Seluruh murid SMP yang berstatus sebagai anggota ekskul musik dikumpulkan dalam satu ruang. Dari kelas tujuh hingga kelas sembilan. Gedung besar itu menjadi penuh. Riuh beberapa anak asik menggosip dan melakukan hal-hal tak penting lainnya. Seokmin tidak mengerti. Dia baru kembali dari acara membolos mata pelajaran Ekonomi. Begitu memasuki gerbang, langsung diteriaki Mrs. Hyomin. Seokmin tak bisa kabur karena satpam terus mengikuti langkahnya hingga ke pintu masuk aula.
Melihat Seungkwan, Seokmin segera mendatangi.
Apa bedanya Seungkwan dengan gadis-gadis lainnya? Gadis gembul itu pintar membaca situasi. Ia hanya ribut jika suasana hati Seokmin sedang baik. Namun, jika melihat asap kelabu di sekitaran Seokmin, ia hanya diam. Atau yang lebih bermanfaatnya, mojok bersama Hansol. Berbeda dengan gadis lain yang malah semakin ribut, membuat kepala Seokmin pening.
Bagaimana dengan Minghao? Selain pintar dan tenang, Minghao adalah gadis yang istimewa karena perbedaannya. Tidak menjerit melihat laki-laki tampan lewat. Tidak marah-marah, setiap kali kedatangan tamu bulanan. Juga tidak menggosip jika sedang bersama Seokmin.
Selama hidupnya, Seokmin hanya merasa nyaman dengan Seungkwan dan Minghao. Bersama Ibunya pun Seokmin merasa tidak nyaman. Terus diteriaki tanpa alasan yang jelas. Namun, tentu Seokmin masih menyayangi beliau. Jika tidak, mana mungkin ia kabur saat tahu sang Ibu telah dibunuh. Pasti Seokmin akan melakukan highfive dengan sang Ayah, lalu melenggang nyaman tanpa merasa bersalah. Membiarkan Ibunya membusuk di dalam kamar.
"Untuk apa kita dikumpulkan seperti ini?" tanya Seokmin, begitu mendaratkan bokongnya di kursi kosong tepat di samping Seungkwan.
Gadis Boo itu hanya mengangkat bahunya sekali. Menyambut kedatangan Seokmin dengan mengambil alih camilannya yang tadi diletakkan di kursi sebelah, diambil Seokmin agar ia dapat duduk. "Kata yang lain, sekolah akan mencari satu orang murid perwakilan SMP untuk acara penyambutan minggu depan."
"Acara penyambutan?"
"Investor asing. SMA juga, dikumpulkan seperti ini untuk dipilih satu orang. Tidak seperti SD yang dibentuk menjadi paduan suara."
Seokmin mengangguk paham. Acara berlangsung setelah lebih dari sepuluh menit lamanya Seokmin menunggu. Ia sama sekali tak menikmati acara. Fokus pada pemandangan di luar jendela. Hanya sesekali melirik panggung, giliran siapa yang menampilkan bakat menyanyinya.
Ini adalah hari ketiga setelah pertengkaran ia dan Jisoo kemarin. Hatinya berkecamuk tak karuan sejak itu. Minghao sempat memberi saran. Minta maaf saja, katanya. Tentu Seokmin tidak mau. Ia tak merasa bersalah. Hanya saja, Seokmin menyesal sudah membuat gadis itu menangis. Meski Jisoo-lah yang sudah mempermainkannya, harusnya tidak sampai membuat dia menangis. Jika sudah seperti ini, apa bedanya Seokmin dengan sang Ayah? Sama-sama jahat.
Tentu bukan Seokmin yang bercerita. Tiba-tiba saja semua temannya tahu tentang pertengkaran itu. Chan memang selalu gatal mulut.
Syukurnya perasaan Seokmin sudah jauh lebih membaik setelah acara membolos hari ini. Suasana open space memang selalu berhasil menyejukkan hatinya. Semua beban terasa luntur.
Terlalu asik mandangi langit cerah melalui jendela, Seokmin jadi tak sadar jika namanya disebut dengan lantang. Acara melamunnya berakhir begitu menerima sikutan dari Seungkwan.
"Cepat, giliranmu," ujar Seungkwan.
Kening Seokmin mengerut. Bahkan ia tidak melakukan persiapan apa pun. Tak memikirkan lagu apa yang akan dibawakan. Juga tak melakukan pemanasan yang seharusnya. "Aku juga? Tapi aku tidak mendaftar."
"Aish! Memang tidak ada acara mendaftar," kesal Seungkwan. "Semua diwajibkan ikut."
Seokmin menggeleng cepat untuk menolak. Bahkan ia mengibaskan tangan, memberi petunjuk bahwa ia tidak mau ikut begitu beberapa guru melihat ke arahnya.
Seungkwan mendorong tubuh besar Seokmin agar mendatangi panggung. "Cepat.... Nyanyi lagu apa saja, terserah!"
Langkah kaki Seokmin yang kaku tidak menghilangkan rasa kekaguman beberapa siswi yang melihatnya. Nyatanya, sekasar apa pun tindakan Seokmin pada mereka, sejahil apa pun yang Seokmin lakukan selama ini, tetap saja sosok bocah berhidung mancung itu memiliki pesona tersendiri. Apalagi jika sudah melihat sikap dingin yang Seokmin tunjukkan.
Laki-laki Lee itu mendatangi beberapa orang yang berdiri di sisi kiri panggung. Mereka bertugas untuk memutarkan instrumen musik yang hendak dinyanyikan oleh para siswa dan siswi. Seokmin sungguh bingung hendak menyanyikan lagu apa. Ia bahkan tak berpikir akan turut naik ke atas panggung dan menjadi calon pengisi acara pertemuan investor. Masalah yang akhir-akhir ini membelitnya sungguh menyita waktu dan pikiran. Bahkan telah mengalihkan impian Seokmin yang awalnya hendak menjadi penyanyi terkenal, kini berubah menjadi seorang pelindung.
Meski sempat membuat murid lain dan guru yang bertugas sebagai juri menunggu, Seokmin berhasil memukai semuanya. Ia memutuskan untuk menyanyikan sebuah lagu yang beberapa hari terakhir ini selalu didengarkannya melalui earphone. Seokmin terpejam setiap kali mendengarkan lagu ini. Melody, lagu yang dipopulerkan oleh boygroup BtoB. Salah satu grup kesukaan Seokmin. Menjadi salah satu kiblatnya kenapa ingin menjadi penyanyi.
Seluruh juri yang menilai turut terbawa suasana. Terhanyut oleh alunan suara manis Seokmin. Tidak salah. Anak ini memang berbakat. Sungguh wajar begitu instrumen musik selesai, riuh tepuk tangan dengan mudah Seokmin dapatkan.
Seungkwan sedikit menabrakkan bahunya pada Seokmin begitu ia kembali duduk. Tersenyum penuh arti. "Untuk Jisoo eonnie?" tanya Seungkwan.
Kening Seokmin mengerut mendengarnya. Namun, ia tak membantah. Juga tidak membenarkan. Sikap Seokmin yang seakan tak acuh membuat gadis Boo itu terkekeh.
"Bukannya aku membela Jisoo eonnie, oppa-ku sayang... Perempuan memang seperti itu. Tidak mau melakukan pendekatan terlebih dulu pada orang yang disukainya. Selalu berpikir kalau mendekati laki-laki terlebih dulu adalah fakta yang memalukan. Aku yakin, sebab itulah Jisoo eonnie tidak pernah mengaku jika ditanya menyukaimu atau tidak. Coba oppa dekati lebih dulu. Aku yakin responnya akan berbeda."
Seokmin terkekeh sejenak mendengarnya. Namun setelah itu, ia melebarkan mata. Memperingatkan Seungkwan agar tidak membahas nama itu lagi.
Seungkwan merengut. Menukik bibir ke bawah. "Diberi tips pendekatan malah marah. Jisoo eonnie diambil Seungcheol atau Jun oppa, baru tahu rasa!"
Seokmin menutup telinga dengan earphone-nya. Setelah tugasnya untuk bernyanyi di atas panggung selesai, Seokmin tak mau lagi ambil pusing dengan penampilan peserta lain. Juga hendak menghindari topik yang dibicarakan Seungkwan tentunya.
Hasil akhir penjurian, Seokmin mendapatkan nilai sempurna. Bahkan melebihi nilai yang diperoleh oleh Shin Jongkook, murid asal Gangnam yang selalu menjadi bintang sekolah. Di posisi ketiga, Seungkwan bertengger dengan nyaman. Namun, hanya posisi pertama yang dapat menampilkan bakat terbaiknya di acara pertemuan investor nanti. Itu artinya Seokmin mendapat kesempatan langka. Tidak boleh disiakan.
Seokmin berjalan tepat di belakang Mrs. Minhyun. Cukup jauh, hingga keluar dari area sekolah SMP. Masuk ke sekolah SMA. Seokmin belum pernah masuk ke dalam sana sebelumnya. Ia merasa asing. Beberapa murid SMA yang kebetulan melihat, memandangi Seokmin dengan sedikit keheranan.
Suasana seni di SMA ini terasa jauh lebih kental. Begitu masuk, Seokmin disambut beberapa patung yang kata Mrs. Minhyun diukir sendiri oleh siswa-siswi jurusan seni rupa di sini. Sekarang mereka sudah menjadi alumni. Juga terdapat beberapa lukisan yang dipajang sepanjang lorong sekolah.
Seokmin berhenti melangkah begitu Mrs. Minhyung bertegur sapa dengan guru lainnya. Bersalaman, cium pipi kanan dan kiri, cengkrama yang terselip sedikit rayuan bahwa beliau nampak cantik hari ini. Spontan membuat guru vokal kelas delapan itu menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Hanya itu yang bisa Seokmin tangkap. Kalau berada di depan dan bisa melihat wajah kedua guru ini, pasti akan menghasilkan deskripsi yang berbeda. Pipi yang merona, mungkin?
Seokmin mendongak. Melihat papan nama ruangan yang ada di sana. Ruang musik.
"Ada dua yang terbaik hari ini. Nilai mereka sama persis. Kami jadi bingung hendak memilih siapa," ujar si guru SMA, yang Seokmin tidak tahu namanya siapa. Bertubuh tegap, tinggi proporsional. Tergolong tampan. Tipe-tipe guru yang akan membuat para siswi menjerit begitu memasuki ruang kelas.
"Tapi sudah ditentukan, kan? Di SMP juga ada beberapa yang terbaik. Tapi dia yang memiliki nilai tertinggi," sahut Mrs. Minhyun, lalu sedikit menggeser badannya. Memperkenalkan Seokmin. "Namanya Lee Seokmin. Langganan tampil di pentas seni sejak kelas tujuh."
Seokmin membungkuk hormat. Tersenyum canggung. Guru SMA itu memandanginya dengan senyuman yang merekah lebar.
"Pilihan yang bagus. Meski masih muda, tubuhnya tinggi dan terlihat dewasa. Dua orang yang sempat membuat kami pusing itu perempuan. Sama-sama cantik dan bertubuh kecil," ujarnya sambil tertawa. "Tapi dalam waktu dekat ini Jihoon akan mengikuti acara festival yang diadakan pemerintah di pulau Jeju. Dia harus berkonsentrasi untuk acara tersebut. Jadi kami memilih Jisoo untuk acara kali ini."
Kepala Seokmin rasanya berkunang-kunang saat nama itu disebut. Memang, banyak yang menyandang nama Jisoo di negara ini. Mungkin saja ada beberapa murid yang terlahir dengan nama itu di sekolah SMA ini. Namun, juga berarti ada kemungkinan bahwa Jisoo yang dimaksud adalah gadis yang selama ini menghantui Seokmin. Mereka akan berduet.
Seokmin mual membayangkan. Seperti ada yang mengocok isi perutnya. Sarapan dengan bubur, makan siang dengan ramyeon. Dua masakan itu dicampur aduk dalam perut Seokmin. Membuat ia hendak muntah.
Seokmin mundur selangkah. Mrs. Minhyun selaku salah seorang guru vokal tentu hapal betul dengan perilaku Seokmin. Dipeganginya tangan anak itu. "Mau ke mana?"
"Aku ingin pipis."
Mrs. Minhyun mendesah pelan. "Di dalam saja. Juga ada toilet di sana, tenang."
Begitu ruang musik dibuka, tidak ada seorang pun yang berada di dalam sana kecuali seorang gadis bertubuh kecil dengan sebuah gitar di atas pangkuannya. Gitar itu berwarna putih. Senada dengan warna kulitnya dengan sedikit kemerahan. Cerah. Petikan gitarnya terhenti untuk menyambut tiga orang yang baru datang. Menyadari keberadaan Seokmin, Jisoo tak berani melihat ke sana lagi. Hanya pada dua orang guru yang sibuk menjelaskan tugas Seokmin dan Jisoo.
"Ada beberapa lagu yang sudah kami siapkan. Untuk hari pertama ini, kalian hanya perlu berkenalan dan memilih lagu yang ingin dinyanyikan. Tapi untuk hari-hari berikutnya, latihan ketat akan kita mulai. Waktu kalian mempersiapkan semuanya hanya satu minggu. Pertemuan investor itu akan dilaksanakan minggu depan."
Satu minggu latihan bersama Jisoo. Tidak... Bagi Seokmin, itu sangat mengerikan. Sudah cukup selama beberapa hari ini ia tidak bisa tidur nyenyak. Dihantui oleh suara tangisan Jisoo. Seokmin merutuk dalam hati. Kalau tahu akan seperti ini, ia tidak akan bernyanyi sepenuh hati di atas panggung tadi.
Sountrack 6: Melody, by BtoB
tirameashu, 25 Juni 2019