Without You✓

By dreamsinthelight

24.5K 2.3K 334

Berawal dari kisah percintaan Audrey Valencia bersama Ravael Leo Aiden di masa SMP. Ravael mengatakan perasaa... More

1. Entah Dapat Hidayah Dari Mana
2. Jadian
3. Demi Kepo
4. Telat
5. Dihukum
cast
6. Berubah
7. Rencana
8. Berhasil
9. Putus
11. Still Love You
12. Mendekat
13. Janggal
14. Happy Birthday, Audrey Valencia
15. Penjelasan Dan Keraguan
16. Pencerahan
17. Kenapa?
18. Pertengkaran Sengit
19. Tangis
20. Berjuang
21. Pergi
22. Sad Girl
23. Sandaran
24. Lembaran Baru
25. Angel Ladisya Isabelle Greyson
26. Teman Baru
27. Dia Berbeda
28. Pacaran, yuk!
29. Kotak Musik
30. Dia Kembali
31. Balikan?
32. Something
33. Mutiara Kirana Wijaya
34. Siapa Dia?
35. Mulai Terungkap
36. Benarkah?
37. Sandiwara Berakhir
38. Pilu
39. Pengorbanan
40. Tak tersentuh
41. Pengobatan
42. Surat
43. Kehilangan
44. Tak berarti
45. Sudah Saatnya (END)
✨[FERI-SAMUEL] Special Part [ AU-RI]✨
EXTRA PART (EPILOG)
My Heart is Calling You

10. Sad

547 72 19
By dreamsinthelight

Sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian yang menimpa Audrey putus dengan kekasihnya itu kini hidupnya hampa. Ia jadi teringat bagaimana ia bisa kenal pria tersebut yang berhasil merebut hatinya dengan waktu yang sangat singkat.

Flashback on

"Eh, itu punya gue!!! Nyelak aja bisanya, itu kan punya gue," Cecar Audrey.

"Elah, sekali kali napa ngalah ama sahabat, ya Allah," nyolot Chatrine.

"Dasar perut karung!!" Sindir Audrey pedas.

"Bodo. daripada lo? Perut buncit noh kayak Pak Pitak setengah botak!" Ledek Chatrine tak sesuai fakta. Karena pasalnya bentuk badan Audrey tak seperti itu, bahkan jauh lebih sempurna daripada itu. Namun sahabatnya itu malah menyama-nyamakan bentuk perutnya dengan Pak Satpam di sekolah.

"Ck, lo pada, ya? Berantem terus. Pusing nih gue lama," oceh Ferisha sok bijak dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari kedua sahabatnya itu yang membuat nyalinya menciut.

"Gorok aja sono Sha pala lo," sebal Audrey.

"Gue masih mau  hidup. Mau ngejar cita cita gue dulu buat ngerebut hatinya Cha Eun Woo sama My baby Taehyung," ujarnya antusias bak anak kecil yang sedang menonton serial kartun kesukaannya.

"Sopankah begitu? Cantik kah anda?," Tanya Audrey.

"Boleh gue muntah sejenak?," Ikut Chatrine menimpali.

"Silahkan," balas Audrey tulus.

Uwek!!

OHH DAMN!!!

Chatrine benar benar gila tidak seperti biasanya. Pikir Audrey itu hanyalah sebuah candaan semata. Namun kini seragamnya sudah dipenuhi muntah sahabatnya itu. Ingin rasanya ia melempar sepatu milik Udin Maudidin teman sekelasnya itu yang di mana sepatunya tidak pernah dicuci selama 5 tahun, ia berkata bahwa sepatu itu tidak perlu dicuci karena itu adalah sepatu favoritnya karena gara-gara sepatu itu ia jadi bisa mendapatkan hadiah jam tangan Rolex dan juga penghargaan karena bisa memenangkan pertandingan sepatu terbau sikil seintro sekolah ini. Juara satu pula. Gimana Udin gak ridho sama sepatunya.

"Ha? hahahaha..... Mampus maneh!!!! Kop tah hukuman na!!! Audrey kasian amat ci..... Kena muntah," ledek Ferisha disela sela tawanya.

"CHATRINE!!! LO KENAPA BENERAN MUNTAHIN GUE??!! KALOPUN LO MAU MUNTAH JUGA JANGAN MUNTAH DI GUE TAPI DI FERISHA KAN DIA YANG UDAH BIKIN LO MUAK!!!!!" Murka Audrey. Kini penghuni kantin sudah ramai bejibun seperti menonton artis idola mereka secara langsung. Bagaimana tidak? Harga diri Audrey kini menurun, sungguh sahabatnya itu benar-benar memalukan dirinya.

"Lah? Kan elo yang ngijinin, yaudah gue MUNTAHIN di elo aja!! Lagipula gue nggak bercanda kok. Lo si... Emang gue pernah bercanda? enggak kan... Eh tapi ngomong ngomong sori ya sori... Soalnya perut gue dari awal masuk sekolah tadi kaga enak banget mau muntah. Kayaknya gue masuk angin gara-gara malem maraton Drakor pas banget di depan kipas apalagi AC yang di kamar gue suhunya gue fullin," jelas Chatrine panjang lebar seraya menyengir tak berdosa.

"BODO AMAT!" Teriak Audrey.

Tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan hoodie berwarna abu-abu tersebut ke Audrey. Dan seketika penghuni yang berada di situ diam mematung seperti menahan napasnya. Audrey? Ia malah kebingungan siapa orang yang berada di hadapannya ini.

"Lo? Siapa?" Tanya Audrey basa-basi. Pria itu berdecak.

"Nih, pake," perintahnya.

"Lo siapa, sih? Nggak usah soken, deh," balas Audrey sarkas.

"Banyak omong," tegas pria tersebut seraya menarik tangan Audrey dan berjalan menjauh dari kerumunan menuju ke toilet.

"Eh, lo ngapain bawa gue ke toilet?," Tanya Audrey panik.

"Ganti baju seragam lo sama hoodie ini!! Emang lo nggak malu sekolah pake seragam yang kena muntah sahabat lo itu?," Tanya pria tersebut. Audrey menyeringitkan dahinya nampak kebingungan... Oh ya.. ia tersadar sesuatu kalau saat ini seragamnya kotor akibat ulah sahabatnya itu. Ia menyengir kuda menahan malu karena pasalnya ia tidak mengerti ngerti apa yang diperintahkan laki-laki di hadapannya ini sejak awal. Audrey pun mengambil hoodie yang disodorkan oleh pria tersebut dan menuju ke kamar toilet. Setelah beberapa menit ia pun keluar dari toilet tersebut. Ia dikejutkan oleh seseorang ketika begitu terbuka pintunya ia ditatap oleh seseorang pria yang tadi meminjamkan hoodie itu kepada dirinya, entahlah tatapannya tidak bisa diartikan.

"Lo ngapain masih di sini?," Tanya Audrey sedikit bingung.

"Nungguin lo!" Balas lelaki tersebut. Audrey sedikit terkejut. Buat apa ia menunggunya? Ada urusan, kah? Namun seingat Audrey ia baru kenal pria ini sekarang. Audrey lupa akan satu hal, namun apa? Ya, ia baru inget jika dirinya belum sempat mengucapkan terimakasih kepada pria ini.

"Thanks ya hoodienya, besok gue balikin," ucap Audrey seraya tersenyum.

"Gak usah, buat lo aja! Oh ya kenalin nama gue Ravael Leo Aiden," ucapnya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.

"Audrey Valencia," balasnya menerima uluran tangan lelaki tersebut.

Flashback off

©©©

Hujan deras yang mengguyur kota jakarta malam ini.


"Hft... Bete banget, sih," gumamnya letih. Audrey berjalan ke arah lemari bajunya dan mengambil hoodie secara asal.

Sial.

Ia tidak sengaja mengambil hoodie yang beberapa waktu lalu dikasih oleh Ravael yang ia simpan di dalam lemariya.

"Kenapa harus ini?,"  Tanyanya lirih.

"Ah, bodo amat, ah!! Yang penting gue laper!" Ucapnya seraya memakai hoodie berwarna abu-abu tersebut. Kini tubuhnya dibalut oleh hoodie dan celana joger berwarna hitam putih. Ia berjalan ke arah cermin sedikit memoleskan lip bam ke bibirnya dan melirik jam yang melingkar ditangannya.

"Baru jam tujuh. Bang Marcell udah tidur belom, ya? Minta anter dia aja, ah!" Monolognya seraya keluar dari kamarnya.

Ia sudah berada di ruang tamu, dan terlihat abangnya yang sedang menonton acara televisi di sofa seraya menikmati cemilan.

"Bang, anterin gue, yuk? Gue mau beli martabak manis di depan Indomaret," pintanya manja sambil menggoyang-goyangkan lengan abangnya itu.

"Gak males. Mending sendiri aja sana," usir Marcell.

"Dish!! Tega banget, sih. Nanti kalo Audrey kenapa-napa gimana??? Ayo, dong... Bentar doang plis, di luar hujan," ucap Audrey memohon.

"Biarin."

"Dasar kejam!" bentak Audrey dan beranjak keluar rumah.

Brak!!

Audrey menutup pintu rumah dengan sangat kencang. Sepertinya ia sedang kesal. Marcell yang melihat Audrey seperti itu hanya menggelengkan kepalanya.

©©©

Sepanjang perjalanan Audrey tak habis-habisnya mendumel mengucapkan sumpah serapah kepada abangnya itu

"Dasar Abang laknat! Kejam! Jahat! Pelit! Nggak peka!! Ishh, dosa apa gue sampe punya Abang kayak dia? Ih amit-amit. Nyantai mulu kerjaannya, gue demen kesambet petir!" ucapnya asal.

DUAR!!!

Audrey terlonjak kaget mendengarnya secara refleks ia menginjak rem dalam dalam hingga kepalanya membentur stir mobil.

"Sial banget gue hari ini!" Umpatnya seraya menutup kaca mobil lalh setelahnya tersenyum manis. "Alhamdulillah, akhirnya doa gue terkabul. Pasti sekarang dia udah gosong," monolognya menghayal dan terkekeh tanpa dosa.

Drettt Drettt Drettt

Ponsel Audrey bergetar tanda ada panggilan yang masuk. Audrey tersenyum senang, karena ia berpikir bahwa yang menelepon dirinya adalah bibinya dan mengabarinya bahwa abangnya itu benar-benar tersambar petir.

"Siapa, ya?,"  Tanyanya bingung.

"Pasti Bibi, ngabarin kalo Bang Marcell udah gosong," sambungnya sambil mengangkat telepon tersebut.

"Iya, Bi, iya... Urusin aja pemakamannya," seloroh Audrey.

"Drey? ini gue Delwyn. Pemakaman?pemakaman siapa?," Jawab seseorang di sebrang sana.

Audrey membelalakan matanya kaget dan melihat kembali ponsel yang ia pegang. Dan ternyata benar yang menelepon tersebut bukan bibi melainkan Delwyn.

Dugaannya salah.

"Eh? lo Delwyn? Sori-sori tadi itu gue salah ngomong.  Ada apa, ya?," Tanyanya sedikit kikuk.

"Lo bisa ke sini sekarang gak? Nanti gue kirim lokasinya. Intinya lo harus ke sini. Titik. Ini penting, Chatrine sama Ferisha juga ada di sini," papar Delwyn di sebrang sana.

"Hah? Oh, yaudah," sahutnya agak cuek.

"Ngapain dah? Ada Ferisha sama Chatrine? Ngapain tuh orang?," batin Audrey bertanya-tanya.

****

Kini Audrey sudah sampai di tempat tujuannya. Ia keluar dari mobil dan mulai mengamati sekitarnya. Namun sepertinya ia salah tempat, sebab kini ia berada di luar Club. Tapi benar ini lokasinya. Untuk apa sahabatnya pergi bersama Delwyn ke tempat terkutuk ini?

"Gue nggak salah tempat, kan? Bener ini lokasinya. Tapi ngapain mereka ke sini? Gue coba masuk aja kali, ya?," Ucapnya ragu. Dengan langkah pelan dan ragu-ragu ia memasuki Club tersebut.

Ia mencari-cari orang yang sedang ingin ditemui. Terlihat seperti tak asing baginya ada 3 cowok dan juga 2 cewek yang tengah berdiri di sana. Siapa lagi jika bukan Ravael, Davit, Delwyn, Chatrine, dan Ferisha.

"Kalian? Ngapain?," Tanya Audrey ketika sudah menghampiri mereka berlima. Tidak ke dua cowok itu dan kedua sahabatnya tidak sama sekali mabuk bahkan sepertinya ia belum minum. Namun apa yang terjadi di sini? Ferisha memberi kode kepada Audrey untuk melihat ke depan. Dan benar saja, ia terkejut dengan semua ini. Audrey berharap ini hanya mimpi. Entah mengapa hatinya terasa mencolos.

Di depan Audrey terlihat Ravael yang sudah menghabiskan 7 wine. Sepertinya ia sudah tau apa maksud Delwyn menelepon dirinya. Ya, ia ingin Audrey membantu Ravael, mungkin teman-temannya sudah kewalahan. Namun apa urusannya?bukankah sekarang status Audrey bukan lagi pacarnya? Audrey tersenyum miris.

Ia maju dan menghampiri Ravael. Di jatuhkannya minuman tersebut dan menatap geram Ravael.

"Maksud lo apa ngelakuin semua ini? Lo udah gila? Gue nggak nyangka murid terpandai dan terhormat ternyata kelakuannya begini!" Desak Audrey meninggi dan penuh penekanan.

"Segitu kepikirannya gue sama dia sampe-sampe gue ngeliat dia ada di hadapan gue sekarang?," Seloroh Ravael dengan mata yang berkabut dan sempoyongan.

Deg.

Apa maksud dari semua ini? Mengapa Ravael mengatakan seperti itu? Ada rasa remuk di dalam hatinya. Apakah ia salah mengambil keputusan jika ia memutuskan hubungannya dengan Ravael? Namun ia rasa sudah benar. Bahkan Ravael mencaci dan terlihat baik-baik aja pada saat itu. Tapi mengapa seperti ini? Tidak! Audrey tidak mau berharap lebih. Karena tidak sepenuhnya yang diucapnya benar. Ravael sedang mabuk sekarang.

"Dia Audrey, Rav. Sadar! Plis, pulang ya?," bujuk Davit. Nampak terlihat ada raut kekhawatiran di sana.

"Gue udah kehilangan orang yang gue sayang gara-gara dia!!! Dasar brengsek!! Nggak tanggung jawab! Tukang salah paham."

"Apa maksudnya? Dia siapa?," batin Audrey bertanya-tanya.

Bingung. Itu yang Audrey rasakan saat ini. Namun mengapa teman-temannya tidak terlihat bingung? Seperti sudah tau sesuatu.

"Gue sayang lo, Audrey... Jangan tinggalin gue," mohon Ravael lirih setelah itu ia menutup matanya, merasa tidak kuat dengan pusing yang ia alami karena terlalu banyak minum.

Deg

Sayang?

Continue Reading

You'll Also Like

5.1M 184K 38
Sequel (The Other Side) "Buat apa lo mertahanin suatu hubungan kalo lo berjuang sendirian?" "I can't say hello to you and risk another goodbye." Apak...
28.9K 2.3K 40
Apakah kalian percaya dalam hubungan PERSAHABATAN tidak akan tumbuh perasaan LAIN? 'Gue gak keberatan tetap jadi SAHABAT lo, tapi satu hal yang pasti...
98.7K 3.4K 50
[follow saya dulu, nyatanya itu lebih baik] "Itu bukan urusan lo ta! Dan kenapa lo terus-terusan gangguin gue, hah?" tanya Revan dengan nada suara ti...
Wattpad App - Unlock exclusive features