Memories (COMPLETED)

De gloriousgurll

3.5K 518 271

[Follow dulu sebelum membaca] [Selesai] Kenangan-kenangan yang pernah dilewati bersamanya dulu, seakan menja... Mais

''~2~''
''~3~''
''~4~''
"~5~"
"~6~"
"~7~"
"~8~"
"~9~"
"~10~"
"~11~"
Baca bentar yuks🌠
"~12~" The Life Of a Bima.
"~13~" Perasaan Aneh
"~14~" Persiapan
"~15~" Akibatnya
"~16~" Study Tour part 1
"~17~" Study Tour part 2
"~18~" Study Tour part 3 || Terbongkar
"~19~" Study Tour part 4
"~20~" Study Tour part 5 (End)
"~21~" Cantika Koma
"~22~" Egois
"~23~" Berusaha baik-baik saja
"~24~" Siapa pelakunya?
"~25~" Siswa baru
"~26~" Bukan sebuah mainan
"~27~" Penyesalan
"~28~" Menduga-duga
"~29~" Sebuah Alasan
"~30~" Lamaran (END)
HAI HAI
Epilog

''1'' : Prolog

543 34 15
De gloriousgurll

Terlihat seorang wanita bertubuh ramping dengan pakaian seragam SMA Bangsa Mulia yang nampaknya lebih dari ukuran badannya itu berjalan memasuki area sekolah.

Perempuan tersebut melangkahkan kakinya dengan selalu menampakkan senyum di wajahnya. Wajahnya yang cantik, rambut yang panjang, hidung mancung dan tubuh yang ideal mampu memikat banyak pria di sekolahnya.

Namanya Cantika Nirmala. Ia kini sudah memasuki kelas XI-Mipa. Cantika memang terkenal karena ia memiliki kepribadian yang sopan dan wajahnya pun cantik.

Namun ia tidak pernah melirik mereka atau mengubris mereka yang menyukainya. Karena Cantika sudah memiliki seorang kekasih semenjak dia kelas X.

Lelaki itu adalah Muhammad Bima Pratama. Ia lebih sering dipanggil dengan sebutan Bima.

"Bim, ada Cantika tuh." Ucap salah satu teman Bima yaitu Dimas.

Mendengar ada yang menyebut nama Cantika, Bima dengan cepatnya mendekati Cantika. Mereka memang sekelas, jadi Bima dengan mudahnya bertemu dengan Cantika.

"Can,"

Langkah Cantika berhenti menuju tempat duduknya, ketika mendengar ada yang memanggilnya.

"Mau apa lagi lo?" Jawab Cantika dengan sinis menatap Bima.

"Gak usah sok sinis sama gue!" Bentak Bima ketika disambut dengan wajah sinis Cantika pacarnya.

"Bisa gak sih lo gak usah ngebentak?! Gue cewek Bim, gak pantes bagi seorang cowok sejati buat ngebentak cewek!"

"Banci lo." Lanjut Cantika yang hendak duduk di bangkunya tetapi tangannya di tahan dengan paksa oleh tangan kekar Bima, membuat Cantika meringis kesakitan.

"Bilang apa lo?!"

"Lo, banci Bim!" Jelas Cantika sambil menunjuk wajah Bima.

"Ikut gue!" Titah Bima dan lansung menarik Cantika ke taman belakang sekolah.

Suasana kelas yang tadinya bising menjadi sunyi kala Bima membentak Cantika. Mereka sudah terbiasa akan hal seperti itu setiap harinya.

Mereka tahu bahwa hubungan Bima dan Cantika memang seperti itu. Sering berantem karena hal sepele, dan itu semua karena Bima. Tapi herannya Cantika tetap saja bertahan dengan orang yang seperti itu.

Bima adalah cowok yang tampan, digemari banyak adik kelas dan juga kakak kelas. Tapi di balik ketampanannya Bima adalah sosok yang kasar terhadap perempuan terutama kepada pacarnya Cantika.

Awal-awal mendekati Cantika, Bima bersikap manis, seolah dia adalah pria terbaik yang pernah ada. Tetapi setelah lama berpacaran, Cantika baru menyadari bahwa Bima adalah cowok ter-kasar yang pernah ia temui.

Tetapi Cantika tidak pernah berfikiran untuk mengakhiri hubungannya dengan Bima, karena bagi Cantika, Bima adalah seseorang yang sudah lama Cantika sayangi.

Walaupun sikap kasar yang sering ia terima, ia akan tahan dengan hal itu. Tetapi ia tidak akan tahan jika ditinggalkan seseorang yang ia sayangi kembali. Ia akan rapuh untuk kedua kali. Dan Cantika tidak mau hal itu terjadi.

Dimas selaku teman terdekat keduanya terutama teman dekat Cantika, mengikuti mereka dari belakang. Dimas takut Bima kelewatan dan melukai Cantika.

Dimas sudah menganggap Cantika sebagai adiknya sendiri karena dari kecil mereka selalu bersama.

"Stop Bim! tangan gue sakit ngerti gak sih lo?!" Ucap Cantika sambil terus menyengka air matanya yang kini menetes.

Bima langsung melepaskan cekalannya itu dengan kasar.

"Jadi cewek jangan lebay pakek nangis-nangis segala!" Satu kalimat yang mampu membuat hati Cantika sakit.

"Gue nangis juga karena lo kasar sama gue Bim, gue ini sebenernya apasih dimata lo? cewek lo apa bukan?" Lirih Cantika.

"Gue kayak gini karena ulah lo juga! Kemarin ngapain lo jalan sama cowok ke toko kue? Lo pikir gue gak tau?! Gue tau karena kebetulan gue ada disitu sama nyokap!" Tuduh Bima.

"Astaga Bim! Gue udah bilang kan kemarin, kalau dia itu sepupu gue! nyokap sama bokap gue lagi pergi jadinya gue minta anterin dia karena itu emang udah mepet banget. Perlu berapa kali sih gue jelasin ke lo Bim?! hiks hiks" Jelas Cantika yang terus mengeluarkan air mata.

"Alasan lo gak masuk akal!" Bentak Bima sekali lagi dan langsung melangkahkan kakinya pergi dari halaman belakang.

Meninggalkan Cantika sendiri yang terus menangis menahan sesak di hatinya.

"Andai kamu ada disini Fer, kamu gak akan ngebiarin aku menangis. Bahkan membiarkan aku mengeluarkan setetes air mata pun kamu tidak akan lakukan itu." Lirih Cantika yang tanpa ia sadari ada yang mendengar ucapannya itu di balik tembok.

"Cantika! Ayo dong kejar aku." Ajak anak lelaki yang berumur enam tahun itu, yang sedang berlari di taman sekolah tk.

"Iyaa tunggu aku!! aku cape ngejar kamu terus huh."

Cantika akhirnya duduk di kursi dekat ayunan yang ada di taman itu. Ia mengelap keringat yang
terus membasahi wajahnya.

Tiba-tiba ada yang menyodorkan sebotol air mineral ketika ia sedang menatap kebawah melihat sepatunya yang sangat kotor.

"Nih minum dulu aku tahu kamu haus, nanti sepatunya kita bersihin bareng-bareng ya, sepatu aku juga kotor nih."

"Iyaa!" dengan semangat Cantika menjawab itu.

"Kamu gak minum?" Tanya Cantika kepada anak lelaki disampingnya.

"Nggak, aku udah kok tadi. Sekarang giliran kamu yang habisin airnya."

"iyaa."

"Ayo cepat habiskan Cantika biar kita bisa main lagi!" rengek anak lelaki itu.

"Iya bawel, kamu seperti anak kecil saja yang merengek meminta mainan." Ejek Cantika dengan tertawa lepas.

"Aku kan memang masih kecil, kamu juga wlee." Ucap anak itu sambil menjulurkan lidahnya.

"Udah habis nihh, ayuk main!"

"Ayuk ayuk!! menunggu kamu minum rasanya seperti membayangkan bagaimana aku besar nanti Cantika."

"Kamu pasti lebih lucu disaat sudah besar." Ucap Cantika sambil mengayunkan ayunan.

"Kalau kamu pasti lebih cantik dari sekarang hehehe." Gurau anak lelaki itu yang kini sedang bermain perosotan.

Kedua anak kecil yang berumur enam dan lima tahun itu terlihat sangat bahagia. Bahagia menikmati masa kanak-kanak dengan sempurna.

Cantika kembali mengingat kenangan Indah bersama teman kecilnya itu setelah dua belas tahun mereka berpisah.

Hanya dia yang tidak akan membiarkan Cantika bersedih. Hanya dia yang mampu membuat hati Cantika selalu bahagia.

Namun waktu yang sudah memisahkan mereka berdua. Cantika hanya berharap bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu dengan teman kecilnya itu, Alfero Putra Anggara.

Menyadari bahwa semua itu hanyalah mimpi Cantika memutuskan untuk kembali ke kelas.

Ia melangkahkan kakinya hendak keluar dari taman belakang, namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang laki-laki yang tak asing berdiri di depannya.

"Mau ngapain?" Tanya Cantika.

"Gue tau sesuatu tentang keberadaan Alfero."

°°°°

Haloo!!

Gimana dengan ceritanya?

Ini baru prolog ya gais:"))

Jangan lupa vote dan komen😉

Thanks❤

Baru awal nih,readers:v dukung terus ya biar semangat updatenya:v

Continue lendo

Você também vai gostar

139K 7.8K 127
Dijamin BEDA FOLLOW SEBELUM BACA YA KAKAK🙏 "Pura-pura bisu itu susah, pura-pura ngga ada rasa itu jauh dari kata mudah" "Namaku Cika Karmelia, saat...
969K 79.8K 67
Apa yang kamu rasakan saat bisa menjadi pacar seorang lelaki yang kamu cintai? Pasti bahagia, bukan? Dan itulah yang Merza rasakan. Awalnya dia begit...
ANASTORY [END] De Wp.cel

Ficção Adolescente

4.4K 721 24
[Cerita pertama] " Kita enggak tahu rencana Tuhan selanjutnya apa. Aku nggak bisa janji untuk tidak meninggalkanmu." [Aditya Alraka] " Kita baru bert...
4.6K 2.4K 66
•COMPLETE√ • Rasa Hampa Karena Tidak Mengingat apapun Rasa Benci Yang Selalu Menghampiri Rasa Dendam Yang Menghancurkan Diri. Hingga Pertemuan Yang...
Wattpad App - Desbloqueie funcionalidades exclusivas