Tentang Ursulanda | dan bagai...

By ALIFPRASETYO49

3.4K 203 73

Kisah-kisah lama telah hilang, dunia berganti pada lembaran baru. Tanah-tanah hijau itu jadi saksi dari tumbu... More

Kata Pengantar
[ Prelude ]
BAGIAN 1
[Bagian 1 : Distrik 2 ]( revisi)
[ Bagian 2 : Distrik 2 ]
[Bagian 3 : Distrik 2]
BAGIAN 2
[ Bagian 1 : Perayaan Mada ]
[ Bagian 2 : Perayaan Mada ]
[Bagian 3 : Perayaan Mada ]
[ Bagian 4 : Perayaan Mada ]
BAGIAN 3
[ Bagian 1 : Pria dan Senjata Plasma ]
[Bagian 2 : Pria dan Senjata Plasma ]
[ Bagian 3 : Pria dan Senjata Plasma ]
BAGIAN 4
[ Bagian 1 : Tugas Rahasia]
[ Bagian 2 : Tugas Rahasia ]
[Bagian 3 : Tugas Rahasia ]
BAGIAN 5
[ Bagian 1 : Arvin dan Belma ]
[ Bagian 2 : Arvin dan Belma ]
BAGIAN 6
[ Bagian 1 : Misi Terakhir ]
[ Bagian 2 : Misi Terakhir ]
[ Bagian 3 : Misi Terakhir ]
[ Bagian 4 : Misi Terakhir ]
[ Bagian 5 : Misi Terakhir ]
[ Bagian 6 : Misi Terakhir ]
BAGIAN 7
[ Bagian 1 : Operasi Gang Merah ]
[ Bagian 2 : Operasi Gang Merah ]
BAGIAN 8
[ Bagian 1 : Pengungkapan ]
[ Bagian 2 : Pengungkapan ]
BAGIAN 9
[ Bagian 1 : Ingatan Masa Lalu ]
[Bagian 2 : Ingatan Masa Lalu ]
[ Bagian 3 : Ingatan Masa Lalu ]
BAGIAN 10
[ Bagian 1 : Pelarian ]
[ Bagian 2 : Pelarian ]
[ Bagian 3 : Pelarian ]
[ Bagian 4 : Pelarian ]
[ Bagian 5 : Pelarian ]
[ Bagian 6 : Pelarian ]
[Bagian 7 : Pelarian ]
BAGIAN 11
[ Bagian 1 : Perjumpaan ]
[ Bagian 2 : Perjumpaan ]
[ Bagian 3 : Perjumpaan ]
[ Bagian 4 : Perjumpaan ]
BAGIAN 12
[ Bagian 1 : Serangan Kedua ]
[ Bagian 2 : Serangan Kedua ]
[ Bagian 3 : Serangan Kedua ]
[ Bagian 4 : Serangan Kedua ]
BAGIAN 13
[ Bagian 1 : Persembunyian Rahasia ]
[ Bagian 2 : Persembunyian Rahasia ]
[ Epilog ]
Catatan Penulis ( Anna H. )
[ YANG TIDAK MEREKA CERITAKAN ]
[ Kisah Sebelumnya : Festival Panen ]
[ Kisah Sebelumnya : Festival Panen bag : 2 ]
[ Kisah Sebelumnya : Anak Kebanggaan Ayah ]
[ Kisah Sebelumnya : Anak Kebanggaan Ayah bag : 2 ]
[ Kisah Sebelumnya : Anak Kebanggaan Ayah bag : 3 ]
[ Kisah Sebelumnya : Anak Kebanggaan Ayah bag : 4 ]
[ Kisah Sebelumnya : Sebuah Pengorbanan ]

[ Kisah Sebelumnya : Festival Panen bag : 3 ]

16 0 0
By ALIFPRASETYO49

Mereka melanjutkan perjalanan.

Diatas bukit, Belma menangis sekeras yang dia bisa. Untung saja tidak ada yang mendengarkan, sehingga saat dia melakukan hal tersebut hanya suara jangkrik dan serangga malam yang membuyarkan suaranya. Rasa ketidakmampuan dan ketidakberdayaan membuat dirinya tiba-tiba menjadi selemah ini. sempat ia menyalahkan ketidakseimbanan hormon yang terjadi padanya, namun rasa-rasanya itu percuma. Dia pernah mendengar bagaimana teman-teman yang sudah pernah mengalami ini melampiaskan rasa tersebut, dia tidak menyangka bahwa ini akan menjadi hari yang cukup sulit baginya. Dalam ketidakberdayaan itu, Belma menatap ke arah festival. Dari atas bukti semua nampak indah dan nyaman, pencahayaannya sangat terang dana da dua kampu sorot yang menuju ke langit. Melihat itu semua tidak membuatnya bahagia, malah sebaliknya. Ia malah mengingathal bodoh yang terjadi beberapa waktu lalu, dan tanpa berpikir panjang dan malah ingin melampiaskan hal tersebut pada Arvin sekarang. Jika seandainya dia ada disini, begitulah yang dia harapkan.

Akan tetapi, pada kenyatannya, tidak ada siapapun yang berdiri diatas bukit kecuali dirinya. Fakta ini membuat keasadarannya kembali. Ia sempat menyalahi dirinya sendiri kenapa malah kabur ke arah bukti, namun bagaimana bisa ia turun sekarang? Jalurnya terlalu gelap. Maka muncullah pemikiran aneh untuk tinggal disini selama semalam, digigiti nyamuk, semut api da serangga-serangga penghisap darah lain. dalam keadaan seperti ini dia merasa begitu tenang, nyaman, sampai-sampai dia mendengar suara hatinya memanggil dirinya sendiri.

"Belma!" ucap suara itu sayup-sayup. Dia yakin itu pasti pembimbing jiwanya. Namun, ada seusatu yang aneh. Suara itu semakin kencang dan semakin keras, seakan-akan dia mendekat. Belma menoleh kebelakang, namun dia tidak menemukan apapun. Berbagai pikiran negatif masuk ke dalam kepalanya. Dalam hal ini, dia paham bahwa ada yang sesuatu yang salah. Bulu kuduknya menegang, dia merasa ada sesuatu yang sedang mengikutinya.

Ia berteriak keras ketika dua sosok gelap muncul dari balik jalur menuju bukit.

Belma memejamkan mata dan bertetiak, terdengar dua makhluk itu berlari ke arahnya. Kedua kaki Belma seperti ditahan sesuatu, dia tidak dapat melakukan langkah apapun. Dia merasa seluruh hidupnya sekarang di tahan oleh kedua makhluk itu. Lalu tiba-tiba, ada sesuatu yang membekap mulutnya.

" Hei-hei diamlah, ini aku Silas, kau bisa mengundang seluruh warga jika berteriak disini!" ucapnya keras namun tidak sekarang teriakan Belma. Secara remang cahaya bulan, dia dapat melihat kedua orang itu adalah Silas dan Arvin.

" Astaga, teriakanmu hampir menghancurkan gendang telingaku." Protes Arvin, dia masih menepuk-nepuk kedua telinganya.

" Ma-maf, itu refleks."

" Kenapa kau pergi ke bukit malam hari, ini berbahaya." Silas menatap Belma khawatir, tidak pernah dia melihat Silas melakukan hal itu.

" A...a..anu, aku tidak tahu harus berbuat apa, Tadi benar-benar kacau, heeheheh." Belma menggulum senyum kecil, ia usap tengkuknya karena malu. Malu karena dengan terang-terangan dia mengatakan itu, malu karena sekarang mereka berdua harus rela-rela datang menjemputnya di sini. Semua jadi repot gara-gara ketidakseimbangan hormonal.

" Sudahlah, aku sudah tau alasannya."

Kedua mata Belma melotot, ia beralih pandang ke arah Sila, tidak lagi membuang muka.

"Bagaimana yah, aku juga bingung mengatakannya." Kini, giliran Silas yang mengusap tengkuknya bingung.

" Haiss, kalian ini," Keluh Arvin, " Aku harus turun tangan juga sekarang? Kalian sudah saling berhadapan, langsung saja katakan. Silas, katakanlah, ayo! Biar kita bisa pulang lebih cepat, aku lelah setelah berlari puluhan meter ke bawah."

" Hei diamlah anak kecil, kau belum remaja bagaimana bisa tahu?" Timpal Silas, Arvin hanya bisa mendegus kesal, dia putuskan untuk menyender saja di bongkahan batu di dekat mereka. melihat bagaimana Silas akan emngakhiri ini semua.

" Baiklah, mungkin kau sudah mendegarnya dari Arvin, namun disini aku hanya ingin memperjelas saja. Baik, kau mungkin ingin mendengar apa yang aku rasakan, apa yang selama ini aku rasakan bukan. Jujur saja, selama..."

Saat itulah, bising suara mesin pendorong dan kipas menggaung bagai sangkakall di ujugn timur. Lampu-lampu mereka berpendaran kemerahan, mereka berpisah dan kemudian menyebar layaknya kawanan lebah pemangsa.

" Sial, apa yang terjadi?" Tukas Arvin.

Belma merasa sesuatu yang tidak enak dari benda ini. " Sebaiknya kita turun dan pulang, aku merasakan sesuatu yang buruk sebentar lagi akan terjadi."

Di bawah mereka, festival mulai kehilangan cahaya. Orang-orang berhamburan meninggalkan festival. Heli-heli besar itu mulai mendarat di tanah lapang yang ada di kaki gunung. Para penumpangnya kelihat gelap dan bergerombol. Keluar seakan tidak akan pernah habis dari balik kendaraan-kendaraan tersebut.

Mereka bertiga secara beriringan turun dari puncak bukit, saat dibawah terlhat jelas orang-orang mulai panik berlarian ke rumah mereka masing-masing. Terdengar tangis anak kecil dimana-mana.

" Oke, kita kembali kerumah masing-masing." Tegas Silas, mereka bertiga melakukan seperti yang dia lakukan.

Silas kembali kerumahnya, ia sampai lupa tidak mengunci balik pintu depan. Semoga saja Ayahnya belum kembali. Ia masuk lewat pintu depan dan membiarkan kunci tersebut tetap berada di sana. Pikirannya yang kalut, apalagi setelah terdengar bunyi ledakan dan desingan pistol plasma membuat panik massa. Hal yang ingin ia jumpai sekarang adalah kamarnya sendiri, maka hanya ruangan sempit dengan satu jendela itu yang ingin dia kunjungi sekarang. Napasnya tersengal-sengal, namun itu tidak dia pikirkan karena suara derap kaki ramai terdengar di sekitaran rumah-rumah penduduk.

Pikirannya kalut, berbagai pertanyaan yang tidak akan terjawab itu terngiang-ngiang di kepalanya. Apa yang terjadi? Siapa mereka? apa militer hendak mengambil alih Tanah leluhur kami? Terus menerus kalimat itu muncul di kepalanya.

Ia hampir sampai di dekat kamarnya, namun saat melangkah di depan kamar Ayahnya, dia bisa melihat Ayahnya disana tengah melakukan sesuatu. Ia emngobrak-abrik seisi kamar dan mencari sesuatu. " Ayah? Kau kembali?"

Mendengar suara Anaknya, Hansen lekas mendekapnya dengan senang. " Aku kira mereka menangkapmu, kemana saja kau pergi? aku menyuruhmu untuk tetap tenang bukan?"

Ia hanya bisa menunduk, takut jika satu pukulan lagi akan datang menciptakan gurat di pipi. Ia tidak peduli hal itu sekarang. " Ayah, ma-maaf sudah membautmu repot,"

Namun, Hansen hanya berfokus pada dokumen yang dia cari. Dia tidak mengindahkan ucapan maaf tersebut dan melepaskan pelukannya. " Ayah, apa yang terjadi? Siapa mereka?"

". Ayah harap kau segera kemasi barnag-barangmu. Kita akan pergi dari sini"

" Apa? Tidak! Aku punya banyak teman disini!"

Mendengar anaknya protes, Hansen berlaih ke anaknya tersebut. " Dengarkan Ayah, mereka orang-orang jahat. Kita harus lari dari mereka sekarang, atau kita akan berakhir saat mereka akan merataka desa."

Silas terkejut. " Apa? Meratakan desa? Siapa sebenarnya mereka? Apa hubungan ini denganmu? Apa yang kau kerjakan selama ini?"

" Silas!" Bentak si Ayah, dia membawa banyak dokumen-dokumen ke dalam tas panggulnya. Dia tidak membawa pakaian apapun. " Lakukan saja dan jangan banyak bicara! Kita dalam bahaya sekarang."

" Tidak! Aku tidak akan pergi, sebelum kau menjawab yang sebenarnya terjadi! Sekarang, jawablah, apa yang sebenarnya sedang terjadi?!"

Hansen menyentuh kepalanya yang mulai pening, ia beringsut ke arah Silas. Mencengkram kedua lengannya dengan sangat keras, hingga membuat Anaknya ketakutan. " Kita dalam bahaya nak, Ayah dan ibumu tengah melakukan sesuatu yang nanti bisa menyelamatkan seluruh negeri, namun mereka sudah menemukan kita dulu sebelum penyerangan dimulai. Mereka mengincar seluruh desa ini sekarang, karena sebagian besar anggota pemberontak tinggal disini, kau paham sekarang kenapa kita harus lari?"

Diam tak bergerak, Silas merasakan sesuatu yang sangat ganjil tengah terjadi sekarang. " A-pa? Kau anggota pemberontak? pemberontak apa Ayah? Aku tidak paham."

" Sudah tidak ada waktu lagi, ayo kita pergi!"

Hansen langsung saja menggamit anaknya tanpa mengajaknya berdebat lagi, Silas nampak terbirit-birit menyesuaikan langkah Ayahnya. Mereka hendak memakai pintu belakang, namun tanpa disangka-sangka gerombolan orang sudah datang dan menjebol lewat pintu belakang. ledakan senjata plasma terdengar dan itu membuat Silas berteriak ketakutan. Ayahnya membekap mulut anaknya dan menyuruhnya untuk bersembunyi. Ia memasukkannya ke dalam lemari pakaian di samping mereka.

" Diam dan jangan banyak bergerak, paham!"

Silas hanya mengangguk, dia sudah kelewat takut.

Dari balik celah-celah lemari, dia bisa melihat Ayahnya cukup kesulitan mempertahankan posisi dengan senjata tersebut. Ada banyak pistol dan ledakan serta langkah-langkah kaki. Beberapa saat kemudian langkah kaki dan ledakan-ledakan terus menerus terdengar dan jadi semakin sering terdengar. Pun, dengan teriakan kesakitan dan tubuh-tubuh yang berjatuhan di atas lantai marmernya. Tubuh Silas bermandikan keringat, ia ingin berteriak ketakutan namun dengan seger dia menutup mulutnya sendiri. Lalu, saat semua mulai terkendali, ia melihat Ayahnya sendiri, tergeletak mengerang kesakitan. Di sekelilingnya, tidak jelas terlihat dari tempat Silas bersembunyi, namun dia yakin kaki-kaki itu sedang mengelilingi Ayahnya. Dari kesemua kaki tersebut, dia melihat dua kaki dominan, berjalan pelan ke arah kerumunan.

" Berdirikan dia, aku ingin lihat wajah seorang yang paling dicari di seluruh Ursulanda."

Alis Silas bertaut, ia tahu maksud dari orang yang paling dicari. Ia tidak ingin menyakininya, namun dia dengan jelas tahu bahwa Ayahnya bukan orang yang biasa-biasa saja. Sama seperti yang diucapkan oleh Hansen, bahwa dirinya melakukan suatu pekerjaan besar. Ia ingin lebih tahu tentang hal tersebut, namun sekarang bukanlah waktu yang tepat. Terpenting baginya adalah selamat. Silas hanya bisa mendengarkan dan hanya keajaiban yang akan menjaga mereka.

" Hansen Artaman, kau ditangkap, atas tuduhan kelas berat menghasut dan menyebarkan kegiatan-kegiatan yang berpotensi menciptakan tindakan pemberontakan. Dengan ini kau dihukum mati karena hal ini, oleh diriku di tempat ini."

Darah berdesir di kepala Silas, ia gelisah, takut dan bingung namun tidak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya takut bergetar, napasnya memburu-buru. Ia ingin keluar dari lemari, namun itu tidak akan memberi perubahan apapun karena itu sungguh percuma. Rasa paniknya semakin kacau ketika ia melihat dengan jelas, benda berkilat panjang sekitar setengah lengan dewasa, ia tahu benda itu akan diarahkan kemana. Di saat inilah, dia sudah tidak tahan lagi. Ia dobrak pintu lemari dan kelluar dari sana membuat semua yang ada terkejut. Sekarang semua terlihat dengan jelas. Pria dengan senjata panjang mengkilap itu punya wajah jauh lebih kokoh dan tua daripad aAyahnya. Sedangkan, Ayahnya sedang dijegal oleh dua belas orang dengan senjata yang disarungkan di belakang mereka. Semua fokus melihat seorang anak ajaib yang baru saja keluar dari lemari.

"Jangan ganggu Ayahku!"

" O-oh, manis sekali, dia mirip denganmu Hansen, Aku pastikan dia akan lebih patuh daripada Ayahnya." Orang dengan pisau panjang itu berjalan perlahan ke arah Silas yang memakai sapu sebagai senjata. Ia gemetaran, namun dalam pikiran singkatnya, ia tidak akan membuat orang ini menyakiti Ayahnya.

" Pergi dan jangan dekati Anakku!" Hansen terus memberontak, namun percuma saja, kekuatan dua belas orang dibandingkan dengan satu orang sama sekali tidak seimbang.

" Tenanglah, aku tidak akan membunuhnya." Kini, jarang mereka sudah dekat. Silas menyerang dengan segala daya yang ada ke arah si pria besar tersebut, meski itu tidak ada gunanya. Dengan sekali tangkap, Silas tidak dapat berkutik. Ia mengunci benda panjang itu dan mencabutnya paksa dari tangan Silas. Ia terus mendekat dan mendekat, hingga tidak ada yang jarak yang membatasi kecuali udara dan tembok lemari.

Pria itu berkata, dengan senyum paling mengerikan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. " Hai anak manis, aku akan ajak kau pulang."

Dalam posisi tersudut tersebut, Silas meninju wajah pria itu hingga ia mengerang kesakitan karena tulang pria itu sangat keras. Tindakannnya ini menimbulkan kemarahan bagi si Pria besar. " Kau tidak bisa diajak berunding ya, anak-anak, tangkap Hansen kecil ini, bawa dia bersama yang lain."

Tanpa komando tambahan, dua diantara dua belas pria yang menjegal Hansen menghampiri Silas dan mengunci anak itu. ia tidak bisa berkutit. Ia terus mengerang dan menggeliat agar bisa lepas namun kuncian dua orang ini tidak bisa dibuka sedikitpun. Si Pria dengan rambut yang nyaris botak tersebut mengambil kembali pisaunya yang terjatuh. Mengelapnya dan menunjukkan benda itu di antara tulang rusuk Silas. Seketika seluruh tubuh Silas meremang. " Kau tahu nak, jika bukan karena misi, aku sudah mencabut paksa Jantungmu."

Ia beralih posisi, benda itu sekarang diarahkan kembali ke Ayahnya. Silas terus berteriak dan berkata kasar namun tidak digubris, sedangkan cengkraman dan kuncian kedua orang ini semakin kuat. Ia tidak bisa bertindak apa-apa ketika melihat Ayahnya begitu pasrah. Kepala Ayahnya ditegakkan dan ditujukkan ke arah si Pria besar. Tepat di kedua matanya.

" A-ayah..." Ucapnya lirih, ia merasa tidak berdaya, merasa bodoh, ia berjanji tidak akan pernah nakal lagi, tidak akan pernah membangkang, jika seandainya hari ini tidak terjadi. Hati kecilnya terus memohon namun, pisau si pria tua itu sudah memberikan jawaban pasti.

Terdengar suara napas Ayahnya yang tetahan, saat benda mengkilat dan keras itu menembus diantara ulu hatinya. Si pria nampak dengan santai melesakkan senjata itu tanpa ampun, lebih dalam dan mencabutnya lalu menusukkaannya lagi di bawahnya. Darah mengucur seperti langit-langit yang bocor, Silas tak kuasa untuk melihatnya, namun saat dia ingin memejaman mata, kedua pria tadi membuka matanya dengan paksa. Dia melihat bagaimana Ayahnya terus memuntahkan darah, meremang dan mengejan beberapa saat, sampai kemudian seluruh energi tubuhnya hilang. Ia melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana Pria kejam ini mencabut pisau panjangnya tersebut dengan kasar sekaligus mengakhiri napas terakhir Hansen. Kedua belas orang itu, lalu melemparkan begitu saja tubuhnya yang tidak lagi berdaya ke lantai keramik, disamping kubangan darahnya sendiri.

Silas merasakan seluruh tubuhnya kaku, tidak dapat lagi dia merasakan kehangatan tamparan panjang dari Ayahnya, pukulan dari sepatu besarnya, tendangan dari kaki berototnya dan cubitan sampai membiru dari tangannya yang kasar. Semua sudah terlambat, ia tidak dapat melakukan apapun sekarang. Seluruh kakinya mendadak lemas, ia tidak bisa melakukan apapun dengan kedua kakinya. Ia hanya bisa merunduk di depan mayat Ayahnya.

Si Pria besar itu mencengkram leher Silas dari belakang dengan agak keras. " Inilah, akibat dari menantang Agni, aku harap ini bisa kau ambil pelajaran anak muda."

Silas mendadak beringas, dengan sekali sentak dia gigit tangan pria ini hingga dia menjerit sekeras-kerasnya. Beberapa orang lansgung membantunya, meskipun tidak butuh waktu lama untuk melepaskan gigitan tersebut. Namun, itu menghasilkan luka robek yang cukup parah.

" Beri dia pukulan penenang, agh...sial giginya sangat tajam."

Silas masih saja memberontak, ia ingin terus memberontak namun upaya itu gagal. Delapan orang berhasil menangkapnya dan salah satu diantara mereka memberi dorongan sangat kuat di leher bagian belakang. Silas sempat menegang beberapa detik, sampai kemudian rasanya sepertia air dingin disiramkan ke kepalanya, dia merasa lemah, lalu seluruh pandangannya menggelap. Ia kehilangan kesadaran.

" Selesai juga akhirnya," pria itu melakukan sesuatu dengan jam miliknya, itu ternyata radio komando," Semua unit, bawa anak-anak segera ke DFA."

Si pria besar dan kawanannya keluar dari rumah tersebut melalui jendela yang sudah dijebol. Kondisi diluar sangat kacau, banyak tubuh tergeletak disana, juga banyak rumah yang diledakkan. Si Pria besar melakukan hal terakhir untuk membersihkan tugasnya. Dia melepas sebuah kunci dari benda berbentuk tabung yang tergantung disakunya, lalu melempar benda tersebut tepat di dekat tubuh Hansen. Beberapa detik kemudian, ledakan dan api yang membumbng meliputi seluruh interior rumah da menghancurkan segala yang tettutup seperti jedela dan daun pintu.

Ia tidak menengok kebelakang, di bahu kanannya yang lebar dia membawa Silas yang tidak sadarkan diri, sedangkan di antara dia banyak pasukan yang menggiring anak-anak menuju ke tanah lapang dimana puluhan Heli diparkirkan. Di dekat gunung, dia bisa melihat api membumbung dan berkobar ganas.

Pria itu terkekeh ketika satu ledakkan lagi tidak menyisakan apapun di markas pemberontak kecuali api dan tanah yang berguguran. " Ahhh....aku suka bau mesiu dan terbakar tubuh para pemberontak!"

Ia sudah berada di dekat Heli yang dia pakai sebelumnya. Pria dengan kacamata dan penutup telinga besar itu menyalak dari balik kemudinya. " kapten, ada panggilan dari pusat."

Ia tersenyum bangga." Sambungkan, biar aku yang memberitahukan berita bagus ini."

Beberapa detik kemudian, sebuah pancaran tiga dimensi muncul di tengah-tengah badan Heli, sebuah objek berbentuk seluruh tubuh manusia namun sedang berdiri dengan pakaian yang resmi. " Bagaimana Haberthrone, kau sudah mengerjakan tugasmu?"

" Kami membabat habis mereka, sudah tidak ada yang tersisa dari pemberontakan di sini."

Pria itu tersenyum, " Oh bagus! Dengan ini aku akan menjadi presiden lebih mudah. Lekas lakukan tugasmu dengan lebih baik, jika aku sampai terpilih nanti, kau akan aku naikkan pangkat, bekerjalah."

Pancaran holografis itu menghilang, lalu satu persatu pesawat sudah kembali mengudara.

Membawa serta semua anak pergi dari tempat kelahirannya, termasuk Silas yang kini sudah terbaring di samping Si Pria besar.

" Kapten, akan kita apakan anak ini?"

" Kita butuh lebih banyak anak-anak untuk melancarkan misi. Akan lebih baik bagi mereka hidup dalam bayang-bayang dan perlindungan Agni daripada mati menanggung dosa orang tua mereka"

" Kau memang berhati baik bos, aku mendukungnya."

Pria yang dipanggil Bos tersebut tersenyum lebar, dia mengusap kepala anak tersebut dan juga menyingkirkan beberapa rambut yang menutupi wajahnya yang kusam.

"Hanzen yang malang. Jika kau memutuskan untuk bergabung denganku, hal ini tidak mungkin terjadi. Anakmu adalah bayarannya. Tapi aku tidak akan membuatnya mati begitu cepat. Sama seperti yang lain, dia adalah aset. Merekalah yang akan membayar dosa-dosa orang tuanya. Kau adalah salah satunya, Silas."

Heliodrone itu terbang menjauh, meninggalkan kawasan yang tadinya berwarna hijau indah itu dalam balutan api dan asap tebal. Terbakar bersama harapan akan Agni yang baru.

Continue Reading

You'll Also Like

NECROPOLIS By FLCALIVEEE

Mystery / Thriller

922 305 13
Dunia runtuh dalam semalam. Wabah misterius mengubah manusia menjadi makhluk buas tanpa kesadaran. Kota-kota hancur, harapan pun nyaris padam. Di ten...
1.3K 693 20
Teruntuk kamu yang masih percaya pada langit. Kau mungkin mengenalku sebagai Letnan Runa Ingvardotter-pilot tempur Angkatan Udara Swedia yang hanya...
5.7K 557 24
(BAHASA INDONESIA) (COMPLETED) Cerita pertamaku di Wattpad dan tidak diedit. Musik: Still Thinking of You --- Painter of the Wind OST *** Di bumi i...
Wattpad App - Unlock exclusive features