"Chaeyoung-ah, kau menyukai Jimin Hyeong?"
"Mwo? Kau itu bicara apa? Kalau masalah ciuman itu, itu hanya dare. Aku tidak ingin membicarakan ini." ujarku ketus.
Ia terdiam mendengar jawabanku, kami terus saling acuh malam itu. Hanya menikmati keindahan langit Kanada.
Sampai dimana ia mengajakku untuk masuk, "kau mau pulang atau menginap?" tanyanya yang mencoba untuk membuka pembicaraan.
"Sudah malam, aku sebaiknya pulang saja."
"Kenapa? Menginaplah, hanya semalam."
"Bagaimana jika aku tidak mau?"
"Aku akan menggendongmu dan menculikmu ke kamarku."
"Kau takkan melakukannya."
Percaya atau tidak, ia menggendongku. Ia benar-benar menggendongku sampai ke kamarnya. Laki-laki ini memang gila.
"JEON JUNGKOOK! Lepaskan aku atau aku akan teriak sekarang juga!" teriakku sambil meronta dan memukul-mukul punggungnya.
"Kau akan ikut bersamaku." cetusnya.
Sesampainya dikamar, ia membanting badanku ke tempat tidur.
Aku mulai takut, ia sudah seperti orang kerasukan.
"Jungkook-ah? Kau mau apa?" Tanyaku gemetar.
Ia menjatuhkan tubuhnya tepat disebelahku, dan tiba-tiba memeluk badanku. Sangat erat.
"Aku lelah.." eluhnya.
"Bayi besar.."
"Bayi? Aku ini lelaki, masih saja di panggil bayi."
"Kau memang bayi, lihat saja kelakuanmu sekarang."
"Aku seperti ini hanya padamu tau."
Aku terdiam, masih dalam keadaan memeluk Jungkook si bayi besar ini dan menikmati setiap moment-moment bersamanya.
"Chaeyoung-ah.." panggilnya sambil menoleh kearahku.
"Hm? Wae?"
"Soal ciuman dare dengan Jimin hyeong.."
"Kenapa dengan itu?"
"Kau menikmatinya?"
"Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa?"
"Kalau iya aku akan memberikanmu ciuman yang lebih dari itu, kalau tidak aku lega kau tidak menikmatinya."
"Baiklah, aku menikmatinya."
Ah! Mulutmu, Chaeyoung-ah! Kenapa kau menjawab bahwa kau menikmatinya..
Dasar bodoh.
"Kalau begitu aku akan memberikanmu ciuman yang lebih lebih dari itu."
"T-tidak.. aku salah bicara. Aku tidak menikmatinya."
"Pernyataan pertama yang kuterima. Tak bisa menolak."
Ia mulai merubah posisinya, posisi pelukan itu berubah menjadi posisi yang tidak seharusnya dilakukan.
Ia berada di atasku.
Oh tuhan.. Selamatkan aku.
"J-jungkook.. kau.. mau apa?"
"Memberikanmu sedikit pelajaran bahwa kau telah menikmati ciuman Jimin hyeong."
Kini wajahnya terus mendekat, semakin mendekat sampai aku tak bisa merasakan oksigen disekitarku.
Udara.. aku butuh udara..
Aku sekuat tenaga memejamkan mata, dengan jantung yang semakin berdegup kencang karenanya.
"Jungkook! Stop!"
"Tidak mau."
Dan bibirnya akhirnya sampai pada bibirku, kemudian ia mengecupnya. Hanya satu kecupan manis.
Mataku membulat dan sangat terkejut.
"Kecupan lebih indah daripada lumatan." ucapnya diatas bibirku.
Ah.. aku selamat..
"Peluk aku lagi." ujarnya.
Dengan cepat aku langsung memeluknya, mengunci tangannya agar tidak bisa berbuat yang aneh-aneh seperti tadi.
"Jangan menyukai pria lain, Chaeyoung-ah." bisiknya sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku takkan bersama pria lain, kalau kau tidak memberitahuku alasan kenapa kau ingin berpisah denganku waktu itu."
Ia terkejut, kemudian menatapku. "Aku akan memberitahumu semuanya sampai semua aman."
. . .
Jungkook's POV
Pagi itu, aku bersiap untuk konser hari ketigaku di Kanada. Tidak, lebih tepatnya konser terakhirku.
Itu berarti aku akan berpisah lagi dengan Chaeyoung.
Kalau tidak karena masalah sasaeng dan Yeri, aku tidak akan mau dan takkan pernah berpisah dengannya.
Kini masalah sasaeng masih misteri, siapa yang membocorkan hubunganku dengan Chaeyoung.
Dan sudah tidak ada kabar apapun tentang Yeri. Tidak biasanya selama dua bulan ia menghilang, aku yakin ada yang tidak beres tentang hal ini.
Aku juga sudah yakin bahwa orang yang membuntuti Chaeyoung malam itu adalah orang suruhan Yeri.
Ia membuatku sangat frustasi.
Tapi setelah aku bertemu Chaeyoung kembali kemarin, perlahan aku melupakan masalah-masalah itu.
Aku tak menyangka bahwa sekarang aku sedang membelai rambut Chaeyoung yang sedang tidur disebelahku. Ia seperti tupai kecil yang tidur dipelukanku, manis sekali.
"Hm? Kau sudah bangun, Jungkook-ah?"
"Sudah, aku harus siap-siap untuk konser terakhirku disini. Kau bisa ikut lagi, kalau kau mau."
"Benar, konsermu disini hanya 3 hari. Sepertinya aku akan ikut saja, aku bosan."
"Baiklah, nanti aku akan memberimu nametag untuk backstage."
Ia hanya mengangguk pelan.
Kemudian kami semua memutuskan untuk pergi ke venue pukul 1 siang waktu Kanada.
Kelakuan Jimin hyeong sangat menunjukan bahwa ia sepertinya mulai menyukai Chaeyoung, ia selalu melihat kearahnya selama perjalanan ke venue.
"Chaeng, Jimin hyeong terus memandangimu."
Ia menoleh dan mendapati Jimin hyeong yang sedang melihat kearah Chaeyoung.
"Iya benar, hyeong-mu itu kenapa sebenarnya?"
"Sepertinya ia menyukaimu."
"Tidak mungkin, ia takkan mungkin menusukmu dari belakang."
"Kalau ia memang menyukaimu bagaimana?"
"Aku hanya menyukaimu." bisiknya.
"A-apa? Aku tak mendengarmu."
"Tidak, lupakan saja."
Gemas sekali dia ini..
5 menit kemudian, kami sampai di venue concert. Banyak army yang sudah menunggu di luar venue.
Malam ini akan menjadi malam yang indah sekaligus menyedihkan untukku.
Pertama, aku akan bertemu army Kanada dan perform di depan mereka.
Kedua, aku akan berpisah dengan Chaeyoung.
Aku akan merindukannya..
To Be Continued..