" Apa ma? Ngga ma Yena gamau! Yena gakenal sama dia, ngapain dia tinggal disini sama Yena? Kalo dia ngapa-ngapain Yena gimana ma? "
" Yenaa dia itu anak temen mama, dia gaakan ngapa-ngapain kamu ko, lagian dia lebih muda dari kamu jadi gamungkin ngapa-ngapain "
" Maaa aku gamau, lagian dia kan bisa ngekost aja kali ma, emang dia anak kecil apa pake numpang segala? "
" De dengerin mama ya, kamu tau tante Rubi? Dia anak tante Rubi loh, masa kamu gamau nge-izinin dia tinggal sama kamu? Di kepilih buat ikut pertukaran pelajar dari Korea ke Indo loh, masa kamu tega? Lagian dia bentar lagi nyampe rumah kamu ko, jaga dia baik-baik ya de mama percaya sama kamu "
" Tapi ma.. "
Tut
Sambungan telpon terputus gitu aja, membuat seorang remaja bernama 'Anindira Yena Xavera' merasa kesal kepada ibunya sendiri.
Bagaimana tidak? Seorang remaja perempuan berumur 18 tahun dititipi seorang anak laki-laki secara tiba-tiba yang sekarang udah ada di perjalanan.
Alasan kenapa Yena dititipi anak tersebut karena ia adalah anak dari tante Rubi, seorang wanita seumuran sama ibunya yang dianggap seperti ibu keduanya.
Tante Rubi adalah seseorang yang baik, kalau beliau pergi keluar negeri, pasti ngga lupa bawain buah tangan buat Yena.
Dan Yena sendiri sudah dianggap sebagai anak kandung dari tante Rubi, beliau sangat menyayangi Yena.
Tapi selama ini, beliau ngga pernah cerita tentang anak laki-lakinya, yang Yena tahu, anak tante Rubi cuma Mina.
Karena Mina itu teman Yena sedari kecil, dan sekarang Mina ikut sama mama papanya keluar negeri.
Yena frustasi kalau terus mikirin itu. Akhirnya Yena memutuskan buat membereskan rumahnya yang terlihat seperti sebuah kapal pecah.
Yena tinggal di sebuah perumahan, dan rumahnya cukup luas, ada dua kamar dan sisanya berupa ruangan seperti ruang makan, ruang depan dan garasi.
Dulu Yena tinggal di rumah ini sama kakaknya, tapi karena kakaknya kuliah di luar negeri, akhirnya sekarang Yena sendirian.
Mama dan papa Yena ngga tinggal sama anak-anaknya, mereka tinggal di sebuah apartemen. Alasan kenapa orang tua Yena lebih memilih ngga tinggal sama anaknya karena mereka mau anak-anaknya tumbuh mandiri.
Mereka bukan semata-mata melepas pengawasan terhadap anak-anaknya, Yena dan kakaknya mulai pisah rumah saat kakak Yena udah menginjak perkuliahan, dan Yena menginjak kelas X SMA dan mereka berpikir bahwa anak-anaknya harus sudah belajar mandiri.
Ditambah sama keadaan orang tua Yena yang selalu bepergian ke luar negeri untuk masalah bisnis, semakin menguatkan mereka untuk mendidik anak-anaknya menjadi mandiri.
Kedatangan anak tante Rubi memang sedikit membuat Yena merasa keberatan, tapi apa boleh buat, dia udah aada diperjalan dan akan datang dalam beberapa jam lagi.
Rumah Yena udah sangat terlihat seperti kapal pecah. Benar- benar berantakan.
Yena melangkahkan kakinya untuk memulai eksekusi, " Selama ini gue tinggal di rumah apa gudang sih? " gerutu Yena sembari membereskan barang-barang yang berantakan.
Yena mulai membuang sampah yang ada, menyapu rumahnya, mengepel dan memastikan nya benar-benar bersih.
Butuh waktu selama 4 jam untuk Yena merapikan rumahnya itu sampai benar-benar bersih.
Yena menoleh kearah jam dinding. Dan sekarang udah menunjukkan pukul 8 malam.
Yena mulai melangkahkan kakinya ke ruang depan, " anak tante Rubi jadi dateng ngga sih? Jam segini belum nyampe " ucap Yena yang dilanjutkan dengan merebahkan dirinya di sofa karena rasa lelah yang amat sangat.
Yena nutup matanya perlahan, melepas rasa lelahnya bekerja sejak tadi sore.
" Kalo anak tante Rubi ilang gimana? " batin Yena. Yena dengan sigap meninggalkan sofa tempat dirinya menghilangkan rasa lelah dan berlari kearah kamarnya untuk mengambil sebuah jaket miliknya.
Yena memakai jaket tersebut sembari terburu-buru dan kemudian membuka pintu rumahnya
Clek
Baru aja buka pintu, terlihat seseorang yang sedang tidur didepan pintunya dengan pakaian serba hitam, " eh woy lo siapa? Ngapain di rumah gue? Mau maling ya lo?! " Yena terlonjak kaget dan refleks meraih sapu yang ada di belakang pintu buat mukul orang yang ada dihadapannya.
Buk! Buk! Buk!
Yena mukul orang dihadapannya tanpa ampun, " Pergi atau gue panggilin satpam komplek?! " ancem Yena dengan rasa panik yang amat sangat.
Orang tersebut menekuk tangannya di depan kepala sebagai perlindungan, " a-aw aw kak ini aku kak " rintihnya.
" Kak kak lo kira gue kakak lo hah?! Pergi lo " Yena ngga menggubris perkataan orang tersebut dan makin menjadi-jadi memukulinya.
Orang tersebut berusaha berdiri, " aw aw kakak anaknya tante Alena kan kak? " tanya orang tersebut.
Yena berhenti memukul orang tersebut, " Kok lo tau? " tanya Yena dengan heran
Orang tersebut menepuk nepuk bajunya, membersihkan debu yang menempel di pakaian serba hitamnya.
" Aku disuruh tante Alena kesini kak, katanya tinggal sama kakak dulu selagi mama papa di luar negeri "
" Hah? "
Orang yang ia pukul ternyata...
" Oh lu anaknya tante Rubi? "
" Iya kak "
Seketika Yena mematung, menyadari apa yang ia lakukan dan menyumpahi dirinya sendiri atas kebodohan yang ia lakukan.
'Gimana kalo dia ngadu ke mamanya kalo dia gue gebukin.' Batin Yena.
Yena melamun dan mengerjapkan matanya berkali-kali.
" Kak aku boleh masuk? " ucap orang itu membuat Yena sadar dari lamunan nya.
Yena membuka pintunya memberikan ruang untuk mereka masuk, dan melangkahkan kakinya, " Ah iya, kamar lo yang ujung itu ya, yang bawah, kamar atas itu punya gue " papar Yena sembari menunjuk-nunjuk beberapa objek di rumahnya.
Yena melangkahkan kakinya menuju ke kamar, namun langkahnya diurungkan, " Oh satu lagi, kalo lo laper, mesen online aja gue gapunya stok makanan " ucap Yena sembari melangkahkan kakinya menuju kamar.
Itulah Anindira Yena Xavera, seseorang yang sangat jutek, emosional dan sedikit kejam dan kasar.
Yena menghentikan langkahnya di akhir tangga lantai kamarnya, " Jangan lupa kunci pintunya, nanti rumah gue bisa abis di gondol maling " titah Yena sembari melanjutkan langkahnya yang sedikit lagi sampai ke tujuan.
" iya kak " ucapnya sembari mengunci pintu sesuai titah Yena.
Ia pergi ke kamar yang Yena sudah beritahu. Kamarnya sudah rapi dan bersih. Tentu saja! Karena Yena sudah membersihkannya sejak tadi sore.
Kamar yang Yena siapkan untuk anak tante Rubi memiliki kamar mandi di dalamnya, jadi dia bisa langsung membersihkan dirinya.
Di kamar atas milik Yena, Yena juga langsung mandi karena dia sudah bau keringat karena sudah kerja rodi selama 4 jam membersihkan rumahnya.
Maklum Yena itu kalau membereskan rumah itu dicicil. Seperti, hari minggu ini cuma Yena sapu, pel lantai nya minggu depan. Alhasil ya kotor lagi.
Selesai dengan kegiatan membersihkan dirinya, Yena langsung menidurkan dirinya di kasur. Lelah
----------
Hoam~
Yena bangun dari posisi tidurnya sembari mengumpulkan nyawanya. Membutuhkan waktu 10 menit untuk mengumpulkan nyawa Yena sehabis tidur, lama. Yena membuka gorden dan jendela kamarnya, membiarkan cahaya dan udara pagi hari masuk ke kamarnya.
Yena pergi ke lantai bawah, menuruni tangga buat ngelakuin ritualnya setiap pagi.
Meminum segelas susu dan sebuah apel saat bangun tidur. Setelah selesai dengan ritualnya, Yena melirik kamar yang berada diujung sana, tepat dibawah balkon kamar Yena. Pintunya masih tertutup.
" Gue beli makanan dulu kali ya? Kasian anak orang ngga gue kasih makan " ucap Yena yang langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil uang dan pergi keluar untuk membeli bubur ayam di sekitar komplek.
Pagi ini hawanya dingin, ngga seperti biasanya. Yena berencana kalah setelah pulang membeli bubur ia mau tidur lagi.
10 menit berjalan di sekitar komplek, Yena menemukan abang tukang bubur, disana tidak terlalu penuh, hanya ada beberapa laki-laki yang sedang makan bubur tentunya.
Yena menghampiri abang penjual bubur ayam tersebut, " Bang buburnya dua bang, sambelnya dipisah aja ya bang " pinta Yena yang disambut hangat abang tukang bubur.
" Iya neng duduk dulu neng " abangnya mempersilahkan Yena untuk duduk. Dan tentu saja Yena duduk, karena pegal rasanya untuk berdiri menunggu dua bubur siap.
" Eh Yen, tumben lu pagi gini keluar rumah, biasanya masih ngebo lu " ucap seseorang yang Yena yakin ia adalah salah satu orang yang lagi makan bubur. Tentu saja, mana mungkin jika abang tukang bubur kan.
Yena menoleh, dan ternyata orang yang lagi makan itu ialah tiga curut yang jadi gebetan ibu-ibu komplek.
Namanya Woojin, Guanlin dan Jihoon. Ralat deh, dua curut gebetan ibu-ibu dan satu lagi kecoa.
Jadi yang sering menjadi kebanggaan ibu-ibu itu Guanlin dan Jihoon. Katanya Guanlin tinggi trus ganteng kalo Jihoon lucu, tembem juga.
Padahal realitanya? Pada bobrok semua. Ya kaya sekarang ini, Guanlin ngupil padahal lagi makan bubur. Dan itu jorok.
Yena natap mereka ngga peduli, " Suka-suka gue dong. Udah bang ini uangnya " Yena melangkahkan kakinya cepet, menjauh dari sana. Jijik soalnya, ngeliat Woojin yang ikut-ikutan ngupil trus upil nya di tempelin dimeja.
Ewww~
Clek
Yena buka pintu dan nyimpen buburnya di meja makan.
Yena mengambil sendok, " Itu lo anak tante Rubi udah bangun belum?makan dulu nih gue beli bubur. " teriak Yena dan langsung pergi ke ruang depan buat nonton kartun kesukaan sejuta umat 'Spongebob'
Anak tante Rubi keluar dari kamarnya, " Iya kak, makasih kak " ucapnya sembari menggosok rambutnya yang basah, yang menandakan bahwa ia baru aja selesai mandi.
Yena menoleh kearah suara tersebut dan melamun untuk beberapa detik.