.
.
"KEPARAT!!"
Bersamaan dengan satu pukulan, Namjoon, yang tak sempat menghindar, terlempar keras ke belakang. Punggungnya menghantam lemari kayu portabel yang langsung terguling ke lantai bersama barang-barang kecil di atasnya. Bunyi denting nyaring bergema berturut-turut di ruang tengah yang tak terlalu besar itu. Pun, Namjoon tak segera balas memukul, melainkan mengusap telapak tangan ke sisi bibir untuk menyeka sesuatu. Decaknya muncul mendapati bekas pekat di sana.
Sang pelaku, masih dengan raut penuh kemarahan, meraup bagian depan jaket Namjoon dan memaksanya berdiri. Tak peduli tinggi dan ukuran badan mereka cukup mencolok. Digerutnya sweater malang itu kencang-kencang hingga wajah Namjoon berada tepat di depan hidungnya. Kening terlipat, mata menyipit berang. Detik berikutnya, sebuah pukulan lain terayun mengenai rahang Namjoon. Tubuh besar pria itu membentur salah satu rak di sudut ruangan, sontak membuat buku-buku di dalamnya berjatuhan.
"Kak! Kak Yoongi!! Hentikan!!"
"BERISIK!!!" serapah pemuda itu tanpa menoleh pada sumber suara, yakni sosok Jimin yang duduk condong di sofa, salah satu pergelangan kaki terbebat perban serta susah payah mencoba berdiri. Lengannya menggapai-gapai seolah berusaha menghentikan kepalan yang hendak kembali terayun. Nihil. Namjoon dipaksa bangkit untuk kesekian kali, pundak terguncang hebat akibat bagian baju yang digerut kasar. Kedua lengannya reflek menggenggam pergelangan tangan pelaku, sebelah mata ikut berkedut karena tersabet pinggiran buku.
"Berani-beraninya masuk sembarangan dan menyentuh pacarku!! Aku tak peduli kau ini pemain film, musisi, atau perdana menteri sekalipun! Persetan dengan seluruh penggemarmu juga! Jangan harap bisa keluar dari sini hidup-hidup!"
"Kak Yoongi!!!"
"Kubilang diam!!" sergahnya makin meninggi sambil bernapsu mengangkat tinjunya di samping telinga, napas memburu menatap Namjoon, "Kau pikir dengan berhasil mengencani banyak orang dan punya banyak uang maka kau bisa membujuk Jimin? Hah?"
"Membujuk?" Namjoon mengrenyit, sudut matanya mulai terasa nyeri, "Aku tidak ber..."
"Argh! Artis memang pintar berkelit!!" pemuda itu menyeret Namjoon dan membenturkan punggungnya ke dinding, sukses membuat pria tersebut terbatuk dan nyaris merosot turun, erang tertahan di tenggorokan karena tercekik lengan yang menahan leher. Dada terhimpit kuat. Sungguh tenaga yang luar biasa.
"Kak Yoongi, kumohon, dengarkan dulu!!!"
"Sekali lagi kau membelanya, akan kulempar manusia brengsek ini keluar beranda," pemuda itu mengancam, alis menyatu, "Dia cuma ingin bermain-main denganmu, Jimin-ah!! Aku membaca banyak berita di majalah, di internet, bahkan di televisi!! Playboy sepertinya harus diberi pelajaran!"
Tangan kiri Namjoon mencoba menepis lengan tersebut, sesak, "Aku, bukan......kh!!! Tolong, lepaskan."
"Tidak mau melawan, eh? Ingin terlihat baik di depan orang lain? Kalau begitu sekalian saja!" telapak tangan pemuda itu terbuka dan tertutup beberapa kali seolah mengumpulkan tenaga di udara. Namjoon mendesis, dicobanya melepas pegangan tangan lain yang menggenggam begitu kuat di kerah sweaternya. Namun pemuda itu bergeming, sedikitpun tak bergeser dan malah memepet lebih rapat hingga Namjoon terbatuk lagi. Mata berpendar mengamati kemana kiranya dia akan dihantam jatuh, sekaligus tetap berusaha lolos. Penglihatan yang samar di satu mata memang sungguh merugikan.
Tiga.
Dua.
Satu.
Bunyi gedebum kencang membuat Jimin reflek memejamkan mata dan menutup telinganya memakai kedua tangan. Sejenak, semua terasa sunyi selain napasnya sendiri, disusul langkah tegap serta derik kayu terhimpit. Mungkin oleh tubuh, mungkin oleh benda lain. Sepertinya kali ini terlampau parah hingga tak ada suara. Jimin hampir memekik, namun decak yang meluncur menyela keheningan apartemennya terasa familiar. Ketukan sepatu yang menapaki lantai juga memberinya petunjuk baru.
Ada orang lain selain mereka bertiga.
Dan saat lehernya dipaksakan mendongak, Jimin terkesiap. Alih-alih tergolek akibat pukulan barusan, sosok Namjoon masih berada di tempat semula, agak membungkuk menyeka mulut yang berdarah dan tersengal mengambil napas. Mata melirik tubuh lain yang tergeletak cukup jauh dari sofa, tampak berusaha duduk usai terlempar menabrak dinding. Pipi kirinya lebam dan mulutnya terluka.
"Jangan sekasar itu," tukas Namjoon lirih. Telapak tangan menumpu lutut, kepala menengadah perlahan, "....Seokjin."
Menoleh ke arah berlawanan, Jimin akhirnya mengenali siapa yang telah mengayunkan tinju pada pemuda yang dipanggilnya Yoongi tersebut. Seorang pria bertubuh tinggi, masih dengan tangan terkepal di udara dan satu kaki yang digerakkan mundur. Sigap membetulkan jas dan mengibas debu disertai raut angkuh. Separuh matanya tertutup helaian rambut hitam yang sepertinya berjatuhan dari tatanan asal. Napas berhembus panjang sebelum beralih memandang Namjoon yang tertatih berjalan mencari pegangan. Buru-buru, dipapahnya tanpa diminta dan segera melingkarkan lengan Namjoon di bahunya, "Anda baik-baik saja?"
"Kelihatannya bagaimana?" kekeh Namjoon, setengah merunduk untuk menepuk kepala Jimin yang terpaku kebingungan, "Kakimu sudah tidak apa-apa, kan? Sebaiknya kami pamit dulu. Soal, err, benda-benda yang terlanjur pecah, manajemenku akan menghubungimu dalam dua-tiga hari. Jangan khawatir, akan kutanggung seluruhnya."
Jimin menggeleng cepat, "Maaf sudah merepotkan Kak Namjoon! Sungguh! Tolong maafkan Kak Yoongi, dia hanya salah paham," perlahan, dipaksanya menyeret kaki dan melangkah terpincang-pincang menuju pemuda tanggung yang sudah mampu beranjak. Kedua matanya masih menyiratkan kemarahan namun Jimin segera merentangkan telapak tangannya mencegah Yoongi bergerak lebih banyak, "Siapa yang salah paham?"
"Tentu saja kamu!! Kenapa masih tanya?" teriak Seokjin tak senang, "Kalau tidak ingat ini rumah orang lain, sudah kupatahkan rahangmu!!"
Namjoon menghela napas, "Seokjin, jaga kata-katamu."
"Maaf."
Dibiarkan begitu, Yoongi justru makin berang, "Kenapa tidak membalas? Dengan badan besar seperti itu kau pasti punya tenaga yang cukup untuk memberi reaksi yang bagus! Atau jangan-jangan kau ini penakut?"
"Penakut?" Namjoon tertawa kecil sembari mencegah Seokjin yang siap memukul lagi, "Apa instingmu tidak bisa membedakan mana yang penakut dan mana yang mengalah?"
"Sudahlah, tak usah menanggapi si bodoh ini," sepat Seokjin, menjauhkan jarak mereka dari sofa diiringi pandangan galak, "Jimin-ah, sisanya bisa kau bereskan sendiri?"
Mengangguk, yang dipanggil lantas membungkuk dalam-dalam hingga kedua tamunya keluar dari pintu, meninggalkannya bersama pemuda yang menatap kedua pria tadi dengan kening terlipat tujuh, "Apa katanya tadi? Mengalah? Dan salah paham soal ap....ADUH!!!" pundaknya berjengit kaget sambil melotot pada Jimin yang barusan melayangkan tamparan, "Sakit nih!! Tidak lihat aku sedang terluka?"
"Kak Yoongi sudah menyakiti Kak Namjoon! Eit! Jangan menyela dulu!! Aku tidak mau kamu membentak seperti tadi karena sekarang tinggal kita berdua!" telunjuknya disentuhkan ke hidung dan merengut sebal melihat yang bersangkutan masih berniat membantah, "Min Yoongi!!"
"Apa?"
"Dengarkan atau kita putus."
.
.
.
.
.
Menoleh dari naskah yang sedang dibaca, alis Namjoon terangkat melihat kerumunan janggal di seberang. Studio dua yang sedianya dipakai untuk syuting iklan grup idola, mendadak lebih ramai dari biasa. Beberapa kru hingga penata cahaya sibuk membungkuk mengelilingi sesuatu sambil bergumam tak jelas. Dua pemuda turut melesat masuk dari pintu studio, masih memakai alas kosmetik di depan baju. Menilik dari raut panik yang tergambar di wajah salah satu anggota, Namjoon mengambil kesimpulan bahwa dia juga perlu menghampiri.
"Jangan digerakkan dulu," didengarnya Lee Taemin—ketua trio idola tersebut, menyela. Serta dengan sopan menyusupkan diri agar diberi jalan karena ingin mengetahui apa yang terjadi. Kru di sisi mereka menangkap mimik wajah Namjoon yang kebingungan, lantas segera menjawab tanpa ditanya, "Park Jimin terjatuh."
"Jimin?" Namjoon mengernyit, menyibak bahu-bahu di sekitarnya perlahan seraya berucap permisi untuk kesekian kali, dan terus diulangnya sampai dia bisa melihat jelas apa yang sedang dikerubungi oleh mereka.
Di tengah lingkaran, seorang remaja berambut merah jambu duduk mengaduh sambil meremas sebelah kaki. Dari raut kesakitan juga bagian yang dipegangi, Namjoon menebak jika tungkainya terkilir hebat. Kemungkinan terburuk, ada yang retak.
"Adegan Jimin sudah selesai kan?" Taemin menukas tak sabar, "Panggil manajer dan bilang kalau kita butuh mobil ke rumah sakit."
"Manajer Hyuk sedang mengantar sesuatu ke agensi, biar kutelepon dia," Sungwoon, anggota lainnya, bersiap berbalik. Namun gelengan tegas Taemin sekejap memaksanya tetap di tempat. Sejumlah kepala berpaling satu sama lain sementara dua kru wanita membebatkan penahan tulang beserta kain segitiga di kaki Jimin yang terus melenguh. Taemin bergantian mengusap punggung dan bahunya penuh kekhawatiran sambil tetap menenangkan.
"Apa boleh buat, kita harus batalkan kegiatan hari i....."
"Aku yang akan pergi."
Riuhnya studio serentak lenyap dan berpasang-pasang mata tertuju pada Namjoon, yang entah sejak kapan berjongkok di sisi Jimin. Tampak begitu tenang menyisipkan ponsel ke dalam saku dan tersenyum pada Taemin yang menatap tak yakin, "Pekerjaanku sudah selesai dan aku membawa mobil kemari. Biar kami yang membawanya ke rumah sakit lalu mengantarnya pulang jika memang memungkinkan," ujarnya memberi jaminan. Taemin terdiam, ingin menimbang sebentar walau akhirnya mengiyakan lebih cepat karena tak tega mendengar rintihan Jimin.
"Kalau menunggu terlalu lama, nanti lebamnya terlanjur biru dan dia bisa makin kesakitan," ujar Namjoon, memberi isyarat pada salah satu kru untuk membantu menaruh Jimin dalam gendongannya, lalu berdiri tanpa beban layaknya membawa boneka, "Kalian bisa menyelesaikan sisa syutingnya, tidak usah cemas, dia aman bersamaku."
Taemin mengangguk paham sambil mengeja terima kasih tanpa suara.
"Namjoon-sshi," seorang pria muda bersetelan hitam bersemat kartu pengenal di saku kanan, berjalan masuk sambil menutup ponsel, ketiak mengapit tas beserta naskah yang berada di atas meja Namjoon, "Mobilnya siap. Aku juga sudah menghubungi rumah sakit."
"Kak Seokjin, tolong ya!!" seru Sungwoon dari kejauhan, "Hati-hati di jalan!!"
Yang bersangkutan mengangguk seraya keluar melewati pintu yang sudah dibuka lebih lebar. Seokjin menawarkan diri untuk bergantian menggendong Jimin, tapi Namjoon menggeleng cepat, berkata bila letak studio yang berada di lantai bawah membuatnya tak banyak mengeluarkan tenaga.
Menilik bagaimana lelaki yang dimanajerinya itu memangku kaki Jimin supaya berada dalam posisi lurus, juga sesekali membetulkan posisi bantal di belakang punggung Jimin, Seokjin berpikir bahwa Namjoon punya bakat merawat orang lain. Senyumnya mengembang tanpa sadar, yang sialnya, dipergoki oleh sang artis dari kaca tengah mobil.
"Park Jimin. Benar?" Seokjin mempercepat laju kendaraan, kemudinya diputar lihai mengitari belokan, "Maaf jika aku bertanya tentang hal yang sangat pribadi, tapi menurut yang kudengar, kau tidak tinggal bersama kedua rekanmu di asrama yang disediakan agensi kalian."
Yang ditanya mengangguk sigap, "Bulan depan baru akan pindah, sementara ini aku masih menumpang di tempat famili."
"Lalu, kau tinggal sendirian? Taemin-sshi memberitahu alamat rumahmu dan aku ingin berjaga-jaga jika kau diperbolehkan pulang tanpa opname," seloroh Seokjin, menghentikan mobil di lampu merah. Namjoon buru-buru menambahkan setelah Jimin memasang wajah bingung.
"Maksudnya, kami ingin tahu apakah ada yang menemanimu di rumah. Orangtua, kakak, atau saudara."
"Paman," tukas Jimin, berjengit lagi, "Beliau suka lembur di kantor dan baru pulang tengah malam. Tapi aku bisa menelepon pacarku untuk datang......OH!!!" ekspresinya sontak berubah panik dan langsung menutup mulut memakai kedua tangan. Bola mata Seokjin berpendar acuh, pura-pura tak mendengar sementara Namjoon melempar pandang maklum.
"Tidak apa-apa," jawabnya, menggosok dagu sambil terbahak, "Ini bukan pertama kalinya ada yang kelepasan membocorkan sesuatu. Sepertinya aku malah lebih tahu soal ada tidaknya kekasih-kekasih itu daripada seluruh idola di Korea Selatan."
"Dia mirip Dispatch."
Namjoon tertawa makin keras, "Terima kasih, manajerku yang manis."
Nyaris ingin membulat, Jimin berujar memelas, "Kak Namjoon bisa menjaga rahasia?"
"Jangan takut, mulut besarnya hanya kambuh jika kurang tidur," lengos Seokjin sinis, sekilas memperhatikan spion kanan mobil lalu menyalakan lampu belakang, "Sebentar lagi kita sampai, tolong bersiap-siap."
Sesuai harapan mereka, Jimin tak perlu menginap di rumah sakit dan hanya butuh kontrol setiap satu minggu. Remaja itu cukup beruntung karena tulangnya tidak patah, juga masih sanggup tersenyum meski artinya dia harus menggunakan kruk sampai kakinya sembuh. Memperkecil efek cemas, Seokjin cekatan menghubungi rekannya yang masih berada di studio untuk melaporkan keadaan Jimin. Samar-samar terdengar jerit Sungwoon yang berteriak histeris tanpa tahu apa yang dibicarakan, dan baru bisa diam setelah dibentak Taemin.
"Apa mereka khawatir?" Jimin mendongak selagi dibantu masuk mobil oleh Namjoon dan dua petugas kesehatan. Seokjin melesak kembali ke kursinya dan mengetuk kemudi seraya mengangguk.
"Yep, telingaku nyaris tuli akibat diteriaki. Tapi kau punya teman-teman yang baik."
Yang disebut rumah oleh Jimin adalah apartemen minimalis berkamar satu di gedung selatan. Wajahnya merah padam sewaktu Seokjin bertanya arah dapur dan meminta ijin menyeduh teh untuk mereka bertiga, juga saat Namjoon membantunya duduk di sofa sambil menjelaskan hal-hal yang harus dilakukan sesuai anjuran dokter. Jimin sempat mengibaskan tangan agar mereka tak perlu repot-repot membantu, tapi tentu saja tidak digubris.
"Tehnya habis," adu Seokjin, keluar dari dapur dengan dua gelas air dingin, lalu mengeluarkan dompet ketika Namjoon bergumam tentang minimarket yang dilihatnya di lantai bawah, "Biar aku yang turun. Anda bisa menemaninya di sini."
"Jangan beli rokok."
"Berisik," Seokjin mendengus lalu menghilang di balik pintu. Jimin menyembunyikan tawa dan sibuk menggapai-gapai gelas minum sebelum diambilkan oleh Namjoon, tubuh mungilnya semakin mengerucut karena duduk di sebelah pria itu.
Tidak mau dianggap ingin sok kenal, Jimin enggan banyak bertanya dan hanya mengiyakan seperlunya ketika Namjoon menyinggung pekerjaan yang harus dijadwal ulang. Tentang pengambilan iklan hari ini, termasuk syuting video yang mungkin akan dilakukan tanpa dirinya (dimana Namjoon berusaha membesarkan hati sambil berkata bahwa teknologi penyambung adegan sudah sangat canggih) –tentang mengapa Namjoon terlihat sangat mengenal mereka (yang disahut kelakar bahwa itu gara-gara Sungwoon yang suka berceloteh panjang lebar) sampai obrolan soal Seokjin yang masih berbelanja di luar sana.
"Untuk ukuran manajer dan artisnya, kalian tampak sangat akrab lho? Aku jadi iri."
Meneguk air dinginnya, Namjoon menimpali tanpa sungkan, "Dia bukan cuma manaj......"
"Ah, lupa menyajikan camilan!!" Jimin menepuk keningnya keras, merasa sangat tolol, "Aku punya pir oleh-oleh dari Daegu, pasti cocok dengan selera Kak Namjoon. Sebentar, akan kuambilkan."
Entah karena Jimin begitu bodoh, entah karena Namjoon lupa mengingatkan akibat terlampau asyik mengobrol, entah karena merasa terlalu santai dengan kondisi saat itu, atau karena kesalahan kecil selalu saja terjadi tanpa terduga. Sesaat usai beranjak, gelenyar ngilu di kakinya langsung bereaksi ke sekujur tubuh dan detik berikutnya, Jimin sontak berteriak kesakitan sebelum terhuyung ke arah meja.
Namjoon, yang masih memiliki reflek jempolan, sigap merengkuh bagian terdekat yang mampu digapai. Lengan kanannya meraih pinggang dan lengan lain menarik pergelangan Jimin agar limbung ke arah berlawanan. Alhasil, keduanya jatuh menimpa sofa diiringi bunyi melesak keras. Jimin pun kembali mengaduh lantaran tertindih Namjoon yang berbadan besar.
Berdecak setelah terbentur sandaran, Namjoon buru-buru mengangkat kepala, linglung. Tepat saat pintu terbuka dan seseorang menyerbu masuk tanpa permisi.
"Jimin-ah!! Tadi kau bilang kakimu terluka di lokasi, ya? Ini kubawakan perban dan——"
Menoleh, batin Namjoon mencelos pasrah. Tas plastik yang dijatuhkan bersama bawaan yang menggelinding di lantai sepertinya bukan pertanda baik.
.
.
.
.
.
.
"Jadi...." Yoongi melirik sebelah mata sembari menatap Jimin yang duduk meluruskan kaki di tempat tidur, membuka-buka kotak obat, "Kedua orang itu mengantarmu pulang dari rumah sakit, lalu salah satunya tidak sengaja ikut jatuh waktu hendak menolong?"
"Dan Kak Yoongi membuatku berhutang budi terlalu banyak sampai rasanya aku ingin mengubur diri sendiri kalau bertemu mereka lagi," seloroh Jimin sewot, tak menurunkan kerutan dahi. Tangannya sibuk melepas lapisan kertas pelindung plester, kemudian diacungkan tinggi-tinggi sebagai isyarat bahwa dia tak dapat menggapai kepala Yoongi yang sedang berdiri, "Lihat sendiri kan? Aku tak bisa bergerak sempurna sampai beberapa minggu ke depan. Kalau saja Kak Seokjin dan Kak Namjoon tidak membantu, mungkin istirahatku akan jadi lebih panjang. Bukannya berterima kasih, aku malah seperti memulangkan mereka setelah dihajar."
"MANA KUTAHU! Dia terlihat ingin berbuat mesum padamu!!"
"Makanya dengarkan dulu kalau ada orang bicara!!" sentak Jimin, "Kemarikan kepalamu!!"
Mencibir, Yoongi beringsut mendekat dan duduk di tepi tempat tidur supaya Jimin bisa meraih pelipisnya untuk ditempeli plester, "Terus sekarang bagaimana? Apa aku disuruh membeli buah-buahan lalu minta maaf langsung ke kantor mereka?"
"Kantor manajemen bukan rumah sakit. Dan masuknya tidak semudah itu," Jimin menyahut sengit, "Kak Yoongi bisa dituntut kalau Kak Namjoon bicara terus terang soal siapa yang memukulinya sampai babak belur. Apalagi kalau pekerjaannya terganggu gara-gara kondisi muka yang lebam. Menjual motormu pun tidak akan bisa menutupi kerugian lho?"
Melotot selebarnya, Yoongi membuka dan menutup mulut seperti ikan kehabisan udara, "YA, YANG BENAR SAJA, JIMIN-AH!! Nanti aku kuliah pakai apa?"
"Kan sudah kubilang jangan sembarangan bertindak, Kak Yoongi selalu seperti itu," desahnya kecewa. Satu plester lain dilepasnya sembari mengangkat bahu, "Semoga saja lukanya tidak separah yang kubayangkan. Mungkin Kak Taemin punya nomor teleponnya dan kita bisa minta maaf. Kak Namjoon orang yang ramah kok, tapi entah dengan manajernya. Sepertinya beliau marah sekali tadi. Kak Yoongi keras kepala sih, orang tidak melawan masih saja diserang."
Yoongi bungkam. Hanya dahinya yang berkedut-kedut saat plester ketiga ditempelkan di sana. Satu bagian dirinya mencela mengapa langsung bersikap gegabah pada orang asing, sementara satu bagian lain membenarkan apa yang terjadi karena jujur saja, siapa yang mampu berpikiran jernih bila melihat orang yang disayangi disentuh dengan tak wajar oleh orang lain?
"Aku panik," gumamnya pelan, menggaruk-garuk tengkuk serba salah, "Kalau orang yang kau sebut Seokjin itu menelepon, atau malah Kim Namjoon sendiri, berikan padaku. Masalah dia meminta ganti rugi atau mau memukul sebagai balasan yang tadi, itu urusan nanti."
"Lalu?"
Yoongi memiringkan kepala, matanya beralih pada perban di kaki Jimin, "Berterima kasih?"
Memandang lembut, Jimin menjulurkan lengan untuk mengelus punggung Yoongi yang balas mendengus. Bibir tebalnya tersenyum samar seraya meraih ponsel dari atas bufet, "Kutanyakan pada Kak Taemin dulu."
.
.
.
.
.
"Aku baik-baik saja, tak perlu pasang muka seseram itu."
Seokjin memberinya tatap dingin dari sisi laptop yang terbuka, lengan kemejanya tergulung selagi sibuk mengetik sesuatu dengan kecepatan tinggi. Sebatang rokok menyala tergigit di sudut bibir, bergoyang akibat geretakan gigi.
"Tenanglah, Seokjinie."
"Berisik," pria itu menjentik abu ke asbak, lalu buru-buru mengetik lagi sambil menggaruk dahi frustasi, "Simpan kata-kata itu setelah aku selesai mengatur ulang semua jadwal pemotretan ini! Argh! Brengsek!! Apa yang harus kukatakan pada Direktur kalau dia sampai tahu? Aku pasti akan dipecat!!"
"Bilang saja aku nekat mengendarai motor karena bosan lalu terjatuh saat menghindari anak kecil. Atau menyetir terlalu cepat melewati tikungan dan terpeleset, terserah yang mana."
"Kau pikir ayahku akan percaya skenario murahan seperti itu?"
"Tak ada salahnya dicoba."
"Tidak."
"Ayolah."
"Bibi! Buat dia diam!" seloroh Seokjin tanpa berpaling dari layar, sejenak memutar mata mendengar desis nyaring Namjoon saat lukanya tersentuh alkohol, cukup untuk membuat wanita paruh baya yang sedang memegang botol obat di sebelah menggeleng-gelengkan kepala, "Aku juga tak mungkin memberitahu para staf agensi atau mereka akan histeris seperti radio rusak. Sungguh deh, apa bagusnya melindungi manusia sialan itu? Kalau aku tidak datang mungkin kamu sudah dibunuh lho?"
Tawa pelan Namjoon berderik menusuk telinga, selalu suka jika Seokjin sudah menghapus panggilan formal diantara mereka, "Dia hanya salah mengira, tidak perlu dibesar-besarkan."
"Tidak perlu dibesar-besarkan bagaimana? Lihat! Empat perusahaan iklan bertanya mengapa aku meminta mereka memundurkan jadwal dan meninjau ulang kalau tak bisa menunggu. Ini bukan persoalan sepele! Ini masalah pekerjaan dan profesionalitas! Kita punya semboyan untuk selalu disiplin dan berusaha supaya tidak kehilangan kepercayaan. Kalau...."
"Seokjinie," potong Namjoon, berterima kasih terlebih dahulu pada asisten rumah tangga yang berlalu dari ruangan sebelum melanjutkan kalimatnya, "Aku tidak berniat memperkeruh suasana atau membuatmu kehilangan pekerjaan. Apa aku pernah melakukan kesalahan sebelumnya?"
Seokjin merutuk, "Tidak."
"Apa aku pernah merugikan perusahaan selama ini?"
"Tidak."
"Karena itu, aku minta tolong," Namjoon tersenyum lebar, "Lupakan apapun yang terjadi hari ini dan aku akan bertanggung jawab sepenuhnya pada semua keluhan yang datang. Katakan apapun yang bisa dijadikan alasan asal tak mengungkit nama Park Jimin maupun teman dekatnya."
Yang diminta balas melengos sinis, "Mustahil."
"Seokjinie."
"Bah."
"Sayang....."
Seokjin menggeram rendah, menyepak meja kerjanya hingga kursi yang diduduki terdorong membentur dinding dan menyentak pelan tubuhnya agar berdiri. Satu tangannya mengacak rambut selagi tangan lain menekan rokok di dasar asbak hingga mati. Matanya merah menahan amarah, "Jika saja aku tidak lebih muda darimu dan kamu bukan orang yang harus kujaga, mungkin sejak tadi sudah kubuang ke tengah jalan."
Namjoon masih tersenyum.
"Ingat bagaimana manajermu dulu—nuna yang mengundurkan diri karena harus mengikuti suaminya pindah ke Jeju—berkata bahwa aku pasti akan masuk surga jika menerima jabatan ini. Penyataannya memang sukar dimengerti, tapi sekarang aku mulai paham," seloroh Seokjin dengan susunan kata yang berantakan, "Menjadi manajermu, Kim Namjoon, benar-benar merepotkan dan butuh berjuta kesabaran. Jam tidurku jadi tidak karuan, harus rela dibangunkan pagi buta, kehilangan waktu istirahat di akhir pekan, tidak bisa keluar masuk restoran seperti dulu, dan sekarang, harus memenuhi permintaan yang sepertinya akan mengancam posisiku sendiri. HARI YANG INDAH SEKALI!!" tambahnya kencang, kini berkacak pinggang penuh sindiran. Kedua sudut bibirnya mengembang dengan sarkatis, walau gelak lirih Namjoon tak pelak memaksanya mengubah ekspresi.
"Ada yang lucu?"
"Cara bicaramu," ujar pria itu tanpa ragu, menutup sebagian wajahnya menggunakan telapak tangan, "Mengaku kecewa atau segala macam, nyatanya malah membawaku kemari dan bukan ke apartemenku sendiri. Mulutmu berujar pedas sedari tadi, tapi kamu tetap berusaha menyelesaikan negoisasi dengan perusahaan iklan meski prosesnya alot. Apa namanya kalau bukan pengertian?"
Tak bereaksi, Seokjin menyambar sisa-sisa kasa dan kapas dari sekitar lantai lalu berjalan gontai sambil meremas bawaannya menuju tempat sampah. Ditekannya tuas memakai tumit kanan dan membuang segalanya ke dalam sana, enggan menoleh.
"Kamu tahu aku akan kesulitan jika dibiarkan pulang, karena aku tinggal sendiri dan tidak ada yang memasak atau merawat luka, sementara kamu punya asisten rumah tangga yang bisa dipanggil kapan saja," ujar Namjoon, memperhatikan sepasang kaki panjang berpindah arah menghampiri dan berhenti selangkah di depannya, "Aku benar kan?"
"Luka di mulutmu bisa makin lebar kalau terus bicara," sahut Seokjin ketus, menatap tajam pada lelaki berlesung pipi yang mendongak di depan perutnya, "Ganti plesternya tiap hari dan jangan keluar sembarangan tanpa memberitahu. Kalau sampai berbekas, kubunuh kamu."
Namjoon mengangguk patuh, meski masih terkekeh, "Kamu selalu menyumpah seperti itu ya?"
"Mau dengar yang lebih sadis?"
"Tidak, terima kasih."
Berbalik ingin menggulung kemejanya lebih tinggi, Seokjin mendelik heran pada lengannya yang diraih. Mata menyipit dari balik bahu serta mendapati Namjoon menahannya pergi sambil menatap datar, "Ada apa?"
"Aku sudah memaksamu bekerja keras hari ini," gumam Namjoon, menggenggam pelan jemari kokoh yang tak berusaha menarik diri, lalu mengaitkan dengan jari-jarinya sendiri, "Maaf."
Seokjin tak segera menjawab, mata memandang lurus pada pria berambut cokelat tersebut sebelum pegangan mereka merenggang. Betapapun kesalnya, betatapun marahnya, pertahanan hati Seokjin tak pernah mampu melawan sorot mata Namjoon. Menggerutu, yang bersangkutan berdecak gusar.
"Simpan permintaan maaf itu setelah wajahmu kembali tampan," tubuh Seokjin membungkuk rendah, dikecupnya bibir sang kekasih yang memagut tak kalah lembut, "Dan traktir aku tiga kotak donat."
Namjoon balas terkekeh di sela ciuman.
"Baiklah."
.
.