Tentang Ursulanda | dan bagai...

By ALIFPRASETYO49

3.4K 203 73

Kisah-kisah lama telah hilang, dunia berganti pada lembaran baru. Tanah-tanah hijau itu jadi saksi dari tumbu... More

Kata Pengantar
[ Prelude ]
BAGIAN 1
[Bagian 1 : Distrik 2 ]( revisi)
[ Bagian 2 : Distrik 2 ]
[Bagian 3 : Distrik 2]
BAGIAN 2
[ Bagian 1 : Perayaan Mada ]
[ Bagian 2 : Perayaan Mada ]
[Bagian 3 : Perayaan Mada ]
[ Bagian 4 : Perayaan Mada ]
BAGIAN 3
[ Bagian 1 : Pria dan Senjata Plasma ]
[Bagian 2 : Pria dan Senjata Plasma ]
[ Bagian 3 : Pria dan Senjata Plasma ]
BAGIAN 4
[ Bagian 1 : Tugas Rahasia]
[ Bagian 2 : Tugas Rahasia ]
[Bagian 3 : Tugas Rahasia ]
BAGIAN 5
[ Bagian 1 : Arvin dan Belma ]
[ Bagian 2 : Arvin dan Belma ]
BAGIAN 6
[ Bagian 1 : Misi Terakhir ]
[ Bagian 2 : Misi Terakhir ]
[ Bagian 3 : Misi Terakhir ]
[ Bagian 4 : Misi Terakhir ]
[ Bagian 5 : Misi Terakhir ]
[ Bagian 6 : Misi Terakhir ]
BAGIAN 7
[ Bagian 1 : Operasi Gang Merah ]
[ Bagian 2 : Operasi Gang Merah ]
BAGIAN 8
[ Bagian 1 : Pengungkapan ]
[ Bagian 2 : Pengungkapan ]
BAGIAN 9
[ Bagian 1 : Ingatan Masa Lalu ]
[Bagian 2 : Ingatan Masa Lalu ]
[ Bagian 3 : Ingatan Masa Lalu ]
BAGIAN 10
[ Bagian 1 : Pelarian ]
[ Bagian 2 : Pelarian ]
[ Bagian 3 : Pelarian ]
[ Bagian 4 : Pelarian ]
[ Bagian 5 : Pelarian ]
[ Bagian 6 : Pelarian ]
[Bagian 7 : Pelarian ]
BAGIAN 11
[ Bagian 1 : Perjumpaan ]
[ Bagian 2 : Perjumpaan ]
[ Bagian 3 : Perjumpaan ]
[ Bagian 4 : Perjumpaan ]
BAGIAN 12
[ Bagian 1 : Serangan Kedua ]
[ Bagian 2 : Serangan Kedua ]
[ Bagian 3 : Serangan Kedua ]
[ Bagian 4 : Serangan Kedua ]
BAGIAN 13
[ Bagian 1 : Persembunyian Rahasia ]
[ Bagian 2 : Persembunyian Rahasia ]
[ Epilog ]
Catatan Penulis ( Anna H. )
[ YANG TIDAK MEREKA CERITAKAN ]
[ Kisah Sebelumnya : Festival Panen ]
[ Kisah Sebelumnya : Festival Panen bag : 3 ]
[ Kisah Sebelumnya : Anak Kebanggaan Ayah ]
[ Kisah Sebelumnya : Anak Kebanggaan Ayah bag : 2 ]
[ Kisah Sebelumnya : Anak Kebanggaan Ayah bag : 3 ]
[ Kisah Sebelumnya : Anak Kebanggaan Ayah bag : 4 ]
[ Kisah Sebelumnya : Sebuah Pengorbanan ]

[ Kisah Sebelumnya : Festival Panen bag : 2 ]

18 1 0
By ALIFPRASETYO49

Tidak ada yang lebih disukai Silas, kecuali bola dan anak-anak yang bermain disana. meski gemerlap pesta panen ini cukup membuat mata pusing. Meski Arvin sudah berusaha membuatnya menikmati nuansa festival panen dengan makanan, para penari, pagelaran musik dan lampu yang kelap-kelip namun ketertarikan utama anak ini tetap sama, Bola. Arvin sudah lelah mencoba mengalihkan perhatian Silas pada hal lain selain bola, namun dia anak yang punya pendirian kuat dan tidak mudah dipatahkan. Alhasil, dia hanya duduk menikmati eskrim aneka buah sambil melihat sahabatnya ini menggila di atas sepetak tanah yang disulap jadi lapangan sementara.

Baru beberapa suap dia menikmati perpaduan manis dan asam dalam dinginnya es, makanan yang membuat Arvin terlena itu sudah berpindah tangan ke Belma. Dia muncul entah dari mana dan tiba-tiba menyendok penuh serta memasukannya ke mulut dengan ukuran yang dibilang tidak normal untuk seorang wanita pada umumnya. Merasa haknya dilanggar, Arvin protes saat itu juga, " Merebut hak milik orang lain tanpa memintanya terlebih dahulu adalah kejahatan, kau tahu."

Arvin mengambil kembali gelas eskrimnya, namun semuanya sudah terlambat karena tidak ada apapun yang tersisa kecuali sedndoknya. Ia menunjukkan benda itu kepada Belma, dan dia hanya mengedik bahu. " Maaf, tapi hanya itu yang tersisa, aku kehausan."

Arvin membenamkan wajahnya di atas meja. " Itu es krim terakhir yang tersisa malam ini, tidak akan ada lagi sampai festival panen satu tahun ke depan, aku menunggu selama satu tahun untuk ini, dan kau...," Arvin menunjukkan wajahnya, "...memakannya begitu saja."

Belma hanya tersenyum simpul semanis mungkin, dia menangkupkan kedua tangan dan meminta maaf. Arvin tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya menggeram kesal dan menangkupkan wajahnya dan membenamkannya lagi di atas meja.

Merasa bersalah, dia berusaha mencairkan suasana. " Ba-baiklah, maaf ya, hehehe....oh ya, kau melihat dimana Silas."

Arvin kembali bangkit, lalu menunjuk ke Arah Silas dengan lemas. " Disana, masih dengan bola dan anak-anak yang sama."

" Dia maniak bola memang, tapi dia begitu ekspresif sih ketika bermain bola, itu point tambahan yang bisa aku tambahkan."

Arvin menatap ke arah Silas, mungkin dengan ini dia bisa mengobati rasa kecewanya karena es krim. Arvin kemudian beralih menatap Belma, " Jadi, kau sudah memaafkannya? Perihal yang tadi?"

" O-oh, itu ya, aku hanya sedikit mengalami lonjakan emosi. Bukan hal yang aneh, itu biasa untuk remaja. Hehehe..."

Belma menopang kepalanya dengan dagu, melihat Silas dengan seksama, sesuatu yang aneh sedang terjadi, Arvin menyadari hal tersebut. Dia melihat ada senyum yang sedikit demi sedikit muncul dari wajahnya yang mulai memunculkan jerawat. Arvin mengikuti arah pandang Belma yang seperti orang terkena hipnotis. Kedua mata hazel itu tak pernah lekat dari Silas, ia seakan-akan mengikuti bagaimana pria itu bergerak. Ini membangkitkan analisa Arvin, dia pandang seksama tingkah laku Belma. Mulai dari kepala, jeda napas yang terdengar, tingkah kaki dan juga perilaku tangan. Ia melihat itu lalu membandingkannya dengan tingkah dan perilaku lain yang pernah ia teliti dari teman-temannya yang juga berusia remaja. Dalam beberapa detik perenungan, dia ahirnya menemukan jawaban.

"Belma, aku telah mengambil kesimpulan."

Belma yang setengah melamun itu teradar saat namanya di sebut Arvin. Ia membenarkan posisi duduk untuk mendengarkan Arvin, alisnya bertaut. " Apa yang kau simpulkan?"

Arvin nampak bersemangat, ia hirup napas sedalam-dalamnya, lalu menhembuskannya sekali tekanan. " Aku telah menemukan rahasia, sebuah rahasia yang mungkin kau sudah sadari ini dan tidak mau mengungkapannya. Belma, kau menyukai Silas bukan?"

Pupil Belma membesar, kulit wajahnya bernagsur-angsur memerah. Bibirnya tidak bisa diam dalam satu posisi. " Hal bodoh apa lagi yang kau simpulkan sekarang?"

Belma tidak bisa berbohong, begitulah yang diketahui Arvin dari remaja yang satu ini. dari pernyataan yang dia katakan, itu tidak ada penekanan tertentu dan dia bisa melihat dari ekspresinya, jelas sekali jika itu memang benar adanya.

" Jangan coba mengelak, kau tahu kemampuanku bukan? Sekalipun kau tidak akan bisa menolak fakta yang kau tunjukan sendiri, aku bisa melihatnya dengan jelas." Arvin tersenyum kemenangan melihat tingkah Belma, yah ini adalah hal yang paling mudah dilihat saat usia remaja. Bukan hal yang sulit untuk dilihat.

" Kau hanya mengada-ada Arvin, mana mungkin aku menyukai anak berandalan itu. kau sangat aneh."

" Aku melihatmu duduk dengan kondisi seperti itu, kau melihat setiap geraknya dan ada perasaan menyenangkan saat kau melakukan hal tersebut. Aku bisa melihatmu sangat jelas, bahkan kau mungkin tidak menyadari pipimu sekarang berubah semerah tomat."

" Hei cukuplah, jangan mengada-ada." Belma berusaha menutup wajahnya dengan jari-jarinya, sedangkan Arvin tersenyum-senyum bagai seorang detektif yang baru saja menyelesaikan sebuah kasus.

" Tenanglah, aku akan menjaga rahasia ini. ini rahasia pertemanan, asalkan kau mau mengatakan itu di depan Silas sendiri, dan mungkin kau tidak tahu, jika Silas juga menyukai dirimu."

Belma menunjukkan wajahnya, " Benarkah?"

Arvin menahan ketawa, dan ini membuat Belma berang dan ingin segera beranjak. "Tunggu, apa kau tidak percaya? Aku bisa membuktikannya."

"Ahh...tidak perlu, tidak, aku rasa perasaan ini tidak normal." Belma berusaha menolak, namun agaknya itu gagal.

" Ini normal, seratus persen normal, tenanglah, kalian remaja kan? Sudah biasa remaja memiliki perasaan tersebut."

" Ta-tapi, Arvin, apa dia mungkin mau...yah menerimaku?"

" Kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencobanya, SILAS, KEMARILAH!" Remaja yang dia maksud menoleh ke Arahnya. Belma sontak terkejut dan kebingungan di tempat, wajahnya memerah.

" Ada apa? Sesuatu kah?" jawabnya, keringat yang banyak itu berleleran dari rambutnya, terkumpul di dada dan punggung. Ia masih terengah-engah saat Arvin memanggil dirinya.

" Iya, sesuatu yang sangat penting, cepatlah kemari." Arvin tersenyum menatap Belma, sedang dia memberi tatapan paling mengerikan yang belum pernah ia layangkan ke siapapun.

Silas mendesah, dia kemudian meninggalkan anak-anak itu dan menghampiri Belma serta Silas yang ada di kursi. Silas melihat perubahan aneh pada Belma, dia nampak membuang muka. Dalam pikiran Silas, mungkin ini karena dia melakukan hal yang buruk tadi.

" Kumohon cepatlah, kami akan masuk pertandingan kedua."

" Lupakan sejenak tentang bola bodoh itu, ada sesuatu yang sangat penting yang Belma hendak katakan." Arvin melihat Belma dari sudut matanya, gadis itu tiba-tiba gelabakan.

Sila memutuskan untuk duduk di kurs menatap Belma yang kebingungan. Dalam keadaan tersebut, Silas malah merasa bersalah karena kejadian beberapa waktu lalu. Dia pikir, perubahan sikap Belma pasti karena hal itu. " Baiklah, Belma, aku minta maaf karena yah kejadian tadi, itu murni kesalahanku kok, bukan kesalahan siapapun. Maaf membuat kalian terlibat."

Belma berusaha nampak tenang. " Ba-baiklah, a-aku memaafkanmu karena, karena tindakan yang tadi, ja-jangan diulangi ya."

Silas dan Arvin saling berpandangan, mereka sama-sama bingung. Tidak biasanya Belma kesulitan dalam berkata-kata seperti ini. merasa diluar jalur yang diinginkan, Arvin ingin meluruskan ini sesuai dengan yang dia rencanakan di awal. " Belma, kau sudah berjanji untuk mengatakannya bukan?"

Belma panik seketika, dia hanya tersenyum-senyum aneh pada Arvin, tidak tahu mau mengatakan apa. Wajah tenang gadis itu tiidak mampu menunjukkan suatu kepastian. " Me-mengatakan apa ya, kok aku lupa? Hehe...aku ada urusan sebentar ya, maaf."

Secepat kilat gadis itu pergi menjauh, Arvin memanggilnya untuk kembali. Namun dia malah semakin cepat dan akhirnya berlari ke arah bukit desa.

" Oh tidak, itu berbahaya. bukit tidak boleh didatangi siapapun saat malam." Arvin secepat kilat mengejar Belma, ini membuat Silas juga kebingungan dan mau tidak mau ikut mengejar Arvin.

Silas masih kebingungan, sembari menapaki jalur rerumputan berembun menuju ke bukit. Ia ingin menanyakan apa yang sebenarnya sedang mereka bahas saat dirinya tengah asik bercengkrama dengan bola bodoh itu. Ia masih pada argumennya di awal, bahwa gadis ini masih bermasalah dengan tingkahnya tadi.

" Apapun yang terjadi padanya, aku benar-benar minta maaf telah melakukan hal bodoh, jika sudah bertemu dengannya aku akan kembali ke rumah, menjalani hukuman."

" Bukan itu masalahnya, ada hal lain lagi." Jawab Arvin dengan terengah-engah, ia berhenti sejenak untuk mengambil napas. Ia tidak menyangka, Belma bisa berlari sekencang dan sesingkat itu.

" Apa? Karena sikapku?" Silas juga berhenti dari langkahnya, mengambil napas dengan sekuat-kuatnya. Ia belum pernah lari sejauh ini sebelumnya.

Arvin menoleh ke belakang, tepat ke arah Silas. " Bukan, tapi dia ingin mengatakan bahwa dia menyukaimu."

Ada sepersekian detik dimana napas Silas berhenti, mendadak seluruh tubuhnya meremang bingung.

" Ka-kau tidak bercanda?" Silas ingin memastikan, bahwa barusan yang dia dengar itu bukan suatu kebohongan. Ada seercik rahasia yang membuat senyum simpul manis menggulum di bibirnya

" Tidak ada untungnya aku bercanda, justru yang harusnya kau tanyakan adalah Belma, bukan aku." Arvin memutuskan untuk melanjutkan langkah kembali.

Silas masih belum beranjak dari posisinya, bingung, senang entahlah. Semua rasa itu bercampur menjadi satu. Dari sudut pandang Arvin, Silas nampak membeku, dan ini akan mempersulit langkah mereka. maka dari itu, dia membentak Silas agar bisa fokus. " Hei! Ayolah jangan diam dan terkagum disaat yang tidak tepat."

" O-oh oke, baiklah, ayo lekas temui Belma."

Continue Reading

You'll Also Like

4.9K 1.3K 5
Karena lagi tahap revisi, cerita yang belum selesai ku revisi akan di unpublikkan dulu ya guyss. _______________________ Sebuah virus yang meneror um...
375 41 11
Oh, tidak, bumi dalam bahaya! Siapa sangka dibalik bumi yang damai seperti sekarang, ternyata ada makhluk luar angkasa tengah bersembunyi. Kali ini...
214K 5K 7
Mereka bukan manusia. tidak, mereka manusia. Tidak, mereka bukan manusia. Ya, mereka bukan manusia. Mereka hanya makhluk kelaparan. Tidak, mereka leb...
2.2K 218 31
Noted : Aduh ini cerita random yang gak tahu arahnya kemana. Puluhan tahun lalu, pembangunan setiap negara berhenti berkembang. Di mana dulu setiap...
Wattpad App - Unlock exclusive features