Kepalan tangan itu ia gigit untuk menahan suara berisik. Sebelah tangannya lagi meremat kuat bahu sang suami, memberi kode untuk sekedar memelankan gerakannya.
Induk kucing itu melenguh kecil begitu kenikmatan tak terbendung itu terus menghantam tubuhnya hingga ke inti. Sekuat tenaga menahan desahan ketika sang suami meninggalkan jejak panas dan basah di sepangjang leher hingga belikat.
"J-jaeh...pelan-pelan! Bibi Kim bisa bangun!" Ucap Taeyong susah payah, menutup mulut sang suami dengan tangan karena Jaehyun yang beberapa kali menggeram keras.
Oke, mari lupakan tentang Jung Jaehyun yang berniat mengunci istrinya. Itu hanya sekedar ekspetasi sialan belaka yang benar-benar omong kosong, pada kenyataannya seorang Jung Jaehyun mana tega memperlakukan istri manisnya seperti itu.
Di dunia ini tidak ada yang bisa mengalahkan kebucinan seorang Jung Jaehyun terhadap istrinya. Dia itu kan the King of Bucinnya Jung Taeyong.
Belum ada setengah jam pasca drama picisan tadi, Jaehyun segera menyusul sang istri yang tidur di sofa ruang tamu, bukannya memindahkan Taeyong ke tempat yang lebih nyaman, ia malah menyetubuhi istrinya hingga terbangun.
Benar-benar pria bejat kelebihan hormon.
Jaehyun menjatuhkan tubuh besarnya begitu saja di atas dada Taeyong, terkulai lemas begitu mendapatkan kepuasan. Sementara sang istri sibuk mengatur napas juga mengusap lembut rambut Jaehyun yang basah.
"Berhenti berurusan dengan pria Jepang itu" Jaehyun berucap lirih, membubuhkan beberapa kecupan ringan di dada Taeyong.
"Tapi--"
"Atau kau tidak akan bisa berjalan benar lagi selamanya"
"Baiklah" Taeyong menjawab lesu, bisa apa dia jika sang suami sudah mengeluarkan ancaman seperti itu? Bisa-bisa ia benar-benar tidak bisa berjalan dengan benar besok dan selamanya.
"Besok acaranya reuninya, ayo temani aku"
"Aku tidak bisa hubby" Taeyong mengusap kening Jaehyun yang berkeringat, menepikan rambut depan Jaehyun yang sudah panjang hingga menutupi sebagian wajahnya.
"Kemana?" Kerutan samar tanpa disadari tercetak jelas di sana.
"Johnny hyung akan pergi ke Ilsan selama dua hari, ia memintaku untuk menjaga Ten yang sedang hamil, takut Ten tiba-tiba melahirkan"
"Dia akan melahirkan?"
"Hm, sudah masuk bulan kesembilan, makanya Ten tidak pernah dibiarkan sendirian di rumah. Jadi pergi sendirian saja ya?"
"Kalau begitu aku tidak usah datang saja" pria Jung itu membalas cuek, kembali menunduk untuk melumat pelan bibir bengkak istrinya.
"Tidak boleh begitu, hargai temanmu yang lain Jaehyunnie, mereka mengharapkan kehadiranmu. Kemarin Chaeyeon kan juga sudah menelepon memaksamu datang"
"Malas, tidak penting juga berada di sana, buang-buang waktu lebih baik cuddling hingga subuh bersamamu"
Taeyong mendesah pasrah, sudah dibilang bukan jika suaminya ini agak keras kepala juga menjengkelkan "harus datang pokoknya! Tidak rindu teman-temanmu?"
"Buat apa rindu dengan manusia bobrok seperti mereka? Itu hanya akan membuatku sakit kepala mendengar obrolan mereka yang pasti tidak jauh-jauh soal sex dan minuman"
"Hanya sebentar saja oke? Setengah jam sudah cukup lalu kau bisa langsung pulang" pria manis itu kembali berusaha membujuk karena kemarin Jung Chaeyeon sempat menghubunginya untuk memaksa Jaehyun agar datang sebentar saja ke acara reuni mereka.
"Tidak mau"
"Bagaimana dengan sex sepanjang malam sebagai imbalan?" Taeyong tersenyum menang begitu melihat wajah ragu milik sang suami.
Membujuk Jung Jaehyun itu cukup mudah, iming-imingi saja dengan sex maka pria kelebihan hormon itu akan langsung mengatakan setuju.
"Baiklah" Jaehyun mengalah, demi bisa menghabisi istrinya sepanjang malam, ia akan melakukan segalanya.
Tautan panas dan bergairah itu kembali berlanjut diiringi desahan samar milik Taeyong. Baru saja Jaehyun akan meniduri istrinya lagi, sebuah suara dari bawah tangga berhasil mengejutkan keduanya.
"Nyonya? Tuan?
🍭🍭🍭🍭🍭
"YA TUHAN AKHIRNYA KEKASIH TAMPANKU DATANG JUGA!" Pekikan tidak tau malu itu menyambut Jung Jaehyun begitu ia memasuki sebuah kedai ramen yang menjadi tempat acara reuni kali ini.
Suami Jung Taeyong itu hanya memutar bola mata malas sembari menghampiri meja besar di sudut kanan yang sudah penuh berisi teman satu gengnya.
"Hai sayang, aku rindu padamu" pria berbibir tebal itu mengedipkan sebelah mata, memasang wajah genit yang berhasil membuat Jaehyun mual detik itu juga.
"Hei! Yo, wassup bro! Lama tidak bertemu, wajahmu makin tampan saja" laki-laki berkulit paling gelap di sana memberikan high five kepada Jaehyun disusul yang lainnya.
"Tumben kau mau datang, biasanya juga menolak terus"
"Istriku memaksa" Jaehyun menjawab singkat, mengambil gelas kecil berisi soju di atas meja lalu menghabiskannya sekali teguk.
"Uhh...pria bucinku ternyata tidak berubah ya"
"Bam, berhentilah bersikap menjijikan sebelum aku melembar botol soju ini ke kepalamu" Cha Eunwoo menyahut tidak santai.
"Jadi, sekarang kau sibuk menjadi manager?" Jungkook bertanya ingin tau.
"Ya begitulah, aku ingin jadi kaya seperti Yugyeom"
"Sialan!" Si pemilik nama mengumpat kecil, membuat pria berlesung pipi itu tertawa.
"Karena hari ini begitu bersejarah sebab presiden kita berkesempatan hadir kali ini, maka sebagai perayaannya mari habiskan platinum card milik Yugyeom di club" otak cemerlang Dokyeom mendadak bekerja, menyusul seruan setuju dari yang lain kecuali Jaehyun.
"Aku-"
"Tidak ada penolakan! Atau Bambam akan kusuruh memperkosamu"
"YAK! KEPARAT SIALAN!
🍭🍭🍭🍭🍭
Sudah pukul setengah satu pagi, namun dentuman musik malah semakin menggila. Sorot lampu menyilaukan mata terdapat dimana-mana, asap rokok juga bau minuman bercampur menjadi satu dalam ruangan.
Di ujung sana, sekelompok pria tampan juga kaya berhasil menyita atensi sebagian besar orang-orang. Terlebih lagi para perempuan dan pria berstatus bawah yang secara terang-terangan mengeluarkan rayuan.
Jaehyun sama sekali belum menyentuh minumannya, tangannya sibuk meng-scroll layar handphone yang menampilkan kumpulan foto-foto sang istri.
Ia jadi rindu Taeyong.
"Jae, untuk kali ini saja tolong taruh handphonemu dan bersenang-senanglah" Mingyu yang duduk di samping Jaehyun memperingati, menyodorkan segelas vodka ke hadapan sahabatnya.
"Kapan berakhir?"
"Kita baru datang dan kau tanya ini kapan berakhir? Jangan bercanda, dude"
"Aku ingin pulang"
"Bertahanlah sebentar lagi, bahkan yang lain masih tersadar sepenuhnya, tunggu sampai mabuk"
"Ck" hanya decakan singkat yang menjadi penutup dari Jaehyun malam itu. Ia hanya sedang menuruti kata Taeyong untuk setidaknya menghargai keberadaan teman-temannya. Ia mengambil segelas minuman di atas meja, mencoba menikmati acara ini dan berharap waktu berjalan cepat.
Malam semakin larut, satu persatu temannya mulai tak sadarkan diri dan meracau tidak jelas. Jung Jaehyun kembali menuangkan minuman tidak sehat itu ke dalam gelas, meminumnya lagi dan membiarkan sensasi panas itu menjalar membasahi tenggorokannya.
Tanpa keinginnya, Jaehyun mulai kehilangan kesadaran, mengobrol bersama teman-temannya membuat ia tidak sadar telah menelan banyak minuman malam ini.
Jaehyun bangkit berdiri, sedikit oleng jika saja ia tidak bertumpu di pinggiran kursi. Ia menatap teman-temannya yang sudah tepar, sebagian lagi menghilang entah kemana.
Jaehyun berbalik, berusaha mencari pintu keluar agar bisa segera pulang. Kepalanya semakin lama semakin sakit, bahkan berdiri tegak saja ia tidak mampu. Pria Jung itu masih terlihat kebingungan menacari pintu keluar, ia menyusuri lorong gelap itu.
Ia ingin pulang, tapi kenapa ia malah terjebak di lorong sepi dengan banyak pintu berbentuk serupa seperti ini?
Dengan kesadaran yang mulai menghilang sedikit demi sedikit, Jaehyun berjalan limbung mendekati pintu yang ada di sebelah kirinya. Mengetuk dengan tidak sabaran dan terlihat kesal.
"Buka pintunya! Biarkan aku masuk!" Teriaknya
Tak lama, pintu coklat dengan plang 13 di bagian atas itu terbuka perlahan, menampilkan sesosok perempuan berkepang satu yang juga tampak sama kacaunya seperti Jaehyun.
"Kau siapa tuan?! Menganggu saja!" Ia bersidekap sementara Jaehyun bertumpu di sisi pintu, menahan tubuhnya.
Jaehyun menatap sosok di depannya ini dengan samar, kenapa istrinya ada disini?
"Tae..."
"Apa? Kau bilang apa tuan? Aku tidak-" perkataan bernada tanya itu harus terhenti begitu ia merasakan sesuatu yang asing mencoba menghabisi bibirnya.
Ia mencoba mengelak, namun segera ditepis dan malah di dorong menghantam dinding. Ia di kungkung, tidak dibiarkan bergerak sementara pria asing di depannya ini semakin memperdalam ciumannya.
Perempuan berkepang satu itu perlahan mulai luluh, menikmati setiap sentuhan yang ia rasakan di sekujur tubuhnya. Kedua tangan cantik miliknya terjulur ke depan, memeluk erat leher pria ini dan membalas lumatannya.
Perempuan itu memekik pelan begitu merasakan tubuhnya terhempas begitu saja di permukaan tempat tidur, hanya sebentar sebelum ia kembali ditindih dan kembali dicumbu. Mengeluarkan desahan kecil begitu gigitan juga kecupan di leher tak henti-hentinya ia dapatkan. Ia baru sadar, lengan dressnya sudah turun sebatas siku beserta bagian bawahnya yang sudah tersingkap.
Jaehyun total lupa diri, pikiran rasionalnya sedang tidak berfungsi, yang ada di otaknya saat ini adalah bagaimana caranya ia melampiaskan hasrat di tubuhnya sekarang juga.
Yah, mungkin tidak perlu dijelaskan lagi, semua orang juga akan tau kemana ini akan berakhir. Tapi satu hal yang perlu digaris bawahi saat ini.
Jung Jaehyun baru saja membuat kesalahan besar.
🍭🍭🍭🍭🍭
Ehe 🙃