Jimin menatap ruang putih dihadapannya.
Ia sudah lupa berapa lama dia berada disini, ia sudah lupa bagaimana caranya melanjutkan hidup.
Ia merasa bergerak diruang hampa.
Sedangkan di sudut kamarnya, ada Jinhan yang hanya terdiam memandangnya.
Jimin tahu Jinhan sudah benar-benar meninggal. Ia juga tahu fakta bahwa Jinhan telah mendonorkan jantung dan bola matanya.
Pandangan Jimin benar-benar kosong.
Isi otaknya benar-benar melompong.
Ia rasa hatinya juga ikut mati.
Yang ia pertanyakan, kenapa ia masih hidup, sedangkan ia merasa jiwanya mati.
Semua orang sudah menyerah atas keadaan Jimin.
Jimin benar-benar sudah sulit disadarkan.
Seolah tak ada harapan untuk sembuh.
...
Sedangkan di tempat lain, Kim Taehyung tetap setia menutup matanya. Tak ada prediksi kapan ia bangun.
Seolah hidupnya telah benar-benar pergi dari raga lelaki itu.
Tak henti doa terpanjat, menyerahkan segala harap pada Pemilik Hidup.
Sudah lebih dari 4 bulan, tak ada tanda bahwa Kim Taehyung akan terbangun.
Entah sedang berada dimana jiwa nya saat ini.
Raga itu kosong, hanya detak jantung dan deru nafas yang masih menjadi sebuah tanda bahwa Kim Taehyung masih ada disini.
...
Jung Hoseok, masuk kedalam kamar Jimin.
" Jim, waktunya makan." Hoseok mendekat pada pasien sekaligus kekasih orang yang dicintainya.
Hati Hoseok selalu pilu mengingat kondisi sepasang kekasih ini.
Keduanya hidup dalam sebuah kekosongan, seolah waktu terhenti untuk keduanya.
Yang satu, tak bisa dipastikan kapan bangun.
Sedang yang lainnya tak bisa dipastikan kapan kembali sadar.
Bukan hanya Hoseok yang pilu, semua yang menyayangi keduanya juga merasa pilu.
Entah takdir apa yang sedang mereka hadapi saat ini.
Jimin hanya membuka mulut saat Hosek menyuapinya.
Sedang netranya masih tetap terpaku pada bayang semu sang kembaran.
Jinhan benar-benar tak bisa pergi, atau Jimin yang benar-benar tidak bisa sembuh?
...
" Hei brandal, kapan kau akan membuka matamu?" Tanya kesal Seokjin saat melihat adiknya masih saja betah menutup matanya.
Hatinya hancur berkeping-keping.
Patah berkali-kali.
Hidupnya monoton dan membuatnya frustasi.
Ia teramat takut menerima sebuah kehilangan.
Ia membenci dirinya sendiri, karna ia tak bisa melakukan apapun untuk membuat adiknya tersadar.
Rasanya sangat menyakitkan.
Dan lagi, air matanya jatuh deras.
Hatinya teramat sangat sakit.
...
Min Yoongi memandang langit malam di depan balkon kamar.
Menatap ribuan gemerlap bintang yang bersinar terang.
Ia tersenyum masam, bahkan sinar terang ribuan bintang tak membuat hatinya yang redup menyala terang.
Hatinya teramat sangat sakit, mengingat seseorang yang begitu ia cintai sedang berada di ambang batas hidup dan mati.
Bahkan air mata meleleh di kedua sudut matanya, dia menangis dengan dada yang terasa sesak.
Melihat orang yang dicintai sedang terluka, membuat dirinya berharap ia saja yang menggantikannya.
" Hyung " Jungkook memegang bahunya yang bergetar.
Yoongi masih terdiam, tak lagi terisak, meski masih sesak.
" Apa sebegitu besar kau mencintai Kim Taehyung Hyung?" Tanya Jungkook pada Hyung sepupunya.
Hal bodoh, karna tanpa bertanya sekalipun, sudah teramat jelas bagaimana seorang pemuda cuek dan dingin semacam Min Yoongi selemah ini saat sang pujaan hati sedang koma.
Bukannya tak sama terlukanya.
Jungkook juga merasa hancur tiap kali teringat mata menutup milik Kim Taehyung
Sinar mata yang selalu berhasil membuyarkan kewarasan seorang Jeon Jungkook.
" Aku tak bisa menjelaskan sebesar apa perasaanku, rasanya aku siap mengganti posisinya. Lebih baik aku yang tertidur atau bahkan tidak lagi bangun, asal Kim Taehyung tetap hidup." Kata Min Yoongi tanpa sedikitpun keraguan.
Sifat sombong seorang manusia yang lebih mencintai makhluk sesamanya dibandingkan dengan sang Pencipta.
Sebuah pengandaian yang terdengar luar biasa, namun kenyataannya itu adalah keangkuhan.
Karna lebih dari seribu kalipun disesali atau di andaikan, maka kenyataannya manusia akan selalu tertampar, bahwa waktu tidak bisa diputar balikkan. Dan semua takdir yang telah terjadi takkan bisa diganti oleh apapun jua.
Karna tidak ada kekuatan manusia yang sebanding dengan kekuatan sang Pencipta Takdir Manusia.
Jungkook terdiam, ia tahu rasa cinta Hyungnya teramat besar pada sahabatnya, yang sialnya sahabat yang juga ia cintai.
...
Jung Hoseok memandang Park Jimin yang tertidur.
Tidur akibat obat tidur yang sengaja ia masukkan dalam minumannya. Karna sudah dua harian penuh Jimin tidak memakan apapun, tidak meminum obatnya.
Hoseok tidak lagi tahu kapan Park Jimin sembuh dari kegilaannya.
Kapan Park Jimin akan rela melepas dunia semu ilusinya.
Hati Jimin seolah mati.
Akal pikirannya seolah lenyap.
Hoseok duduk di depan Jimin.
Hatinya berdenyut nyeri, dadanya terasa sesak.
Setiap kali melihat Jimin, otomatis ia akan teringat keadaan Kim Taehyung.
Seseorang yang tanpa pikir panjang rela berkorban menyelamatkan nyawa kekasihnya.
Hoseok terharu, karna seorang Park Jimin dua kali selamat dari kecelakaan serupa.
Yang pertama, Park Jinhan, yang kedua Kim Taehyung.
Dan keduanya berdetak pada jantung yang sama.
Entah sebuah kebetulan, atau memang takdir mereka bertiga yang seperti ini
Dan komanya Kim Taehyung, menambah beban untuk Jimin. Beban yang sanggup membuatnya menyerah pada kehidupan.
Rasa bersalah yang luar biasa.
Penyebab dari semakin terpuruknya kondisi Park jimin.
Dan Hoseok sudah hampir menyerah.
Jimin sudah tak tersentuh.
...
Setiap keputusasaan seorang manusia, membuat dirinya sadar, bahwa masih ada satu yang bisa mengubah seluruh keputus asaan menjadi sebuah kehidupan yang baru.
Karna dititik terendah seorang manusia, ia akan menyadari bahwa dirinya hanyalah seseorang yang memang lemah.
Dan yang terkuat jelas hanya Dia, Tuhan saja.
Karna setiap manusia diberi pilihan, jalan mana yang akan membawa mereka kembali pada Dia.
...
...
Semua mendadak resah dengan berita kaburnya Park Jimin.
Semua sepakat ikut membantu Tuan dan Ny Park untuk menemukan Jimin.
Karna disaat mereka bersedih untuk Taehyung, mereka juga mengingat bahwa Jimin adalah sosok yang membuat Kim Taehyung mempertaruhkan hidup dan matinya.
Karna Jimin juga bagian dari nafas Kim Taehyung.
...
" Hyung, bagaimana ini? Si park itu kemana sih?" Tanya Jungkook kesal.
Pasalnya seharian ia sudah berkeliling kota untuk mencari seorang Park Jimin.
Sedangkan Hoseok juga bingung, kemana Jimin pergi.
Seingatnya setelah waktu Jimin tertidur kemarin, ia kembali ke ruangannya sebentar. Namun saat kembali ke kamar Jimin, anak itu sudah menghilang tanpa jejak.
Kemana Park Jimin sebenarnya? Berkeliaran tanpa uang, berbaju pasien Rumah Sakit Jiwa, meski pasti ia tutupi dengan Jacket yang ada dalam kamarnya.
Bagaimanapun, keadaan jiwa Park Jimin sedang kacau, Hoseok dan yang lain takut, jika Park Jimin akan nekat.
Hoseok pun takut jika anak itu lompat ke sungai.
" Kita cari sekali lagi kira-kira kemana anak itu?" Kata Hoseok.
Jungkook pun hanya menurut.
Meski bukan hanya mereka berdua yang sibuk mencari Park Jimin.
Hampir 24 jam, Park Jimin menghilang.
Sebenarnya Jimin hilang kemana?
...
Tbc