Je

By spiderlyy

2.5M 33.7K 3.5K

Please, don't copy my story! From Bad Girl and Good Boy to Je. Bumi berputar pada porosnya dengan kemiringan... More

01. Hari Pertama Jadi Babu
02. Kerja Rodi Dadakan
03. Nostalgia
04. Tragedi Gudang Sekolah
05. Setelah Tragedi
06. Panggilan Kematian
07. Ayam Geprek Rasa Emosi
08. Tetangga Masa Gitu

PROLOG

114K 4.5K 355
By spiderlyy

Kedua alas kaki berbalut sneakers berwarna kuning listrik keluaran merek ternama itu berhenti tepat di depan gerbang tak besar tapi juga tak kecil yang nampak berkarat namun masih terasa kokoh. Gadis dalam balutan seragam abu-abu itu menyematkan sebuah benda logam berukuran kecil pada lubang gembok yang seketika membuat kaitan gerbang tinggi menjulang keatas itu terlepas.

Menyelinap masuk kedalam sekolah melalui gerbang belakang dengan kunci duplikat tentu saja bukan hal yang patut dilakukan oleh seorang pelajar. Tapi hal itu tidak berlaku bagi gadis bermama Jeslyn Camelia Malik yang tak segan melewatkan kesempatan disaat banyak celah. Lagi pula kenapa harus melalui gerbang depan yang dijaga ketat itu jika ia memiliki kunci duplikat pagar belakang? Semua ada jalan hanya tinggal usahanya, 'kan?

Letak gerbang belakang sekolah yang berdekatan dengan gudang dan jauh dari area gedung sekolah menjadikannya tempat strategis untuk dijadikan jalur tikus. Namun untuk eksekusi kali ini berbeda dari biasanya, jika biasanya Jeslyn ditemani kedua partner in crime-nya--Alya dan Lauren yang sama-sama mempunyai visi dan misi sepertinya--pagi ini ia hanya sendirian karena mereka berdua sudah lebih dulu masuk.

Sudah sejak sebulan lalu Jeslyn menyelinap lewat gerbang belakang dan sejauh ini belum ada seorangpun yang memergokinya tak terkecuali wakil ketua OSIS yang penglihatan tajam bak elang. Tak terasa selama itu pula Jeslyn tidak lagi menjalankan hukuman-hukuman yang tak jarang didapatkannya, lalu yang paling penting adalah tidak berurusan dengan seseorang yang hobi membuatnya sengsara. Siapa lagi kalau bukan wakil ketua OSIS SMA-nya yang tingkat ke-rese-annya sampai tak jarang bikin Jeslyn emosi.

Setelah mengunci kembali dan mengamankan kucinya, Jeslyn mengambil langkah panjang setengah berlari memasuki gedung sekolah. Namun alih-alih gadis berambut cokelat karamel itu berhasil memasuki gedung sekolah, tapi siapa sangka kalau langkah kaki Jeslyn tiba-tiba berhenti ketika kerah belakangnya ditarik kasar dan nyaris membuatnya terjungkal bila saja tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya.

Jeslyn lantas menoleh kebelakang--hendak menyemburkan rentetan makiannya pada si pelaku, namun firasat yang sempat terlintas mengenai si pelaku terbukti usai netra cokelat gelapnya mendapati seseorang yang hampir membuatnya terjungkal itu adalah makhluk terkutuk yang ingin sekali Jeslyn tendang dari bumi.

"Apa-apaan nih? Singkirin tangan lo!"

Jeslyn melemparkan tatapan peringatan pada seseorang dibelakangnya yang juga menatapnya. Seorang lelaki bertubuh tinggi dengan balutan seragam sekolah serapi rambutnya yang tertata--hingga tidak jarang hal itu dieluh-eluhkan oleh para siswi tapi tidak bagi Jeslyn karena menurutnya Jeshen tak lebih dari sekedar lelaki berpenampilan cupu bahkan terkesan kuno. Sampai sekarang saja Jeslyn tidak habis pikir dengan teman sejenisnya yang menganggap Jeshen boyfriend material padahal Jeshen kelewat membosankan.

"Terlambat, menyelinap lewat gerbang belakang pakek kunci duplikat, seragam nggak aturan."

"Terus?"

"Cuma orang bodoh yang balik tanya!" Jeshen melepaskan cekalannya dari kerah Jeslyn sebelum menepukkan kedua tangannya--seolah membersihkan kotoran yang menempel.

Jeslyn tertawa sarkas melihat tingkah Jeshen--setengah mati berusaha mengontrol diri untuk tidak mendaratkan bogemannya di wajah Waketos sialan itu. Jeslyn sangat tersinggung setelah melihat kelakuan Jeshen yang mana secara tidak langsung telah menyamakanya seperti sesuatu kotor. "Terus gimana kabarnya sama paribahasa 'malu bertanya sesat dijalan'?"

"Lo tanya disaat udah tahu jawabannya!"

"Yaudah langsung intinya! Lo mau bawa gue ke ruang BK, 'kan? Lo mau ngasih surat peringatan terus ngehukum gue berjemur di samping tiang bendera sambil hormat, bersihin halaman sekolah, atau nulis permintaan maaf sebanyak tiga lembar, 'kan?!"

Jeshen memutar bola matanya jengah setelah melirik perempuan itu sekilas--walaupun sudah banyak masalah yang diciptakan gadis itu tapi untuk kali ini Jeshen tetap tidak habis pikir dengan ulah baru yang dibuat trouble maker satu itu. "Gue pikir setelah dapet banyak hukuman, lo bisa jauh lebih baik ternyata malah makin nggak karuan," ucap Jeshen satire yang mana seketika mendapatkan plototan geram Jeslyn--seolah dari plototannya mengatakan 'Cowok sialan, mulut lo kek cabe rawit tapi emang bener sih!'

"Wakil kepala OSIS yang terhormat, bisa nggak sekali ini aja lo nggak usah pidato? Gue lagi nggak mood sama hukuman-hukuman sialan lo itu, dimohon kerja samanya!"

"Hukuman apa yang harus gue kasih lagi setelah hukuman sebelumnya nggak mempan? Apalagi setelah gue tahu kelakuan lo kayak gini." Jeshen menghela napas panjang untuk kesekian kalinya--memunggut sisa-sisa kesabarannya yang hampir habis. "Trouble maker yang nggak terhormat, asal lo tahu ... gue nggak pernah sudi berurusan sama lo kalo bukan tugas gue! Mau sampe kapan lo jadi beban sekolah, heh?!" Kalau saja kedudukan wakil ketua OSIS bukan lagi menjadi jabatannya, tentu saja Jeshen tidak akan pernah sudi berurusan dengan trouble maker satu itu. Yang mana bahkan ketua OSIS-nya saja angkat tangan dan mau tak mau Jeshen yang mengambil alih.

"Ck, wakil ketua OSIS gatau diri! Bukan berarti lo punya jabatan disini jadi seenak jidat ngatain gue! Emang ya, dibaikin malah ngelunjak, nggak dibaikin kayak babi. Pergi sana lo, pagi-pagi udah bikin mood gue hancur aja!"

"Lo pikir, mood lo doang yang ancur? Lo muncul dipandangan gue aja langsung bikin hari-hari tenang gue rusak! Bukan gue yang nggak tau diri, tapi lo! Kalo lo nggak niat sekolah, nggak usah banyak tingkah. Tinggal cabut berkas terus semua selesai!"

Bukannya tersinggung ataupun mengeluarkan kemarahannya, Jeslyn malah meloloskan tawanya seolah-seolah ucapan Jeshen adalah sebuah lelucon. Namun suara tawa yang menyiratkan remehan itu berangsur mereda bersamaan Jeslyn mengikis ruang diantara mereka sebelum mendongakkan wajahnya--melemparkan tatapan tenang namun mampu membuat lawannya merasa terintimidasi. "Serius lo bilang kayak gitu? Apa lo lupa kalo gue.keponakan.penyumbang terbesar.sekolah.ini?" Jeslyn mengakhiri ucapannya yang terdengar menantang dengan menampilkan senyum angkuhnya.

"Lo pikir gue peduli kalo lo itu keponakan penyumbang terbesar sekolah ini? Gue nggak peduli, yang gue tau lo itu cuma trouble maker di sekolahan ini." Lelaki berusia tujuh belas tahun itu menyentil jidat Jeslyn tak berperasaan sampai-sampai berbunyi 'tak' yang sedetik kemudian disusul suara rintihan kesakitan si korban.

"Shit, sakit bego! Nggak usah sentuh gue, gue alergi sama lo!" Jeslyn mengelus bagian jidatnya yang terasa sakit sambil menyemburkan makiannya pada seonggok makhluk sialan yang tak sedikitpun menampakkan ekspresi penyesalan ataupun bersalah diwajahnya. Demi sempak Squidward, Jeslyn tidak akan pernah memaafkan perbuatan wakil ketua OSIS sialan itu. Selama hidup di bumi, belum pernah ada lelaki yang menyakiti ataupun berani melayangkan tangan padanya.

Jelas sekali Jeslyn tidak terima kalau ada yang menganiayanya walau hanya sebuah sentilan, tanpa pikir panjang Jeslyn melayangkan bogemannya diwajah wakil ketua OSIS rese itu. Namun serangan demi serangan yang diberikan Jeslyn selalu berhasil ditepis Jeshen dan berakhir kedua tangan Jeslyn tertahan tepat diatas kepalanya dan terkunci erat oleh satu tangan Jeshen dengan mudahnya.

Atmosfir yang tadinya memanas mendadak berubah canggung ketika perkuncian itu mengakibatkan ruang diantara diantara wajah mereka merapat sampai-sampai hanya tersisa satu jengkal saja. Saking terlampau dekat mereka dapat merasakan hawa hangat menerpa wajah satu sama lain sesaat sebelum kompak membisu dibalik manik mata yang saling bertukar tatap.

"Jangan karena lo keponakan pemilik sekolahan ini jadi bersikap semena-mena, paham?" ucap Jeshen setenang tatapannya namun perlahan tapi pasti cengkraman tangan lelaki itu mengerat dan sontak membuat Jeslyn meringis kesakitan.

"Kenapa? Kalo gue bisa bersikap semena-mena di sini itu kekurangan lo atau kelebihan gue, hah?! Lagian juga om gue nggak pernah komplain apapun tentang kelakuan gue selama disini. Lepasin tangan gue, gue alergi lo sentuh!" raung Jeslyn sembari menggoyang tangannya kasar--masih berusaha melepaskan tangannya tapi dayanya tak sebesar cowok sialan itu.

"Jelas kekurangan lo, lo semena-mena karena salah satu keluarga lo punya status di sini. Asal lo tahu, nggak pernah komplain bukan berarti Pak Firza nerima kelakuan semena-mena lo kayak gini. Beliau udah tahu semua kelakuan lo selama disini."

"Apa?!"

"Kenapa? Kaget, hm?" tanya--ejek Jeshen seraya mengendurkan tangannya yang mana membuat cengkramannya terurai. Jujur saja, melihat raut terkejut serta ketakutan yang tergambar jelas diwajah perempuan itu menjadi kepuasan tersendiri baginya, karena selama ini ekspresi bak mati kutu itu tak pernah didapati Jeshen.

"Cuih, gue tahu ini pasti akal-akalan lo aja! Lo mau gue cabut dari sekolahan ini makanya lo bawa-bawa om gue segala ya, 'kan?! Ngaku nggak lo, hah?!" tuntut Jeslyn sambil mengacungkan jari telunjuknya diwajah Jeshen, namun orang yang sedang dimakinya itu tak memaparkan ekspresi apapun.

Jeshen nampak melirik jari telunjuk Jeslyn sekilas sebelum mengangkat bahunya acuh, sungguh semakin malas menanggapi perempuan gila satu ini. Kalau saja dia bukan manusia sudah Jeshen pastikan akan dibuang ke pembuangan terakhir. "Pak Firza bakalan buat pindahin lo sama antek-antek lo itu ke sekolah pinggir kota kalo dalam sebulan nggak ada progres dan masih buat masalah."

"Gue nggak percaya sama omongan lo, lo pasti ngarang, 'kan?!"

"Gue nggak butuh kepercayaan lo, tapi bisa gue buktiin. Gue juga nggak main-main, tunggu aja."

"Sialan, lu ngancem gue? Lu pikir gue bakalan takut sama ancaman busuk lo itu?!"

"Nggak ada yang ngancem, itu cuma peringatan ...." Jeshen sengaja mempermainkan Jeslyn dengan menjeda ucapannya saat perempuan itu mendadak terdiam--nampak mulai penasaran dan mencermati ucapannya. Namun tak lama Jeshen melanjutkan ucapannya karena sebuah bogeman nyaris akan mendarat di wajahnya. "Bayangin, bayangin gimana nasib lo sama antek-antek lo itu kalau seandainya gue lapor ke beliau."

Bugh!

Rintihan kesakitan itu terdengar jelas di halaman belakang sekolah dari lelaki berperawakan tinggi semampai--yang kini sedikit membungkuk dengan kedua tangan memegangi pinggang kirinya. Jeshen yang tak mengira akan mendapatkan tendangan dadakan secepat kilat itu tak berhasil menghindarinya. Dan rasa kesal bercampur marah Jeshen makin menjadi ketika si pelaku malah bersorak-sorai seolah sedang merayakan kemenangannya. Lihat nanti, Jeshen akan membuat perhitungan dengannya.

"Aw, udah nggak waras lo?! Nyerang siswa, sanksi poin seratus!"

"Dikit banget seratus, kenapa nggak duaratus sekalian?"

"Lima ratus poin!"

"Hm, lumayan dapet banyak. By the way, sakit nggak?" Jeslyn melirik pinggang Jeshen saat lelaki itu sudah menyempurnakan posisi berdirinya.

"Pikir sendiri!"

Jeslyn berdecih sambil memutar bola matanya jengah. "Ogah, males mikir. Makanya nggak usah sok jadi jagoan, main lapor-laporan. Dibayar berapa sih lo sama om gue, heh?!"

"Gue nggak dibayar, lo tuli? Gue dapet tugas dari beliau."

"Ta-tapi lo nggak harus ikutin tugas dari om gue. Gini deh gini, anggep aja masalah ini selesai terus gue juga bakalan minta maaf karena udah nyerang lo tap--"

"Jangan lapor ke Pak Firza?"

Jeslyn menjentikkan jarinya sebelum senyum secerah mentari pagi ini merekah diwajahnya. "Nah, itu maksud gue! Pinter juga lo, gimana?" tanya Jeslyn antusias sembari menaik-turunkan alisnya.

"Bisa sih ...."

Perempuan berambut cokelat itu menatap seseorang dihadapannya dengan tatapan tak percaya begitu mendengar usulannya langsung di-acc semudah itu. Catat, langsung di-acc! Tapi tunggu, sejak kapan waketos rese itu bisa diajak kompromi apalagi menyetujui permintaannya secepat ini? "Kenapa nggak dari tad--"

"Tapi cuma dimimpi," lanjut Jeshen menyerobot jeslyn yang hendak berbicara.

Jeslyn berdecih kesal saat kecurigaannya terbukti, salah satu hal bodoh yang pernah dilakukan Jeslyn adalah mempercayai waketos rese itu. "Emang anak setan, bego banget gue bisa percaya!"

"Baru nyadar kalo bego, hm?"

Jeslyn mencibir Jeshen mengunakan gerakan mulut sebelum membalikkan badan lalu mengayunkan kakinya menuju gedung sekolah. "Pergi jauh-jauh sana lo, menuh-menuhin bumi aja!"

"Heh, mau kemana lo? Gue belum selesai ngomong!"

"Nggak peduli, ngomong aja sama pohon!" Setelah berteriak, Jeslyn nampak santai bahkan tak ada rasa takut saat mengacungkan jari tengahnya tinggi-tinggi kepada seseorang yang menjabat sebagai wakil ketua OSIS itu.

"Oh, jadi lo beneran nggak mau gue tolongin?" Sepersekian detik setelah Jeshen berbicara, perempuan yang tadinya hendak memasuki gedung sekolah itu tiba-tiba berhenti sebelum berbalik dengan kedua tangan bertumpu pada pinggang serta tatapan tak bersahabat yang mirip seperti mengajak tawuran.

"Nggak butuh pertolongan lo!"

"Gue nggak bohong."

"Bodo amat!"

"Zydan lagi sakit, gue butuh asisten."

"Jangan bilang lo mau gue jadi asisten lo!" tebak Jeslyn.

"Bener, gue nggak bakalan lapor ke Pak Firza ... asal lo mau jadi asisten gue."

"Cih, asisten yang lo maksud itu babu, 'kan?"

"Gue nggak menyebut asisten itu babu."

"Sama aja, gue nggak sudi jadi babu lo!" Jadi babu? Sial, Jeslyn tak menyangka jika masalah sekecil ini bisa menjerumuskannya menjadi asisten alias babunya waketos sialan itu. Kalau saja ini tidak menyangkut nasibnya serta teman-temannya Jeslyn bersumpah tidak akan pernah sudi melakukannya. Akh, kenapa ia merasa kalau Jeshen sedang mempermainkannya. Dasar anak setan!

"Oh, oke. Berarti lo udah siap cabut dari sekolah ini, 'kan?" tanya Jeshen sembari mengeluarkan sebuah benda persegi panjang berwarna hitam metalik yang bersembunyi dibalik saku celananya dan bersiap hendak menelepon seseorang, namun sebelum itu terjadi ponsel berlogo apel digigit itu sudah berpindah tangan setelah berhasil direbut paksa oleh perempuan berambut cokelat itu.

"Berapa?"

"Berapa hari jadi babu lo?!" Jeslyn membuka berucap lagi ketika Jeshen hanya menatapnya datar tanpa mengatakan sesuatu. Sumpah demi apapun, tangan Jeslyn sangat tidak sabar untuk membuat wajah waketos rese ini babak belur namun lagi-lagi harus ditahan karena masalahnya akan bertambah jika sampai ditelinga Om Firza.

"Enam hari."

"Kelamaan!"

"Lima hari?"

"Masih kelamaan."

"Empat hari. Udah nggak bisa ditawar!"

"Tiga hari! Gue nggak nerima penolakan!"

"Kenapa jadi lo yang ngatur?"

"Suka-suka gue dong!"

Jeshen menghela napas panjang sebelum mengangguk--memilih mengalah dengan menyetujui penawaran perempuan itu walaupun terkesan curang. "Oke, tiga hari. Deal?" Jeshen mengulurkan tangan kanannya sebagai simbol pengesahan tawar-menawar mereka. Awalnya Jeslyn tak menghiraukan untuk membalas uluran tangan Jeshen namun karena pelototan lelaki itu mau tak mau Jeslyn menjabat tangan Jeshen. "Deal! ucap Jeslyn lantang sebelum buru-buru melepaskan jabatan tangannya mereka.

🔆Je🔆

Wait, please jangan serang gue karena gue kelamaan hibernasi padahal kalian udah lumutan nungguin cerita ini sampe dicari-cariin mulu. Jadi gini, setelah mengumpulkan nyawa melewati perjalanan panjang gue bisa update juga. Gue tau cerita ini lama banget updatenya tapi percayalah gue udah berjuang mati-matian ngelawan writer block dan akhirnya gue bisa sampai dititik dimana gue berhasil ngalahin itu berkat dukungan kalian semua. Kayaknya makasih aja nggak bakalan cukup, jadi gue pengen ngasih prolog ini agak penjangan-eh malah panjang banget yeekan tapi gapapa biar kalian semua seneng hehe.

Well, seperti yang kalian lihat kalo cerita ini ga cuma revisi tapi bakalan gue rombak. Mulai dari judul, blurb, nama tokoh buat mendukung cerita ini biar nyambung.

Sebelum hibernasi lagi gue mau ngasih surat terbuka ke kalian yang baca ini, pokoknya yang baca cerita ini harus mematuhi protokol kesehatan dan sehat selalu. Stay safe dan healthy yap.

Waketos rese kesayangan gue.

Cewek bar-bar panutan gue.

Yogyakarta, 05 Juli 2021

Continue Reading

You'll Also Like

6.4M 212K 33
[PART DI PRIVATE, FOLLOW UNTUK MEMBACA 18+] "Apa lo liat-liat, minta di colok tuh mata?!," ketus gadis itu memelototi seorang cowok di hadapannya. "D...
1.4M 30.4K 22
[sudah diterbitkan oleh Momentous Publisher tanggal 25 Maret 2021] [Beberapa Part sudah dihapus] Penulis : Ohdaraa (darainbxws) p.s : Cerita ini hany...
581K 30.1K 50
17+ Menikah untuk Berubah atau Menikah untuk Berulah? Aeris Florenzea, nakal, pembuat onar, bulak-balik ruang BK, dan itu sudah biasa. Asean Vareri O...
3.2M 132K 63
Ini bukan cerita tentang seorang bad boy bertemu dengan bad girls. Atau seorang pemuda CEO yang menemukan wanita idamannya. Ini bercerita tentang kis...
Wattpad App - Unlock exclusive features