LOKA

By xmarchoo

3.7K 439 357

Satu kepingan fragmen tersingkap, memicu pilar yang sekian lama terlelap. Barisan aksara dalam prasasti kemba... More

Chapter 1 - Umbra
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Author Session 🐺
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Coming
Coming
Coming
Coming
Coming

Chapter 2 - Sekolah

495 57 97
By xmarchoo

Keesokan paginya, cahaya matahari terasa seperti tamu asing yang memaksa masuk ke ruang yang tak menginginkannya. Tubuh Arash terasa berat, setiap otot enggan menuruti perintah, seolah semalam seluruh tenaganya disedot oleh sesuatu yang tak sempat ia sadari. Dari balik tirai, cahaya lembut hanya menyentuh sebagian wajahnya, seperti ragu untuk membangunkannya sepenuhnya.

Napas pertamanya pendek dan berat, seolah paru-parunya menolak menerima udara. Ia tidak langsung bangun. Hanya berbaring, menatap langit-langit kamar, membiarkan pikirannya terseret kembali pada sisa-sisa malam yang belum selesai.

Kilatan petir.

Sosok itu.

Bisikan "lapar" yang masih menggema di kepalanya.

Namun di antara kepingan ingatan itu, ada sesuatu yang lebih samar—seperti potongan mimpi yang menolak diingat.

Sebelum semuanya gelap, ia sempat merasakan sesuatu di tangannya. Dingin, tapi bukan dingin biasa. Dingin yang menembus kulit, berubah menjadi nyeri menusuk. Seolah ada yang menekan... menggigit... lalu mengisap perlahan—hingga semuanya lenyap.

Setelah itu, hanya hening.

Kosong.

Gelap.

Ia tak tahu apa yang terjadi setelahnya.

Arash memejamkan mata, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak tidak wajar. Tubuhnya terasa ringan sekaligus lemah, seperti kehilangan sesuatu yang penting tanpa tahu apa. Perlahan, ia menatap telapak tangannya—kulitnya utuh, bersih, tak ada luka, tak ada darah.

Namun ada sesuatu yang ganjil. Nyeri samar berdenyut di pergelangan, seperti sisa sentuhan yang tidak seharusnya ada. Ia membalikkan tangannya, mencari tanda, tapi tidak menemukan apa pun—tidak bekas gigitan, tidak jejak apa pun. Hanya sensasi aneh yang bergetar di antara nadi dan pikirannya, seolah tubuhnya menyembunyikan rahasia yang belum siap diungkapkan.

Ia mengusap wajahnya pelan, berusaha mengusir kantuk. Namun jari-jarinya bersentuhan dengan sesuatu yang hangat. Ia menatapnya. Setetes darah mengalir dari hidung, menuruni bibir, lalu jatuh ke punggung tangannya.

Noda merah itu tampak mencolok di kulit pucatnya.

Dan di saat itu, hawa dingin yang sempat hilang terasa kembali—menyusup dari tengkuk, merayap pelan ke seluruh tubuhnya.

"Rash! Turun, sarapan dulu!"
Suara Mama terdengar dari lantai bawah, hangat tapi jauh.

Arash tidak menjawab. Ia menatap lantai kamar, mengumpulkan sisa tenaga. Semua benda di ruangan itu tampak biasa: rak buku kecil, kursi putar, seragam sekolah tergantung rapi. Tapi udara kamar terasa berbeda. Lebih dingin dari biasanya, seperti menyembunyikan sesuatu yang belum pergi.

Dengan enggan, Arash bangkit. Ia duduk di tepi ranjang, mengusap hidungnya, lalu menoleh ke arah lemari. Celah pintunya terbuka sedikit. Ia ingat jelas tadi malam, dari arah situ suara ketukan datang. Ia mengulurkan tangan, menutupnya perlahan. Bunyi "klik" kecil terdengar, tapi entah kenapa bunyi itu justru membuat udara kamar semakin berat.

Ia masuk ke kamar mandi. Wajahnya di cermin terlihat pucat, lingkar matanya menggelap. Di bawah hidungnya, noda merah tampak mengering—bekas darah yang belum sepenuhnya hilang.

Mimisan. Sesuatu yang sering terjadi. Namun, hal itu menjadi sebuah rahasia yang ia tutup rapat-rapat dari kedua orang tuanya. Jangan sampai hanya karena itu, Ayahnya memberikan batas yang lebih sempit lagi untuk dirinya. 

Ia menyalakan keran. Suara air mengalir memenuhi ruang kecil itu, tapi tak cukup menutupi degup jantungnya yang masih tak beraturan. Air dingin ia tampung di telapak tangan, lalu diusapkan ke wajah perlahan. Tetesannya jatuh ke wastafel, membawa serta sisa darah, membentuk aliran tipis yang memudar seiring waktu.

Ketika ia menatap kembali ke cermin, pantulannya terasa berbeda. Samar, seolah ada sesuatu di balik dirinya yang bergerak, bayangan yang tak menuruti arah cahaya. Ia membeku, menatap refleksi itu lebih lama. Tapi ketika menoleh... tak ada apa-apa.

Hanya cermin yang memantulkan dirinya—dan ruang yang terasa sedikit lebih dingin dari sebelumnya.

"Cuma halu," gumamnya pelan, meski hatinya tahu itu bukan sekadar bayangan.

Tangga kayu berderit pelan saat Arash menuruni anak tangga, setiap langkah terdengar seperti denting kecil di tengah keheningan. Ruang makan terlihat seperti pagi-pagi biasanya—Mama Arash mondar-mandir di dapur, Ayahnya duduk rapi membaca koran, roti panggang mengepulkan uap tipis di piring. Semua tampak biasa. Terlalu biasa.

Namun rasanya, sepi. Seolah suara-suara pagi itu hanyalah lapisan tipis yang menutupi sesuatu yang berat dan tak terlihat. Udara di ruang makan dingin, bukan dingin dari AC, tapi semacam dingin yang merayap diam-diam dari sudut ruangan.

"Ya ampun, Rash..." Mama buru-buru menghampiri, menempelkan punggung tangannya ke dahi Arash. Kulit anak itu dingin seperti logam di pagi buta. "Kamu pucat banget. Sakit?"

"Enggak, Ma," jawab Arash pelan. Suaranya nyaris tenggelam. "Cuma kurang tidur."

"Begadang lagi?"

"Nggak."

Ayah menurunkan koran, sekilas menatapnya dengan ekspresi campuran antara khawatir dan jengkel. "Hari ini sekolah udah mulai. Jangan bikin Mamamu khawatir."

Arash tidak membalas. Ia hanya duduk, meraih sepotong roti, tapi tangannya bergetar halus, nyaris tak terkendali. Segalanya terasa lebih keras dari biasanya: klik toaster, detak jam dinding, gesekan kertas koran. Suara-suara itu seperti menekan telinganya dari segala arah.

Lalu, di sela keramaian kecil itu, ada suara lain. Tipis. Licin. Seperti embusan napas dari balik tengkuknya.

"Kau pikir kau aman?"

Arash membeku. Suara itu sama seperti tadi malam. Datar. Dingin.
Tanpa sadar, gumam keluar dari bibirnya, "Makhluk sialan itu..."

Mama menghentikan gerakannya. "Apa, Rash?"

Arash tersentak, buru-buru menunduk. "Enggak, Ma. Cuma, semalam ada kucing ribut di kamar."

Mama dan Ayah saling pandang singkat. Pandangan yang lebih banyak berisi keheranan dan kekhawatiran yang ditahan. Mama kemudian tersenyum tipis, mencoba menghangatkan suasana, dan menepuk bahunya pelan.

"Makanya, kalau malem langsung tidur. Gadang terus," Ayah menimpali dengan nada datar, tapi jelas terdengar kelelahan di dalamnya.

Arash tidak membalas. Ia memilih diam, membiarkan kalimat itu menggantung di udara. Entah mengapa, hubungan antara dirinya dan Ayah selalu sulit ditebak. Kadang Ayah bisa hangat, ringan diajak bicara—namun di waktu lain, sikapnya berubah tegas, seperti tembok tinggi yang membatasi langkah Arash.

Beberapa detik kemudian, suara alarm jam tangan Ayah berbunyi. Ia berdiri, merapikan kemeja, dan mengambil tas kerja dari kursi. Mama segera memasangkan dasinya dengan gerakan cepat yang sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun.

Pintu depan terbuka, membiarkan cahaya matahari pertama masuk dan menyinari ruang tamu yang redup. Dalam hitungan menit, suara mesin mobil menggema, lalu perlahan menghilang di tikungan. Mama menatap punggung Ayah dari jendela sampai mobil itu benar-benar lenyap, sebelum akhirnya menutup pintu perlahan.

Ia kembali ke meja makan. Tatapannya lembut, tapi ada sesuatu yang disembunyikan di balik itu—kekhawatiran yang tak terucap.

"Rash, kamu yakin nggak apa-apa?" tanyanya pelan.

Arash mengangkat bahu. "Aman, Ma."

"Kalau ngerasa aneh, cerita sama Mama, ya."

"Iya."

Mama mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. Senyum itu tidak sepenuhnya meyakinkan, tapi cukup untuk mencairkan sedikit udara dingin yang menggantung di antara mereka.

"Semangat ya, sekolah barunya. Mama yakin kamu bisa beradaptasi. Meskipun teman-teman SMP kamu nggak ada yang ke sana, siapa tahu kamu malah dapat teman baru."

Arash hanya mengangguk kecil. Ia tahu kata-kata itu tulus. Tapi bagi Arash, dunia luar selalu terasa terlalu bising, terlalu ramai, terlalu banyak suara yang tidak bisa ia pahami. Ia lebih nyaman dengan hal-hal yang diam: buku, musik, ruangnya sendiri. Tempat di mana bayangan tidak mengikuti. Atau setidaknya... dulu tidak.

Ia menghabiskan sarapannya dalam diam. Ketika bangkit dari kursi, Mama menatap punggungnya sejenak—tatapan yang lebih lama dari biasanya—sebelum kembali ke dapur.

(...)

Langit pagi tampak kelabu, sisa hujan semalam menetes dari daun-daun mangga di halaman. Udara terasa lembap, menempel di kulit seperti kabut tipis yang enggan hilang. Arash menarik resleting jaketnya sampai ke leher, merapatkan tubuhnya sendiri seolah ingin melindungi diri dari sesuatu yang tak kasat mata.

Jalanan basah memantulkan warna abu yang suram. Biasanya pagi dipenuhi suara burung, suara motor lewat, atau sapaan tetangga. Tapi pagi ini terasa... sunyi. Seperti ada lapisan tipis yang memisahkan Arash dari dunia di sekelilingnya.

Setiap langkahnya di trotoar terdengar sendiri. Gema langkah itu seperti satu-satunya suara yang benar-benar nyata.

Saat ia menunggu bus, sesuatu membuat tengkuknya merinding. Bukan angin. Bukan suara kendaraan. Tapi tatapan—seperti ada yang berdiri jauh di balik kabut tipis.

Saat bus tiba, ia buru-buru naik dan duduk di kursi belakang. Ia menempelkan dahi ke kaca. Embun di jendela buram. Tapi dari pantulan kaca itu, ada noda gelap. Membentuk siluet samar. Seolah ada sesuatu yang ikut naik bus bersamanya.

Arash menutup mata. Tapi suara itu kembali muncul, dekat, seperti napas di telinganya.

"Aku belum selesai."

(...)

Bus kota yang dinaiki Arash melaju pelan di jalanan yang masih basah. Kabut tipis menempel di kaca, mengaburkan pemandangan luar menjadi semacam lukisan kelabu. Langit pagi itu berat, seolah awan menggantung rendah, menahan sesuatu yang enggan turun.

Arash duduk di kursi paling belakang. Sandaran keras di belakangnya berderit setiap kali bus melambat. Hawa dingin dari AC menampar lehernya, tapi bukan itu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Sejak menaiki bus tadi, ia merasa... tidak sendiri.

Ia menatap ke luar. Trotoar, pepohonan, deretan warung kecil, semuanya tampak biasa. Tapi di pantulan jendela depannya, sesuatu tampak berbeda. Samar, seperti noda hitam di permukaan kaca. Awalnya kecil, lalu perlahan membesar, membentuk siluet manusia—tegak, bahunya sempit, kepalanya miring ke satu sisi.

Arash menarik napas pendek. Siluet itu tak ada di luar bus, juga tak ada di dalam. Ia seperti berada di antara—menggantung di permukaan kaca, setengah nyata, setengah fana.

Bus berhenti di lampu merah. Beberapa penumpang naik: seorang ibu muda dengan anak kecil, pria tua berpayung, dan siswi berseragam putih abu. Tak ada satu pun yang memperhatikan kursi belakang tempat Arash duduk. Tak ada yang menoleh ke arah noda gelap di kaca. Seolah hanya Arash yang melihatnya, terjebak di ruang sempit bersama sesuatu yang tak kasat mata.

Ia menunduk. Menyandarkan dahi pada jendela dingin. Suara hujan semalam masih bergema di kepalanya—gema panjang yang tak juga padam.

Lalu, bisikan itu datang lagi.

"Arash..."

Namanya sendiri.

Bisikan itu terdengar tepat di samping telinganya.

Ia tersentak. Menoleh spontan ke kanan—kosong. Kursi sebelahnya tetap kosong. Tapi suara itu terlalu dekat, seolah ada bibir yang menempel di kulit telinganya.

"Cuma halu..." bisiknya pada diri sendiri. Tapi nada suaranya goyah.

Lampu merah berubah hijau. Bus kembali melaju. Siluet di jendela ikut bergeser, tetap menatap ke arahnya. Kepala hitam itu perlahan condong ke kanan, seakan memperhatikan napasnya... atau mungkin sedang mempelajari dirinya.

Arash menutup mata, berharap semuanya hilang. Tapi justru di balik kelopak matanya, suara itu semakin jelas.

"Kau tak bisa lari."

(...)

Bus berhenti di terminal sekolah sekitar pukul delapan kurang. Suasana di luar lebih hidup dari yang ia bayangkan. Siswa-siswa berseragam putih abu berjalan berkelompok, sebagian bercanda sambil menyeberang halaman. Sebuah spanduk besar tergantung di depan gerbang:

SELAMAT DATANG, SISWA BARU.

Tulisan itu seharusnya terasa hangat. Tapi bagi Arash, kalimat itu terdengar seperti sambutan dari sesuatu yang perlahan ia sadari.

Arash turun dari bus. Udara pagi menusuk lembut, tapi rasa dingin di tengkuknya tak juga pergi. Bayangan itu memang tak lagi tampak di kaca bus, tapi entah kenapa, ia bisa merasakannya—di udara, di kulit, di belakang matanya. Seperti seseorang yang berjalan dua langkah di belakangnya, tanpa suara.

Gerbang sekolah menjulang tinggi. Besi hitamnya rapi, tapi memberi kesan seperti jeruji sangkar raksasa. Di sisi kanan, beberapa panitia OSIS membagikan map orientasi sambil tersenyum kaku. Dari dalam, suara marching band bergema samar, tapi anehnya tidak menghapus keheningan yang menempel di pikirannya.

Langkah Arash terasa berat. Setiap langkah seakan menembus kabut yang tak terlihat. Orang-orang di sekelilingnya tampak nyata, tapi suara mereka seperti datang dari dunia lain.

"Hai, selamat pagi!" sapa salah satu panitia OSIS, perempuan dengan senyum tipis. 

 "Mohon, jaket harap dilepas ya." 

 Arash langsung melakukan perintah itu tanpa berpikir. 

Saat jaket itu terlepas, perempuan itu menatap nametag yang terpasang pada seragam Arash. "Oh.." Ia lalu mengambil sebuah leaflet yang terlihat menumpuk di tangan kirinya. 

"Map orientasinya, ya. Hari ini kamu registrasi ulang sekaligus MOS, ya! Dan pembagian kelas sudah diumumkan di papan mading! Kamu juga bisa lihat kelasmu di dalam kertas ini."

Arash mengangguk, menerima map itu tanpa suara. Kepalanya berdenyut pelan. Dunia di sekitarnya seperti berputar lambat, dan untuk sesaat, ia hanya ingin menutup mata. Tapi langkahnya terus membawanya masuk melewati gerbang.

Saat kaki kanannya menjejak halaman, angin dingin menyapu tengkuknya. Suara riuh langsung meredup—seolah waktu menahan napas.

Ia berhenti.

Dari sudut matanya... sesuatu bergerak di antara barisan siswa.

Bayangan. Hitam. Tinggi. Kepalanya sedikit miring.

Di tengah keramaian, tak ada yang menyadarinya. Tak ada yang berteriak. Hanya Arash yang terpaku, melihat sosok itu berdiri di antara dua siswa tanpa benar-benar menyentuh tanah. Kabut tipis merambat di sekitar kakinya, bergulir seperti asap.

Angin bertiup lebih kencang. Spanduk besar di gerbang berkibar liar.

"Aku... masih lapar..."

Suara itu muncul lagi. Tapi kali ini bukan bisikan—melainkan gumaman berat, panjang, seperti suara dari dalam perut kosong.

Jantung Arash menghantam dadanya. Tangannya mencengkeram map orientasi terlalu keras sampai sudutnya tertekuk. Seseorang menyenggolnya dari belakang. Ia tersentak—dan ketika menoleh kembali, bayangan itu telah lenyap.

Hanya tersisa kerumunan yang riuh, tawa, kamera ponsel, dan suara panitia yang berusaha terdengar ceria.

Namun di dalam dirinya, Arash tahu satu hal.
Bayangan itu belum pergi.

Dan entah kenapa, sekolah ini terasa seperti tempat yang sudah lama menunggunya datang.

(...)

Aula besar sekolah itu berdiri seperti perut paus—gelap di langit-langitnya, dingin di dalamnya, dan penuh gema yang tak pernah berhenti. Barisan kursi panjang tersusun rapi menghadap panggung utama. Di atas panggung, spanduk orientasi siswa baru terbentang lebar, bertuliskan: "Masa Orientasi Siswa Baru SMA Negeri 1."

Siswa-siswa baru memenuhi ruangan. Beberapa bersenda gurau sambil memotret, sebagian duduk gugup di barisan depan, sementara yang lain sibuk memeriksa map registrasi di tangan. Suasana seharusnya riuh dan hidup—namun bagi Arash, semuanya terdengar seperti suara dari balik air, jauh, teredam.

Langkahnya justru terdengar paling jelas. Sepatu kanvasnya menapak lantai aula yang dingin, memantulkan gema lembut di antara ribuan suara yang perlahan memudar. Saat panitia OSIS memanggil siswa untuk berbaris, Arash memilih duduk di kursi paling pinggir—menjauh dari pusat keramaian.

Ia membuka map orientasi. Di dalamnya ada jadwal kegiatan, denah sekolah, dan kartu identitas sementara. Namun matanya tidak benar-benar membaca. Ada sesuatu di udara—tekanan halus di tengkuknya, seperti seseorang berdiri sangat dekat di belakang.

Ia menoleh perlahan.

Kosong. Hanya deretan kursi dan wajah-wajah baru yang belum saling mengenal.

Namun saat ia kembali menatap ke depan, suasana aula berubah.

Suara dari pengeras suara terdengar aneh, seperti diputar melalui pita usang. Kalimat panitia OSIS—"Selamat datang, teman-teman!"—terdengar patah, bergetar, tenggelam di dalam dengung berat. Riuh suara siswa meredup, disaring oleh keheningan yang terasa basah.

Di tengah kekacauan samar itu, muncul satu suara tunggal.

Desis napas.

Panjang. Dekat.

Tengkuk Arash menegang. Udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi berat, dingin menjalari kulitnya seperti kabut yang menyusup dari bawah kursi. Ia melirik ke arah jendela besar di sisi aula—langit di luar masih kelabu, dan cahaya matahari yang semestinya menembus tirai kini tertahan mendung, membuat aula tampak seperti perut raksasa yang menelan cahaya.

"...Lapar..."

Suara itu lagi.

Bukan hanya terdengar—Arash merasakannya, bergetar di dalam dadanya, seolah udara di sekelilingnya turut berbisik.

Matanya menyapu kerumunan. Tak ada yang bereaksi. Tidak satu pun yang mendengar. Seolah semua ini hanya terjadi di kepalanya.

Hingga pandangannya berhenti pada satu titik.

Barisan ketiga dari belakang.

Seorang siswa laki-laki duduk tegak. Terlalu tegak. Sementara siswa lain mengobrol dan tertawa, ia diam seperti patung. Tapi matanya—mata itu menatap lurus ke arah Arash. Tatapan yang sadar. Tatapan yang tahu.

Dan di belakang siswa itu, sesuatu mulai terbentuk.

Kabut hitam menetes dari langit-langit, merambat ke kursi di belakangnya. Perlahan, kabut itu berputar, menggumpal, membentuk siluet tinggi dengan bahu sempit dan kepala miring ke satu sisi—sama seperti yang dilihat Arash di kaca bus tadi pagi.

Arash terpaku. Napasnya tersengal. Dunia terasa menyusut, hanya menyisakan dirinya dan sosok itu.

Lalu... siswa itu tersenyum.

Senyum tipis. Nyaris tak terlihat. Tapi cukup untuk membuat jantung Arash melompat ke tenggorokan.

"Arash?"

Suara manusia akhirnya menembus kabut. Panitia OSIS di dekat barisnya—seorang kakak kelas perempuan dengan clipboard di tangan—menunduk menatapnya.

"Kamu Arash Abian, kan? Siswa susulan? Tolong geser sedikit ke tengah, ya, biar barisnya rapi."

Seketika semua kembali normal.

Cahaya, suara, hiruk-pikuk. Aula hidup lagi.

Arash mengangguk pelan, berdiri dengan kaki gemetar, lalu bergeser ke tengah. Ia sempat menoleh lagi—ke arah tempat siswa itu duduk.

Kosong.

Tak ada siapa pun di sana.

Hanya kursi kosong... dan kabut tipis yang menguap perlahan, seolah menarik diri ke balik udara.

(...)

Kegiatan orientasi dimulai. Pembawa acara membuka acara, guru-guru memberi sambutan, dan musik pembuka mengalun lewat pengeras suara. Semuanya tampak normal. Namun, bagi Arash, dunia terasa sedikit miring. Setiap suara terdengar terdistorsi—seperti direkam dari ruang yang terlalu besar. Setiap tatapan terasa asing, tak benar-benar tertuju padanya.

Ia mencatat satu hal dalam benaknya: sosok itu bisa muncul di mana saja.
Dan yang lebih menakutkan, selalu hanya dirinya yang melihat itu.

Sekitar satu jam kemudian, pembawa acara menutup sesi pertama. Siswa-siswa diberi waktu istirahat sebelum acara selanjutnya. Aula mendadak riuh kembali. Suara langkah kaki bersahutan, gelak tawa memantul di dinding, dan beberapa siswa berlarian keluar menuju kantin.

Arash berdiri perlahan. Map orientasi masih dalam genggamannya. Saat melangkah ke arah pintu, matanya menangkap sesuatu di lantai dekat barisan kursi belakang—genangan air kecil.

Ia menatapnya lekat-lekat. Permukaannya bergetar pelan, seolah baru saja terguncang oleh sesuatu yang tak kasatmata.

Arash menengadah. Langit-langit aula kering. Tak ada kebocoran. Namun genangan itu terus bergerak, membentuk pola abstrak yang berputar perlahan, seperti pusaran halus. Uap tipis naik dari permukaannya—hangat, nyaris berkilau.

Lalu, dari balik genangan itu, suara itu muncul lagi. Tidak satu. Banyak. Saling bersahutan, seperti gema dari tempat yang jauh namun dekat sekaligus.

Jantung Arash berdegup keras. Dunia di sekitarnya tetap bising, tapi bagi telinganya, semua suara seolah tenggelam di balik air. Aula memudar, hanya genangan itu yang terasa nyata. Di dalamnya, Arash sempat melihat—sekelebat bayangan, bentuk-bentuk samar yang bergerak di bawah permukaan.

Ia mundur setapak, napasnya pendek-pendek. Genangan itu seperti menunggu. Seakan air itu bukan sekadar air—melainkan sebuah pintu.

"Rash."

Suara pelan itu menyentak kesadarannya.

Arash menoleh.

Seseorang bersandar di sisi pintu aula—punggungnya menempel pada dinding, satu tangan masuk ke saku celana. Rambutnya agak acak, seragamnya tidak rapi, dan ekspresinya datar. Tatapan matanya kosong... atau mungkin terlalu tenang untuk anak baru.

Siswa itu.
Sama persis dengan sosok yang menatapnya dari tengah aula tadi.

"Kamu Arash, kan?" ucapnya datar—lebih seperti memastikan daripada bertanya.

Arash sedikit mundur. "Dari mana kamu tahu?"

"Nametag di bajumu." Nada suaranya ringan, tapi dingin. Ia mengangkat bahu kecil, seolah tak peduli.

"Oh," gumam Arash, hampir tak terdengar.

"Bagas." Ia menyodorkan tangan—sekadar formalitas tanpa senyum.

Arash ragu sejenak sebelum menjabatnya. Sentuhan kulit Bagas terasa dingin.
Bukan dingin biasa—dingin seperti logam yang lama dibiarkan di udara malam.

"Pertama kali ke sekolah ini?" tanya Bagas, masih dengan nada datar.

Arash mengangguk pelan.

"Nggak nyaman, ya?" Bagas menatap sekilas ke arah aula. "Nanti juga terbiasa."

Ada sesuatu pada intonasi kalimat terakhirnya—entah peringatan, entah sekadar ucapan kosong.

Sebelum Arash sempat membalas, lonceng istirahat berbunyi. Suara murid-murid menyerbu keluar dari aula seperti arus deras. Bagas melangkah lebih dulu, tanpa menoleh.

"Kantin?" tanyanya singkat, setengah menoleh.

"Ya," jawab Arash.

"Ya udah."

Bagas kembali berjalan.

Arash tak benar-benar tahu kenapa ia mengikuti. Mungkin karena sesuatu dalam tatapan Bagas—dingin, tapi dalam—membuatnya sulit berpaling. Ada jarak yang tak nyaman di antara keduanya, tapi juga tarikan aneh yang membuat langkah Arash berat untuk berhenti.

Sebelum keluar, ia sempat menoleh ke dalam aula. Ruangan itu sudah kosong. Namun di barisan kursi paling belakang, masih tampak bekas air yang belum mengering. Tepat di atasnya, langit-langit aula retak tipis—seolah sesuatu pernah turun dari sana.

(...)

Koridor menuju kantin membentang panjang dan redup, kontras dengan riuh suara dari luar ruangan. Cahaya sore menembus jendela tinggi di sisi kiri, membentuk garis-garis tipis di lantai yang membelah debu di udara—butiran kecil itu melayang pelan, berkilau samar di bawah cahaya keemasan yang dingin. Setiap langkah memantul di dinding, menimbulkan gema lembut seperti hujan yang jatuh di atap seng tua.

Arash berjalan di samping Bagas. Tak ada percakapan di antara mereka, hanya bunyi langkah yang saling menyusul, ritmis, tapi terlalu teratur untuk disebut wajar. 

Ia menatap ke depan, berusaha menyesuaikan langkahnya dengan Bagas. Di dadanya, keinginan untuk pergi dari tempat itu semakin kuat—pulang, menutup pintu kamar, dan berpura-pura semua ini tidak pernah terjadi.

Namun setiap kali pikirannya mengarah ke sana, bayangan itu kembali datang. Sosok tinggi, kepala miring, dan suara lapar yang mendesis pelan—semuanya terasa masih menempel di balik matanya.

Lorong itu seolah tak berujung. Udara di dalamnya dingin, terlalu diam untuk ukuran jam istirahat.

"Tahan pandanganmu. Fokus ke depan. Jalan terus." Suara Bagas datar, nyaris tanpa intonasi. Tangannya masih di saku, bahunya tegap, langkahnya mantap tanpa jeda.

Arash menoleh sedikit, ragu. "Eh... maksudmu—"

"Jangan bicara." Nada Bagas turun. Pendek, tegas, tapi nyaris tanpa emosi. Sekilas tatapannya dingin—cukup untuk membuat Arash menegakkan punggungnya.

"Jalan terus," ulangnya pelan, hampir seperti perintah.

Arash menelan ludah. Ia menunduk dan mengikuti langkah itu tanpa suara. Detak sepatu mereka berpadu menjadi ritme monoton yang memakan semua bunyi lain. Setiap gema seolah menandai waktu yang melambat, seperti lorong itu menolak membiarkan mereka keluar.

Mereka melewati persimpangan. Cahaya dari jendela terakhir di belakang perlahan meredup, membuat lorong tampak semakin sempit. Bayangan tubuh mereka memanjang di lantai, bergoyang lembut seperti tirai yang disentuh angin.

Bagas tetap diam—tanpa ekspresi, tanpa senyum, hanya tatapan kosong yang tak pernah benar-benar ke mana pun.

Arash menahan napas. Ada rasa tidak nyaman di tengkuknya, seperti disentuh tatapan yang tak kasat mata.

Bukan dari Bagas.

Tapi dari sesuatu yang bergerak di antara garis-garis cahaya itu—senyap, samar, menunggu di tepi pandangannya.

Menunggu saat ia menoleh.

(...)

Begitu sampai di kantin, suara langsung menyergap mereka—piring dan sendok beradu, tawa siswa-siswi menggema, penjual makanan berseru memanggil pesanan. Aroma gorengan, mie rebus, sambal, dan ayam goreng bercampur menjadi satu—hangat, ramai, hidup.

Keramaian itu seharusnya terasa nyaman. Tapi Arash selalu menjaga jarak tipis di antara dirinya dan dunia—seolah ia hanya penonton yang menatap hidup dari balik kaca.

Bagas langsung menuju salah satu stan ayam goreng tanpa banyak bicara.

"Aku beli dulu," katanya datar. "Mau apa?"

"Aku bisa sendiri," jawab Arash.

"Ya." Satu kata pendek, lalu Bagas berbalik tanpa menunggu tanggapan.

Arash berjalan ke stan bakso di sisi lain. Tangannya sedikit gemetar saat membuka dompet. Saat penjual menyodorkan mangkuk kuah panas, matanya menangkap sesuatu di luar kantin.
Gerakan cepat di dinding luar—seperti bayangan hitam yang melesat, hilang begitu saja.

Bukan perasaan. Ia tahu itu nyata.

"Mas, minumnya?" suara penjual memecah lamunannya.

"Es teh aja, tapi gulanya sedikit."

"Baik. Lima belas ribu."

Arash mengulurkan selembar uang seratus ribu, menerima kembalian, lalu menatap sebentar wajah penjual itu—senyumnya tampak biasa, tapi di belakangnya, cahaya sore terasa terlalu redup.

"Oh, iya. Saya duduk di ujung sana, Bu."

"Iya, Mas. Nanti saya antarkan."

Ia memilih meja paling sudut—sedikit jauh dari keramaian. Entah kenapa, bagian itu terasa lebih aman, meski ia sendiri tak tahu dari apa.

Beberapa menit kemudian, ibu kantin datang membawa semangkuk bakso dan segelas es teh yang tampak terlalu manis. Padahal tadi Arash sudah meminta gulanya sedikit. Ia hanya tersenyum sopan, lalu menyendok perlahan, membiarkan uap panas dan aroma gurihnya menenangkan pikirannya.

Tak lama, Bagas muncul dengan nampan berisi ayam goreng dan minuman dingin. Ia duduk tanpa bicara, langsung membuka sendok dan mulai makan.

Suasana meja mereka tenang. Hanya suara kipas di langit-langit yang berputar lambat. Dari tempat duduknya, Arash bisa melihat seluruh kantin: anak-anak tertawa, bercanda, hidup.
Tapi bagi Arash, semua itu hanya bayangan—hidup yang berjalan di luar dirinya.

Ia mengangkat sendok, namun berhenti di tengah jalan. Tengkuknya tiba-tiba dingin.
Bukan karena angin. Tapi karena sesuatu yang lebih sunyi dari itu.

Bagas melirik sekilas. "Kenapa?" suaranya datar.

Arash tak menjawab. Tatapannya tertuju pada jendela besar di sisi kanan.

Di balik kaca, samar terlihat kilatan hitam. Sesuatu berdiri di sana, diam, di antara tirai langit sore. Gerakannya pelan. Tidak seperti manusia.

Bagas menghela napas, nyaris tanpa emosi. "Lihat juga?"

Arash menoleh cepat. "Kamu... juga?"

"Hm," jawabannya cepat, dingin.

"Mereka?" tanya Arash pelan.

"Bukan hantu yang biasa kamu lihat." Bagas menatap piringnya.

Arash menelan ludah. "Lalu... mereka apa?"

Bagas mengangkat bahu. "Lapar." Satu kata, tapi menimbulkan keheningan panjang.

Di luar jendela, kabut tipis bergerak perlahan—melawan arah angin.

Bagas meletakkan sendoknya perlahan. "Jangan tatap," katanya pelan. "Mereka suka itu."

Arash menunduk cepat. Tapi ia masih bisa merasakan tatapan itu menembus kaca. Udara kantin mendadak dingin. Suara tawa di meja lain mulai terdengar jauh, seperti gema di air.

"Lapar..."

Suara itu datang dari luar jendela—tapi terasa di dalam kepalanya. Berat. Dekat.

Lampu kantin berkedip.

"Aku tahu rasanya," ucap Bagas lirih, tanpa nada empati.

Arash mendongak pelan. "Sejak kapan kamu bisa lihat mereka?"

"Lama." Jawabannya pendek. Tatapannya lurus, menembus.

"Kamu nggak bohong, kan? Gimana aku bisa percaya?"

Bagas menyandarkan tubuh ke kursi. Di balik bahunya, bayangan di luar jendela sudah lenyap.

"Mereka sekarang tertarik pada seseorang," katanya pelan.

Arash menatapnya, jantungnya mencengkeras di dada. "Siapa?"

Bagas menoleh perlahan, menatap balik. "Jaga diri."

Satu kalimat. Dingin. Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa berhenti bergerak.

(...)

Suara di kantin kembali normal. Anak-anak masih tertawa, penjual masih berteriak, kipas masih berputar lambat. Tapi bagi Arash, dunia tidak akan sama lagi. Ia sekarang tahu: suara itu bukan halusinasi. Bayangan itu nyata. Dan Bagas... orang lain juga bisa melihatnya.

"Bagas..." suara Arash goyah, "kamu nggak bohongkan?"

"Terserah," jawab Bagas cepat. "Setelah ini, kamu akan paham apa yang aku maksud."

"Hah?"

Senyum tipis muncul di wajah Bagas. Kali ini bukan senyum tenang, tapi seperti senyum layaknya seseorang yang mengetahui sesuatu. 

Arash menelan ludah. "Maksudnya?"

"Asal kau tau, mereka hanya tertarik pada hal tertentu." Bagas berhenti, mencondongkan tubuhnya sedikit—"salah satunya, dirimu."

Arash menegang. "Aku?"

"Sepertinya mereka sudah menemukan persembunyianmu," jawab Bagas pelan. "Jika memang benar kamu orang tersebut, kamu perlu waspada."

(...)

Langit di luar mulai gelap. Awan menebal, hujan tipis turun lagi. Satu per satu siswa meninggalkan kantin, menyisakan meja-meja kosong. Suara langkah menjadi lebih jarang, lebih bergema. Arash menatap jendela, mengira-ngira apakah bayangan itu masih di sana, hanya tak menampakkan diri.

Bagas berdiri, menepuk bahu Arash pelan. "Jika kau bertemu mereka, abaikan."

Arash ikut berdiri. Tangannya dingin. Dadanya berat.

"Kenapa kamu bantu aku?" tanyanya akhirnya.

Bagas menatapnya lama. Tatapan itu... tidak seperti tatapan manusia biasa. Dalam. Tenang. Seolah ada sesuatu yang lebih tua dan lebih kelam di balik sorot matanya.

Lalu ia berkata pelan, "Rash, aku sama sepertimu."

Suara hujan semakin deras. Angin berembus melalui celah-celah jendela kantin yang terbuka setengah. Dalam embusan angin itu, Arash mendengar suara samar—napas panjang, seperti sesuatu yang berdiri sangat dekat tapi tidak terlihat.

Saat ia menoleh ke pintu kantin, di ujung lorong, sesosok bayangan tinggi berdiri membelakangi cahaya. Sosok itu diam, tapi kepala miringnya membuat Arash langsung paham, sosok yang sama.

Suara bisikan itu kembali.

"Aku... lapar..."

Bagas tidak menoleh. Ia hanya berkata lirih, "Ingat, abaikan Rash."

Tapi Arash sudah terlanjur melakukannya.

Dan pada saat itulah, sosok itu bergerak—tidak dengan langkah manusia, tapi meluncur perlahan seperti kabut berat yang mendekati tanah. Lampu kantin meredup, suara hujan lenyap untuk sesaat.

Waktu seperti berhenti.

Lalu—

"Rash!"

Suara Bagas terdengar seperti petir kecil di telinga Arash. Ia menarik lengan Arash dengan cepat, menyeretnya menjauh dari pintu.

Sosok bayangan itu berhenti, seperti menahan diri, lalu memudar kembali ke gelap lorong.

(...)

Di luar kantin, angin membawa aroma hujan yang berat. Arash dan Bagas berdiri di bawah atap seng yang meneteskan air dari pinggirannya. Napas Arash tersengal-sengal, tubuhnya gemetar.

Bagas menatapnya, nada suaranya datar tapi tidak jahat. "Sekarang kamu percaya?"

Arash tak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, matanya tak lepas dari lorong gelap tempat bayangan itu tadi berdiri.

"Mulai saat ini," kata Bagas perlahan, "kau harus berhati-hati."

Continue Reading

You'll Also Like

859K 62.5K 40
[Pemenang Wattys Award 2016 Kategori Cerita Sosial] (Sudah terbit dan tersedia di toko buku sehingga konten cerita di sini sudah dihapus) Marvelous...
89 4 10
Kesempatan baru datang kepada ayung yang tengah mengalami rasa bahagia yang menyakitkan. Mengirim ayung ke dunia baru dimana harapan besar terjadi, s...
59.6K 4.1K 57
"Perlu kau tahu, aku memang sedang menunggumu, menunggu disaat seperti ini, karena aku merindukanmu sebagai saudara yang tak pernah bertemu selama be...
19.8K 1.6K 40
15+ [Fantasy & Romance] *Highest Rank #3 In Fantasy Romantis 27/12/23. Petualangan Kanato yang begitu dramatis dan penuh kenangan indah di dalam duni...
Wattpad App - Unlock exclusive features