Cerpen 10 Days ✔

By flc_writers

121K 4.2K 960

Adalah sebuah project rutin grup kepenulisan FLC. Yaitu member akan membuat sebuah karya cerpen dalam jangka... More

📍TEMA PERTAMA [✔]
1. Aksi, Bukan Konversasi
2. Friend, Me, and He
3. I'm Titanium
4. Sahabat Yang Sesungguhnya
5. Sahabat Gelembung
6. Bunga Lily
7. Kejahatan & Burung Hantu
8. I Never Say Goodbye
9. Arigato
10. Berakhir Dalam Kenangan
11. Sahabat Online
12. Terima Kasih Sahabat
13. My First Friend
14. Best Friends Forever
15.Fate
16. One Friend
17. Per(Tama) (Tera)khir
18. Ocean Friends
📍TEMA KEDUA [✔]
1. Coeur Brisé
2. Ibuku Tersayang
3. Sick
4. Makna
5. To You
6. Pelajaran di Sweetseventeen-ku
7. Ulang Tahun Untuk Nao
8. Thank You
9. Suprise
10. Zsa Zsa Zsu
11. One Wish
Ucapan Selamat
📍TEMA KETIGA [✔]
2.Thank and a Goodbye
3. Pelangi
4. Semua Demi Cinta
5. Line
6. Gadis di Balik Papan Tulis
7. At a Glance Remember Everything
8. Semua Punya Akhir
9. Rain
10. I'll Never Forget You
11. ZEYA DAN REYAN
12. Steev
13. Why?!
14. Last Meet
15. Foto Terakhir Yang Ku Ambil
16. Takdir nan mengatur alur
17. Diriku Yang Lain
18. Aku Titip Ibuku
19. Lisalu
20. Heartsick Tale
21. Kelulusanku di Tahun 2019
22. Broken Future
📍TEMA KEEMPAT [✔]
1. Daddy, Where's My Mommy? I Really Miss Her
2. I Miss The Beach
3. Hantu Pembunuh Kerinduan
4. Tak Disangka
5. Doll Strap
6. Where Are You My Friend? I Want To Meet You. When We Can Meet Again?
7. Rinduku Bukan Rindumu
8. Rindu Ini Membunuhku
9. Akankah Rinduku Terbalas?
10. Kehidupanku Berbeda(?)
11. Melodi Hari Itu
12. Penyesalan dan Kerinduan Haniv Si Anak Mandiri dengan Kakaknya
13. 30 Menit Menuju Masa Lalu
📍TEMA KELIMA [✔]
1. Epic Comeback
3. Karma For Bully
4. Hate by Life Itself
5. Reincarnation
6. The Angel Of Bullying
7. History
8. Goodbye Sugar, Hello Demon!
9. Goodbye, World!
11. Andai Aku Secantik Mereka
12. Bully for Change
📍TEMA KEENAM [✔]
1. When Did I get a Comfortable Morning?
2. End Si Pengidap Didaskaleinophobia
3. Hans dan Boneka
4. Badut di Hari Ibu
5. Erika
7. Jangan Keluar Kamar Saat Tengah Malam
8. Androphobia
9. Laut
10. Up
11. The Dark Side
12. My Sibling's
13. Ulang Tahun dan Phobia
14. Petir dan Hujan
15. Gelap Yang Membawa Kebahagiaan
16. Kocheng Oren
17. Curse
18. Philophobia
19. Matahariku
20. Rest Area Kilometer 13
21. Kutukan Hana
22. Tidak harus Bersih demi Berkorban
23. Tolong, Menjauh Dariku!
📍TEMA KETUJUH [✔]
1. Dia dan Hujan
2. Teriakan Kesengsaraan
3. You and The White Cat Under The Rain
4. When it Rainy Then...
5. Crystal Rainbow
6. Happily (N)ever After
7. Karena Petir
8. Termasuk Sial Ga Ya?
10. Death In The Rain
11. La La La Vien en Rose
12. Kertas dan Hujan di Sore Hari
13. You are My Light
14. Home
15. Tertidur
16. Kakak dan Adik
17. True Dream
18. Hujan itu Tau Segalanya
19. Ame no Jikan
20. Late
21. Tangisan Langit
📍TEMA KEDELAPAN [✔]
2. No Title
3. Just Rania
4. FREE
5. Alive
6. We Want to Get Out of Our House
7. Harapan dan sebuah Keputusasaan
8. Sacrifice for Freedom
9. I Just Want It
10. Surat Terakhir Pangeran Buangan
11. Bridled
12. Sebuah Impian dan Kenangan
13. True Freedom
14. Trapped
15. The Freedom I Wanted
📍TEMA KESEMBILAN [✔]
1. One Way
2. Krisan Kuning dalam Perjalanan Cinta Aruffin
3. One Death, One Corpse, One Way
4. Tanah Impian
5. Si Kecil Pemberani
6. Rose of Happiness
7. Gillyflower Fern
8. Aku, Katingku, dan Sebuah Cerita di Kediri
📍TEMA KESEPULUH [✔]
1. Apa sih Arti 'Pendidikan' yang Sebenarnya?
2. Berubahlah Demi Masa Depanmu!
3. Semua untuk Anakku
4. Dasar Pendidikan
5. Akankah Mimpi Bersama Bintang Di Langit?
6. Red Tide
7. Ocean Education
8. Back to School
📍TEMA KESEBELAS [✔]
1. Spoiler (Part 1)
2. Behind You
3. Mystic Love
4. Spoiler (Part 2)
5. Love And Friend
6. My Dear Timun Mas
7. Carousel
8. Biarkan Kami Nge-halu!
9. Ditinggal Kawin atau Nikah?
10. Seharusnya, Aku Menahanmu
11. "W.I.F.E (Wired Integrated Female Electroencephalograph)"
12. Pertemuan di Rumah Sakit Jiwa
13. When You Leave Me
14. Forbidden Love : The Prince of the Sea
15. Berujung Duka
16. Romeo dan Juliet yang Tertukar
📍TEMA KEDUABELAS [✔]
1. Album Kenangan Kelas Sableng
2. Jauh di mata, Dekat di Sketsa
3. Rindu Kalian
4. Mabataki
5. Sentimental Feeling of Love
6. My Memory
7. Buku Usang dan Memori
8. Aku, Ingatan, dan Album Ajaib
9. Reminisensi
10. My Memories On Earth
11. Tolong, Katakan Pada Dirinya
12. Aku dan Sera
13. The Last Regret
14. Memories
15. Recollection
16. Apa itu teman?
17. Eclair's Album
18. Blue Star
19. Pahit
20. Biarkan Masa Lalu, di Masa Lalu
21. Back to That Time

2. Bunga Kecil di Pinggir Lapangan

467 24 2
By flc_writers

Aku sedang duduk di atas pohon sambil merasakan hembusan angin yang sangat sejuk. Di kala matahari bersinar terang di jam delapan pagi, aku berteduh di atas dahan pohon dekat lapangan sepak bola. Pemandangan sekolah dari sini cukup membuatku tidak ingin meninggalkan tempat ini.

Dengan sepasang earphone yang menempel di telinga, aku mengayun-ayunkan sebelah kakiku ke bawah. Oh, ayolah! Aku selalu datang ke tempat ini di saat guru tidak datang ke kelas. Tetapi, bukan berarti aku seorang murid liar.

"Aw!"

Terdengar suara jeritan seorang gadis dari bawah. Sepertinya kakiku mengenai kepalanya. Aku menengok ke bawah. Di sana ada seorang gadis yang sedang mengusap-usap kepalanya di bawah sinar matahari yang terik.

"Siapa itu?" tanyanya seraya menengok ke atas. "Ryuji?!"

"Hai, Nozomi," sapaku kepada gadis bernama Nozomi itu.

Ya, Nozomi. Seorang murid pindahan dari Jepang yang datang ke kelasku saat awal bulan Februari lalu. Sebenarnya aku juga berasal dari Jepang. Hanya saja aku datang ke Indonesia sejak tiga tahun lalu saat aku duduk di kelas satu SMP. Tidak heran kalau namaku Ryuji.

"Kenapa kau selalu memanjat pohon?" tanyanya sambil melihat ke atas dengan tampang sebal.

"Bilang saja kalau kau iri. Kau tidak bisa memanjat pohon, bukan? Kasihan sekali. Padahal pemandangan dari sini sangat memanjakan mata," ejekku.

Aku dekat dengan Nozomi sejak hari kedua dia pindah. Awalnya, tidak ada satu pun siswa di kelas yang mendekatinya. Jadi, aku memutuskan untuk berteman dengannya. Hanya berteman. Dan selamanya akan berteman.

Nozomi duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon sambil menyaksikan para siswa yang sedang berolahraga di lapangan. "Ah, aku jadi merindukan negara tempat asalku," tiba-tiba Nozomi berkata begitu.

"Sudah tiga tahun aku pindah dari Jepang. Tapi, aku tidak berniat untuk kembali lagi ke sana," kataku, berusaha membuat Nozomi tidak berpikiran kalau Indonesia itu lebih buruk dari Jepang.

Tentu saja aku lebih betah tinggal di Indonesia daripada di negara tempat kelahiranku. Sebenarnya, Nozomi berbeda dengan kebanyakan orang Jepang lain. Tidak sepertiku yang bermata sipit dan berkulit putih, Nozomi bermata lebar dan berkulit hitam. Karena dia mengaku kalau dirinya keturunan Jepang-Afrika.

"Apa kau betah tinggal di sini?" tanyaku, memulai pembicaraan setelah beberapa lama hanya suara angin yang terdengar. Nozomi menggerakan kakinya seperti seorang anak kecil yang sedang bosan.

"Aku betah tinggal di Indonesia. Aku betah tinggal di sekolah ini. Tapi, aku tak pernah betah untuk tinggal di kelas," akunya.

Aku baru ingat. Sebenarnya, Nozomi seorang yang pemurung. Dia hanya berteman denganku di kelas. Dia terlihat pendiam di hadapan orang-orang. Tapi, dia tak akan berhenti bicara saat sedang bersamaku.

"Ketika bersekolah di Jepang, aku juga seorang pemurung dan tidak memiliki teman. Sama seperti di sini. Aku tidak tahan dengan semua itu dan berniat untuk pindah ke luar negri. Aku pernah baca di artikel kalau Indonesia itu negara yang terkenal dengan keramah-tamahannya. Karena itulah, aku ingin pindah ke sini karena ayahku juga bekerja di sini. Setelah aku pindah, ternyata ini lebih buruk," lanjut Nozomi, lalu meninggalkan bangku kayu dan berjalan memasuki gedung sekolah bersamaan dengan suara bel yang berbunyi nyaring.

Aku melirik jam tangan. Jam pelajaran kosong ini tersisa tiga puluh menit lagi. Lebih baik aku kembali ke kelas. Aku meloncat dari pohon, lalu melepas earphone. Aku membeli sekaleng soda dari mesin penjual otomatis yang terletak di belakang pohon. Meminumnya sampai habis dan melempar kalengnya ke tong sampah.

Panas sekali cuacanya.

Aku menaiki tangga. Melewati koridor menuju kelasku. Koridor ini sepi sekali walau terdengar suara ribut dari dalam ruang kelas. Sebenarnya aku tidak punya tujuan, namun aku terus berjalan.

Ketika sedang asyik bersiul, sneakers yang kupakai tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Terdengar suara tangisan seorang gadis dari ujung koridor. Aku berjalan beberapa langkah untuk melihatnya, lalu terdiam beberapa lama setelah melihat suatu kejadian.

Ah, tidak mungkin!

Di ujung koridor yang terhalang oleh tembok, beberapa siswi dari kelasku sedang melakukan tindakan bullying kepada seseorang. Orang yang mereka bully adalah teman sekelas mereka sendiri. Nozomi.

"Oi, hentikan!" teriakku. Semua menatap ke arahku, termasuk Nozomi yang wajahnya dibanjiri air mata. Seketika Nozomi langsung berlari, meninggalkan setetes air mata yang tertinggal di bawah lantai.

"Eh, Ryuji. Kenapa kau ada di sini?" tanya Sherry, terbata-bata. Wajahnya memerah bak apel yang matang, sedangkan dua orang di belakangnya hanya dapat tertunduk malu.

"Apa yang kau lakukan terhadap Nozomi?"

Sherry menyadari gelagatku. "Kau tadi melihatnya sendiri, bukan? Memangnya kenapa kalau aku selalu membully No-"

"Ah, pantas saja dia tidak betah tinggal di kelas. Jadi, semua ini karena ulahmu?" sahutku, memotong perkataan Sherry.

"Hmm, kau tahu, belakangan ini, aku memang selalu ingin membully seseorang. Tapi, semua siswa di kelas tidak ada yang pemurung. Jika aku membully salah satu dari mereka, kemungkinan mereka akan mengadukannya kepada teman mereka dan aku akan dijauhi. Lagipula, bukankah orang pemurung itu tidak punya teman? Jadi-"

"Jadi kau melupakanku? Kau melupakan kalau aku berteman dengan orang pemurung itu?" sahutku, memotong kembali perkataan Sherry. Semua terdiam. Hanya Sherry yang berani berbicara diantara mereka bertiga. Mungkin dia pemimpinnya.

"Kalian bertiga telah mencemari nama baik Indonesia saja," lanjutku dengan pelan. "Kalian tahu bahwa Indonesia itu terkenal dengan keramah-tamahannya yang membedakan dengan negara-negara lain. Nozomi pindah ke sini karena alasan itu. Sekarang, bagaimana tanggapan orang-orang asing ya kalau sampai mereka tahu ada murid pindahan dari luar negri yang diperlakukan seperti itu di Indonesia? Apa mereka akan tetap mengakui ciri khas bangsa Indonesia itu?"

Dua orang siswa yang keluar dari kelasnya tiba-tiba saja memperhatikan kami dengan tatapan aneh, lalu berjalan meninggalkan koridor.

Aku mengikuti dua orang siswa itu, meninggalkan Sherry dan kawan-kawannya yang diam mematung.

Aku harap Nozomi tidak apa-apa.

.

Sesaat setelah hujan deras berhenti, sinar matahari senja mulai membuat pandangan siapa pun menjadi terganggu. Aku sedang bermain game di koridor depan kelasku saat suara langkah kaki terdengar. Ada seseorang yang mendekat.

"Jadi, alasan kau tidak betah tinggal di kelas itu karena kau sering dibully?" tanyaku kepada Nozomi. Nozomi menganggukan kepalanya.

"Aku sama sekali tidak menemukan setitik pun kebahagiaan di sekolah ini. Mungkin, hanya bersamamulah aku merasa bahagia," ucapnya.

Aku menekan tombol pause. Nozomi bertopang dagu di balkon sambil menatap ke bawah.

"Aku selalu memandangi sekuntum bunga violet kecil itu. Tersenyum menghadap langit walau berkali-kali bergoyang dihembus angin dan basah terkena air hujan." Nozomi tersenyum.

Aku melihat ke arah lapangan sepak bola dan baru menyadari ternyata di sebelah kanan gawang, berdiri sekuntum bunga violet kecil yang tertiup angin. Jauh di sebelah bunga itu, tumbuh sekumpulan bunga lavender.

"Aku seperti bunga kecil itu. Aku adalah bunga violet, sedangkan kalian bunga lavender. Kita memang berbeda. Kalian banyak, sedangkan aku sendirian. Kita juga berbeda jenis. Meski begitu, kita memiliki persamaan. Kita sama-sama berwarna ungu, bukan? Sama seperti manusia. Setiap manusia itu sama meski memiliki perbedaan."

Aku mendengarkan dengan seksama perkataan Nozomi. Membiarkannya terus berbicara.

"Di hari pertama aku pindah, ada seorang siswi yang mengajakku bicara. Saat itu, Bahasa Indonesiaku kurang lancar. Jadi, aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Orang itu Sherry. Dia mengajakku untuk berteman dengannya. Saat itu aku tak menjawab, lalu Sherry mengatakan sesuatu kepadaku. Dia kemudian tersenyum. Jadi, aku juga ikut tersenyum."

Ah, ternyata begitu.

Aku mengetahui semuanya, Nozomi. Dari awal pertemuanmu dengan Sherry pun dirinya telah menandaimu sebagai sasaran pembullyannya. Karena kau hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaannya. Andaikan saja kau berbicara meski satu kata pun, maka Sherry takkan menganggapmu pemurung dan tidak akan membullymu.

Kalian pasti akan berteman.

"Apa salahnya menjadi seorang pemurung? Apa mereka menilaiku dari sifatku itu saja? Maksudku, aku juga memiliki kelebihan. Memangnya dirimu itu tidak memiliki kekurangan, Sherry?" teriaknya. "A-aku sudah tidak tahan lagi. Dimana pun aku berada, aku pasti tidak akan merasakan kebahagiaan. Aku serasa ingin mengakhiri hidupku saja. Aku... Aku..."

Perkataan Nozomi terbata-bata seiring sengan keluarnya butir-butir air dari matanya. Tak terhitung sudah berapa air mata yang keluar dari matanya di sekolah. Aku pun mendekatinya, menyeka air matanya.

"Aku memiliki hadiah untukmu. Bergembiralah." Aku mengeluarkan sesuatu dari tas agar aku tak lagi melihat Nozomi menangis.

.

Sudah beberapa hari ini, meja yang ditempati Nozomi selalu kosong. Aku memberitahu kepada Sherry kalau Nozomi sudah pindah lagi ke Jepang. Sherry kemudian menangis setelah mengetahui ternyata Nozomi sudah meninggal karena kecelakaan bus beberapa hari lalu.

Kemudian.

Seorang gadis bermata lebar dan berkulit hitam sedang berdiri di depan kelas.

Nozomi? Benarkah itu Nozomi?

"Hajimemashite! Namaku Akito Nozomu. Murid pindahan dari Jepang," kata gadis itu.

Aku baru menyadari ada sebatang pisau di tangan kanannya.

"Aku kembarannya Nozomi yang meninggal di sekolah ini karena dibunuh oleh seseorang. Yang aku tahu, pembunuhnya itu seorang laki-laki dari kelas ini," lanjut gadis itu, menatap tajam ke arahku.

Aku membalasnya dengan senyuman.

Kurasa dia tahu kalau aku yang membunuh Nozomi. Aku tak merasa bersalah telah melakukan itu. Nozomi mengatakan dirinya ingin mengakhiri hidupnya dan aku mengabulkannya.

Saat itu, aku mengeluarkan pisau dari tas untuk membunuh Nozomi. Agar aku tak lagi melihat Nozomi menangis. Bagaimana mungkin Nozomi menangis kalau dia mati?

Hahaha, Nozomi, Nozomi.

Indonesia itu negara yang ramah-tamah. Apakah jika kau berbicara mengenai keburukan orang lain itu namanya ramah-tamah? Apa jika kau menilai seseorang dari kekurangannya saja itu namanya ramah-tamah?

Kurasa tidak.

Sayonara, Nozomi! Semoga kau masih menganggap kalau Indonesia itu negara yang ramah-tamah.

.

Penulis pinnavy

Continue Reading

You'll Also Like

249K 14.5K 93
Ini hanya sebuah fiksi dan jangan sangkut pautkan kepada real life. Selamat membaca. Jangan lupa untuk votenya.
2K 117 28
Kumpulan cerpen adalah kisah pendek setiap bab. Dibaca habis langsung duduk. Tidak perlu menunggu waktu lama mengetahui akhir kisah.
155K 3.8K 37
warning⚠️ cerita tidak ada sangkut paut apapun pada kehidupan asli mereka mohon jangan dibawa serius ini semua hanya karangan penulis, jika ada salah...
Wattpad App - Unlock exclusive features