"Tuan muda Vanessa"
Suara yang sudah tidak asing lagi itu terdengar dari depan pintu kamarku yang membangunkanku. Itu adalah suara Clark, Asisten pribadiku.
Dengan posisi yang entah bagaimana bentuknya diatas kasurku yang berukuran 2,5 m x 3 m, aku berkata
"Ada apa? Ayah pulang cepat lagi? kau tahu? aku tidak peduli"
"Bukan itu tuan, Guru privat tuan sudah datang."
"Oh Guru privat."
tidak lama setelah berpikir sebentar, Mataku tiba-tiba terbuka dengan bulat.
"Kau bilang apa? Guru privat? sejak kapan aku punya guru privat?"
"Ayah tuan yang memesannya. Apa tuan tidak membaca surat di atas meja belajar tuan?"
"Surat?"
Aku melompat dari kasurku dan mengambil surat itu. Setelah penghukumanku Ayah memang selalu meninggalkan surat padaku sebelum berangkat kerja.
"Vanessa, Sesuai dengan janji Ayah, Ayah akan memesankanmu guru privat yang akan mengajarmu setiap hari. Ia akan mulai bekerja pada hari ini"
Sial! Ayah!!
Akhirnya mau tidak mau aku pun beranjak dari kasurku dan berjalan ke perpustakaan pribadi Ayahku.
Langkah ku terhenti saat aku melihat seorang laki-laki berambut lurus cokelat terang yang sudah tidak asing lagi itu duduk di meja belajarku. Ugh, Tuhan! kenapa harus laki-laki ini lagi??
"Pulanglah, Aku tidak sedang ingin belajar"
Laki-laki itu serentak melihatku dengan kaget.
"Nessa?"
"Nessa? Nessa? Nessa? Apa bisa kau berhenti menyebut namaku seperti itu setiap kali kau melihatku? kau membuatku muak."
"baiklah, duduklah. kita mulai belajar"
"Apa kau tuli? Aku sudah bilang aku tidak sedang ingin belajar"
"baiklah, Kalau kau tidak sedang ingin belajar, Ayo kita jalan"
"Tidak, pergilah. Aku juga akan pergi ke markas balapan."
"b..baiklah"
Tidak lama laki-laki itu pun menyingkir dari hadapanku.
Aku merapikan topiku dan berangkat ke markas balapan.
Sebenarnya, Markas itu bukan hanya sekedar perkumpulan untuk anak balapan, tapi untuk anak-anak street dance dan grafiti juga. Dan aku adalah salah satu dari mereka.
"Hai guys"
"Akhirnya kau datang juga nes!"
Kata salah satu sahabatku yang bernama Alice.
Musik pun diputar dan beberapa di antara kami mulai menari. Termasuk aku. Setelah beberapa jam aku ingin ke toilet dan betapa kagetnya aku saat melihat Joe dengan perempuan lain sedang berduaan.
"Joe?"
"Nessa? S..sejak kapan kau disini? ku kira kau tidak bisa datang?"
Aku berlari meninggalkan mereka dan segera naik ke mobil. Joe terlihat mengejarku tapi tidak ku hiraukan.
Diperjalanan, Air mataku terus saja keluar, Kenapa laki-laki tidak ada yang benar? sejelek apa aku sampai aku bisa di permainkan dengan laki-laki murahan seperti itu? Aku tahu aku memang freak, Aneh, mengerikan dan tidak ada gunanya. Tapi kenapa ia harus mempermainkanku seperti ini?
Aku melangkahkan kakiku dengan langkah cepat kekamarku. Dengan air mata yang berlinang aku mengambil silet dan berniat menggores lenganku.
"Nessa? Apa kau gila? Hentikan! Apa yang kau lakukan!"
Zack berlari ke arahku dan mengambil silet itu. Ia belum pulang dari tadi.
"Sedang apa kau disini? hiks..hiks pulang lah! aku sedang ingin sendiri"
"Berhentiah bersikap bodoh"
Ia duduk disebelahku. dan Aku masih saja menangis.
"Kau kenapa pulang-pulang menangis seperti ini?"
"Ia selingkuh, Aku melihatnya dengan perempuan lain. Aku tidak menyangkah dia setega itu. Sejelek apa aku? seaneh apa aku sampai ia tega mempermainkanku seperti orang bodoh seperti ini? Hidupku menjengkelkan! tidak ada gunanya. tadinya kupikir hanya dia tidak akan melukaiku. tapi apa? ia malah melukahiku. Aku mau mati saja!"
Ia memberikanku Tissue.
"Dan sekarang aku curhat dengan laki-laki. dan nanti kau akan membocorkan rahasiaku di seluruh sekolah kalau Vanessa Steward nangis bombai karena di permainkan oleh laki-laki murahan. hiks.. hiks.."
"Apa sudah puas? keluarkan saja.. akan ku dengar"
"Semua orang sama! tidak ada yang peduli denganku!"
"Selesai?"
Aku mengangguk sambil berusaha menghapus air mataku dengan tissue.
"Kau harus tahu, didunia ini tidak hanya ada 1 laki-laki. Jika dia ternyata tidak baik, Lupakan saja dan tetap jalani hidupmu seperti biasa. Kau sudah susah-susah mempertahankan hidup selama 16 tahun dan kau mau mati dalam sekejap cuma karena 1 laki-laki? Jangan bercanda"
"Apa yang salah dariku? aku hanya berusaha untuk di sukai dan di terima oleh setiap orang"
"Di dunia ini ada orang-orang yang menyukai kita, dan ada juga yang tidak. Bersyukurlah dengan yang menyukai mu maupun yang tidak sekalipun"
Kali ini aku tidak menjawab lagi. Kenapa Zack sangat perhatian? Rasa benciku pada laki-laki ini mulai berkurang, Kurasa.
"Kriiiing!!"
Suara bell itu menandahkan bahwa pelajaran terakhir sudah selesai. Aku berjalan dengan langkah cepatku.
"Hai, Cantik"
Aku merasa seseorang sedang memegang pundakku dan aku pun berpaling.
"Zack, Berhenti memanggilku kata sebutan itu. Aku tidak suka"
"Kau terima saja bisa tidak? kau cerewet sekali"
"Ugh! Oh iya, Disana itu ada Joe dan pacar barunya. Aku mau kau bertindak seperti pacarku dan membuatnya cemburu. Kau bisa? Tolong lah"
"Apa yang harus kulakukan?"
"Genggam saja tanganku dan ngobrol denganku. Sambil berjalan didepannya"
"Apa harus seperti itu?"
"Astaga! mereka datang! ayo!"
Joe pun lewat dan aku menggenggam tangan Zack dan tersenyum seolah-olah sedang membicarakan sesuatu yang menyenangkan dengannya. meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang sedang ku bicarakan dengannya.
Ini berhasil! Joe melirikku dengan mata sejumlah tanda tanya.
"ini berhasil! ternyata kau ada gunanya juga"
"Kau tahu? aku tidak suka melakukan sesuatu dalam kepalsuan"
"Ah! berlebihan kamu. Eh, Aku mau pulang. Bye!!"
Belum sempat ia membalasku aku sudah pergi.
Aku sedang terduduk di motor besarku, Sebentar lagi aku ada balapan, aku memperhatikan ponselku entah apa yang sedang ku pikirkan..
"Ah! benar."
Aku menyentuh ponselku dan mengetik Sms ke Zack
"Sebentar lagi aku ada balapan. Apa kau akan datang?"
"Apa Joe datang bersama pacarnya?"
"yaaa"
"baiklah, 15 menit lagi aku sampai"
Seulas senyuman tersungging dibibirku.
Dan tiba-tiba aku tersadar. Apa? tidak-tidak.. Jangan coba-coba tersenyum untuk nya..
"Yahh! hayooo ketahuan. kenapa kau senyum-senyum sendiri?"
Terdengar suara Alice salah satu dari sahabatku. Ia bersekolah disekolah lain.
"Eh, Nes. Apa benar kau sudah putus dengan Joe?"
Tanya Tracy.
Aku hanya mengangguk.
"Yah, Tapi hidup harus terus berlanjut. Bukan?"
Ketiga sahabatku terlihat menggangguk.
"Ya sudah, Kita mulai balapannya?"
"Ayo!"
Aku duduk di motor balapku dan mengambil ancang-ancang, dan balapanmu dimulai.
Dibalapan ini hanya ada 4 perempuan dari 10 peserta. Yah, itu aku, Tracy, Michelle, dan Alice. Motorku melaju dengan kencang di urutan ke 5, sampai pada akhirnya aku menang di urutan ke 2. Balapan ini tidak memberikan kita hadiah, ini hanya seputar hobby saja.
"Kau gila, benar-benar gila"
Aku mendengarkan suara tidak asing itu saat perhelai rambutku mulai jatuh setelah aku membuka helmku.
"Apa itu masalah?"
"Tidak." Sahutnya cepat. "Kau memang gila. Dan kurasa aku mulai menyukainya."
"Oh, kau mau coba lain kali?"
"Ti..tidak, aku masih belum mau mati kau tahu? aku masih belum lulus SMA"
"Kau berlebihan, Zack Bryan"
"Kau haus? Aku akan beli minuman. Kau tunggu disini, aku segera kembali"
Akhirnya aku menunggu Zack. Setelah hampir 20 menit menunggu dan Zack tidak kembali, aku memutuskan untuk menyusulnya. Betapa kagetnya aku saat melihat Joe memukul Zack. Aku berlari dan melerai mereka berdua.
"Apa kau gila! hah?"
"Minggir Nes! ia pantas mendapatkan ganjaran karena merebut pacar orang lain!"
"Pacar? Aku sudah bukan pacarmu. Seharusnya kau malu! jalau kau mau memukul Zack, Pukul dulu pacar baru mu itu karena merebut pacar orang!"
"Kau masih pacarku! kita belum putus!"
"Oh ya? Kalau begitu, Sekarang kita putus!"
Akhirnya Joe pergi meninggalkan kami berdua.
Aku membantu Zack berdiri.
"Kau baik-baik saja?"
Zack menggangguk dan tersenyum.
"Laki-laki itu benar-benar gila"
"Eh jangan seperti itu. Gila-gila begitu, mantanmu juga. kan? haha"
"Ih kau ini"
"aduh..aduh.. Kaki ku!"
"Eh eh kenapa?"
"Tidak.. haha"
"Ciyeee.. Jadi ini pacar baru mu Nes?"
kata Tracy.
"Dia? Pacarku? jangan bercanda"
"Iya, jangan bercanda"
"kalian cocok"
Aku menatap lelaki disebelahku itu dan memalingkan wajah ke arah lain.
"terima kasih, tapi.. tidak"
Aku membuang tubuh ku ke atas kasur dan mengambil ponselku. Tidak untuk menelpon, ataupun semacamnya. Aku hanya memutar-mutar ponsel itu, tersenyum sendiri, sementara sejuta hal menghantui pikiranku. Kata-kata Zack kemarin cukup menenangkan ku. Apa aku dengannya bisa bersahabat? Kurasa ia tidak mengganggapku aneh seperti orang-orang lainnya. Sahabat? Apa.. Lebih dari itu?
Aku berjalan di koridor sekolah sedang menujuh ke lokerku. Hari ini cukup sepih, Entah kenapa tidak ada orang sepanjang koridor, maupun dikelas. Kuharap mereka semua tidak pindah sekolah karena takut denganku. Aku bingung kenapa mereka takut denganku, Aku tidak pernah meminta uang saku mereka, makan siang atau pun apapun yang mereka miliki. Aku memang membentak mereka, itupun jika mereka deluan yang menggangguku.
Langkah ku terhenti didepan lokerku. Aku menarik nafas dalam-dalam, dan dengan perlahan menghempaskannya. Aku mengambil sebuah tabung dari dalam Ranselku dan mulai menyemprotkannya didepan pintu lokerku. Tabung itu berisi cairan yang akan membuat noda apapun hilang dengan cepat. Yah, Seperti biasa, didepan lokerku tertulis kata Freak. Sebutan sehari-hariku.
"Benda apa itu?"
Aku terkejut saat mendengar suara tidak asing itu ditengah kesendirianku. Aku menoleh ke arah suara itu berasal. Sudah ku tebak, dialah orangnya. Zack menyandarkan bahu kirinya di loker sebelah lokerku.
"Penghapus noda"
Aku mengambil beberapa buku dan memasukkannya kedalam ranselku.
"Wihh canggih. Eh ngomong-ngomong, kenapa kau datang?"
"Apa itu salah? Aku mau belajar"
Aku menutup lokerku dan berjalan meninggalkan Zack.
"Astaga, Nes. Makanya kamu jangan bolos terus. Kau tidak datang kemarin, kan?"
Dia mengejarku.
"i..yaa dan hubungannya apa?"
"Kau tidak mendengar pengunguman? hari ini libur"
"katakan kau bercanda"
"Tidak, aku tidak bercanda"
"kau sendiri? kenapa kau datang?"
"Aku ada pelatihan untuk olimpiade bulan depan"
"Oh ya? Kau ikut apa?"
"Matematika"
"Oh."
"Hmm.. kebetulan aku sudah selesai. Mau menemaniku jalan sebentar?"
Ia berhenti didepanku dan menghalangi jalanku.
Aku menghela nafas.
"Baiklah"
"Tinggalkan saja mobilmu disini, kita naik mobilku saja. bagaimana?"
"Terserahlah"
Aku membuka pintu kursi penumpang mobil Zack, dan dikursi itu hanya ada bertumpuk-tumpuk lukisan.
"Maaf, agak sedikit berantakan. Akan ku rapikan"
"Kau yang melukis ini semua?"
"ya, tidak perluh memujinya."
"Kau GR sekali"
Disepanjang jalan, tiba-tiba aku mendengar sesuatu. Suara musik klasik. Zack memutar musik itu didalam mobilnya.
"Apa ini?"
"kau tidak tahu? ini terkenal"
"Hentikan, musik ini membuatku ingin tidur"
"ini, Fur Elise by Beethoven"
"Beethoven pianist legendaris itu?"
"itu kau tahu. Aku itu penggemar musik klasik, aku paling suka karya-karya Beethoven. Kau tahu? setiap aku mendengarkan lagu ciptaannya hatiku terasa tenang"
"Kau menyukai musik membosankan ini?"
"Asal kau tahu saja, Dulu, hanya para bangsawan yang bisa mendengarkan musik klasik. Ini musik royal"
"Apa itu penting? hentikan saja, aku mulai mengantuk"
"kalau begitu, tidur saja."
"Eh, Kau mau bawa aku kemana?"
"The Venetian, aku sedang ingin naik perahu"
"Astaga, kau benar-benar kuno. Berapa umurmu? 40, hah?"
"Hahaha kau lucu juga"
"Terima kasih, tapi tidak"
"Kita sampai!"
Aku terbangun saat mendengar seruan itu yang mulai memecahkan gendang telingaku. Aku tidak sadar bahwa dari tadi aku tertidur. Musik klasik itu membuatku benar-benar tertidur.
"Welcome to the Venetian"
"Bisakah kau berhenti bicara? kau membuatku muak"
"Ayo cepatlah turun, kita jalan kaki masuk"
Aku mendaratkan kedua kakiku diatas tempat kuno itu. Aku sudah lama tidak mengunjungi tempat ini, tempat ini masih saja indah dan Kuno seperti dulu.
"apa itu"
"kukira kau kaya, masa handycam saja kau tidak tahu?"
kata Zack yang sedang merekam keadaan disekitarnya dengan Handycamnya.
Aku tidak membalas, tiba-tiba Zack mengarahkan Handycam itu kearah ku dan merekamku.
"Hai Vanessa Steward"
"Bisakah kau berhenti bertindak konyol?"
Aku tidak menghiraukannya dan terus saja melihat kedepan dan berjalan.
"Ada apa dengan wajah mu? kenapa sangat kusut"
"Kau tahu karena apa? karena kau"
"Oh ya? maafkan aku."
"berhenti merekamku"
"Senyum ke sini"
"tidak!"
"Ayolahh"
Aku menghela nafas dan tersenyum ke arah Handycam itu dan kembali menatap kedepan.
"Terima kasih Ny. Steward, sekarang kita sedang berada di The venetian las vegas. Kami sedang menuju ke Venice"
Laki-laki ini benar-benar cocok jadi presenter, ataupun tour guide. Dia cerewet dan suka berbicara. Aku ingat sekali terakhir kali aku kesini, Aku bersama Joe. Hari itu adalah genap seminggu aku berpacaran dengannya. Sekarang sudah genap 2 tahun aku berpacaran dengannya setelah 2 minggu yang lalu aku memutuskannya.
Akhirnya kami sampai di Venice, Aku duduk disebelah Zack sedangkan pendayung berbaju garis-garis hitam putih dan bertopi konyol itu mendayung perahu kami.
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Bagaimana kau suka?"
"Suka sih suka, tapi tetap saja tempat ini kuno."
"apa salahnya menjadi kuno dalam sehari"
"Tidak ada
"Bagaimana hubunganmu dengan Joe?"
"Aku malas membahas laki-laki itu"
"Mau main Truth Or Dare?"
"baiklah, Aku dulu, Apa yang kau suka dan benci dariku"
"Yang aku suka, Senyumanmu,.."
Laki-laki itu menatapku dengan penuh perasaan.
"wajahmu, rambutmu, Aku suka gadis berambut cokelat. caramu berpakaian, Kepribadianmu.."
"Stop! kau membuatku mual.."
"Aku serius"
"Yang kau benci?"
"Tidak ada"
"Jangan menggodaku, Zack"
"Aku tidak menggodamu, memang tidak ada."
"Baiklah, kalau begitu yang kau tidak suka"
"Aku tidak suka wajahmu yang selalu jutek dan cuek"
"Jadi kau ingin aku selalu tersenyum seperti badut?"
"Tidak, yang biasa-biasa saja."
"Baiklah, akan ku coba"
"Sekarang giliranmu, Apa yang kau suka dan tidak suka dariku?"
"Aku suka ceramahmu yang membuatku lebih tenang, dan sebenarnya aku suka kalau kau cerewet seperti itu. Yang aku tidak suka, Kau suka menggodaku, suka muncul tiba-tiba seperti hantu, Kuno, dan pecinta buku."
"kenapa banyak sekali yang kau tidak suka?"
"Aku jujur, sekarang giliran Dare. Pulang nanti, kau harus minum apa yang kupesan waktu di club waktu itu minimal 2 gelas"
"Kau gila? aku tidak mau. itu keras sekali aku belum pernah mencobanya."
"Kau harus mau"
"Baiklah, dan sekarang giliranmu. Kau harus menuruti 5 permintaanku"
"kau gila? ini tidak adil"
"kau harus mau"
Aku menghela nafas.
"Baiklah, Apa permintaanmu?"
"Yang pertama, kau tidak boleh merokok, yang kedua tidak boleh ke Club, yang ke tiga tidak boleh balapan, yang ke empat kau harus mengikuti les privat dengan ku tanpa bolos, dan yang ke 5 kau tidak boleh minum minuman keras. semuanya dalam jangka seminggu"
"Bunuh Aku, Apa tidak ada yang lebih parah dari itu?"
"Ada, mau ditambahkan?"
"tidak-tidak"
"Jadi, Deal?"
Tantangan Zack terasa sangat berat buatku. Tapi sebenarnya tantanganku juga pasti sulit buatnya. Seminggu? Aku pasti bisa.
Aku menghela nafas.
"Baiklah, Deal"
Saat kami sedang berada di atas perahu, tiba-tiba perahu itu bergoyang dan..
Astaga!
To be continued..