Aku memarkirkan mobil agak jauh dari area pendakian. Memang lebih aman jika memarkir sekitar seratus atau dua ratus meter dari lokasi. Aku menyandang ransel berisi segala perlengkapan mendaki. Terakhir, mengunci mobil dan berjalan ringan menuju Pos I.
Benar saja, Sasha sedang menunggu di sana sambil memainkan ponsel miliknya. Mungkin sedang berburu barang online yang sedang promo diskon besar-besaran. Langsung saja kuhampiri gadis berkuncir kuda itu.
"Ya ampun! Lo beneran datang! Gue kira lo bakal tetap mendam di rumah," seru Sasha girang saat melihatku menghampirinya.
Aku tersenyum miring. "Here i am. Lagian acara nggak penting banget." Aku merentangkan tangan, membuat Sasha tersenyum simpul.
Gadis itu keluar dari pos, menghampiriku sambil menyandang perlengkapan tasnya. Dia kemudian berterimakasih pada penjaga pos yang membolehkannya menunggu bersama mereka. Setelah memberikan beberapa lembar uang lima puluhan, kami beranjak meninggalkan pos. Mulai mendaki.
"Yang lain pada ke mana?" tanyaku, heran tak mendapati satu pun orang di depan dalam radius sepuluh meter.
"Udah duluan naik dari sejam yang lalu. Lo sih, lumayan telat," jawab Sasha santai.
Aku tertawa renyah. Sudah dapat keluar rumah dan melarikan diri saja sudah sangat bersyukur. Alhasil, hanya aku dan Sasha yang ketinggalan rombongan dan hanya akan mendaki berdua saja.
"Oh iya, memang acara apaan, sih, Ri? Segitu nggak pentingnya sampai lo bela-belain kabur?" tanya Sasha, tangannya asik menghalau ranting-ranting yang berseliweran.
Aku mendesah panjang. Berkali-kali melengos. Tak suka mengenang kejadian yang konyol dan gila tersebut. Apa aku harus memberi tahu Sasha? Eh, apa dia berkepentingan untuk tau?
"Kalau lo nggak mau jawab juga nggak apa-apa, kok," tukasnya disertai senyum hangat, as always.
Aku menggeleng pelan. Sasha sahabatku. Mungkin memang sebenarnya dia berhak tau. Lagipula dia juga sudah berbaik hati menungguku di pos sejak satu jam yang lalu atau malah lebih.
"Seandainya lo dijodohin sama orang yang sama sekali nggak lo kenal, lo bakalan setuju, nggak? Nerima, gitu?"
"Ya enggak, lah. Lagian zaman sekarang kok, masih senang main perjodohan. Lucu banget, nggak, sih? Udah nggak saling kenal. Apalagi kalau pemberitahuannya mendadak. Lagian kalau mau nikah kan nggak mesti lewat perjodohan," celoteh Sasha sambil tertawa garing. Lucu, menurutnya.
"Gue dijodohin. Sama bokap."
Sasha menatapku tak percaya, matanya membelalak. "Lo serius?"
"Serius. Dan gue nggak akan pulang sampai bokap gue cabut perkataannya."
Sasha malah menganga sekarang. "Lo serius? Maksud gue, lo akan tinggal di mana? Terus, kantor? Lo pasti bercanda, kan?"
Aku kembali menggeleng. "Gue serius, Sha. Tempat tinggal urusan mudah. Banyak yang nyewa rumah di sekitar kantor. Dan soal kantor ... gue, kan, manager-nya. Kantor itu kantor cabang, gue yang pegang kendali. Jadi, nggak ada urusannya sama bokap. Kecuali kalau bokap gue mau rugi besar," ungkapku. Santai melanjutkan langkah. Sasha menyusul langkahku yang panjang-panjang dengan sedikit berjalan lebih cepat.
"Gue nggak tau siapa yang harus gue dukung. Lo, atau orang tua lo." Ujaran Sasha sontak membuat keningku berkedut.
"Maksud lo?"
"Gini, ya, Ri. Ini spekulasi gue aja sih. Mungkin orang tua lo jodohin buat kebaikan lo aja. Lihat aja, selama ini bokap juga, kan selalu ngarahin lo sampai sukses begini. Yah, mungkin lo nggak tau hasilnya sekarang, tapi, bukan nggak mungkin kalau kali ini gue berkata benar," jelas Sasha.
Cih.
"Bukannya lo juga bilang kalau perjodohan itu nggak pantas dilakukan zaman sekarang ini? Apalagi dengan orang yang nggak lo kenal. Iya, kan?" Aku bertanya sarkas, menatap tajam mata Sasha yang mulai salah tingkah.
"Eh, maksud gue gini loh, Ri. Kenapa nggak coba percaya sama bokap lo gitu, loh. Selama ini kan bokap lo juga yang ngarahin hidup lo dan lo nggak pernah rugi. Mungkin, yah, kenapa nggak coba aja gitu-"
"Coba, huh? Lo lagi berpikir, nggak? Gue nggak mau main-main soal pernikahan. Sekali seumur hidup. Nggak coba-coba," sahutku jengkel. Kenapa Sasha malah membela papa? Persoalan ini bukan hal yang bisa dipermainkan.
"Paling nggak, lo buat perjanjian, gitu. Lo harus kenal dulu, baru-"
"Gue nyurhat supaya lo dukung, bukan bela bokap, apalagi nyuruh gue buat percaya sama bokap." Aku memotong penjelasan Sasha. Kesal dikomentari tentang hal yang kuhindari.
Aku berjalan cepat mendahului Sasha. Ternyata cerita padanya sama aja. Sama-sama membuatku emosi. Malah menyuruh untuk menerima, lagi. Pilihan untuk cerita padanya mungkin menambah daftar kesalahan yang kulakukan hari ini.
"Eh, Ri, please, jangan marah, deh, ya?" Sasha cepat menyusul. Kebiasaan mendaki membuatnya ligat menempuh medan mengerucut yang berbatu dan sedikit berlumpur.
"Gue nggak marah," dustaku.
"Lo bohong lagi. Serius, gue minta maaf kalau udah buat lo nggak nyaman."
"Nggak perlu minta maaf."
"Ya sudah, kalau gitu jangan marah lagi."
Aku mendesah cepat lalu mengangguk. Sesaat kemudian aku memelankan langkah, agar Sasha tidak kesulitan menyejajari langkah panjangku. Marah pun tak ada untungnya. Lagipula, mungkin yang dikatakan Sasha ada benarnya. Hanya saja, aku memang tak pernah berani mengambil risiko sebesar itu.
Lagian, mungkin Sasha hanya ingin agar aku berdamai dengan orangtuaku. Kecemasannya selalu tinggi. Sepuluh tahun berteman dekat dengannya cukup membuatku paham akan sifatnya.
Niatnya mungkin memang baik, hanya saja agak salah jika disampaikan ketika hatiku masih mendidih.
"Pokoknya, kalau lo butuh, gue akan ada buat lo," celetuk Sasha. Aku memaksakan senyum. Dari dulu, aku selalu menganggap perkataan semacam ini lucu dan agak lebay. Aku tidak semerana itu.
"Makasih," ucapku. Sasha menanggapi dengan senyum.
Dua jam mendaki, membuat kakiku sedikit pegal juga lelah. Sasha menginisiatifkan untuk istirahat sebentar. Aku menuruti. Tak ada salahnya merenggangkan otot betis sesaat.
"Mau?" Sasha menawarkan roti selai stroberi padaku. Saat akan menolak, perutku justru malah menagih dengan notifikasi terhebat dan memalukan, keroncongan. Akhirnya aku menyambut sodoran roti dari Sasha, melahapnya cepat.
Sasha malah tertawa, meyodorkan satu lagi roti selai miliknya. "Lapar banget, ya? Nih, gue kasih satu lagi. Habis ini langsung lanjut. Supaya nggak lapar di jalan," katanya.
Aku baru menyadari kalau aku memang benar-benar kelaparan. Tadi pagi aku hanya menyantap sepotong roti isi. Batal menyantap potongan kedua karena kehadiran Papa. Ah, Papa. Sedang apa beliau sekarang? Marah? Kecewa? Lalu Mama? Apa sedang menangis? Eyang? Apa eyang akan emosi pada cucu pertamanya yang melarikan diri?
"Lo melamun. Udah kenyang? Mikirin apa?" Aku mengerjap ketika Sasha melontarkan pertanyaan.
Tiba-tiba saja melintas pikiran tentang para orangtua yang sedang berkumpul di rumah. Terlintas begitu saja. Apa hanya karna aku yang cemas berlebihan? Ah, tidak. Mungkin hanya sedikit rasa bersalah karna tidak memercayai papa. Ah, shit! Kenapa aku malah mempertimbangkan perkataan Sasha beberapa jam lalu? Aku mengusap wajah yang terasa kebas.
Sasha menepuk bahuku. "Udah, nggak usah dipikirin lagi. Buang aja jauh-jauh. Sekarang lo nikmati aja apa yang udah lo pilih. Kalau perkataan gue yang tadi membebani lo, nggak usah dipikirin, ya."
Aku mengangguk.
"Nih satu lagi. Tadi perut lo bunyinya kencang banget. Kali aja butuh sepotong lagi."
Aku tertawa kecil lalu meraih roti selai yang diberikan Sasha. Lantas melahapnya cepat, membuat Sasha kembali tertawa. Mungkin aku memang sedang tampak sebagai orang paling kelaparan di matanya. Biar saja. Memang aku lapar.
Kami memutuskan melanjutkan langkah menusuri setiap jengkal titik terjal. Meskipun masih belum sepenuhnya beban hatiku terangkat, setidaknya bersama Sasha sedikit emosiku mulai memudar. Sekarang saja dia tidak bosannya menceritakan kisah SMA nya. Walaupun sudah berkali-kali mendengarnya, aku tetap tertawa menanggapi. Aku tau, dia tengah mencoba menghibur laraku.
Tepat pukul lima kurang sepuluh menit, kami sampai ke puncak. Anak-anak komunitas tampak berseru riang di atas sana. Ada yang tengah bercerita ria, juga ada yang sepertinya sedang ber-selfie di spot yang terkenal dengan keindahan kawah dan puncaknya ini.
"Hei! Kok nggak bilang-bilang mau datang?" Rinai lebih dulu menghampiriku. Bertanya sembari high-five.
"Lo seriusan di sini? Gue nggak lagi menghayal kan? Welcome! Akhirnya gabung di sini lo!" Kali ini Rifan mendatangiku.
"Seriuslah gue. Kayaknya lo harus sujud syukur karena gue jadi ikut," cetusku setengah bercanda pada Rifan. Temanku yang satu itu hanya cengengesan. Mana mau dia kusuruh sujud syukur.
"Hai Sha! Akhirnya lo berhasil bawa Ari ya." Rinai menepuk bahu Sasha sambil sedikit tersenyum. Sasha malah menyikut Rinai, lalu tersenyum canggung ke arahku.
"Gue cuma bantuin Ari mendaki doang, Rin. Lebay banget sih lo!" sahut Sasha.
"Yeah, whatever."
"Eh, sebentar. Kenapa lo tiba-tiba ikut kita? Acara keluarga lo gimana? Batal?"
"Ih, iya! Bukannya lo batalin pergi ya, kemarin? Kok mendadak ikut?"
"Urusan keluarga lo udah selesai, ya? Tumben cepat."
"Tapi kalau lo mau ikut, kenapa nggak bareng kita aja, gitu?"
Aku mengernyit mendengar pertanyaan Rifan dan Rinai yang sahut-sahutan. Aku melirik Sasha, meminta bantuannya agar menghindariku dari pertanyaan-pertanyaan ini. Sasha mengangguk.
"Kasihan Ari, kecapekan. Lo berdua malah borong pertanyaan. Lagian, kompak banget sih nanyanya," seru Sasha.
"Oh ya ampun, gue lupa! Duduk dulu, deh. Ada kopi hangat tuh. Minta aja sama mereka, udah dibuatkan. Gue sampai lupa lo udah nyampe. Saking terkejutnya, gitu loh," cerocos Rinai. Aku mendesah lega.
"Pasti lo capek, kan? Yuk, gabung di sana sama anak-anak. Sekalian nungguin sunset." Rifan merangkulku mendekati kerumunan anak-anak komunitas.
Begitu melihatku tiba, mereka sekonyong-konyong menghampiri. Seperti sedang merayakan penyambutan kecil-kecilan.
"Mas Ari jadi datang, loh."
"Alhamdulillah akhirnya datang juga."
"Aku seneng tho, Mas Ari jadi datang."
"Syukurlah Pak Ketua jadi datang."
"Gue kira Mas benar-benar nggak bisa datang."
"Oala, Mas, Mas. Kenapa nggak naik bareng kita tho?"
Beragam penyambutan kuterima. Aku hanya menanggapi dengan senyum. Lantas mereka menyodorkan segelas kopi hangat. Aku menyambut dengan sama hangatnya, sehangat rangkulan mereka.
Satu jam menunggu sambil tertawa ria melupakan lelah sementara. Rifan dan Rinai juga sudah tidak mempertanyakan lagi perihal aku yang tiba-tiba memutuskan kembali ikut setelah kemarin dikabarkan batal ikut.
Dan sekarang, di sisi kananku, Sasha tengah menikmati indahnya cakrawala yang mulai memamerkan gradasi warna yang memesona. Beberapa menit sunset yang indah. Tenggelam anggun, menarik serta cahaya terangnya. Semakin menarik saat melihat batas warna terang dan gelap. Anak komunitas yang sudah sedia sejak pertama kali tiba untuk menjepret sang surya yang akan beristirahat beberapa waktu, berkali memotret dalam hening. Tak ada kata. Hanya pandangan terpukau.
Walau memandang sunset menjadi rutinitasku sejak sembilan tahun lalu, rasa bosan tak lantas pernah sekali pun menyerang. Berapa ratus kali kusaksikan pun, ciptaan Tuhan yang ini tetap betah kunikmati. Beberapa detik indah.
"Rif, kapan balik?" tanyaku setelah langit sempurna gelap.
"Setengah jam lagi. Gue mau sholat dulu. Bareng mereka. Lo juga yuk, ikutan."
"Lo aja. Gue lagi capek." Aku menolak tegas.
"Awas lo, kena azab gara-gara ninggalin sholat, baru tau!" Rifan mencibir. Aku menjitaknya. Selalu saja mengancamku dengan azab.
Rifan bangkit, diikuti Rinai. Aku menoleh ke arah Sasha.
"Lo nggak ikutan sholat?" tanyaku pada Sasha. Dia malah menggeleng. "Kenapa?"
"Lagi dapet gue. Lo sendiri kenapa nggak sholat? Lagi dapet juga?"
"Sial lo!" Aku melempar kerikil kecil ke arah Sasha yang gesit menghindar.
"Lo nggak takut, gitu?"
"Takut apa?"
"Azab." Mendengar perkataan Sasha aku malah bergidik ngeri.
"Lo jangan nakutin gue. Parah lo, ah!"
Sasha terbahak, mungkin menurutnya wajahku terlihat konyol sekarang. Tapi jantungku malah berdebar kecang.
Kenapa pula gue tetiba jadi takut begini, coba? Dasar Rifan! Malah Sasha juga ikutan bicara tentang azab.
"Tapi gue serius, loh." Sasha malah lanjut membahas azab.
"Could you please, dont talk about 'azab' again?" Aku menginterupsi topik yang Sasha comot. Gadis itu malah mendongak menatapku kembali. Tatapan itu berlangsung dua puluh detik tanpa kedip. Aku yang lebih dulu memutuskan membuang pandang ke arah lain. "Iya, deh. Lo doain aja gue panjang umur. Biar sempat taubat," sambungku.
Sasha tertawa kecil, mengangguk. "Semoga, ya."
Hening. Aku masih fokus menatap langit malam. Bintang belum bermunculan. Bulan? Hanya tampak segaris. Sabit sebenar-benarnya sabit. Tipis dan lengkung. Di sebelahku, Sasha juga melakukan hal yang sama. Memandang langit. Bedanya denganku, mungkin ia sedang berpikir tentang alasan langit tidak runtuh walau tanpa tiang. Atau berpikir tentang seberapa luas langit, atau mungkin juga sedang mengkhayalkan dirinya yang akan mengunjungi beberapa lapis langit. Sasha selalu penuh akan pertanyaan. Juga imajinasi.
Yang sekarang kupikirkan? Semoga aku tidak benar-benar mendapat azab. Percaya atau tidak, kali ini aku terpengaruh ucapan Sasha yang membuat bulu kuduk berdiri tegak. Aku menggeleng kuat. Pikirkan yang lain saja.
Atau setidaknya, berharap nanti dan esok aku tidak mendapat kesulitan dan tekanan apa pun. Harapan hari cerah dan tanpa hal buruk. Semoga.