Gue sih berharap, semoga ini yang terbaik. Ntahlah... Gue nggak boleh ragu lagi. Fix you, (namakamu) Thalia Iasa.
***
Akhir-akhir ini Iqbaal sering menghabiskan waktu bersama (namakamu). Berangkat dan pulang bareng ketika kuliah. Makan siang bersama dan mereka sering terlihat berdua.
Saat ini, mereka berada di kafetaria kampus. (namakamu) menggulung mie ayamnya menggunakan garpu lalu memakannya. Perempuan itu fokus pada makanan sesekali ia melirik ke ponselnya yang bergetar.
Hari ini jalan yok, udah lama banget kita ga quality time. Gue jemput lo!!! Gimana?
Steffi 11.18
Senyum (namakamu) mengembang, sudah seminggu lebih dirinya tidak bertemu dengan sahabatnya itu. Dan hari ini mungkin waktu yang tepat untuk mereka bertemu.
Gue selese jam 1 steff. Salsha sibuk ga?
11.19
Iqbaal yang tengah fokus membaca bukunya, tanpa berkutat dengan yang lain meskipun makanan yang ada di hadapannya sudah siap sedari tadi.
"Baal, makan dulu dong." Suruh (namakamu) lembut.
Kebiasaan Iqbaal memang seperti itu jika sudah berhadapan dengan buku. Susah sekali untuk diganggu. Sampai tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya.
"Iya, nanti." Jawabnya singkat.
"Siang ini, gue mau out sama Steffi ya, Baal?"
Iqbaal langsung melirik ke arah (namakamu), mengalihkan pandangannya dari buku dan meletakkan buku itu. Kemudian mengangguk. "Kok dadakan banget?" Tanyanya.
"Iya nih Steffi ngabarin aku baru aja. Trus kan nanti aku jam 1 udah free."
Iqbaal mengangguk mengerti. Waktunya sudah sering (namakamu) habiskan bersama dirinya. Sekarang giliran bersama sahabatnya.
"Hati-hati, ya. Kalo ada apa-apa kabarin aku."
(namakamu) mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban.
"Kalo aku kangen, nanti malem kita ketemu lagi, ya." Tambahnya.
Perkataan sesederhana itu dari Iqbaal, berhasil membuat (namakamu) bahagia.
***
Steffi sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah mall yang sering ia kunjungi bersama kedua sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan (namakamu) dan Salsha. Hanya saja, sekarang ia cuma berdua. Kehidupan sebagai mahasiswi kedokteran membuat Salsha sangat sibuk. Dan jarang sekali untuk mereka bertemu.
"Berasa mau ngulang masa SMA deh." Ujar (namakamu).
Pasalnya, hampir setiap weekend atau hari libur sekolah, mereka bertiga menghabiskan waktu di sini.
"Iya. Bedanya sekarang tanpa Salsha." Tambahnya dengan nada kecewa.
Mereka melangkahkan masuk untuk ke tempat yang mereka tuju.
"Mau kemana dulu, Steff?" Tanya (namakamu). Pandangannya mengedarkan ke seluruh isi mall.
Banyak diskonan di setiap sudut. Tetapi mereka lebih tertarik untuk pergi ke Timezone terlebih dahulu.
"Timezone dulu aja (nam). Yok." Dengan semangatnya, Steffi menarik tangan (namakamu) menuju Timezone.
(namakamu) hanya menuruti ajakan Steffi. Sudah berapa lama mereka tidak menghabiskan waktu seperti ini. (namakamu) juga merasa tidak enak, karena waktunya sekarang lebih dihabiskan bersama Iqbaal. Tentu saja Steffi mengerti alasan (namakamu).
***
Pengin ke pantai sama kamu besok:((
Iqbaal 15.03
Tidak sengaja saat Steffi sedang meminjam ponsel milik (namakamu), ada sebuah notifikasi masuk. Dari Iqbaal dan langsung menampilkan isi pesan tersebut.
Steffi langsung mengembalikan ponsel perempuan yang ada di hadapannya, yang sedang menikmati lemon tea.
"Asik banget yang diajak mantai besok." Ledeknya sambil meletakkan ponsel.
(namakamu) segera membaca pesan dari Iqbaal yang baru saja masuk.
"Gimana? Lo mau ikut?" Tawar (namakamu) sambil terkekeh.
"Ngapain coba, ntar gue jadi nyamuknya kalian berdua kali. Lagi pula, gue udah ada janji juga besok."
"Iya iya yang sibuk. Btw steff, gue belum cerita detail tentang mimpi itu ke Iqbaal."
Tentang mimpinya yang dulu, (namakamu) masih ingat dan tidak ada bagian yang dilupakan dalam mimpinya. Hanya saja ia belum menceritakannya kepada Iqbaal.
"Yaampun. Jadi selama ini kalian ngapain aja, sih. Sampai lo belum cerita semuanya." Jawab Steffi sambil mendengus kesal.
"Gimana ya Steff, gue bingung. Takut malah Iqbaal jadi ilfeel ke gue."
"Nggak bakal, (nam). Lagian kalian udah fix sih cocok. Iqbaal juga udah keliatan sayang sama lo."
"Dulu belum keliatan sayang, ya, Steff?"
Steffi merasa salah dalam berbicara. "Maksud gue, bukan gitu (nam). Ya dulu kan Iqbaal belom siap aja ditinggal Zidny. Sekarang kan udah milik lo seutuhnya." Jawabnya dengan penekanan pada bagian akhir kalimat.
(namakamu) menghela napas. "Tetep aja, setiap bulan di tanggal pas Zidny meninggal, kita masih ke makam, Steff."
"Itu bentuk kepedulian Iqbaal sama Zidny, (nam). Tandanya Iqbaal tuh orang baik."
Ada benarnya juga ucapan Steffi. Iqbaal masih peduli dengan Zidny. Itulah alasannya sampai sekarang mereka berdua masih sering mengunjungi makam Zidny.
"Gue ngerti sih. Cuma yang gue nggak ngerti itu, apa Iqbaal udah nerima gue. Gue cuma takut, mimpi itu nggak nyata."
Steffi memutar kedua bola matanya. "Udah jelas dia sering bareng lo, masih ragu juga?"
"Gue harus gimana dong, Steff."
"Ceritain mimpi lo sama Iqbaal." Saran Steffi.
Steffi memandang foto box yang baru saja mereka ambil. "Nih, di foto juga senyum lo udah asli. Nggak fake lagi." Ujarnya seraya meledek.
"Semua karena Iqbaal, yang udah beneran Dateng ke hidup gue." Lirihnya.
***
Deru ombak pesisir pantai terdengar merdu. (namakamu) memejamkan matanya menikmati setiap belaian angin yang ia rasakan. Membiarkan rambut panjangnya yang tergerai beterbangan mengikuti arah angin yang menyapanya.
"Enak ya di sini." Ucapnya sambil duduk di sebelah (namakamu).
Iqbaal terduduk di sebelah (namakamu). Mereka menatap gulungan ombak kecil yang ada di bibir pantai, sesekali perempuan itu menghirup udara seakan-akan ia kehabisan oksigen. (namakamu) senang berada di pantai ini, karena letaknya yang jauh dari pusat kota, jadi udara di daerah ini masih bersih. Paling hanya ada beberapa wisatawan yang sedang berjalan-jalan di pinggir pantai.
"Iya." Jawab (namakamu) singkat seraya masih menikmati pemandangan pantai.
"Saat pertama kali kita ketemu, aku nggak nyangka kalo kamu bakalan jadi orang penting di hidupku. Like now." Ujar Iqbaal pelan.
Terdengar kekehan (namakamu). "Hal yang lucu, ketika kita jatuh cinta dengan orang yang nggak di duga di waktu yang nggak di duga juga."
Ya, ucapan (namakamu) benar, karena pasalnya, Iqbaal sendiri pun tidak menyangka kalau akhirnya ia bersama (namakamu). Di waktu yang tidak terduga, (namakamu) masuk ke kehidupannya, dan semakin lama, Iqbaal semakin dekat dengan (namakamu), disaat itu pula-lah ia baru menyadarinya.
Ia sadar kalau perempuan yang menurutnya sebagai pengganti mantannya itu, akan menjadi bagian terpenting bagi hidupnya.
Lelaki itu memiringkan kepalanya, dan menggengam tangan (namakamu). Ah, kenapa ia jadi galau begini sih?
"Makasih, ya, Baal."
Iqbaal menatap mata perempuan itu sekilas. "Buat?"
"Semuanya. Lo udah bikin mimpi gue terwujud. Walaupun belum sepenuhnya." Ucapnya dengan datar.
Iqbaal mengerutkan kening. Ia belum pernah mendengar tentang mimpi (namakamu) dengan jelas. Katanya, tentang masa SMA mereka. Padahal mereka berbeda almamater.
"Aku pengin cerita, Baal."
Iqbaal mengangguk pelan. Menarik kepala (namakamu) agar ke pelukannya. Menenggelamkan kepalanya pada dada Iqbaal.
"Tentang mimpi kamu itu, kan? Gue siap dengerin, (nam)."
Senang ketika mendapat respon positif dari Iqbaal. Mimpi yang sebentar lagi menjadi kenyataan.
Kemudian (namakamu) menatap Iqbaal dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Masih belum percaya dan belum menyangka mereka akan sejauh ini.
"Kok kamu nangis?" Tanya Iqbaal pelan.
Belum menjawab, (namakamu) masih menatap Iqbaal. Bibirnya menyunggingkan senyum tetapi matanya tidak bisa membohongi kalau dirinya akan menangis.
"Pertama kali kita ketemu, aku juga nangis Baal liat kamu. Ternyata lo itu nyata." Ucapnya pelan.
Kalimat yang dilontarkan (namakamu) membuat Iqbaal tidak mengerti dan bertanya-tanya. Maksudnya?
"Lanjutin ceritanya, (nam)." Suruhnya lembut seraya menepuk pundak (namakamu) pelan.
"Aku nggak paham kenapa kita ketemu di acara pernikahan itu. Mungkin sebuah kebetulan, tapi itu waktunya nggak tepat sama sekali." (namakamu) mengembuskan napasnya berat.
Ini tidak seperti yang ia bayangkan. Awalnya, mungkin menceritakan tentang mimpinya di depan Iqbaal akan baik-baik saja. Ternyata, sebaliknya.
"Di awal cerita mimpi, kita satu sekolah. Kamu ngejar aku banget, kamu sayang sama aku sampe ngelakuin hal-hal yang menurutku itu lucu, kocak. Di masanya. Singkat cerita, waktu kamu ngerjain tugas aku, bawa nasi goreng rasa cinta, kita belajar bareng, dari seringnya kebersamaan itu, kamu berhasil. Berhasil buat aku jadi pacar kamu."
Iqbaal masih menunggu kelanjutan cerita (namakamu). Benar-benar di luar ekspektasinya.
"Pelajaran kimia. Aku nggak bisa sama sekali. Tiap hari kamu yang ngajarin aku. Tapi di real life? Ternyata aku sering ikut lomba kimia dan jadi juara. Aneh kan, Baal mimpi itu?" (namakamu) tertunduk. Tatapannya ke bawah.
Siapa pun juga pasti akan merasakan hal yang sama, jika mimpi itu terjadi ketika sedang mengalami koma.
Iqbaal merangkul pundak (namakamu), mengelusnya lembut.
"Yang paling menarik itu, ketika semua orang manggil gue dengan nama panggilan, cuma kamu yang manggil aku dengan panggilan spesial." Lanjutnya.
"Oh ya? Emang aku manggil kamu apa, (nam)?" Tanya Iqbaal penasaran.
"Iasa. Satu-satunya orang yang manggil Iasa ya cuma kamu Baal. Chat yang kamu kirim, selalu ada emoticon love nya di belakang. Yang selalu nanyain aku udah tidur belum setiap malem selesai belajar."
Sesak. (namakamu) merasakan sesak di dadanya saat menceritakan itu. Ia tidak tahu, apakah bisa melanjutkan ceritanya atau berhenti.
Air matanya jatuh tanpa seizinnya. Mengingat mimpi yang sampai sekarang masih jelas diingatannya.
Iqbaal menghapus air mata (namakamu) yang sudah membasahi pipinya. Tidak mengerti harus berkata apa. Ia sangat menghargai, (namakamu) sudah mau menceritakan tentangnya sebelum mereka mengenal di dunia nyata.
"Kalau udah nggak bisa lanjut. Nanti lagi aja, (nam). Jangan nangis." Bisiknya.
(namakamu) menyandarkan kepalanya di bahu Iqbaal. Air matanya masih turun begitu saja.
"Sekarang, kamu spesial di hidup aku." Bisik Iqbaal lagi.
"Ceritaku belum selesai, Baal."
Iqbaal mengangguk mengerti. "Kamu boleh lanjutin ceritanya lagi, sekarang ataupun kapan aja. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
Tangan Iqbaal beralih lagi untuk mengusap air mata (namakamu). "Ceritanya tanpa air mata, ya?"
Tidak. (namakamu) sepertinya tidak akan melanjutkan ceritanya sekarang. Ia belum terlalu kuat untuk mengingatnya tanpa air mata.
"I love you." Ucap Iqbaal diakhiri ciuman lembut di kening (namakamu).
Kali ini Iqbaal tulus. Tanpa terpaksa dan tidak mengingat masa lalunya.
Fokusnya sekarang, hanya memikirkan bagaimana cara bahagia bersama (namakamu). Meskipun sudah lama mereka bersama, mungkin (namakamu) menganggap Iqbaal masih saja belum bisa move on dari Zidny.
Untuk sekarang, Iqbaal sudah bisa menjawab. Bahwa masa depannya, bersama perempuan yang ada di hadapannya sekarang.
*****
Bersambung...
AKHIRNYA BISA NEXT CERITA INI. SIAPA YANG MASIH BACA? TOLONG LIKE DAN KOMEN YA GUYS :")
MAAF PENDEK DULU DAN CAPS JEBOL HEHE.
Aku lagi sibuk-sibuknya kuliah huhu. Kalian sukses terus ya, guys. Yang masih baca cerita ini, makasiii 💕😭
Aku next lagi kalo ada waktu. Harap sabar yaaa:")