Ara merapihkan barang-barang. Sean sudah siap.
"Cil? Nanti Lo aja yang mandi di Curug."
"Ihs, apaan sih, gamau."
"Gue kan udah mandi, ngapain mandi lagi?"
"Maksud lo gue belum mandi?"
Sean berdiri, Ara melongo. Di tendang kursi tepat di depannya "Arghh, sakit,"lirihnya sendiri.
"Ara bego, ngapain nendang kursi coba?" Ara menjitak kepalanya sendiri.
Mereka menerobos macetnya puncak, Sean kembali lagi menggeluti sosoknya. Ia diam dan menjadi dingin. Ara pun tak tau apa yang terjadi.
Apakah yang Sean lakukan di villa tidak mengubah apa-apa? Ara meringis, ingatan hal manis akan Sean terus mengais.
Sudah seminggu sejak kejadian liburan aneh itu,Ara tidak pernah lagi mendapatkan pesan apa pun dari Sean. Dilihat dari postingan Sean, pria itu sepertinya sedang menikmati liburan di sebuah gunung.
Siang ini, Ara mengurung diri di kost Iris, sedangkan pemiliknya belum pulang dari luar kota. Ara benar-benar gabut, ia memainkan aplikasi whatsAppnya.
Dadanya bergemuruh kala Indah memposting sebuah foto pantai, Ara segera mencari nama Sean dan blank. Sean pun sedang memposting foto pasir di pantai.
Ara tersenyum miris, sepertinya mereka sedang menghabiskan liburan berdua. Tapi tunggu dulu, pemandangan foto Sean benar-benar mirip dengan satu foto yang di selipkan Iris di draftnya--itu berarti Sean sedang di Sukabumi, bukan di kampung halaman Indah. Setau Ara, Indah bukanlah warga Sukabumi.
Ceklek.
Pintu terbuka "Ara? Apa-apa an ini?"pekik Iris tiba-tiba. Ara terkesiap, menatap sekitarnya lalu nyengir tanpa dosa.
"Kakak? Udah pulang? Tidur gih kak, pasti capek,"kekeh Ara.
"Bersihkan atau aku marah?"
"Marah aja deh,"celetuk Ara. Iris melotot, keberanian Ara menciut, segera ia merapihkan sampah makanan dirinya.
Iris duduk, memijat pangkal hidungnya, masalah yang ia tangani benar-benar membuat dunianya jungkir balik.
Ia memejamkan matanya, helaan nafas kasar terdengar dari bibir Iris.
"Kakak kenapa?"tanya Ara menyodorkan teh ke hadapan Iris.
"Clara,"ujarnya Iris sedikit pusing.
Ara memijat pundak Iris, ia benar-benar menyusahkan wanita baik ini. "Kak? Berhentilah. Biarkan takdir berjalan sebagaimana mestinya."
Iris diam, ia benar-benar mengubah permainan takdir. Tak ingin Ara turut memikirkan hal ini, ia mengalihkan fokus Ara. Bertanya perihal bagaimana liburannya bersama Sean, apa saja yang mereka lakukan.
Sempat Iris ingin membunuh Ara kala wanita kecil ini memberitahu bahwa mereka tidur sekamar. Namun, Ara menyakini Iris bahwa tidak ada hal apa pun yang terjadi. Semua di batas normal, Ara tidak melakukan kenakalan remaja dan Iris menerimanya.
Sampailah pada cerita di mana Sean berubah, ia seperti memiliki sifat ganda. Di villa Sean manis bak pria yang menjaga wanitanya, di luar sifat Sean menggambarkan ibu kota. Siapa gue dan siapa lo.
Ara juga memberitahu bahwa ia mencurigai hubungan Sean dan Indah belum benar-benar berakhir, Ara menunjukkan postingan dua insan itu.
"Ara jatuh di tempat yang salah."
Iris berfikir sejenak, mencoba mencari jawaban.
"Siniin ponsel kamu." Iris menarik ponsel Ara, ia memposting tulisan Jika kuberi hatiku, bolehkah kuminta hatimu Jua.
"Faedahnya apa?"tanya Ara bingung.
Tingg..
"Tuh faedahnya,"ujar Iris. Ara mengerti saat Indah mengomentari postingannya. Ternyata Iris sedang memancing agar Indah dan Ara menciptakan sebuah percakapan.
Indah : ciye, jua itu siapa?
Ara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak tau kah indah bahwa arti jua adalah juga?
Ara : jua= juga.
Indah : wah bisa di copas nih.
Ara : monggo buk wkwk.
Skrg pacaran sama siapa ndah?
Indah : gak pacaran Ra, dekat sama Sean doang.
Deg !
"Gak usah basa basi, langsung tanya intinya,"ujar Iris.
"Tanya apa?"cengo Ara.
"Bodoh,"decak Iris. "Tanya Sean kerumah dia gak? Gitu aja gak paham,"kesal Iris.
"Santai aja dong buk, gak usah Ng gas!"kekeh Ara
"Sini ponselmu." Iris geram dengan kelemotan Ara.
Ara : gimana? Lebaran ini Sean kerumah gak?
Indah : enggak Ra, waktunya gak tepat.
"Tuh, udah di jawab,"ujar Iris berlalu.
"Sean bajingan,"geram Ara.
Ara mendial nomor Sean, ternyata pria itu belum menyudahi hubungannya dengan indah. Lalu? Untuk apa dia bersikap seolah-olah sedang mendekati Ara? Sialan, pria itu sungguh sialan. Apa arti pelukan yang dia berikan? Apa arti hal manis yang dia suguhkan?
"Monyet,"geram Ara.
"Halo Sean,"ujar Ara tak sabar.
"Hm."
"Sean? Gue mau lo jujur."
"Hm,"jawab suara dari sebarang.
"Hm HM HM , Lo mau konser bareng Nissa syaban?"ketus Ara. Sean berdecak.
Ara menarik nafasnya "Sean? Lo sebenarnya gimana sih sama sih Indah? Maksud gue lo udahan atau belum sih?"
Sean menghela nafasnya.
"Lo pikirin perasaan gue sama dia gak sih? Gue kaya perempuan jahat tau gak sih?"marah Ara.
"Lo ajak gue liburan, melakukan hal yang orang pacaran lakukan, tapi lo masih terikat komitmen sama dia. Sialan, lo kira gue apaan? Pelarian? Pelampiasan? Gila lo ya." Nafas Ara memburu.
"Ra? Dengerin. Gue udahan sama dia, tapi sejak kita dekat dia datang lagi Ra, gue sulit untuk mengelak."
"Bajingan lo ya, lo pakai otak lo dong Sean. Kalau dia deketin Lo, ya lo bisa kan bersikap biasa aja? Lo gak tau sikap manis lo ngadirin perasaan apa di hati gue? Ha? Tau gak?"
Sean diam. Ara mengatur deru nafasnya. Iris membanting pintu toilet dengan sengaja.
"Suaranya bisa b aja? Bisa di usir ibu kost aku ini Ra,"geram Iris keluar.
Ara tidak mendengarkan ocehan Iris.
"Cil? Gue kan udah bilang, gue butuh waktu buat lepasin dia sepenuhnya."
"Sean? Lo butuh waktu melepaskan dia bukan butuh waktu nyari penganti dia. Gue mundur Sean, Lo tuntaskan kisah lama lo sama si indah, jangan ikut sertakan gue."
"Gue dan Indah sama-sama wanita. Kami punya hati. Gue gak mau suatu saat Indah malah nyalahin gue atas selesainya hubungan kalian."
"Cil? Perlu lo tau, gue sama Indah gak akan sampai pada pernikahan. Pada akhirnya, gue sama indah akan menjalani jalan masing-masing,"ujar Sean melembut.
"Maksud lo? Lo pacaran sama dia dan menikah sama gue atau orang lain?"
"Sinting lo ya,"ketus Ara.
Ara menetralkan debaran jantungnya, ia tidak boleh ikut emosi.
"Sean."
"Gue tau, gue bukan siapa-siapa. Gue sama lo hanyalah dua insan yang saling menunggu kemana waktu mengantarkan kita di ujung pertemanan kita. Tapi cara lo salah Sean."
"Kisah lama lo belum berkahir, lo gak bisa mulai kisah baru dengan cara serumit ini. Gue mundur Sean, bukan gue berhenti memperjuangkan apa yang gue rasain. Karna, gue percaya, pada akhirnya yang berjuang setengah mati akan kalah dengan yang ada di hati."
Sebelum mendengarkan jawaban Sean, Ara menutup ponselnya. Ia merasa waktu kembali mempermainkan dirinya.
Ceklek.
"Udah selesai urusan rumah tangganya?"ledek Iris masuk.
Ara membuang mukanya.
"Dari awal aku sudah ingatin, jatuh cinta tidak sesederhana itu."
"Kak? Di draft tanpa judul mu, si Miss.I memperjuangkan Mr.S, aku? Boleh tidak memperjuangkan Sean?"
"Ra? Semua orang mempunyai kesempatan untuk berjuang. Tapi, orang itu haruslah membawa logika dalam peperangan."
"Maksud kakak disini, kamu harus bisa membaca situasi. Dimana kamu perlu untuk mundur beberapa langkah agar menghasilkan lompatan yang lebih tinggi."
"Ra? Kamu memerlukan dua hati untuk mendapatkan kisah yang sempurna. Kamu tidak bisa berdiri kokoh hanya karna kamu mencintai dia. Sean, aku rasa dia hanya ragu saja."
"Kak? Jangan beri aku harapan."
"Begitulah tugasku, membiarkan secercah harapan masuk tanpa di undang."
"Point pentingnya, berjuanglah kala itu di butuhkan. Sampai sini mengerti?"tanya Iris.
Ara mengangguk mengerti. Maksud dari Iris ialah, untuk apa sekarang ia berjuang toh perasaan Sean masih di kuasai oleh indah. Jodoh,maut dan segala teman-temannya telah di atur oleh semesta dan Ara mencoba untuk mempercayainya.
Holla. Jangan lupa vote.
Terimakasih :)