Dear Yusuf

By rinaygreenata

855 10 7

Follow dulu aja, jangan lupa tinggalkan jejak mu ya... LIKE AND COMENT... Arti kebersamaan ... More

Pertemuan Terulang
Menuju Tak Asing
Menemukan Hal Baru
Antik

pertemuan singkat

567 6 6
By rinaygreenata

Malam itu hujan begitu lebat. Ara melanjutkan langkahnya, gusar.

"Sewot banget sihh, rese. Kalau gini caranya mending gua cabut aja dah" kakinya menyentak genangan air. Seluruh badan Ara sudah basah, terkena hujan.

Ara berhenti di halte. Menunggu bus lewat.

"Arghh...ngapain sih gue pake mau di pesantren-pesantrenin segala. Kaya yang nggak tau anaknya kayak gimna aja" Ara terus menerus mengupat sendiri. Sesekali ia membenarkan ransel yang ia gendong di bahunya.

Tak lama selang beberapa waktu bus terlihat mendekati halte. Ara bergegas naik begitu bus telah sempurna berhenti. Ia memilah-milih tempat duduk yang kosong juga pas untuk ia yang sedang ingin menyendiri. setelah semua penumpang duduk dengan rapi, tak lama Bus itupun kembali melaju. Ia memandang gemerlap gedung ibu kota yang terlapis air hujan dari jendela bus. Bus KP. Rambutan-cianjur segera melesat cepat.

Telah dua jam Ara duduk di dalam bus. Pertanda sebentar lagi ia turun. "Bogor!!! Bogor!!! Bogor!!!" Suara kenek bus menyadarkan ara. Dan ia pun segera bersiap untuk turun.

Begitu bus berhenti ara turun mengantri dengan penumpang yang lainnya. Baju ara yang tadinya basah kuyup kini mengering. Mungkin efek dari AC bus tadi. Tapi karena dua jam dengan basah kuyup terkena AC , badan Ara menjadi menggil dan kepalanya benar-benar terasa sangat pusing.
Ara melompat dari tangga terakhir bus. Tapi pendaratannya tak seimbang membuat tubuhnya oleng. Tepat sebelum tubuhnya jatuh penunpang yang berjalan didepannya menopang tubuh ara hampir seperti mendekapnya.

"Astaghfirullah !!!" Seraya melapaskan kedua tangannya. Gumam nya pelan hampir tidak terdengar orang. Begitu dirinya menyadari bersentuhan dengan wanita. Sepontan tubuh ara terjatuh ke aspal karena lengan yang sebelumnya menopang telah terlepas.

"Aduuuhhhh!!!... teriak Ara kalap. Terjatuhnya membuat Ara tersadar sekaligus kesakitan yang ia rasakan kian bertambah.

"Eh, mba, mba maaf ya. Serius saya benar-benar tidak sengaja" pria itu memelas memohon maaf.

"Lo niat nolong nggak sihh" Ara memandang keatas dari posisinya yang tergeletak di aspal. Sekilas ia melihat pria yang sedang berurusan dengannya itu memakai celana hitam, dengan baju koko biru langit serta dikepala terdapat peci hitam. Pada lengan kirinya melingkar jam tangan pria hitam dan di punggungnya bersender ransel coklat muda. Postur badan pria itu tinggi berkulit putih langsat. Meski belum tahu sifat aslinya sekilas terlihat rama dan juga baik. Ara benar-benar terpana. Ditambah percikan sinar lampu-lampu di malam hari membuat pria itu semakin terlihat sempurna di mata Ara.

Orang-orang membatu Ara bangun. Sementara pria itu risau merasa bersalah, tapi tak ada yang bisa ia lakukan.

"Aduh mbak maaf ya, saya benar banar tidak sengaja. Mbak mau kemana sekarang udah jam satu malam wanita nggak baik keluyuran malem-malem." Ujarnya .

"Orang gue mau ke rumah nenek, Apanya yang keluyuran. Yang ada ini kemaleman. nah lo sendiri mau kemana malem malem bawa ransel segala?" Ara bertanya balik dengan berdehem di akhir kalimatnya. Mata Ara mengisyaratkan bahwa Ara tertarik untuk tahu soal pria ini.

"Ohh iya, nama saya Yusuf mba." kedua telapak tangannya dirapatkan didepan dada. Berbeda dengan Ara yang malah sigap mengulurkan tangannya.

"Saya mau ke pondok . Habis liburan di rumah. Tapi saya ke rumah pak de dulu yang di Jakarta makannya kemaleman. Sekali lagi maaf ya bak maaf...saya pamit duluan. Maaf juga saya nggak bisa anter mbak. hati-hati saja dari saya. permisi mbak" Yusuf pegi dengan kepala yang masih menunduk. Dari awal bercakap hinggak akhir Yusuf tak sekali pun memandang Ara.

"Heh!!!heh!! Lo mau kmna? Lah terus gua gmna? iss..." untuk kesekian kalinya Ara berdecak benar benar kesal.

                                                                                            ⸙⸙⸙⸙

Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya Ara tiba di rumah eyangnya dengan sempoyongan. Sesampainya didepan pintu ia mencoba mengetuk pintu rumah eyangnya, setelah beberarapa kali Ara mengetuk pintu itu seorang wanita paruh baya muncul. Wanita itu menguap menggosok-gosok matanya dengan punggung tangannya.

"Eyang!!!...." suara Ara lirih dengan tubuh yang lunglai.

"Ara!!! Astagfirullah hal'adzim ...." Serunya panik. "Aduh ayo eyang bantu masuk" eyang memapah Ara masuk.

Eyang badan Ara yang begitu lemah di kursi. Badan Ara menggigil begitu hebat. Suhu tubuhnya juga benar-benar panas. "Tunggu dulu ya, eyang ambil dulu air hangat buat kompresin kamu. Ara mau tehmanis ya, biar badannya enakan." Eyang beranjak dari duduknya.

Tak lama eyang kembali membawa air kompresan dan secangkir teh manis. "Aduh kamu ini ngapain kesini tengah malem gini sih, mana keujanan lagi. Dari rumah memang berangkat jamberapa. Pasti gak bilang mama sama papah ya?" Celotehnya sambil mengompres Ara. "Nih nak minum dulu teh manisnya biar agak agetan. "Eyang menopang punggung Ara. Memang terkadang perhatian seorang nenek bisa melebihi perhatian seorang ibu.

                                                                                                 ⸙⸙⸙⸙

Di Jakarta Risna mama Ara gelisah takut-takut Ara benar nekat pergi jauh. Keesokan harinya pagi-pagi buta Risna dengan segera menelphone ibunya di desa barangkali Ara memang pergi kerumah neneknya. Setelah menelphone ibunya di desa dan mengetahui bahwa Ara sekarang memang ada di sana, sedikitnya membuat hati Risna kini menjadi lebih tenang. Walau ia juga tahu kondisi Ara sedang tidak baik tapi setidaknya Risna tahu ibunya sangat bisa diandalkan. Tidak lupa ia juga menceritakan permasalahan yang tengah menimpa Ara, yang seketika membuat ibunya tertawa mendengarnya.

"Ma! Ara gimana udah ada kabarnya belum?..."

"Papah tenang aja Ara ada di rumah ibu"

"Loh mama ini anak sematawayangnya kabur dari rumah malem- malem waktu lagi hujan lebat malah kayak yang bahagia." Seru Anton sewot bercampur khawatir.

"Papa ini Ara jangan terlalu di manja lah. Sekarang keliatankan jadi nggak mandiri. Biarin dia diluarsana biar mengerti kerasnya kehidupan. Lagian nih ya pah, ibu juga setuju kok dengan cara kita didik Ara buat di ke pesantrenin. Malah ibu mau bantu loh." Risna menjelaskan panjang lebar sambil menyiapkan makanan di meja makan. Anton segera duduk bersiap menyantap makanan buatan istrinya.

"Yasudahlah terserah mama yang penting jangan buat Ara sampe nggak mau pulang kerumah aja."

Setelah selesai menyantap sarapan paginya, Anton papah Ara beranjak dari kursi bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Seperti biasa Risna mengantar sampai garasi tempat mobil terparkir.

"Pah, nih jangan lupa ya di makan bekalnya untuk makan siang nanti. Jangan beli dari luar kan sudah mama siapkan" Risna menyodorkan tas kecil berisi bekal makan dan minum untuk suaminya di kantor.

"Iya ma, masa papa sia- siain kan udah ada pasakan istri yang rasanyatuh bekh, nggak ada duanya pokoknya." Anton memuji dengan goyangan kedua ibu jarinya. sontak membuat pipi Risna memerah.

"Ah papah gombal terus. Buruan gih berangkat nanti kesiangan" Risna memukul bahu suaminya. Tawa merekapun pecah.

"Berasa kayak masih ABG gak sih. Ara udah ngerasain masa remajanya belunya. Hahaha. Yaudah iya papa berangkat dulu ya. Nanti kalo ada kabar tentang Ara jangn lupa beritahu papah" Anton pamitan pada istrinya.

"Iya iya ihh bawel amat sih, nanti mama juga pasti kabarin papah." Risna mencium tangan suaminya.

Anton masuk kedalam mobil, tak lama mobil itupun beranjak. Anton masih fokus pada Risna yang masih ada di depan rumah. Sesekali melambaikan tangan dan tersenyum padanya. Sekilas Anton melihat rumahnya yang besar itu yang kini benar-benar terasa sangat sepi, kini hanya tingal tersisa ia dan istrinya yang jadi penghuni rumah mewah itu. Meskipun keluarga mereka tergolong ekonomi menengah keatas, tapi keluarga mereka hidup dengan keseharian cukup sederhana. Bahkan untuk rumah sebesar itupun mereka tidak menggunakan jasa pembantu rumah tangga. Semua istrinya yang mengurus segalahal, Risna sangat pandai menerapkan keperibadian sederhana pada orang rumah.

Satu waktu dirumah pernah ada pembanntu, karena kesibukan lain yang membuat Risna sering merasa kelelahan. ia memang memiliki butik muslimah yang ia sendiri secara langsung ikut mengelolanya itu yang menjadi salah satu faktor penyebabnya. Mengerjakan pekerjaan dalam dan luar rumah sendirian, ya walaupun sedikit banyak Anton juga sering membantu istrinya mengurus rumah, tapi tetap tidak bisa membantu banyak karena pekerjaannya juga sering membuat ia harus pergi keluar kota. Akhirnya mereka memutuskan untuk memperkerjakan asisten rumah tangga. Hanya beberapa bulan karna setelah dilihat-lihat oleh Risna malah membuat Ara semakin melunnjak keenakan. Akhirnya Risna memutuskan untuk memberhentikan asisten rumah tangganya. Kemudian ia juga menitipkan pengelolaan butiknya pada sahabatnya. Jadi ia hanya tinggal mengontrol dari luar sebatas sisanya saja.

Anton di dalam mobil terlihat senyum-senyum sendiri. Membayangkan istrinya yang superhero itu. strong women mungkin layak untuk gelarnya. "Hemm...aduhh ibuu, anak ibu ini benar-benar membuat saya bahagia. Benar benar sempurna." Anton tersenyum. Mobil itu belok menuju kantornya.

                                                                                                 ⸙⸙⸙⸙

"Kenapa eyang nggak bilang sihh, kalo sebenernya eyang mau ngajak ke suatu tempat tuh ke sini!!" Ara berdecak kesal "Kirain aku eyang ngajak ke suatu tempat tuh kemana gitu ke tempat yang indah, taunya malah ke pesantren. Eyang jahat banget sih! " Ara memukul-mukul kesal eyangnya.

"Ara dengerin eyang dulu. Kamu bakalan betah disini, eyang yakin. Percaya sama eyang. Kamu cuman butuh waktu, lambat laun kamu akan terbiasa." Eyang Ara mencoba meyakinkan cucu kesayangannya " yuk ahh. Eyang mau bicara dulu sama pimpinan pondoknya" Eyang menarik lengan Ara. Mautakmau Ara mengikuti langkah eyangnya dengan malas-malas.

Dari awal Ara dan eyangnya memasuki gerbang, sudah terlihat gedung santri putri yang begitu kokohnya berdiri sejauh mata memandang. Beberapa santri putri tampak memperhatikan mereka. Memperhatikan Ara yang memakai kerudung seadanya dan jens ketat dengan baju kemeja biru langit, melewati beberapa santri putri yang tengah berlalu lalang.

"Eh, eh, santri baru kali ya" terdengar beberapa orang yang berlalu lalang tadi saling bertanya kepada temannya penasaran. Suara mereka hampir tak terdengar.

"Mungkin. Tuh liat aja mau kerumah bu nyai."

"Nanti kita tannya Salsa, diakan selalu stay terus di rumah bu nyai. Salsakan khadamnya (santri tetap yang membantu keluarga kiai) bu nyai " timpal salah satu teman memberi saran

"Iya nyai Ara ini memang susah diaturnya. Sengaja orangtuanya kepengen dia pesantren, supaya dia belajar disiplin dan mandiri, kurang lebih begitu mungkin nyai." Eyang Ara menjelaskan

"Oh, iya insyaallah saya bantu dengan izin Allah. Syari'at nya tangan para guru disini tapi hakikat yang merubahnya tetep hanya Allah yang berkuasa, umi " Nyai kiai menerangakan dengan lembut dan ramah.

Ihh, apaan sih eyang basa basinya. Yaelah mana suasananya ngak enak banget si.. gerutunya dalam hati Ara. Mata Ara menyisir keseluruh ruangan yang dimana sekarang ia tengah duduk di samping eyangnya. Sambil sesekali ai melihat keluar jendela terlihat santri putri yang berlalu-lalang spontan ia mengidikan kedua bahunya. hii.. ogah banget gua di sini. Pasti susah keluar. Apalagi party bareng temen-temen. Nggak kebayang kalo gue harus dikurung disini Ara merinding sendiri membayangkan kelanjutan cerita kehidupannya.

"Yasudah, nyai saya titip Ara." pamit eyang ramah

"Monggo umi, insyaallah saya jaga amanah umi " nyai ikut berdiri menyalami eyang " Ara kamu sama mbak Salsa ya, nanti di antar ke kamar kamu. Eyangnya biarin pulang dulu kan mau ambilin pakaian Ara."

Aduh mampus gue, masa iya gue mau nangis. Nggak. Jangan sampe nangis. Malu gue.

"Iya anu bu nyai eum, saya mau ngobrol dulu sama eyang . sekalian mau anterin eyang." tangan Ara masih bergelantung ditangan eyangnya

"Ohh, yasudah. Tunggu dulu Ara sebentar" nyai beranjak dan berjalan kedalam rumahnya. Tak jauh dari kursi tempat nyai kiai duduk tadi, ada seorang santri putri berdiri menunduk dalam. Sesekali melirik Ara lalu tersenyum pada Ara. Sampai selang beberapa waktu nyai kiai kembali dengan membawa kerudung. Bukan, lebih mirip seperti selendang. Entahlah apa itu yang pasti sangat indah. "Pakai ini Ara. Malu di liatin sama santri lain biar aurat kamu lebih tertutup, nak..."

"Salsa antar Ara ganti baju, di kamar Naura saja. Carikan baju Naura yang mungkin cukup untuk Ara " pinta bu nyai pada Salsa. "Baik bu nyai" santri putri tersebut mendekati Ara kemudian menggandengan tangan Ara dan membawanya menuju kamar putri bungsu bu nyai yang kini sedang kuliah sambal mondok diluar kota.

Tak lama Ara keluar dengan busana yang berbeda. Eyang Ara untuk pertama kali melihat cucunya mengenakan busana tertutup seperti ini benar-benar dibuat terkesiap, sampai-sampai takbisa berhenti tersenyum.

"Kamu benar-benar cantik Ara, sangat anggun" puji eyang.

"Hem...yasudah, Salsa nanti kalau Ara sudah mengantar eyangnya, kamu anter Ara ke kamarnya. Perlengkapannya nanti nyusul. Nanya kamarnya tanyain bak Sukma ya"

"Saya pamit dulu nyai"

"Iya hati-hati umi" bu nyai dan eyang saling bersalaman."Ara yang betah disininya ya" Ara dan eyangnyapun keluar.

"Ih, eyang apaan sih. Ara kan nggak mau mondok!" mata Ara berkaca-kaca.

"Udah kamu tenang aja urusan barang-barang sama pakaian kamu nanti biar eyang yang urusin. Yang di rumah juga nanti eyang telpon ibu kamu " eyang berbicara sambil berjalan kearah gerbang. Sesekali ia tersenyum tapi ia sembunyikan.

"Eyang..g...g!"

"Apalagi??"

"Takut nggak betah eyang..g...ukh...kh...!"

"Dengerin eyang. Eyang yakin banget kalo kamu tuh pasti betah di sini Ara. Kamu pasti betah, percaya sama eyang. Kalo awa-awal iya, mungkin akan banyak nangis sebab diri masih menyesuaikan dengan lingkungan baru, namun tidak apa itu semua proses. Sini eyang peluk dulu.." Ara mendekati eyangnya. Ara memeluk eyangnya begitu erat. Tangisnya pecah. Sampai ia sesegukan. Eyang Ara tersenyum simpul, matanya sedikit berkaca-kaca.

"Sudah-sudah percaya sama eyang kamu pasti betah. Eyang pergi dulu ya."

Tangis Ara semakin pecah, Salsa memapah Ara ke kamarnya.













Continue Reading

You'll Also Like

283 52 51
Find Your Treasure...!!! ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ Don't forget to follow and vote... thanks you teume yaa....💙 Ohh sekedar mengingatk...
800 119 186
Hay guis disini aku buat squel tentang kata kata , kata katanya sesuai dengan Imajinasi author. yg minat silahkan baca aja jangan lupa vote dan comen...
Wattpad App - Unlock exclusive features