INCOGNITO

By bee_myzk

71K 5.4K 223

Setiap orang memiliki rahasia. Sasuke punya kemarahan yang tak bisa dijelaskan. Hinata menyembunyikan sejarah... More

Act. 2
Act. 3
Act. 4
Act. 5
Act. 6
Act. 7
Act. 8
Act. 9
Act. 10
Act. 11

Act. 1

18.1K 810 24
By bee_myzk

TIDAK DIPERKENANKAN MENERBITKAN ULANG FANFIC INI DI SITUS LAIN TANPA IZIN DARI PENULIS

.:R E S P E C T:.

ENJOY YOUR READ BUT DON’T STEAL ANY CONTENT FROM THIS FANFIC

.

.

.

.

Disclaimer: Kishimoto Masashi

.

.

Bacalah fic ini di waktu senggang Anda. Jangan sia-siakan waktu utama Anda untuk baca fic ini.

Khusus untuk yang muslim, jangan lupa sholat, ya…

Sincerely,

bee

.

.

.

.

I.

False Alarm

Hinata merasa, Sasuke bisa saja jadi siswa populer seperti nasib semua cowok-cowok keren di shoujo manga. Bisa. Tentu saja bisa. Tapi kenyataannya, tidak. Banyak anak gadis yang mengabaikannya. Pada dasarnya, Sasuke itu keren. Secara fisik, dia sedap dipandang. Rambut hitam, kulit putih, tubuh tinggi, dan atletis. Tidak terlalu berotot yang bagi Hinata akan tampak mengerikan. Hinata tidak suka cowok berotot.

Jujur, Hinata penasaran. Perempuan Hyuuga itu tahu, semua orang pasti punya rahasia, atau setidaknya pernah merahasiakan sesuatu. Mungkin Sasuke juga. Iya, tentu saja Sasuke juga. Dia bukan pengecualian.

Hal pertama yang membuat Hinata penasaran adalah ini: adegan yang hampir setiap hari terjadi di kantin sekolah, atau halaman samping dekat koridor penghubung luar. Selalu saja ada seorang cowok yang terjerembab di tanah, terluka, dan memohon pada Sasuke.

Sasuke si mantan ketua Klub Judo yang tak terkalahkan itu sering marah tanpa alasan. Mungkin bukan marah. Sepertinya ‘marah’ bukan kata yang tepat. Mungkin dia hanya merasa terganggu. Atau dia perlu pelampiasan emosinya yang terbendung. Pertanyaannya adalah: mengapa? Dan, ada berapa banyak emosi terbendung yang dia punya hingga harus menjadikan cowok-cowok sekolah sebagai sasaran bully-nya?

Dan sejak kapan?

Sejak dulu?

Ah, tapi Hinata tidak pernah tahu. Dia baru saja pindah ke sekolah ini. Menjadi guru magang untuk mengajar para murid senior saja sudah cukup mengerikan, apalagi harus mencari tahu soal alasan kenapa Sasuke suka sekali mem-bully.

Jadi, cukup. Hinata tak bisa memanjakan rasa penasarannya. Akan lebih baik bila dia berbaur saja bersama yang lainnya, menjadi penonton, terpukau, tapi di saat yang sama merasa ngeri.

Dan entah kenapa Hinata merasa, Sasuke yang sedap dipandang juga terlihat menarik saat napasnya terengah-engah seperti sekarang. Rambutnya yang berantakan membuatnya tampak luar biasa. Apa Hinata punya fetish pada hal-hal seperti ini?

Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja, Sasuke di rumah lebih terkendali, jauh lebih sopan, lebih bisa diatur, dan… seorang penggemar. Bagian terakhir bukan lagi rahasia bagi Hinata. Sasuke sering mengatakannya, tanpa ragu. Sedikit mengganggu bagi Hinata. Tapi mau bagaimana lagi? Seorang istri harus menerima semua kekurangan suaminya. Sayangnya, itu sudah ada dalam paket yang sama dengan sosok Sasuke yang ini, yang meninju lawannya dengan kuat dan terlihat semakin keren.

Oh, tidak! Jangan-jangan Hinata M? Masochist? Apa iya?

Dari arah gedung baru, seorang guru pengawas berkaca mata meniupkan peluitnya. Matanya berkilat marah. Dia masuk ke kantin dengan menerobos barikade murid-murid yang sejak tadi lebih memilih untuk menonton daripada menolong si korban bully Sasuke.

Salah satu temannya, Suigetsu—yang kurus dan terlihat akan sangat mensyukuri sekerat daging untuk tambahan proteinnya, menunjukkan tampang tersinggung saat Sensei meneriakkan namanya.

“Hei, kenapa hanya aku?”

Sensei mendecak, menunjukkan kekuasaannya sebagai orang dewasa yang sok tahu di hadapan Suigetsu. Dia lalu menoleh ke arah Sasuke, tak menemukan luka memar yang berarti bahkan nyaris bersih. “Sasuke, Pergilah ke UKS!”

Itu tidak sepenuhnya diperlukan.

Suigetsu semakin merasa didiskriminasi. Dia mengumpat dengan suara pelan, mendelik ke arah Sasuke dan menyesal karena menikmati ini tanpa sadar konsekuensinya hanya ditujukan padanya.

Hinata tahu alasannya. Tapi bukan berarti dia akan melenggang ke pusat ruangan dan mengatakan pada semua orang di sana. Sebaliknya, Hinata memeluk rotinya, berjalan menjauh dari pusat keramaian yang tak sepenuhnya menarik, dan kembali ke mejanya di ruang guru. Kebanyakan orang yang tadinya juga di sana, kembali ke kehidupan mereka masing-masing, melanjutkan makan atau pergi ke toilet.

Di ruangannya, Hinata menikmati santapan siangnya yang sederhana.

Musim gugur seperti saat ini, dia perlu memfokuskan perhatiannya pada murid-murid senior yang jadi tanggung jawabnya. Ujian masuk universitas telah terbentang di hadapan mereka. Meski di pikirannya, Hinata tak bisa mengenyahkan permintaan ayahnya yang ingin segera menimang cucu. Konyol, tapi keluguan seorang Hiashi yang seperti itu kadang menggemaskan juga. Hinata punya kelemahan dalam hal ini. Dia selalu ingin bisa lebih unggul dari Hanabi. Adiknya selalu tahu caranya menyenangkan ayah mereka. Hinata tidak. Dia perlu banyak belajar di bidang itu juga. Atau, hanya perlu berusaha dengan Sasuke dan melahirkan anak.

Ah…

Hinata bangun dari kursinya, tepat saat bel tanda masuk berbunyi. Dia meninggalkan ruangan, melupakan roti yang baru dinikmatinya setengah, mengabaikan kelas yang pasti akan ribut tanpa guru, dan berjalan dengan santai menuju UKS. Bila nanti ayahnya mengeluh soal ini, Hinata akan bilang padanya bahwa dia punya kewajiban terhadap suaminya. Meski mereka belum pernah melakukan apa-apa yang berarti, bahkan sekadar sentuhan yang menjurus ke arah sana pun, belum. Sasuke tidur di lantai bawah, Hinata di lantai atas. Rumah indah yang mereka tempati bersama itu mungkin perlu waktu lama sampai akhirnya menjadi pelindung langkah-langkah kaki kecil anak-anak.

Tapi, siapa yang tahu? Masa depan kadang terlalu sulit untuk diterka.

Pintu digeser Hinata pelan-pelan. Dokter yang menjaga ruang UKS sedang duduk di kursinya, membaca buku tebal yang sepertinya berisi cerita romansa yang menghanyutkan. Karena dia buru-buru menghapus air matanya saat Hinata memergokinya.

“Oh! Kau ada perlu?”

Hinata menyapa dengan satu anggukan. “Aku ke sini untuk menemui Sasuke-kun.”

Tirai yang menutupi ranjang di ujung ruangan, tersibak. Sasuke ada di sana, duduk. Dia mengayunkan lengannya mengundang Hinata.

“Masuklah,” kata si dokter.

“Terima kasih.”

Hinata melangkah masuk, menikmati sinar kekuningan musim gugur yang perlahan menyirami rompi rajut yang ia kenakan hari itu. Rok mininya bergelombang saat angin menyelusup lewat jendela.

“Kau tidak terluka?”

Sasuke menggeleng, menggeser tubuhnya dan memberikan tempat yang cukup untuk Hinata duduk di ranjang bersamanya.

“Kau bolos?”

Hinata mengangguk. “Kau sudah makan?”

Sasuke terdiam, menunduk, menyatukan tangannya, mengepal, meremas jemarinya. “Hinata.”

“Ya?”

“Aku minta maaf.”

Apa Sasuke menyesal karena telah memukul orang? pikir Hinata. “Tidak apa-apa.”

Sasuke mengangkat wajahnya, memandang Hinata yang tak menatapnya. “Hinata?”

“Hm?”

“Aku minta maaf.”

Hinata menoleh, menemukan mata gelap Sasuke yang menyerap sinar dan kini tampak lebih teduh, tapi juga hangat. “Kenapa?”

Lalu Sasuke tersenyum, bergerak maju, mengecup bibir Hinata yang tak ada persiapan. “Ini,” bisik Sasuke. Hinata memerah, terkesiap, dan kemudian dilecehkan lagi oleh bibir Sasuke. Kali ini ciumannya bertahan lebih lama, tubuhnya lebih condong, dan jemarinya tak lagi pasif.

Kemarin Sasuke hanya berani memanggil nama Hinata setelah selesai berendam. Dia hanya berani menyebut nama Hinata setelah menerima tawaran segelas teh manis dingin yang selalu tersaji lebih nikmat setelah lama berendam. Kemarin, semalam, lalu beberapa bulan yang lalu juga. Bahkan dulu, Sasuke selalu saja terlalu kaku untuk menyebut namanya.

Tapi hari ini, saat ini, Sasuke mengecup Hinata, menciumnya, dan menikmati penerimaan Hinata yang datang perlahan-lahan, tapi penerimaan itu di sana, menyambutnya, dan kemudian dibuktikan Hinata dengan kedua lengannya yang menarik tubuh Sasuke mendekat.

Mereka suami dan istri, mungkin sudah saatnya membuat program keluarga berencana.

Tapi… ya, mungkin nanti, di kamar. Di rumah mereka. Di ruangan yang cukup mengakomodasi rasa penasaran mereka soal ini. Atau ruangan yang mana pun di rumah.

Di rumah.

-:-

つづく

Continue Reading

You'll Also Like

17.5K 2.4K 9
Siapa yang paling tahu rahasia tiap penduduk Konoha? ANBU? Bukan! Hokage? Bukan! Siapaaaaa? Teuchi-Jichan! Siapa yang sangka kalau Teuchi-Jichan yan...
5K 690 5
Sasuke bermain, mengunjungi setiap hati. Seringkali tak serius. Sampai ia bertemu Hinata, ia tak ingin hanya sekedar singgah. Sasuke rela tersesat da...
58.8K 4.4K 19
|tamat| |canon| mugentsukoyomi yg di ciptakan madara membuat seluruh sinobi terperangkap dalam mimpi mereka yg saling terkait, naruto yg terkena muge...
38.2K 2K 12
Hinata Hyuuga, wanita yang terlihat angkuh dan tak tersentuh. Namun memiliki kerapuhan dalam hati nya. Sasuke Uchiha, seseorang yang begitu menyukai...
Wattpad App - Unlock exclusive features