Rain And Ginephobia (end)

By epalukesih

51.5K 2.7K 111

Rain dan penyakit langkanya. Start 28 november 2018-20 Februari 2019..... More

Rain And The Drawing Book
Gynephobia
Broken Promises
Kamu Siapa?
Girl Fighters
Move to the kost
Meet in trouble
Bad Sunday
Work Monday
Jouluse?
Undangan
Boss Father (2)
Get a License
Medan
The Party
Because cream
Pregnant Women
Alone
Damn
Hujan
His Mother
What the...
Perjalanan
Lamaran
Entahlah
Keraguan
Menolak
Pulang
Kedatangan
Danau
Keputusan
ingatan
End

Boss Farther

1.2K 84 5
By epalukesih

  cek typo



     Minggu berganti minggu, Aku berada di kost bersama mbak Sandei, tebak ngapain? Kami lagi nonton drama korea  yang ada di Flasdisk aku, dapat dari Fira tentunya. Mbak Sandei tak terlalu minat sama drama korea tapi aku paksa, mana enak nonton drama romantis sendiri jomblo pula ituh.
   Mbak Sandei lama lama kena virus korea juga. Kadang kadang ia berceletuk sendiri.

"Ih kok muka cowoknya ganteng banget? Kinclong gitu yak?"

"ceweknya kok mirip semua?"

"Wah bibir cowoknya tebel banget ya?"

"Itu dada ceweknya guedek banget kaya semangka gitu kaya punya si Pita" katanya aku langsung menatapnya.

  Pita adalah cewek kantor yang terkenal dengan body goalsnya. Jika bertanya nama Pita di kantor semua bakal tahu jawabnya. Ia juga terkenal menggunakan baju yang tidak dikancing dua atau tiga buah. Aku tahunya dari Mbak Ulva dan Mbak Sandei.

"Kok kamu lihat aku kaya gitu? Kan bener dadanya kaya dada Pita, dia kan hobby pamer aset cantiknya, beda sama kita apa yang mau dipamerin?" kata mbak Sandei, aku terkekeh memang dadaku dan dada Mbak Sandeian sebelas dua belas.

"Ia sih, Mbak Pita pamer karna punya, lah kita? apa yang mau dipamerin? dada aja sekecil jeruk"

"Bukan jeruk han, anggur" katanya,aku kembali terkekeh kemudian kami mengalihkan pandangan kembali ke laptob.

"Oi Mbak, kalau mau cuti beberapa hari ada aturannya gak sih?"

"Kamu mau cuti?" Mbak Sandei mempouse video.

"Ia, lima bulan lagi, ada acara pernikahan teman Mbak"

"Hmmmm, kalau acara pernikahan sih kayanya sulit, apa lagi tanggung jawab kamu lumayan penting, alasan kamu nenek kamu sakit aja umurnya gak panjang lagi"

"Lah nenek aku dua duanya udah meninggal Mbak masa aku nyebut nyebut nama mereka sih,bisa kena kutuk aku Mbak" Aku membayangkan aku berbohong pada pak boss.

"Kalau acara pernikahan itu sulit dikasih izin Han, makanya alasan kamu harus yang penting buanget"

"Hmmm"

"Kalo kamu cuti berarti aku sendiri dong di bagian keuangan?" kata mbak Sandei tiba tiba.

"Loh Mbak Ulva kan ada" kataku apa ia melupakan Mbak Ulva?

"Mbak Ulva mau resign bulan ini, karna perut dia udah besar banget, gampang kelelahan dia" ia juga, perut Mbak Ulva sudah sangat besar karna hamil tujuh bulannya, kadang aku bingung kenapa pak Jimmi biarin Mbak Ulva berkerja, alasnya simpel katanya karna Mbak Ulva keras kepala.

"Kan bakal digantikan sama yang lain Mbak"

"Ia tapi kalau kamu cuti pasti tugas kamu selama cuti bakal di kasih ke kami, iya kalo pengganti Mbak Ulva enak,kalo penggantinya Sejenis Pita gak deh" kata Mbak Sandei berekspresi malas.

"Bagaimana kalau kita sama sama cuti aja mbak" tiba tiba aku punya ide.

"Kamu mau buat perusahaan bangkrut? Emang dimana pernikahanya?" tanya Mbak Sandei.

"Di Medan" jawabku singkat.

"Kalo ke Medan aku gak bisa,mau dikasih libur satu bulan pun aku tak bisa"

"Loh kok gitu mbak, disana kan kampung mbak, gimana pun disana ada nenek Mbak" aku bingung dengan jalan pikir si Mbak ini.

"Bukan, aku gak mau pulang kemedan sebelum aku dapat suami, atau si anak bude menikah aku gak bakal pulang"

"Kalo misalnya mbak gak dapat jodoh dan anak budenya Mbak gak nikah nikah gimana? Gak bakal pulang?" tanyaku.

"Kamu doain aku gak dapat jodoh" tuduh mbak sandei melotot. Aku menggeleng kepala dan mengibas ngibas tangan.

"Bukan gitu, misalnya, misalnya" aku memperbaiki kosa kata.

"Iya, maka aku gak bakal pulang kesana" ada nada sedih yang dapat kudengar dari suaranya

"Btw tidur gih besok kamu harus kerja di apartemen pak boss, kalo aku free " Mbak Sandei bangkit dari tempat tidurku menuju kamarnya.

   Ah, iya aku besok aku harus kerja, aduh badanku semakin menyusut, terakhir aku timbang badan beratnya empat puluh lima kilo dari empat puluh sembilan kilo. Karna keseringan olahraga alias kerja rumah, rumah orang.

Mama aku rindu masakan mama.

****

  Hari minggu aku sudah berada di apartemen pak boss, seperti buasa aku mengepel, pak boss selalu duduk dikursi sofa membaca buku atau bermain ponsel. Tapi percayalah tatapanya selalu tertuju padaku, kok aku tahu? Soalnya aku selalu curi pandang denganya. Dan ia selalu tertangkap basah memperhatikanku.

"Kamu pernah kecelakaan Han?" pertanyaan itu lagi, ini sudah ke seribu dua ratus kalinya ia bertanya pertanyaan yang sama.

"Tidak pernah pak" dan itu jawaban ke seribu dua ratus kali juga.

"Apa kamu pernah.." aku bosan apa tak ada pertanyaan lain hah.

"Kalau saya jawab ya apa bapak akan berhenti bertanya lagi?"

"Tergantung jawaban kamu,kalau bisa membuat saya puas" jawabnya enteng.

"Ya, saya pernah kecelakaan parah sampai kepala saya bocor" kataku melanjutkan mengepel. Ia nampak tertegun.

"Benarkah?" gumamnya pelan.

"Ya, bapak tahu saya koma beberapa jam" jawabku sangat enteng, saat aku mengalihkan tatapan dari ember pel ke wajah pak boss,ia pucat. Kenapa dia?

"Pak? Bapak tidak apa apa?"

"Kapan?" katanya, apanya yang kapan?

"Apanya kapan pak?" aku menatapnya bingung, menghentika acara mengepelku.

"Kapan kamu kecelakaan? Dimana?" dengan wajah pucat seperti itu ia masih bertanya.

"Beberapa hari setelah lulus SMA, kira kira di jalan Sudirman ujung dekat perpustakaan kota pas jebra cross" aku menjelaskan panjang lebar, tapi kuyakin ia tak akan tahu apa yang kujelaskan itu.

"Kamu ngapain disana?" percayalah wajah pak boss sekarang sangat pucat pasi, dan aku sedikit khawatir.

"Kata mama saya, saya ijin mau baca buku, padahal saya sudah lulus, dan saya gak hobby baca buku"

"Kata mama?" beonya lagi.

"Ya, saya lupa ingin apa kesana?"
Tanpa disangka ia langsung bangkit dari duduk dan berjalan di lantai yang basah menuju pintu keluar.

Ada apa denganya? Argh aku harus mengulang perkejaan lagi, dasar pak boss sialan. Aku segera mengepel ulang lantai.

   Setelah semua selesai aku langsung ingin pulang kekost, kulihat jam di ponsel sudah menunjukan angka satu. Aku berjalan kearah pintu keluar, sekali aku berhenti menatap ruangan, pemiliknya pergi entah kemana? Biasanya ia akan duduk di sofa tunggal menatap kepergianku, Drama sekali aku. Aku membuka pintu dan...

"Kamu siapa?" kata seorang lelaki paruh baya menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala.

"E...Saya housekeeper pak bo... Rain pak" jawabku hampir keceplosan mengatakan pak boss.

"Kapan Rai memperkerjakan wanita Thom?" kulihat mas Thomas berada di belakang bapak ini.

"Beberapa bulan lalu pak" jawab mad Thomas menatapku, mata bapak yang berada di depanku nampak penasaran. Ia mengulas senyum.

Jangan jangan ia pedo.
Aku segera berjalan bukan berlari melewatinya. Tak perduli ia memanggilku atau apalah, aku tak perduli. Siapa yang tahu kalau ia ingin membeliku dari pak boss kaya di tv tv yang pernah aku tonton. Ih serem. Ingat kata mama 'jakarta itu keras'

****

  Seninnya aku mengerjakan tugas, memasakan pak boss sarapan. Ia sudah kembali seperti semula.

"Kenapa kamu kemarin lari dari papa saya?" tanyanya keluar dari kamar mandi menggunakan handuk menutupi bagian bawahnya.
Dasar lelaki ini bisakah ia bertelanjang badan didepanku sekali kali. Eh kok ngeres sih, aduh otak elit dikit dong.

"Papa bapak? " aku mencoba mengingat ingat, ah aku ingat.
"pak tua kemarin itu?" jawabku, setelah mengetahui kesalahanku aku menutup mulut, lancang sekali mulut mu Hana. Pak Boss langsung menatapku.

"Ya, ia memang tua, kenapa kamu lari?"

"Saya kira papanya bapak, genit dan pedo yang ingin membeli saya jadi saya kabur"

  Seketika tawanya pecah, apa yang lucu sih, apa pemikiranku terlalu berlebihan ya?

"Apa wajah papa saya mesum? Sampai kamu mengira ia pedo " aku terdiam mendengar pertanyaannya, siapa yang tidak takut disenyumin sama pak tua.

   Masakanku telah selesai kami memakan masakan dengan hening layaknya suami istri, astaga apa yang kupikirkan, sarapan pagi di rumah pak boss juga adalah penghematan, hemat beras di kost dan hemat lauk pauk. Boss memang baik sekali beruntung aku menabrak mobilnya eh....



Kurang srek ya?

  

Continue Reading

You'll Also Like

131K 3.7K 57
𝑻𝒉𝒆 𝒔𝒕𝒐𝒓𝒚 𝒐𝒇 𝑵𝒆𝒏𝒈 𝑰𝒛𝒆𝒍𝒍 & 𝑲𝒂𝒏𝒈 𝑬𝒑𝒂𝒏 DILARANG PLAGIAT!!! TOLONG HARGAI KARYA ORANG LAIN!!! MIKIR ITU PAKAI OTAK BUKAN PAKAI...
273K 12.5K 60
Elara Vionette tidak pernah mempertanyakan pekerjaan ibunya. Baginya, Livia Asteria hanyalah seorang pelayan yang pulang setiap malam dengan tubuh le...
1M 40.4K 57
Dirinya takut jika untuk kedua kalinya ia mati.. "Berhubung lo udah sadar, sekarang cepet kerjain tugas lo!". Chana menggeleng cepat, tidak ingin me...
148K 9.4K 24
Bromance/komedi/ending/terbit Shaka,Seorang remaja yang tiba tiba bertransmigrasi ke dalam sebuah novel. Entah apa yang terjadi, bangun bangun ia su...
Wattpad App - Unlock exclusive features