berpikir bahwa orang yang meninggal tidak akan merasakan apa-apa jika orang yang mereka cintai tidak mau membiarkan mereka pergi?" 😭
"...."
"Kita tidak bisa memaksa siapa pun untuk tinggal bersama kita selamanya ..."
"..."
"Tapi kita masih bisa menghabiskan waktu yang tersisa bersama mereka na sayang."
Kemudian aku kembali ke kamar Mae Yai dengan otak ku dipenuhi dengan kata-kata dari nenek yang baru saja ku temui. kata-katanya tidak ada yang bisa ku bantah karena semuanya adalah kebenaran yang harus di akui dan terima ...
"Mae Yai masih belum tidur?" Aku berbalik untuk berterima kasih kepada perawat yang keluar dari kamar sebelum pergi ke sisi Mae Yai. Dia tampak selembut biasanya.
"Solo? ..."
"So pergi ke latihan musik ... Apakah Mae Yai mencintai So lebih dari Gui sekarang?" Aku pura-pura cemberut tapi kemudian aku tersenyum. Ketika kulihat matanya bersinar seperti dia merasa geli.
"Iya..."
"Tidak apa-apa ... Gui setuju kalau begitu." Aku tertawa, lalu menyandarkan kepalaku ke ranjang, meletakkan tangannya di pipi kiriku. "Karena ibu belum tidur, maka Gui akan berbicara panjang lebar dengan Mae Yai."
"Baik..."
Aku menikmati bercerita untuk didengarkan oleh Mae Yai. Ketika aku menceritakan kisahnya tentang Solo, dia akan selalu menatap ku dengan mata berbinar. Ini membuat ku memilih untuk menceritakan kisah Solo lebih banyaj . Ketika aku mengeluh bahwa dia ingin mendengarkan cerita Solo, dia akan terlihat seperti dia tidak menyangkal apa pun.
Mungkin itu karena setiap kali aku bercerita tentang Solo ... aku juga tampak sama bahagia.
"So, punya teman baik bernama Kao ... anak ini benar-benar anak yang sangat menyakitkan. Gui benar-benar bertanya-tanya bagaimana orang yang di sebelah anak yang baik hati akan menjadi orang seperti ini ..."
Suasana di ruang bangsal sekarang penuh dengan kebahagiaan. Mae Yai hanya menanggapi dengan kata-kata pendek. Meskipun lampu perlahan-lahan redup, dia tetap mendengarkan ku.
"Anak ini menyuruh Solo untuk memeriksa Dompet Gui ... dia mengatakan itu untuk memeriksa apakah sudah memiliki seseorang (pacar) atau tidak karena ketika seseorang memiliki seseorang, mereka cenderung untuk memasukkan gambar ke dalam dompet. Yang lebih lucu adalah bahwa ide itu datang dari ibu Kao dan dia mendorong setiap temannya untuk mempercayainya ... "
Mae Yai terlihat senang ketika aku berbicara tentang Kao. Meskipun mereka tidak pernah bertemu, tampaknya anak ini sudah menjadi kesayangannya.
"Gui juga memiliki sepasang gelas yang serasi. So membelinya dan ingin kami menggunakannya lebih. Gelas Solo adalah anjing dengan kerah biru sementara milikku berwarna merah muda. Karena kami memiliki gelas yang serasi, aku punya itu untuk minum susu hangat bersama So setiap malam, Mae Yai ... "
Mata Mae Yai yang sedang menatapku agak redup. Tapi aku masih bisa melihat kilau kebahagiaan di mata itu. Dan mungkin itulah alasan mengapa aku masih bisa tersenyum dan terus berbicara.
"Ayo makan dulu sebelum melanjutkan bicara."
Pada saat yang sama seperti kemarin, perawat datang membawa makanan. Aku tersenyum padanya. Ketika aku melihat dia menatap Mae Yai dengan prihatin. Dia tidak mengatakan apa-apa kecuali menatapku seolah dia memberi aku dorongan sebelum berjalan keluar dari ruangan. Dia mungkin memperhatikan bahwa Mae Yai tidak tidur sepenuhnya sejak bangun di pagi hari hari ini ... karena biasanya dia banyak tidur.
Aku memberi makan Mae Yai seperti sebelumnya. Tapi kali ini dia hanya makan dua gigitan lalu dia berhenti makan. aku tidak memintanya untuk makan lebih banyak seperti kemarin, dan aku memilih untuk meletakkan piring kemudian memegang tangannya dan terus menceritakan kisahnya.
"Gui akan magang di Phuket, Mae Yai ..."
Aku terus berbicara meskipun Mae Yai tidak berinteraksi dengan ku. Matanya yang berkilau perlahan berubah suram dan bibirnya tidak terbuka lagi.
"Mae Yai sudah mengantuk?" Suara ku bergetar ketika aku pikir aku bisa mengendalikannya dengan baik. Bahkan tubuhku mulai bergetar tanpa alasan.
Aku mengangkat tangannya dan meletakkannya di pipiku lalu menutup mataku.
"Gui masih tidak ingin Mae Yai tidur."
Karena jika kamu pergi tidur kali ini....
"Mae Yai, tidak boleh tidur..."
....kamu mungkin tidak akan bangun lagi...
"Gui ..." Suara Mae Yai terdengar begitu lembut dan kecil sehingga aku nyaris tidak mendengarnya.
"Ya? ..." Aku melepaskan tangannya yang telah aku pegang sepanjang hari dengan lembut lalu bangkit dan membungkuk hingga telingaku dekat ke bibirnya.
"Hmm? ..."
Aku menutup mataku dan mengepalkan tanganku erat-erat sampai terasa sakit.
"Biarkan....."
"..."
"Biarkan ... aku pergi na anakku-" 😭
.
.
.
"Kenapa Booboo harus pergi, Mae Yai? ... Booboo tidak lagi mencintai Gui?"
'Booboo sudah tua. Sudah waktunya bagi Booboo untuk pergi, sayang. '
"Tapi ini kesepian."
"Apakah Gui mencintai Booboo?" '
"Cinta"
"Apakah Gui ingin Booboo merasa khawatir tentang Gui?"
"Tidak mau."
"Maka Gui harus membiarkan Booboo beristirahat."
"..."
'Booboo sudah kelelahan. Bukankah Gui merasa kasihan pada Booboo? "
'kasihan"
"Kalau begitu biarkan Booboo pergi na sayangku."
.
.
.
Apakah aku sudah cukup egois? ...
Cukup ...
Cukup sekarang ...
"Ya, Mae Yai." (Gui mengijinkan Mae Ya pergi 😔)
(Ini sebenarnya aku terjemahin dari siang biasanya cuma satu jam buat nerjemahin ini ampe seharian, aku berhenti-henti karna mewek terus.. aku keinget nenek yg jagain dr kecil apalagi dari mama papa pisah 😭 semuanya yg ngurus nenek.. )